Super Terang, Super Fleksibel, Bioskop Mewah di Rumah dgn Laser Projector - Review Hisense C2 Ultra (YouTube Video)
Ini proyektor laser pintar yang super terang, super fleksibel, dan super mudah digunakan. High Sense C2 Ultra. Ini adalah satu perangkat yang dipamerkan High Sense dibot raksasa mereka di CIS 2025 yang lalu. Ya, proyektor ini menggunakan trroma pure three color laser. Ini disebut menawarkan kedalaman warna yang luar biasa. Kemampuan proyeksin bisa mencapai 300 inci. Iya, alias diagonalnya 7,6 m. Besar banget. Tingkat kecerahan proyeksinya bisa mencapai 3.000 lumens. Seharusnya cocok dipakai di ruangan yang tidak full gelap, ya. Lalu ada gimbal dua aksis membuat kita bisa dengan mudah menempatkan hasil proyeksi. Sementara AI auto magic adjusting 2.0 akan membuat hasil proyeksi selalu pas, optimal, langsung siap pakai. Tapi bukan cuma itu aja yang jadi keunggulan dari si High Sense Proyektor ini. Masih banyak hal yang menarik termasuk sound by JBL, dukungan Dolby Vision, HDR 10 Plus, serta IMAX enhance. refresh rnya juga sampai 240 Hz, konektivitas juga lengkap, serta ada Smart OS Vida yang terintegrasi. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan proyektor yang premium satu ini. Ya, High Sense C2 Ultra. Proyekor ini memang bukan yang harganya 2 3 atau R5 juta. Harganya sesuai dengan posisinya yang memang ada di kelas premium. Memang bukan untuk semua orang sih. Lalu buat apa dibahas? ya karena emang gak ada salahnya kan kalau kita belajar soal proyektor premium seperti yang satu ini. Kita sama-sama coba kemampuannya dan cari tahu kenapa bisa jadi ini bukan barang yang mahal. Karena mahal itu kan berarti harganya lebih tinggi dari apa yang ditawarkan atau nilai yang ditawarkan. Kalau proyektor ini bisa jadi harganya wajar atau bahkan murah karena mengingat yang satu ini bisa menghasilkan proyeksi sampai 300 inci. Coba aja deh dicek kalau Smart TV itu 300 inci harganya berapa? Eh, belum ada ya. Oke, kalau yang ukuran besar 100 inci ke atas deh dan juga dari kelas premium kan ada tuh ya harganya itu sudah di atas Rp100 juta. Bahkan ada juga yang jauh di atas Rp100 juta. Jadi masih masuk akal kalau proyektor seharga ini bisa membuat tampilan 300 inci tidak disebut sebagai mahal. Harganya masih jauh kok di bawah Rp100 juta jauh. Oke. Oke, udah jelas ya soal yang mahal-mahal itu ya. Tapi pertanyaannya apakah benar kemampuan proyektor ini sesuai dengan kelas harganya? Nah, kita akan sama-sama cari tahu nih. Tapi kita coba kenalan dulu dengan si Highsense C2 Ultra ini mulai dari paket penjualannya. Di sini kita lihat di dalamnya tentunya ada unit HighSense C2 Ultra, lalu ada adapter daya plus kabel power, kemudian ada remote control plus baterai, lalu ada paket dokumen. Nah, untuk desain dimensi keseluruhan proyektor ini adalah di 24,5 * 24,5 * 28,6 cm. Ini termasuk body proyektor dan stannya ya dengan proyektor mengarah ke depan. Untuk bobotnya ini ada kisaran 6,5 kg. Secara umum ini masih cukup ringkas, masih cukup mudah buat dibawa-bawa dan dipindah-pindahkan. bodinya menggunakan warna abu-abu metalik ya seperti ini ya. Nah, kita bahas apa saja yang ada di proyektor ini. Dimulai dari bagian proyektor yang ada di atas ini ya. Nah, di bagian depannya ini ada lensa proyektor. Nah, pastinya ya ini lensa proyektor. Lalu ada juga kamera dan sensor yang mendukung fitur AI auto magic adjusting 2.0. Nah, lalu tentunya ada lubang ventilasi juga di beberapa area di sisi depan ini. Beralih ke sisi atasnya dari bagian atas ya, di sini ada lampu indikator yang dikelilingi lubang ventilasi. Di sisi kiri dan kanan ini ada speaker yang terintegrasi ke proyektor laser ini. Lalu di sisi belakang ada deretan konektor IO. Nah, di sini tuh ada 1 3,5 mm analog audio output. Lalu ada satu HDMI 2.1 dengan Earc ya di sini. Lalu ada satu HDMI 2.1 lagi. Ada dua USB 3.0 ya. 3.0 type A, lalu ada satu digital audio output dan ada satu Ethernet port. Dan ada juga infrared receiver ya di sini. Di belakang juga ada ventilasi utama proyektor ini ya. Ukurannya cukup besar dengan dua buah kipas exhaust. Sekarang kita beralih ke bagian stannya. Nah, seng bagian bawah nih ya. Stan ini juga bukan tipe yang bisa dilepas. Jadi ini merupakan satu kesatuan dengan seluruh bagian proyektornya. Bagian dasar atau base standnya ini menggunakan penampang yang bentuknya lingkaran seperti ini. Nah, di sisi bagian atas bagian dasar ini ada subwoover untuk sistem audio yang terintegrasi juga ya. Proyektor ini punya sistem audio 2.1. Dua di sisi atas proyektornya sementara satu ada di base 10-nya ini. Sementara untuk sisi dari base 10 ini di area belakangnya itu ada konektor DC in dan tombol power. Nah, tombol power ini juga bisa digunakan untuk navigasi sederhana untuk berkorektor satu ini. Ya, sayangnya hanya itu saja tombol pengendalian yang ada di unit proyektor ini. Kalau mau ada opsi pengendalian yang lebih lengkap, kita harus pakai remote bawaannya. Jadi memang ini beda dibandingkan e proyektor yang tradisional ya, yang umumnya masih punya banyak tombol pengendalian di dalam perangkat proyektor sendiri. Oke, kita lanjut untuk stannya. Ini stan ini merupakan kunci dari gimbal desain. Ini merujuk ke stan proyektor yang memungkinkan proyektor itu berputar di dua aksis, horizontal dan vertikal. Untuk horizontal ini bisa 360 derajat. Ini menggunakan mekanisme yang ada di sisi bawah base stand projjector ya. Sementara untuk vertikal dia bisa sampai 135 derajat. Ini menggunakan poros yang ada di leher stannya. Nah, gimbal desain ini membantu proyektor menawarkan fleksibilitas tinggi dalam hal penempatan hasil proyeksi. Jadi kita gak perlu tuh ya kalau mau mendangakkan itu ya pakai diputar putter putter putter gak usah tinggal digeser-geser aja beres. Oke terakhir untuk sisi bawah base stand terlihat ada bantalan karet untuk kaki proyektor dan ada juga lubang mounting untuk masang proyektor ini ke tripod atau bracket yang khusus. Sekarang kita masuk ke spesifikasi proyektornya. Sistem proyeksyeksinya adalah DLP. Light source-nya itu laser tepatnya pure tricolor laser dengan tri chroma. Laser ini disebut memiliki lifetime sekitar 25.000 jam. Ya, laser projecttor memang punya keunggulan di masa pakai sumber cahaya yang panjang banget. Sebagai perbandingan ya untuk proyektor sejenis yang masih pakai lampu biasa ya, umur lampunya di mode normal itu rata-rata 4.000 sampai 6.000 jam saja ya. Selain itu proyekor lor seperti ini juga minim biaya maintenance ya. Untuk brightness dia ada di 3000 lumens. Native expect rasio 16 b 9 native resolutionya di 4K USD 3840 * 2160 piksel. Benar-benar kelas premium ini ya. Untuk refresh rate-nya sampai 240 Hz di 2K dan 60 Hz kalau di 4K. Color dep-nya ada di 10 bit atau 10 bit ya. Jadi dia punya 1,07 miliar warna. Untuk HDR-nya dia punya HDR10, HDR 10 Plus, HLG, lalu Dolby Vision juga bisa. Dan dia sudah mendukung tampilan 3D juga. Untuk lensa dia mendukung terlalu rasio 0,9 kali sampai 1,6 kali. Untuk ukuran bidang proyeksi yang direkomendasikan adalah berada di antara 65 inci sampai 300 inci. Nah, berdasarkan keterangan dari High Sense, proyeksi secara 100 inci didapatkan dengan jarak sekitar 3,3 m atau 2 m kalau kita pakai zoom 1,5 kali. Sementara proyeksi 200 inci itu didapatkan dari jarak sekitar 6,6 m atau 4 m saja kalau pakai zoom 1,5 kalinya. Lalu untuk proyeksi sekitar 300 inci itu kita bisa dapatkan dari jarak 10 m atau 6 m kalau kita pakai zoom 1,5 kali. Lanjut untuk build-in speakernya ini 2.1 channel seperti kita bahas tadi. Untuk sound output power-nya itu adalah 2 * 10 watt plus 20 wat dan ini sudah support DTS Virtual X. Untuk konektivitas dia support Ethernet WiFi 6 dan Bluetooth versi 5.3. Nah, HS C2 Uter ini dilapih dengan Vida U7.6. Jadi, ini bisa digunakan tanpa butuh menghubungkan proyektor ini ke perangkat yang lain. Secara umum, Vida di sini sudah menawarkan berbagai aplikasi streaming konten populer termasuk YouTube, Netflix, Disney Plus, Hotstar dan lain sebagainya. Oke, kita mulai setup proyektornya ya. Sebelum kita bisa pakai proyektor ini untuk menikmati konten, kita harus tentukan dulu posisi penggunaan proyektor termasuk di mana hasil proyektor ini akan ditampilkan dan seberapa besar ukurannya. Untungnya untuk ukuran proyeksi yang terbilang besar, proyektor ini tidak butuh jarak yang jauh dari bidang proyeksi. Walaupun demikian, tetap saja kita akan butuh ruangan yang cukup besar ya untuk menggunakan proyektor ini secara optimal. Apalagi kalau mau sampai 200 inci atau 300 inci. Karena sebetulnya sayang dong udah beli proyektor ini tapi tampilannya cuma 65 inci. Nah, untuk pengaturan posisi hasil proyeksi zoom sampai 1,5 kali dan AI auto magic adjusting 2.0 ini benar-benar sangat membantu. Fitur ini secara otomatis melakukan auto kistone correction, auto focus dan auto obstacle avoidance. Ada juga intelligent wall color adaptation untuk menyesuaikan warna tampilan proyeksi dengan warna bidang proyeksi yang sedang kita gunakan. Sementara kalau kita pakai screen khusus proyektor, ada juga auto screen fit. Tidak ketinggalan ada juga intelligent eye protection yang akan mengaktifkan mode proteksi saat ada orang yang masuk ke area proyeksi dari proyektor ini. Secara umum mendapatkan hasil proyeksi yang ideal sangat mudah dengan proyektor yang satu ini. Bahkan menonton sambil rebahan dengan proyeksi di langit-langit kamar itu bisa banget. Mudah sekali kalau pakai yang satu ini ya. Oh ya, masih untuk setup awal ada juga setup untuk VIDA ya dan ini terbilang sangat sederhana sekali sih sebetulnya kita udah bahas berulang-ulang kali dengan TV-TV yang menggunakan VIDA juga. Oke, sekarang kita langsung bahas remote controlnya. Nah, untuk pengendalian proyektor remote control bawaan ini akan jadi senjata utama kita mengingat tidak ada opsi navigasi yang e mumpuni di body perangkatnya. Remote ini berukuran cukup ringkas ya dengan tombol yang enggak terlalu banyak juga jadi nyamanlah untuk digunakan. Ada juga empat shortcut untuk membuka aplikasi streaming populer dengan cepat di sini. Remote ini juga sudah dilengkapi dengan backlight untuk tombol-tombolnya. Jadi dipakai di ruangan yang gelap? Mudah. Oke, sekarang mari kita tes untuk penggunaannya ya. Kita coba cek dulu brightness yang ditawarkan oleh proyektor ini. Saat kami coba setting ke tingkat paling tinggi dengan laser luminance mentok kanan, pengukuran kami menunjukkan bahwa hasilnya 4.100 ansi lumens. Ini sih tinggi banget ya. Sementara untuk konfigurasi standar preset yang tersedia brightnessnya itu di kisaran 3.500 sampai 3.600 ansilumens. ini di atas klaimnya High Sense. Dia bilang kan katanya ada di 3.000 lumens, kita dapat jauh lebih tinggi. Ya, secara umum proyektor ini harusnya cocok untuk nonton di ruangan gelap atau ruangan yang tidak terlalu terang juga ya. Nah, kalau di ruangan yang cukup terang bisa jadi hasil proyeksi akan terasa sedikit kurang mantap, kurang tajam aja gitu. Oke, kita langsung coba pakai proyektor ini dan kita coba berbagai konten yang ada di Netflix dan YouTube. Saat kita coba untuk nonton dengan beberapa film 4K di Netflix dengan proyektor ini, tampilan dihasilkan memang terlihat kelas atas. Tampilan proyek terbilang relatif tajam khas proyektor 4K dengan warna-warna yang memang saturasinya tinggi. Nah, untuk warna-warna cerah kami kadang merasa masih terlihat tampil sebagai titik RGB di beberapa bagian. Entah apakah ini efek dari bidang proyeksi yang memang tidak pakai scrim khusus ya. Tapi untungnya itu kalau benar-benar diperhatikan ya, kalau nonton biasa kemungkinan besar sekali sih ini tidak terlihat. Nah, kalau terkait saturasi warna yang terasa tinggi, HS mengklaim kalau ini memang bisa mencapai 110% BT 2020. Ini berarti dari segi volume warna aja jauh sekali di atas sRGB. Nah, saat kami coba ukur memang kami bisa mendapatkan gambut volume jauh di atas 100% sRGB. Tapi saat dibandingkan dengan BT 2020 ini masih belum benar-benar mencakup seluruh area dari BT 2020. Sekali lagi ini bisa jadi dipengaruhi juga oleh bidang proyeksi yang kami gunakan ya. Walaupun begitu tetap saja saturasinya tetap bisa tinggi. Nah, kalau tidak cocok dengan saturasi setinggi ini, ada opsi kok untuk mengubah warnanya agar lebih dekat ke R09 atau sRGB DCIP3 atau juga Adobe RGB. Nah, HDR dan Dolby Vision ini juga terdeksi dengan baik di sini ya, di mana PR langsung menjalankan preset tampilan khusus untuk HDR dan Dolby Vision. Untuk MAX inhance ini juga tersedia dan seharusnya ini cocok dipakai di aplikasi yang mendukung seperti misalnya Disney Plus Hotstar. Nah, hal lain yang kami rasakan di berbagai preset yang ada HS memilih untuk mengaktifkan motion smoothing ya. Jadi konten video dengan frame rate rendah akan tampil seakan-akan berjalan di frame rate yang tinggi. Kalau enggak suka dengan efek yang terlalu mulus-mulus licin seperti ini, tentunya bisa kita nonaktifkan secara manual kok. Atau kita bisa aja langsung pakai filmmaker mode untuk tampilan yang lebih menyerupai yang diinginkan oleh kreator filmnya sendiri. Termasuk untuk frame rate-nya. Ini tersedia untuk SDR maupun HDR. Tapi mengingat ini seharusnya proyektor untuk menikmati konten khususnya film, kami berharap fitur smoothing ini secara standar enggak usah diaktifin sih sebetulnya. Oke, sekarang bagaimana dengan kontrasnya? Memang ini bukan yang super dalam kontrasnya, tapi ini wajar untuk proyektor ya. Secara umum kontras yang ditawarkan terbilang sudah mencukupi, terlebih kalau kita pakai proyektor ini di ruangan yang gelap. Nah, HS juga menyediakan fitur 4K resolution upscaling untuk proyektor ini. Jadi, kalau mau muter konten dengan resolusi di bawah 4K enggak ada masalah ya. Tidak terlihat kurang tajam di sini karena menurut kami up scally yang ditawarkan itu berfungsi dengan sangat baik. Konten 720p dan 1080p itu masih bisa diangkat sehingga tampil relatif tajam di hasil proyeksi dari proyektor ini. Nah, selain konten dari aplikasi streaming yang ada di Vida, proyektor ini tentunya bisa menampilkan konten dari perangkat yang terhubung via port HDMI yang tersedia. HDMI di sini mendukung input sampai 4K 60 HDR yang merupakan resolusi dari refresh rate maksimal yang didukung. Ini cocok ya kalau mau dikondisikan ke PC desktop, laptop, STB, Blu-ray player hingga game konsol masa kini. Ya, Hsens menyebutkan kalau proyektor ini pas juga untuk gaming dengan Xbox. Sayangnya karena konsep tersebut tidak masuk SE Indonesia, jadi kami tidak bisa mencobanya di C2 Ultra ini. Sebagai gantinya nanti kita akan coba main game dengan laptop ya. Kita lanjut untuk bahas input proyektornya dulu ya. Nah, kalau mau muter konten dari stories berbasis USB, di sini ada dua port USB 3.0 type E yang bisa digunakan. Ini berguna kalau misalnya mau pamer video buatan kita sendiri tapi ribet kalau harus upload ke YouTube dulu. Nah, bisa tuh langsung dimasukkan ke dalam flash disk atau SSD saja dan pasang ke proyektor ini. Eh, tapi ini jangan dipakai buat nonton film download ya atau yang bajakan-bajakan itu ya. Oke, sekarang beralih ke audio. Sistem audio bawaan proyektor ini terbilang menarik ya. Di sini kualitas suara hasilan tuh terbilang memadai sekali, jelas, dan rapi. Volume suaranya juga terbilang sangat lantang. Jadi label sound by JBL di sini sangat layak ya. Kami merasa untuk sebagian besar pengguna speaker ini akan terasa cukup ya untuk penggunaan proyektor yang satu ini. Memang ini belum yang bisa menghasilkan sensasi surround, tapi ini wajar untuk speaker terintegrasi di perangkat yang terbilang cukup ringkas. Kalau memang merasa butuh upgrade kualitas suara, kan kita bisa aja nambahin perangkat audio tambahan seperti soundbar ke proyektor ini ya. Bisa juga dengan analog audio output, digital audio output atau via HDMI Earc yang tersedia. Oke, sekarang mari kita coba proyektur ini untuk main game. Ada fitur ALLM dan game mode yang serupa dengan yang ditawarkan di Smart TV HighSense dengan Vida Useries. Game mode ini akan menonaktifkan post processing tampilan yang berpotensi menyebabkan lag di tampilan game-nya. ini bisa aktif secara otomatis dengan memanfaatkan fitur auto low latency mode. Ada juga game bar dengan opsi pengaturan khas gaming seperti untuk dark detail, aspek rasio, dan beberapa hal lain. Ini juga mirip banget seperti yang ada di smart TV yang pakai vida. Kalau mau gaming di frame rate tinggi, ada juga opsi sampai 120 Hz atau 240 Hz. Dan di sini kita bisa pakai resolusi 2K atau full HD lah tepatnya untuk opsi refresh rate sampai 120 atau 240 Hz tersebut. Secara umum main game dengan proyektor ini memang terasa nyaman ya dengan input lag yang relatif tidak terasa mengganggu. Nah, untuk konsumsi daya kita lihat di sini ya saat kita ukur ada di kisaran 120 sampai 150 watt saat digunakan untuk nonton konten. Ini berlaku untuk konten SDR maupun HDR. Jadi konsumsi dayanya ini ajaib sih. Ini rendah sekali tidak menyeramkan sama sekali. Nih sebenarnya ekspektasi kami di awal itu 200 sampai 300 watt. Ini separuh dari ekspektasi kami. Oke untuk harganya. Nah, proyektor Highse C2 Ultra ini dipasarkan dengan harga kisaran Rp49.999.000. Harganya harusnya terasa layak untuk kemampuan premium yang ditawarkan oleh proyektor yang satu ini. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama, di sini tidak ada tombol navigasi yang memadai di body proyektor. Jadi, pengendalian proyektor itu sepenuhnya pakai remote control. Nah, walaupun bukan yang butuh jarak proyeksi jauh banget, tapi tetap saja kita butuh ruangan yang relatif besar untuk mendapatkan hasil proyeksi ukuran besar. Kita enggak mau jalan di 65 atau sekedar 80 inci doang dong. Maunya tuh di atas 100 inci lah harusnya. Dan untuk itu kita butuh ruangan yang panjangnya paling tidak 3 m ke atas. Lalu untuk fitur motion smoothing menurut kami sih harusnya tidak diaktifkan secara standar di proyektor ini yang fokusnya memang untuk menikmati konten film. Tapi ya enggak masalah juga sih sebetulnya asal kalian sadar matiin aja aman kok. Lalu kemudian sayangnya di sini tidak ada carrying case yang disediakan oleh High Sense dalam paket penjualannya. Padahal itu bisa membantu kalau kita butuh membawa proyektor ini ke tempat lain. Kemudian entah kenapa kami masih merasa ada tampilan warna RGB yang sering muncul di warna-warna cerah saat menggunakan proyektor ini. Hal seperti ini tidak terjadi di proyektor laser lain yang pernah kami coba. Apakah ini karena bidang proyeksi kita yang bukan pakai layar khusus? Mungkin ya mungkin bisa terjadi. Nah, headset menyarankan untuk tampilan kita sebaiknya pakai bidang yang matte atau layar projecttor yang soft. Sementara di sini kami menggunakan dinding ya. Nah, untuk hal menariknya ini brightness-nya tinggi banget ya. bahkan lebih tinggi dibandingkan janjinya. Jadi, kita tidak harus cari ruangan yang total gelap total gitu. Enggak usah ya kalau pakai proyektor yang satu ini. Lalu resolusinya 4K ini mendukung tampilan proyeksi yang tajam. Dia punya AI auto Magic Adjusting 2.0. Ini sangat-sangat membantu sekali untuk mendapatkan hasil proyeksi yang pas dengan cepat dan mudah. Lalu, laser projecttor seperti ini punya umur pemakaian yang panjang. High sense bahkan menjanjikan bahwa light source-nya itu bisa mencapai 25.000 jam. Lalu, OSVanya ini ringan dan responsif. nyaman banget buat digunakan. Kemudian gimbal desainnya itu mendukung penempatan hasil proyeksi yang fleksibel banget. Bahkan mau diproyeksikan ke langit-langit kamar itu jadi bisa banget, mudah banget. Ini sangat beda dibandingkan proyektor-projektor lainnya. Lalu dia juga mendukung zoom optical dari 0,9 kali sampai 1,5 kali. Lalu satu resi warnanya tinggi. Ini akan menjanjikan tampilan yang sangat berwarna. Memang belum tentu semua orang akan cocok dengan tampilan seperti ini dan untungnya ada opsi untuk membatasi tampilan warna ke re9 di CP3 atau Adobe RGB. Jadi amanlah ya. Dia juga punya dua port HDMI yang salah satunya bisa bentuk HDMI ER. Mau dipasang ke dua perangkat sekaligus juga bisa enggak ada masalah. Atau mau pakai bareng soundbar lewat HDMI, AR atau Ear masih ada satu port HDM lagi yang bisa dipakai untuk input kan. Kemudian di sini juga ada dukungan untuk filmmaker mode IMAX enhance HDR 10 Plus dan dual B vision. Kemudian dia relatif ringkas tidak terlalu berat jadi masih mudah mau dipindahkan atau bahkan dibawa-bawa. Lalu konsumsi daya juga ini tidak tinggi untuk apa yang ditawarkan terutama kecerahan yang ditawarkannya ya. Proyektor ini memang cocok banget untuk yang pengin punya home cinema berkualitas di rumah. Apalagi kalau kalian butuh tampilan 200 inci bahkan sampai 300 inci. Kemudahan pak yang ditawarkan ini bisa jadi pertimbangan tersendiri ya untuk yang tidak ingin direpotkan dengan pengaturan serba manual untuk mendapatkan hasil proyeksi yang pas. Jadi singkat kata ini memang proyektor kelas premium banget yang mumpuni banget, cocok banget untuk bikin e bioskop di rumah ya. Jadi levelnya untuk bikin bioskop berkelas di rumah ya cerdas pula dan mudah sekali penggunaannya. Saya D Irfan Jaka TV TV. [Musik]
