Jungkat

Tidak ada lagi smartphone "ENTRY LEVEL" (YouTube Video)

  • 26/10/2026

Ada satu istilah yang menurut saya mulai kehilangan makna di dunia per HP-an, entry level. Dulu waktu dengar istilah ini, kita langsung ngebayangin HP murah dengan spesifikasi [musik] yang seadanya. Bisa WhatsApp, bisa YouTube, media sosial, kamera alakadarnya, dan baterai yang cukup awet, ya lumayanlah. [musik] Tapi sekarang coba lihat deh, Redmi 17 atau 17, harganya mulai dari 2.899.000 rupiah. Hampir 3 juta. Buat sebagian orang harga ini mungkin kerasa mahal untuk sebuah Redmi. Apalagi kalau kita ingat ya, beberapa tahun lalu Redmi punya HP yang harganya bahkan belum menyentuh 2 juta. Salah satunya adalah Redmi 8. Di tahun 2019, Redmi 8 versi 4 GB 64 GB storage dijual sekitar 1,7 jutaan. [musik] Di harga segitu, kita sudah dapatin layar 6,22 inch HD plus, Snapdragon 439, baterai 5.000 mAh, eh USB [musik] type C, fast charging 18 watt, dual kamera, fingerprint, jack audio, dan micro USB. Untuk ukuran HP 1 jutaan di tahun 2019, itu tuh sudah kerasa lengkap banget ya. Sekarang lihat, Redmi 17, harganya naik jadi 2.899.000 rupiah. Tapi spesifikasinya juga ya lumayan berubah jauh lah mengikuti zaman gitu ya. Layarnya jadi 6,9 inch dengan refresh [musik] rate 120 Hz, baterai jadi 7.500 mAh, charging jadi [musik] naik ke 45 watt, kamera utama jadi 50 megapixel, ada Corning Gorilla Glass 7i, IP64, [musik] stereo speaker, RGB light, Hyper OS 3, dan jaminan update software yang jauh lebih panjang dibandingkan Redmi 8 tadi. Jadi memang benar harga Redmi itu naik. Tapi apa yang dikasih sama sebuah brand HP di kelas tersebut juga ikutan naik menurut saya. Dan menurut saya, di sinilah kita perlu ngelihat konteks yang lebih lebar apa luas ya? Luas. Kalau lebar mah saya. Kita enggak lagi hidup di tahun 2019. Harga komponen HP berubah, terutama [musik] RAM dan storage. Kenaikan harga komponen jelas ikut ngasih pressure buat produsen HP buat nyesuain harga produknya. Artinya, brand sekarang punya pilihan yang enggak gampang, enggak kayak dulu gitu. Mempertahankan harga berarti harus memangkas sesuatu. Mempertahankan spesifikasi berarti harga harus naik. Dan Redmi 17 kayaknya memilih buat ngambil jalan tengahnya. Harga naik, [musik] tapi berusaha ngasih value yang tetap kerasa gede ya. Caranya adalah dengan nentuin bagian mana yang paling penting bagi konsumen. Baterai dibikin lebih gede, layar dibikin lebih gede [musik] dan smooth, charging dibikin lebih cepat, durability ditambah, terus fitur-fitur kayak stereo [musik] speaker, RGB, dan IP64 juga ditambahin. Tapi di sisi lain, ada trade-off-nya. HP ini masih pakai Helio G91 Ultra. Versi yang masih eMMC 5.1 dan layarnya 6,9 inch yang masih beresolusi HD [musik] Plus. Jadi jelas, dia bukan HP ngebut, tapi dia berusaha buat ya, berusaha serba ada lah kayak warung Madura gitu. Baterainya 7.500 mAh dengan fast charging 45 watt. Layarnya 120 Hz bikin scrolling itu lebih smooth ya. Stereo speakernya juga bikin nonton konten di handphone jadi lebih enak. Ada IP64 juga, jadi setidaknya bikin dia tahan [musik] terhadap cipratan air. Dan RGB di belakang, ya itu emang bukan fitur penting sih, tapi setidaknya bikin si Redmi 17 itu punya apa ya? Identitas mungkin ya. Dan semua itu nunjukin satu hal, Xiaomi masih berusaha ngasih sesuatu yang kerasa lebih mahal daripada harga jualnya. Cuman ya, caranya udah enggak sama kayak dulu gitu. Kalau kita ngebandingin Redmi 8 dan Redmi 17, kita bisa dengan mudah ngelihat kenaikan harga sebagai sesuatu yang negatif ya. Dari sekitar 1,8 juta naik jadi 2,9 [musik] juta atau hampir 3 juta. Tapi kalau kita ngelihat apa yang dibawa keduanya, perbedaannya juga kerasa gede loh. Redmi 8 punya baterai 5.000 mAh, Redmi 17 punya baterai 7.500 mAh. Redmi 8 charging-nya 18 watt, Redmi 17 charging-nya 45 watt. Redmi 8 punya layar 6,2 inch, Redmi 17 layarnya 6,9 inch, 120 hertz pula. Dan sekarang ada IP64, Corning Gorilla Glass, stereo speaker, RGB software yang [musik] lebih baru tentunya, plus jaminan update software yang jauh lebih panjang dari versi 8 tadi. Dunia HP itu emang berubah, konsumen minta lebih banyak fitur, sementara biaya buat bikin HP juga makin naik gitu. Dan waktu itu terjadi, istilah entry level pun menurut saya ikutan berubah ya. Dulu entry level berarti HP murah dengan spesifikasi yang basic. Sekarang mungkin artinya lebih ke HP dengan harga yang paling terjangkau yang masih berusaha ngasih experience sebuah HP yang [musik] kekinian atau HP baru lah gitu. Nah, Redmi 17 itu mungkin adalah contoh yang paling jelas. Dia enggak sempurna, performa dan storage juga masih jadi tanda tanya, layar HD plus juga bukan tanpa konsekuensi, dan berat 232 gram juga bukan untuk semua orang. Tapi justru dari kompromi itulah kita bisa ngelihat ke mana arah HP murah zaman sekarang, minimal [musik] di tahun 2026 ya. Harga boleh naik, tapi brand masih harus punya alasan biar konsumen ngerasa dapetin sesuatu yang lebih dari yang mereka bayarkan. Dan mungkin itulah wajah baru dari entry level. [musik]

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Xiaomi Redmi 17

Menonton serial di ponsel terasa kurang nyaman saat baterai cepat berkurang atau tampilan layar terlalu sempit. Xiaomi REDMI 17 menggabungkan baterai 7.500 mAh dan layar 6,9 inci, dua bekal utama bagi pengguna yang banyak menikmati video, membaca, serta....