SPC Style 5 | Laptop Lokal Paling "JUARA" ?? Terlalu Muraaah!! (YouTube Video)
Laptop murah di Rp3 jutaan biasanya komprominnya itu di layar yang burik. Walaupun performanya ciamic, tapi kalau dilihat mata ya kayak kurang estetik. Tapi SPC style 5 ini unik. Layarnya IPS cantik, logonya futuristik, dan punya harga yang enggak bikin kantong tercekik. Ya udah enggak usah sok-sok jadi jurnalistik. Selamat menonton. Tukang kritik. Hai nika guys di sini kalau kalian perhatikan di hampir semua review laptop saya ya entah itu perbandingan, entah itu rekomendasi entah itu yang pure review pasti ada satu dua komen yang selalu request, "Bang, SPC style 5 Bang. Bang, SPC style 5nya kapan, Bang? Barangnya belum datang, Bang." Wah, bang, bang, bang, Bang. Sabar, ya, sabar. Karena Rev itu butuh panjang, apalagi benchmark-nya. Sampai akhirnya sekarang barangnya udah ada di depan saya. Tapi sebelum kita ngomongin laptopnya, mungkin kita kenalan dulu lah ya sama SPC. Siapa tahu kalian belum tahu karena beda SPC dan SPG itu entitas yang sangat berbeda. SPG ini ah kita ngomongin SPC aja lah. Jadi SPC ini adalah salah satu perusahaan manufaktur elektronik tertua di Indonesia yang dia didirikan di tahun 1985. Saya aja belum lahir itu. Saya lahir tahun 91. Produknya awal-awal itu banyak sebenarnya ya dan kategorinya juga masih laptop. Ada PC, terus ada CCTV, ada smart TV, ada mouse, keyboard. Sampai akhirnya sekarang mereka masuk ke industri laptop consumer juga. Kalau dulu masih komersial. Mungkin karena mereka pikir wah kayaknya brand lokal yang lain ini cuannya banyak deh di consumer laptop. Ikutan ah. Tapi mereka masuk kayak ngebawa minim kompromi. Karena kalau kita ngomongin laptop lokal ya kayak R jutaan ya pasti Ryzen 5 3500 U tapi panelnya AT TN. Ada yang single channel enggak bisa di-upgrade ya terus enggak ada backl-nya. Tapi laptop yang satu ini dia bisa ngasih value lebih di harga R,5 juta bukan 39 loh ya. Yang pertama jelas layar di harga R,5 jutaannya ini dia enggak pakai layar TN dia pakai panel IPS yang mau dilihat dari sisi kiri kanan atau alam bawah sadar pun enggak ada perubahan warna, enggak ada shadow. Cuman karena harganya R3,5 juta IPS a saja udah bersyukur ya. Karena kan brand lainnya masih TN ya walaupun IPS tapi komprominya ada di color akurasinya. Karena ketika kita tes pakai Kalman srbij itu enggak sampai 60%, NTSC-nya di 45%. Tapi brightness-nya lumayan kok. Brightness-nya untuk ukuran laptop Rp,5 juta dia dapat 316 nitz. Biasanya cuma 200 atau 250 nits. Ini lumayan terang nih 316 nitz. Kalau untuk detail spesifikasinya ya hampir mirip-mirip sama brand lokal lain yang harganya itu 3 tri9 atau R juta. Dia pakai Ryzen 5 3500 U jadi 4 core 8 trad yang clock speed-nya bisa sampai 3,7 GHz. RAM-nya 8 GB DDR4. Sayangnya single channel. Tapi nanti di tesnya bakalan kita upgrade dual channel ya. Dan saran saya wajib di-upgrade karena selisih performanya bisa lumayan banget. Cuman nambah RAM. Paling RAM sekarang di DD DR4 berapa? Rp150 kalau enggak Rp200.000. SSD-nya 256 GB dan ini bukan SATA bukan EMC juga. Jadi MVME yang speed-nya itu read-nya di 3.500 Mbps-nya di 1500-an Mbps. Okelah, sekarang kita coba dulu performanya dia kayak gimana si Ryzen 3500 U ini. Karena memang ya banyak kompetitornya yang pakai prosesor yang sama, tapi biasanya beda laptop, bearbone sama, tuningan beda aja itu udah beda. Jadi kayak gimana? Kita coba dulu di performa single channel R15. Kondisi laptop dicolok atau plugin single core dia dapat 119. Multi corore-nya stabil di kisaran hampir 500 poin lah, 490 sekian. Terus di mode battery only atau adapternya kita cabut, tidak ada perunan performance yang signifikan ya. Memang turun tapi enggak banyak dengan single core-nya di 77 multior-nya di kisaran 440-an poin. Nah, kalau kita upgrade jadi dual channel di benchmark sintetisnya aja naik. Single core-nya sih gak naik yang gimana gitu ya, dengan 143, tapi multior-nya bisa dapat 500-an lebih. Jadi naiknya kira-kira sekitar 6%. Itu cuman untuk benchmark sintetis loh ya. Tapi gimana untuk performa editing dan juga gaming-nya? Sabar, kita coba dulu untuk stability-nya gimana, cooling-nya gimana. Jadi kita tes di 3D Mark Time Spice test. Dan hasilnya dia lolos dengan skor 97,1% yang artinya coolingnya cukup mumpuni ketika distres tes 20 kali loop 3Dm spy dan juga fast dia dapat skornya segini. Kalian bisa langsung baca aja. Dan sekarang langsung aja kita coba untuk tes editing. Kita coba single channel bawaannya dulu ya. Seperti biasa Adobe Pem Pro dengan template yang memang biasanya kita pakai export ke 4K dia lumayan lama sih 15 menit 53 detik. Kalau full HD di 10 menit 30 detik dan kalau kita upgrade jadi dual channel lebih cepat. 4K-nya dapatnya di 12 menit 8 detik. Kalau full HD 7 menit 31 detik. Kalau untuk blender dengan template BMW single channel dan dual channel ketika kita tes mirip-mirip aja sih hasilnya ya. CPU rendernya di 14 menitan ya. GPU-nya juga sama di 14 menitan karena ya dia IJP atau GPU-nya itu numpang di prosesor. Lanjut kita coba untuk main game tipis-tipis karena kan dia Ryzen 5 3500 U ya walaupun prosesor yang agak lama tapi tetap 4 core 8 TR. Ini prosesor kencang apalagi sekarang di harga Rp3 jutaan jauh lebih kencang ketimbang selerod. Jadi kita coba dulu di game Dota 2 resolusi full HD fastest average FPS di RAM single channel di 38 fps. Maksimumnya bisa 61 fps. Dropdropnya di 21 fps. Kalau kita mau turunin resolusinya ke XD 720p, average FPS-nya ngangkat ke 42. Maksimumnya tapi mirip-mirip 61-an. Drop-dropnya di 26 fps. Masih di bawah 30 fps. Kayak enggak seru gitu main game segitu ya. Terus kalau untuk Valoran, Valoran single channel resolusi full HD, average FPS dia bisa dapat 62, maksimumnya 84 fps dan drop-dopnya di 56 fps. Valoran masih aman. Tapi sekarang gimana kalau misalkan kita pakai RAM dual channel? Dota 2 average FPS jadi nambah di 43 fps. Maksimumnya juga nambah di 81 fps. Valoran juga nambah average FPS di 82. Maksimumnya bisa tembus 104 fps. Jadi saran saya sebenarnya ya prosesor apapun sih entah Intel atau AMD kalau bisa dual channel, dual channel aja. Karena ibaratnya kayak sama jalan tol. Jalan tol itu kalau ruasnya cuman single channel atau satu jalan aja ya transfer datanya mobilnya itu bakalan macet lah. Kalau dual channel mobilnya bisa pindah ke sini kan. Jadi transfer datanya lebih cepat. Lanjut kita coba untuk office. Karena sebenarnya laptop ini ya tujuannya buat office. Tapi kalau office enggak usah dual channel sih aman sih ya. Dengan kita coba untuk PowerPoint 150 slide eksport ke PDF dia selesai dalam waktu 17 detik. Dan Excel untuk randomiz data yang gede banget itu selesai dalam waktu 50 detik. Tapi gimana buat suhunya, Bang? Nah, setelah kita stres-stes main game estafet enggak ada stop ya dengan suhu ruangan di sekitar 28 derajat Celcius. SU permukaannya yang tertinggi itu di 42,8 derajat celcius di atas keyboard. Tapi untuk keyboard-nya apalagi WASD, tombol yang bakalan sering kita pakai itu di bawah 40 derajat celcius. Jadi masih aman. Layar cakep, SSD kencang, performanya juga lumayan, harga bersahabat. Kira-kira apa yang dikompromi? Yang dikompromi lebih ke bahan materialnya sih ya. Secara desain sih sebenarnya cakep. Dia ini desainnya minimalis, modern, tapi materialnya dia pakai polikarbonat alias plastik, tapi bukan plastik yang keras gimana gitu. Jadi kalau kita ketok-ketok kayak gini masih ada area yang agak kerasa kopong. Tapi untuk exelnya masih oke kok. Exelnya ini dia memang belum bisa dibuka dengan satu tangan. Tapi buat yang tanya apakah dia bisa dibuka sampai 180 degelay buat fitur presentasi bisa. Kalau untuk logonya saya suka sih logonya SPC yang sekarang ya. Logunya itu udah cakep, minimalis, anti mainstream, dan bakal bikin kepo buat yang belum familiar sama brand SPC. SPC itu biasanya kuatnya di monitor ya. Monitornya SPC juga bagus-bagus kok. Kalau dilihat dari samping terlihat slim. Tebalnya itu cuma sekitar 1,89 cent dan bobotnya di 1,4 kg. Bukan yang paling enteng dan paling slim memang di kelasnya, tapi masih okelah ya. Dan untuk bahan materialnya ini menurut saya termaafkan karena untuk keyboard-nya dia udah punya backl 3 backl. Gokil SPC ya. Dia lagi bakar duit, jual rugi atau gimana? Saya juga belum paham. Dan keyboard-nya ini juga keyboard yang nyaman loh. Size keyboard-nya ini gede terus empuk, travel distance-nya pas. Finishingnya juga enggak yang terlalu kasar ya. Jangan disamain sama laptop kayak Lenovo Thinkpad ataupun Yoga ya. Tapi untuk kelas 3,5 juta masih nyaman banget. Tombol power-nya juga udah terpisah sama keyboard jadi enggak ada drama kepencet power ketika mau backspace atau mau delete enggak ada ya. Aman. Touchpad-nya juga cukup lebar. Feel-nya itu enggak oblak. Obla itu bahasa Indonesianya kayak apa ya? Enggak terlalu murah lah, enggak terlalu plastiki. Jadi pas ketika klik kanan klik kirinya itu F-nya masih nyaman aja. Untuk webcam-nya secara resolusi sebenarnya gede loh ya 1080p 30 fps. Terus juga ada privacy-nya. Jadi kalau misalkan mau ditutup tinggal geser aja. Terus kalau misalkan mau dibuka ya dibuka. Tapi wah goyang. Sori meja saya goyang nih. Eh bentar nih stop. Tapi menurut saya kualitasnya masih sedikit noise ya. Terus muka saya juga jadi terlihat lebih orangen gitu. Jadi saran saya untuk webcam sih mending beli webcam eksternal yang 100 atau Rp200.000 bisa lebih baik dibandingkan webcam-nya. Ini sebenarnya secara eh secara resolusi udah oke, tapi kualitasnya noisnya banyak banget. Untuk portnya juga lumayan lengkap. Kalian bisa lihat warna biru itu ada USB type A 3.2 gen one. Speed-nya 5 GB/s. Sedangkan yang hitam itu 2.0, ada HDMI, ada LANP. Ada USBC full function juga. Plus Wii dia pakai Wii versi 5 dengan Bluetooth yang versi 5 juga. Lumayan beli kelas harganya. [Musik] Untuk baterai sebenarnya secara kapasitas ya, baterainya itu enggak gede-gede banget karena kapasitasnya cuman 45 wat hour. Dari pengujian PCimat kita yang mensimulasikan pekerjaan kantoran dari 100% baterainya kita dapat kurang lebih sekitar 6 jam ya. Itu dengan brightness 50% dan volumenya 20%. Terus kita juga coba untuk real use penggunaannya. Kalau dibuat untuk nonton YouTube dengan resolusi 1080p, baterainya itu turun 5%. Terus untuk ngetik-ngetik turunnya sekitar 3% 10 menit. Untuk nge-game tadi lumayan sih kalau buat nge-game 10 menit turunnya 10%. Jadi sekitar hampir berapa ya? 2 jam lah ya kalau buat nge-game. Untuk harganya, harganya ini di Rp3,5 juta. Kalau enggak salah yang Rp3,5 juta itu yang DOS. Tapi kalau untuk yang Windows Rp3,8 juta ya. Selisih Rp300.000. Kalau kalian pengin yang langsung pakai ya yang Windows. Kalau kalian pengin instal Ubuntu atau Linux bisa pilih yang DOS. Atau kalian pengin beli Windows yang versi lebih murah bebas terserah kalian ya. Dan uniknya SPC ini garansinya 1 tahun. Memang garansinya standar lah ya 1 tahun. Tapi yang unik dia bekerja sama dengan Indomart. Jadi kalau misalkan rusak atau ada apa-apa tinggal taruh di Indomart aja. Indomartnya bakal ngirim ke SPC. Nah, setelah selesai direparasi laptopnya bakal langsung ke rumah kita. Enggak mampir ke Indomaret dulu. Selama masa garansi, seluruh biaya kirimnya itu ditanggung sama SPC. Karena memang brand lokal itu kan ragunya itu di after sales ya. Dan SPC menurut saya patut diapresiasih, langkahnya untuk menggandeng Indomaret dan ngasih kita free ongkir. Jadi kita enggak keluar duit lagi. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari SPC Style Live 5. Ini laptop yang sering banget saya dipalak ya di kolom komentar. Mana SPC, mana SPC. Dan kesimpulannya memang di harga Rp3,5 juta ya untuk Rin 5 3500 U laptop lokal kelebihannya banyak banget sih ya. Keyboard-nya backl terus RAM-nya bisa di-upgrade. SSD-nya NVMi Gen 3 yang kencang dan layarnya IPS bukan layar TN. Di kelas harga Rp3,5 juta sebenarnya ya dia yang mau ngasih spek yang benar-benar minim kompromi. Tapi apakah enggak ada komprominya? Ada kok ya. Ya kayak webcam-nya tadi kalau kalian lihat kualitasnya ya saran saya beli webcam eksternal. Terus secara kualitas ya materialnya nih material kalau untuk bagian covernya sih solid ya. Arm rest-nya ini loh kayak ada area yang sedikit kopong dan kalau kesentuh kayak ada feel agak kerasa sedikit murah dan kekurangan lain ya dia enggak ada Windows-nya ya untuk yang harga Rp3,5 juta. Tapi kalau misalkan kalian bisa mentoleransi kekurangannya itu tadi, beh dapatin laptop 3,5 juta yang 2 tahun lalu atau 1 tahun lalu lah. Mungkin dapatnya cuman Intel N20, Intel N 100. Tapi sekarang sudah bisa dapat R 5 3500 Ups. Gokil sih emang ya brand lokal ya. Ya, semoga makin majulah brand lokal. Silakan kalian perang entah itu brand lokal yang mana, silakan perang aja. Yang penting kalau misalkan udah cuan, coba bangun ekosistemnya. Entah itu after sales, software-nya. Jadi, sekarang waktunya upgrade. Kalau dulu brand lokal itu cuman di zona-zona seleron. Sekarang kan udah macam-macam ya. Tapi sekarang waktunya upgrade juga untuk bikin software. Jadi biar orang itu tergantung dengan ekosistem juga ya. Saran saya buat brand lokal ke depan kayak gitu sih. Saya Andik Kasudi and see you on the next video.
