TEST DRIVE SUZUKI FRONX! APAKAH WORTH IT? (YouTube Video)
Baru meluncur langsung jadi mobilisnya Suzuki di 2025. Ya, ini dia Suzuki Frong ya. Tadinya kan Suzuki paling laris tuh XL7, sekarang Frong jadi yang paling laris. Dan ini sebenarnya pelajaran buat brand-brand Jepang lainnya bahwa ketika mobil ya masuk ke sini ee full spek, enggak ada yang dikurang-kurangin tuh di tengah gempuran mobil Cina ini mobil masih punya taji gitu kan. Dan salah satu kunci kesuksesannya bukan cuma di fitur menurut gua sih. Karena Frongs ini kalau kita lihat dari depan, samping belakang modelnya cakep ya. Bisa dibilang ini adalah Suzuki yang masih dijual sekarang tercakep nomor dua. Karena nomor satunya tetap lebih cakep Jimny sih. Tapi Jimny sama Fr itu dua desain bahasa yang berbeda. Jadi enggak bisa ditabrakin ya. Cuma ini desainnya ganteng ya. Lihat muka depannya ya, lampunya, bumpernya enggak ada yang salah. Dan di sini kita bisa menemukan ada detail-detail lain kayak misalkan nih, tuh di sini ada radarnya dan enggak cuma kamera. Jadi kalau HRV itu dia ada cuma kamera doang. Di sini dia ada kamera dan ada radarnya. Terus ada kamera di depan juga di sini ya buat kamera 360-nya. Kemudian lampunya dia ada tiga biji di sini ya. Yang paling atas ini kalau enggak salah high beam-nya. Yang bawah ini low beam dua biji. Atasnya ini ada DRL dan berfungsi juga sebagai lampu sein. Sisanya ya seperti yang kita lihat seperti desainnya. Dan mobil ini kalau kalian lihat di foto ya itu kesannya gede ya. Tapi pas kita lihat langsung ternyata mobil ini kecil. Bahkan kalau kita cek dimensinya itu sama Woling Bingo yang gua pakai tiap hari sama istri gua itu enggak jauh beda gitu. Panjangnya dia di bawah 4 m 3,99 sekian. Terus lebarnya itu juga cuma 1,7 man wheel base-nya sama Bigo pun juga kalah. Tapi bagus karena kenapa? Gua ngelihat mobil sekarang itu gede-gede semua dan ketika masuk ke mobil kecil pilihannya tuh cuma LCGC doang dan ya you know lah LCGC seperti apa. Nah, sekarang ada mobil yang dimensinya kecil tapi speknya lengkap. Jadi enggak perlu ngambil mobil yang besar dimensinya untuk mendapatkan speknya lengkap. Ya, mungkin teman-teman ada yang rumahnya sempit gitu ya. Nah, ini cocok nih sama mobil kayak ginian. Dan biasanya mobil-mobil kecil ya yang dimensinya terbatas dimaksimalin dibikin kotak biar dalamnya lega. Tapi mobil ini enggak. Jadi mobil ini kalau kita lihat belakangnya tuh dibikin landai, dibikin ala-ala kupe. Jadi keren. Jadi Suzuki dia cukup idealis ya. Dia mementingkan desain dibandingkan dengan membesarkan interior. Dan salah satu kenapa mobil ini kelihatan gede di foto karena dia punya peleg itu yang enggak gede. Dia cuma 16 inci pakai ban goodar ukuran 195 60 R15. Terus juga kalau kita lihat liner dalamnya ya tuh dikasih plastik rapi, enggak dibikinin tembus body gitu. Biasanya kan beberapa mobil di kurang-kuranginlah kasih lihat bodinya aja gitu. Ini dikasih plastik rapi sampai ke belakang. Di sini ada kaca kecil kemudian naik ke belakang. Dia ada dua pilihan ya. Ada yang eh two tone color, ada yang biasa. Ini kebetulan dapat yang twoon dan kita pinjam mobil ini dari Suzuki Jogja yang ada di Jalan Adisucipto. Jadi, buat teman-teman yang pengen beli mobil Suzuki daerah sana ya, daerah Jogja bisa langsung ke sana aja. Nah, bentuk belakangnya juga sama, keren. Apalagi kalau dilihatnya high level. Kalau dilihatnya pas kita duduk dia bawahnya tuh agak sedikit cungkring ya. Tapi pas kita lihat di atas sini itu oke. Nah, untuk yang tipe SGX ini dia dapat tambahan di bagian bawah sini sama lampunya itu dia panjang sampai ke samping dan ada garis tiganya sama seperti lampu depannya. Bentuk belakangnya gua suka ya. Kelihatan kayak mobil yang lebih mahal. Nah, terus bagasinya seperti yang gua bilang karena dia enggak terlalu besar dimensinya bagasi belakangnya ya cuma segini aja cukup dalam makanya kelihatan gede. Tapi bagian atas sini enggak bisa diisi apa-apa. Dan kita dapat separator di bagian sini ya buat naruh barang. Nah, sama ini mobil kalau kita buka bagian bawahnya kita masih dapat ban serep dan ban serpnya ukurannya full size. Jadi sama seperti pelek-pelek yang dipakai sekarang gitu. Kalau misalkan kita ganti ya enggak ngurangin performa gitu kan. Beberapa mobil kan ee dia pakai e yang space saver ya temporary. Jadi pas diganti ban serep kecepatannya enggak bisa sama kayak pas biasa. Nah, ini masih sama meskipun pelegnya belum pakai peleg yang sama. Dia masih pakai pelek kaleng. Nah, di bagian sampingnya sini dia ada tempat buat naruh dongkrak. Sebelah sininya ada extra space dikit sama ada lampunya. Jadi, seperti yang gua bilang, Suzuki enggak ngurang-ngurangin. Sekarang kita masuk ke dalam interiornya. Nah, sebelum videonya kita lanjutkan, kita mau kasih informasi dulu nih kalau kita sekarang lagi ada di Laos di mana kita lagi melakukan perjalanan 1 million journey back to China. kita akan ke Cina sampai akhirnya Shanghai, mobil kita bawa balik dan ini mobil dari Indonesia. Nah, untuk menemani perjalanan kita, kita menggunakan tools-tools dari mesin HL untuk memudahkan ketika terjadi emergency. Kayak misalkan nih, ada cordless Impact Rench di mana ini bisa kepakai kalau kita mau buka kunci-kunci termasuk ban secara mudah. Dan kita punya hand tools yang super lengkap dari mesin AL plus dengan racetnya ya, di mana dia punya garansi Slack ganti baru. Kemudian untuk obeng plus dan obeng minus serta kita punya racet yang bisa ngebantu kita waktu ngenceng-encengin baut pakai obeng plus ya. Dan ini bisa dipilih mau putar kiri atau ke kanan dan bisa di ah tekuk seperti ini. Jadi dia bisa dipakai dengan berbagai macam gaya. Dan yang terakhir kita juga punya tay repair kit. Jadi meskipun kita sudah punya ban serep tetap kita punya tay repair kit. Jadi kalau misalkan ban kita bocor di tengah jalan kena paku atau semacamnya kita tinggal pompa dan bisa langsung tambal dengan cara ini secara otomatis. Jadi kurang lebih itulah hand tools dan power tools yang kita bawa selama perjalanan 1 million Journey back to China. Kita gunakan mesin HL karena dia sudah terpecah sejak lama. Ada garansi slack ganti baru dan service centernya ada di mana saja. Sekarang kita kembali lagi ke videonya. Ini dia kabin belakang Suzuki Frongs. Tapi sebaiknya kita nyalain dulu kali ya, panas. Bentar. Oke, sekarang kita masuk ke dalam interiornya. Dan seperti yang kita lihat ya, karena dimensi luarnya itu kompak, tentu saja dimensi interiornya juga terbatas ya. Kayak misalkan 3 170 cm kepala kalau kita set dari benar-benar nyender itu kepala mentok. Jadi kalau kita mau duduk itu harus begini ya biar enggak mentok. Tapi kalau kalian tingginya kurang dari 170 itu aman. 177 pasti enggak aman. Leg room ada lumayan banyak ya dan kursinya ini agak sedikit tegak enggak bisa dibikin mundurin lagi. Nah, di tengah sini kita enggak dapat armres. Seat belt ada tiga ya, head-nya ada tiga juga. Sama yang gua suka adalah nih dapat AC di bagian belakang. Jadi penumpang belakang kalau kita punya ee teman di belakang atau ada anak kita di belakang, dia tetap dapat AC. Meskipun AC-nya itu kalau kita naikin atas bawahnya kiri kanan itu gabung ya. Tapi bagian ininya arah sumburan kiri kanannya masih bisa dipisah. Di bawahnya ada USB. Ini yang sebelah kanan USBC, yang sebelah kiri USBA, sama ada tempat buat naruh HP-nya di bagian sini. Yang sebelah kanan itu enggak ada tempat buat naruh barang. Yang sebelah kirinya ada. Door trim-nya full plastik. Bagian sini kulit-kulitan ya. Sama dia belum pakai all auto. Yang auto cuma depan kanan aja. Sama nih gua suka nih ada piano blacknya di bagian sini. Nah, di sini juga ada tempat cup holder sama buat naruh barang walaupun enggak begitu besar. Nah, yang lucu adalah di bagian kolongnya sini kita bisa masukin kaki ya, tapi yang sebelah kiri dia ada baterai hybridnya jadi enggak bisa. Nah, tapi di tengah-tengahnya ada apar ya, jadi enggak bisa masukin full. Nah, kulitnya sendiri ni mobil ya bagian sininya itu kulit, tengahnya itu masih kain ya. Jadi bagus sih sebenarnya karena kulit sintetis ya kalau bukan microfiber itu tuh bikin ee punggung kita panas. Nah, tapi kalau dikasih fabrik bagian tengahnya harusnya punggung kita enggak panas. Dan dia juga punya ISOFIX di bagian sini. Terus juga bagian plafonnya dia pakai warna putih biar dalamnya terasa cerah. Yuk, sekarang kita ke bagian depan. Oke, sekarang kita masuk ke dalam interiornya. Dan desain dalamnya ini sama persis kayak baleno ya, cuma beda bagian warna dan perintilannya aja. Karena memang mobil ini sebenarnya adalah baleno yang dibuat lebih tinggi, dibikin crossover. Makanya setirnya, speedometer, head unit, dan kawan-kawan itu semuanya baleno banget. Tapi bedanya itu di bagian warna-warnanya sini ya. Terus juga bagian joknya dibedain juga. Dan bagusnya adalah features-nya banyak seperti baleno dan kalau baleno itu impor dari India, ini buatan Indonesia di rakit lokal. Cintailah produk-produk Indonesia ya kan. Nah, kalau kita lihat interiornya juga tombolnya banyak sekali ya. Jadi di sebelah kanan sini ini kelihatannya Messi ya, kelihatannya rameai banget, banyak tombol. Tapi baguslah daripada ditaruh di dalam head unit gitu kan, dia tetap ada tombol-tombolnya. Buat head up display ada di sini ya, termasuk kalau kita mau ganti tampilan head up display-nya ya. Terus di bawahnya ada buat ngatur adas kayak misalkan lineartour warning-nya ada. Terus front collision warning-nya bisa di-off dari sini ada stability control dan sebelah kanannya ada kamera 360. Jadi dia tuh kamera white-nya enggak terlalu white ya. Tapi ini udah lebih dari cukup dan bagusnya dia ada karena banyak mobil di kelas ini dia enggak punya kamera 360. Kita pencet di sini. Nah, bisa ngelihat kiri kanannya dari depan ya. Diputar. Kecerahannya bisa diatur di sini ya. Tuh. Nah, mau dibikin seperti ini seperti ini ya. Terus ini juga bisa di guidline display-nya bisa dinyalain apa enggak. Front view-nya bisa diatur, rear view-nya bisa diatur, dan di sini ada opening 3D display-nya bisa di-on atau off. Kalau gua sukanya di off ya. Jadi pas kita nyalain nanti dia akan muter 360 dulu. Nah, kurang lebih kayak ginilah. Dia tuh lucu ya, bulat ya, enggak dibikin semuanya full gitu. Head unitnya sendiri dia sih sama kayak Baleno, dia integrated sama si mobilnya. Meskipun enggak kelihatan integrated ya. Pas kita ngelihatin vehicle infonya baru kita tahu dia bisa ngelihatin average speed, fuel economic, energy flow, wireless charger. Energy flow bisa ngelihatin dari hybrid-nya. Terus di sini unlock, door lock, buzer, lane change winker. yang cuman 3 detik itu kali. Oh, coba ya. Oh, iya benar. Kalau kita nyalain ditekan sekali, enggak usah sampai jeglek, dia bisa tiga kali nyala. Oke, ini ada vehicle alert warning. Oke, alert notification. Ya udah sih, jadi vicle infonya cuma nyambung di bagian itu aja. Sisanya dia head unitnya bisa Android Auto, Apple CarPlay, tapi masih pakai colokan, belum pakai wireless. Dan kualitas suaranya dengan en buah speaker menurut gua suaranya eh tambahin DSP sih biar lebih enak. Kalau enggak ada DSP-nya dia agak sedikit mendem ya. Nah, AC-nya tombolnya ada banyak. Bagus semuanya ada ya. Kan zaman sekarang banyakan di touch screen ya. Ketemu yang masih tombol-tombol gini itu bagus banget. Sebenarnya enggak apa-apa Touch screen tapi dikasihlah shortcut-shortcutnya gitu. Di bagian bawah sini ada wir charger khusus buat yang tipe SGX. Di bawahnya lagi ada cup holder. Tapi cup holdernya enggak kayak R3 yang bisa ada AC-nya. Nah, tuas transmisinya seperti Suzuki yang lainnya belum pakai elektronic parking brake. Terus untuk tengahnya ada tempat penyimpanan kecil sekali ya. Tapi gue yang gua suka tuh bisa dimajuin jadi bisa jadi amres. Nah, di sebelah kiri ada tempat penyimpanan ya. Enggak terlalu gede tapi okelah. Dan di bagian bawah sini nah ada baterai yang gua bilang tadi dicover sama plastik. Sebenarnya baterai hybridnya ini dia itu ukurannya kecil sekali tapi sudah pakai litium ion ya. Dan baterainya ini 48 volt sebenarnya. Jadi eh enggak jauh beda sama aki 12 volt kan. Fungsinya apa? Buat sistem hybridnya di mana sebaiknya kalau kalian beli Suzuki Frong pas baru masuk mobil di sini ada tombol auto start stop. Dipencet aja buat matiin auto start stop-nya atau hybrid-nya. Karena kurang begitu enak ya. Eh masih terasa ketika mati dan nyala itu masih berasa gitu. Nah, atas gak ada sunroof tapi kita dapat lampu ya. Dapat lampu juga di bagian sini individual ini. Kita buka sunfisernya. Enggak ada kacanya. Di sebelah kiri dia ada kaca tapi enggak ada tutup dan enggak ada lampunya. Oke, sebelah kanan buat ngatur spion juga masih ada ya. Dan setirnya tombol-tombolnya banyak ya. Ini setirnya tuh jadinya terasa mahal dibandingkan dengan Suzuki-Suzuki yang lain gitu. Pedle shifter ada ya. Tombol buat info ada di sini. Dan ini sebenarnya top info itu ada dua loh, ada di sini sama yang di bagian speedometer nih. Ada juga. Dan kalau misalkan kita nyalain lampu, dia bisa diputar kiri kanan buat ngatur brightness. Sebelah kiri untuk ngatur odometer sama trip A trip B. Nah, ada cruise control-nya ya. Dan cruise controlnya sudah pakai adaptive cruise control. Nice. Di sini buat catur jarak dan di bagian bawah sini buat nyalain l keeping assist-nya ditekan ke atas tek gitu didorong. Nah, yang sebelah kiri untuk telepon ya dan di sebelah kanan kita dapat lampu juga sudah auto. Nah, jadi mobil ini enggak dikurang-kurangin, semuanya lengkap. Dan kalau dulu tuh Suzuki tuh enggak ada adasnya. Nih buktinya Suzuki Frongs bisa punya Adas. Oke, kita mau jalan-jalan dulu. Jadi, habis makan turunin dulu kursinya. Kursi yang sebelah kanannya bisa diatur ketinggiannya, tapi masih manual. Yang sebelah kiri enggak bisa diatur ketinggiannya. Cuma bisa seling sama declining doang. Terus setirnya dia sudah ada tilt dan telescopicnya bagus tidak dikurang-kurangin ya. Masuk ke D bawah lagi bisa jadi M. Kalau jadi M dia jadi manual. Kalau di D kita pencet padle shift juga bisa langsung otomatis jadi manual. Mau matiin manualnya tinggal pencet yang plus ini lama nanti dia akan otomatis kembali ke D ya. Ya. Atau kita dari M kita ke Din lagi aja. Turunin rem tangan. Majuin dikit. Posisiuknya buat gua sih pas ya. Enak kok. Kita gas dikit ya. Dia ini kan Suzuki ini pakai mesin K15C dengan malt hybrid ya. Di mana mal hybridnya kalau menurut gua sih enggak terlalu berasa ya, bahkan lebih ke arah gimik ya. Jadi ee gua kemarin sempat nanya ke orang Suzuki, bisa enggak sih kalau misalkan mesin hybrid-nya ini baterai kita copot, kita matiin gitu? Enggak bisa. Kenapa? Karena eh si alternator sama dinamo starter itu jadi satu. Dan ketika dia dicopot akinya, dia enggak bisa starter karena si dinamo starternya itu dia bekerja di 48 volt bukan 12 volt. Jadi enggak bisa digantiin sama aki biasa. Aki biasanya itu buat perintilan-printilan kayak misalkan kunci keynya ya, buat instrumen-instrumen lampu dan kawan-kawan dia pakai 12 volt-nya. Jadi tetap kita harus pakai si eh baterai 48 volt-nya ini. Nah, sebenarnya ya awalnya gue memang kurang begitu suka sama si malt hybrid-nya ini. Kenapa? Karena gampang mati-mati gitu ya. Tapi untungnya bisa dimatiin. Dan kabar baiknya lagi adalah jadi salah satu kenapa harga mobil ini bisa jadi terjangkau ya dibandingkan dengan kompetitornya karena Suzuki dengan hybridnya ini dapat keringanan pajak PPnBM-nya. Jadi, PPNBM-nya kalau enggak salah dia cuma 7% apa 5% gitu gua lupa. Eh, correctly fine wrong ya. Jadi ketika beli baru PPNBM-nya itu dia lebih kecil dibandingkan dengan mobil biasa. Di mana kalau mobil biasa yang bukan hybrid itu 15% kena PPNBM-nya. Yang ini bisa hampir setengahnya. Jadi lumayan kan. Cuma PPNBM ini enggak berpengaruh ke pajak tahunannya. Jadi kalau misalkan pajak tahunan itu namanya PKB, pajak kendaraan bermotor itu sekitar 2% dari NJKB. Nah, karena PPNBM itu dikenakannya pas pertama kali kita beli mobil, jadi enggak berpengaruh ya. Kurang lebih seperti itu. Nah, kemudian gimana soal rasa berkendaranya? Kita ngomong suspensinya dulu ya. Untungnya suspensi Fruka sih. Dia empuk, pas empuknya dan ketika dibawa kencang itu juga enggak terlalu lari-lari gitu. Jadi pas ini rasanya kayak kita bawa XL7 atau R3 gitu. Itu sesuatu yang gua ekspektasikan waktu gua pertama kali nyobain Ignis. Gua pikir Ignis tuh bakal rasa suspensi kak-kakinya kayak R3. Ternyata enggak. Ternyata keras. Enggak enak. Yang ini enak pas gitu. Bahkan dibandingkan dengan Grand Vitara gua lebih suka suspensinya ini ya. Dia masih ada kaku-kakunya ya. Tapi buat gua malah lebih pas gitu. Karena suspensi itu keempukan enggak bagus, terlalu kaku juga enggak bagus. Nah, ini tuh bisa pas. Gua suka cuningannya bagus dan handlingnya pun juga oke. Bukan yang wah seperti kita bawa sebuah Honda ya. Kalau kita bawa Honda City HP kan jelas beda rasanya ya. Ini masih kategori yang baguslah. Terasa seperti mobil Jepang yang fan tuning-nya udah bagus. Di pakai kecepatan tinggi juga setirnya terasa stabil. Memang kalau misalkan kita begini nih ya dia enggak ngurusin otomatisnya tuh agak sedikit lemot tuh. Nah tapi udahlah itu cuma segitu aja komplainnya. Sisanya buat dipakai ya, posisi duduknya, handling-nya, bantingan suspensinya ini well tune ya. Gua suka dan enggak ada komplin. Sekarang gimana soal performance dari mobil ini? Buat gua performance dari mobil ini kecukupan aja sih, cuma dibandingkan dengan di XL7 atau di Grand Vitara karena dia bodinya lebih kecil, peleknya juga 16 inci gitu ya. Jadi terasa lebih bertenaga dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Nah, ini kita mau masuk tol. Eh, mana tadi, Viv? Eh, tolnya suspensinya menurutku masih oke loh. Ini deng deng d d deng deng. Empuknya masih berasa cuma memang agak sedikit lompat dikit ya. Kita gas. [Musik] Eh, naik sendiri ya. Enggak usah pencet pedle shifter ya. Udah kita manualin padahal 100 tuh. Jadi dia tuh lemahnya di putaran bawah sih. Jadi waktu kita gas di awal gitu ya, dia tuh kayak bensinnya dicekek dulu dikit biar lebih irit. Makanya pas kita gas gitu kayak hmm pas sudah di atas 3.000 4.000 itu baru enak, baru berasa tenaganya. Dan karena putaran bawahnya itu dia ee agak kurang, makanya pas kita masuk ke D biasa aja ini ya. Misalkan kita lagi di belakang kosong ya, misalkan kita lagi di kecepatan 40 terus kita mau gas sedikit mau nyusul dia tuh langsung ngambil turun gigi masuk ke e gigi rendah ngong gitu. Padahal kalau dia bertenaga kita gas dikit harusnya dia langsung maju aja gitu. Enggak perlu turun gigi yang sampai segitunya. Tapi okelah yang penting dia cukup responsif. Transmisinya oke tapi enggak sehalus itu gitu. Gua pikir ketika jadi en percepatan ee AT konvensional dia harusnya halus kan, tapi ternyata enggak sehalus itu gitu. Bahkan dibandingkan dengan dua clutch yang zaman sekarang itu lebih halus dual clutch ya. Kita gas lagi ngeng. Suara mesinnya enak sih. Jadi pas kita ngegas gitu, suara mesinnya tuh masih natural gitu ya, bukan yang turbo-turboan ya. Kalau misalkan kalian berharap, "Wah, ini pasti bakalan kayak hybrid yang bawahnya bakal bertenaga karena ada motor listriknya." Enggak. Eh, hybridnya enggak begitu rasa ya. Hybridnya lebih kayak buat gimmik buat biar dapat pajak murah sih kalau menurut gua, bukan buat performance. Tapi gak apa-apa, gua harap yang lainnya juga ikut sama nerapin hybrid, mild hybrid di mobil-mobil sekelas ini. Sehingga harga jualnya bisa dipangkas, bisa lebih murah, bisa lebih terjangkau, dan mobil kayak gitu lebih aksesibel gitu kan. Sayang gitu beda 6% 7% buat pajak gitu kita bayar kan mendingan dikasih m hybrid kayak gini gitu ya. Sekarang kita cobain adasnya eh landing assist nyalain. Jadi landarter warning dari sini, landing assist dia dari sini. Udah kita nyalain jalan sekarang di 97 kita tambahin di 100 ya. Tetap harus dipegang setirnya. Eh, lumayan oke loh. Oke loh, bagus loh. Coba kita agak kencang dikit terus nanti cari mobil depannya bagaimana dia bereaksi dengan pengeremannya ya. Atau kita kita rem dulu. Kita rem ya. Nah, akselerasinya gimana? Halus enggak dia? Oh, halus. Halus. Ada berapa mobil yang pakai control kita ketika kita mau nambah kecepatan nambahnya tuh kayak w gitu loh. Ini halus tuh. Dan gua enggak sabar sih ADAS ini bakal muncul di R3 sama XR7 ya. Oh, perfecto. Itu enak loh adaasnya loh. Cakep. Cuma kita enggak nyobain ngremnya gimana halus apa enggak nih soalnya depannya enggak ketemu. Ada lawan ya. Dan gimana soal konsumsi bahan bakarnya? Nah, seperti yang gua bilang di e video gua waktu ngebahas XL7 kalau enggak salah ya, Suzuki XL7 R3 itu mesinnya dari standarnya sudah irit tanpa harus tambah hybrid-hybrid. Nah, begitu pula di mobil ini tentunya dia irit. Kalau kita jalan cuma 80, 100 gitu ya, jarak jauh itu buat dapatin 118 119 itu enggak sulit ya. Eh, rasio transmisinya emang dibikin mobil ini bisa di RPM yang super rendah gitu. Nah, terus juga karena dia mat hybrid bukan hybrid beneran ketika dipakai macetan itu langsung dropnya agak lumayan ya. Kalau mobil Habir kan macet-macet masih bisa 115 116. Nah, kalau ini tetap mau dipakai macet-macetan dapatnya masih 1112-an lah ya. Kalau kombinasi sama luar kota mungkin di midnya sekitar 114 kayak gini gitu ya. Jadi ee kalau mobil zaman sekarang gitu ya, kalau dipakai di tol konstan, wah itu bisa irit banget tuh. sama kayak hybrid iritnya dan hybrid bisa lebih irit lagi. Tapi ketika dipakai kemacetan, di situlah baru yang real hybrid tuh baru kerasa performance-nya. Dan hybrid itu enggak cuma nambah irit tapi juga nambah performa terutama di putaran bawah. Tapi okelah maksudnya gua enggak nganggap ini mobil hybrid ya, tapi di luar dari hybridnya ini mobil yang irit ya. Tenaga putaran atasnya enak ya, suara mesinnya juga enak. Transmisinya pun juga oke. Dan buat harga segini ini mobil gua enggak banyak komplain ya. Nah, peredaman kabitnya menurut gua ini cukup kedap loh. Jadi suara kolongnya memang masih berasa ya, tapi dibandingkan dengan sekelasnya dengan WRV atau Ryze ini masih lebih kedap. Justru malah suara anginnya yang lebih berasa dibandingkan dengan suara kolongnya. antara balapan lah. Mungkin kalau misalkan anginnya enggak terlalu kencang gitu ya, e dia enggak seberisik itu. Cuma oke loh perdaman kabinnya untuk di kelas ini ya. Kalau dibandingkan dengan Raize atau WRV, gua sih lebih pilih Frongs ya. Dipakainya enak ya. Dipakai drivernya juga oke banget. Memang kalau kita ngomongin performance ee mesinnya Honda sama mesinnya Ryze yang 1000 turbo itu lebih enak. Tapi dengan handling-nya, suspensinya, eh kelengkapannya dan kawan-kawannya ini the best. Nah, nambah kan jadi 15,8 kan bensinnya nyala lagi. Nah, terus ini mobil ya dia tuh punya head up display ini udah kita pentokin paling atas cuma menurut gua head up display-nya masih agak terlalu ke bawah ya. Nah, terus sama pilar A-nya dari sini sampai ke sini itu rasanya tebal sih. Jadi, blind spot-nya agak lumayan. Sisanya enggak ada problem. Untungnya juga si spionnya tuh ditarik ke belakang ditaruhnya di tangkai body bukan dit taruh di pilar A. Kalau ditaruh di pilar A dia makin nutupin. Ini okelah. Sama beberapa kali kita coba waktu nyalain audionya tuh ya. Enggak tahu Bluetoothnya tuh kadang-kadang suka kayak keputus-keputus gitu ya. Kayak pakai ee TWS murah kata lu, Viif. Ya udah sih itu aja sih. Tapi itu kan hal yang minor-minor ya. Fual ekonominya nambah jadi 16,2 km/l. Memang kalau di tol mobil Suzuki itu bisa iritnya tuh pol gitu. Kayak sama Hyundai juga sama tuh ketika di tol bawa 80 100 itu konsumsi bahan bakar tuh bisa wis. Jadi super irit enggak perlu hybrid-habitan ya. Jadi itulah Suzuki Frongg yang udah kita cobain ya. Buat teman-teman yang udah beli Suzuki Frongs, coba komen di bawah seperti apa rasanya dan bagaimana memeliharanya ya. Tapi gua senang banget akhirnya Suzuki bisa menghasilkan memberikan sesuatu yang full spek gitu. Jangan dikurang-kurangin. Dan kalau misalkan kalian enggak butuh-butuh amat lengkapan yang gua sebutin tadi, kalian bisa ambil yang tipe di bawahnya. Ini kan yang SX, ada yang GX dan ada yang GL gitu ya. Tapi overall ee di luar dari kelengkapannya, dipakainya gua suka. Enak ini mobil. Teranif. Sampai jumpa di video berikutnya. Jangan lupa untuk like dan subscribe. Makin panas aja ini hari ya. Sampai jumpa di vlog berikutnya. Bye- bye.
