Tablet Terjangkau Andalan Infinix Tahun 2025! | Review Infinix XPAD 20 (YouTube Video)
Ini adalah Infinix Expert 20. Ya, ini penerus dari tablet luar biasa yang dirilis tahun 2024 lalu. Infinix generasi pertama. Tablet ini harganya mulai dari di bawah Rp2 juta. Tablet ini menawarkan layar 11 inci besar untuk harganya. Refresh rate up to 90 Hz, baterai 7000 mAh, RAM up to 8 GB dan storage up to 256 GB. Dan masih bisa pakai micro SD pula ya. Nah, penasaran kemampuannya? Yuk, kita bahas. Akhirnya ada lagi tablet dari Lini XP. Sebelumnya tahun lalu Infinix sudah merilis Xpad generasi pertama yang fenomenal di kelasnya itu ya. Kali ini di pertengahan 2025 Infinis menggebrak lagi dengan dua tablet Xed. Satunya adalah XAD 20 ini. Nah, apakah tablet ini bisa menggebrak pasar tablet terjangkau seperti pendahulunya? Coba kita bahas ya. Kita mulai dari isi paket penjualannya dulu. tentunya di dalamnya ada unit tablet dengan screen protektor yang sudah langsung terpasang di layarnya dan tentunya ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 10 watt. Lalu ada kabel USB A2C, ada SIM tray ejector, case tablet berwarna abu-abu gelap, dan paket dokumen. Jadi paket penjualannya terbilang lengkap. Oke, secara desain tablet ini terlihat berbeda dengan Xpad yang sebelumnya. Kalau di versi yang sebelumnya Infinis menggunakan desain dual tone. Di generasi yang ini ya single tone aja. Warna variannya juga berbeda ya. Ada dreamy purple, forest green, dan yang kita uji ini adalah stellar grey. Untuk materialnya ini menggunakan polikarbonat. Saat kalian pegang body tablet ini terasa kokoh dan solid. Tapi memang ini fingerprint magnet ya. Jadi kalau enggak mau kotor dipakaiin case aja nih belakangnya nih. Udah dari bawaannya kan. Untuk dimensi lebarnya 257,67 mm, tinggi 169,22 mm, dan ketebalan di 7,9 mm. Untuk bobot saat kami timbang, tabletnya saja di 508 gr, lalu cover case-nya itu di 247 gr. Total bobot kalau di bawah-bawah ini kalau kita bawa tablet dengan cover case aja di 755 gr. Oke, mari kita lihat di sekeliling tablet ini dengan posisi tablet dipegang secara horizontal seperti ini ya. Nah, di kanan ada 3,5 mm audio combo jack, lalu ada port USBC dan grill speaker. Di atas ada lubang mikrofon dan volume up and down. Di sebelah kiri ada tombol power dan grill speaker. Lalu di sisi bawah ada SIM tray. Ini bisa untuk 1 nano SIM plus micro SD card. Untuk speaker ada dua terletak di sisi kiri dan kanan tablet. Untuk water speakernya bagi kami ini lebih dominan ke travel ya dan di volume tinggi terasa agak tajam di telinga nih travelnya. Tapi untungnya di sini ada equalizer dari DTS Sound dengan 5 band. Jadi ada sedikit ruang untuk find tuning audio dari tablet ini. Sementara untuk volume ini sudah tergolong lantang. Beralih ke sisi depan ini adalah layar 11 inci. Enggak ada keterangan panel ini panel apa ya. Tapi menurut kami ini karakternya menyerupai IPS. Resolusinya adalah 1920 * 1200 pikel. Refresh rate-nya up to 90 Hz. Ini adaptif ya dari 60 ke 90 Hz. Untuk brightness ini diklaim bisa mencapai 440 nitz. Kalau dari pengujian kami, layar tablet ini punya brightness hingga 546 nits. Brightness segini kita dapatkan di indoor dan outdoor. Dan di sini ternyata belum ada fitur auto brightness ya. Nah, untuk al gambutnya coverage-nya ada di 95,3% sRGB dengan volume di 106,1% SRGB. Jadi ini sudah ya anggaplah 100% sRGB lah yang satu ini ya. Mau nonton konten di layar ini udah cocok banget ya. Mau dipakai buat ngedit gambar atau video pendek juga sudah memadai. Untuk stylus saat ini kami coba dengan stylus generic dan ini bisa tapi memang tidak ada stylus khususnya di sini. Nah, untuk support multitouch dia bisa sampai dengan 10 jari dan gerakan jari pun bisa dibaca dengan baik di sini. Untuk baselnya memang bukan yang super-super tipis tapi mengingat harganya sih wajar-wajar aja. Lagian ya kita butuh untuk tempat megang tabletnya juga kan. Di basel bagian atas terdapat kamera depan yang 5 megapel F2.0 dan ini adalah kamera fixed focus. Berekaman video up to 2K 30 fps dan ada LED flash di sebelah kameranya ini. Ya, beralih ke sisi belakang ini adalah kamera utamanya yang 8 megap F2.0 autofokus. Perekaman videonya up to 2K 30 fps dan ada LED flash-nya. Untuk fitur-fitur kamera ada lumayan di sini coba dilihat aja di dalam tabel yang satu ini. Nah, untuk spesifikasi SOC-nya adalah Mediatchek Helio G88. Untuk RAM dan storage-nya untuk yang kami uji ini adalah yang pakai RAM 4 GB dengan LPDR 4X dan storage-nya adalah 128 GB IMMC ya. Jangan protes kenapa enggak UFS karena ini SOC-nya memang bisanya IMMC. Ada juga varian lain yang RAM-nya 8 GB dengan storage 256 GB. Nah, di sini ada slot micro SD ya. Jadi bisa nambahin storage lagi hingga 1 TB. Untuk baterainya ini 7000 mAh dan sudah support charging sampai dengan 10 watt. Kita udah cek pakai charger yang lebih kencang. Sayangnya memang mentok di 10 watt aja charging-nya. Untuk kreativitas dia support 2G, 3G, dan 4G tentunya. Jadi bisa terhubung ke internet tanpa bergantung ke jaringan Wi-Fi. Mau dipakai buat teleponan juga bisa. Ada dialernya di sini. Tapi teleponannya lewat speaker ya, karena tablet ini tidak dilengkapi dengan earpiece. Jadi kalian enggak bisa tuh nelepon pakai tablet nempel di kuping gitu. Enggak begitu caranya ya. Lalu Wi-Fi-nya sudah Wii 5 dan bluetutnya versi 5.2 udah support audio Codex SBC, AAC, LDAC, dan LHDC juga. Lalu dia juga support USB OTG dan di sini ada FM radionya. Untuk keamanan dia punya private space untuk menyembunyikan aplikasi penting di tablet ini. Dan ini bisa dipakai juga untuk fitur dual app. Mau pakai dua akun WhatsApp di tablet ini bisa. Enggak ada masalah. Fiturnya juga bisa dipakai kalau anak kita misalnya mau pakai tablet ini. Jadi dia tidak bisa mengakses akun yang ada di private space tadi. Kemudian dia juga punya save folder. Nah, yang satu ini fungsinya untuk menyembunyikan file-file penting tablet ini supaya tidak bisa diakses oleh orang lain. Karena file kita simpan akan dilindungi dengan pin atau pattern tergantung pilihan kita. Untuk kameraman biometrik sayangnya di sini belum ada. Setidaknya di sini kita masih bisa menambahkan pengunci layar seperti pin, password, dan pattern untuk mengunci layar tablet ya. Untuk sensor di sini hanya ada akselerometer. Dan untuk gyro dan light sensor sayangnya memang belum ada. Tapi ingat harganya sih masih wajar-wajar aja sih kayaknya ya. Untuk OS dia pakai Android 15 dengan UI standard Android karena ini menggunakan Android yang vanila ya, jadi OS-nya bersih dan lebih ringan ketimbang kebanyakan UI yang lainnya. Untuk iklan sejauh ini sih aman ya. Nah, untuk blotware atau third party app bagaimana? Ini bisa dikatakan tidak ada di sini. Setidaknya saat pengujian tidak ada. Nah, terkait update Infinix menjanjikan tablet ini mendapatkan 2 tahun security update. Sayangnya belum ada info dari Infinix mengenai update versi Android yang tersedia. Paling enggak dia udah start dari Android 15. Kemudian di sini tersedia FAX atau AI assistant bawaan dari Infinix untuk tablet yang satu ini. Untuk mengaksesnya kita bisa tekan dan tahan tombol power selama 2 detik. Lalu akan muncul chat Flex AI di bagian pojok kanan bawah layar. Fungsi fitur ini ada banyak ya. Contohnya seperti menyalakan atau mematikan Wi-Fi tablet, mengatur volume tablet untuk naik dan turun, atau bahkan meminta tablet untuk memotret dengan kamera selfie bisa juga nih ya. Dan masih banyak lagi. Kalau mau tahu fungsinya apa, kita bisa lihat aja langsung di menu device settings, lalu pilih FAx. Nah, apakah kita bisa pakai Gemini di sini? Tentunya bisa. Kita bisa pakai Gemini ini. Untuk mengaksesnya kita bisa swipe dari pojok layar bawah ke tengah tablet seperti ini. Nah, muncul kan tuh Gemininya, ya. Nah, oke kita langsung masuk ke benchmark. Untuk AnTutu 10 dengan 3D Lite kita dapat R61.000-an. Untuk Geek Bandch 6 single core di 445 dengan multiore di 1433. Untuk 3 trim sling shot open GL 3.1 graphic score di 1183. Lalu untuk 3k wild life stress test best score 738, lowest score 734. Jadi stability-nya ada di 99,5%. Untuk JFX Benz 1080 off screen dia dapat 39 fps. Sementara Manhattan 3.1 1080p offsreen dapat 15 fps. Nah, sekarang kita lihat untuk pengujian gaming. Di sini kita menggunakan performance mode yang bisa diakses melalui menu overlay yang satu ini. Untuk Gensin impact bagaimana? Kita lihat aja di lowest 60 fps. Sayangnya ini baru dapat 25 sampai 30 fps dan fluktuasinya lumayan terasa saat dimainkan ya. Jadi kami kurang menyarankan untuk main Gin Impact di tablet yang satu ini. Nah, untuk supply server sayangnya saat kita menjalankan game ini refresh set-nya itu langsung turun ke 60 Hz. Jadi game ini berjalan maksimum di 60 fps. Kita coba atur ke 90 Hz secara manual ya, tapi refreshnya tetap turun saat game ini dimainkan. Ya, seenggaknya game ini masih bisa dimainkan dengan mulus dan lancar. Lanjut untuk PUBG Mobile. Di sini setting grafisnya terbuka itu sampai smooth ultra alias 40 fps. Kalau dimainkan dia lancar regisaran 35 sampai 40 fps. Lanjut untuk Free Fire. Dengan setting grafis di max dan opsi frame rate di high, kita bisa mendapatkan frame ratearan 40 sampai 60 fps. Untuk Mobile Legends, setting frame rate ultra atau 120 fps terbuka di sini. Wow, luar biasa. Tapi sayangnya refresh set layar otomatis turun ke 60 Hz saat game dijalankan. Kita coba setting ke 90 Hz secara manual. tetap aja dia nyangkut di 60 Hz. Jadi untuk tes kita pakai opsi high atau 60 fps aja ya ngikutin freset layar. Nah, kalau kita pakai setting map quality high dan setting grafis lainnya kita mentokin kanan seperti ini, hasilnya frame yang kita dapatkan itu ada di kisaran 60 fps. Lalu kita coba mainkan game ini. Untuk kedua kalinya kita masih dengan settingan yang sama kita dapat frame rate kisaran 55 sampai 60 fps dan kadang-kadang bisa turun ke 45 fps di scene yang benar-benar rameai. Kalau kita lanjutkan sampai match ketiga, hasilnya kurang lebih masih mirip-mirip aja. Nah, setelah MS ketiga kita coba ukur suhu permukaannya. Di bagian back cover suhu hanya mencapai sekitar 38 derajat celcius. Sementara di layar itu suhu lebih adem di 35 derajat Celcius. Oke, sekarang mari kita uji kameranya ya. Ini adalah hasil perekaman kamera menggunakan kamera selfie dari Infinix Xpad 20 dan ini di kondisi lighting studio nyala ya. Jadi ini kondisi yang proporsional. Jadi hasil kurang lebih seperti ini. Nah, ini kalau misalnya menggunakan lampu ruangan. Jadi ini kondisi yang mungkin akan sering kita temui dan untuk kualitasnya di sini noise lumayan kelihatan dan detail mulai hilang ya. Tapi wajar untuk harganya yang penting resolusinya bisa sampai 2K 30 fps. Ini jarang loh dia kelas harganya. Menariknya di kamera selfie ini ada sebuah LED flash yang dapat kita gunakan untuk merekam di kondisi cahaya yang minim seperti ini ya. Lalu ini adalah hasil perekaman menggunakan kamera belakangnya dan resolusinya ini juga bisa sampai 2K 30 fps. Untuk kualitasnya hasilnya kurang lebih seperti ini ya. Nah, sekarang kita coba pakai untuk Meeting online. Di sini saya pakai aplikasi Google Meet. Dan untuk hasilnya sendiri kurang lebih seperti ini ya. Sayangnya saat kita pakai virtual background atau berbagai filter dari aplikasi ini, videonya jadi sedikit patah-patah. Overall untuk kemampuan kameranya ini bisa dibilang mencukupi untuk kelas harganya. Lanjut untuk pengujian baterai untuk YouTube offline video playback 1080p ya dia masih bisa dapat di 18 jam 21 menit. Ini hasil yang tergolong baik untuk hitungan sebuah tablet karena layarnya kan besar ya. Lalu untuk YouTube streaming 1080p non HDR selama seteng jam baterai turun 3%. Kalau kita mainan TikTok kita scrollsroll selama setengah jam baterai turun 5%. Nah untuk charging dari 0 sampai 50% butuh waktu 1 jam 39 menit. Dari kosong sampai penuh butuh waktu 3 jam 45 menit. Ini tergolong lambat ya sebetulnya tapi wajar untuk baterai 7000 mAh dengan charger di 10 watt. Saran kami kalau mau ngecas ini ya pas tidur aja ya. Jadi pagi-pagi entar udah penuh. Lagian kan kecuma 10 watt. Jadi amanlah harusnya adem. Nah untuk Netflix dia sudah white L1 jadi bisa nonton full HD tanpa dukungan HDR. Tapi lalu untuk YouTube support video playback sampai 4K 60 tanpa dukungan HDR. Tapi memang belum bisa muter 4K secara lancar ya. Saran kami turunin sampai 1440p aja kalau mau videonya lebih mantap hasilnya ya atau 1080p lah ya biar lebih hemat kuota. Untuk hyptic feedback di sini memang belum ada. Lalu pertama-pertanyaan apakah dia bisa wifi sharing? Nah, ternyata di sini bisa. Untuk menggunakannya kita hanya perlu menyalakan mobile hotspot saat kita terhubung ke jaringan Wii. Nah, Wii yang kita connect tadi jadi bisa dibagi tuh ke teman-teman kita tuh ya. Lanjut untuk harga dan info penjualannya. Untuk yang 4128 harganya di Rp1.999.000. Untuk yang 8256 harganya di Rp2.348.000. Harga ini sudah termasuk garansi resmi selama 1 tahun. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. pertama performanya memang belum yang paling kencang, tapi masih terbilang mencukupilah untuk kelas harganya lumayan aja gitu ya. Sensornya terbilang juga minim di sini belum ada gyro, belum ada light sensor juga. Salah satu efeknya adalah tidak adanya fitur auto brightness di tablet ini. Lalu kemudian OS-nya bersih tapi satu sisi ini jadi minim fitur bahkan face unlock juga belum ada di sini. Lalu untuk charging ini tergolong lambat. Kemudian untuk varian yang lebih terjangkau itu hanya menawarkan RAM 4 GB. Ini membuat kami menilai kalau varian yang lebih menarik itu adalah yang 8 GB dengan storage 256 GB. Tapi memang kalau berencana beli yang 4128 supaya lebih hemat mungkin ya, pastikan memang itu sudah sesuai dengan kebutuhan kalian. Nah, untuk kelebihannya tentunya dia sudah support konektivitas selular 4G di sini. Jadi kita bisa terhubung ke internet tanpa perlu bergantung dengan jaringan Wii. Lalu, dia start dari Android 15. Ini yang ternyata agak sulit untuk dilawan tablet-tablet di harga segini ya. Rata-rata mulai dari 14 soalnya kalau sekarang ya. Lalu dia punya opsi sampai dengan 256 GB ya dan harganya juga namanya cuma sedikit ya. Lalu masih punya dukungan slot micro SD pula. Baterai juga tergolong awet. Yang satu ini support recording sampai 2K 30 fps depan belakang. Layarnya juga lumayan di 11 inci. Kualitas panel digunakan juga tergolong keren. Yang satu ini refresh rate 90 Hz. Speakernya lantang dan kualites suoranya tergolong okelah untuk kelas harganya. Lalu dia pakai UI standar dari Android yang ringan serta bersih dari blotware dan iklan. Dia juga masih punya AI assistant volx pula. Opsi warnanya juga beragam dan menarik-menarik. Lalu pertanyaannya, tabletnya cocoknya buat siapa? Secara umum dia akan cocok untuk yang mencari tablet layarnya yang di atas 10 inci dengan paket yang lengkap dan harga yang terjangkau. Tapi memang ini belum pas untuk yang nyari tablet untuk main game ya. Buat hiburan ini lebih pas buat nonton konten lah nih ya cocoknya ya. Nah, jadi Infinix X ini bisa dikatakan tablet Android yang berkemampuan memadai di kelasnya yang menawarkan paket lengkap yang membuatnya punya daya tarik tersendiri. Saya D Irfan Jaka CTV [Musik]
