Jungkat

Tablet Gaming Infinix dengan SoC Premium Snapdragon!! Review Infinix XPAD GT (YouTube Video)

  • 02/07/2025

Infinix gak berhenti-berhentinya nih bikin gebrakan. Kali ini mereka meluncurkan sebuah tablet gaming. SOC-nya pakai Snapdragon 38 kelas flagship nih. RAM-nya 8 GB, storage 256 GB UFS 3.1. Layarnya lega di 13 inci. Refresh rate-nya 144 Hz. Udah asik nih buat main game. Punya baterai besar di 10.000 mAh. Walaupun baterainya besar tapi bodinya tipis di 6,5 mm. Speakernya juga gak main-main nih. Punya delan speaker stereo, 3D sound dengan dukungan DTS audio. Enggak cuman asyik buat main game, tablet ini juga bisa buat produktivitas berkat dukungan keyboard dan stylusnya yang sudah termasuk dalam paket penjualan. Serius deh, tablet yang satu ini seru banget. Jadi, langsung aja simak review kami kali ini. Infinix XAD GT ini adalah tablet gaming pertama dari Infinix yang tentunya diperuntukkan untuk gaming. Namanya juga GT ya. Taglinen-nya aja gaming beast hype abis. Tapi apakah tablet ini cuma ngandelin performa doang? Mari kita bahas tablet ini mulai dari paket penjualannya dulu. Di paket penjualannya pertama ada unit Infin protective case berbahan vegan leader. Lalu ada charger 33 wat jadi masih ada chargernya. Masih ada chargernya. Masih ada chargernya. Lalu ada kabel USB A2C. Lalu ada headset kabel dengan konektor USBC. Ada converter USBC to headphone jack 3,5 mm. Dan ada paket dokumen. Nah, menariknya kita juga mendapatkan keyboard case dan juga stylus dalam paket penjualannya. Jadi untuk paket penjualannya termasuk yang lengkap ya. Enggak perlu beli aksesoris terpisah di sini. Dari segi desain, tablet ini mengusung desain metal unib yang memberikan kesan mewah saat digenggam. Karena tablet ini menggunakan body berbahan metal, jadi kalau jatuh atau terbentur bisa berpotensi penyok. Jadi mesti ekstra hati-hati. Tapi dari sisi positifnya, dengan body berbahan metal seperti ini seharusnya penyebaran suhunya bisa lebih baik ketimbang material yang lain. Di sini juga terdapat ornamen ala-ala mecha desain di area punggung hingga modul kamera belakang yang menguatkan kesan gaming di tablet ini. Tapi ornamen mecha atau mekanya ini tuh tidak terlalu banyak sehingga enggak menimbulkan kesan yang terlalu ramai saat dipandang. Untuk dimensinya lebar 291,7 mm, tingginya 191,1 mm dan tebalnya di 6,5 mm. Jadi ini cukup tipis ya mengingat ukuran bodinya dan kapasitas baterainya yang cukup besar. Nah, untuk bobotnya gimana? Kalau hanya tabletnya doang itu 654 gr. Kalau tablet plus protective case-nya itu 990 gr. Kalau tablet plus keyboard case itu di 11117 gr. Nah, kalau paket lengkapnya sama stylus-stylusnya itu di 11125 gr. Untuk warna ini hanya ada satu pilihan yaitu stella gry seperti yang kami uji ini. Sekarang kita lihat apa yang ada di sekeliling body tablet ini dengan tablet diposisikan horizontal seperti ini ya. Jadi, penggunaannya secara horizontal karena kamera selfie-nya ada di posisi atas ini. Di sisi kanan ada dua grill speaker dan port USB 3 type C. Ya, kalian enggak salah dengar ya. Ini udah pakai USB 3. Di sini jarang banget ada yang punya. Di sisi atas ada tombol volume, ada dua mikrofon. Di sisi atas ini juga bisa dipakai untuk tempat dudukan stylus. Jadi, ada magnetnya di situ. Untuk magnetnya sendiri cukup kuat ya, jadinya stylus enggak gampang jatuh. Tapi, ini hanya untuk tempat naruh stylus-nya aja, bukan untuk ngecas stylusnya. Di sisi kirinya ada tombol power dan juga ada dua grill speaker. Dan di sisi bawahnya itu kosong. Meski terlihat hanya ada empat lubang speaker, tablet ini ternyata punya delan speaker yang Infinix sebut dengan 3D sound system. Speakernya ini didukung pemrosesan audio dari DTS. Kualitas audionya tergolong sangat baik untuk kelas harganya terutama ya. Staing cukup bagus dengan bass yang terasa mendentum saat diuji. Trble dan MID masih terdengar cukup baik walau separasi masih kurang rapi sedikit menurut kami. Kita beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 13 inci IPS beresolusi 2880 * 1840 piksel. Untuk refresh rate-nya itu bisa diatur dari 60, 120, dan 144 Hz. Sayangnya tidak ada opsi auto refresh rate di sini. Jadi memang kita harus atur refresh rate-nya sesuai kebutuhan. Saat dicoba di home screen, refresh rate tidak turun ke 60 Hz. Tapi saat membuka aplikasi tertentu, refresh rate bisa turun ke 60 Hz saat tidak ada input sentuhan maupun aktivitas yang terjadi di dalam layar. Untuk brightness diklaim mencapai 700 nits. Saat kami uji layar tablet ini bisa mencapai sekitar 610 nitz baik di brightness maksimal maupun simulasi outdoor. Ini sedikit dibawah klaim Infinix tapi untuk sebuah tablet ini sudah tergolong bagus. Untuk color gambutnya sendiri ketika diuji layar ini memiliki gamut coverage di 95,9% sRGB dan gamut volume di 100,1% sRGB. Tidak ada mode warna lain di tablet ini. Jadi kita menguji layarnya apa adanya aja. Infinix mengklaim tablet ini punya Touling rate di 240 Hz. Selama kami pakai sih kami tidak menemukan kendala saat beraktivitas di layarnya. Untuk layar tablet ini juga sudah ada perlindungannya yaitu Corning Gorilla Glass 3. Untuk basel layar tablet ini sudah tipis dan simetris di keempat sisinya enggak ada masalah lah. Lanjut. Di bagian beel tengah atas terdapat kamera depan atau kamera selfie. Di sini resolusinya 9 megapel F2.2 fixed focus. Perekaman videonya up to full HD 30 fps. Sekarang kita beralih ke sisi belakang. Ada kamera utamanya di sini yaitu kamera 13 megapel F2.0 dan yang ini autofokus. Kamera ini ditemani dengan LED flash dan untuk perekaman videonya sendiri up to full HD 30 fps juga. Di bagian punggung tablet ini juga terdapat tiga buah pogo pin untuk menyambungkan tablet ini dengan keyboard covernya. Oke, sekarang kita ke spesifikasi internalnya. SOC-nya pakai Snapdragon 38 dengan fabrikasi 5 nanm. Yah, sebelum kalian komentar, "Bang, itu kan SOC gagal, Bang. Suhunya pasti panas." Eh, bentar dulu. Infinix mengklaim kalau tablet ini memakai sistem faber chamber yang teoritis bisa menyebarkan suhu dari SOC ke seluruh body tabletnya sehingga suhu tablet ini bisa terkendali. Jangan langsung menyimpulkan sebelum kita uji. Jadi nanti kita lihat aja pengujiannya seperti apa. Apakah benar masih panas, apakah benar masih boros? Kita lihat nanti. Untuk RAM-nya sendiri 8 GB LPDDR 5, storage-nya 256 GB UFS 3.1. Enggak ada dukungan micro SD di sini, jadi tidak ada opsi untuk memperluas kapasitas penyimpanan. Untuk baterainya sendiri dia 10.000 1000 mAh dan mendukung charge 33 watt dan bisa reverse charging sampai 10 wat. Untuk sensor ada beberapa ya sepertiorometer dan light sensor. Untuk yang lainnya sayangnya belum tersedia. Untuk konektivitas ini adalah tablet Wii only jadi tidak mendukung seluler di sini. Untuk Wii-nya sendiri dia pakai Wii 6, Bluetooth-nya 5.3 dan dia sudah pakai USB 3 type C dengan dukungan OTG. Dan menariknya lagi port USB ini bisa dipakai untuk display out via USBC. Wah, tablet mana lagi yang bisa? Enggak banyak loh yang bisa seperti ini di kelas harganya. Terutama untuk sistem keamanan di sini enggak ada keamanan biometrik ya. Jadi tablet ini hanya dikunci dengan swipe, pin pola, atau password. Untuk OS dia menggunakan Android 14 dengan tampilan standar Android bukan XOS di sini. Sayangnya saat video ini dibuat belum ada info mengenai update software seperti apa. Kami sudah tanyakan ke pihak Infinix atau kalau misalnya sampai video ini jadi belum ada juga mungkin kami akan update di deskripsi. Entar. OS-nya sendiri punya tampilan yang bersih ya dan ini karena pakai OS standar jadi tablet ini minim bloodware tapi minim fitur juga bukan berarti gak ada fitur sama sekali ya. Di sini ada fitur AI kok seperti Fx misalnya yang bisa dipakai sebagai chatboot atau voice assistant. Lalu untuk jaminnya gimana? Tentunya bisa juga di sini. Oke, sekarang mari kita bahas XP GT keyboard dan Xpensil-nya. Ini merupakan stylus dan juga keyboard case-nya yang termasuk dalam paket penjualannya tadi. Keyboard-nya ini memiliki sistem magnetik yang sangat kuat sehingga tablet dapat menempel ke keyboard dengan baik. Untuk kenyamanan mengetik, keyboard ini punya ukuran tombol yang kurang lebih mirip dengan keyboard laptop 14 inci pada umumnya. Dan secara mengejutkan, travel distance dari keyboard ini cukup dalam ya, yang membuat pengalaman mengetiknya cukup nyaman. Sementara untuk touchpad posisinya cenderung center to body. Jadi tangan masih bisa menyentuh area touchpad saat mengetik. Dari pengalaman kami, saat mengetik ketika telapak tangan kita tidak sengaja bentuk area touchpad, kursornya enggak bergerak ternyata. Jadi sepertinya touchpad ini sudah punya mekanisme palm rejection. Beralih ke expensilnya. Ini pensilnya sendiri warna putih ya, ukurannya terbilang pas dengan tablet ketika dipasang di tempatnya. Stylus ini dapat diisi dayanya melalui port USBC. Untuk charging dengan magnetik sayangnya belum bisa. Expensil ini sudah mendukung pressure level. Jadi kita bisa mengatur ketebalan garis saat menggambar. Untuk detailnya sayangnya kami belum dapat ya untuk pressure level-nya tepatnya berapa ya. Paling enggak untuk kebutuhan menggambar sudah cukup nyaman dan minim delay. Sebagai catatan expensil ini tidak dapat bekerja saat refreshed layar diatur di 144 Hz. Jadi kalau mau pakai pensilnya kalau bisa diatur di bawah itu refresh rate-nya. Oke, sekarang kita lanjut ke hasil benchmark-nya. Nah, berhubung di sini enggak ada settingan performanya di menu baterainya, jadi kita langsung tes benchmark apa adanya aja. Untuk AnTutu 10 kita dapat R9.000-an. Untuk Geig 6 core-nya di 1546 dan multiore di 4062. Untuk 3D Mark sling shot Extreme Unlimited Open GL 3.1 graphic score-nya di 12.898. 3D Mark white life stress test. Best score-nya di 5.787, lowest score-nya 5.679, jadi stability-nya di 98,1%. Untuk Jeffx Benz Manhatten 3.1 1080p offsreen dia dapat 124 fps. Untuk carchest 1080p offsreen dia dapat 74 fps. Oke, ya tadi itu benchmark-nya. Sekarang kita lanjut ke pengujian gaming-nya. Di pengujian gaming kali ini kita set refresh rate langsung ke 144 Hz ya, biar performanya langsung mentok. Untuk subway server, refresh rate-nya ternyata otomatis turun ke 120 Hz. Jadi hasilnya gameennya bisa jalan mulus di 120 FPS. Untuk Real Racing 3 refresh rate-nya tidak turun saat masuk game nih. Jadi game berjalan cukup lancar di 123 sampai 124 FPS selama pengujian. Belum 144 tapi untuk frame rate segini mah udah udah mulus banget enggak gitu beda harusnya 20 FPS itu mah. Kita lanjut ke Mobile Legends. Kita udah coba mainkan dengan satu match. Setting grafisnya bisa terbuka sampai ultra dengan frame rate di ultra juga. Ini artinya bisa terbuka sampai 120 fps. Hasilnya gimana? Jadi gini, di 3 menit awal game berjalan di sekitar 105 sampai 120 fps. Setelah itu ternyata frame rate-nya bisa turun di sekitar 85 sampai 100 fps. Tapi dengan frame rate segini mah hitungannya masih mulus-mulus aja. Kalau kita enggak pantengin angka frame rate mah itu hitungannya masih mulus. Lanjut ke PUBG Mobile. Kita coba mainkan satu match juga dengan setting grafis maksimal yang terbuka bisa sampai ultra HD. Untuk frame rate-nya bisa sampai ultra. Jadi kalau grafisnya maksimal frame rate-nya 40 fps. Tapi kalau kita setting grafis di smooth, frame rate-nya itu bisa sampai extreme plus yang artinya bisa sampai 90 fps. Karena ini game kompetitif e game shooter ya terutama ya ini lebih enak di 90 fps. Jadi kami coba di sini hasilnya frame rate cukup stabil di 90 fps. Jadi game-nya udah lancar banget lah. Kami enggak mengalami penurunan di sini. Untuk Gyro Ming sayangnya belum bisa karena tablet ini enggak punya sensor gyiroskop. Tapi untuk tablet sebesar ini ya wajarlah enggak ada gyoskop mau diangkat tabletnya goyang-goyang begini. Kurang pas ya saya rasanya. Jadi enggak masalah harusnya. Untuk Genin Impact kita uji selama 30 menit seperti biasa dengan setting highest 60. Hasilnya gimana? Di 3 menit awal frame rate mulus di 60 fps. Setelah itu game berjalan di kisaran 40 sampai 55 fps hingga pengujian selesai. Dengan frame rate seperti ini, game sudah termasuk nyaman dimainkan bahkan dengan setting grafis tertinggi. Untuk suhu permukanya gimana? Nah, di sisi bagian belakang kita dapat itu di 39 derajat Celcius paling panasnya dan untuk layar itu di 38 derajat Celcius. Untuk suhunya sendiri dominan di area atas body, tepatnya di dekat modul kamera selfie. Jadi dengan suhu seperti ini enaknya tuh tangan kita pas megang tabletnya enggak ngerasain panasnya kok. Jadi kelihatan ya ternyata frame rate-nya tinggi, suhunya enggak terlalu tinggi juga bahkan tercenderung adem. Jadi triple 8 di sini hasilnya oke. Enggak seperti kata-kata netizen yang katanya wah performanya pasti jelek, suhunya pasti panas. Ternyata di sini beres. Tapi perlu diingat juga ini kan Snapdragon 38-nya dipasang di tablet bukan di smartphone. Malah mungkin SOC ini cocoknya di sini kali ya. malah kelihatan bersinar dia di sini. Untuk rankingnya sendiri dengan performa seperti ini ranking Gensin Impact-nya cocok untuk dapat ranking A+ karena frame rate-nya tinggi dan udah lumayan stabil juga. Kita lanjut ke game berikutnya yaitu Wing Wave dengan setting quality 60 fps. Kita coba mainkan saat jalan-jalan ternyata frame rate-nya rata-rata jadi 51 fps. Sesekali bisa drop di bawah 30 fps. Saat battle-nya intense. Rata-rata frame rate berada di 44 fps. Bisa sisi sekali drop di 30 fps. Tapi overall sudah terhitung nyaman dimainkan. Nah, sekarang kita lanjut ke pengujian kameranya. Nah, untuk pengujian kameranya kali ini engak sama saya. Jadi, kita udah kedatangan tiga reviewer baru Jagat nih yang masih dalam proses training. Jadi, silakan sekalian kenalan dengan anak-anak baru yang ini. Perkenalkan saya Robinsyah dan ini adalah contoh kualitas perekaman video kamera utama dari Infinix Expert GT. Seperti yang kalian lihat, ini adalah contoh perekaman ketika menggunakan pencahayaan studio. Sekarang kita coba kalau pakai pencahayaan di ruangan biasa. Dan ini adalah contoh perekaman video ketika menggunakan pencahayaan di ruangan biasa. Jadi, gimana nih kualitas videonya masih kelihatan bagus atau enggak? Terus gimana dengan frame rate-nya? Masih amankah atau terjadi patah-patah atau kelihatan mulus-mulus aja? Halo teman-teman, namaku Zaki Alwan. Ini hasil perekaman video dari kamera selfie Infinix XP GT resolusi Full HD dengan kondisi Lighting Studio. Menurut kalian bagaimana kualitas audio dan visualnya? Nah, sekarang kita coba dengan menggunakan pencahayaan ruangan biasa. Menurut kalian gimana? Apakah gambarnya masih tetap bagus atau ada penurunan frame rate? Sekarang kita coba tablet ini untuk meeting online seperti di Google Meet. Halo teman-teman, nama saya Hasvi. Eh, untuk Google Meet ini kita akan coba menggunakan fitur seperti background blur dan juga virtual background yang tersedia di Google Meet. Di sini juga kita akan coba menggunakan filter bawaan dari Google Meet. Contohnya seperti ini ya. Jadi itu tadi contoh dari perekaman video Infinix Expensity. Nah, untuk harapan kami sih untuk kameranya diperbanyak lagi fiturnya mungkin ya. Karena si UI kamera dari XP GT ini terlihatnya masih terlalu simpel. Mungkin hanya ada mode promote saja. selebihnya itu fitur kameranya basic sekali. Jadi mungkin ini bisa ditambahkan oleh Infinix di update software mungkin ya. Ya. Dan mengingat karena tablet ini menggunakan SOC Snapdragon Triple 8, harusnya diharapkan ya kita berharap untuk kualitas perekaman video ini udah bisa menggunakan Full HD 60 fps. Dari kesimpulannya tablet ini masih cocok untuk kalian yang memang mau pakai tablet ini untuk sekedar kebutuhan video conference seperti di Google Meet atau di Zoom meeting. kualitas videonya juga cukup baik di kondisi ruangan dengan pencahayaan yang cukup dengan kualitas audio yang juga mencukupi. Sekian dari kami, kita lanjut ke pembahasan berikutnya. Nah, tadi itu kameranya, sekarang kita lanjut ke pengujian baterai. Untuk pengujian yang pertama kita pakai YouTube offline video playback 1080p dan hasilnya baterai bisa habis dalam waktu 16 jam 1 menit dengan catatan saat memutar video playback yang biasa kami pakai. Entah kenapa refresed layarnya tuh terkunci di 144 Hz meski sudah kami atur di 60 Hz. Ini sepertinya ada bug software aja di sini. Nah, berikutnya untuk streaming YouTube, baterai berkurang 3% dalam 30 menit. Untuk TikTok baterai berkurang 3% dalam 30 menit. Untuk Gensin Impact baterai berkurang 12% dalam 30 menit. Jadi, untuk kemampuan baterainya, menurut kami ini tergolong normal untuk ukuran layar dan performa yang diberikan. Tapi mengingat ini pakai Snapdragon 38 yang katanya terkenal boros, menurut kami di sini hasilnya jadi normal. Untuk charging gimana? Dari 1 sampai 50% kita dapat 50 menit. Dari 1 sampai 100% kita dapat 2 jam 20 menit. Untuk pengisian dari 1 ke 50% tergolong cukup cepat ya, tapi untuk charging sampai penuh membutuhkan waktu yang lebih lama. Ini tergolong wajar sih untuk baterai 10.000 yah dan charging-nya juga 33 watt. Nah, untuk pengujian lain-lain gimana? Netflix sudah mendukung WiFi L1. Jadi bisa streaming full HD di tablet ini. Namun memang belum support HDR. Untuk YouTube bisa streaming sampai 4K 60 fps dan bisa HDR di sini. Untuk Wii sharing sayangnya masih belum bisa di sini nih. Saat kami coba nyalakan Wii Hotspot koneksi Wii langsung terputus. Jadi bisa dibilang tablet ini belum bisa Wii sharing. Nah untuk heptic feedback gimana? Sayangnya di sini belum ada ya. Tapi berhubung ini tablet belum ada heptic feedback merupakan hal yang wajar di sini. Dari segi harga Infinix Spe GT ini dipasarkan dengan harga Rp6.199.000 dan seperti yang kita bilang di awal 6 juta ini sudah termasuk dengan XAD GT keyboard dan juga stylus-nya. Sekarang kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama itu tablet ini support Wii only. Jadi tidak ada dukungan selulernya, kemudian tidak ada slot untuk micro SD, lalu refresh rate layarnya kurang normal di beberapa skenario penggunaan. Saat di home screen juga tidak turun ke 60 Hz di sini. Jadi semoga ada update untuk mengatasi hal ini. Lalu untuk OS-nya sendiri dia start dari Android 14 dan belum ada kejelasan mengenai software update sampai saat ini. Nah, sayangnya di sini juga tidak ada sistem keamanan biometrik ya. Keamanannya masih yang standar aja. Untuk poin menariknya di sini paket penjualannya lengkap. sudah termasuk keyboard case, protective case, bahkan stylus pen. Lalu body terasa solid dan kokoh saat dipegang. Bodinya tergolong tipis untuk sebuah tablet 13 inci. Kualitas speakernya sangat baik di kelas harganya. Basnya juga sampai terasa di sini. Layarnya besar dengan resolusi tinggi. Cocok untuk entertainment. Refresh rate-nya up to 144 Hz. Ini bikin scrolling di layar ini terasa sangat mulus. Lalu spesifikasi yang dipakai sudah terasa kelas atas untuk harganya. Dipakai gaming juga udah mantap. Beberapa game bahkan bisa berjalan di 120 FPS dan mengingat ini Snapdragon triple 8 gak panas tuh di sini enggak overheat tuh mantap. Lalu F mengetik di keyboard terasa nyaman dengan keystroke yang tergolong dalam. Keyboard ini juga punya tochpad bawaan dan pengalaman menggambar menggunakan X Pensil cukup nyaman berkat dukungan pressure levelnya. Lalu yang kami kaget ternyata USBC-nya bisa display out. Jarang-jarang nih ada yang seperti ini. Oke, jadi pada akhirnya Infinix bisa dibilang berhasil meracik tablet 6 jutaan dengan spesifikasi yang menarik. X GT ini menghadirkan layar besar, performa kencang, serta hadirnya aksesoris seperti XP GT keyboard dan X Pensil ini bisa membuat tablet ini jadi alat produktivitas yang mumpuni. Kami merasa apa yang ditawarkan tablet ini membuatnya cocok untuk berbagai kebutuhan seperti gaming, menikmati konten, bahkan produktivitas ringan juga bisa di sini. Mau pakai tablet ini untuk kerja seperti ngetik-ngetik ataup menggambar ya bisaalah. Jadi Infinix Spect GT ini bisa jadi pilihan menarik bagi kalian yang cari tablet berperform tinggi di harga Rp jutaan. Saya Kris Jaga TV. Bye bye. [Musik]

Lihat di YouTube