Tablet Flagship Tapi Terjangkau? S-Pen, DeX, Update 7 Tahun: Review Samsung Galaxy Tab S10 FE+ (YouTube Video)
Ini adalah tablet Android kelas 10 juta yang cocok untuk produktivitas Samsung Galaxy S10 Fe Plus. Nah, karena ini adalah tablet Galaxy Tab S series, jadi tetap masuk dalam keluarga tablet flagship-nya Samsung. Dan namanya flagship pasti punya banyak sekali fitur. Layar besar 13,1 inci, Samsung Dex ada di sini IP68 ya dia tahan air ya. Fitur AI tentunya ada, bahkan ada fitur AI yang bisa bantu kita jawab soal matematika. SP PEN juga udah di-support bahkan tersedia juga di sini dan langsung hadir dengan One UI 7 yang terbaru. Dan untuk jaminan update-nya 7 tahun lama banget. Memang seri FE ini memang ditujukan untuk mereka yang mencari pengalaman tablet flagship tapi yang harganya lebih terjangkau. Nah, kok bisa lebih terjangkau? Apa yang bikin jadi beda? Oke, mari kita bahas dalam video review kita kali ini. Ya, Samsung Galaxy Tab S10 FE Plus ya. FE Plus ini sudah ada sejak S9 sebetulnya ya. Jadi ada S9 F. Nah, kebetulan konsumen yang ingin dijawab sebetulnya tuh sederhana banget. Sebuah tablet premium tapi harganya harus lebih terjangkau, layarnya yang lebih besar dan punya warna body juga yang menarik di sini. Nah, selain FE Plus yang ini, Samsung juga ada versi FE yang lebih kecil ya, dengan layar 10,9 inci. Tapi dalam video kali ini kita bahas dan fokus ke yang S10 FI Plus. Nah, sebagai penerus dari S9 FE Plus tahun lalu tentunya ada beberapa peningkatan yang diberikan di sini dan kita akan mulai dari bahas paket penjualan terlebih dahulu. Oke, tentunya ada tabletnya dalam sini ya. Lalu ada S Pen ya, stylusnya tersedia di sini. Ada kabel USB type C dan ada tray ejector, paket dokumen, dan keyboard cover. Ini sudah termasuk ya selama periode launch hingga 22 Mei 2025. Charger memang tidak tersedia dalam paket penjualan, tapi dibanding beli X dan keyboard cover sendiri, beli charger harusnya enggak seberapa sih harusnya ya. Oke, untuk desain Galaxy Tab S10 FE Plus ini dibuat senada dengan tab S10 yang di atasnya. Sisi bodinya serba flat yang memang umum digunakan di tablet. Cisc frame dan back cover itu dari aluminium yang kokoh. Untuk dimensinya 300,6 * 194,7 * 6 mm dan bobotnya itu ada kisaran 660 gr. Kalau dipadukan dengan keyboard case, dan S Pen total bobotnya jadi ada di kisaran 1 kg. Masih di atas 1 kg sedikit lah ya. Belum tergolong berat tapi masih mirip-miriplah dengan laptop-laptop super ringan zaman sekarang. Nah, untuk warna itu ada grey, silver, dan blue. Nah, untuk tablet ini sama dengan seri S lainnya itu punya IP rating di IP6. Berarti dia tahan debu dan aman kalau enggak sengaja kecebur di dalam air. Tapi ini bukan berarti dia cocok untuk dibawa berenang ya. Jangan. Lagian berenang pakai tablet tuh ngapain ya sebetulnya? Paling enggak kalau kalian kena hujan enggak sengaja kerendam di dalam tas ya tablet ini masih bisa aman. atau mau dipakai di sekitar kolam renang ya, terus tiba-tiba kepeleset kecemplung dalam kolam renang ya itu masih bisalah enggak apa-apa tapi ya jangan disengajain diajak berenang gitu. Nah, sekarang mari kita lihat detail bodinya. Dilihat dari kamera selfie-nya yang ada di tengah atas berarti tablet ini memang ditujukan untuk penggunaan secara horizontal. Kita lihat sisi kanan ya. Ada satu speaker dan USB type C 2.0. Di sini di atas ada tombol power yang sekaligus fingerprint scanner, ada tombol volume, ada dua mikrofon, dan ada tray untuk micr SD. Oh ya, untuk versi yang kita uji ini adalah versi Wii only ya. Jadi memang di sini tidak ada tempat untuk nano SIM di tray-nya. Tapi ada versi yang bisa seluler, yang bisa 5G. Hanya saja bukan itu yang kami uji di sini. Mirip-mirip kok, cuma dia bisa 5G aja. Nah, di area sekitar slot tray tadi terdapat juga magnet untuk meletakkan S Pen. Beralih ke sisi kiri ini ada satu speaker dan ada mikrofon di bawah. Di sini ada Pogo Goin untuk koneksi ke keyboard cover. Nah, bisa kita lihat kalau speakernya itu ada dua. Nah, ini salah satu poin yang membedakan antara dia dengan Tab S10 yang versi atasnya ya. Kalau yang atasnya pakai empat speaker, yang ini dua speaker aja. Tapi walaupun cuma dua speaker, e kualitas suaranya tetap lumayan menggelegar ya. Belum yang super bening seperti kakaknya ya. E, terutama kalau musiknya ramai banget. Tapi ini udah cukup bagus untuk kelasnya. Bass juga udah cukup terasa di sini. Bahkan kalau kita nonton film dari Netflix, Dolby Atmos-nya udah berasa di sini nih ya. Nah, kita beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 13,1 inci. Ini paling besar untuk seri FE selama ini. Tentunya ini adalah panel IPS ya. Resolusinya 2.880 * 1800 pikel. Refresh rate-nya up to 90 Hz. Samsung mengklaim kalau indoor dia bisa 600 nits dan outdoor dia bisa 800 nits. Nah, kalau kami uji indoor dengan manual brightness di set ke 100% kita bisa dapat di kisaran 609 nits. Sementara untuk simulasi outdoor kita bisa dapat di kisaran 815 nits. Ini sedikit lebih tinggi dari klaimnya Samsung. Dan ingat, ini bukan peck brightness. Ini benar-benar brightness normalnya seluruh layar emang bisa mencapai 815 nitz. Jadi beda ya dengan yang klaimnya itu peck brightness. Ini bukan, ini seluruh layar 800 nit itu kalau udah siang-siang bolong masih ok lah ya sebetulnya. Nah, untuk opsi warna yang disediakan natural dan ada juga vivit seperti biasa. Nah, kalau kami uji ya setting natural itu diarahkan ke 100% sRGB dan ini cocok buat editing konten. Yang perlu diperhatikan adalah opsi vivit. Sebetulnya settingan default-nya buat sebagian orang terasa kurang gonjreng. Kalau kami uji ternyata kelar gambutnya itu masih ada dekat dengan 100% sRGB juga. Nah, supaya setting VV-nya terasa gonjreng banget seperti yang diharapkan banyak orang, masuk ke advance setting lalu slider vivit-nya dipentokin ke kanan. Nah, kalau kita coba dalam kondisi seperti ini, color gambutnya mendekati 100% dp3. Lebih tepatnya, color gambut cover-nya ada di 90,6% di CP3 dengan volume di 97,7% di CP3. Oke, untuk layarnya tentunya udah support penggunakan S PEN atau ya su kalian bilang sebagai stylus gitu ya. Tapi yang membedakan si FE ini ketimbang versi-versi di atasnya adalah Senn BLE atau Bluetooth low energy dan juga tidak ada baterainya. Jadi ada beberapa fitur seperti air action itu tidak tersedia di sini. Tapi, untuk pressure level dia udah 4096 pressure level. Jadi untuk keperluan menggambar ya tebal tipisnya itu sudah mantap. Oke, lanjut lagi. Kita lihat kamera selfie-nya di sini ya. Ini adalah kamera selfie 12 megap bukannya F2.4. perekaman videonya enggak tanggung-tanggung sampai 4K 30 fps. Memang yang satu ini tidak autofokus ya. Posisi yang di tengah atas ini sepertinya memang ditujukan untuk saat video call supaya pandangan mata kita sejajar dengan kameranya. Beralih ke sisi belakang ini adalah kameranya ya. Mungkin kalau handphone ini kamera utamanya ya. 13 megapel F2.0 autofokus. Perekaman video juga sampai 4K 30 fps dan dia juga punya LED flash. Untuk fitur kamera ada beberapa yang bisa kalian lihat di menu kamera yang satu ini ya. Sayangnya untuk mode perekaman video 60 fps belum disediakan di sini dan juga tidak ada kamera ultrawide seperti versi yang atasnya. Tapi ya udahlah ya, ini bukan versi atas ya soalnya ya. Nah, di sebelah modu kamera ada area magnet untuk meletakkan S Pen. Jadi kita bisa pilih mau taruh di sini bisa atau di sisi atas frame juga bisa. Agak sedikit beda ketimbang yang S10 versi atasnya. Kalau di sini tidak ada garis penanda posisi Sen. Jadi untuk awal-awal butuh pembiasaan supaya peletakan posisi S-nya bisa pas. Sekarang kita bicara spek internalnya. Nah, untuk SOC dia pakai Xnos 1580. Ini kita sudah pernah lihat ya di Samsung Galaxy A56 5G sebelumnya ya. Ini SOC yang lumayan kencang ini ya. Lalu untuk RAM dan storage itu adalah 12 GB dengan storage 256 GB. Hanya ada satu varian aja untuk versi yang seperti ini ya. Untuk RAM-nya LPDDR5 dengan storage di UFS 3.1. Ada fitur RAM plus dengan opsi sampai dengan 8 GB. Nah, untuk baterai dia ada di 10.090 0 mAh dan ini support charging sampai dengan 45 watt. Untuk sensor ada meter, light sensor, gyro ya, magnetometer, orientation sensor dan lain-lain lengkap ya. Masih tetap S series ini untuk konektivitas untuk yang satu ini dia bisa WiFi 6. Untuk 5G atau 4G enggak tersedia di sini untuk versi yang kami uji karena ini bukannya versi seluler. Tapi Tab S10 FE series itu juga ada yang versi 5G-nya kalau dibutuhkan. Untuk Bluetooth dia versi 5.3. Untuk audio connect-nya udah support SBC, AAC, UpX, LDAC, dan SSC tentunya bisa. USB dia 2.0. Nah, untuk display output via USB type C sayangnya belum bisa kecuali pakai kabel khusus atau solusi lain bisa pakai wireless untuk monitor atau TV yang mendukung. Nah, untuk isi keamanan dia punya fingerprint dan face unlock. Selain itu, tabletnya juga hadir dengan Samsung Nox lengkap dengan Nox fault-nya. Jadi, fitur keamanan seperti secure folder, auto blocker itu ada di sini. Autobloker ini adalah fitur perlindungan keamanan dari serangan malware ya, termasuk untuk memblokir instalasi aplikasi dari sumber yang tidak dikenal. Dia juga bisa memblokir kiriman malware dari aplikasi chatting misalnya ya. Auto bloker ini udah nyala dari awal kita ngidupin tablet ini. Jadi untuk orang awam enggak perlu repot-repot mengaktifkan terlebih dahulu fitur yang satu ini. Ini penting nih ya biar enggak kena jebakan undangan APK yang beredar di WhatsApp biasanya tuh ya. Nah, oke. Untuk OS dia langsung One UI7 dengan basis Android 15. Update-nya itu bisa dapat 7 kali versi Android dan 7 tahun security update. Ini panjang sekali. Kalau nanya Samsung Next ada enggak? Ada nih. Kalau kalian bisa lihat di sini ini dalam kondisi Dex di sini ya. Jadi bisa seperti desktop beneran. Jadi memang ini bisa dipakai langsung di layar tabletnya. Jadi untuk dapat tampilan alat desktop ya kita tidak harus pasang layar tambahan. Bahkan di keyboard cover-nya ini terdapat tombol khusus untuk mengaktifkan Dex. Nah, untuk fitur khusus One UI seperti edge panel, test bar, modes and routines, pause USB, power delivery atau bypass charging ya dan lain-lain itu semua tersedia di sini. Nah, untuk fitur khusus untuk multitasking seperti drag and drop antar aplikasi itu juga tersedia. Untuk fitur AI, nah ini entah kenapa Samsung tidak menyebutnya sebagai Galaxy AI untuk tablet yang satu ini. Fitur AI ini kita bisa temukan di settings, advanced features, lalu ke intelligent features, ya. Di sini ada fitur seperti object eraser, best face, edit suggestion, dan beberapa fitur AI lainnya. Kalau bicara circle to search tentunya ada di sini ya. Dan yang sangat menarik kalau kita ke Samsung Notes, kita bisa menemukan fitur mat solver ya. Jadi kalau kita nulis soal matematika tambah kurang kali bagi akar, logaritma, sin cos, tangen, nantinya AI-nya akan langsung kasih jawabannya. Agak ngecheat sih sebetulnya ya. sebaiknya digunakan dengan bijak nih yang satu ini ya, terutama untuk kalian yang masih sekolah nih ya. Ini memang fitur-fiturnya belum selengkap Galaxy A seperti yang ada di Tab S10 Plus ini e lebih mirip seperti Galaxy A56 yang kemarin kita uji. Oke, tadi udah dibahas ya kalau tablet ini support S Pen dan keyboard cover ya bahkan dibandling pula ya tadi ya. Sen tentunya kita bisa manfaatkan untuk membantu navigasi, nulis catatan sampai menggambar juga ya. Nah, saat kami coba menggunakan S Pen ini terasa nyaman, mulus, dan lancar banget. Ya udahlah kalau S Pen udah terkenal ya. Respon pennya terbilang sangat baik, enggak kerasa ada delay-delay di sini. Dan palmer rejection itu berfungsi ketika kita sedang menggambar. Tapi ada sedikit catatan saat sedang melakukan zoom in dan zoom out ini palmer rejection-nya tidak berfungsi. Ya, ini masalah kebiasaan aja ya. Selama telapak tangan tidak menyentuh layar ini aman untuk zoom in dan zoom out. Nah, untuk aplikasi menggambar tentunya ini ada banyak opsi di sini. Kita bisa pakai Clip Studio Paint, ada Sketchbook, ada Pix Art, ada Pen Up. Selama ada di Galaxy Store atau di Play Store itu semua pasti bisa digunakan. Kalau yang Pro biasanya ya Clip Studio Pa kali ya. Nah, SPAD juga punya IP rating IP68 loh ya. Nah, dan berhubung tidak ada baterainya dan enggak ada model Bluetooth-nya, jadi harusnya tetap aman kalaupun dia kecemplung dalam air. Meskipun tidak ada Bluetooth-nya, tapi SP ini bisa kita gunakan untuk navigasi serta untuk beberapa fitur seperti AI select dan screen rri juga bisa. Oke, sekarang beralih ke-nya. Untuk yang satu ini enggak tahan air ya. Nah, untuk bentuknya seperti ini ya. Keyboard dan back covernya itu jadi satu kesatuan. Keyboard ini bisa kita gunakan untuk mengetik dan tombolnya sendiri udah tergolong nyaman digunakan. Di area keyboardnya ini juga ada Pogo PIN untuk koneksi tablet dengan keyboard. Nah, ini enak nih. Jadi enggak ada delay-delay nih ya. Nah, di sisi back-nya itu ada lipatan yang berfungsi sebagai stand penutup untuk S Pen. Nah, bicara soal keyboard cover, sayangnya ini tidak bisa digunakan untuk posisi yang agak menengadah ya. Jadi, opsinya hanya bisa digunakan seperti dalam mode laptop begini aja. Kalau hanya pakai tablet tanpa keyboard cover saat menggambar di atas meja jadinya ya agak kurang nyaman karena nge-flat gitu atau rata di atas meja. Jadi untuk membuatnya menengada sedikit, kita perlu pakai stun atau dudukan tablet yang lain gitu. Ini agak beda dengan keyboard covernya S10 atau S9 ya versi-versi premiumnya. Nah, selain untuk mengetik dan menggambar tentunya dengan setup seperti ini membuatnya juga cukup ideal untuk editing video. Kita bisa pakai Luma Fusion atau CapCut di sini ya. Nah, dari segi pengalaman editing juga masih cukup lancar ya. Geser-geser timeline 4K dengan beol di 4K ini tablet ini masih sanggup enggak ada masalah ya. Untuk keperluan video-video pendek dan editing sederhana masih okelah tablet yang satu ini. Oke, sekarang kita tes performanya. Kita mulai dari benchmark dulu ya. Antutu 10 kita dapat R900.000-an. Oh ya, ini khas banget Exinos 1580 ya. Untuk Geekbench 6 single core di 1393 dengan multiore di 3.910. Untuk JFX Bench car chase 1080p off screen dia dapat 45 fps. Trimax sling shot extreme unlimited open GLS 3.1 graphic scoring 9.472. Untuk 3K Wild Life Stress test kita lihat bahwa best score-nya di 4.787 dengan lowest score di 4.627. Jadi stability-nya lumayan oke nih di 96,7% ya. Skor benchmark ini mengindikasikan performanya benar-benar mirip seperti Xnos 1580 yang ada di Galaxy A56 kemarin. Meskipun belum di level flagship tahun 2025, tapi ini udah cukup kencang sebetulnya karena udah dekat sejutaan tutunya ya. Oke, kita lanjut untuk gaming. Kita mulai dari Real Racing 3 dulu ya. Game ini bisa jalan di 90 fps dengan lancar ya, sesuai dengan refresh rate layar tertingginya ya. Lanjut untuk Mobile Legends. Setting frame rate yang terbuka kita bisa style di super alias benar-benar nyampai 90 fps. Setting grafis lainnya kita set mentok rata kanan di sini ya. Dan game bisa jalan di 90 fps lancar enggak ada masalah. Ini udah asik nih buat push rank di sini ya. Lanjut untuk PUBG Mobile. Untuk game ini entah kenapa settingnya masih terbatas ya. frame rate-nya mentok di high artinya cuma kebuka sampai 30 fps. Padahal di A56 kemarin itu sama-sama pakai Snos 580 itu bisa 60 fps. Jadi harusnya ini masalah developernya aja nih. Developer game-nya aja mau buka atau enggak, bukan masalah device-nya kuat atau tidak. Lagi pula mungkin kurang pas aja ya main PUBG di tablet sebesar ini kendalinya agak kurang nyaman aja sih menurut kami sebetulnya ya. Oke, lanjut untuk Gensin Impact. Nah, di sini kita mainkan dengan highest 60 fps dan game-nya ternyata masih jalan lancar di kisaran 30 sampai 40 fps. Untuk suhu kita ukur setelah 30 menit kita mainkan. Sisi layar terpanas di 48 derajat Celcius. Sementara sisi back cover-nya terpanas di 42 derajat Celcius. Ini cukup tinggi ya, tapi karena posisi titik terpanasnya ada di area atas, jadi tangan kita harusnya aman dari titik paling panasnya pada saat kita menggenggam tablet ini. Nah, untuk ranking Gensin performa seperti ini cocoknya dapat ranking B. Sudah cukup lancar untuk setting highest. Lanjut untuk watering waves. Kami tes dengan setting preset grafis di balance dan frame rate di 60. Saat dicoba untuk traveling ini masih cukup lancar, registaran 30 sampai 35 fps. Tapi untuk battle kami masih mendapati lag yang berasa di sini. Ya, ini sepertinya lebih ke arah optimalisasi dari developernya aja menurut kami. Soalnya SOC Xos itu tergolong baru yang satu ini. Jadi rasanya ini bukan karena SOC kurang kuat, tapi game-nya aja yang kurang begitu cocok. Soalnya game lain tuh lancar-lancar aja di sini. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kamera. Oke, ini adalah contoh video dari kamera selfie-nya Samsung Galaxy Tab S10 F8 Plus. Hasilnya kurang lebih seperti ini. Ini saya cobain di resolusi 4K 30 fps dan di sini kondisinya lagi dalam studio dengan lampu softbox di kiri kanan seperti ini. Jadi, kondisi lighting-nya termasuk yang cukup ideal. Dan suara yang lagi kalian dengar sekarang itu juga suara langsung dari mikrofon tabletnya. Gimana suaranya teman-teman? Sudah cukup bagus atau belum? Dua hal sih yang menurut saya menarik dari kamera tabletnya ini. Yang pertama itu sudut pandangnya. Seperti yang kalian lihat ini sudut pandangnya lebar sekali. Jadi kameranya sangat lebar dan bisa mencakup banyak area. Ini salah satu hal yang menarik. Lalu hal menarik berikutnya adalah detailnya tinggi. Ini saya coba rekam di resolusi 4K 30 FPS dan bisa saya bilang hasilnya memang bagus banget sih. Tapi saya juga ngerti kalau tidak semua orang tuh punya setup studio seperti ini ya. Ada dua softbox seperti ini. Lightning-nya proper. Oke, mari kita coba juga kalau lampu studionya kita matikan. Kita pakai lampu ruangan atas aja seperti kebanyakan orang. Nah, kalau kita cuman ngandelin lampu atas seperti ini, hasilnya kayak begini ya. Kalau saya bilang sih detailnya masih bisa cukup terjaga. Masih kelihatan kok e tekstur-tekstur di wajah saya. Detailnya juga masih enggak hilang-hilang banget. Cuman memang mulai terlihat ada efek noise reduction-nya gitu. Jadi kayak ada semut-semutnya tapi halus gitu di sini, di area sini. Jadi kalau menurut saya sih baiknya jangan terlalu gelap-gelap amat juga ya. Paling enggak ada lampu nyorot ke wajah lah kalau misalnya lagi dipakai untuk ngonten atau video call. Nah, kalau ini adalah contoh video dari kamera utamanya Samsung Galaxy Tab S10 Fi Plus. Jadi, hasilnya kurang lebih seperti ini di resolusi 4K 30 FPS. Kalau saya lihat hasilnya sih ternyata cukup bagus ya. Kamera utamanya ini udah oke banget lah. Tapi sedikit catatan aja ini kan rekamannya di resolusi 4K30. Kalau teman-teman lihat kan videonya agak goyang-goyang sedikit ya. Itu karena belum ada fitur stabilizernya untuk 4K30. Kalau teman-teman mau video yang stabil, setel aja di 1080p 30 fps. Nah, berikutnya saya mau cobain untuk dipakai video call pakai aplikasi Google Meet. Jadi, tampilannya kurang lebih seperti ini. Biasanya banyak pertanyaan dari kalian kalau untuk tablet dipakai untuk video call itu bisa gua ganti background atau enggak? Nah, di sini saya cobain untuk Google Beat aman ya. Kita bisa pakai fitur blur di sini tuh. Bisa pakai mode blur atau pakai gambar juga bisa. Hasilnya seperti ini. Lumayan rapi juga untuk Google Meet mah masih aman lah ya. Nah, sekarang saya mau cobain video call pakai aplikasi Zoom. Jadi hasilnya kurang lebih seperti ini. Kalau di aplikasi Zoom itu yang penting jangan lupa menyalakan opsi HD video di setting meeting-nya karena by default dia enggak nyala. Kalau fitur itu enggak nyala kualitas videonya akan rendah sekali jadinya. Tapi kalau udah dinyalain kualitasnya jadi jauh lebih baik. Nah urusan gu background ini langsung kita coba aja. Kita bisa ganti background dan efeknya di sini. Menarik nih untuk fitur blur bisa, tapi memang opsinya enggak sebanyak di Google Meet tadi ya. Tapi paling enggak di sini kita bisa pakai gambar kita sendiri. Kita bisa pilih mau ambil gambar dari mana. Ini saya kasih contoh aja. Saya sudah ambil gambar tadi. Misalnya lagi din natlan seperti ini. Ini bisa juga nih. Oke, lumayan lah ya. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian baterainya ya. akan pada bilang katanya, "Wah, Knos boros apalagi ini layar 13 inci." Oke, dengan YouTube offline video playback 1080p resolusinya kita dapat hampir 24 jam tepatnya 23 jam 56 menit kita putar videonya sampai baterainya habis. Ini irit banget sih sebetulnya ya. Lalu untuk YouTube 1080p 30 fps non HDR streaming dari internet selama setengah jam baterainya turun 3%. Main anitas selama 30 menit itu baterai turun 3%. Sementara Gensin Impact di highest 60 fps selama setengah jam baterai turun 11%. Untuk layar sebesar ini ternyata kemampuan baterai ini melampaui ekspektasi kami. Ini tergolong awet banget. Oke, kita lanjut untuk charging. Kita pakai charger 45 watt ya yang dari Samsung ya tentunya ya resminya Samsung. Ee untuk dari 0 sampai 50% ee itu butuh waktu 38 menit. Sementara dari kosong sampai penuh itu butuh waktu 1 jam 27 menit. Ini tergolong kencang untuk kapasitas baterainya. yang 10.000-an mAh. Oke, lanjut. Untuk Netflix tentunya sudah L1 dan sudah support streaming full HD. Untuk YouTube, dia support streaming sampai 4K60 dan HDR juga bisa. Untuk Haptic feedback tidak tersedia di tablet ini. Belum ada vibration motornya. Tapi untuk sebuah tablet rasanya hptic feedback itu bukan hal yang esensial ya. Itu nice to have aja. Apalagi untuk yang layar sebesar ini. Lagian kan ada keyboard-nya. Oke, bicara soal keyboard-nya kan dia sudah ada keyboard cover. Tapi kalau kita mau pakai keyboard lain bisa enggak? Tentu saja bisa. Kita bisa pakai USB hub untuk keyboard dan mouse. Pakai USB bisa, mau pakai keyboard dan mouse Bluetooth bisa juga. Oke, untuk harganya versi yang Wii only ini RAM 12 gig storage 256 gig itu harganya ada di Rp10.999.000. Sementara untuk versi seluler 5G-nya ya, jadi sama speknya tapi dia ada 5G-nya itu 16 R juta aja jadi Rp1.999.000. Oh ya, selain Tab S10 FI Plus ini ada juga versi FI yang reguler. Harganya mulai dari Rp7.999.000 untuk versi Wii only dan Rp8.999.000 untuk versi yang seluler 5G. Nah, ada banyak promo seperti ada cashback bank, ada Samsung Care Plus dan lain-lain. Dan jangan lupa untuk gratis keyboard cover-nya itu sampai 22 Mei 2025. Untuk ke depannya itu belum ada kepastian akan dapat gratis keyboard cover atau tidak. Kalau stylus-nya itu pasti ada terus ya. Jadi saran kami e cari dan manfaatkan bandling promonya selama masih ada kalau memang kalian sedang mencari tablet yang seperti ini ya. Ee untuk detail lainnya langsung cek aja di kolom deskripsi. Kita langsung masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama untuk versi yang kami uji ini adalah tablet yang WiFi only. Jadi kalau lagi kerja keluar rumah kita perlu cari Wii atau tatering hotspot dari HP kita. Kalau butuh banget koneksi seluler itu pilih aja yang versi selulernya. Tapi memang harganya naik ya sekitar Rp1 juta gitu ya. Lalu total bobot tablet plus Sen plus keyboard cover itu sudah di atas 1 kg. Tetap mudah dibawa tapi ini masih mirip dengan bobot laptop tipis dan ringan zaman sekarang. Tapi memang kalau dibandingkan sama yang punya kemampuan touch screen ya ee kalau laptop itu sekitar 1,3 atau kg. Sementara ini sudah touch screen sudah dengan keyboard-nya ini masih di 1 kg lebih dikit ya. Sebetulnya ini masih tetap lebih ringan. Oke, kemudian sebaiknya pelajari dulu kelebihan dan beberapa keterbatasan yang udah kami uji saat kita menggambar pakai S Pen dan menggunakan keyboard cover seperti yang kita jelaskan tadi ya. Lalu, tablet ini masih pakai USB versi 2. Agak beda dengan versi atasnya pakai USB 3. Kemudian dia belum bisa display out via USBC ya. Jadi hanya bisa pakai wireless kecuali kalau kalian pakai kabel khusus ya. Lalu tidak ada charger dalam paket penjualan. Lalu sebelum menjadikan tablet ini jadi alat kerja satu-satunya kita memang harus pelajari dulu apakah pekerjaan kita optimal dengan aplikasi yang sudah ada. Terutama untuk yang terbiasa dengan OS lain itu akan perlu adaptasi terlebih dahulu. Kemudian tablet ini memang bukan yang paling kencang di kelasnya tapi tetap tergolong kencang dipakai gambar buka banyak aplikasi sekaligus bahkan untuk gaming berat juga masih lumayan lancar. Kemudian kalau cuma lihat spesifikasi mungkin ada yang protes kok layarnya cuma 90 Hz. Yang lain kan 120 Hz. Tapi kalau dipakai 90 Hz di sini tetap terhitung mulus. Kalau 60 Hz mungkin kami baru protes. Lagi pula tadi udah lihat kan deh tahan baterainya jadi mantap banget. Dan sebetulnya kan ada ya tablet yang masih pakai 60 Hz harga belasan juta dan penggunanya enggak protes ada kan? Nah paling enggak ini 90 lah ya. Oke dari si kelebihannya layarnya udah besar 13,1 inci. Kecerahan layarnya juga udah tinggi untuk sebuah tablet. Ingat yang 800 tadi adalah kecerahan total seluruh layar bukan satu titik tertentu ya. Lalu speakernya ini cukup jernih dan lantang. IP68. Nah, ini susah nih. Memang saat ini baru Samsung yang konsen banget ngasih tablet-tablet yang udah IP68 jadi kena air segala macam itu aman ya. Lalu beberapa fitur A juga udah ada di sini. Lalu udah support S Pen dan S Pen atau stylus-nya itu sudah ada dalam paket penjualannya. Dia support keyboard cover juga dan ini pakai Pogo Pin ya, bukan yang pakai Bluetooth. Lalu dia sudah support penggunaan micro SD, punya Samsung Dex untuk desktop mode. Punya fitur keamanan melimpah, ada Samsung Nox di sini. Lalu kamera selfie-nya tuh punya sudut pandang yang lebar di sini ya. Lalu hadir langsung pakai One UI 7. Update-nya langsung 7 tahun. Ini belum ada lawannya sih ya. Nah, lalu pertanyaannya tablet ini cocoknya buat siapa? Ya tentunya untuk yang mencari tablet dengan kebutuhan layar besar di kelas 10 juta kecil ya atau 10 juta lebih dikit gitu ya. ini akan pas tablet Samsung lain yang e 12,4 inci bahkan ya e bahkan yang S9 Plus tahun lalu bonus sekali itu harganya masih lebih tinggi dari yang satu ini tentunya untuk kalian mencari tablet Android untuk produktivitas edit video ringan, menggambar ee nulis script atau artikel ee di kelas harga segini ini udah jadi opsi yang pas banget sebetulnya ya. Samsung Dex, OneUI 7, S Pen, IP68 ini kombinasi yang sulit buat dilawan ya. Memang tablet Android lain ada yang lebih kencang, tapi kalau udah bicara kenyamanan pakai terutama untuk software dan juga eh stylusnya terutama ya, ini masih susah untuk dilawan. Dan sekali lagi perlu diingat layarnya sebesar ini apa enggak? Ah ya. Kemudian dia juga cocok untuk yang segera mencari tablet Android premium untuk entertainment. Ini cocok juga ya layar besar, terang, dikomunikasikan speaker yang lumayan keren dan performanya juga lumayan kencang. Cocok buat nonton film. Bahkan gaming juga udah oke di sini. Nah, jadi gimana setelah mempelajari tablet satu ini? Apakah memang ini adalah tablet yang cocok untuk kalian atau masih ada hal lain yang membuat kalian penasaran? Coba tuliskan komentar kalian di kolom komentar tentunya. Oke, saya Irfan Jaka Tib TV. [Musik]
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Memulai bisnis laundry sering kali terlihat sebagai ladang uang yang mudah dan menjanjikan, namun realitas di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya. Berangkat...
Pasar perangkat audio nirkabel premium bersiap menghadapi guncangan besar lewat kehadiran lini Soundcore Liberty 5 Pro Series. Di tengah dominasi merek-merek mapan...
Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...
Memilih ponsel kelas menengah terbaru sering kali berujung pada dilema antara performa gaming yang buas atau kenyamanan ekosistem perangkat yang matang. Samsung...
Sistem operasi robot hijau kembali membawa lompatan besar lewat kehadiran Android 17 yang kali ini tidak sekadar bersolek di sektor visual. Google tampak sangat...
Langkah berani Samsung dalam merombak lini audio nirkabelnya lewat Galaxy Buds 4 Pro berhasil mencetak standar baru yang belum pernah dicapai generasi sebelumnya....
Bagi kaum mendang-mending yang enggan melirik jenama asal Tiongkok, bursa ponsel pintar sering kali terasa sempit dan penuh kompromi. Namun, episode terbaru Kotek...


















