Jungkat

Spek Premium, Tahan Burn-In, Fitur Lengkap dan Mewah - Samsung Odyssey OLED G8 (G80SH) (YouTube Video)

  • 25/10/2026

Ini monitor gaming PENTA tandem QD OLED langsung dari yang bikin panelnya. Iya, ini Samsung Odyssey OLED G8 32 inci terbaru. Resolusi 4K, refresh rate 240 Hz, response time 0,03 ms. Cocok banget buat gaming pakai QD OLED. Kualitas tampilannya harusnya prima nih. Tampilan juga terang banget dengan True Bright 500. Perlindungan OLED juga lengkap, apalagi PENTA tandem QD OLED ini juga jauh lebih tahan dari burn in ya. Apa cuma cocok buat main game aja? Atau mungkin ini monitor all rounder yang cocok untuk segala macam aktivitas? Mari kita lihat aja, langsung kita tes monitor yang satu ini. [musik] Oke, Samsung Odyssey OLED G8 32 inci dengan kode G80SH. Ini monitor gaming ya, yang menawarkan unmatched picture quality dan game winning performance. Monitor ini hadir dengan peningkatan dari Odyssey OLED G8 generasi sebelumnya. Satunya itu hadir dalam wujud penggunaan panel PENTA tandem QD OLED yang memang baru diperkenalkan Samsung tahun 2026 ini. PENTA tandem QD OLED ini memungkinkan tampilan yang lebih terang. Selain itu, yang satu ini juga lebih aman dari masalah burn in. Tapi apa cuma itu aja yang beda dari monitor yang baru ini? Mari kita lihat ya, dari paket penjualannya dulu. Isinya ada unit monitor, kemudian ada height adjustable stand atau HAS, lalu ada adaptor daya 240 watt, kabel power, kabel HDMI, kabel display port, kabel USB-C to C, dan ada paket dokumen. Nah, untuk desain monitornya tentunya masih mempertahankan gaya khas dari lini Odyssey. Bahkan sekilas ini tidak terlihat beda dari Odyssey OLED G8 generasi sebelumnya. Bodinya tipis, warna dasarnya silver. Untuk dimensi monitor tanpa stand, lebar 71,2 cm, tinggi 41,5 cm, tebal di 4,9 cm. Ini tebal untuk bagian tengah, kalau di tepi tebalnya itu hanya 4,4 mm. Sebenarnya kalau pakai stand, tinggi total paling rendah itu di kisaran 47,2 cm dan paling tinggi di 59,2 cm. Jadi ada mekanisme pengaturan ketinggian yang rentangnya adalah 12 cm. Ketebalan totalnya jadi 26,4 cm. Posisi terendah bagian bawah monitor ini hanya berjarak 5,7 cm dari permukaan meja. Nah, kalau untuk bobot tanpa stand ada di kisaran 5,7 kg, kalau dengan stand jadi 7,8 kg. Untuk stand ini desainnya juga khas lini Odyssey ya dengan base berbentuk segi lima dengan sudut yang membulat. Permukaan atasnya flat tapi ini sedikit miring. Jadi kalau kita meletakkan sesuatu di atasnya ada potensi bisa tergelincir ke arah depan. Base stand ini terbilang cukup besar dan pastinya cukup untuk menopang monitor yang satu ini. Beralih ke leher stand desainnya sederhana dengan satu lubang untuk cable management. Selain pengaturan ketinggian stand ini menawarkan pengaturan tilt bisa nunduk sampai -2° dan menengadah sampai 25°. Ada pengaturan swivel atau noleh kiri kanan sampai 30°. Ada juga pivot alias bisa diposisikan dengan orientasi horizontal dan bisa diputar juga jadi vertikal seperti ini ya. Nah, tentunya di leher stand ini ada juga mounting untuk memasang monitor ke stand. Ini dihubungkan ke bagian tengah area belakang monitor. Nah, selain untuk memasang stand area tersebut juga bisa digunakan untuk memasang monitor ke bracket khusus lewat VESA mounting 100 * 100 mm. Area ini juga dikelilingi sistem lighting di monitor yang disebut sebagai core lighting plus. Nah, ini bisa menampilkan RGB lighting dalam beberapa efek dan tentu saja warnanya bisa kita ubah. Nah, di bagian belakang monitor juga ada satu area yang berisi semua konektor IO milik monitor ini. Kita lihat dari kiri ke kanan ya. Ada satu audio jack 3,5 mm untuk audio output. Ada dua HDMI input ini mendukung standar HDMI 2.1 ya. Lalu ada satu display port 2.1 yang mendukung USB R20. Ini mendukung input 4K 240 Hz 10 bit atau 10 bit uncompressed ya. Lalu ada satu USB type A ini berfungsi juga untuk service port. Kemudian ada satu USB type C mendukung standar USB 3.2 gen 1 dan tentunya punya DP alt mode. Jadi bisa digunakan untuk display input juga. Satu lagi USB type A. Kedua port USB type A ini bisa digunakan untuk fitur USB hub. Lalu ada satu DC in. Nah, di sisi kiri deretan konektor IO ini ada juga satu joystick lima arah. Ini adalah tombol pengendalian utama dari monitor ini. Beralih ke sisi depan, terlihat monitor ini punya permukaan layar yang glare free, alias tidak memantulkan bayangan dari apa yang ada di sekitarnya. Mantap. Nah, untuk bezelnya juga terbilang relatif tipis ya. Ini cocoklah tampilannya jadi seperti monitor yang modern memang ya. Untuk spesifikasi layar, ini adalah layar 32 inci flat ya. Panelnya adalah penta tandem QD OLED. Resolusinya 4K, 3840 * 2160 pixel. Aspek rasio 16 banding sembilan. Refresh rate-nya up to 240 Hz dan response time seperti yang dibahas tadi 0,03 ms gray to gray ya. Brightness-nya up to 300 nits untuk seluruh layar di mode SDR. Untuk peak brightness, ini diklaim bisa mencapai 1000 nits untuk sekitar 3% area layar. Cakupan warnanya diklaim sampai 99% DCI-P3. Untuk HDR, dia support VESA DisplayHDR True Black 500 yang harusnya menunjukkan brightness-nya itu bisa sampai 500 nits di keseluruhan layar di mode HDR. Untuk kedalaman warna adalah 10 bit atau 10 bit. Lalu ada viewing angle di 178 derajat horizontal serta vertikal juga. Dia juga sudah support AMD FreeSync Premium Pro dan G-Sync Compatible. Untuk fitur-fitur, dia punya Samsung OLED Safeguard Plus. Samsung pakai dynamic cooling system untuk mendinginkan panel layar. Ini wujudnya berupa pulsating heat pipe. Jadi, ini menggantikan graphite sheet yang biasa digunakan untuk membantu menyebar panas dan melepas panas dari panel layar. Ada juga fitur seperti logo and taskbar detection, screen saver, dan beberapa fitur lain yang membantu mengurangi risiko burn in untuk layar ini. Ada 4K AI upscaling yang bisa bantu kita untuk mendapatkan ketajaman tampilan ala 4K saat input monitornya ada di bawah resolusi 4K. Nah, ini cocok nih buat yang pakai gaming desktop atau laptop yang belum rata kanan ya. Nah, kita bisa pakai setting resolusi di bawah 4K, lalu biarkan monitornya saja yang melakukan upscale supaya lebih tajam. Monitor ini juga sudah Pantone Validated dalam artian dia bisa menampilkan warna-warna Pantone sesuai dengan standarnya Pantone. Nah, untuk menggunakan monitor ini, kita harus pasang dulu monitor ke stand atau ke bracket. Kalau pakai stand, kita rakit dulu base stand dan leher stand, lalu kita pasang stand ke monitor dengan cara seperti ini ya. Ini terbilang mudah sih sebetulnya. Jangan lupa pasang juga kabel DC in dan juga kabel display input. Bisa pakai HDMI, display port atau USB C. Bagaimana dengan resolusi dan refresh rate maksimal yang bisa kita dapatkan dengan ketiga macam input tersebut? Nah, ternyata ketiganya memang bisa mengakomodasi 4K 240 Hz sesuai dengan resolusi dan refresh rate maksimal yang ditawarkan monitor gaming ini. Ketiganya juga masih bisa menangani resolusi 4K 240 Hz dengan baik ya saat kita mengaktifkan HDR. Mantap ya, berarti kita bisa gaming resolusi tinggi dengan refresh rate tinggi juga plus masih pakai HDR. Cocok buat game triple A tapi bisa juga kalau mau untuk game kompetitif. Tentunya ini akan berlaku kalau HDMI, display port dan USB C dengan DP alt mode desktop atau laptop yang kita gunakan sudah support output 4K 240 Hz 10 bit. Nah, untuk display port ada setting display port DSC. Nah, ini untuk matikan display stream compression. Kami sempat coba pakai graphics card agak lama yang belum support standar DP 2.1 tanpa DSC saat kami coba kita cuma dapat 4K 60 Hz atau QHD 240 Hz. Tapi saat DSC aktif kita bisa dapat 4K 240 Hz. Data display dikompres. Jadi dengan bandwidth lebih kecil yang ditawarkan standar yang lebih lawas kita tetap bisa mendapatkan resolusi dan frame rate tinggi sesuai dengan kemampuan terbaik dari monitor ini. Sementara untuk HDMI fiturnya sepertinya secara standar sudah berjalan tanpa opsi pengaturan untuk menonaktifkannya. Kalau kita pakai USB C fungsi USB hub di monitor ini juga jadi bisa kita pakai. Ada dua port USB A yang bisa kita pakai untuk pasang perangkat seperti mouse, keyboard atau bahkan webcam. Selain itu kalau dihubungkan ke laptop, smartphone atau tablet USB C ini juga bisa langsung mengisi ulang daya perangkat-perangkat tersebut dengan daya maksimum sampai 98 watt. Ini bisa mudahkan dan bikin meja kita jadi lebih rapi juga ya. Nah, sekarang kita coba pakai monitor ini dan kita coba cek dulu color gamut yang ditawarkan di berbagai picture mode yang tersedia. Untuk mode di sini ada original, entertain, graphics, eco, game standar serta beberapa preset untuk genre game tertentu. Lalu ada juga pengaturan color space untuk masing-masing mode tadi dengan opsi auto, native dan normal. Secara standar ini settingannya ada di native. Ini merupakan pengaturan yang sudah umum dijumpai di monitor Samsung ya. Untuk hasilnya kami menjumpai ada konfigurasi yang masih menawarkan satu rasio warna yang cukup rendah, agak jauh di bawah 100% sRGB. Ada juga yang di kisaran mendekati 100% sRGB dan ada yang lebih mendekati 100% DCI-P3. Tapi ada juga yang gamut volume nya jauh di atas 100% DCI-P3. Jadi tampilan warna di monitor ini bisa terasa kurang berwarna sampai mungkin saturasi nya terasa tinggi sekali. Kalau untuk mode-mode yang terkait dengan gaming secara standar dia sudah terbilang punya saturasi yang tinggi dengan gamut volume di kisaran 120% DCI-P3. Nah, untuk pengaturan picture mode dan color space ini kalian merasa ada baiknya Samsung menyederhanakan ini agar kita bisa lebih cepat dan mudah mendapatkan color gamut sesuai dengan yang kita butuhkan ya. Misalnya untuk entertain dioptimalkan ke kisaran 100% DCI-P3 dan graphics ke 100% sRGB tanpa harus ganti color space juga ya. Nah, kalau di pengaturan yang tersedia saat ini agar dapat color gamut mendekati 100% sRGB yang seharusnya akan berguna kalau kita mengedit foto atau video, kita harus pilih mode graphics dan color space itu harus kita atur manual ke auto. Kalau cuma kita atur ke graphic saja ada kemungkinan pengaturan warna kita bisa salah karena saturasi di color space standarnya terbilang terlalu tinggi. Bagaimana kalau buat gaming? Kalau memang suka tampilan warna gonjreng alias dengan saturasi tinggi, mode-mode game yang tersedia akan terasa mantap buat gaming apalagi kalau game nya tuh triple A. Kalau lebih suka dengan warna secukupnya bisa juga dengan pengaturan manual ke misalnya original dengan color space normal. Secara umum monitor ini bukan cuma pas buat gaming aja ya. Ini juga bisa digunakan untuk menikmati film atau mengedit foto dan video. Tapi memang untuk dapat warna yang lebih pas harus sedikit dipelajari aja. Jadi kalau klaim dari Samsung monitor ini menawarkan color gamut 99% DCI-P3 ya enggak salah juga sih klaimnya sebetulnya. Untuk brightness di mode SDR brightness nya bisa mencapai kisaran 310 nits di mode original dan graphics ya. Ini sudah terbilang terang. Mode nya seperti entertain dan game standar brightness standarnya bisa mencapai 220 sampai 240 nits. Sudah cukup ya. Kalau untuk HDR brightness-nya bisa mencapai 570 nits, yang berarti ini memang pas dengan klaim sesuai dengan VESA Display HDR True Black 500. Penggunaan penta tandem QD-OLED juga membuat monitornya menawarkan kontras yang sangat tinggi. Ya, pada dasarnya kan ini keluarga OLED ya. Tampilan warna gelap sangat pekat dan dalam atau mungkin perfect black ya. Permukaan layar yang glare free juga membuat kita nyaman karena minim sekali pantulan-pantulan yang mengganggu yang umum bisa terlihat di area dengan tampilan warna gelap. Nah, bagaimana dengan viewing angle? Ini mantap sih ya. Hampir tidak terasa ada pergeseran warna maupun kontras. Mantap banget di sini. Oke, dan untuk resolusi 4K di monitor 32 inci tentunya bisa menghasilkan tampilan terbilang tajam di sini. Sementara refresh rate yang sampai 240 Hz akan membuat pergerakan di layar menjadi sangat mulus. Efek 240 Hz ini bukan cuma terasa saat gaming aja ya. Buat aktivitas sehari-hari pun ini bisa terasa bedanya. Ini agak berbahaya kalau kalian terbiasa pakai di 240 Hz, balik ke monitor 60 Hz rasanya aneh pasti. Lalu kalau mau dipakai multitasking dengan berbagai aplikasi, layar 32 inci ini sudah bisa menawarkan area kerja yang luas kalau kita mau buka beberapa aplikasi secara bersamaan. Sangat nyaman untuk kerja dengan aplikasi office, editing konten atau browsing bahkan ya. Buat gaming 32 inci juga terbilang cukup besar untuk menikmati berbagai macam gaming. Lagipula kan monitor ini harusnya ada tepat di depan wajah kita ya, bukan jauh seperti TV. Oke, sekarang langsung aja kita coba main beberapa game dengan monitor ini. Kita coba dulu untuk gaming triple A. Ini terbilang nyaman banget ya untuk main game seperti Cyberpunk 2077 atau Black Myth Wukong. Tentunya kalau mau lebih nyaman lagi ya PC desktop atau laptop yang kita gunakan harus kencang banget supaya bisa mengangkat game triple A di resolusi 4K dengan baik. Mungkin yang perlu diperhatikan di sini belum tentu semua orang akan suka dengan saturasi yang sangat tinggi yang ditawarkan monitor ini di beberapa preset gaming. Misalnya kalau kita main Cyberpunk dengan preset game standar dan FPS, warna-warna yang muncul terasa agak sedikit tajam aja di mata gitu ya. Kami merasa lebih nyaman saat pakai preset original. Nah, bagaimana dengan fitur 4K AI upscaling? Benaran bisa bikin tampilan dari resolusi di bawah 4K jadi tetap setajam 4K? Nah, saat kami coba dengan resolusi QHD memang belum bisa yang super-super tajam setajam resolusi native 4K ya. Tapi kalau dibandingkan dengan QHD tanpa ya upscaling, memang terasa tampilannya bisa sedikit lebih tajam saat AI upscaling-nya aktif. Jadi ini memang bisa sedikit membantu kalau kita mau menurunkan resolusi agar frame rate yang didapatkan itu bisa lebih tinggi. Kalau mau gaming lebih nyaman lagi, bebas gangguan tearing atau stuttering kita bisa langsung saja gunakan variable refresh rate. Saat kita coba dengan laptop gaming yang support G-Sync, ini memang bisa jalan ya. Kalau kita coba buat main game racing yang memang semakin dimainkan dengan minim gangguan, ini memang bisa sangat membantu. Buat main game e-sports kompetitif bisa juga. Kita coba dengan Valorant, response time-nya rendah dan refresh rate-nya tinggi tentunya akan sangat membantu membuat kita jadi lebih nyaman main game kompetitif seperti ini. Enggak kerasa nih ada input lag yang mengganggu di sini. HDR gaming juga tentunya bisa dijalankan di game-game yang mendukung. Ini bisa membuat tampilan game jadi lebih mendekati apa yang kita lihat di dunia nyata lah, paling enggak sedekat mungkin lah gitu ya. Bagaimana kalau kita nge-game dengan konsol? Cocok juga, monitornya bisa dikenali dan mendukung gaming modern dengan PlayStation 5 termasuk untuk HDR dan VRR. Jadi, mau pakai PC desktop, laptop, atau konsol, monitor ini bisa menawarkan pengalaman gaming yang luar biasa. Nah, karena monitor ini pakai QD-OLED, konsumsi dayanya akan tergantung apa yang tampil di layar. Secara umum untuk konten SDR, konsumsi dayanya ada di kisaran 35 sampai 50 watt. Sementara untuk HDR, konsumsi dayanya ada di 50 sampai 60 watt. Itu tanpa pakai power saving ya. Kalau pakai power saving untuk SDR, konsumsi dayanya sedikit turun jadi 30 sampai 45 watt saja. Untuk HDR dengan power saving, dia menjadi 40 sampai 50 watt saja. Tentunya ini kalau kita tidak sambil nge-charge laptop lewat USB-C ya. Kalau nge-charge laptop ya konsumsi dayanya akan naik sesuai dengan daya yang dibutuhkan si laptop. Nah, monitor Samsung Odyssey OLED G8 dengan kode G80SH ini ditawarkan dengan harga 17.199.000. Ini memang monitor berkemampuan tinggi yang tentunya memang bukan untuk banyak orang ya, tapi ini adalah monitor dengan teknologi terkini yang bisa jadi gambaran kelas lebih tinggi lagi dari monitor OLED biasa. Jadi lebih tinggi nih ya. Wajar kalau kemampuan kelas premium seperti ini harus ditebus dengan harga yang premium juga. Lagipula ini belum sampai 20-an juta loh, jadi sebetulnya harganya cukup miring nih ya. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, ingat monitor ini tidak dilengkapi dengan speaker. Jangan bingung kalau ada pengaturan volume di menu. Ini untuk volume suara perangkat audio yang terpasang ke audio jack monitor. Kemudian pengaturan karakter warna punya dua setting terpisah, picture mode dan color space. Ini sedikit menyulitkan kalau butuh warna yang lebih dekat ke 100% sRGB atau 100% DCI-P3. Lalu saturasi warna juga terasa terlalu tinggi di banyak kombinasi preset yang tersedia. Jadi ya disetting-setting lah ya kalau memang butuh direndahkan. Kemudian kita sedikit berharap ada lebih banyak port USB-A untuk fitur USB hub. Dari sisi menariknya tentunya penta tandem QD-OLED yang membuat layar ini seharusnya lebih awet dari OLED biasa ya. Refresh rate-nya tinggi sampai 240 Hz. Apalagi response time-nya 0,03 ms. Ini sudah sangat mantap untuk gaming kompetitif. Resolusi 4K untuk monitor 32 inci ini menawarkan tampilan yang tajam jadinya. Ini juga akan terasa menawarkan area kerja yang luas itu. Lalu permukaan layar yang glare free ini membuatnya jadi tidak mudah mengganggu kita dengan pantulan-pantulan yang ada di sekitar kita. Lalu di sini ada empat port untuk display input. Ada FreeSync Premium dan ada G-Sync Compatible. Ada Core Lighting Plus buat yang suka RGB lighting, ini menarik ya. Sementara kalau enggak suka ya bisa dimatiin aja dengan mudah. Kemudian stand-nya ini menawarkan fleksibilitas pengaturan posisi layar yang wah luar biasa memang di sini, bebas banget. USB-C bisa digunakan juga untuk isi ulang daya laptop. Lalu ada fitur USB hub dan desainnya jelas premium. Secara umum Samsung Odyssey OLED G8 G80SH ini adalah monitor gaming yang sangat mumpuni. Ini tentu saja cocok untuk gamer triple A maupun gamer kompetitif yang ingin sebuah monitor yang bisa menawarkan fitur dan kualitas kelas atas untuk aktivitas mereka. Apa ini cuma untuk gamer PC desktop dan laptop saja? Tentu saja tidak. Gamer konsol yang memang lebih suka pakai layar yang tidak terlalu besar juga cocok. Buat non gamer, nah kalau yang dicari adalah monitor 4K OLED berkelas dengan refresh rate yang tinggi, ini juga cocok. Apalagi yang saat ini sudah pakai teknologi tertinggi Quantum Dot OLED yang relatif lebih aman dari burn in. Dia juga sudah oke banget buat kerja, nonton dan berbagai macam aktivitas lain. Jadi kalau yang dicari adalah monitor kelas atas berkemampuan tinggi dan pakai teknologi terkini, Samsung Odyssey OLED G8 terbaru ini memang sangat layak untuk dipertimbangkan.

Lihat di YouTube