Jungkat

SURVEI TEMPAT UJI NYALI NAIK JETOUR DASHING! (YouTube Video)

  • 29/04/2025

Oke, jadi hari ini anak-anak kantor gue yang di Jakarta itu harus ke Klaten. Terus pas ke sininya gua bilang, "Bawa mobil pinjaman kek, apa gitu yang bisa kita sambil bikin videonya." Nah, akhirnya mereka coba cari pinjaman dan kita dipinjamin Jetour Dhing. Dan ini memang ya kalau mobil-mobil dari Tiongkok itu harganya itu luar biasa loh. Ini mobil secara harga itu di bawah Rp400 juta, Rp390 juta. Dan ini kelasnya seharusnya kalau dari harganya itu kayak apa ya? Kayak mungkin kayak eh Honda HRV ya, tapi enggak nyampai 400, Toyota Yaris Cross atau mungkin Hyundai Kreta. Tapi secara dimensi ini mobil gede ya. Dia panjangnya 4560 hampir 4,6 m ya. Di mana kalau mobil yang gua sebutin tadi itu rata-rata panjangnya 4,3 m dan lebarnya 1,9 m. Makanya gua kaget tadi waktu e salat Jumat gua dijemput anak-anak kantor naik ini, "Wih, dalamnya gede banget ya." Karena gua belum pernah masuk ke dalam mobil ini ya. Cuma pas emang kita lihat langsung masuk ke dalam interiornya, ini harusnya mobil ada di kelas mobil yang ya 600 500 jutaan lah kalau dari dimensinya. Dan tampang depannya ini strong banget ya. Jadi karakternya kuat dari jauh orang udah tahu pasti ini adalah Jetour gitu. Jadi karakternya tuh kelihatan jelas enggak ngikutin mobil A B C DG gitu ya. Sama ada tulisan Jetur gede di sini. Jadi grillnya itu panjang. Lampu utamanya ada di sini ya. LED semua. Di sini ada lampu DRL-nya. Sama kalau kita lihat dari samping nih ya, ini mobil kalau difoto kelihatannya enggak terlalu besar kan. Pas kita lihat langsung besar karena dia punya ban sama peleg55 R19. Biasanya mobil kalau peleknya gede ya itu bisa ngebuat si mobil itu enggak kelihatan segede itu. Nah, terus kita lihat ke bagian sampingnya. Nah, bagian bawahnya tuh agak turun ke bawah kayak kupe-kupe gitu. Dan kalau kita lihat bagian belakangnya, nah ini gua suka sih tampilan belakangnya tuh kelihatan mahal dan lampunya itu detail. Ini kalau kita lihat atasnya nih, ini lucu nih. Jadi spoilernya itu dia tu kayak ada tempat kamera tapi enggak ada kameranya di bagian belakang. Terus di sebelah kanan kirinya itu ada high moed stop lamp dan desainnya itu niat banget gitu. Dan bawahnya itu kayak ada diffuser besar. Eh, knalpotnya enggak kelihatan ya. Jadi waktu jemput salat Jumat orang bilang, "Tu mobil listrik apa, Mas?" Bukan, ini bukan mobil listrik. Ini mesinnya 1500 cc turbo. Dan mesinnya ini kurang lebih mirip-mirip kayak sama yang dipakai sama Cherry Omoda 5 yang 1500 yang RZ. Oke, sekarang kita buka. Nah, seperti yang kalian lihat ya, karena emang dia mobil dimensinya besar, bagasinya pun juga besar. sudah pakai power back door. Harga Rp00 juta sama di bawah sini kita dapat tempat penyimpanan ya. Di sini tuh bisa kita ke bawahin lagi kalau misalkan kita pengin ee bagasi yang lebih gede. Tapi kalau misalkan kita pengin bikin rata lantai, taruh di atas saja nih separasinya. Nah, di bawah lagi ada ban Sereap Space Saver ya. Jadi kalau kita lihat bagian belakangnya, interiornya itu secara space emang enggak bisa dibandingin sama kayak kereta HRV dan lain-lain sih ya. Secara dimensi udah beda. Kalau enggak salah juga ini space-nya itu 486 L. Nutupnya halus dan enggak ada bunyi ngek gitu ya. Om Mobi kan biasanya enggak suka tuh ada bunyi-bunyi gitu. Oke ee kita mau sambil jalan-jalan. Jadi kan sekarang lagi ramai film pabrik gula ya. Nah, itu syutingnya di Klaten. Jadi, gua cek di Google itu syutingnya di dua tempat. Di pabrik pabrik gula yang di Cirebon. Satu lagi di pabrik gula Gondang. Itu depan toko helm teman gua. Jadi, kita mau ke sana aja. Kita lihat nanti di sana tuh ada apa sih di pabrik gula itu sambil kita nyobain si mobil ini gimana rasa berkendaranya. Oke, sekarang kita ke bagian tengahnya dulu ya, kekunci. Nah, seperti ini kuncinya ya seperti yang gua bilang dan ini bisa dibuka jadi kunci biasa. Jadi kalau misalkan akinya habis atau semacamnya mau masuk tinggal dicongkel aja nanti masukin kunci bisa diputar buat kebuka. Nah, ini kita buka aja. Wah, ini yang gua kaget pas masuk ke dalam [Musik] gede. Jadi ini mobil meskipun harganya under Rp00 juta, tapi pas masuk ke dalam ini lega sekali. Leg, headroom, wow gede. Dan kalau kita lihat joknya juga ini joknya itu bukannya dikecil-kecilin ya. Jadi ukurannya benar-benar besar ya. Kaki kita bisa tertopang dengan baik ya. Sama dia tuh enggak bisa dimundurin lagi sebenarnya ya, tapi bawaan standarnya itu sudah cukup rebah. Jadi buat di belakang itu mau ini posisinya kayak posisi malas posisi posisi santai. Jadi kalau kita di belakang pun itu rasanya jadi kayak bos ya. Door trim-nya bagian sini masih pakai plastik ras. Di sini ada aksen-aksen digital gitu ya. sama bawahnya ini pakai e kulit tapi kulitnya kulit sintetis sampai ke bagian sini sini ada empuk-empuknya ya nah yang bagian sini baru dia plastik-plastik keras dan dia itu sudah pakai all power window cuma ini mobil lagi mati aja nih jadi yang auto itu bukan yang driver doang belakang pun juga. Nah, terus kita dapat storage yang cukup besar ada cup holdernya sama kita dapat AC di bagian belakang ventilasinya. Di bawah sini ada tempat buat naruh handphone sama ini nih. Ini kayak BMW Mercy tah plastiknya itu dikasih rubber finish. Jadi dia enggak licin sama enggak terlalu bunyi kalau misalkan kita naruh barang di bawah sini. Nah, di bawahnya baru ada colokan. Nah, colokannya juga gua suka nih. Ada type C-nya sama type E-nya sama di sini bisa dibuka jadi tempat penyimpanan. Di amres-nya ada dua buah cup holder dan dia bisa diisi tiga orang secara proper karena emang kursinya juga lebar. Cuma pas kita duduk sini ya, ini mobil kan emang lebar, cuma pemandangan kita tuh enggak bisa terlalu ee plong gitu. Karena si kursi depannya itu model sporty. Jadi bagian headr-nya sama kursinya itu dibikin nyatu. Di sini ini kayak ada black room gitu. Rasanya mahal sih. Jadi kalau misalkan kalian suka duduk di belakang atau pakai driver, ini mobil pasti bisa bikin kalian happy. Nah, sekarang kita ke bagian depannya. Oke, sekarang kita masuk ke dalam. Kita nyalain aja. Oke, kita buka shade atasnya. Panoramaic SRV itu pencetnya sekali aja dia langsung buka otomatis. Oke, sekali lagi. Karena kalau buka pencet sekali dia akan sampai tengah. Kalau sekali lagi sampai kebukanya full dan ini panjang ya, jadi gede sampai ke belakang. Nah, kalau misalkan kita pencet yang ini, itu bisa buat ngebuka. Woh, bukannya gede ya. Bisa lagi dong. Wah, ini buat pejabat nih buat keluar nih gampang nih karena bukanya gede. Biasanya kan yang kaca-kaca begini bukanya kecil doang ya. Sama jetur dibikin lega. Aduh enak dingin di luar ini sebenarnya bentar lagi mau hujan. Dan yang gua senang ya Panoramax Skyrof-nya ini kalau misalkan kita lupa nutup gitu ya, dia kalau kita kunci dia akan nutup tiranya secara otomatis. Jadi enggak bikin kabin kita tuh jadi panas. Dan sekarang kita ngomongin interiornya ya. Dan seperti yang gua bilang, ini mobil kan lega ya. Interiornya tuh terasa lebarnya. Bahkan saking lebarnya AC-nya tiga nih ventilasinya 1 2 3. Ini AC-nya itu punya tombol yang lengkap ya mulai dari kecepatan, temperatur, defogernya, ee ngambil udara dari mana, ventilasinya, mode, sama nyalain matiin AC-nya. Kompresor dari sini termasuk matian AC bisa dari sini ya. panas ya. Kalau kita pencet nanti dia akan muncul dan ini dia punya layar itu gede 10,25 inci dan kalau misalkan kalian lagi nyetir pencet-pencet gini kan repot ya. Nah, ini bagus nih dia dikasih shortcut di sini. Jadi navigasinya itu bisa tuh pencet dari sini aja karena sekarang udah mulai jarang biasanya kalau udah pakai touch screen tombol comen key-nya ini dihilangin ya. Nah, cuma memang di bagian sininya nih ada home, back, sama matiin audio. Bukan matiin sih audio tetap nyala tapi dia jadi screen saver gitu. Sama tombol settings-nya itu. Itu dia kapasitif. Jadi bukan tombol yang bisa ditekan beneran. Nah, kalau kita putar di bagian sininya ini jadi volume. Nah, di atasnya ada auto hold, ada hazard, ada hill disent control, sama ada electronic parking brake-nya. Nah, kalau misalkan kita lihat transmisinya ini, tombol P-nya itu bukan di bagian sini, tapi di bagian bawah sini. Jadi, kalau P masuk ke sini, terus kalau kita mau masukin D tinggal ke bawahin, mau masukin manual tinggal ke kiriin atau ya pedle shift. Nah, ini nih Cherry itu enggak punya pedle shifter, tapi di Jetour itu ada. Dan kalau kita lihat tombol-tombolnya ini enggak ada. Ada enggak, Re? Satu yang sama tombolnya kayak punya Cherry. Enggak, enggak ada loh. Gua enggak nemu loh. Biasanya kan satu grup tuh masih ada yang sama ya. Tapi nih panel atasnya beda ya. Lampunya dinyalain juga beda. Bentuknya semuanya beda. Eh, ini bagus toh. Nih ada cekleknya gitu. Raserinya mahal nih. Spionnya beda. Buka di sini. Wih, lampunya ada gambar gunung di sininya ya. Jadi ini benar-benar kayak mobil yang enggak satu grup gitu. Dan di mobil ini gua juga menemukan beberapa elemen yang mirip kayak Mercedes Benz. Contohnya nih tombol puster stop engine button-nya. Ini mirip kayak punya MercedesBenz. Setirnya, tombol-tombolnya ini juga mirip kayak punya MercedesBenz tapi pengasiannya berbeda. Sama buat ngasih kesan mahal gitu ya. Di bagian Twitter itu dikasih metal seperti ini. Metal pakai CNC ya. Sama tuh buat bukaan pintunya. Ini cakep loh. Oke. Dan interior sendiri di bagian atas ini dia pakai soft touch ya. Jadi dipencet-pencet empuk. Jahitannya beneran. Di sini juga pakai soft touch dan di bagian paling kiri itu ada pattern-pattern-nya gitu. Tapi yang di sini tuh ini jahit-jahitannya itu cuma cetakan doang. Kalau yang ini baru dia pakai jahitan yang beneran. Nah, door trim-nya bagian sini masih keras. bawahnya ada pattern digital lagi. Baru di bagian sini pakai kulit. Even sampai ke sininya pun juga masih pakai kulit sintetis. Nah, yang lucu nih kelihatan enggak? Dia ini ada merah-merah ya dan ini bahannya kalau dipegang merah-merahnya kulit kayak tas mahal ya. Ini ternyata bisa dibuka dan ini ada magnetnya. Jadi kalau kita naruh barang di sini apa yang bisa ditaruh sini ya? Enggak bisa. Oh, bisa. Nah, biar enggak jatuh dikasih ginian. Tahu enggak nih? Sebenarnya kalau misalkan gua jadi jetur ya, gua bikin eh payung custom yang warnanya merah juga dislipin di sini ya, terus diikat gitu tek rasanya langsung kayak premium banget gitu kayak rollrroce kan ada payungnya kan ditaruh di bagian door trim buka dari samping kan. Ini kalau dikasih payung lipat, wah ini cakep nih. Nih masukan nih buat Jetour. Kalau misalkan mau bikin aksesoris gitu ya atau mau hadiah buat customer kasih payung bisa diselipin sini. Itu rasanya langsung berubah. Mahal rasanya. Mau hujan-hujanan. Mau hujan-hujanan. Kita mau keluar mobil lagi hujan-hujanan tinggal buka set keluarin trek. Kalau udah selesai tinggal taruh lagi tek. Wih, kayak tas mahal. Di bawahnya ada tempat penyimpanan dan sama yang unik adalah di sebelah kanan sini ini ada tombol ya bulat sama kayak navigasi gitu. Ternyata ini tombol buat ngatur spion. Jadi tombol yang tengahnya ini itu bisa dipilih kiri kanannya ya. Habis itu navigasinya itu ya buat ini buat ngatur spionnya mau kiri kanan dan kawan-kawannya gitu. Nah, terus di sebelah kanannya ini ada buat ngatur ketinggian lampu. Sebelah kirinya untuk matiin stability control. ESP off. Carefully drive, please. Kok gitu? Please drive carefully. Please drive car. Carefully drive please. Lah, bener loh. Ya udah, ini kayaknya udah mau mendung. Jadi takutnya nanti kita sampai pikula enggak bisa ngapa-ngapain. Wih, udah ini loh, kodaudah elektrik ya. Ada lambarnya dong. Ini jarang-jarang mobil segini ada lambarnya. Sama yang sebelah kiri ini juga pakai elektrik. Nah, wire charging-nya itu 50 watt. Nah, kalau kalian mikir 50 watt pasti panas dong. Ada kipasnya di sini. sama ada tempat penyimpanan bisa buat kunci 12 volt USB ya. Tapi enggak ada C-nya ya. Yang belakang ada C-nya. Yang depan sini enggak ada C-nya ya. Sama di sini ada cup holder dan ada kalau misalkan kuncinya susah gitu kan kadang-kadang sinyal tabrakan ditaruh sini nih diurunya ada gambarnya. Ini Pencet ada tempat penyimpanan cukup gede sama ada ventilasi AC-nya. Jadi bisa jadi coolbox ya. Kulitnya tuh lumayan loh kayak kulitnya napa leather. Jadi dia agak sedikit keset sama dibuka nih. Weh, udah soft opening. Yuk, let's go. Semoga nyampai bawa bawa payung rek. Takut sampai pabrik gula. Oke, ini lagi. Oke, kita jalan. Dia kayaknya ada ini ya. Oh, ada kamera 360-nya. Oh, bisa lihat kiri kanan. Oke, ini bisa pakai steering wheel angle activation. Signal lamp-nya juga bisa dinyalain. Kalau kita pencet lampu sein, nanti dia bisa ikut nyala ya. Terus ada oh ada transparansinya jadi dia bisa bawahnya bolong tuh kayak mobilnya transparan. Nah, biasanya kalau yang transparan gini nyebutnya kamera 540 ya. Jadi enggak cuma 360 tapi karena bawahnya bisa jadi kelihatan. Tapi ini gambarnya cukup bagus loh. Transparannya jahitannya dia tuh enggak enggak ini loh. Biasanya antar sambungan kamera itu dia tuh kayak ada ininya loh, kayak ada garisnya gitu. Ini benar-benar bagus tuh kayak ban doang jalan gitu kan kayak apa kalau di film Spongebob tuh yang kamera yang transparan mobilnya Barnacle Boy and Mermaid Man. Nah. Ini sebenarnya kita tuh mau sebelum kita jalan ke sana ya, ini mobil gua cek tekanan bannya ini tinggi sekali di atas 40 ya. Bentar mana tadi? Oke, baru jalan belum kelihatan. Nanti kalau udah jalan baru kelihatan. Tadi gua ngelihat tuh di sekitar 40 PSI tapi dia dalam bentuk bar. Nah, kita mau samain semua jadi sekitar 2,2,3 atau sekitar 33 PSI. Karena biasanya di angka segitu itu angka yang paling pas. Oke. Cuma sayangnya nih ya, pom bensin tempat kita biasa ee ngecek tekanan ban nambah atau ngurangin itu lagi ditutup gara-gara apa? Pertalit campur air. Hah? Dada aja. Oke, ngomong-ngomong soal pabrik gula, jadi di Klaten itu dulu zaman Soeharto itu e emang disuruh nanam tebu sama pemerintah dan pabrik gulanya tuh banyak banget bahkan dari zaman Belanda ada pabrik gula Gondang Winangun yang kemarin yang ini kita mau kunjungin karena jadi tempat syuting film ya. Ada di Ceper, ada di Wedi, ada di Delanggu. Banyak banget ya. Bahkan ee kalau kalian tahu ya dulu kan awal tahun 1500-an tuh kan Sugar Boom gula itu dicari di mana-mana. Mahal harganya. Dan waktu itu tuh eh Sultan Solo zaman dulu itu dia punya kenapa dia tuh kaget gua. Dia punya sembilan pabrik gula dan karena dia punya sembilan pabrik gula, dia bisa beli mobil. Jadi orang pertama di Indonesia yang punya mobil bahkan waktu itu Kaisar Cina sama Jepang itu ee gengsi. Wah nih orang Indonesia punya mobil ya Sultan Solo itu. Akhirnya mereka juga ikut-ikutan beli. Jadi kalah cepat tuh sama Indonesia. Nah itu dia pom bensinnya tuh. Ah endurinya tutup ya? Tutup. Hujan lagi. Jadi emang orang zaman dulu tuh harus punya seilan pabrik gula dulu baru bisa beli mobil. Sekarang kita tuh enggak harus punya pabrik gula dan bisa beli mobil karena harga mobil sudah semakin terjangkau buat orang-orang biasa. Bukan cuma kalangan raja sultan ya. Oke, anyway kembali lagi ke mobilnya ya. Ini mobil pakai mesin 1500 cc turbo. E torsinya 230 Nm dan tenaganya 156 Nm. Transmisinya dual clutch transmission. Nah, seperti yang kita tahu ini mobil mesinnya itu sudah dipakai sama Omoda 5RZ dan mesinnya ini cukup awet ya dan udah dipakai di banyak mobil. Wih, plaksonnya suaranya bagus ya. Gimana rasanya? Tentu saja kalau kita pakai akselerasi 0 100 itu sekitar 10 detikan kencang. Terus kalau misalkan kita dalam keadaan standar nih ya, kita jalan di 60 ya, terus di Echo RPM 500 kita gas, dia tetap ada lag-nya. Butuh waktu untuk transmisinya turun. Tapi itu karena di mode Ecoo. Begitu pula ketika start stop di mode tuh dia kayak masih nahan gitu loh biar irit. Nah, tapi kalau kita ubah mode berkendaranya, nah kita swipe ke bawah jadi sport langsung berubah karakternya. Yang tadinya nyantai kita lagi jalan 50 aja 1700 1800 nih ya. Kita gas cepat langsung turun giginya bentar kekencengan. Sama ketika kita lepas gasnya dia kayak masih ada basiannya gitu. Jadi enggak langsung turun RPM-nya. Nah, cuman dia itu cuma ada dua mode berkendara. Jadi, echo dan sport saja. Jadi, normalnya enggak ada. Kalau yang ekonya itu emang sengaja kan dibikin irit kan, jadi enggak dibikin responsif. Sportnya itu dibikin langsung berubah 180 derajat. Harusnya dia punya mode normal ya, jadi e enggak dicekek bensinnya kayak E CHO tapi RPM-nya enggak dibikin tinggi kayak mode sport. Karena ketika kita pakai mobil ini bawaannya tuh pengennya tuh mode sport terus. Karena ketika masuk ke Echo itu agak pedal gasnya tuh kayak ada ditahan dulu loh, dikasih delay seperti mobil-mobil lain yang pakai mode ECO. Nah, tuh kelihatan 2,8 bar 3,2 bar. Itu gede banget 3,2 bar. Coba kita ratain semua jadi sekitar 2,2 2,3 bar ya. Ini kalau kita pakai mode sport ya maunya lari terus kita injak dikit aja wus langsung ngacir. Karakter mesinnya itu dia menggebu-gebu di putaran atas. Jadi ketika masuk udah 3000 rpm ke atas itu langsung wes cepat. Tapi kalau dibuat 3.000 dia kayak agak sedikit nahan. Makanya kalau pakai modo sport dia kan mainnya R tinggi terus kan. Itu baru kerasa enaknya mesin mobil kencang. Depan tuh ada pom bensin. Kita mau turunin tekanan bannya ya biar pas. Udah 2,3 bar semua ya. E udah kita reset juga berapa kilometer perlit. Dari sini mungkin ke pabrik gula gondang berapa kilo ya? 20 ada enggak ya? Enggak tahu ya. Nanti kita lihat deh berapa. Oke setir dia sudah tilt dan telescopic ya. Bisa naik turun juga. Setirnya sudah pakai kulit ya. Dan lingkarnya ini cukup besar dan di bawahnya dia ada ratanya. Jadi dia flat bottom biar kalau kita keluar masuk itu lebih gampang dan karena sekarang itu juga lagi mendung hujan padahal sekarang masih jam berapa? Jam .30 ya. Nih, lihat ambiience light-nya kelihatan jelas di bagian sebelah kanan door trim. Bagian sini panjang sama di bagian sini nih. Sama kalau kita suka duduknya itu kaki kirinya nempel dia tuh ada bagian empuk-empuknya di bagian sini. Bagian atas doang dikit. Alhamdulillah hujannya makin deras ya. Bagaimana kita ke pabrik gulanya ini? Nah, terus gimana soal kenyamanannya? Yang pertama suspensinya. suspensinya itu dia Eropa banget ya. Jadi kalau misalkan di jalan tol gitu ya, dia tuh cukup stabil dan agak sedikit ngambang gitu loh, ada ayunannya tapi di jalan yang misalkan kita kena lubang segala macam dia cukup keras. Masih kakunya itu masih ada. Jadi ketika lewat jalan-jalan yang agak bergelombang kecil tuh ada kaku-kakunya itu masih berasa. Tapi kaku yang masih bisa ditolerir buat jalan jauh gitu ya. Ini suspensinya enak. Tapi emang kalau kita lewat proses tidur itu harus turing kecepatan. Kalau enggak dia kakunya itu masih berasa banget. Nah, sama peredaman kabinnya bagus. Peredaman kanan kiri. Kolongnya juga lumayan ya. Untuk mobil di bawah Rp00 juta itu perdamannya menurut gua oke banget ya. Sama suara mesinnya itu pun masuknya di RPMR RPM tinggi aja. Kalau kayak kita lagi berhenti gini lampu merah itu mesinnya kayak mati enggak sih? Kayak enggak berasa suaranya gitu. Terus handling-nya. Handling-nya menurut gua eh bukan suatu yang spektakuler ya. Dan kalau misalkan kita berharap ini mobil bakalan lincah, enggak lincah juga apalagi dimensinya gede ya. Tapi kalau kita pakai buat belok dengan kecepatan agak tinggi, dia punya body roll yang masih terjaga. Secara steering dia lebih ke enteng ya. Fel-nya emang agak kurang, tapi pas kita belok di cepat agak tinggi itu body rollnya tuh mantap gitu. masih stabil ya. Ini mobil karakternya mirip-mirip mobil Eropa lah kalau kita ngomongin dari cara berkendaranya. Ya paling ini Oi kalau pengen lebih wah lagi itu ADASnya harus ada sih. Jadi dia ADASnya itu cuma ada blend spot monitoring doang. Nah, dan cruise controlnya itu cuma cruise control doang. Padahal ada yang versi kalau di luar ya itu yang ada sel lengkap dengan l keeping assist. Jadi dia bisa nyetir sendiri di jalan tol. sama untuk transmisinya. Kalau kita pakai di kemacetan dia tuh rasa di CT-nya tuh masih ada gitu rasa jeglek-jeglek gitunya pas e kecepan rendah tuh masih ada dict-nya. Dan mobil ini juga ya tadi gua enggak nyalain wiper sama sekali dia otomatis nyala karena sudah pakai out wiper e auto head time juga yang pastinya. Sama dia tuh ada cornering lampnya ya. Jadi pas kita mau belok ya atau kita nyalain lampu se dia tuh kayak ada lampu tambahan gitu buat nerangin jalan di tempat kita mau belok gitu. Nah, ini dia pabrik gulanya. Panjang sekali ya, dari ujung sana sampai ujung sana dibangun di tahun 1860. Tuh ada cerobongnya di atas ya. Tuh sepanjang itu. Tapi kalau bagian sana itu kita enggak bisa masuk. Yang bisa masuk kita ke bagian sini nih. Nah, PG Gondang Baru, Gondang Winangun. Ini dibangun zaman Belanda ya. Dan punyanya Belanda sekarang sih harusnya udah jadi dinasionalisasikan. masuk sampai ujung sana tuh ya. Dan di sini juga itu ada beberapa tempat wisata ya. Jadi ada restoran namanya Makuto dulu. Ada lagi di di sini. Kalau kita mau muter balik itu ya, mau nyebrang itu agak susah. Pada enggak mau pada enggak mau ngerem tuh. Masih bisa. Masih bisa. Kita masuk ke Oke. Nah, ada pusat oleh-oleh terbesar dan terlengkap. Gua belum pernah sih masuk ke dalam situ sih. Bisa enggak sih? Enggak tahu. Oh, ada rumah-rumah tapi kosong. Kayaknya ini di bekas-bekas rumah pejabatnya deh. Nih tengah sini ada pohon beringin besar sekali. Sampai sana enggak boleh masuk tuh, Rek. Itu enggak boleh ya? Enggak boleh. Tapi itu tanahnya masih luas banget loh. Tuh ada rumah-rumah situ. Jalurnya sih ada, tapi kayaknya udah enggak ada yang nepatin ya. Beringinnya berin. Oh, gede ya. Gua kalau berinding takutnya takut ini aja tumbang. Tumbang dahannya tuh lihat tuh. Ya emang cocok sih buat film syuting film horor ya. Tuh. Hah? Ini bisa jadi perumahan sebenarnya ya. Oh, tuh itu kayaknya perumahan deh. Iya, ada yang tinggal. Ma, coba enggak iseng masuk. Mau bisa enggak masuk ke sana? Bisa sih? Muatak muat sih. Muat tapi ujungnya di pagar. Oh, coba kita ke sana dulu deh. Cari parkir dulu. Ini kan pusat oleh-oleh ya. Jadi kalau kalian lewat mau ke Jogja Solo gitu kan suka lewat sini. Coba deh mampir deh. Tuh ada kereta-keretaan. Jadi zaman dulu itu truk sama mobil kan jarang. Nah, mereka tuh pakai kereta. Ada kereta kecil namanya lori ya. Dan itu dipakai buat ngangkut tebu zaman dulu itu. Tuh, ini alat alatnya besar sekali ya. Itu mesin uap ya buat muter nih. Museum kita masuk yuk. Parkir dulu mobil. Rasa ya buka jendela langsung berisik ya. I emang perdaman mobilnya bagus sama dia punya audio itu. Audionya nih agak unik nih. Suaranya bukan yang wah banget gitu ya, tapi suara trelennya si Twitternya ini powerful loh. Agak kaget gua. Nah, ini Gondang Park nih. Oke. Nah, nih lihat beringinnya gede. Kalau enggak salah waktu itu syutingnya di sini nih. Waktu pas ini lagi syuting itu kan tempat makan enggak salah. Waktu pas Mbah Ringin. Uh, gede banget pohon beringinnya. Wak itu kalau enggak salah syutingnya di sini. Ini tutup enggak bisa masuk. Enggak, gua iseng aja pengen tahu. Ini hujan agak lumayan deras tapi karena ada Mbah Ringin. Coba sini biar bisa enggak nih? Bisa dong. Tuh, ide gua bisa diterima enggak nih? Keren loh. Tuh. Cakep kan? Jadi waktu itu gua pernah sempat lihat ada syuting di sini ya, tempatnya di depan sana. Tapi sebelum kita masuk ke sana, kita mau ke sana dulu. Siapa tahu ada petugas segala macamnya bisa kita tanya-tanya dan kita bisa masuk ke dalam. Atau boleh enggak sih kita uji nyali malam-malam ke sini? Ini namanya Museum Gula, Jawa Tengah. Tuh, alat-alatnya di situ banyak. Soft opening Godang Park 30 Desember 2023, Museum Gula, Jawa Tengah. 1982 loh. masuk. Loh, enggak ada tiket, enggak ada apa. Masuk aja. Nih Jawa Tengah nih. Ini Jogja. Nah, kita di sini nih. Klaten. Ini Solo nih Klaten nih. ini Rek, ini pabrik gula yang ada di Jawa Tengah nih. Nih, pabrik gula yang ada di Klaten ada 11. 11. Banyak banget ya. Rando Gunting. Wuh, banyak banget perambonan tuh. Manisenggo. Perambanan kali ya. Masih tersedia tersisa di Jawa Tengah. Ada 13 pabrik gula. Ceper baru masih buka nonaktif. Aktif nih Gondang Baru. Masih banyak yang aktif enggak? Gondang Baru udah enggak aktif nih. Kan Gondang sini sekarang ini. Berarti tahun berapa nih? Tuh segitu banyak. Mau pencet yang mana? Engak nyala. Udah enggak nyala. Oh ini. Mana? Ini dari tadi. Oh, ini dari tadinya. Dari tadi. Nah, ini nih pabrik gula. Oh, batu raja bukan batu raja. Bukan lahan sistem Reyoso 1863. Nah, dulu nih tebu kayak gini nih. Dulu kelihatan tebu semua. Depan rumah gua tuh ada jalur lori dulu. Oh. Oh, sebelum ada itu tuh bentuknya kayak gitu tuh. Nah, ini nih. Lihat nih. Nih tebunya kayak gini tuh. Jenis tebu 132 PS56, PS30. Ada hama tebu tikus. Taruh situ dong. Hama tebu tenggerek pucuk. Nih gua tinggal di Kelut baru pertama kali ke sini loh. Istri gua juga belum pernah malahan tuh. Vacum recorder putaran mini. Wah, ini apa nih denahnya? Gondang. Tiruan ruang kerja administrator. Oh, dulu administrator ruang kerjanya kayak gini. Nih ada mesin tik zaman dulu nih. Mohon truk kalkulator zaman dulu. Mesin tik, mesin hitung. Tah ini kebetulan lagi sama Pak Soeharto ya. Pak Soarto udah berapa tahun di sini Pak? Saya di sini 30 tahun sampai pensiun. Sebenarnya saya sudah pensiun tahun dulu kerja sebagai pegawai pabrik gula. Saya pindah-pindah ya pabrik gula. Tapi saya termasuk karyawan bawah. Tapi saya jebit saya. Oh gitu. Dari saya masuk satpam tahun 91. Oh '91 saya lahir dong Pak. Iya 91 sampai 95. Oke. 95 saya masuk museum karena tamu Belanda sini banyak. Oh. ee dari zaman tahun 90 itu Belanda sama universitas SMA dari Jakarta hampir sebelah sini semua. Tapi untuk museum tokum tapi ini kan didirikan tahun 1982 museumnya 1982 ya pabrikinnya 1860. Heeh. Jadi ee saya 91 sini tamu-tamu dari Jakarta waktu itu masih banyak. Oke. Kalau pas terus tutup itu ya sepiakan ini tutup tahun 2017nya. Kalau pabrik gulanya sendiri berhenti beroperasi tahun berapa, Pak? 2017. Oh 2017 itu. Iya. Oh kenapa tuh Pak? Ya alasannya kekurangan bahan baku tebu pakai kuah. Sebenarnya itu enggak sebenarnya ya bocor kan BUMN sini. BUMN di mana-mana sama lah gitu. Oh iya, lama-lama kan habis lama-lama. Oke, yuk. Ini tinggal tiga pabrik juga yang Jawa Tengah. Oke. Bukan gue yang ngomong ya, Guys, ya. Itu airnya lewat sini, Pak. Oh, mau ke belakang itu lewat sini. Iya. Dan ini basah. Oh, basah. Dulu depan rumah saya ada lori, Pak. Buat bawa tebu. Iya, dari Jawa Barat nih, Pak. Eh, bawa bawa itu kali, ya. Bawa mobil apaan nih? Enggak aja, jalan aja. Jalan aja ya. Dari Jawa Barat ini. Oh, enggak dari ini mesinnya suan. Saya tinggal di Katen, Pak. Apa mesinnya sungguhan kan? Ini mesin apa? Mesin tebunya. Mesin giling. Oh, mesin giling tebunya segede gitu ya. Ada empat pakai steam ya batu bara. Iya, pakai kulit tebunya itu. Oh, kulit tebunya. Bahan bakarnya kulit tebunya. Oh, jadi hasil bakaran kulit tebu buat giling buat gerakin ya. Bahan bakar dari ketel uap. Hm. Jadi kat luap kan menghasilkan uap. He buat menggerakkan mesin. Oh. Jadi enggak usah pakai batu bara atau semacamnya ya? Enggak. Jadi ee ampas tebunya aja itu sudah cukup kalau bisa kelebihan. Kalau kelebih nanti untuk membuat kertas Surabaya itu yang ini ya ee corong itu atas tadi tuh hasil bakaran I itu cerobong asal. Cerobongnya ya. Oh oke. Itu bukan sih, Pak, yang rumah hantu ya? Rumah tempat syuting kan di situ ya untuk syuting sama rumah sini. Oh, ada rumah lagi ya? Iya. Tapi kalau yang sana tadi kan bamnya anu e agak enggak boleh. Oh basah apa ya? Setelah viral itu enggak boleh. Ini buat ini juga buat syuting juga. Iya. Ini untuk syuting ini. Ini yang syuting untuk bunuh diri di sumur itu. Oke. Ini katanya buat syuting bunuh diri di sumur ya. Iya. Bunuh durinya beneran apa ya? Ya. Filmnya itu. Oh filmnya. Iya filmnya. Oh filmnya. Mana sumurnya Pak? Sumurnya ya buatan. Sekarang sudah selesai ya ditinggalkan. Iya. Oh. Ini bisa masuk enggak sih, Pak? Ke rumahnya bisa. Ada. Bisa. Ada yang tinggal enggak sih, Pak? Enggak ada. Ini kan banyak rumah-rumah tuh, Pak. Iya. Ada yang masih tinggal enggak sih? Enggak ada semuanya. Ada ya padahal buat perumahan sih bisa loh disewa. Oh sewa PT Lawu Grup itu loh. Bisa buat nginp di sini? Bisa kalau ingin dibersihin bisa. Oh berapa, Pak semalam? Wah itu kurang tahu itu sama bosnya nanti sama lumayan kalau kita ngajakin Om Fitra kita sama Om Mobi kita nginpin sini. [Tertawa] Ini dulu kalau saya shoting kan ditutup ini. Oh ditutup terusurnya ditaruh sini. Oh, properti syuting ya. Heeh. Terus nanti ee bunuh dirinya pakai tamparnya itu. Oh, pakai karetnya itu loh di sini. Oh, ini ada main permainan ya? Iya, itu kolam renang. Oh, kolam renang. Tapi lagi enggak ada yang berenang. Ada. Kadang ada outbond. Oh, ada outbond SD. Oh, ini ada jatwalnya. Ada kayaknya kantor kita bikin outbond di sini. Asik nih. Bisa masuk enggak sih, Pak, ke rumahnya? Kalau ini ya masukkan kalau gelap ini. Oh gelap ya masuk enggak? Oh mau masuk bisa enggak jangan masuk enggak? Oh kalau kalau pengin kalau dibolehkan sih pengin masuk aja. Oh enggak dikunci. yuk. Itu cocok ya? Hmm. Hm. Cocok sih emang untuk syuting ya. nih. Ya wis gede we rumahnya ya. Ya lumayan tapi yang untuk air ini yang terbesar di sana. Oh. Ayun Habibi juga di sini. Iya. Yang rumah besar nomor satu itu. Oh. Jadi ternyata di sini tempat syuting Ayun Habibi juga kurang ini sejak tahun 2000 syuting sering. Oh sejak tahun 2000 syuting sering ya. Yang terakhir apa, Pak? Yang ini anu pabrik gula itu. K pabrik gula itu ya. Kapan tuh Pak syutingnya Pak? Oh, belum paling setengah tahun baru itu 6 bulan 6 bulan yang lalu ya? Iya. Setelah baru kok tetap panjang itu. Hmm. Menarik menarik. Wah, ini apa pak? Rumah ini yang Oh, ini rumah buat syuting juga ya? Nanti lewat sana. Mana, Pak, yang horor Pak? Sana boleh masuk? Boleh enggak? Oh, ini karena udah lapuk ya. Itu kamar mandi, Pak. Gimana? Itu kamar mandi. Iya, kamar mandi. Oh, berarti ini kamar utama, ya? Kamar utama. Kamar itu tadi kamar tamu ya masuk itu nanti. Ini kamar apa? Ini kamar utama nyambung sama kamar anak. Ini satu keluarga. Berarti dulu zaman pabriknya masih jalan ini jadi rumah bos-bosnya ya? Bos mesin ini. Bos mesin yang tadi bos laborat yang kita tadi. Laborat. Oke. Berarti rumah paling tanaman. Bos tanaman. Bosan. Oh, bos tanaman. Ada 35 rumah. Bal 35 rumah ada untuk personalia, kepala tu, kepala angkutan, laborator. Kan ada apa ya? Dan rumahnya gede-gede semua ya. Segede-gini ya. I. Wih. Zaman dulu berarti kerja di pabrik gula itu terpandang ya, Pak ya? Ya, itu seperti itu ya apa ya, kesejahteraannya terjamin terjamin termasuk perumahan semua adaan. Dan lihat deh rumah zaman dulu ya. Iya. Itu walaupun zaman dulu kan enggak ada AC ya. Iya. Tapi lihat ventilasinya di atas tuh dikasih lubang-lubang begitu. Jadi udara panas tuh keluarnya kan ke atas. Nah, itu yang zaman sekarang tuh udah mulai jarang tuh kayak gitu tuh. Temboknya tebal nih. Berapa senti, Pak? Wah, ini namanya tuh setebal ini loh. Dari sini ke sini loh. W gil. Aduh, akhirnya kita sampai ke mobil juga. Nah, tadi info bapaknya katanya depan itu tuh rumah besar itu yang dipakai buat syuting Habibi Ainun. Tapi gua enggak tahu di bagian mananya ya. Mungkin teman-teman ada yang tahu bisa komen di bawah. Nah, ini nih seperti gua bilang tadi, kalau kita ngunci mobil dia otomatis si skyrof panoramicnya ini langsung nutup. Bayangin ini kan gede banget ya, 75 inci gedenya itu. Jadi lebih gede dari TV ya. Kalau misalkan siang-siang enggak ketutup pasti panas dan itu sampai ke belakang banget tuh karena saking gedenya bukan yang ada panaramik sunroof kan tapi kan kecil tuh enggak nyampai ujung enggak nyampai belakang ini sampai belakang dia. Let's go. Aduh rambut gua basah lagi. Bisa masuk angin ini. Kemarin waktu kita ee jalan keliling Kalimantan kalau hotel tempat kita nginp enggak ada anduk ya itu kita pakai apa? Jadi setiap satu orang tuh punya satu kano plus cos. Jadi kalau misalkan mandi pakai kano udah dikeringinnya cepat. Tapi pastikan kanebonya bukan kano yang dipakai buat cuci mobil ya. Jadi kanebonya emang khusus buat mandi aja udah walaupun sebenarnya produknya sama. Nah, ni dari depan kayak gini nih. Pabrik gulanya Oke. Oke, ya. Let's go. Nah, oke. Nih dia minta nih, "Are you sure to disconnect the current WiFi to enable Android Auto?" Oke, kita jalan Android Autonya. Dan Android Autonya ini sudah wireless ya, jadi enggak perlu colok-colok kabel langsung bisa nyala. Enak itu ya kalau kita pakai Android Auto kita tuh bisa pakai voice comand-nya Google. Jadi dia udah ada bawaan voice comand-nya Jour. Tapi voice comennya Google itu bisa buat ngatur entertainment. Misalkan gini. Oke bila berjarak permanently close. Tapi kita enggak ke sini ya, ini cuma ngasih tahu aja. Termasuk mau musik segala macam kita tinggal ngomong aja. HP gua bunyi juga lagi. Ini kebetulan pakai HP-nya Rere ini connectnya si Android Auto wireless-nya. Dan mobil ini itu kan pas kita pakai dia tuh terasa ya sasisnya tuh rigid ya jadi kaku gitu dan itu bagus mobil-mobil modern rata-rata emang kayak gitu. Nah, untuk sebuah crossover apaagi gua ngerasa sasisnya asik ya. Pas gua cek spesifikasinya dia kan pakai platform Kunlon. Nah, tapi ada yang beda karena dia 75% body cage-nya itu pakai besi yang highil steel. Jadi besinya emang lebih kuat. Jadi high tensil steelnya itu yang biasanya mungkin cuma 30 40% dia sampai 75%. Jetour ini juga waktu gua ke Timur Tengah itu dia cukup banyak ya di jalan ya. Jadi dia tuh di pasar Timur Tengah, Arab Saudi, Abu Dhabi, Dubai itu dia udah masuk dan enggak cuma yang desing sama X70 tapi ada juga yang T2 yang bentuknya kayak gini. Itu keren banget sih. Coba itu masuk segera ke Indonesia ya. Dan ngomong-ngomong soal garansi, mobil ini punya garansi mesin 1 juta km. itu banyak banget sih. Dan untuk garansi mobil keseluruhannya itu 6 tahun tanpa batasan kilometer. Jadi kalau kalian suka jalan gitu, takut mobilnya kenapa-napa, ini nih mobil yang bisa jadi pilihan. Oke, sekarang kita udah sampai rumah dan ini mobil untuk harga Rp390 juta ini sebenarnya sangat value for money ya. Nah, kalau kalian suka kita jalan-jalan pakai mobil ke tempat-tempat yang menarik seperti tadi, next kita ke mana ya? Coba komen di bawah seranif. Sampai jumpa di vlog berikutnya.

Lihat di YouTube