Toyota Kelihatannya Saja Diam, Padahal... | RAMO PODCAST (YouTube Video)
bukan cepat-cepatan kemudian meraksek masuk dengan semua teknolog ini jangan-jangan adalah strategi yang paling tepat menyesuaikan dengan masyarakatnya yang juga sedang bertransisi. Jadi kan orang-orang beli mobil kan kadang-kadang bukan hanya fungsionalitas aja kan. Gengsi perlu beli gengsi dong. Gengsi itu bukan hanya dari harga mobilnya, tapi dari citra yang dibawa oleh mobil tersebut. Betul. Toyota di usianya yang sudah sangat mature ini sudah lebih bijak. Betul untuk menyadari bahwa yang paling penting bagi sebuah bisnis bukan teknologinya, Mas, tapi customernya. [Musik] Hey. He semuanya, selamat datang di channel Auto Driver. Akhirnya kami mengadakan podcast dan ini spesial Kak sekali podcast kali ini karena dilakukan dari Toyota Ramo kami Toyota Rangga Mobile Podcast. Jadi, dan sekarang juga tempatnya istimewa karena bukan hanya di luar gedung, tapi ini di dalam gedung, di dalam GJAW 2025. Dan pembahasan kita kali ini sangat menarik karena narasumber yang kami undang juga luar biasa. Beliau adalah Dr. Indrawan Nugroho. Halo. Saya sering sekali melihat ulasan-ulasan beliau di ee YouTube, di Instagram. Kalau saya mer-review mobil itu biasanya mikro-mikronya. He. Tapi Pak Indrawan ini beliau bisa melihat secara makro, beliau bisa menganalisa kenapa satu pabrikan sukses, kenapa satu pabrikan mobil tiba-tiba jatuh. Nah, eh beliau ini juga selain konsultan juga adalah entrepreneur dan eh yang jelas konten kreator yang sangat edukatif karena basic-nya dari akademisi. Selamat datang, Pak Indrawan. Selamat datang. Makasih, Mas Fitra nih. Ini eh privilege ya bisa ngobrol sama Mas Fitra di tempat kendaraan yang keren ini. Ini saya ngebayangin kita lagi di hutan ini sebenarnya nih ya. Betul. Sambil camping kita di sini podcastnya. Tapi sekarang kita enggak di hutan. Sekarang kita ada di bootnya Toyota di GJW. Dan ngobrol-ngobrol Toyota saya dengar Pak Indrawan ini juga pengguna Toyota. Ya, Toyota apa, Pak? Fortuner. Fortuner. Kenapa pilih Fortuner? Anak saya empat gede-gede banyak. Banyak. Betul. Jadi kalau ke mana-mana kudu muat satu mobil. Oh, gitu. Jadi Fortuner pilihan terbaik kalau Iya. Jadi dia bisa seven seater. Kalau mau ke mana-mana juga enggak takut karena tinggi. Siap. Tapi saya enggak akan tanya ke Pak Indrawan mengenai review Fortuner deh. Ampun kalau gitu ada jawaranya di sini soalnya saya karena Pak Indrawan ini ee jago sekali untuk melihat persoalan secara makro pasti juga mulainya dari mikro karena kita mengerti mikronya jadi kita mengerti secara makronya. Nah, saat ini kondisi industri otomotif sedang dipenuhi dengan ketidakpastian. Nah, bagaimana Pak Indrawan melihat ini? Karena tema kita kali ini adalah ini keren sekali nih temanya. ee bagaimana kita sebagai konsumen bisa cerdas dan cermat mengambil keputusan di tengah banyaknya ketidakpastian di dunia otomotif saat ini. Oke. Jadi, gimana kalau Pak Indrawan melihat kondisi sekarang? Nah, ini yang menarik ya kalau ketika kondisi yang bukan hanya tidak pasti Mas Fitra, tapi kondisi yang cepat berubah. Cepat berubah. Betul sekali. Sehingga seolah-olah itu tema sentralnya itu adalah kecepatan. I siapa yang paling cepat ngeluarin brand baru semakin bagus. Siapa yang pertama kali mengeluarkan teknologi baru paling hebat. Padahal di tengah ketidakpastian Mas Piter tadi sampaikan yang di mana semua orang buru-buru bergerak, kecepatan bisa bahaya, Mas. Kenapa? Karena kalau gini kita asal cepat aja nih tapi arahnya salah. Tiba-tiba kita nyadar kok gua dari sini ya di tempat yang bukan ini gua maunya. Kecepatan itu meningkatkan resiko terjadinya kesalahan. Betul. Makanya sebenarnya keywords-nya bukan cepat-cepatan. Kalau sekarang misalnya saya pemilik brand gitu ya, wah semua orang gedebak-gedebuk nih lari cepat-cepat nih ngenalin teknologi baru, masuk ke pasar baru. Kalau saya sih lebih memilih tunggu sebentar ya tenang dulu, baca peta dulu, lihat situasi dulu. Karena setiap tempat, setiap lokasi, setiap negara kan kondisinya beda-beda, Mas. Iya. Clarity, kejelasan tentang arah itu lebih penting dibandingkan kecepatan. Nah, tapi kalau kita tunggu nanti tetap kecepatan itu ada gitu. Sampai kapan kita menunggu? Oh, bukan menunggu ya. Maka kita perlu punya strategi yang bisa relevan sama kondisi pada saat itu. Definisi nunggu itu kan beda-beda. Gini, Mas. Misalnya kita ada di suatu negara yang memang infrastrukturnya sudah siap, udah rapi, udah jadi, pemerintah sudah mendukung, masyarakatnya udah siap untuk mengadupsi teknologi baru. Ya kalau gitu mah tcap gas aja atuh, ya kan? Ngapain nunggu? Tapi kalau misalnya kita ngelihat di satu tempat Indonesia misalnya, infrastruktur kaitannya sama EV misalnya, ini kan masih challenging, masih berprogres. ya kan? kita kalau dibilang udah siap rapi kayaknya belum sih. Tapi paling tapi cukup ini juga akselerasinya kan cepat cukup cepat ya i kan berarti kan kita masih pada masa transisi sekarang maka kita punya pilihan ini mau jadi first mover yang maju duluan invest duluan pokoknya gede-gedean bismillah mudah-mudahan nantinya masyarakatnya langsung adopsi dalam waktu singkat bisa enggak bisa tapi ada risiko kan iya betul ya risikonya ya mungkin cepat di awal hangat di awal tapi gimana next-nya ketika orang sadar bahwa ternyata infrastrukturnya enggak mendukung ternyata misalnya ee nilai jual kembalinya juga mungkin masih masih dipertanyakan teknologinya juga masih belum matang misalnya gitu kan pasti kan ada kekhawatiran di situ kan kita enggak bisa nafikan itu kan nah maka lihat dulu masyarakatnya gimana kalau masyarakatnya masih lebih hati-hati masyarakat lebih memilih total cost of ownership dari sebuah produknya jangan-jangan strategi yang paling bagus bukan cepat-cepatan ada di depan oke bukan cepat-cepatan kemudian meraksep masuk dengan semua teknologi terkini bertransis ya jadi selaras semuanya selaras dengan kondisi ekonomi, kondisi masyarakat masyarakat kondisi teknologi, kondisi infrastruktur di satu tempat itu selaraskan strateginya. Iya. Itu jadi bisa mungkin menjadi langkah yang lebih tepat dibanding sekedar cepat-cepatan ngeluarin produk. Betul. Betul. Contoh paling sederhana gini, Mas. Kan saya suka ngomongin teknologi nih ya, Mas Putra ya. Misalnya kalau kita lihat tablet komputer tuh yang kita kenal sekarang orang nyebutnya iPad lah ya. Tapi kita sebutnya kan tablet kan benar ya. Iya. Betul. Kalau kita bilang tablet komputer, siapa yang pertama kali mengeluarkannya? Siapa? Mas iPad. Ah, banyak orang kan bilang Apple iPad. Bukan, bukan. 9 tahun sebelumnya itu Microsoft sudah buat tapi tidak seheboh Apple iPad. Bukan hanya tidak seheboh Apple, enggak ada yang beli. Ada sih yang beli, cuman traction-nya terlalu lemah. Sehingga akhirnya diiscontinue produknya. Kenapa? Kan kalau cepat-cepatan cepetan Microsoft dong buatin tablet komputer. Jadi belum jadi belum tentu yang pertama itu adalah yang adalah yang menangkap di perlombaan garis. Kenapa? Karena pada masa itu 2001 itu produk revolusionernya Microsoft yaitu komputer tablet itu belum relevan dengan masanya. Orang belum benar-benar ngelihat kebutuhannya Bahkan teknologi yang ada itu agak enggak pas dengan konteks zamannya. Nah, beda ketika Apple keluar 2010 di saat yang lebih tepat. di saat yang lebih orang sudah menunggu kehadirannya itu kebutuhannya sudah ada fitur yang ada di situ fitur yang udah lebih dikenal orang karena kita sudah biasa pakai iPhone sudah tahu gitu masakan sudah teredukasi. Nah itu maksud aku Mas. Jadi dalam kondisi yang enggak jelas sebab berubah bukan yang paling cepat yang menang i tapi yang punya clarity kejelasan ini harusnya gua arahin ke mana, kapan masuknya, kapan gua penetrasinya. Nah, tapi perubahan itu tetap enggak bisa dihindari. sekarang itu semuanya semakin dinamis dari adopsi teknologi-teknologi yang kita tidak sangka akan didatangkan tahun ini. Didatangkan di tahun ini sampai ada pergeseran preferensi dari konsumen juga. Nah, jadi tantangan strategisnya seperti apa? Tantangan strategis yang terbesar yang perlu di diantisipasi oleh industri ke depannya? Oke. Pertama-tama kan kita harus lihat selalu konteks di mana kita bermain. ya? Kalau kita bermain misalnya di Eropa gitu kan ya kan infrastrukturnya sudah jadi, masyarakatnya sudah teredukasi ya toh teknologinya sudah ya kalau kayak gitu mah udah enggak usah mikir panjang lebar hajar aja gitu. Tapi kalau kita lihat di konteks balik lagi ke Indonesia tadi sempat kita bahas ya, kita Indonesia ini kan keberagamannya kan luar biasa, Mas. L Sabang Semet Merauk kayaknya ya toh. Kesiapan orang untuk mengadupsi satu teknologi ya tidak hanya Jakarta ya tidak semua tempat itu setara infrastrukturnya dan kesejahteraannya dengan Jakarta. Eh Jakarta aja juga kita masih ada keterbatasan apalagi di luar Jakarta. Kemarin tuh saya baru pergi ke satu provinsi di Indonesia yang agak jauh dari Jakarta. Ketemu sama direktur sebuah perusahaan. Direktur itu pakai mobil full EV. Ya. Tapi begitu pas dia mau servis harus pindah pulau karena tidak ada di tempatnya. Iya. Jadi waktu itu akhirnya dia jalan-jalan sama keluarganya pindah pulau ya terus ngapain sebenarnya? Sebenarnya sih gua cuman pengin servis mobil cuman jalannya. Jadi jadi pas pada saat pembelinya yang penting punya dulu aja. dulu aja kan pusing belakangan ya kan. Nah, jadi maksudnya adalah jawab pertanyaannya Mas Fitra tadi kita perlu kontekstual. Strategi itu kontekstual enggak bisa pukul rata. Satu dunia harus pakai strategi yang sama. Enggak bisa. Indonesia ini unik banget soalnya. Nah, dengan keunikannya Indonesia gimana bisa kontekstual menyamakan strateginya? Karena bahkan di kota besar dan kota kecil saja itu harus dengan strategi yang maka kata kuncinya tuh transisi. Transisi. Nah, jadi kalau kita ngomongin EV gitu ya, kalau menurut saya sih mungkin Mas Fitra saya juga mungkin punya pandangan yang mirip ya, bahwa itu keniscah ya Mas Iya. Mestinya ujungnya bakalan ke sono kan mestinya seperti itu gitu. Sama kayak misalnya industri TV ya kan. W mul mau dinik gimana pun juga ini terorial TV ini masih akan terus bertahan nih ya. Akan ujung-ujungnya kan semua pindah ke digital semua kan enggak lagi pakai antena tapi pakainya internet kan kayak gitu kan. Nah kan. Kalau dalam otomotif kan juga bergeraknya semua KV. Cuma pertanyaannya sampai kemudian kita semua akhirnya bisa adopting EV dengan infrastruktur yang lengkap, kenyamanan, gaya hidup yang seperti itu kan butuh waktu. Nah, sekarang balik lagi nih strateginya si brand tinggal memilih, mau milih pokoknya gua bertaruh pada masa depan, bring tomorrow today dengan semua risikonya atau justru gua mau nemenin konsumen di negara itu bertransisi menuju ke sana. So, ini urusan pilihan strategi aja. Iya, gitu. Tapi kalau Pak Indrawan bilang itu adalah keniscayaan, kenapa keniscayaan itu tidak dibawa sekarang saja? Kalau itu didukung oleh infrastruktur yang tepat, teknologi yang sudah matang, iya akan selalu ada orang yang masuk kategorinya early adopters. E selalu ada, selalu ada cuman presentasinya sedikit. Yang paling banyak kan early majority. So, balik lagi strategi kita di mana? I kalau kita strateginyaang brand yang terdepan paling awal ya boleh. Cuman kita lihat kalau dalam konteks industri yang menang itu bukan yang paling cepat tapi yang bisa bertahan paling lama. Balik lagi ke analogi tablet tadi ya. Yang pertama kali mengeluarkan itu belum tentu yang paling sukses nantinya. Betul. Cuman ini kita enggak bisa pukul rata ya. Bisa jadi ada yang benar gitu ya. Tapi mostly kasusnya begitu ya. cepat tapi kemudian layu atau kita agak slow dikit ikutin transisinya tapi bertahan paling lama akumulatifnya value-nya lebih tinggi yang bertahan paling lama dong. Nah, tadi kita sudah menyinggung tentang EV. EV perkembangannya cukup pesat di Indonesia tapi memang dari pangsa pasarnya belum sampai 10%. Nah, EV ini dia ramah lingkungan, costnya juga ee kecil gitu ya. Ee halus, tidak ada suaranya, tenaganya juga cukup instan. Nah, apa sih sebenarnya tantangan terbesar EV di Indonesia? Itu kan mobil yang cost-nya rendah dan ee halus semuanya, tapi kenapa belum sampai mencapai target yang kita perkirakan? Ee apa tantangan terbesar terbesar infrastruktur seperti yang kita sudah bahas tadi ya, infrastruktur e charging listriknya dan lain sebagainya. Sebenarnya kan charging bisa di rumah ya. Ketika kita mikir cuman memang putar dari kantor ke rumah aja mungkin enggak ada isu. Iya. ya. Tapi ketika kita mikir agak sedikit lebi jauh ya kita e keluar kota dan sebagainya mungkin orang jadi mikir jadi ada kecemasan tentang hal itu ya. Ee kemudian juga maturity dari teknologinya itu sendiri ya. Semua teknologi baru ini kita enggak ngomongin otomotif ya. Semua teknologi baru pasti ada yang untested-nya nih. Ada yang yang belum teruji kehandalannya karena itu baru diuji selama setahun misalnya. Nah, kalau dipakai nanti 5 tahun kayak gimana kan kita belum tahu. Nah, kayak gitu-gitu. Jadi ada sedikit kegelisahan ya. Memang yang menarik adalah kenapa walaupun masih baru tapi sudah sampai hampir 10% mengadupsi IB. Menurut aku tuh sudah amazing untuk kelas Indonesia kayak gini karena insentifnya kan menarik sudah amazing ya. Baru 10% saja itu sudah amazing. Menurut saya sih karena ini teknologi yang baru. Iya ya. Karena kan walaupun ada subsidi harga tetap aja ini kan bukan barang murah enggak di handphone lah. Handphone aja semalam-maal handphone kita tahulah ya puluhan juta lah paling mahal. Tapi ini kan pasti kan ratusan juta itu ya kan gitu. Dan mereka tahu bahwa mereka beli barang yang masih dalam tanda kutip mungkin apa ya, belum proven. Belum proven ya. Betul. Macam-macam. Bukan hanya soal teknis, soal resell value-nya juga belum proven. Belum proven ya. Bahkan apalagi kalau akhir-akhir ini kan sudah dengar wah ini pootong 50% dan sebagainya kan itu kan memberikan kekhawatiran and yet tapi tetap aja orang masih mau beli itu menurut aku sudah hebat. I orang Indonesia tu either banyak duitnya sehingga dia bisa hambur-hamburkan untuk beli barang yang dalam terku masih berproses atau memang orang Indonesia tuh tipenya tipe early adopter, tipe inovator yang pengin nyoba hal yang baru gitu atau juga karena sekarang banyak mobil baru dengan teknologi baru ternyata harganya jadi jauh lebih masuk akal sekarang karena pesaingan yang luar biasa besar. Betul. Nah, itu kan menempatkan kita sebagai konsumen itu ada di kebingungan. Begitu banyak mobil, begitu banyak pilihan. Terlalu sedikit pilihan bikin bingung, terlalu banyak pilihan juga bikin bingung. Nah, jadi kalau menurut ee sudut pandang Pak Indrawan yang juga bukan hanya melihat secara mikro tapi juga makro, apa yang harus dipertimbangkan seseorang Heeh. dalam memilih sebuah mobil. Karena misal orang itu tidak punya semuanya tidak semuanya punya kelegaan untuk beli banyak mobil. Mungkin dia memang investasi ini satu mobil. Seperti apa? Bagaimana kita menentukan sebagai konsumen? Ee ini aku bahasnya dalam konteks umum aja ya, enggak ngomongin dulu ya. Nanti habisin ngomongin ya. Pasti kalau aku mau beli mobil pertama adalah kehandalan lah ya. Maksudnya gua udah invest beli mobil sekitar R00 juta. Gua pengin tahu misalnya ini nih barangnya barang bagus lah kualitasnya enggak usah ditanya. Kalau misalnya rusak gampang cari servisnya. spare partnya murah ada di mana-mana. Jangan lama sering mendingan sering parkir di rumah daripada seringan parkir di bengkel gitu kan. Har reliability dan durability. Itu nomor satu. Jelas ya. Yang ee kedua kalau gua agak suka hitung-hitungan total cost of ownership gimana caranya? Eh misalnya gini gua beli mobil harganya Rp100 juta tapi sering masuk bengkel. Kan berarti kan ongkosnya kan jadi mahal dong. Kan kita enggak tahu bakal masuk bengkel apa enggak. Makanya kita harus cari brand yang kita punya keyakinan bahwa ujung-ujungnya ini relableel, enggak dikit-dikit masuk bengkel atau resell value tadi ya. Kalau gua beli misalnya, oh ini murah nih harganya berapa nih? Rp300 juta tapi res value-nya tinggal Rp150 juta dalam waktu hanya setahun. Kan hitungannya kan jadi lebih mahal tuh dibandingkan gua beli harganya R500 juta, resal value-nya R50 juta. Masih untung dong kan kayak gitu kan. Nah itu total cost of ownership-nya tuh kehitung ada di situ sama kontekstual. Jadi lu beli mobil kenapa tadi? Kenapa gua beli Fortuner? Anak gua banyak. Oh iya. Sama ini kalau masuk ee bengkel menurut saya bukan hanya biayanya karena sekarang banyak warrantti itu panjang. Warranti bahkan sampai 8 tahun waktu. Betul. Kita jadi terpaksa naik taksi. Iya iya itu ada produktivitas yang terbuang di situ. Terbuang ujungnya kan duit juga kita keluar. Kayak sekarang nih mobilku satu lagi di bengkel nih. Udah hampir sebulan Mas. Udah kan pusing tuh. Akhirnya kan keluar duit juga untuk sesuatu yang harusnya enggak perlu keluar. Nah, artinya kalau saya lihat dari Pak Indraw, mobil itu satu harus reliable, durable, serta total cost of ownership-nya juga masuk akal. gitu ya. Betul. Nah, ada yang memenuhi kriteria seperti itu. Nah, aku masukin langsung KV dulu aja ya karena ini supaya agak menarik diskusinya karena kalau misalnya ini brandnya brand e combusion engine misalkan kan opsinya banyak banyak EV juga sebenarnya makin banyak lah Tapi kalau misalnya kita ngomongin EV, EV itu kan ada challenge yang kita sudah bahas tadi ya. Iya. masih ada risiko, kemudian juga resal values, teknologinya belum mature. Kalau misalnya saya pengin jadi bagian dari energi bersih, wah misalnya gitu ya, kan berarti kan arahnya ke EV nih gitu ya, gua pengin dapat efisiensinya juga dari kendaraan EV, tapi gua pengin juga reliability-nya. Nah, tadi yang aku syaratkan tadi ya, gua pengin ketenangan hati karena ini barang diproduksi oleh produsen yang udahlah lu enggak usah enggak usah perdebatin lagi, enggak usah tanya lagi. Ini nih udah udah lu amanlah dari semua aspeknya lah, dari quality-nya, dari ee dari jaringan jaringan dealernya, jaringan bengkel dan sebagainya gitu ya. Nah, ya pertama cari brand yang sudah trusted ya tadi aku sudah menyebut mobilku apa, sudah tahu ya. Kita juga sekarang dibut Toyota dan itu sudah rahasia umum bahwa Toyota adalah brand yang paling besar di Indonesia. Bukan hanya masalah penjualan, tapi juga after sale service-nya. Nah, satu lagi, Mas. Kalau misalnya aku pengin mulai nih pelan-pelan masuk atau embracing clean energy, pintu masuk transisinya kan bisa pakai yang hybrid, Mas. Tapi apakah keinginan untuk membuat udara lebih bersih itu ada di konsumen? Bukannya konsumen hanya melihat berapa uang yang dia keluarkan dan apa yang dia dapat? Nah, itu yang menarik. Kalau ditanya dari survei, ternyata dari generasi muda consciousness, kesadaran akan lingkungan itu ada. Walaupun memang ketika mereka harus membayar itu mahal, mikir dua kali tergantung tebal dompetnya. Iya. Tapi ada konsern itu sudah mulai ada dia, ada bahkan di Indonesia itu sudah ada. Nah, makanya kalau misalnya kita memang pengin masuk ke dunia yang lebih bersih tadi, tapi kita pengin kehandalannya, berarti cari brand yang sudah jelas kandalannya. Dan dari sisi teknologi cari yang transisi juga. Betul. Betul, betul, betul. Ya udahlah mungkin enggak langsung harus ke bater EV ya. Bahkan mungkin ke plugin hybrid misalnya oke ya. Nah, hybrid aja misalnya sebagai pintu masuk awal. Enaknya hybrid itu kan kita enggak harus ngubah habit apa-apa, Mas. Enggak harus ngcas, kan? Tapi jauh lebih efisien. Iya. Jadi kita pakai mobil kayak mobil biasa aja gitu. Nah, tapi memang dengan banyaknya kehadiran EV edukasi orang tentang elektrifikasi itu meningkat pesat. Termasuk orang jadi lebih teredukasi juga mengenai hybrid. Jadi sekarang itu bukan hanya EV yang berdatangan, tapi juga hybrid yang berdatangan. Salah satu yang terbaru dari Toyota ini adalah New Velos Hybrid EV. Yes. Itu kemarin juga baru diumumkan harganya tidak sampai Rp300 juta. Nah, gimana kalau Pak Indrawan? Kalau menurut saya itu akan akan mengubah peta permainan. Ya. Pertama ya tadi kita sudah ngbut ini yang ngeluarin brandnya udah ini bukan 2 3 tahun di sini udah 4 tahun bukan brand kaleng-kaleng bukan kaleng-kaleng udah proven jaringan distribusinya jaringan bengkel dan sebagainya teknisnya udahlah gitu ya. Ee kita percaya dengan brandnya kuat res value-nya lebih tinggi. Iya. Makanya aku bilang tadi kalau bagi orang-orang anak muda yang dia pengin masuk ke dunia yang lebih ramah lingkungan, dia pengin nunjukin nih gua tuh masuk generasi-generasi yang sadar akan ramah lingkungan loh. Tapi kalau misalnya mau masuk ke full EV dia masih mikir banyak ya ya udah masuk ke pintu transisi awalnya aja hybrid aja yang enggak harus ubah terlalu banyaknya dan lain sebagainya efisiensinya dapat ramah lingkungannya juga dapat handalannya juga dapat gitu salah satu harganya murah lagi harganya ya ini ini ini di luar dugaan bahkan lebih murah dibandingkan Velos yang non hybrid makanya iya makanya ini luar biasa ini kacang goreng nih betul dan ee gua langsung telepon anak gua tadi itu mobil yang di rumah dijual mau enggak Ditambah aja lah, Pak. Tukar sama yang ini. Saya kan, saya kan lihat view YouTube-nya Bapak gede itu tinggal ditambah aja, Pak. Oke. Nah, ee bicara tentang ada image kita itu ee peduli dengan lingkungan ketika mengarai hybrid. Saya jadi ingat pada saat Toyota itu membuat hybrid pertamanya Prius Prius itu langsung laris di kalangan selebriti. Betul. Bukan karena dia yang paling mewah, bukan karena dia yang paling sporty, tapi memberikan kesan bahwa pemiliknya itu konsern dengan lingkungannya. Jadi, ini bisa jadi seperti tren yang membanggakan ya untuk pemilik hybrid ya. Betul, betul, betul. Dan makin ke sana akan makin kuat sentimen ke arah sana karena ya kesadaran orang tentang lingkungan. Satu. Yang kedua, ketika orang itu menunjukkan bahwa oh dia itu pro environment, dia itu pengin ke itu langsung kayak gengsinya naik. Ah, betul betul betul betul. Jadi kan orang-orang beli mobil kan kadang-kadang bukan hanya fungsionalitas aja kan gengsi perlu beli gengsi dong. Betul. Si pemilik mobil ini tercitrakan berdasarkan apa yang dikendarainya. Wah, kalau misalnya dia bawa yang hybrid, wuh nih orang ingin menjadi bagian dari masa depan generasi berikutnya yang bersih lingkungannya. Itu lain rasanya. Nah, Pak Indrawan sudah banyak me mengulas dan membahas tentang strategi-strategi pabrikan mobil di dunia. Artinya Toyota juga sudah pasti diperhatikan oleh Pak Indrawan. Nah, dari perjalanan Toyota yang sangat panjang di dunia, bahkan di Indonesia juga sangat panjang, gimana Pak Indrawan itu melihat komitmen Toyota dalam membangun ekosistem yang sesuai dengan kendaraannya? Salah satunya mungkin dengan memberdayakan SDM-nya. Ee saya memulai profesi sebagai trainers awalnya itu. Sekarang saya konsultan, tapi saya memulainya dari trainers, Mas. itu 26 tahun yang lalu dan di awal-awal saya berprofesi jadi trainer. Saya mencari teman-teman, sahabat-sahabat yang bisa pada saat itu sudah cukup senior dan bisa ngajarin teman-teman di manufacturing terkait dengan bagaimana ngelola manufacturing yang baik dan benar. Siapa yang menjadi ee rujukan bagi industri? Jawabannya Toyota. Maka Toyota Production System semua tuh saya belajar Kanban Kaizen itu semuanya dari dari Toyota. Artinya kalau kita bicara komitmen terhadap kualitas SDR, komitmen terhadap produksi, komitmen terhadap supply chain, Toyota itu udah proven jauh hari dari gembar-gembor dunia otomotif yang ada di Indonesia. Betul. Ya, saya menjadi saksi nyata pada saat itu ya guru-guru saya, teman-teman saya, para trainer yang senior yang saya ajak untuk ikut turun bantu mengajar kepada industri adalah hampir semuanya itu dari Toyota. Saya ketemu dengan suppliers-nya mereka, bengkel-bengkelnya mereka tuh klien-klien saya semua juga. Dan kalau bicara tentang keseriusan, e, bicara tentang konsistensi, bicara tentang quality, udahlah ya itu enggak usah dibahas lagi. Jadi, ekosistem yang mereka bangun selama 40 tahun terakhir dari supplier-nya, dari ee distributornya, dealernya, ya, bengkelnya, teknisi yang dibangun sampai kepada purna jualnya itu memang amazing. Itu yang susah diduplikasi. ya. brand lain bisa hadir dengan produk teknologi yang paling canggih. Tapi untuk ngebangun ekosistem yang seperti itu, itu enggak bisa semalam. Teknologi paling canggih dikembangkan dalam 45 tahun bisa. Tapi ekosistem butuh puluhan tahun. Iya. Jadi jangan sampai teknologi itu hanya berdiri sendiri karena teknologi tetap membutuhkan ekosistem di sampingnya. Dia perlu infrastruktur yang men-support teknologi itu. Otherwise dia akan kehilangan value-nya over time. Lama-lama kehilangan value-nya. Awalnya keren, bagus gitu, tapi kebenaran servis susah. Iya enggak? Terus begitu ada masalah ini ternyata harus digantinya total. Lain kalau orangnya emang suka repot ya, suka repot apa suka ngoprek-ngoprek sendiri tapi sebagian besar orang pasti menginginkan mobil yang dibabel. Nah, Toyota sebagai pabrikan yang sudah lama sekali berada di dunia dan di Indonesia tentunya bukan perusahaan yang stay still, mereka juga berinovasi. He. Nah, menurut Pak Indrawan, apakah strategi yang dilakukan Toyota sekarang ini sudah tepat untuk memenangkan persaingan di masa depan dengan ee kondisi yang ada kondisi yang ada sekarang? Nah, itu pertanyaan menarik itu ya. Karena kita balik lagi ke yang di awal-awal tadi, cepat-cepatan kan sekarang kan bawaannya adalah cepat-cepatan. Iya. Iya. Kesarnya cepat-cepatan. Oh iya kan teknologi terbaru ya buat produk terbaru belum tahun ini ada varian besok bulan depan sudahudah ada varian baru lagi. Nah, sementara kita tahu Toyota enggak game-nya enggak begitu. Betul. Game-nya Toyota tuh enggak cepat-cepetan. Dalam perspektif saya, gameennya Toyota tuh game clarity kejelasan. So, cepat sok mangga lu cepat-cepetan enggak masalah. Tapi bayangin ya nih dunia bergerak cu cepat gitu kan. Akhirnya kan dia kepancing tuh pengin cepat-cepetan kan. Tren terkini. Wah harus adopsi tren yang terbaru. Toyota sebagai pemain industri yang sudah senior ya lain dong bijak dong. Enggak kayak anak muda yang kebuk gitu dong. Nah, si senior ini ya, Master Sifu ini dia lebih tenang lihat situasi situal awarenessnya itu tidak reaktif enggak reaktif itu bahasanya. Begitu dia oke sebentar dunia ini beragam bos. Kesiapannya beda-beda setiap negara ya. Ada yang ini cocok udahlah langsung bater EV aja hajar. Yang ini harus plugin hybrid yang ini mungkin hybrid dulu deh. Ada yang ini transisi. Aduh tenang. ini transisi ada pelindungnya kok sama yang ini transisi, yang ini sudah bisa ee ee full gitu ya. Nah, mereka menyebutnya sebagai multi pathway strategy. Nah, ini ini menarik nih. Karena Toyota mungkin satu-satunya atau satu dari sangat sedikit pabrikan yang menyediakan beragam jenis penggerak untuk mobilnya. diesel, ada e bensin ada turbo ada hybrid ada PHV ada. Nah, seberapa penting memang strategi itu untuk dilakukan? Yang menarik itu bukan begini, bukan asal banyaknya tapi memilih di antara sekian opsi yang sudah dimiliki, mana yang kemudian dipilih untuk market ini, mana dipilih untuk market ini. Jangan di satu market yang sama semuanya dihajar. Nah, itu berarti ini jadi sporadik nanti. Iya, sporadik. Nah, jadi yang menarik pada Toyota ketika ngelihat Indonesia dia petakan kondisi Indonesia seperti ini dari preferensi orang-orangnya, daya beli orang-orangnya, dari infrastrukturnya ya, dari tren yang ada. Oh, berarti yang cocok untuk Indonesia yang kita gejot lebih banyak adalah produk A B C D. Tapi di negara sebelah bisa jadi beda lagi. Negara sebab beda. Nah, itu multi pathway itu maksudnya menyesuaikan I dengan kebutuhan ya. produk mana yang akan dipasarkan di area yang memang jadi sasarannya. Itu itu multifway-nya ada di situ. Makanya kalau kita lihat produk Toyota yang dijual di Indonesia ada yang merupakan produk global yang dijual di seluruh negara, ada produk regional yang dijual di region tertentu dan juga ada produk yang memang disiapkan untuk pasar Indonesia. Itulah multiway multiway. Iya, betul. Apakah itu gampang untuk diikuti pabrikan yang mungkin tidak pengalamannya tidak sebesar Toyota? Susah. Justru di situ kan strategi yang paling bagus tuh yang susah di di diikutin yang susah ditiru ya. Yang susah ditiru ya. Nah ee Toyota diuntungkan karena dia sudah lama sekali ada dalam industri, infrastrukturnya sudah kebangun, ekosistemnya sudah jadi. So, Toyota berada dalam kondisi yang paling ideal untuk menjalankan multiathway strategies. Makanya akhirnya ya sudah kita bertaruh di situ aja. Kenapa? Ini susah diikutin sama yang lain. Nah, gitu. Jadi strating yang paling bagus kan kayak gitu kan yang enggak mudah ditiru tadi. Mungkin kalau diibaratkan kapal Toyota itu adalah kapal pesiar yang sangat besar yang mungkin ada ombak-ombak kecil tidak mudah terpengaruh. Tapi bisa mungkin berbelok arahnya tidak reaktif, tidak cepat, tapi arah tujuannya itu jelas. Jelas pasti. ya game plannya udah terpitakan dengan sangat baik. itu yang lebih penting. Clarity tentang nih arena bermainnya ada di mana. Supaya saya bisa menang di situ, saya pakai Arsenalnya mana. Itu yang lebih penting dibandingkan kita jor-joran langsung hajar aja pokoknya masuk ke dalam satu tempat jualan semurah mungkin, dapetin market sebanyak mungkin. Apakah itu juga yang membuat walaupun ee Toyota juga ee banyak gitu ya, misalnya digempur dengan wah ini mobil lebih canggih, Wil murah tapi kenyataannya tetap penjualannya paling tinggi di Indonesia. Dan anteng aja kan kadang-kadang saya juga kadang-kadang nih gemes juga ya. Gua kan buat video kan tentang Toyota, tentang brand-brand mobil yang ada di dunia gitu. Wah, yang ini rame ini rame ini. Terus gua ada bilang ini kenapa Toyota kok anteng aja sih ni? Iya iya iya. Banyak banyak orang berpikir seperti itu. Apakah mereka cuek atau lagi tidur atau apa sih nih? Kan awalnya kan aku berpikir begitu kan Ternyata setelah aku kaji lagi, no no ini bukannya Toyota itu lagi tidur, bukannya Toyota lagi santai-santai atau Toyota lagi enggak ngeh bahwa di dunia itu berubah bukan. Nah, itu Toyota udah punya clarity, kejelasan bagaimana dia bermain di lokasi-lokasi tertentu. Itu yang ngebedain orang yang sudah dewasa sama anak remaja. Kebijaksanaannya kebijaksanaan. Kalau anak remaja gedebak-gedebuk gedebak-gedebuk semuanya mau diajar. Orang yang udah mature, udah matang, dia tenang, dia tahu situasinya kayak gimana. Dia, "Oh, yang ini pencet ini tet ini pencet ini tet tet." Jadi semuanya. Nah, kehadiran dari Velos Hybrid Electric Vehicle menurut Pak Indrawan ini adalah produk yang memang reaktif untuk menjawab eh tantangan dari para rival atau memang ini bagian dari strategi yang sudah dipersiapkan sejak lama? Yang menarik dari Toyota itu kan terkenal untuk melahirkan mobil sejuta umat ya. Yes. Velos adalah turunan dari sejuta umat. Apalagi sebelum Velos iya ya. Wah, pokoknya kalau urusan mobil sejuta umat Toyota lah gitu ya. Saya meyakini bahwa Velos hybrid EV ini akan jadi mobil hybrid sejuta umat di Indonesia. Mobil hybrid sejuta umat ya. Karena pada ee faktanya memang Velos Hybrid EV itu adalah MPV seater dengan teknologi hybrid yang paling terjangkau di Indonesia. Betul. Dan Indonesia kan sukanya yang gede-gede ya, yang kayak anak saya anaknya banyak gitu ya, harus seven seaters ya. I ahudah gitu terjangkau lagi. Nah, itu jadi tidak sembarang menjual EV, tapi EV yang benar-benar memang Indonesia banget. Iya. Iya. Itu dia. Oke, kita sudah mendekati ee akhir. Tapi saya ada pertanyaanlah. Strategi Toyota di Indonesia kita sudah bisa lihat ee seperti apa? Apakah itu berlaku juga untuk Toyota secara global? Karena saya yakin Pak Indrawan ini juga e wawasannya sampai ngelihat ke tingkat dunia. He yang multi pathway. Multi pathway strategy itu strategi bukan hanya untuk Indonesia tapi global. Cuman bedanya pathway nya Toyota di Indonesia akan berbeda dengan pathway-nya Toyota di Eropa, di Amerika, di tempat-tempat yang lain di China. Bahkan saya ada satu video ngomongin bagaimana kiprah Toyota di China. yang ternyata embracing rival-nya untuk ikut kerja sama building a new products bareng-bareng itu. Wow itu amazing banget dan itu dilakukan hanya di China. di Indonesia enggak dilakukan. Nah, di Amerika mungkin enggak dilakukan. So, ketika orang sudah tahu apa yang jadi kekuatannya dan tahu betul peta industri yang ada di setiap lokasi, mereka tuh kayak lu kok pas aja sih yang lu lakukan ya? I tahu aja lu masuknya lewat mana, yang ditaruh apa, mainnya gimana, yang itu enggak ketebak bagi yang lain. Nah, itu yang menurut aku membuat strateginya Toyota tuh akhirnya bagi saya jadi makes sense. Iya. Iya. Honestly, awal-awal itu bagi gua masih belum susah susah ditebak ini ke mana sih? Betul. Ini kok kayaknya kok nyantai aja sih ni dunia udah bergerak begini. Oh, ternyata gua jadi baru paham dan itu begitu gua udah paham itu very sense. Dan untuk dunia yang sekarang menurut gua sih personal opinion ya. Itu strategi yang sangat cerdas. Ada satu strategi lagi yang menarik dari Toyota. Di tengah banyaknya persaingan Toyota justru memilih untuk kolaborasi dengan sejumlah pabrikan lain di beberapa produknya. Nah, kolaborasi ini ini menunjukkan bahwa Toyota itu tidak punya kemampuan membuat mobil yang dimiliki oleh brand lain atau ini bagian dari strategi untuk ee merangkul dengan bersama-sama kita menjadi lebih kuat. Nah, itu pertanyaan yang bagus dia. Bahkan ee bukan hanya dia kolaborasi dengan pabrikan yang saudaraan bahkan rivalnya yang rivalnya itu juga bikin mobil juga yang bersaing juga di industri. Bahkan dari ee benua yang berbeda juga ee kolaborasi. Betul. Betul. Itu aku ngangkat tuh satu video saya. Nah, kemudian saya coba mikir kok bisa gitu? Karena kalau kita tarik ke emoricalnya Toyota yang very pride tentang teknologinya sendiri, capability-nya sendiri, terus tiba-tiba membuka dirinya untuk kolaborasi, bahkan memasukkan teknologi orang ke dalamnya. Wah, kayaknya nih enggak mungkin deh. And yet kenyataannya iya sekarang. Iya. Artinya Toyota di usianya yang sudah sangat mature ini sudah lebih bijak. Betul untuk menyadari bahwa yang paling Customer oriented is a betul customer centricity. ketika dia sadar kalau saya ingin ngasih value yang tertinggi pada customerku sehingga di saat yang sama aku kalau maksain diri ngembangin teknologi itu sendiri butuh waktu lama belum mungkin biayanya jadi lebih mahal betul akhirnya kan kasihan customer gua kan udah lebih lama nunggunya dapat biaya yang lebih mahal ya sudah deh gua membuka diri gua, gua melepas ego gua, gua rangkul bukan hanya teman-teman gua termasuk pesaing gua dan siapa yang tidak merasa terhormat dirangkul oleh Toyota Demi apa? Demi si kas teman teman. Jadi tuyu Toyotanya itu tuh itu itu sebenarnya alasan kolaborasinya itu terbukti. Kalau enggak kan ya perusahaan segede gini pasti egonya gede ya. Ini ngebuka diri. Wah itu keren itu bukti majurity-nya Toyota. Nah oke sekarang balik lagi ke tema awal. Sekarang untuk konsumen kita tahu bahwa brand Toyota adalah brand yang memberikan peace of mind dengan sejarah yang panjang dengan ee strategi yang memang bertumpu pada kebutuhan konsumen. banyak sekali produk Toyota. Heeh. Tipsnya dong dari Pak Indrawan, memilih produk Toyota yang mana yang tepat untuk kita? Oke, kan kita enggak usah bahas tentang kehandalan udah udah yang mana nih? Tinggal pilih yang mana. Iya, tinggal pilih aja ya belinya di mana? sudah pilih aman semuanya satu Indonesia sudah aman. Maka akhirnya comes down berujung kepada cuma satu kalau bagi saya konteks Mas ya. Konteks misalnya oke karena tadi ya karena aku butuh suatu mobil yang satu keluarga bisa aku pakai konteks itu bisa dibilang kebutuhan. Iya kebutuhan kebutuhan ya. Konteks mobil itu dipakai untuk apa? Nah kan ya sebagian dari kita punya mobil lebih dari satu. Ada yang satu ini gua cuman pakai ke kantor bolak-balik doang ya udahlah dan gua nyetir sendiri. Berarti kan nyari apa? I nyari yang bawaannya enak, empuk ya c begitu gua keluarga gua banyak gua suka jalan-jalan keluar kota bareng-bareng ya harus yang gede makanya saya beli yang fortuner tadi ya. Nah, so ketika kita sudah tahu bahwa ada satu brand yang give you peace of peace of mind pemikiran yang lebih tenang. Tahu bahwa handal, tahu bahwa jaringannya sudah luas, maka keputusannya jadi sesederhana. Iya. Mailih varian yang mana, produk yang mana, brandnya udah kunci proven ya? Udah proven kunci aja udah gua pokoknya maunya brand itu. tinggal mau yang mana. Nah, kan Toyota punya banyak. Tinggal aja. Nah, oke. Lu mau beli mobil untuk apa sih? Oh, gua mau jalan-jalan berdua sama istri doang. Pacaran berdua sama istri. Ya udah cari yang berdua-duaan aja deh sama keluarga gitu. Yang agak sport dikit ada gitu. Saya butuhnya Fortuner. Hm. Tapi penginnya jari. Pilihnya gimana tuh? Enggak usah milih kan beli dua-duanya. Jangan. Jangan. Misalnya kita harus bisa memilih. Harus termasa milih. Oh, enggak. Ini buat konsumen. Aduh, Pak Indrawan ee senang sekali merasa terhormat. Ee rasanya masih banyak lagi yang kita bisa omongin tentang dunia ee otomotif ke depannya baik mikro maupun makro. Tapi terima kasih atas kehadirannya untuk podcast pertama Auto Driver ini dan yang dilakukan dari Toyota Rangga yang ee dimiliki oleh Auto Driver ini. Toyota Rangga Ramo Podcast, Rangga Mobile Podcast, dan kita juga spesial di tempat lahirnya Rangga di boot Toyota ini di Gjaw. Terima kasih banyak sekali lagi. Sukses terus Pak Indrawan. Jangan lupa Anda klik like bila menyukai video ini, komentar di bawah dan subscribe ke channel Auto Driver jika Anda belum. follow Instagram kami dan keterangan lebih lanjut mengenai Toyota, Anda bisa follow Instagram-nya Toyota ID dan ini ada Instagram-nya Pak Indra Nugroho untuk membuka pikiran kita lebih luas lagi wawasan kita ke sampai ke level global. Terima kasih banyak Anda sudah menyaksikan. Sampai jumpa di video selanjutnya. Bye bye.
