Tablet Windows Udah Ga BODOH?? - Asus ProArt PZ14 (YouTube Video)
Ini adalah tablet bukan Android, bukan iPad OS, tapi Windows 11. Apa iya dengan prosesor Snapdragon Flagship terbaru, tablet Windows makin make sense [musik] buat dipakai kerja content creator dan profesional sehari-hari? Di sini kami mau cerita pengalaman pribadi pakai Asus Pro Art PC 14 selama seminggu. [musik] Jika kalian udah lama mantengin channel ini, mungkin tahulah ya kalau si Mike itu senangnya sama laptop touch screen. Apalagi kalau tipis dan bisa dflip jadi tablet. Well, kali ini Pro Art PC14 actually bukan laptop, tapi beneran tablet 14 inch dengan sistem keyboard case magnetic modular depan belakang. Ya, butuh pembiasaan sih kalau sehari-hari udah biasa pakai laptop karena tablet gini sedikit lebih ribet deploy-nya. Enggak kayak laptop yang tinggal buka exel, tapi sebagai tablet ini actually beneran legit tipis dibalut un body aluminium solid dan nyaman dipegang di tangan dengan bezel cukup untuk nge-grip meski ukurannya jumbo. Di kombinasiin magnetic wireless keyboard case, dan pen, setup ini sebenarnya enggak lebih tipis atau lebih ringan dibanding rata-rata ultrabook. Perlu diketahui tablet ini tetap punya ciri-ciri tablet Windows tradisional yaitu punya kipas dan ventilasi di atas serta tombol power dan volume. Terus dari segi koleksi port ini menarik karena enggak cuma punya dua port USB for full function untuk segala keperluan input output dan charging. Ini pertama kalinya kami lihat ada tablet 14 inch punya slot SD card full size bukan cuma micro SD. Terdengar keren kan bahwa ini sebuah port SD Express 7.0. mikirin banget ka fotografer dan videografer termasuk mic yang hobi foto dan video. Sebab biasanya slot SD Express standar langsung volback ke speed UHS1 kalau dicolok. Tapi kalau mau ninggalin SD card nyolok di dalam buat nambah storage juga kurang ideal karena slotnya enggak bisa nutup selama ada SD card di dalam. Ya, tapi bersyukur banget sih ada slot SD card internal gini. Meski enggak ada jack 3,5 mili ngewajibin kalian bawa donggol audio buat nyolok headset ke USBC kalau lagi mau edit video atau dengar musik. Kamera depan 4K 8 megap, kamera depan beginilah kualitasnya. Support base ID, kamera belakang 13 megap juga ada. Dan ini kualitas kamera belakang. Sebelum bahas si prosesor dan kompatibilitas aplikasi per 2026 ini, harus diakui ini tablet Windows paling optimal secara form factor dan hardware. 14 inci terdengar gede untuk tablet tapi enggak kegedean sebagai mesin multitasking dan multi window sehari-hari. Terlebih nih, touch screen-nya 3K OLED 16 bing 10 standard Pro art yang udah terbukti nyaman buat ngedit dan ngeracik konten. Ditambah Asus Pen 3.0 yang ngecas otomatis pas ditempel di punggung. Penting buat yang butuh input presisi di Photoshop, Illustrator, dan sebagainya. Secara hardware gua rasa ini udah wujud sempurna tablet idaman content creator. Terlebih keyboard cover magneticnya ini wireless, Guys. Tetap bisa ngetik dan gerakin touchpad tanpa harus nempel di tablet. Ada backlit putih tiga tingkat pula. Digabung kick stand dua arah, bisa portrait dan landscape. Fleksibilitas kerja yang bisa kalian dapetin benar-benar dahsyat. Baik, udah dulu soal sang tablet. Sekarang saatnya kita kupas apa yang bikin tablet ini begitu spesial. Di sini enggak ada prosesor Intel, AMD, apalagi GPU, Nvidia, melainkan ada chip flagship Qualcom terbaru untuk laptop dan tablet Windows brasis Arm, yaitu Snapdragon X2 Elite. Yes, meski tablet terbilang tipis, Asus memutuskan buat ngasih chip Snapdragon 3 nanom rata kanan per video ini dibuat. Total 18 core, NPU80 tops, GPU 7,6 TF flops, dan LPDDR 5X 9500 generasi terbaru demi performa, efisiensi, dan responsivitas maksimal di segala workload content creator. Atau itu yang seenggaknya mereka janjiin. Termasuk Microsoft yang udah berhasil ngasih support native instruksi AVX di Prism Emulation Layer bawaan Windows 11. Kalau dilihat dari benchmark, lompatannya sih signifikan dibanding X Elite. Makanya kita langsung coba apakah at least buat aplikasi-aplikasi dan game yang kami pakai S mainin sehari-hari udah lancar semua. Langsung aja nih kita mulai dengan yang enggak enak enggak enaknya dulu. Valoran sampai detik ini belum bisa jalan karena Vangward anti cheat-nya belum punya driver kernel level untuk sistem arm sampai video ini dibuat. Padahal sebelumnya udah janji mau rilis saat sistem RTX Park masuk pasaran. Meanwhile, EAC bawan Epic Games misal untuk Fortnite udah jalan. Kita sempat coba beberapa game lain yang juga emang udah lumayan lancar, tapi sedikit kecewa soal Forza Horizon 6 yang cenderung ngadet-ngadet meski sebenarnya jalan. Contoh di Cyberpunk juga belum support FSR3 apalagi FSR4 masih stuck di support FSR 2.1. Sepertinya ini masalah driver yang butuh dioptimiz. Terus walau bagaimanapun tapi namanya tablet tipis pasti performanya di limit dibanding laptop sejati macam Pro Art P16 dengan power limit tampaknya ada di sekitar 25 watt. Padahal X2 Elite series ini didesain buat laptop seukuran MacBook Pro 16 inch configurable TDP up to 96 watt. Saat render, suhu permukaan bisa nembus 40 derajat. Fans speed bisa nyampai 8.000-an rpm. Kencang banget tapi karena ukuran kipas kecil sebenarnya masih tergolong senyap. Well, ini barang bukan t ROG ya, yang prioritasnya performa gaming konsisten. Jadi, better kita fokus bahas performa dan kompatibilitas di aplikasi-aplikasi kreatif macam Adobe dan Cinema 4D. Saat jalanin Cinebench 2026 tadi, kami sadar bahwa sampai sekarang Maxon Red Shift belum juga support GPU acceleration di Snapdragon X. Begitu juga di Blender yang terpaksa fallback ke CPU render, makan waktu banyak sehingga belum praktis menggunakan platform ini jika kalian 3D desainer atau animator. Nah, gimana kalau edit foto dan video? Daveincy Resolve, Adobe Lightroom dan Photoshop dari awal jug native ya, jadi no issue. CapC yang awalnya udah aplikasi berbasis ARM juga ngacir pakai banget di mana export real 30 detikan cukup makan waktu 2 detik. Tapi gimana nih Premier Pro? Aduh, ada satu plugin nih yang literally kami pakai tiap ngedit video yaitu animation composer dari Mr. Horse. Tapi ternyata sama sekali enggak bisa di-install meski kita udah coba, termasuk metode mindahin library pluginnya langsung dari laptop X64 Intel. Mungkin kalau kalian ngedit di Premiere Pro gak pakai plugin yang aneh-aneh sih, fine-fine aja ya. Tapi sesimpel kompatibilitas plugin gini bisa jadi deal breaker buat banyak editor. At least GPU acceleration pas export di media encoder udah jalan, tapi kayaknya belum optimal. Masih kalah sama Intel Core Ultra 7 bahkan A18 Pro di MacBook Neo saat export video 4K. Please buat Adobe dan developer-developer plugin jangan lupa buat optimize di Windows 11 Arm. Oh ya, NPU80 tops-nya udah makin ideal buat jalanin LLM atau agent on device dengan power draw minim tanpa melibatkan GPU. Misal Q&B di anything lm via Qualcom QNN. Itu baru NPU ya. GPU-nya actually bisa jalanin LLM kelas 10 sampai 20 B parameter dengan nyaman berkat memori ekstra kencang. Tapi sepertinya untuk masalah itu kita bahas di video berikutnya aja. Jujur untuk usage normal macam bikin PPT, nonton Netflix, browsing, ngedit foto dan lain-lain ini tablet adem-adem aja dan kipasnya juga jalan senyap. But again, untuk hal tersebut tablet Windows atau iPad belasan juta juga bisa. Enggak perlu tablet semahal Pro Art PC. Untungnya masalah daya tahan baterai ini tablet jagonya dengan mudah bisa dipakai 17 jam lebih nonton Netflix alias dua season drama. Cukup dicas pakai charger atau monitor USBC 65 watt manaun dan buat ngedit foto selama sejam baterainya cuma berkurang sekitar 12%. Harusnya kuat dipakai kerja 8 jam lebih unless ngedit video 4K atau game yang tetap ngedrain baterai dalam waktu sekitar 3 jam. Kualitas speaker stereo sejujurnya enggak wah, enggak lebih bagus dari iPad Air atau tablet Windows mid range rata-rata karena belum quad speaker dan cenderung agak mendep di kelasnya. Well, turns out untuk produktivitas berat di luar editing foto dan video seperti animasi dan 3D masih agak sulit untuk merekomendasikan laptop atau tablet berbasis Snapdragon. Meski secara hardware dan teknologi yang dipakai udah sangat rata kanan dan well engineered secara OS dan aplikasi-aplikasi dasar udah semakin dipoles dan minim isue. Tapi meski udah makin banyak app yang ada di optimizel native di Snapdragon X, masih banyak developer yang benar-benar belum menepati janji buat optimiz software-nya untuk Windows on kami rasa Microsoft dan Qualcom harus lebih rajin ngasih insentif buat kaum developer biar experience aplikasi Windows di ARM 64 benar-benar sebagus X86 dalam waktu dekat. Kesimpulannya, Asus Pro Art PG40 ini hardware hebat dengan chip yang on paper sangat powerful. Tapi dari segi pengalaman software dan game, sayangnya belum benar-benar deliver untuk penggunaan SIMless gue pribadi. Itu dulu aja dari kami. Gue Mike. Sampai jumpa di next video.
