STRATEGI MARKETING ISMAYA GROUP YANG BELUM PERNAH DIUNGKAP: DARI RESTORAN KE LIFESTYLE EMPIRE 😲 (YouTube Video)
Sekarang kan banyak orang tuh bisnisnya FnB. Apakah memang itu bagus, Bu? Sebenarnya sih mungkin karena bisnis FNB sendiri itu ya mungkin bisa dibilang entry barriernya tuh rendah ya, Pak. Maksudnya e kita tidak membutuhkan modal yang cukup besar untuk bisa membuka bisnis FMB karena kan scale-nya itu bisa kecil bisa gede tapi banyak buka tapi banyak tutup juga, Pak. Itu loh yang saya lihat. Makanya ee senang banget. Thank you hari ini sudah diundang. Karena memang ee prihatin juga melihat bahwa kok banyak ya teman-teman yang coba mencoba dalam bisnis FnB terus kemudian banyak juga yang tutup gitu. Iya. I jadi ee melihat prospek sebenarnya memang FnB ini kan setiap hari orang butuh makan. Iya. Tapi kan makannya itu bisa makan di rumah ya kan atau bisa makan di warung atau bisa makan di restoran. Betul. Banyak pilihan terserah ya. Benar. Dan memang e sadly bahwa bisnis FNB ini memang one of the toughest business in the market sih saat ini kalau menurut saya. Jadi makanya kenapa saya juga tertarik banget untuk kayak aduh cari selahnya nih sebenarnya FnB nih apa sih yang membuat FnB bisnis ini berhasil dan kenapa banyak juga yang gagal. Itu sih yang kemarin menjadi sampai sekarang sebenarnya masih iya masih tertarik banget untuk mengamati. Betul. Sebelumnya kan Ibu juga di Tamrin betul properti tapi juga ada FnB juga kan. Betul. Tapi kan kemarin mungkin lebih dominannya kita ee banyak properti kan. Tapi sebenarnya memang dari dulu ee sebelum berkecimpung di dunia properti saya juga sebenarnya main FnB gitu. Jadi ee urusin FnB juga. Nah, sekarang balik lagi karena memang merasa tertantang nih dengan industri FnB ee Indonesia yang terutama di kota-kota besar ya. ngelihat Jakarta sekarang pemain FnB mungkin dulu waktu 2023 ee 2003 Ismaya pertama buka itu kita menjadi pelopor kan. Jadi benar-benar enggak ada saingan lah waktu itu. Nah, sekarang banyak grup-grup besar juga yang ee buka gitu dan jujur bagus juga gitu loh maksudnya ee kompetitif ee kompetisinya tuh lumayan ketat lah ya sekarang dibandingkan dengan zaman dulu. Dan ini juga menjadi salah satu tantangan kami sih saat ini. [Musik] Welcome to RCC podcast Resto Cafe and Cafe Ngobrol bareng orang-orang populer di jalur kuliner. Hari ini kita kedatangan Bu Anggun Melati ee dari Ismaya Grup. Bu Anggun banyak kan brand-brand nih yang viral ya. Betul. Tapi akhirnya juga goyang juga nih ya. Tapi Ismaya justru sekarang ini kan situasi lagi enggak bagus ya. Tapi Ismaya itu buka terus dan di kelasnya kelas level major ya di level A ya. Itu bagaimana strateginya tuh Bu? Sebenarnya kalau kita sendiri memang sekarang ISMnya sudah ee kita udah banyak kita hampir 150 outlet ya di seluruh Indonesia dan itu sebenarnya kita memisahkan menjadi dua grup lah basically. Nah, yang pertama itu restoran. Jadi itu memang kita fokusnya lebih ke ekspansi dan ee satu lagi tuh kita bilangnya e divisi lifestyle yaitu kita high end dining-nya. Nah, kalau bicara di high end dining-nya sendiri memang ee virality itu kan sekarang ya semua orang bisa viral ya, Pak. Kadang-kadang viralnya ada yang disengaja, ada juga yang e organik dan nonorganik gitu. Tapi menurut saya sebelum kita urusin nih soal viral viral ini sebenarnya kesuksesan suatu FnB bisnis itu menurut saya kembali lagi ke pasar ya. Maksudnya gini, kita membuat suatu restoran ini pasarnya siapa sih? Siapa sih orang-orang target marketnya itu kita mesti benar-benar memahami dulu kita menciptakan suatu tempat ini untuk siapa gitu. Jadi hal ini berpengaruh dari ya menu-menu yang disajikan gitu. Misalkan contohnya kalau misalkan kita menciptakan suatu ee restoran untuk yang mungkin yang lebih mature gitu kan. Jadi kan berarti pilihan-pilihan dari makanannya sampai ke minumannya. Jadi produknya sendiri itu seperti apa, ambience-nya bagaimana desain restoran itu pun juga harus beda dong dibandingin kita berjualan ke Jenzy Market gitu yang mungkin cukup minimalis gitu. Tapi kan kalau kita bicara dengan eh mature market kan berarti kita harus wah ininya lebih harus ee dengan ee bahan-bahan yang berkualitas gitu kan contohnya. Terus ambience-nya juga harus lebih membuat mereka nyaman, enggak terlalu muda. Bahkan sampai crowd yang kita undang ya yang kita ketika awal buka itu kita ngundang orang-orangnya atau meng-hosting orang-orangnya itu juga harus yang tepat gitu. Tu. Jadi, kan kalau orang yang sudah mungkin lebih usia kan pasti enggak mau dong kalau ke tempat yang terlalu muda. Nah, jadi ini benar-benar banyak elemen yang harus kita pikirin dalam penciptaan restorannya itu sendiri gitu. Nah, setelah itu semuanya tercipta benar-benar satu restoran yang memang pas ke target marketing kita tuju, barulah kita launch launch dan kita ciptakanlah sesuatu yang yaitu suatu talkability program atau yang kita bilang viral-viral itulah. Karena begitu viral tapi tanpa suatu esensi yang jelas menurut saya itu enggak akan bertahan lama sih, Pak. gitu. Banyak makanya kenapa banyak banget yang oke viral tahu-tahu udah sepi, viral udah sepi gitu. Karena being viral is one thing, tapi kembali ke esensinya si restoran ini sendiri, apakah kita memiliki suatu lasting e offer ya ke market yang dituju? Itu sih, Pak, yang menurut saya penting banget dalam si penciptaannya si restoran ini sendiri gitu. Iya. Jadi yang pertama adalah menentukan target market dulu. Betul. sebelum membuat produk bukan apa yang aku ingin He. Tapi target marketnya siapa. Ketika target marketnya ketemu, kita mesti cari tempat di mana yang sesuai dengan target market. Terus yang ketiga, menu seperti e ambience ya. Ambi ambience ee kita kan desainnya seperti apa. Nah, kemudian produknya ya, menu tadi segala macam. Produknya itu ketiga ya karena ISPnya mungkin sudah besar kali ya. Ee karena kan maksudnya kita paralel semua nih biasanya. Jadi ketika kita menemukan oh ini lokasinya pas gitu. Mungkin kita ambil contoh kayak kemarin kita masuk di kita baru buka nih suatu tempat di Semarang ee namanya sekolah. Jadi waktu kita menemukan oke ini kita ada lokasi. He. Nah kemudian kan pasti segala macam tuh jalan berbarengan ya Pak. Maksudnya dari ee R&D timnya jalan untuk yang ee restoran maksudnya untuk menu produk tapi kan juga interior desain pembangunan itu kan butuh waktu. I makanya kenapa dari interior jalan ya kita paralel sembari R&D tim kami menciptakan si menu-menu dari makanan dan sampai ke bar ee itu barengan sih penciptaannya gitu karena kan itu semua takes time. Nah, tapi jangan lupa ambience itu bukan cuman desain ini ya desain interiornya, tapi kita harus mikirin juga musiknya seperti apa. Dari pagi musiknya seperti apa, siang, sore ee sampai akhirnya after dinner itu seperti apa gitu. Karena kan suatu tempat yang saya di mungkin di Jakarta gitu yang marketnya lebih muda sama yang ee di Semarang ini kan beda kan seleranya kayak gitu. Nah, bagaimana brand Ismaya yang sudah high restoran Jepangnya high, restoran Koreanya ha, restoran apanya high, tiba-tiba masuk di tengah gitu. Kalau ke Semarang berarti apa masuk yang high juga apa yang di tengah? Ya sebenarnya kalau yang di Semarang saya bilang itu udah masuk ke lifestyle ya atau high end dining-nya kita sebenarnya. Cuman memang ee kayak contohnya Italin kita masuk Austeria Jia juga. Kalau Austeria kita sudah masuk ke Surabaya, Semarang jadi outer city dari Jakarta itu juga kita dipik ada kan? Dipik juga ada dipik juga. Benar. Jadi ee memang dari produknya sendiri dari menunya itu kita udah kurasi sih Pak cocokin dengan yang market sana gitu. Jadi makanya lokalisasi atau gimana kita membuat produk itu bisa diterima lokal itu penting banget. Iya. Nah, tadi menjawab pertanyaan kayak memang kita ada brand-brand yang highend, tapi kita sekarang juga masuk ke e menengah. Jadi kayak mungkin Pemat pernah ke The People's Cafe. Eh, sekarang kita ada Kitchenet juga. Itu kan memang Kchenet. Nah, Ket juga masih agak mahal ya image-nya ya. Benar. Tapi kalau The People's Cafe enggak dong. Oh, P Cafe. Jadi kan ee memang kita masuk ke strateginya adalah sebagai suatu grup kita menciptakan brand yang lain sih, Pak. Jadi enggak mungkin yang namanya brand high end kita terus tahu-tahu jualan makanan yang Rp50.000-an gitu di bawah Rp50.000 itu kan jadi enggak cocok ya. Heeh. Jadi makanya ee diferensiasi dari brand ee apa diversifikasi dari brand. Jadi kalau memang ee kita buat untuk masuk menengah ya kita akan ciptakan brand dengan look and feel yang memang dicocokkan dengan segmen market yang kita tuju gitu. Kalau menurut pandangan saya dengar ISA Grup pasti makanannya di harga yang cukup tinggi ya. He he. Tapi ternyata pasarnya sukses gitu. Strateginya gimana tuh Bu? Ee sebenarnya kalau saya melihat ya kalau marketing itu sebenarnya adalah ujung tombaknya sih Pak kalau di Ismaya gitu. Jadi kita ee tentunya namanya keberhasilan FnB itu kan tadi banyak faktor ya. Kita makanan pertama harus enak. Iya. Karena itu memang core-nya kan. Terus kemudian bagaimana kita menciptakan brand yang kuat. Jadi misalkan tadi ya benar-benar kita mengenali target pasar kita dan menciptakan ya itu harus segala sesuatu harus dimulai dari pasar dan kemudian untuk ee sehari-harinya gitu ya atau hal-hal yang kita lakukan ee ya dari sosial media, komunikasi dan lain-lain itu memang itu sudah berjalan nih. Nah, kemudian selain itu kita tentunya harus ada melakukan eh virality atau talkability program tadi. Misalkan ee kita udah mau kita lihat nih ee analisa. Jadi analisa terus-menerus ee contohnya misalkan kita melihat penjualan. Nah, kalau kita tuh saking detailnya ee kita melihat penjualan itu dropnya tuh ada di lunch time. Oh, di mana? Atau di analisanya tuh. Betul. Dan ini analisa benar-benar jadi kalau saya tuh tiap hari ngelihatin jadi ee ada sehari itu penjualannya seperti apa, per bulan gimana sampai nanti per tahun. Jadi ada analisa makro dan mic yang sampai ke per harinya dan per harinya itu jam berapa dropnya gitu. Jadi benar-benar itu kita pantau betul-betul. He. Jadi selama sebulan kumulatif ee kita amati nih, oh ini kok ternyata berkurang. Nah, kenapa sales kita bisa drop ya kan? Apakah itu tadi tea time-nya kita kurang terisi atau dinner time-nya enggak jalan ya kan? Atau after dinner kalau memang tempat itu buka untuk misalkan drinking atau ada barnya gitu kan. Nah, jadi dari sini baru kita akan ee ibaratnya kayak kita melakukan treatment tuh di mana yang dibutuhkan gitu. Apakah nanti itu pun analisa enggak cuman di sales doang. Kita lihat juga dari digital sentimen ya. maksudnya ee di Instagram atau di ini banyak viewer kita ternyata market kita sebenarnya wanita gitu, ternyata viewernya laki-laki gitu kan. Oh ini berarti kita harus push lagi dengan konten-konten yang menarik untuk ee pasar wanita misalkan kayak gitu loh. Jadi analisa yang sangat detail ini sangat dibutuhkan untuk bisa memahami kenapa dan memaksimalkan potensi yang kita ee ingin capai ya. Kayak misalkan contohnya kita kita ada brand baru yang namanya Semaja itu Indonesian Modern Dining gitu. Jadi kita benar-benar analisa, oh ini udah benar belum sih apakah target corporate kita udah eh tahu semua tentang semaja, apakah awarenessnya mas. Jadi kita benar-benar ee setiap hari itu menggali apa yang masih bisa dimaksimalkan dari ee outlet kita nih gitu. Apakah tadi tadi cara komunikasinya atau ee messaging-nya ini enggak nyampai atau awareness-nya kurang gitu. Jadi benar-benar ee kita amati dan memang kalau bisnis FnB ini bedanya dibandingkan dengan bisnis yang lain ya, Pak. Ini kalau properti gitu kita launching nih terus habis itu ya udah kita ngiklan, kita tunggu gitu ya. Memang kalau FnB itu ibaratnya saya udah enggak bisa tidur sejenak pun. Jadi benar-benar harus ee terus mengamati terus ibaratnya berinovasi jangan sampai ee ibaratnya wah ini jangan sampai misalkan tea time kita rendah atau dinner time kita turun terus kita biarin gitu sampai seminggu gitu. Jadi benar-benar Heeh. Jadi benar-benar harus kita amatin terus. Makanya benar-benar harus waspada dan kemudian kalau ada tren baru atau ada isu baru itu benar-benar kan yang paling terimbas sebenarnya FnB gitu. Contohnya demo yang kemarin baru ini. Wah gila kita udah hilang seminggu itu udah kayaknya udah banyak banget karena kita memang income-nya kan day to day kan. Nah, karena day to day ini makanya kita benar-benar harus waspada mengamati tadi enggak cuman dalam ee gejala-gejala atau indikasi-indikasi yang ada terjadi di outlet, tapi juga pasar nih. Maksudnya eh ada pengaruh apa yang di lingkungannya eksternal faktor yang mempengaruhi income kita per hari-harinya gitu loh, Pak. Jadi benar-benar ya itulah enggak bisa e enggak bisa tidur sejenak pun kalau Fnb. Tapi itu analisanya pakai apa ya? Pakai digital. Orang tamu datang makan apa, gayanya seperti apa emang bisa. Paling gampang kan sebenarnya bukannya diamati secara fisik, tapi diamati secara sistem. Sistem juga enggak enggak mudah juga loh. Yang diminum apa aja kebanyakan. Oh itu kita ada, Pak. Kan POS kan sebenarnya udah cukup detail. Jadi kita tarik data memang dari POS. Kebetulan kita ee sistem sih udah lumayan menunjang ya. Jadi dulu ee kalau zaman dulu ya kita narik satu-satu tapi kalau 150 outlet bayangin Pak kalau misalnya kita memang secara sistem kita sudah ada otomatis. Jadi kita mengamatinya per brand gitu. Kalau kita memang ee brand ini kayak semacam apa ya sesuatu yang kalau di kita tuh brand itu benar-benar yang kayak ya kayak suatu persona tersendiri ya. Jadi maksudnya oke kalau kita bicara Austeria oh Italian. Italian seperti apa? Target mereka siapa? Jadi ini benar-benar kayak bagi kita itu it's a our asset lah ya. He. Jadi kita benar-benar pupuk terus kita amatin benar-benar kita kembangin dan sampai printilannya apa ya kalau di restoran kan sampai coaster apa segala itu benar-benar kita perhatiin sih seperti kita kan kita udah lumayan lama jadi resources-nya juga udah efisien lah ya. Jadi maksudnya kita punya ada the luxury of having our own R&D team. Eh di kitchen ada, di beverage ada gitu. Jadi memang yang tadi saya bilang mengamati tren-tren yang terjadi ini kan juga mesti cepat. Jadi kayak orang oh lagi tren ini nih dibilang lagi tren koktail atau lagi apa. Nah itu kan kita langsung bisa cepat untuk beradaptasi. Beradaptasi. Nah ini yang memang harus cepat karena trennya FnB itu cepat banget gitu. Hari ini viralnya ini, besok viralnya ini, gitu kan. Nah, tapi virality itu bukan berarti kayak oke kita nurut aja nih yang viral kita ikutin. Jadi kan harus dilihat lagi kecocokannya dengan si brandnya gitu. Jadi enggak mungkin kan kayak oh Italian brand tahu-tahu viralnya ayam apa sambal matah misalkan. terus kita ikutin kan. Jadi harus cocok harus cocok juga dengan pasar yang ada. Nah, sekarang kita lagi berpikir juga gimana caranya tadi membawa food. Sekarang kan makannya itu bukan cuman tentang makan kan, tapi gimana experience-nya kita bisa makan di situ dengan lebih, you know, merasa ada feelingnya lah ya. Jadi kayak misalkan sekarang orang sudah lari ke wellness gitu. Kita kan sekarang kemarin kita baru buka juga ee social pedal house. Oh iya, pedal lagi ram itu? Nah, pedal lagi ramai. Nah, sebenarnya kemarin kita merasa oh kita udah agak telat nih masuk ke tren pedal. Nah, sekarang kita cari lagi gimana caranya kita bisa mengikuti ee gaya hidup modern yang ada di Jakarta sekarang. Kalau Ibu masuk ke dalam satu tempat pedal, he kan tempat pedalnya entar restoran ibu kan musih besar apa ibu main yang kecil juga gitu. Maksudnya pedal itu kan enggak semua ada tempat besar kan. Sedangkan ibu mau masuk ke pedal gitu, itu ibu ambil juga atau ibu, wah enggak kecil gua enggak bisa atau wah gimana gitu. Sekarang sih saya melihatnya memang ee ya tadi inovasi lagi ya, Pak ya. Kan kalau kebetulan karena Isma kemarin kita masuk di social pedal house memang sama lapangan-lapangannya kita memang bikin semua gitu, tapi mencocokkan lagi dengan lokasi gitu. Kalau memang tersedianya kecil, kita enggak akan paksain untuk menghasilkan produk yang karena kita pengin ee customer itu ketika merasakan suatu produk itu tuh emang benar-benar enak gitu. Jadi, ya kita enggak akan maksain kalau kitchennya enggak ada ya kita enggak akan jual makanan berat gitu loh. Jadi memang ee bukannya kayak oportunis gitu ibaratnya. Wah, mumpung lagi ramai nih gua jualan aja makanan pasta apa enggak kalau kita viral sebentar lagi gitu. Benar. Makanya daripada kalau bagi kita itu tadi yang kita amatin juga nih, Pak, itu komplain customer benar-benar sampai kita rekap semuanya komplain ada satu komplain 1 2 3 itu kita benar-benarin ini komplainnya banyakan ini di produk apa di mana. Nah, kalau di produk itu kita akan gali sebabnya jadi benar-benar menemukan masalah dan emang kita sampai operasi ke dalam ke dalamnya gitu untuk menemukan Iya. Jadi target kita sekarang memang customer komplain itu enggak boleh lebih dari dua komplain per outlet. Jadi bayangin mungkin ya dua itu kita menganggapnya mungkin ya itu kesalahan teknis lah ya. Mungkin ada Misscom atau apa gitu. Cuman kita usaha e next year kita penginnya sampai nol komplain gitu. Cuma kan memang kalau sekarang kan ada delivery juga. Nah ini kan delivery kadang-kadang ada glitch ya di pengiriman dan lain-lain gitu. Kalau kita ngomongin industri FnB ya itu kan banyak yang sebenarnya awal-awalnya sukses gitu bisa bertahan 5 tahun tuh sudah bagus gitu ya kan. Iya sih benar. Tapi Inspania ini kan bisa bertahan lama ya. Sebenarnya apa saja sih yang yang di yang di apa dimaintain ya selain sistem manajemen yang baik, labor kontrol dari ibu gitu kan. Ee apalagi sih sebenarnya yang membuat si restoran itu bisa bertahan gitu. Karena kan orang juga bisa bosan makan loh. Eh di sana restoran baru lagi kita coba sana. Akhirnya lama-lama kalau dia enak hilang. Nah sekarang hilang kan kita berharap oh lu balik lagi gua eh enggak tahu di sebelah sini muncul lagi. Iya jadi enggak habis-habis. Nah itu gimana itu di Indonesia sebenarnya kayak gitu banget sih Pak. Jadi benar-benar orang akan coba terusmenerus terusmenerus untuk pergi ke tempat baru kan. I. Nah, kita tuh ada brand yang kayakal itu dari tahun 2009. Bayangin. Jadi kayak Sky yang kita baru mau reopen lagi nih di bulan November itu dari tahun 2012. Jadi bayangin udah ee 13 tahun ada. Heeh. Jadi ee menurut saya tuh suatu brand itu bukannya berarti stagnan ya, Pak. Jadi Iya. ketika ee berani itu juga harus berevolusi. Jadi misalkan dulu makanannya seperti apa. Nah, itu juga kan harus ada pengembangan yang tadi saya bilang berkelanjutan ya. Harus terus harus mengikuti Heeh. perkembangan trennya seperti apa. Nah, kemudian kita juga ee sekarang kan zamannya kayak OL kayak OL gitu ya, Pak. Jadi kita mungkin ada kolaborasi-kolaborasi juga enggak cuman dengan brand tapi juga dengan ee orang-orang yang memang kita bilang ee masih relevan dengan generasi sekarang gitu. Nah, kemudian ya gimana caranya ya kita harus terus melihat gimana caranya kita bisa tetap relevan ke market ya. Kalau FnB itu kita mengamatinya ada golden period-nya ya, Pak. Baru buka itu kan pasti ya kita pasti paling tinggi dong karena orang lagi coba nih. Tapi kan the challenge is not the golden period gitu. 6 bulan ujiannya 6 bulan. Iya. Nah, kalau kita bisa sih itu sampai setahun gitu. Tapi kemudian habis itu kan drop tuh. Nah, itu kita harus harus lihat. Jadi kadang-kadang orang berpikirnya salah nih. Oh, ini saya belum di depan belum laku, belakang baru nanti akan laku. Oh, itu enggak sih? I kalau kita justru hajar di depan, kalau kita udah ee ramai ya itu ibaratnya kita bisa bilang gimana caranya kita maintain itu yang lebih sulit kan. Dari situ makanya kita biasanya sudah antisipasi dulu gimana nih caranya kita sudah siapin dulu program-programnya untuk kayak wah ini tahun depan kita harus kayak gimana gitu. Jadi kita harus misalkan kayak kita mau ada apakah kita mau ada brand ambassador atau mau kita kolaborasi dengan siapa dengan siapa yang masih ibaratnya masih relevan dengan market itu gitu. Iya. Iya. Oke, terima kasih nih Bu Anggun sudah hadir di acara eh RCC podcast. Kira-kira Ibu mau sampaikan closing statement ke teman-teman yang dengar podcast ini tentang Ismaya atau tentang FNB. Silakan, Bu. Saya mungkin mau menyampaikan pesan aja kali ya untuk para pelaku FnB ee yaitu tadi jangan terus pantau market, terus pantau ee jangan pernah ibaratnya FnB itu kan enggak boleh lelap sedikit ya. Jadi harus terus ikuti tren. Ee kemudian juga emm ya terus ee semoga FnB Indonesia terus maju dan banyak pengusaha-pengusaha FNB yang melahirkan konsep-konsep seru juga untuk meramaikan industri FNB di Indonesia. Terima kasih Bu Ang sudah hadir di Ah [Tepuk tangan]
