Super Tipis, Desain Mewah, Performa Maksimal - Review HP Omnibook Ultra 14 (2026) (YouTube Video)
Ini adalah laptop kelas premium dari HP yang beneran mewah. Bodinya ringkas, tebalnya hanya 1 cm tapi beneran kokoh pas diangkat. Desainnya cakep, terasa tegas dan mewah. Performanya kelas atas pakai prosesor Intel Core Ultra 7 356H. RAM-nya enggak cuma super lega, tapi juga super kencang. 32 GB LPDDR5X 9523. Storage-nya juga kencang, langsung 1 TB SSD NVMe PCIe Gen 5 ya. Layarnya touchscreen, mewah nih 3K OLED 120 Hz dan sudah 100% DCI-P3. Touchpad-nya juga pakai haptic touchpad. Dan pastinya sudah dilengkapi dengan sistem keamanan biometrik pakai infrared kamera. Ini adalah HP OmniBook Ultra 14. Ya kalau ngomongin laptop premium kelas atas, OmniBook Ultra 14 memang enggak bisa dilewatkan. Seperti laptop yang satu ini ya, baru dilihat sekilas saja sudah langsung terasa mewahnya. Tapi gimana dengan performanya? Mari kita bahas semuanya mulai dari spesifikasinya terlebih dahulu. Prosesornya pakai Intel Core Ultra 7 356H. Code name-nya Panther Lake, litografi Intel 18A. Apa itu 3 nanometer? Enggak pakai di sini. Base power di 25 watt. Total core-nya ada 16 core, 16 thread yang terdiri dari 4 performance core, 8 efficient core, dan 4 low power efficient core. Maximum turbo frekuensinya up to 4,7 GHz dan kapasitas Intel Smart Cache-nya sebesar 18 MB. Kalau kata Intel sih, ini inovasi hebat dari Intel Inside. Nah, NPU-nya pakai Intel AI Boost dan punya performa up to 50 TOPS. Jadi sudah jelas ya, ini masuk kategori Copilot+ PC. iGPU-nya pakai Intel Graphics dan punya total 4 Xe Cores. Perlu diingat ya, walaupun namanya sama-sama Xe Cores seperti yang pendahulunya, yang ada di prosesor ini adalah Xe 3 Cores generasi terbaru. Jadi ini lebih kencang. Untuk RAM, dia 32 GB LPDDR5X 9523 on board. Unik nih ya, karena prosesornya hanya mendukung kecepatan maksimal di memori LPDDR5X 8533. Jadi sebenarnya sudah overkill yang satu ini ya. Kapasitas storage-nya ada di 1 TB SSD M.2 NVMe PCIe Gen 5. Hanya ada satu slot SSD M.2 di laptop yang satu ini. Tapi, ini sudah lega banget ya dan sudah pakai PCIe Gen 5 yang super kencang. Konektivitas wireless-nya pakai Intel Wi-Fi 7 BE211. Tentunya support Wi-Fi 7 dan Bluetooth versi 6. Kapasitas baterai juga lumayan besar di 70 watt hour. OS-nya pakai Windows 11 Home. Untuk bodi, form factor-nya clamshell atau laptop klasik ya. Materialnya full aluminium dengan sandblasted finish. Untuk warna ini namanya adalah eclipse grey aluminium. Untuk desain seperti yang kita bahas dari awal ya, laptop yang satu ini punya desain yang mewah. Area sisi pinggiran bodi laptop ini memiliki coating yang agak reflektif memberikan kesan yang tegas dan berani di laptopnya. Cover atasnya juga terlihat sangat polos jadi terasa profesional saat digunakan. Selain memberikan kesan mewah, bodi aluminium ini juga membuat laptopnya terasa sangat kokoh. Bahkan kita bisa angkat laptopnya dengan satu tangan di ujung tanpa terlihat ada bending atau lengkungan di bodinya. Intinya benaran mewah lah satu ini ya. Untuk dimensinya, panjang 31,1 cm, lebar 21,5 cm dan ketebalan di 1,07 cm. Ini benaran super tipis ya. Biasanya yang tebalnya 1,2 cm itu sudah kita bilang sangat tipis. Nah, ini 1,07 cm, lebih tipis lagi. Untuk bobotnya, laptopnya saja 1,27 kg. Charger-nya 180 gram dan total bobotnya kalau dibawa-bawa adalah 1,45 kg. Oke, untuk display, laptopnya menggunakan panel OLED ukuran 14 inci. Resolusinya 3K atau lebih tepatnya 2 880 x 1800 pixel. Jadi, aspek rasionya sudah kekinian 16 banding 10. Refresh rate-nya sudah 120 Hz dengan response time 0,2 ms. Layaknya sebuah layar laptop di kelas premium ya. Menurut HP, tingkat kecerahan maksimal layar ini di mode SDR itu mencapai 500 nits dan di mode HDR itu bisa mencapai 1100 nits dengan color gamut di 100% DCI-P3. Kalau kita uji, kita lihat tingkat kecerahan maksimal untuk mode SDR itu ada di kisaran 473 nits. Sudah dekat lah ya. Dan untuk mode HDR mencapai 1044 nits. Lalu untuk gamut coverage-nya ada di 99,9% DCI-P3 dengan gamut volume di 119,9% DCI-P3. Kalau memang warna layarnya terasa terlalu kaya ya, kita bisa mengubah profil warna layar itu melalui software HP. Sebagai contoh, saat kita ubah ke mode DCI-P3, gamut coverage-nya ada di 99,4% DCI-P3 dan gamut volume di 106,3% DCI-P3. Oke, sudah tidak sekaya tadi ya warnanya ya. Jadi layarnya sudah cocok nih dipakai untuk berbagai kegiatan content creation. Dipakai buat nonton juga jelas nyaman karena sudah disertifikasi low blue light. Nah, walaupun bukan laptop convertible, layarnya sudah support touchscreen dengan 10 point multi touch. Dan dia sudah menggunakan Corning Gorilla Glass 3. Jadi durable saja tuh ya. Seperti layar OLED pada umumnya, layar ini punya permukaan yang glossy yang membuat warna jadi terlihat cemerlang banget. Tapi memang permukaan layar ini jadi terlihat sedikit mantulkan bayangan dan cahaya. Bingkai layar terlihat sangat tipis dengan screen to body rasio mencapai 91%. Oke, sekarang kita lihat kamera dan mikrofonnya. HP Omen Transcend 14 ini menggunakan kamera 5 megapixel yang sudah mendukung temporal noise reduction. Tentunya kamera juga sudah support fitur-fitur Windows Studio Effects seperti background blur dan auto framing. Untuk mikrofonnya itu ada di samping kanan dan kiri kamera. Untuk kualitas kamera dan mikrofonnya kurang lebih seperti ini. Oke, sekarang saya sedang berada di luar untuk menguji kemampuan mikrofon dan noise cancelling dari laptop HP yang satu ini. Nah, seperti yang kalian lihat di belakang saya kondisi jalanan lagi ramai kendaraan. Meski begitu suara saya masih bisa terdengar dengan jelas dan noise di belakang saya bisa direduksi dengan cukup baik. Oke, sekarang kita sedang berada di studio untuk menguji kemampuan kamera dari laptop HP Omen Transcend yang satu ini. Nah, kamera laptop ini bisa merekam video up to 1620p 30fps di rasio 16:9. Dan di kondisi cahaya studio yang memadai, hasilnya kurang lebih seperti ini. Muka saya terlihat jelas dan detail, warnanya pun juga oke. Beralih ke audionya, laptop ini menggunakan empat buah speaker yang mengarah ke alas laptop. Di sini ada software DTS:X Ultra yang dapat digunakan untuk mengubah preset audio dan equalizer. Untuk kualitas suaranya ini sih sudah bisa dibilang menggelegar ya untuk laptop yang tipis dan kecil seperti ini ya. Ini biasanya kualitas suara yang kita peroleh dari laptop-laptop besar kelas gaming ya, adanya di sini. Jadi luar biasa mantap suaranya. Lanjut ke konektor. Di sebelah kiri ada satu Thunderbolt 4, ada satu audio jack combo 3,5 mm. Di kanan ada dua Thunderbolt 4. Memang seperti laptop kelas premium lainnya, saat bodinya dibuat setipis ini konektor-konektor yang berukuran besar itu terpaksa dikorbankan. Nah, untuk keyboard-nya laptop ini menggunakan keyboard chiclet dengan layout yang mirip seperti Omnibook lain yang pernah kita review. Tombolnya punya travel distance yang dalam ya 1,3 mm dan switch-nya tergolong silent. Ini membuatnya sangat nyaman digunakan saat mengetik. Seperti biasa, tombol anak panah atas dan bawah itu punya ukuran yang lebih kecil dibandingkan tombol-tombol lainnya. Tombol power ini sudah menyatu dengan layout keyboard, terletak di pojok kanan atas. Tapi tenang, karena kita bisa atur di Windows supaya laptop ini enggak langsung mati saat tombol power ditekan. Keyboard ini juga dilengkapi dengan backlit warna putih yang punya tiga tingkat kecerahan. Lalu untuk touchpad, seperti yang di awal tadi kita bahas, laptop ini menggunakan haptic touchpad yang beneran terasa mewah saat dipakai. Posisinya cenderung center to body, jadi memang melebar ke kanan dari space bar hingga tombol copilot. Walaupun demikian, kita tetap bisa mengetik dengan nyaman karena touchpad ini punya fitur palm rejection. Jadi kalau telapak tangan kita masuk ke dalam touchpad, enggak ada masalah ya. Untuk segi keamanan, HP Omnibook Ultra 14 dilengkapi dengan kamera infrared dan juga sudah mendukung fitur Windows Hello. Nah, HP Omnibook Ultra 14 ini memiliki berbagai fitur AI tambahan yang bisa meningkatkan privasi dan kenyamanan penggunanya. Kita coba jelasin beberapa ya. Pertama, ada look to move. Jadi, saat kalian menggunakan monitor eksternal, kursor mouse akan secara otomatis berpindah ke monitor kedua saat kita menggeser pandangan ke monitor kedua. Lalu ada presence sensing, di mana laptop akan meredupkan layar dan memberikan notifikasi peringatan saat ada orang lain yang ada di depan laptop. Berikutnya ada juga screen shift. Fitur yang dapat membantu kita mengorganisasi window dan program yang terbuka. Misalnya ada window browser yang ingin kita pindahkan ke monitor kedua. Kita enggak perlu narik browser-nya ke layar kedua, cukup drag ke area atas monitor utama dan nanti akan muncul pop up untuk memindahkan window ke layar kedua. Nah, untuk pendinginannya laptop ini menggunakan sistem pendingin aktif dengan dua buah kipas. Menariknya, walaupun ini laptop super tipis dan super ringan, pendinginnya enggak bercanda di sini ya. OmniBook Ultra adalah laptop thin and light pertama dari HP yang menggunakan sistem pendingin vapor chamber. Sistem pendingin ini menjamin agar laptop dapat bekerja maksimal dengan suhu yang adem. Intake dari bawah dan exhaust ke arah belakang. Mari kita masuk ke aspek performa. Di software HP app terdapat beberapa mode performa yang dapat kita pilih sesuai dengan kebutuhan. Opsinya adalah smart sense, balance, cool, quiet, power saver, dan performance. Nah, untuk pengujian selanjutnya, saya serahkan sama Rifki ya. Ya, thank you Mas Dedy dan sekarang kita masuk ke pengujian pertama yaitu konsistensi performa-nya. Kita tes menggunakan Cinebench R23 stability test. Pertama kita cek dulu skor maksimalnya ya. Di mode balance, skor mencapai 13.386 poin. Di mode smart sense, skor mencapai 12.839 poin. Dan untuk mode performance, skor bisa didorong lebih tinggi lagi ke 16.232 poin. Sedangkan untuk skor yang bisa dipertahankan, di mode balance, skor ada di kisaran 12.000 an poin. Di mode smart sense, skor bertahan di kisaran 11.000 an poin. Lalu naik dan bertahan di kisaran 12.000 an poin. Kalau mode performance, ini yang paling kencang ya. Skornya bisa ditahan di 14.900 sampai 15.000 an poin. Untuk sebuah laptop thin and light, skor segini itu udah kencang banget ya. Ini udah mirip lah seperti laptop-laptop gaming. Berikutnya kita juga tes performa-nya saat laptop-nya enggak dicolok ke charger. Di mode performance, skor tertingginya itu bisa mencapai 16.556 poin. Dan untuk skor yang bisa dipertahankan, itu ada di kisaran 14.900-an poin. Jadi, bisa dilihat ya, kalau performanya itu tetap stabil walaupun enggak dicolok ke charger. Masih mirip lah sama performa saat dicolok ke charger. Berikutnya kita cek suhu kerjanya. Kita bisa lihat di mode performance, ini mode yang paling kencang, suhunya itu masih stabil di kisaran 77 sampai 81 derajat Celcius. Dengan sesekali spike ke 92 sampai 95 derajat Celcius. Ini sih adem banget ya, aman lah ya. Berikutnya kita masuk ke pengujian content creation. Pertama ada Adobe Premiere Pro CC 2026. Kita tes pakai video dengan durasi 5 menit yang biasanya. Untuk video 4K 60, video export itu selesai dalam waktu 9 menit 35 detik. Dan kalau videonya 1080p 60fps, itu selesai dalam waktu 2 menit 38 detik. Kita lihat suhu kerjanya saat melakukan 4K 60 video export. Suhu CPU sempat bertahan di kisaran 70 sampai 80 derajat Celcius. Tapi ini hanya di awal proses export ya. Dan kemudian dia turun dan mampu bertahan di kisaran 66 sampai 70 derajat Celcius. Dengan sesekali ya adalah sekali gitu, dua kali spike ke 78 derajat Celcius. Software berikutnya ada DaVinci Resolve 20. Ini kita pakai versi yang gratis, yang free version. Ini masih pakai video 5 menit yang sama. Untuk video 4K 60, dia selesai dalam waktu 11 menit 51 detik. Dan untuk video 1080p 60, itu selesai dalam waktu 3 menit 16 detik. Untuk suhu kerjanya saat kita lakukan 4K 60 video export, di awal proses export suhu CPU sempat naik hingga 86 derajat Celcius. Tapi kemudian turun dan bisa bertahan di kisaran 72 sampai 78 derajat Celcius. Jadi, masih adem juga ya ini di DaVinci. Berikutnya kita cek kalau pakai CapCut gimana nih. Kita masih pakai video yang sama, durasi 5 menit. Untuk video 4K 60, selesai di export dalam waktu 4 menit 23 detik dan kalau videonya 1080p 60 FPS selesai dalam waktu 2 menit 4 detik. Untuk suhu kerjanya saat melakukan video ekspor 4K 60 suhu CPU ada di kisaran 80 sampai 89 derajat Celcius dan sempat spek di akhir ke 96 derajat Celcius. Nah, berikutnya kita cek kemampuan gaming-nya. Walaupun laptop ini sebenarnya itu buat kerja ya bukan buat gaming, tapi bukan berarti dia enggak bisa dipakai untuk main game. Hasilnya kurang lebih seperti ini. Nah, kita lihat suhu kerjanya saat kita mainkan Cyberpunk 2077 selama 30 menit. Untuk suhu CPU ini sangat aman di kisaran 71 sampai 73 derajat Celcius. Nah, untuk suhu permukaannya ini kita bisa lihat titik terpanas itu di area lubang pembuangan udara ya, yang mencapai 47 derajat Celcius. Tapi ingat, ini wajar karena memang ini adalah titik lubang pembuangan udara panas dari dalam laptopnya. Sedangkan untuk area permukaan keyboard itu area terpanas ada di bagian tengah yang ada di kisaran 38 sampai 42 derajat Celcius. Tapi ingat, ini suhu segini ini baru kita temukan kalau memang kita pakai laptopnya untuk main game seperti Cyberpunk. Dan ini main game-nya lama, 30 menit lebih. Jadi wajar ya sebenarnya karena memang laptopnya bukan didesain untuk hal ini. Lalu untuk area permukaan keyboard kiri dan kanan itu suhunya tergolong aman di kisaran 30 sampai 35 derajat Celcius. Jadi masih nyaman kalau mau dipegang. Sedangkan untuk area palmrest suhunya ada di bawah 31 derajat Celcius. Berikutnya kita masuk ke pengujian storage. Untuk kecepatan bacanya dia ada di 10.754 MB per second. Sedangkan kecepatan tulisnya ada di 8.950 MB per second. Ini sih sudah jelas kencang banget ya, bahkan lebih kencang dari SSD yang biasa ada di laptop gaming kelas atas. Karena biasanya kalau laptop gaming kelas atas itu masih ada yang pakai SSD PCIe Gen 4. Sedangkan yang di sini ini sudah SSD PCIe Gen 5. Jadi jelas lebih kencang. Berikutnya masuk ke pengujian baterai. untuk pengujian kali ini seperti biasa kita set brightness di 150 nits dan volume di 25% untuk resolusi dan refresh rate ini masih default, tapi kita aktifkan fitur adaptive refresh rate. Dan untuk modenya kita taruh di smart sense. Hasilnya saat digunakan untuk lokal video playback 1080p baterai habis setelah 21 jam 50 menit. Ini keren banget nih bisa tahan seharian dari bangun pagi sampai tidur lagi laptopnya masih nyala kalau misal dipakai untuk video playback. Tapi itu tadi kan video playback ya, kalau kita pakai buat kerja gimana nih? Nah, kita tes menggunakan UL Procyon Office Productivity Battery Life untuk menggambarkan skenario kalau laptopnya dipakai buat kerja seperti buka Word, Excel, PowerPoint, Outlook dan yang lain-lain. Hasilnya baterai masih bisa bertahan sampai 13 jam 16 menit. Keren banget nih, ini beneran bisa dipakai buat kerja seharian ya. Bahkan kalau seandainya kerjanya nglembur gitu 12 jam ini masih bisa nih. Berikutnya kita cek kecepatan charging-nya di 30 menit pertama dia sudah terisi ke 40% dan untuk mencapai 100% hanya butuh waktu 2 jam 10 menit. Ini sebenarnya masih sedikit di bawah harapan kami ya, karena untuk laptop kelas harga ini harapan kami itu ada di sekitar 1 1/2 sampai 2 jam lah. Tapi ingat yang satu ini baterainya bisa awet banget sampai 21 jam lebih, jadi masih wajar ya. Oke, untuk harganya laptop ini satu dijual di harga kisaran 37.999.000 dan ini semua sudah termasuk Microsoft Office Home 2024 ada langganan Microsoft 365 basic selama 1 tahun juga, garansi 3 tahun resmi HP Indonesia lengkap dengan accidental damage protection selama 2 tahun. Nah, ADP ini menawarkan proteksi terhadap kelalaian pengguna seperti ketumpahan cairan, jatuh enggak sengaja, korsleting listrik dan lain-lain. ADP ini dapat diklaim maksimal 1 kali per tahun, jadi total 2 kali selama masa garansi. Oh ya, laptop HP sekarang juga sudah punya tambahan garansi internasional juga ya, jadi aktif di tahun pertama untuk yang satu ini. Selain itu setiap pembelian laptop HP OmniBook Ultra ini, kita juga dapat bonus tambahan berupa HP Creator Toolkit Bundle. Bundle ini terdiri dari berbagai aplikasi yang cocok buat kalian yang suka bikin konten atau pengin belajar hal yang baru. Sama seperti OmniBook 3 yang sebelumnya, di sini kita juga mendapatkan Woble Music Director selama 3 bulan, Fotor AI 5 Marketing selama 3 bulan, Future Learn Unlimited selama 1 tahun, dan yang terakhir ini eksklusif untuk OmniBook Ultra yaitu HP AI Producer Studio. Oh ya, promo HP Creator Toolkit ini hanya berlaku sampai 31 Oktober 2026. Sekarang kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Laptop ini hanya memiliki konektor USB Type-C saja, tapi sebenarnya wajar ya mengingat dimensi laptopnya yang super tipis. Nah, dari sisi menariknya, kita bisa lihat desain, kami sangat suka dengan desain laptop premium satu ini ya. Dia terlihat penampilannya tuh tegas dan berani, tapi tetap terlihat elegan, kerenlah pokoknya. Bodinya tuh sangat tipis, bobotnya juga tergolong ringan, tapi beneran terasa kokoh saat diangkat. Lalu performa, walaupun tipis seperti ini performanya enggak bercanda. Diajak multitasking berat, kuat nih prosesornya. Editing video aman, bahkan masih kuat 4K 60 di CapCut. Mau gaming, lancar, apalagi kalau game-nya support XSS upscaling dan frame generation. Lalu dia punya NPU baru, performanya up to 50 tops, ini sudah memenuhi syarat Copilot Plus PC. RAM-nya juga lega banget, jadi sudah enggak usah khawatir laptopnya nge-lag karena RAM-nya penuh. SSD lega dan super kencang. Layarnya mewah, 3K OLED 120 dan sudah 100% DCI-P3. Lalu baterainya ini irit banget, bisa hampir 22 jam untuk video playback. Dia juga punya sistem keamanan biometrik, kualitas kamera dan noise cancelling-nya juga memuaskan. Speaker keren banget, lantang, rapi, detail juga jelas. Lalu sudah support Wi-Fi 7, jadi future-proof. Garansinya pun sampai 3 tahun dan sudah lengkap dengan tahun. Oke, sekarang pertanyaannya, HP OmniBook Ultra 14 yang satu ini cocoknya buat siapa? Pertama, jelas untuk eksekutif bisnis yang butuh laptop yang cantik desainnya mewah body tipis dan bobotnya masuk golongan ringan jelas ini cocok dipakai kerja kantoran cocok banget lalu untuk konten kreator yang sering edit foto dan video tapi enggak mau bawa laptop gaming yang berat ini oke banget untuk programmer yang butuh laptop tipis dan ringan ini juga oke RAM-nya lega processor kencang intinya pastikan saja bahwa aplikasinya sudah sesuai dengan spesifikasi laptop ini jadi kalau ini cari adalah sebuah laptop super tipis cukup ringan mewah dan performanya kencang serta layanan after sales-nya kelas atas rasanya HP Envy Ultra 14 yang satu ini sangat layak untuk dipertimbangkan. [musik]
