Tetap Terjangkau dengan CPU Lebih Kencang: Review Axioo Pongo 760 V2 (YouTube Video)
Ya, ini versi upgrade laptop gaming RTX 4060 paling terjangkau dari Axio. Laptop gaming ini adalah Axio Pongo 760 V2. Prosesornya sudah pakai Intel Core Gen 13 bukan Gen 12 lagi. Jadi, performanya lebih kekinian dan lebih kencang. Konektivitasnya juga di-upgrade ke WiFi 6ei atau 6E, bukan WiFi 6 lagi. Untuk RAM langsung 16 GB dual channel, jadi langsung siap pakai, langsung kencang, dan tentunya masih bisa di-upgrade. Bisa pasang 2 SSD juga. Jadi kapasitasnya bisa dibuat besar sekali. Layar IPS 144 Hz 100% S RGB juga masih ada di sini. Jadi siap untuk editing atau main game kompetitif. Harganya tenang. Yang satu ini masih tetap terjangkau seperti versi pertamanya dip jutaan. Ya, Axio Pongo 760 versi pertama memang menjadi pilihan yang menarik ya saat itu ya karena menawarkan performa yang kencang dengan RTX 4060 tapi harganya masih relatif terjangkau. Nah, pertanyaannya apakah Pongo 760 V2 ini tetap menarik juga? Nah, kita langsung mulai pembahasannya dari spesifikasi utamanya. Untuk pressor dia pakai Intel Core i7 13620H. Fabrikasinya Intel 7. Base power-nya 45 wat. Dia punya 10 core 16 thread yang terdiri dari 6 performance core dan 4 efficient core. Intel smart case-nya lumayan besar di 24 MB. Integrated graphisnya pakai Intel UHD graphics dengan 64 execution unit. Untuk memori atau RAM-nya pakai 16 GB DDR 4 3200 MHz langsung dual channel. Laptop game ini juga menggunakan RAM SODIM ya. Jadi kita masih bisa upgrade kalau terasa kurang besar. Menurut Akio maksimumnya itu kita bisa upgrade sampai 64 GB. Untuk storage dia pakai 512 GB SSD M2.2 NVMA PCI Gen 4x4. Disedakan juga slot M.2 kedua untuk SSD PCI Gen 3. Jadi bisa lebih mudah kalau kita mau upgrade. Menurut Asio masing-masing slot itu mendukung kapasitas SSD hingga 2 TB. Jadi kita bisa pasang sampai 4 TB di sini. Untuk disk graphics dia pakai Nvida GeForce RTX 4060 laptop GPU dengan VAM 8 GB GDDR6. Nilai maksimum GP-nya adalah 100 watt. Jadi masih sesuai dengan standar Nvidia. Sementara untuk kemampuan EI-nya ini bisa mencapai 233 tops dan juga sudah mendukung fitur tertentu dari DLSS 4. Untukas konctivity-nya dia menggunakan modul Intel yang sudah support WiFi 6i Gabit WiFi dan juga Bluetooth versi 5.3. Kapasitas baterainya ada di 54 wath. Untuk OS dia pakai Windows 11 Pro. Nah, kalau untuk body ya form factornya adalah clamp Shell atau laptop klasik ya. Materialnya itu metal untuk punggung layar dan polikarbonat untuk bagian body lainnya. Untuk warna itu abu-abu untuk punggung layar dan area sekitar tombol keyboard. Lalu hitam untuk bingkai layar dan penutup bawah laptop. Untuk desain Pongo 760 V2 ini tampaknya masih menggunakan sasis body yang sama seperti versi pertama. Jadi penampilannya nyaris enggak ada beda. Kalaupun ada perbedaannya hanya kami temukan pada logo Pongo di punggung layar yang kini warnanya hitam. Jadi lebih elegan aja secara keseluruhan. Penampilan tetap keren dan ornamen gamingnya jadi minim. Nah, untuk dimensinya panjang 35,9 cm, lebar 23,8 cm, dan ketebalan di 2,39 cm. Untuk bobotnya laptopnya aja di 2,13 kg. Chargernya 490 gr. Ini adalah charger 180 wat ya. Total bobot kalau di bawah-bawa masih di 2,62 kg. Untuk display ini adalah layar berukuran 15,6 inci. Resolusinya 1920 * 1080 piksel dengan refresh 144 Hz. Panelnya adalah panel IPS. Nah, menurut Axio tingkat kelar gambutnya ada di 100% sRGB. Kalau kami ukur tingkat kecerahan maksimumnya itu ada di 293 NIS dalam ruangan. Lalu untuk gamut covers-nya ada di 94% sRGB dengan gamut volume 102,2% sRGB. Jadi buat editing harusnya udah mantap ya karena akurasi warnanya udah tergolong baik dan ya gamut warnanya juga sudah cukup luas. Pastinya mantap juga buat main game triple A maupun game kompetitif. Untuk permukaan layar ini punya sifat yang non glare ya, jadi meminimalkan pantulan-pantulan bayangan sekitarnya yang dapat mengganggu kenyamanan pemakaian. Bingkai layar juga sudah menggunakan desain yang tipis untuk sisi kanan dan kirinya. Nah, laptop gaming ini dilengkapi dengan kamera 1080p 30 fps, bukan 720p seperti di Pongo 760 versi pertama. Kamera ini memang belum mendukung fitur Windows Studio Effect, tapi kalau kita instal aplikasi Nvidia Broadcast, kamera ini jadi punya fitur yang mirip seperti background blur, eye contact, atau auto framing. Nah, untuk modul mikrofonnya ini ada dua buah yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri kamera. Dibandingkan dengan kamera di Pongo 760 versi pertama, kamera di laptop gaming yang satu ini jauh lebih baik kualitasnya. Detail muka kami bisa ditangkap dengan cukup jelas dan warna kulit terlihat natural di sini. Mikrofon di laptop gaming ini juga bisa menangkap suara kami dengan jelas. Tapi sayangnya saat fitur noise diaktifkan, suara kami mengalami distorsi. Walaupun memang suara bising kipas laptop di kecepatan maksimum itu bisa dihilangkan. Nah, kita bisa matikan fitur noise reduction di aplikasi Soundblaster Studio kalau mau suara kita terdengar lebih natural. Ya, jadi seperti inilah kemampuan kamera dan mikrofon laptop Axio Pongo yang satu ini. Jadi gimana nih kualitasnya oke atau enggak ya? Nah, jadi seperti inilah kemampuan noise cancellation laptop Axio Pongo yang satu ini. Jadi, gimana nih suara kipas di kecepatan 100%-nya masih masuk ke mikrofon atau enggak? Oke, laptop ini dilengkapi dengan dua buah speaker dengan lubang keluaran suara menghadap ke bawah. Kita dapat mengatur profil suara dan equalizer di aplikasi Soundblaster Studio. Di kelas harganya, speakernya ini bisa dibilang lantang suaranya. Sementara untuk kualitasnya udah lumayan oke sih. Untuk konektor di sebelah kiri ada 1 USB 3.2 gen 1 USB 2.0, ada 135 mm mikrofone jack, ada 1 3,5 mm audio combo jack. Lalu di sebelah kanan ada satu micr SD card reader, ada satu USB 3.2 Gen 2 yang type C, dan ada 1 GB Ethernet. Di sisi belakang ada satu USB 3.2 Gent 2 type C, 1 HDMI, 1 mini display port, dan 1 DC in. Untuk keyboard sebenarnya gak ada yang baru atau istimewa di sini karena desain dan tata letak tombolnya masih mirip seperti Pongo 760 versi pertama. Saat kami coba, tombol keyboard terasa empuk dan solid saat ditekan dengan feedback yang terasa cepat. Tombol-tombol juga tidak menimbulkan bunyi-bunyi yang mengganggu saat digunakan. Untuk backlit, keyboard ini dilengkapi dengan lampu RGB satu zona warna dengan empat tingkat kecerahan dan 15 pilihan warna. Kita bisa mengatur warna dan kecerahannya melalui aplikasi control center. Kita juga bisa mengatur tingkat kecerahan atau mematikan backlit dengan tombol di area 6 pad. Nah, untuk area touchpad ini ukurannya 12 * 7,3 cm dengan posisi yang memang tidak sejajar dengan tombol space bar. Untungnya hanya sedikit bagian telapak tangan yang masuk ke area touchpad saat kita sedang mengetik. Jadi tidak terlalu mengganggu kenyamanan saat mengetik. Nah, saat dicoba jari kami itu masih dapat bergerak dengan lancar ya, dengan mulus di atas permukaan touchpad. Walaupun ini hanya menggunakan bahan plastik saja. Sementara untuk klik kiri dan klik kanannya terasa sedikit berat saat ditekan. Oke, untuk cooling systemnya laptop ini menggunakan sistem pendingin dengan lima buah heat pipe dan dua buah kipas. Untuk lubang pembuangan udara panasnya ada empat titik. Satu ke kanan, satu ke kiri, dan dua ke arah belakang. Sekarang kita masuk ke aspek performa. Profil performa yang disediakan adalah performance entertainment. Nah, ini mode default-nya ya, quiet dan power saving. Disakan juga opsi pengaturan kecepatan kipas dengan pilihan automatick, maksimum dan custom. Perlu diperhatikan, kami akan menggunakan kecepatan kipas maksimum untuk seluruh pengujian kali ini. Oh ya, sebelum masuk ke pengujian yang biasa, kita lihat dulu beda performa prosesor Pongo 760 versi pertama dan versi kedua dengan CBZ R15. Kami menggunakan CB R15 karena pengujian Pongo 760 versi pertama pakai benchmark yang itu ya. kita bukan pakai R23 pada saat itu. Oke, kita lihat untuk yang di versi awal kita mendapatkan 2.267 poin. Sementara untuk yang baru ini kita mendapatkan di 2.463 poin. Jadi terlihat ya prosesor di Pongo 760 versi kedua ini lebih kencang sekitar 8,6% dibandingkan versi pertama. Sekarang kita lanjut ke pengujian Sab R23. Diabilitas selama setengah jam, skor tertinggi yang dicapai adalah 12.814 poin di mode entertainment dan 15.763 poin di mode performance. Sementara skor yang dapat dipertahankan adalah 11.700 sampai 11.800 poin di mode entertainment. Di mode performance kita bisa mendapatkan 14.400 hingga 14.500 poin. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan sinbance R23 stability test selama setengah jam di mode entertainment suor dapat dikendalikan di bawah 70 derajat celcius dengan sesekali aja ada lompatan ke 80 derajat celcius. Sementara di bawah performance supprosesor terlihat berada di kesaran 93 sampai 94 derajat celcius dengan sesekali aja ada lompatan ya. Tapi tenang kita enggak pakai sin B buat kerjaan sehari-hari ya. Nanti perhatikan saja suhunya kalau dipakai di aplikasi sehari-hari. Kita mulai dari Blender 4.3.2 dengan barber shop scene yang berat itu. Untuk CP rendering sesuai dalam waktu 32 menit 15 detik. Sementara kalau pakai GPU rendering dengan kuda selesai dalam waktu hanya 3 menit 5 detik saja. Nah, untuk suhu kerjanya pasar melakukan GPU rantering dengan kuda baik supressor maupun GPU Nvidia itu dapat dikendalikan sepenuhnya di bawah 70 derajat celcius. Tuh kan aman suhunya enggak nyampai 90-an bahkan ya. Lanjut ke Adobe Premiier Pro 2025. Untuk video 4K60 yang 2 menit 7 detik seperti biasa ya. Software only butuh waktu 7 menit 19 detik. Sementara kalau kita pakai kuda selesai dalam waktu 1 menit 48 detik. Untuk video full HD 60 fps durasi yang sama dengan software only dalam waktu 1 menit 28 detik. Kalau kita pakai kuda sesuai dalam waktu hanya 29 detik saja. untuk suhu kerja saat melakukan 4K video export dengan kuda. Lagi-lagi supressor dan GPU Nvidia bisa dikendalikan di bawah 70 derajat celcius. Adem ya. Lanjut ke Dainci Resoft 19.1 software videoing kelas profesional tapi versi gratisnya nih. Untuk video 4K60 yang 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 3 menit 7 detik. Untuk video full HD durasi yang sama dalam waktu hanya 46 detik saja. Nah, su kerja pada saat melakukan 4K video export, supressor terlihat bergerak naik turun di rentang 59 sampai 96 derajat celcius. Sementara untuk suhu GPU Nvidia masih terkendali di bawah 70 derajat celcius ya. Masih lumayan aman juga di sini. Untuk CapCut video 4K 60 2 menit 7 detik selesai dalam waktu 1 menit 3 detik saja kencang. Untuk video full HD di 60 fps durasi yang sama sesuai dalam waktu hanya 20 detik saja. Nah, untuk suhu kerjanya pada saat melakukan 4K video export, su rata-rata prosesor terlihat berada di bawah 80 derajat celcius. Meskipun sempat ada beberapa kali lompatan di atas 80 derajat Celcius, sementara su tertinggi GPU Nvidia-nya hanya mencapai 62 derajat Celcius saja. Oke, kita coba untuk handbreak ya. Di sini kita melakukan konversi video 4K60 2 menit 7 detik ke full HD 60 fps dengan kodex AV1 tanpa akselerasi semua, sudah dalam waktu 4 menit 14 detik. Sementara kalau kita pakai akselerasi NV Encoder, kita hanya butuh waktu 2 menit 32 detik saja. Nah, sekarang kita lihat suya pada saat melakukan konversi dengan akselerasi NV Encoder. Suprosesor terlihat bergerak di rentang 90 sampai 96 derajat Celcius. Tapi ini wajar ya karena aplikasi ini cenderung lebih membebani si prosesornya. Lagian belum nyampai 100 juga sih. Sementara hasil tertinggi GPU Nvidia hanya mencapai 53 derajat celcius. Oke, sekarang mari kita lihat kemampuannya untuk gaming. [Musik] Oke, sekarang kita lihat suhu kerjanya pasa menjalankan game Assassin's Creed Mirage selama 30 menit. Untuk prosesor telet bergerak naik turun di rentang 88 sampai 98 derajat celcius. Sementara GPU NVD-nya masih berada di bawah 85 derajat celus. Tapi tenang, suhu seperti ini kan terjadi kalau kita pakai mode performance. Kalau kita pakai mode entertainment, supressornya akan turun ke kisaran 77 sampai 81 derajat celcius dan GPU NVID-nya ada di bawah 76 derajat Celcius. Oke, sekarang kita lihat suhu permukaan body selama setengah jam mainkan game yang terakhir ini. Untuk area keyboard, area paling panas ditemukan di tombol F10 dengan suhu di kisaran 49 derajat Celcius. Untuk area tengah keyboard juga kami memukan ada yang suunya mencapai 46 derajat Celcius. Sementara untuk area WA SD suhunya aman di kisaran 34 sampai 35 derajat Celcius. Untuk palmr itu area kiri suunya aman di bawah 35 derajat Celcius. Kalau area kanan ada bagian yang suya 39 derajat Celcius dan ada yang di bawah 35 derajat Celcius. Sekarang mari kita tes kecepatan SSD-nya. Dengan kristal disma kita dapatkan bahwa kecepatan bacanya ada di 5.54 MB/ dan tulis di 4.812 MB/s. Untuk laptop gaming kelas belasan juta SSD yang satu ini udah tergolong kencang sebetulnya ya. Lanjut untuk daya tahan baterainya. Kita pakai gratis di 150 Nit dengan volume suara di 25% dan layar di full HD 144 Hz. Untuk 1080p local video playback di mode entertainment, baterai habis setelah 4 jam 20 menit. di mode power saving. Nah, ini lucu ya. Bisa bertahan sampai 7 jam 46 menit. Jadi kita lihat ya, kalau kalian aktivitasnya ringan yang ngetik-ngetik gitu ya dan butuh baterai yang irit, gunakan mode power saving. Oke, sekarang kita liat kecepatan charging-nya. Setengah jam pertama baterai terisit di 35%. Sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 2 jam 41 menit. Ini sedikit lebih lambat daripada harapan kami yang ya biasanya kita berharap di 2 jam ya. Nah, tapi kalau diperhatikan sebenarnya baterai sudah terisi 94% dalam waktu 2 jam saja. Sisa 6%-nya itu yang butuh waktu 41 menit. Nah, untuk harganya ya laptop ini dijual di Rp16.699.000, tapi itu harga resminya. Coba deh kalian cek sendiri harganya dapat berapa nih ya di toko-toko online itu ya tulis di kolom komentar. Oke. Nah, untuk garansi dia dapat 3 tahun dari Aksio Indonesia untuk layanan perbaikan dan suku cadangnya. Tentunya garansi tersebut juga mencakup ADP ekstra selama 1 tahun. Garansi ADP ekstra tersebut akan meng-cover berbagai kerusakan diakibatkan oleh kelalaian pengguna seperti ketumpan cairan, enggak sengaja jatuh, crossing listrik, bencana alam, dan masih banyak lagi. Menariknya ADP ekstra ini juga meng-cover kerugian akibat tindak kejahatan seperti pencurian misalnya. Menariknya lagi, AK menjanjikan proses klaim ADP-nya akan mudah dan dapat dilakukan di 184 service center yang tersebar di seluruh Indonesia. Nah, Asio ini juga memiliki layanan same day service. Jadi, klaim garansinya cepat. Selain itu, kalau proses servisnya melebihi 6 jam, AXO akan meminjamkan laptop pengganti, ya. Jadi, kalau ada kerjaan ya tetap bisa jalan terus. Oke, kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Pertama, supressornya agak tinggi di mode performance pada aplikasi tertentu. Nah, tapi ini masih bisa diakalin ya dengan menggunakan mode entertainment supaya suhunya jadi lebih terkendali. Kalaupun mau pakai mode performance sebaiknya gunakan di ruangan berac ya. Kemudian daya tahan batera-nya agak kurang cocok untuk aktivitas mobile seharian tanpa bawa charger. Tapi lagi-lagi ini sebenarnya wajar untuk sebuah laptop gaming. Lalu belum ada bonus Microsoft Office. Cuma tenang aja ya. Axio tuh selalu menyertakan libre Office dalam laptopnya yang fungsinya mirip seperti Microsoft Office. Kita juga masih bisa nginstal Microsoft Office kok, tapi tentunya setelah kita beli ya. Nah, dari segi menariknya dia menggunakan prosesor Intel yang 10 core seri H. Ini lancar buat multitasking, rendering, ataupun editing dan dilengkapi dengan RTX 4060. Ini mulus untuk main game Triple Aal kalau cuma game kompetitif, tumpah-tumpah tuh FPS-nya ya. Meriting video 4 cas itu juga gampang di sini ya, kencang karena pakai RTX yang satu ini. Lalu RAM-nya 16 GB dual channel dan masih bisa di-upgrade. Bisa pasang 2 SSD M.2. Kecepatan kipas bisa diatur. Layarnya udah IPS 144 Hz, 100% sRGB. Konektornya lengkap. Kameranya udah di-upgrade ke 1080p. Gansinya juga panjang 3 tahun dan ada garansi untuk layanan pengguna termasuk kecurian. Luar biasa. Jadi Akongo 760 V2 ini cocoknya untuk siapa? Pastinya yang satu ini akan cocok buat mereka yang lagi ngincar laptop gaming yang harganya masih di belasan juta tapi tetap kencang main game Triple A terbaru tanpa takut FPS-nya bisa patah-patah ya. Lalu buat yang butuh laptop high performance untuk kerja pastinya cocok juga. Buat video editing 4K60 lancar banget. Apalagi GP-nya juga udah support video AV1 dan layarnya udah 100% sRGB. Mau dipakai buat desain dan rendering 3D juga masih mantap. Buat programming harusnya kencang nih. Apalagi kalau aplikasi codingnya cocok dengan spesifikasi si laptop. Mau dipakai untuk pelajar atau mahasiswa juga cocok nih harusnya ya. Apalagi harga enggak mahal, garansi 3 tahun dan ada ADP yang juga meng-cover kecurian. Jadi tidak memberatkan dari si orang tua yang bayarin ya. Jadi kalau butuhnya laptop high performance serba bisa, siap pakai, dan performanya kekinian buat main game, belajar atau bekerja. Aio 760 V2 ini adalah salah satu pilihan yang menarik di kelas belasan juta. Saya Didi Irfan, Jaka Tribut TV.
