Jungkat

Terlalu Di Neo-Neo kan ⁉️- Infinix Xbook 14 Neo (YouTube Video)

  • 25/09/2026

terlalu dineoon-neokan. Itu adalah salah satu komen yang ada di dalam video Advance Air Neo kita kemarin. Dan kenapa sih ada komen seperti itu? Ya mungkin karena Advan Air Neo kan ingin menyerang pasarnya MacBook Neo ya yang harganya itu di R jutaan. Dan walaupun MacBook Neo sekarang harganya udah naik ke R juta, tapi vendor laptop enggak berhentinya untuk nyerang pasar laptop R jutaan lagi. Dan ini adalah Neo ala Infinix yang harganya bahkan mulai dari Rp8 juta. Sebagai laptop 8 sampai R jutaan di 2026, gua harus mengakui kalau desainnya ini cukup cakep. Bodinya brush aluminium beneran dengan ujung-ujung curvy yang enggak kalah mewah dibanding laptop brand TripleA. Dia memang enggak terlalu tipis, tapi bobotnya cuma 1,2 kg jadi masih nyaman buat dibawa ke mana-mana. Hingchnya pun ringan, bisa dibuka pakai satu tangan sampai 180 derajat. Dan layarnya di harga segini kalau beberapa brand cuma bisa ngasih 45% NTSC, dia udah 100% sRGB. Jadi kalau mau dipakai ngedit foto juga masih oke. Keyboard-nya kelihatan semi-semi ODM sih layout-nya ya dengan function button default patch up patch down yang terhubung dengan aeropad tidak ada FM lock sayangnya di sini tapi masih ada backlit dan keyboard-nya ini seharusnya backlitnya itu masih ada juga di SKU Core i3-nya. Dan kalau kalian tidak melihat tombol privacy shutter ini karena tombolnya terletak di bagian samping. Keren juga sih, mirip-mirip sama Lenovo. Nah, touchpad-nya berukuran standar lah ya. Enggak ada yang spesial kecuali di harga segini feelingnya udah enak. Lalu buat portnya ada apa aja sih? Di sebelah kanan ada audio combo jack, USB 3.2 gen 1 type A, USB 2.0, dan cancington lock. Sementara di sebelah kiri ada Full HD my port, USB 3.2 gen one satu lagi, dan type Cit function. Sementara satu lagi ada USBC tapi hanya 2.0 data only. Lalu lanjut ke spesifikasi. Laptop ini tuh punya dua SKU. Review unit kita adalah yang Core i5 135. Ini adalah prosesor tahun 2023 yang memang sudah berumur. Tapi karena ini adalah tahun 2026 di mana komponen baru lagi langk-langkanya ya. Ya udahlah ya. RAM-nya juga hanya 8 gig Sodim yang masih bisa diisi satu slot lagi. Di sini mereka efisiency-nya dengan menggunakan bandwid 266, tapi kalian bisa ganti-ganti sesuka kalian. Ada juga yang lebih murah memakai Core i3 1315U di harga Rp,5 jutaan. Tapi kalau di SKU kali ini kita SSD-nya berkapas 512 gig NVM Gen 4X4. yang SKU Core i3 itu kapasitasnya hanya 256 gig dan kita gak tahu apakah dia NVMe atau Mot2 SATA only. Nah, walaupun prosesornya bisa dibilang ambil yang tahun-tahun lalu, tapi performanya itu enggak terlalu kalah sama yang sekarang. Core i5 135 ini skornya masih bisa bersaing dengan Core Ultra 5 zaman sekarang. Tapi buat IGP-nya karena ini masih Intel Iris Xi dengan 80 CU, kita enggak bisa berharap terlalu banyak dengan performanya. Memang saat kita cek, kemampuan FP32-nya itu mirip-mirip dengan 840 M di 1500-an gigflops. Tapi bukan berarti performa aktualnya sedekat itu. Pas main game pun RAM 8 gig ini ya nyap-nyapan. Makanya kita coba buat upgrade RAM-nya ke 16 gig dan lihat perbedaannya itu seperti apa. Di Cyberpunk kita tes ternyata perbedaan antara 8 dan 16 gig-nya itu tidak terlalu signifikan ke kemungkinan karena bottle neck di IGPU-nya juga. Tapi buat game-game gaca ringan seperti Gensin Impact itu lumayan kelihatan bedanya. Di Gensin itu kita dapat sampai 57 FPS di 16 gig. Sementara 8 gig-nya itu cuma 34 FPS. Dan yang terakhir itu starrail kita dapat 47 fps di 16 gig. Sementara ya 8 gig-nya hanya dapat 32 fps. Ini berarti laptop ini memang kalau mau dipakai main game ringan itu lumayan wajib buat di-upgrade menjadi 16 gig ya. Karena karakteristik dari DDR4 sendiri itu kalau bisa jangan single channel. Dan laptop ini juga jangan dipaksa buat ngedit video di Premiier Pro ya. Walaupun sebenarnya bisa dipakai ng-render video 4K H264, tapi lebih enak untuk ngedit videonya itu di caput aja. Karena laptop ini tidak menonjol di performa, pastinya laptop ini tuh adem banget. Bahkan saat diajak full load aja mentoknya itu hanya di 71 derajat dan stabilnya di 56 derajatan. Sementara bagian keyboard-nya juga enggak terlalu panas. Ini karena prosesornya juga hanya makan daya sekitar 15 watt. Lalu pengalaman pakai laptop ini sih so far oke ya. Dia itu efisien, baterainya masih bisa bertahan cukup lama walaupun dayanya enggak terlalu besar. Dan chargernya pun itu udah type C yang bisa diganti ke adapter yang lebih kecil dari yang diberikan. Suara speakernya sih ya soso. Masih maklum karena ini adalah laptop budget bisa diakalin dengan pakai headphone atau TWS. Dan layarnya ini walaupun dia IPS level tapi glare yang kita lihat ini kerasa sekali ya. Lalu karena Infinix juga bukan brand TripleA di laptop, jadi tidak ada software pengaturan performa atau monitoring-nya tapi kita bisa atur batery mode-nya lewat Windows. Yang kita sayangkan hanyalah USBC-nya. Kenapa? Kalau ada dua dan berderetan, yang satu harus USB 2.0 data only. Padahal bisa aja dibuat full function semua. Buat kualitas kameranya ini lebih ke kayak ya asal ada aja. Sebenarnya resolusinya itu HD, tapi yang bermasalah itu bukan di resolusinya, tapi lebih ke kualitas warnanya. Kalian bisa lihat di sini gua buluk banget dan kelihatan hitem banget. Emang gua hitem, tapi enggak enggak sehitam ini deh kayaknya. Dan ee kalian bisa lihat di sini ee antara plafon sama dinding gua juga nyatu. Jadi ya secara skin tone, secara warna ini kurang oke. Mikrofonnya juga kurang. Tapi ya di harga segini gua udah memakluminya aja lah. Sebenarnya gua cukup ngerti sih kenapa Infinix akhirnya masuk lagi ke ranah laptop tipis dan enteng setelah kemarin itu vakum cukup lama ya. Karena harga laptop sekarang lagi pada naik dan laptop-laptop brand triple A itu udah pada belasan juta semua. Nah, kan yang di bawah R juta ini lagi kosong nih. Infinix ingin masuk terus dia nyerang dengan harga-harganya yang murah itu. Dan King Phoenix ini sebenarnya worth it sih kalau gua lihat ya. Apalagi untuk para siswa yang ingin membeli laptop pertamanya, terutama yang versi i3-nya. karena harganya kalau di marketplace ya lebih murah dari Rp8 juta. Dan untuk kalau kalian ada yang nanya ee versi Wildcatlake-nya gimana ya sebenarnya kemarin tuh ada juga pas launching cuman karena e availability-nya belum ada di Indonesia jadi kita belum tes juga dan SSD-nya itu masih ketahan di 256 gig ya walaupun harusnya nanti masih bisa di-upgrade lagi sih. Dan untuk nama Neo ini sendiri ya sebenarnya kan emang Infinix itu ingin menandingi MacBook Neo yang kemarin ya. Walaupun MacBook Neon sekarang udah naik ke R juta dan itu cuma dapat 256 gig SSD. Tapi ya sebenarnya kita enggak bisa bandingin Apple to Apple banget sih. Keunggulannya dia nih itu ada di yang pertama port. Portnya itu pilihannya lebih banyak. Terus ada HDMI ya intinya lebih fleksibel tanpa harus pakai dongle. Terus juga SSD dan RAM itu lebih bisa di-upgrade. SSD-nya juga kapasitasnya lebih gede dapat 512 kalau di R10,5 juta. Terus juga ada backlit di keyboard-nya. Tapi kalau mau bandingin nih kira-kira lebih nyaman mana, Bang Di antara antara Infinix sama MacBook Neo? Ya, gua enggak bisa bilang juga karena kan ya ekosistem kan udah beda, terus OS-nya juga beda. Dan 8 gig di laptop ini sama 8 gig di MacOS itu juga beda kelancarannya. Jadi enggak bisa terlalu dibanding-bandingin karena tidak apple to Apple. Tapi kalau gua sendiri sebenarnya gua lebih nyaman pakai Windows karena dari dulu udah kebiasaan pakai itu. Gua sempat ganti ke MacBook cuma sebulan, habis itu ganti lagi ke Windows karena memang tidak nyaman. Tapi kalau kalian gimana nih? Mendingan ambil MacBook Neo atau Infinix Xbox 14 Neo ini?

Lihat di YouTube