Jungkat

Subaru FORESTER 2025 : Di aspal enak, off-road hayuk❗ (YouTube Video)

  • 24/08/2025

[Musik] [Tepuk tangan] Kalau cari mobil keluarga, kalau enggak MPV ya SUV. Dan sekarang di sebelah kita ada Subaru Forester generasi baru. Mungkin kalau misalnya kalian mikir Subaru Forester tuh kan Subaru ya AWD ya. Rasanya sporty, apa rasanya kayak imprint WRX STS segala macam. Enggak. Dia adalah sebuah SUV keluarga yang nyaman plus dengan ekstra kelebihan penggerak AWD. Yuk kita coba. Di luar Subaru Crossack. Subaru Forester ini adalah tulang punggung Subaru. Jadi kalau misalnya kayak Subaru WRX sama Subaru BRZ itu adalah dalam tanda kutip mukanya Subaru ini dan Subaru Crossrek adalah tulang punggung Subaru. Ini memberi mereka pondasi buat bisa terus bertahan dulu, sekarang, bahkan sampai masa depan. Jadi ee kalau misalnya kalian enggak tahu jumlah generasi Subaru Forester itu lebih banyak daripada jumlah generasi Subaru WRX. WRS kan 1 2 terus yang generasi dua baru kali facelift gitu 3 4 5 ini udah generasi keen ya ini udah en generasi dan sekarang kita cobain gimana yang baru ini di jalanan di Indonesia di GS 2025 mobil ini sudah launching dengan harga sekitar Rp695,5 juta. Sedikit di bawah Rp700 juta. Dan sebenarnya di harga ini udah banyak pesaing yang kurang lebih seukuran dengan spek yang kadang mungkin lebih tinggi, kadang mungkin lebih rendah. Nah, untuk generasi baru ini sebenarnya kalau dari penampilan ya bukan kesukaan gua juga, tapi balik lagi Subaru itu tidak pernah terkenal sama desainnya. Di luar Subaru BRZ yang mungkin wah kupe cantik itu juga karena pengaruh Toyota kan. Subaru XV ya di biasa aja, Subaru Impreza ya okelah gitu-gitu. Gue juga sebenarnya bukan e penggemar dari desain Subaru Forester ini. Interior ya kurang lebih sama kayak Subaru lain salam satu dashbor. Tapi dia masih mengandalkan platform andarannya Subaru Global Platform. Cuma kali ini direvisi sedikit di torsional rigidity-nya. Jadi dia 10% ditingkatkan bagian torsional rigidity itu. Dan enggak cuma itu, katanya bisa bikin ee platform baru ini sedikit lebih ringan tapi sedikit lebih rigid juga. Tapi entah ya 10% tuh bisa berasa atau enggak. mungkin gak terlalu relevan buat kita sampaiin sekarang. Jadi kita bakal cobain yang lainnya dulu. Dan kebetulan kalau di Indonesia sebenarnya rival mobil ini lumayan masih kehitung lah. Ambil contoh Hyundai Tucukson yang hybrid, terus mungkin Honda CRV ada yang RES, ada yang non RES yang 15 turbo seater dan ada juga mungkin kayak Nissan Xtrail Toyota Raford tapi itu kan harus R miliar lebih ya karena cuma ada yang plugin hybrid k dan kayak Mazda CX5. Tapi CX5 kan baru ganti generasi, jadi enggak bisa bilang juga karena kita belum lihat CX5 yang baru kayak gimana. Jadi sekarang kita coba mobil ini kayak gimana. Pertama-tama dia masih pakai mesin naturally aspirated. Jadi kalau misalnya kita expect apa dia hybrid? Belum. Tapi untuk generasi ini udah ada yang hybrid namanya teknologi Subaru eboxer dan mungkin ya mungkin itu pakai beberapa pengaruh teknologi hybrid dari Toyota. Tapi yang ini dia pakai mesin 2.500 cc pastinya boxer ya naturally aspirated. Nah, enggak cuma itu, dia pakai linearronic CVT. Jadi e kalau misalnya CVT lain itu pakai belt ya atau mungkin sabuk baja, dia pakai rantai baja. Kalau Subaru ngeklaim, ini bisa kasih responsability yang lebih bisa diandalkan. Terus kalau misalnya kalian penasaran lagi pastinya dia pakai AWD. Tapi apakah ada revisi? Katanya sih ada. Jadi katanya respons untuk perpindahan tenaga dari depan ke belakang itu lebih cepat dan juga lebih halus. Tapi kalau misalnya kita bawa di jalan kayak gini, kita emang notice kalau mungkin ada sedikit perbedaan ee akan tenaga gitu ya. Tapi sedikit dari 2000 ke 2500 cc kan okelah CC-nya naik. Tapi emm mungkin enggak akan terlalu kerasa yang wih signifikan banget atau wih e jomplang beda siang malam gitu. Enggak, enggak seperti itu. Ini masih respon tenaga yang halus. Tapi tetap kita bisa atur respon pedal gasnya mau gimana. Kita sekarang di mode intelligen. Jadi e responsive-nya itu halus. Tapi kalau kita masuk ke mode sport itu respon gasnya atau tarikannya lebih cekatan. Tenaganya enggak nambah ya. Bukan tenaga nambah tapi gasnya kerasa lebih responsif. Itu bedanya. Nah enggak cuma itu. Kalau kita pengin mode manual bisa di sini atau bisa di pedle shift tapi di sini yang cuma pindahin ke manualnya doang ya. Ganti giginya ada di sini. Dan selain itu, Subaru juga bilang peredaman suaranya diperbaiki lagi. Dan ini di kita di kecepatan sekitar 8590 ini di tol apa namanya yang ke arah bandara yang dari Cijo gitu ya. Emang suara dari betonnya itu itu agak masuk dikit tapi suara angin tuh minim dari spion dari kaca itu minim suara angin. Dan yang gua suka dari Subaru adalah Subaru Forester CoaK itu gitu kacanya gede kayak gedung gitu. Jadi kaca gede di depan sini samping bahkan ngelihat ke belakang itu enak banget ngelihatnya jelas dan jadi berasa lebih aman. Bahkan pilar A-nya tipis kayak Honda gitu. Jadi kan kalau pilar A tipis kita enggak kehalaman banyak di sini. Jadi kalau di persimpangan atau mungkin ngelihat obstacle gitu itu bisa lebih jelas. Gua suka bagian ini. Terus setirnya karena kan Subaru Forester ini dipakai sama banyak orang, jadi alangkah baiknya agar setirnya itu bisa dikuasai oleh siapa saja. Makanya kalau kita pakai dalam kota, dia punya setir yang ringan dan mudah banget buat dioperasiin. Parkir, manuver, putar balik segala macam kecil. Tapi kalau di tol kayak gini kita di kecepatan mungkin 8090-an, dia bobotnya akan bertambah sedikit. Tapi bukan berarti sampai wih mantap banget atau wih berat gitu ya. Tapi cuma sampai taraf kalau kita masih bisa ngerasain bahwa mobil ini masih ngejejek gitu ya dan masih nempel bikin sedikit lebih confident waktu kita berkendara di tol, terutama kalau jarak jauh kayak gini. Nah, lanjut lagi soal perjalanan jauh. Mungkin kalian bakal mikir gitu ya, gimana dengan adasnya. Nah, Subaru IST yang ada di forest terbaru ini kan gua bilang di review kemarin dia pakai tiga kamera sekarang dan Subaru bilang dia udah direvisi sedikit entah di bagian mana. Cuma gua ngerasa si Subaru Iite ini agak-agak apa ya paranoid kalau buat traffic Indonesia. Misalnya depan ada mobil atau motor masih jauh tapi mungkin wating-nya udah nyala segala macam dan apa namanya kalau misalnya kita meleng dikit keep on road gitu ya kayak gitu sih sebenarnya ya emang udah karakteristik fitur ADAS gitu kan tapi sebenarnya dia masih oke masih bisa membantu kita dia ada adaptive cruise control keep assist semuanya ada dan ditambah lagi ya ada sedikit cerita unik tentang ada Subaru iyesight ini. Jadi, gua sempat ngobrol sama orang Subaru. Kenapa Subaru tuh jarang pakai kaca film depan? Jadi, mereka dari Subaru mereka memang tidak merekomendasikan itu kaca depan dipasangin kaca film full diklaim bisa mengganggu kinerja sebaru iyeside-nya. Kalau pengen pasang sebaiknya di bagian yang atas banget nih yang sini, yang sebelah kanan sama sebelah kiri. Tapi jangan lebih dari spion atau bagian plastik di tengah sini. Tapi kalau misalnya nekad mau pasang sebaru cuma bilang ya do with your own risk. Resiko ditanggung sendiri. Terus pedarnya juga enak. Dia tuh feelingnya enggak Senin Kamis. Jadi mudah buat kita buat nakar seberapa dalam injekan yang harus kita kasih. Antara kita pengen ngerem tipis-tipis atau ngerem pakem sekalian. Terus bantingannya yang gua suka dari Forester itu dia tuh nyaman. Jadi kalau kalian mikir, waduh kan Subaru ter dengan WRX gitu mobil sport. Itu kan bandingannya mungkin bukan yang paling nyaman ya, mungkin bahkan cenderung agak kasar. Nah, yang ini dia didesain untuk jadi mobil yang sangat nyaman. Tapi e bukan berarti dia waduh ee gundukan gini enggak beras. Tapi kalau misalnya kita lewat kayak ee sambungan di jalan tol atau mungkin jalan yang bergelombang, dia punya bantingan yang halus, empuk, dan bikin semua penumpang di dalam sini itu nyaman. Tapi jangan salah paham. Kalau misalnya dia kena speed trap atau mungkin polisi tidur yang konstruksinya jelek gitu ya, dia masih ada kedengar kayak der gitu di bagian belakang. Tapi ini adalah mobil yang bantingannya nyaman. Jadi kalau kalian memang lagi pengen cari SUV yang bantingannya nyaman gitu dan enggak bikin ajut-ajutan, enggak bikin gubrak, enggak bikin mual, ini adalah mobil yang cocok dan gua harus beri special mention atau special appreciation terhadap joknya. Gampangnya adalah Soaru mengklaim ini jok anti pegal. yang didesain dari hasil kolaborasi Subaru sama Gunma University. Biasanya kalau brand udah ngomong kayak gini-gini, gua enggak sepenuhnya percaya. Ambil contoh SHVS ya. Oh, hybrid gini-gini segala macam. Padahal mah boro-boro itu mah. Kadang-kadang bahkan mesinnya non hybrid-nya bisa lebih irit daripada yang pakai SAVS. Tapi buat yang ini gua bisa jadi percaya atau bahkan mungkin percaya percaya deh. Kenapa? Gua pernah pinjam Subaru WRX itu buat road trip ke Jogja yang transmisi manual. Coba orang bodoh mana yang mau road tririp sama keluarga pakai mobil sport manual. Tapi sebenarnya gua expect aduh gua bakal pegal di jalan. Itu adalah satu dari sedikit mobil yang gua pakai jalan jauh dan gua enggak pegal sama sekali pas berangkat dari rumah sampai ke Jawa Tengah ke Jogja. Itu mobil sport loh dan gua enggak pegal. Jadi untuk yang jok anti pegal ini gua kayaknya percaya dengan apa yang Subaru lakukan di joknya. Dan kita baru coba beli Senta. Tapi kayaknya gua yakin ini dia pakai metode jok yang sama. Tapi sebelum kalian buru-buru ke Subaru, buru-buru ke Subaru terus beri Subaru Forester ini, ada beberapa hal yang mungkin kalian harus perhatikan. Jadi pertama ya dia punya kamera 360 bagus. Cuma kalau di beberapa mobil kan waktu misalnya kita manuver nih maju mundur, maju mundur, maju mundur, pas kita pindah dari gigi mundur ke gigi maju biasanya kan kamera pindah otomatis dari kamera belakang ke kamera depan buat bantu visibilitas kita. Yang ini entah kenapa enggak langsung otomatis begitu. Jadi ee agak sedikit kurang helpful ya. Kameranya sih sebenarnya enggak ada masalah resolusinya cukup ee apa namanya? Semua sisi cover. Tapi mungkin bisa lebih baik lagi kalau misalnya waktu kita switch dari gigi mundur ke gigi maju itu kamera juga pindah otomatis dari tampilan bagian belakang ke bagian depan dan sebaliknya juga. Nah, yang kedua buat mobil yang harganya cuma Rp700 juta kurang Rp500.000 which sebenarnya bukan cuma itu bukan harga yang receh ya tampilannya kurang wah. Jadi kalau misalnya revival-rieval lain kalau misalnya ngelihat gitu ya, wih tajam-tajam, wih elegan, wih e berkarisma gitu, Subaru selalu desainnya main aman atau bahkan cenderung tawar atau datar. Enggak banyak yang neko-neko, enggak banyak yang aneh-aneh. Jadi kalau misalnya mungkin kalian bawa mobil ini ke kampung halaman gitu ya, mungkin enggak akan terlalu mentereng atau gimana, tapi itu tergantung sama karakter kalian. Kalau kalian suka mobil yang feel good dan emang bagus tapi pengin tetap build in, tetap under the raider, mungkin ini cocok buat kalian. Tapi kalau kalian ingin mencolok dari segi desain, mungkin ini kurang tepat buat kalian. Yang ketiga adalah sistem subaru starling-nya. Kalau dulu forestnya tuh masih ada tombol fisik buat AC segala macam. Ini AC bahkan sampai auto vehicle hold, break hold gitu ya. Sampai auto start stop aja itu di layar semua. Biarpun Subaru udah meng-counter semua itu dengan bikin icon gede segala macam tetap lebih enak tombol biasa sih. Dan bicara soal auto start stop, Suzuki ini bisa auto start stop tanpa ngasih SHVS SHVS-an. Jadi gua enggak ngerti apa poin dari SHVS. Keempat, entah kenapa kita susah banget buat connect Apple CarPlay di mobil ini. Baik pakai kabel maupun tanpa kabel. Ini kita coba pakai kabel enggak bisa padahal menunya ada. Tapi satu lagi kita coba yang tanpa kabel juga enggak bisa. Entah kenapa. Padahal waktu kekin Android Auto lancar-lancar aja pakai mobil ini. Ah, by the way ngomong-omong soal audio, dia pakai audio Harman Cardon dan sistemnya udah lumayan bagus. Jadi dengerin musik enak, radio enak, hiburan enggak ada masalah di mobil ini. Kecuali tadi soal e koneksi Apple CarPlay yang agak-agak ribet. Ya, selebihnya kalian bisa expect dari sebuah subar forester. Sebuah SUV 5 seater yang nyaman bukan seven seater, lega, praktis. nyetirnya enak, bantingan lembut, CVT ya halus, dan mesin ya juga tenaganya cukup dan dengan teknologi keselamatan yang bisa diandalkan. Terus kalau misalnya kalian penasaran ini kan mesin sedikit lebih gede 2.500 cc bensinnya gimana? Kalau kemarin si Forester yang 2000 cc gua tes bensinnya hari-hari dapat sekitar 113 114 itu enggak jauh beda sama mobil gua yang 1800 cc dan penggerak roda depan. Jadi entar kita lihat aja gimana bensin mobil ini. Sekarang langsung aja kita coba ya di mana lagi kalau bukan di Pagenangan. Kan kalau si Subar forester ini dia punya feature X mode yang bisa ngatur pembagian tenaga sistem AWD-nya tergantung mode mana yang dipilih. Tapi sekarang karena kita lagi di jalan tanah kita pilih yang nah udah masuk. Dia bakal mainin ee center differentialnya sama sensor ABS-nya buat nentuin roda mana dapat tenaga berapa banyak atau roda yang mana harus berhenti berputar. Sebenarnya Subaru sendiri kalau ngetes mobil kan memang kadang-kadang dibawa ke tempat kayak gini ya, tempat yang tanah, salju segala macam. Tapi mereka sendiri memang udah membuat si XBOT ini sedemikian rupa buat mobil ini bisa menempuh jalanan yang enggak cuma aspal doang, tanah, salju, lumpur segala macam itu bisa. Cuma inti serari dari AWD Subaru adalah untuk pengendalian dan keselamatan. Karena kalau misalnya kita yakin ini empat-empat rodanya itu dapat tenaga gitu ya dari mesinnya, itu kita bisa lolos dari berbagai macam situasi yang mungkin kurang menguntungkan. Katakanlah selip mungkin jalan becek segala macam. Karena semua roda itu dapat traksi. Harusnya aman-aman aja kita menggunakan AWDs baru ini di berbagai kondisi. Cuma kan pembuktian yang paling apa ya gampang kan ya ke jalanan yang bukan aspal ya seperti ini misalnya. Dan di sini kita di mode snowt gitu. Ini masih jalanan yang relatif oke, enggak terlalu offroad-offroad banget. Dan ini enggak ada masalah sama sekali. Jalan mah jalan aja. Tapi kita tinggal emang harus bijak-bijak ngatur injek gasnya. Karena gimanapun juga ini bukan purpose build offroader kayak misalnya katakanlah Wrangler, Bronko atau mungkin em ya beberapa mobil offroad lainnya lah. Dia bukan seperti itu. Dia adalah SUV keluarga yang tugasnya ya ngantar anak sekolah, ngantar ke kantor segala macam. Tapi ternyata di jalanan kayak gini tidak ada masalah buat Subaru Forester terbaru ini. Dari yang lama enggak ada masalah. Nah, ini kita berhenti bentar. Oke, sip. Kita coba. Kita pindah. Oke, ya. Toyota emang salah pilih TRK. Dan andai kamera 360 ini bisa lebih berguna buat dipakai offroad gitu ya. Kita coba. Iya, bisa lolos. Wuhu. Tadi emang gua agak salah milih jalan dan gua mundur dikit gua ubah rute gua dan ternyata berhasil lolos. Nah, sekarang turunan dan kalau di sini emang tempat yang pas buat kita nyobain heal desain control-nya. Baik lagi dia bakal mainin rem ABS buat kita bisa turun pelan-pelan. Tapi ya pelan-pelan santai. Enggak usah nginjak rem. Pokoknya kalau misalnya kalian dengar kayak grekg grek suara grekg grek gitu belum tentu karena mobilnya gasruk atau apa, itu suara kalau sistem si XM ini bekerja memainkan mungkin diferensialnya sama sistem ABS-nya. Nah, sekarang kita mau cek artikulasi roda kanan kiri. Karena ini ada permukaan tanah yang kanan kirinya itu enggak rata. Jadi, pas roda kanan naik, roda kiri turun dan begitu juga sebaliknya. gua berharap kamera 360-nya tuh bisa lebih gede loh buat jadi kayak kamera offroad gitu kayak di mobil-mobil kayak Defender atau apa gitu. Sebenarnya Kam 360-nya ini andai tampilnya lebih bagus lagi ya. Enggak jelek, cuma emang kurang tajam aja sih. Oke, coba lagi pelan-pelan aja. Sekali lagi klarifikasi gua bukan expert offroader. Gua cuma orang biasa yang kebetulan suka mobil. Pelan-pelan. Dan seperti biasa, e safety message ya. Kalau misalnya begini-begini kalau bisa ditemenin sama orang lain. Misalnya yang lebih tahu offroad, yang lebih tahu tempatnya. Nah. Nah. Iya. Tadi sempat nyangkut tapi sistem AWD-nya bekerja membantu kita. Jalan lagi. Iya. Oke. Dan bantingannya masih nyaman. Sip. Enggak ada masalah. Oke, mantap. Jalan lagi. Ini bagian kanan agak tinggi nih. Oke, jalan, jalan, jalan. Tidak ada masalah. Oke, jalan yuk yuk yuk. Ah, mantap. Betul. Iya. Jadi di Pagedangan ini sebenarnya enggak ada masalah buat kita nyobain si Subaru Forester. Sekarang sih tanahnya lagi pada kering, jadi enggak ada lumpur. Dan kita juga agak pilih-pilih Medan ya. Kalau misalnya kita ngerasa wah ini ee bukan lawannya si Subaru Forester lah. Kita mendingan cari router lain. Dan ee beberapa offroader kan kalau misalnya apa namanya? Kita pakai ke mode offroad dia kan ee sistem sensing-sensingannya kalau yang ada yang modern itu dimatiin ya. Karena kadang kalau kena semak, kena apa itu kan bakal ngeganggu tuh alarmnya kayak tadi kan. Ini gua harap kalau misalnya masuk kayak snow dirt gitu, deep snow gitu, dia harusnya juga mati. Tapi yang ini enggak. Mungkin kita harus mati secara manual. Tapi intinya adalah ini bukan. Nah, di sini kita bisa ngerasain apakah dia all wheel drive beneran. Kita coba manuver-manuver ya. Mungkin kita belokin apa dia bisa. Oke, ya. ST bekerja. Wuhu. Ya, ayo, ayo. Bisa. W lolos. Dan ingat dia ini pakai ban radial, bukan ban offroad, bukan ban yang purpose build gitu-gitu bukan. Dia pakai ban radial. Pasti kemampuannya makin bagus. Kalau pakai ban yang e AT, HT, MT segala macam pasti bisa. Tapi ini aja udah bagus. Jadi si Subaru Forest atau mungkin beberapa crossover atau SUV Subaru secara umum mereka tuh kayak mengambil titik terbaik atau keseimbangan terbaik dari dua dunia gitu. Maksud gua adalah kalau misalnya kalian bandingin ini sama eh offroader beneran katakanlah tadi Jeep Wrangler terus apa namanya eh Sword Broncos e segala macamnya enggak. Ini masih sedikit lebih nyaman dan sedikit lebih realistis buat digunakan sehari-hari. Tapi kalau misalnya ya kita bandingin sama crossover-crossover Jepang, Korea, Eropa segala macam, enggak juga ini punya nilai plus berupa feature all wheeel drive sebagai standar dan ini bukan allel drive yang kaleng-kaleng. Sudah terbukti. Meskipun sekarang banyak banget brand yang bisa bikin penggerak all wheel drive, tapi somehow ya entah kenapa kalau kita pakai sistem all wheel drive dari Subaru, rasa aman dan rasa tenang bahwa kita bisa melewati medan bermacam-macam itu kayak justified. Perasaan kita itu valid kalau misalnya kita ke mana-mana pakai mobil AWD dari Subar. Ya, ini dia si Subaru Forester generasi terbaru. Waktu kita cobain yang generasi sebelumnya yang ini, kita bokin juga dengan kondisi jauh lebih parah. Hujan deres, ee tanahnya becek segala macam. dan dia bisa lolos dari cobaan seperti itu. Kita pas nyobain yang ini ternyata juga sama di tanah kayak gini ya, biarpun kering ya enggak ada masalah. artikulasi roda, pembagian tenaga ke roda depan, belakang, kiri, kanan segala macam tetap bisa membuat dia lolos di situasi seperti ini. Dan intinya adalah kalau misalnya di situasi seperti ini dia bisa lolos, gimana di situasi yang normal kayak di aspal, di beton, di jalanan umum yang sering kita lalui dan kalau misalnya crossover lain cuma kayak ah ya dia ground caros tinggi bisa ke jalan rusak bla bla bla bla bla. Oke, mungkin benar. Tapi yang memberikan lebih dari sekedar itu adalah si Subaru Forester ini. Nyaman, muat lima orang, duduk belakang lega, ada sunroof, teknologi juga oke. Cuma masang Apple CarPlay-nya emang agak ribet aja. Ada kamera 360 cuma andai lebih jelas lagi aja. Dan dikendarain di jalanan seperti biasa, tol segala macam, lumayan kedap. Mesin 2500 cc-nya ya cukup aja, enggak lebih enggak kurang. Dan bensinnya kita dapat rata-rata sekitar 19 sampai sekitar 1112. Masih lumayan normal ya buat mobil 2.500 cc dan dia bensinnya minimal round 95 minimal ya. Ya, tapi balik lagi ini Subaru yang mereka kejar adalah durability, reliability, dan kenyamanan dan kemudahan dipakai buat si Forester ini. Tampilan tidak pernah jadi poin terkuat Subaru. Pengecualian buat Impreza 22B dan Subaru BRZ yang desainnya untuk si BRZ ini ada pengaruh dari Toyota. Jadi kalau mobil ini mungkin desainnya agak kurang wah gitu tapi Subaru tetaplah Subaru harus dicoba biar tahu spesialnya. Jadi biarpun kalian udah nyobain mobil berbagai macam body type dan mungkin kayak lagi aduh mobil listrik ini itu mobil dari Tiongkok ini itu aduh lagi bosan kalau misalnya bisa coba luangkan waktu sebentar aja cobain Subaru terutama buat kalian yang belum pernah pas kalian cobain kalian akan ngerti apa yang membedakan Subaru dari mobil-mobil lain baik dari SUV crossover sedannya dan mobil-mobil lain Subaru itu beda. Oke, itu dari kita. Thank you sudah nonton. Jangan lupa jempa, like, komentar, dan subscribe.

Lihat di YouTube