Jungkat

Sudah saatnya beralih ke ARM? - Review ASUS Vivobook S14 S3407QA (YouTube Video)

  • 15/05/2025

tipis dan pintar. Begitulah kira-kira gambaran dari laptop AI Asus Vivobook S14s3407 QA ini. Buset namanya panjang banget. Line dari Vivobook ini adalah salah satu laptop cilot plus PC Asus yang dijual di Indonesia. Kita semua tahu Asus adalah brand laptop yang paling rajin dalam setahun. Banyak banget laptop yang mereka luncurkan dan beberapa laptop AI terakhir mereka sudah menggunakan prosesor berbasis ARM. Peralihan dari X86 ke ARM ini bukan hal yang mudah menurut saya. karena bukan performa yang jadi masalah, tapi kompabilitas software yang masih jadi kendala. Tapi apakah kendala tersebut masih kita temukan di laptop ini? Yuk, kita bahas satu-satu. Saat pertama kali ngelihat dan pegang laptop ini, kesan premium itu langsung kerasa ya ini bukan vivobook murahan yang mungkin dulu kita kenal. Iya, zaman dulu tuh Vivobook dikenal sebagai lineup murah ya. Tapi makan ke sini perasaan laptop Vivobook itu kagak ada yang murah dah. Bodinya terbuat dari material metal yang enggak cuma bikin tampilannya mewah, tapi juga terasa oriental gitu, kokoh. Waktu dipegang. Asus nyebut desain ini dengan istilah straight line yang artinya garis-garis desainnya itu tegas, clean, dan simpel. Tapi biar kagak polos-polos amat, ada logo Asus Vivobook yang ditulis dengan teknik CNC di bagian depannya. Total ada dua warna, cool silver dan made gray. Satu kelebihan laptop ini dibandingkan yang lain adalah ent. Laptop ini beratnya cuma 1,3 kg dan tebalnya cuma 1,59 cm. Kita semua tahu kalau hampir semua laptop Asus itu udah punya sertifikasi standar militer AS yaitu MIL STD 810H. Lanjut ke layar. Laptop ini juga juara menurut saya. Urusan visual dia punya layar 14 inci dengan rasio layar 16 bing 10. Rasio ini sedikit lebih tinggi dari 16 bing 9 standar. Jadi area vertikalnya itu lebih luas gitu. Enak buat kerja ngetik, browsing ngetik dan kerja ngetik, browsing ngetik dan lain-lain lah. Pokoknya resolusinya 2560 * 1600 pikel atau sering disebut dengan istilah 2.5K. Range warnanya ada di 100% sRGB. Bratisnya ada di kisaran 400 nits. Dan yang paling penting, panel IPS ini punya lapisan anti glare. Jadi enggak gampang reflektif waktu dipakai di bawah lampu terang atau di dekat jendela. Screen to body ratiya ada di 86%. base layarnya lumayan tipis. Sayangnya Refate panel ini masih standar 60 Hz, tapi kayaknya cukup kalau cuma dipakai buat kerja dan nonton YouTube atau Netflix gitu. Soal konektivitas, laptop ini juga bisa dibilang baik hati karena biasanya laptop tipis itu suka pelit port ya, tapi yang ini beda. Sok dia punya dua kali USB 4.0 gen 3 type C, terus dia punya dua kali USB 3.2 gen 1 type A. Terus ada satu biji HDMI 2.1 TMDS dan satu buah combo jack audio 3,5 mm. Dengan port yang lengkap ini rasanya udah kagak perlu lagi bawa dangal ke mana-mana. Ya, setidaknya bisalah dikit-dikit ngrosting user MacBook yang jadi fakir dangle. Lanjut ke performa. Laptop ini pakai prosesor berbasis ARM buatan Qualcom, yaitu Snapdragon XX1 26100. Prosesor ini punya 8 core dengan clock speed sampai 2,97 GHz. Untuk grafis dia pakai GPU Adreno. Nama GPU yang sangat familiar untuk pengguna HP. Untuk NPU ada Qualcom Hexagon NPU atau Neural Processing Unit dengan kemampuan hingga 45 tops. NPU inilah yang jadi kunci utama buat mengakselerasi tugas-tugas berbasis AI. Asus juga mengklaim total TDP atau thermal design power-nya sampai 30 watt. Laptop ini punya RAM LPDDR 5X sebesar 16 GB. RAM-nya ini on board ya, artinya ketanam di motherboard dan kagak bisa di-upgrade lagi. Tapi hemat energi. Untuk storage, laptop ini pakai SSD NVME PCI 4.0 berukuran 512 GB. Seperti yang saya bilang tadi, masalah utama dari laptop berbasis ARM adalah software. Karena sejauh yang saya coba, banyak banget aplikasi yang belum optimal di ekosistem baru ini. Terus gimana dengan laptop ini? Vivobook S14 S23 ini pakai Windows 11 dan merupakan bagian dari keluarga copilot plus PC ini. Artinya laptop ini didesain buat memaksimalin fitur-fitur AI terbaru dari Microsoft. Beberapa aplikasi bawaan Windows sudah dioptimalkan secara natif dengan arsitektur AR. Tapi masalahnya adalah aplikasi-aplikasi pihak ketiga lainnya gitu loh. Aplikasi-aplikasi yang kebanyakan masih berbasis X86 ini akan dijalankan secara emulasi dengan bantuan Prism. Jadi, Prism ini semacam rosetanya Windows gitu. Dia akan ngebantu ngejalanin aplikasi-aplikasi X86 dalam ekosistem berbasis art. Nah, enggak semua aplikasi X86 ini lancar jalannya di laptop ini. Ada yang bisa kebuka, ada juga yang enggak bisa, ada juga yang langsung ke-close gitu. Intinya perlu waktu yang lebih lama untuk masa transisi ini. Apalagi semua produsen hardware belum sepakat untuk beralih dari S86 ke R. Alhasil, pengembangan software jadi lebih lambat karena fokusnya terbelah jadi dua gitu. Terus buat yang nanya kenapa sih harus beralih ke R? Salah satu jawaban yang paling simpel adalah efisiensi. Bukan anggaran, tapi daya. Dalam kasus ini kita ngomongin soal Snapdragon X yang dipakai di laptop ini ya. Snapdragon X ini unggul dalam hal efisiensi daya dan NPU yang ngebut banget buat tugas-tugas AI. Kalau ada yang nanya, "Apakah laptop ini bisa dipakai buat ngedit?" Saya akan jawab bisa. Tapi ada tapinya nih. Masalahnya bukan di performanya, tapi sekali lagi kompabilitasnya. Tapi sejauh ini CapC masih bisa berjalan dengan lancar ya. Jadi masih amanlah buat dipakai buat ngedit video gitu. Walaupun jangan ngarap buat nyaman dipakai ngedit video bersolusi tinggi. Untuk aplikasi editing saya belum coba ya karena kagak berlangganan produk dari Adob gitu. Tapi kabar baiknya Adob sendiri terus mengoptimalkan aplikasi creative cloud mereka untuk arsitektur ARM. Jadi, buat kalian yang si paling content creator, saya rasa laptop ini mungkin belum bisa jadi pilihan utama. Pertanyaan berikutnya, apakah laptop ini bisa dipakai buat main game? Jawabannya adalah bisa, tapi yang enak cuma buat main Dota doang. Waktu saya coba buat main beberapa game, ini yang saya dapatkan untuk CS2 di settingan lowest resolusi layar diturunin ke full HD, saya bisa main dengan kisaran 12 sampai 25 FPS. Terus saya juga coba main game Marvel Rival di settingan lowest. Resolusi layar juga diturunin ke full HD. Saya bisa dapat sekitar 8 sampai 14 FPS. He, cukup rendah ya. Untuk data 2 settingan low resolusinya di 1920 * 1200 atau full HD plus dapat sekitar 60 sampai 90 FPS. Terus saya coba instal Valoran gagal. Game ini kagak bisa di-instal, Sop karena waktu diklik tombol install dia stuck. Dan terakhir saya coba instal League of Legend. Ternyata enggak bisa ya karena belum support AR. Dan semua pengujian game saya lakukan dengan mode performance dengan resolusi desktop yang diturunin jadi 1920 * 1200 piksel atau Full HD plus karena kalau pakai resolusi bawaan laptop terlalu tinggi dan kerasa berat buat main game. Oh iya, ada satu lagi hal yang saya suka dari laptop ini yaitu performanya itu enggak drop walau si charger kita cabut. Karena kebanyakan laptop akan otomatis masuk ke mode efisien atau nurunin performa waktu power source-nya dicabut dan ini enggak terjadi di laptop ini. H, nice, Asus. Lanjut soal AI. Laptop ini punya tombol coilot khusus yang ngasih akses instan ke asisten AI dari Microsoft. Copilot ini bisa ngerjain berbagai macam tugas. Mulai dari ngerangkum dokumen, ngasilin teks, bikin presentasi, sampai nganalisa data. Ya, Asus juga punya aplikasi AI buatan mereka sendiri yaitu Story Cube yang didesain khusus buat bantu manage aset digital kayak foto dan video secara pintar. Terus apa aja sih yang copilot bisa? Setidaknya ada beberapa fitur copilet yang mungkin harus kalian tahu. Pertama ada recall. Fitur ini digadang-gadang bakal wadw. Bayangin kamu bisa nyari dokumen, email, atau halaman web hanya dengan mendeskripsikan apa yang kamu ingat tentang yang kamu cari tersebut tanpa perlu tahu nama file atau tanggal pastinya. Terus ada Windows Studio Effect. Kamera Full HD di laptop ini enggak cuma bisa buat video call biasa. Berkat A kualitas panggilan videonya juga bisa lebih enhance gitu kayak background blur yang lebih natural, terus gaz correction atau bikin mata seolah-olah selalu netap ke kamera gitu ya. Kadang-kadang kita lagi ngelirik ke mana-mana gitu. Nah, sama AI ini dibikin supaya mata kita melotut kamera terus gitu. Sa ai ae lu, AI nyari perhatiannya. Terus ada auto framing, e ngejaga subjek tetap di tengah frame gitu. Dan terakhir ada live caption dan translation. Jadi fitur ini sangat kepakai buat ngasih caption otomatis dalam sebuah video atau audio. Dia bisa juga otomatis menterjemahkan dari sumber dengan berbagai macam bahasa. Istilah kata nih kita bisa dapat subtata langsung gitu. Gokil enggak tuh? Dan sifatnya itu real time loh. Lanjut bahas soal keyboard. Laptop ini pakai backlit chicklet keyboard. Artinya setiap tombol punya backlit individual. Kepakai banget waktu dipakai ngetik dalam kondisi gelap. Kit travel distance-nya ada di 1,7 mm. Menurut saya jarak segini cukup aman ya. Cliknya itu masih dapat, enggak terlalu lembek ya. Pokoknya kerasa pas dan low profile lah. Dipakai ngetik dalam waktu yang lama juga enggak kerasa capek gitu. Saya enggak nemu masalah yang berartiah. Terus untuk trackpad-nya ukurannya juga cukup besar jadi kerasa bebas meliak-meliuk di atasnya gitu. Anjay. Fel swap-nya juga cukup enak menurut saya enggak seret, enggak keset atau apalah itu istilahnya. TRKM-nya juga udah mendukung beberapa gester ya yang bisa kita fungsikan untuk mengontrol si laptop kayak naikin brightness atau naikin volume. Fel clicknya juga lumayan oke walaupun belum senyaman klik di MacBook tapi overall udah lebih dari cukup lah menurut saya. Untuk security alias keamanan laptop ini juga lumayan lengkap. Ada Windows Hello yang bikin kita bisa login ke laptop dengan cepat dan aman menggunakan pengenalan wajah melalui kamera infrared full HD yang ada di atas layar. Terus ada Microsoft Pluton Security Processor. Ini tuh kayak cip kanan khusus yang terintegrasi langsung ke dalam CPU-nya si Snapdragon X gitu loh. Fungsinya adalah untuk menyimpan data sensitif kayak password, kunci enkripsi, dan informasi pribadi lainnya secara secure terisolasi dari bagian sistem lainnya. Security berbasis hardware jelas ada di level yang berbeda. Seandainya ini diterapkan ke negara Wakanda kagak ada itu bocor-bocor apalah itu datanya itu. Wakanda wakanda. Ada juga physical webcam privacy shutter buat yang pengin ekstra hati-hati soal privacy. Jadi ada penutup fisik yang bisa digeser buat nutup lensa webcam waktu lagi enggak dipakai gitu. Untuk suara laptop ini dilengkapi dengan speaker yang berlabel Dolby Atmos dan Asus Audio Booster. Kualitas suaranya enak, lumayan kencang dan cukup tebal ya walaupun gak tebal-tebal amat sih. Buat nonton YouTube masih oke lah, tapi buat dengerin musik yang rada jeduk kerasa kayak kurang nampol aja gitu. Mic di laptop ini juga udah pakai teknologi AI karena dia pakai AI noise cancelling. Fitur ini berfungsi untuk meredam suara bising di sekitarnya. Jadi suara kita kedengaran lebih jelas dan jernih waktu video call atau nge-zoom. Oke, lanjut bahas hal yang paling bikin laptop ini terasa spesial adalah baterai. Laptop AI ini dibekali baterainya berkapasitas 70 wat hours dengan konfigurasi 3 sell di iron. Asus dengan mempercayai diri ngeklaim bahwa laptop ini bisa bertahan sampai 30 jaman dalam sekali ngecas. Dalam praktiknya, laptop ini memang sanggup bertahan dipakai seharian dengan catatan kagak dipakai buat main game dan yang berat-berat gitu. Buat penggunaan casual mah ya saya jamin lah laptop ini enggak kalah awet dibandingkan MacBook Air gitu. Laptop ini juga udah support fast charging yang bisa ngisi baterai 60% dalam waktu 49 menit aja. Dan yang saya suka, kita bisa charge laptop ini pakai charger lain dengan dukungan power delivery ya. Artinya kalau mau dibawa pergi-pergi kagak perlu lagi bawa charger khusus buat laptop. Kesimpulannya, apakah laptop ini layak untuk dibeli? Secara pribadi saya suka sama laptop ini. Dengan harga di atas R juta, laptop ini punya banyak kelebihan seperti desain yang cakep, layar yang tajam, dan bagus tentunya. Performanya juga oke dengan prosesor arm. Baterainya awet banget. Buset, keyboard-nya enak, trackpadnya kerasa nyaman. Punya fitur fitur A yang banyak, security-nya mantap, dan sudah hardware level, Bro. Dan port-portnya juga lengkap. Ah, capeklah, aing. Pokoknya banyak banget kelebihannya. Dari semua kelebihan itu rasanya enggak salah kalau saya bilang laptop ini laptop yang layak untuk dibeli. Walaupun ada juga beberapa kekurangan yang enggak bisa juga dianggap penteng gitu. seperti RAM yang enggak bisa kita upgrade. Terus kualitas speaker yang saya berharap bisa lebih bagus dari ini gitu. Terus yang paling penting adalah availability aplikasi Natif untuk prosessor up. Karena ini adalah masa transisi di mana kayaknya akan perlu waktu untuk pada akhirnya akan tersedia semakin banyak aplikasi berbasis ARM yang bisa kita pakai. Saya juga berharap prism di Windows 11 ini bisa lebih dipercanggih lagi gitu loh. Biar dukungan terhadap aplikasi X86-nya jadi lebih luas lagi. Ini menurut saya penting ya karena akan bikin transisi atau peralihan ekosistem dari ARM itu jadi semakin seless gitu loh. Setidaknya belajarlah dari Apple yang sudah lebih dulu melakukannya. Selebihinya saya suka laptop ini. Silakan dibeli kalau kalian ada. [Musik] Yeah.

Lihat di YouTube