Jungkat

Tab Android 4G BESAR & Lengkap? - Advan Sketsa 5 ✏️ (YouTube Video)

  • 01/01/1970

Jujur selama ini kami agak enggan rekomend seri Avan sketsa selain ke anak sekolah karena spek ala kadarnya. Tapi tahun ini Advance memberanikan diri buat naikin kasta Advance sketsa di hampir semua sisi. Jadi tablet yang nampaknya lebih oke untuk dipakai banyak kalangan. Ini dia Advance Sketsa 5. [musik] Selain kepercayaan untuk skip angka sial, kenapa habis sketsa 3 langsung lanjut sketsa 5? Ya, karena Advance mau nunjukin bahwa ada lompatan yang signifikan. Jadi, langsung aja kita rekap apa aja nih lompatannya. Nomor satu udah pasti ukuran dibanding Sketsa 3 yang berukuran 10 inch. Sketza 5 punya Screen ST 12 inch yang lebih luas bikin dia lebih ideal buat gantiin laptop secara ukuran. Cover belakang sekarang udah metal lebih solid sekaligus lebih mencerminkan harganya. Sebelum kita bahas lebih dalam, kita mau ingetin bahwa nilai jual utama series Sketsa adalah konektivitas seluler in which tablet ini support dual sim micro SD hybrid memungkinkan selalu connect ke internet tanpa tergantung hotspot WiFi. Alangkah baiknya mungkin kalau ada versi Wii only yang lebih murah. Tapi keep in mind ini jadi salah satu alasan utama orang beli sketsa dibanding tablet-tablet brand global yang saat ini jarang ngasih opsi seluler bareng support keyboard cover dan stylus di harga 2 sampai Rp3 jutaan. Kedua, improvement ukuran layar bakal sia-sia kalau ggak ada improvement resolusi. Dealbreaker terparah yang tahun-tahun lalu kami sesarkan dari Sketsa 3 adalah layar 10 inch kok resolusinya cuma HD kalah gitu sama HP R juta pas. Nah, untungnya enggak tanggung-tanggung nih. Resolusi udah naik ke 2K 2000* 1290 Hz rasio 5 b 3. Warna dan kontras emang enggak bagus-bagus amat, tapi ya ini harusnya udah minimal resolusi tablet 10 inch ke atas. Buat baca website, PDF, dan nonton video jadi enggak bikin sakit mata. Support WhiteFind L1 pula demi Netflix Full HD. Makanya ini improvement yang paling gue tunggu-tunggu dari seri sketsa sebelumnya. By the way, sampai sekarang belum ada sensor fingerprint. Adanya sebatas Face ID sederhana. Ketiga, kita lupakan sejenak Unisock Tiger T606 dan mari kita sambut Helio G99. Ini baru namanya bare minimum SOC tablet yang menurut kami bisa diandelin di skenario sehari-hari. Ideal sih tetap belum starter-starter UI yang normal, tetapi SOC 12 nanom macam Unisock Tiger T606 dan Helio G85 harusnya udah enggak punya tempat lagi di pasar. tablet tahun ini. RAM fisik DDR4 8 gig, storage UFS 128 gig bisa ditambah micro SDXC. Tetapi kita perlu sedikit bicara soal USI stock Android 16 ala stok Android mentok alias quick step yang dipakai di sini. Well, kami sebenarnya suka UI Android mendekati stok mini blotware seperti seri Motopad. Namun ketika Android-nya benar-benar stock tanpa effort programming dari sisi vendor ODM, experience-nya jadi kurang. Bayangin ini tablet gede ukuran 12 inch tapi UI-nya belum support mode multiwind out of the box. Mana udah gitu, penggunaan layarnya juga enggak optimal. Semisal kita narik notification bar langsung nutupin satu layar. Wow. Minimal ya enggak usah ada desktop mode, enggak apa-apa, tapi support floating apps gitu. Ini udah coba kami twaking ke developer options pun bisa resize window tapi tetap pas buka app lain, app sebelumnya auto ke minimize. Hal ini bikin multitestking kita terbatas pada split screen aja. UI non multiwind sebenarnya bukan masalah serius kalau kasusnya di tablet mini macam Tab V8. Tapi berhubung mayoritas rival-rivalnya udah pada punya mode UI multiind proper saat ini, ya. Ini bisa jadi deal breaker buat banyak calon user yang pada dasarnya beli tablet layar gede justru biar bisa multitasking aplikasi dengan nyaman. Emulating pengalaman di laptop gitu ya. So, please semoga bisa ada update atau bisa jadi pelajaran buat tablet advance generasi selanjutnya. Sisi positifnya sih UI ini sangat enteng dan gak ada bloodware. Soal performa visual dan gaming mestinya kita udah paham banget ya Helio G99 itu kayak gimana. Performa basic tapi kerasa banget saat kalian mau upgrade dari tablet yang masih pakai Helio G85 atau prosesor 12 nanm sejenisnya. Bukan tablet ideal buat gaming. Bersyukur masih bisa jalaniin Stella Sora atau Enfield setting low di kisaran 20 sampai 25 fps. Render scale high tanpa panas sedikit pun di tangan karena ini SOC efisien dan adem. Oke, sekarang ayo kita bahas dikit soal keyboard case dan stylus. Keyboard case-nya enggak adjustable, punya media controls, volume, brightness control, bahkan lampu indikator caps lock di kanan bawah. Tetapi dari segi kenyamanan ini sangat basic. Karena tombolnya kecil-kecil dan konsistensi aktuasinya kurang bagus, butuh sedikit pembiasaan ya. Enggak instan lancar ngetik jika sebelumnya ngetik di laptop. Touchpad-nya juga agak clunky ya. Bersyukur aja sih masih ada touchpad mengingat enggak banyak tablet 2 sampai R jutaan yang punya. Stylus Soso dia sistemnya dicas manual pakai USBC gak bisa nempel langsung ke tablet makanya di samping keyboard dikasih holder. Gue bisa lihat ini ngebantu anak-anak yang suka iseng gambar atau bikin notes ya lumayan bantu editing di Photoshop dan Lightroom juga tapi buat Illustrator serius delay-nya lumayan setelah kami coba di OneNote maupun Photoshop. Buat next gua berharap setidaknya kasih kick stand yang sudut layarnya bisa adjustable dan nyaman buat gambar di atas meja. Di luar tu tablet ini ya nothing special. Gak ada sensor giroskop, gak ada kompas, tapi yang penting ada GPS. [musik] Perlu dicatat speakernya masih dual speaker alias stereo ya. Enggak quad speaker macam saingan-saingannya. Sayangnya enggak ada label Dolby juga jadi enggak bisa jernih-jernih amat. Kencang dan powerful sih iya lumayan okelah di vokalnya buat sesekali dengar lagu dan nonton Netflix. buat streaming YouTube atau Netflix, baterai 8000 mAh-nya kuat sekitar 12 jam atau kurang lebih 4 jam buat main game. Ngecasnya sih yang agak lama. Kami coba charger bawaan dan charger third party mentok di 15 watt, butuh waktu 90 menit buat ngecas dari 10 sampai 80% dan 2 jam lebih buat sampai 100%. Kamera belakang resolusi 8 megap, ada flash-nya cukup buat dokumentasi darurat. Meanwhile di depan ada kamera 5 megap. Meanwhile, ini kualitas kamera depan yang support video resolusi Full HD. So, kita lihat Advance Catsa Salima udah jadi tablet Android yang jauh lebih mantap dan paling mendekati predikat pengganti laptop yang pernah dijual oleh Advance. Tapi apakah dengan harga batangan di Rp3 juta atau full set 3,7 jutaan worth it lirik dibanding kompetitornya? Yang paling mendekati dari segi spek dan konektivitas ada Techno Mega Padard 4G yang sama-sama pakai Helio G99, RAM 8 gig dan hebatnya bisa ngasih storage 256 gig di harga yang sama. Kekurangannya adalah enggak support pen maupun keyboard case secara native. Tapi kalau ngincir UI dan kualitas barang tanpa peduli koneksi seluler, ada Motopad 16 Neo yang UI-nya jauh lebih fungsional, punya sistem quad speaker, resolusi layar lebih tinggi, support keyboard dan stylus. Udah gitu punya opsi RAM 4 gig include pen dan keyboard cas di harga yang sama kayak Advance Catsa 5 though yang versi RAM 8 gig lebih mahal di R jutaan. Di luar perbandingan ini, kami harap Advance jangan sampai kapok buat terus ngembangin seri Sketsa. Hardware udah lumayan oke nih, tinggal ngejar soal ketertinggalan UI dan mastiin quality control plus after sales-nya bagus. Buat yang mau menang mending dipersilakan. Sekian dulu dari gue Mike. Sampai jumpa di next video

Lihat di YouTube