TRANSSION BIKIN ULAH LAGI! - Review iTel RS4 (YouTube Video)
Jadi sebenarnya, dari awal kita nggak begitu tertarik nge-review hape ini. Tapi karena viral banget dan rame banget yang minta kita nge-review hape ini, jadi ya kita pun ikut penasaran, kenapa sih hape ini banyak banget yang request, dan akhirnya kita beli. Dan inilah yang saya rasain selama dua minggu pakai iTel RS4 sebagai daily driver. Mouldie : Berapa 2 minggu? Belom bang, hehe Ada di depan sih, jatuh sekali. Serius gua... Mouldie : Tau ah! Gatau!! Ini lecet sedikit, gapapa kok belum pecah. Eh maksudnya nggak pecah gitu. Banyak yang bilang, nggak mungkin menjadikan hape low-end sebagai daily driver para reviewer. Saya mau kasih tahu kalian sob, kalau sebenarnya daily driver saya adalah hape yang sedang di review. Sementara hape kedua saya adalah iPhone 13 Pro Max, yang udah 2 tahun nggak ganti-ganti. Alasan menjadikan hape review sebagai daily driver adalah, untuk cari tahu bagaimana rasanya menggunakan si hape tersebut. Dan setelah itu, saya baru bisa bercerita ke kalian apa yang saya rasakan waktu saya menggunakan hape yang sedang saya review. Kalau boleh jujur, menurut saya hape ini tuh biasa aja gitu, baik secara visual maupun experience waktu dipakai. Semua kerasa biasa aja khas hape-hape mid-range. Tapi perasaan biasa itu mendadak jadi luar biasa, karena ternyata hape ini masuk ke kelas entry level. Iya, kalian nggak salah denger. Hape ini masuk ke kelas entry level. Menurut saya karena harganya ada di kisaran 1.5 juta lebih sedikit, dan tidak mendekati 2 juta gitu. Dengan harga segini, kalian dapatkan semua hal yang normalnya ada di hape mid-range. Tadinya saya berpikir, infinix yang paling gak masuk akal, karena bisa bawa sebuah smartphone dengan harga 2 juta kurang, tapi pakai spesifikasi yang normalnya ada di hape 2 juta. Ternyata saudaranya, si iTel ini lebih sinting lagi sob. Coba kalian bayangin, bagaimana ceritanya ada hape kayak gini dijual dengan harga 1,7 juta? Sangat nggak lazim dan sangat nggak masuk akal! Bingung? Oke, saya kasih sedikit gambaran. Dengan harga 1.690.000, kalian akan mendapatkan sebuah smartphone yang desainnya lumayan oke, dengan finishing guratan-guratan plus frame kamera yang membulat ya kayak hape mahal lah minimal. Ya walaupun terlihat mahal, itu hanya kelihatannya aja. Karena saat kalian pegang dan lihat lebih detail, hape ini benar-benar menipu ya. Feel murahnya masih sangat terasa, terutama saat kita pegang framenya yang berbahan plastik. Dan hape ini semakin terasa murahan saat kita sentuh layar yang dilapisi anti gores, yang sekali lagi sangat terasa murahan. Segala macam bentuk minyak nempel di layar hape ini, karena anti gores bawaannya tidak punya lapisan oleophobic coating. Ada minyaknya bang? Ada bang... Mouldie : Hati-hati bang sama Amerika! Astaghfirullahaladzim, takut diinvasi ya bang? Dan kalau kalian lihat dari dekat kameranya, saya jamin kalian akan senyum- senyum sendiri ya hehehe. Karena kamera yang awalnya terlihat 3 buah, ternyata hanya 2 buah aja, yang satu lagi kamera bohongan ya, ya biasalah kebiasaan buruk hape-hape dari Tiongkok. Selain feel murah yang tidak bisa disembunyikan, beberapa ornamen juga terlihat cukup norak ya. Hehehe seperti tulisan RS, emang mobil ada air ESnya dan tulisan SUPER di bagian belakang. Warnanya hitam ya, jadi tulisan SUPER-nya gak kelihatan atau agak-agak samar gitu. Kalau kita lihat dari depan justru terlihat SUPER-nya ga begitu kelihatan, kecuali kalau kita lihat agak menyamping, baru tuh kelihatan tulisannya. Kalau kalian lihat bagian atas hape ini, terlihat ada sebuah grill speaker, yang tadinya saya nggak percaya kalau ini speaker sob. Yakali hape satu setengah juta punya dual speaker!? Tapi begitu saya coba setel YouTube, si bangsat ini beneran punya dual speaker sob! Kemarin saya baru aja nge- review Oppo Reno11 Pro 5G yang harganya hampir 9 juta, dan kalian tahu nggak? Hape tersebut cuma punya satu buah speaker. Kalau kalian berniat pingin nge-roasting hape Oppo tersebut, nggak perlu beli hape mahal-mahal! Cukup beli hape ini aja, dijamin materi roastingnya akan semakin banyak sob. Mau tahu apa lagi yang gila dari hape ini? Tentu aja ada di layar! Memang, hape 1.5 jutaan ini belum pakai panel AMOLED, masih IPS. Tapi dia udah punya adaptive refresh sampai 120hz. Ini transition group memang benar-benar kacau, merusak standar hape murah yang setengah mati udah dibangun sama Dinasti Xiaomi dan Realme. Sekarang mereka sekonyong- konyong bikin standar baru, yang lebih stress dan mungkin berat untuk diikuti oleh Xiaomi dan realme, 2 brand yang dulu sukses membuat standar baru sebuah hape terjangkau. Kalau dibilang layarnya bagus banget, tentu aja nggak. Namanya juga hape satu jutaan, emang kalian ngarepin apa sih? Selain layarnya yang kerasa murahan karena feel di sentuhnya nggak enak akibat anti gores bawaannya yang berasa kayak anti gores 5 ribuan, respon dari layar hape ini cukup tidak mengecewakan, karena responnya cukup baik ya, ya walaupun saya masih bisa merasakan apa namanya micro delay waktu saya gunakan untuk bermain real drum. Tapi, segini aja udah sangat bagus menurut saya. Warna yang diproduksi layar hape ini lumayan oke, tentu saja tidak hadir dengan fitur HDR, dan tingkat kecerahannya juga nggak tinggi-tinggi amat. Brightnesnya hanya ada di kisaran 400 nits ke atas dikit. Untuk penggunaan indoor, tentu aja tidak akan ada masalah. Tapi kalau kita pakai outdoor, butuh usaha ekstra untuk melihat dengan jelas apa yang ditampilkan oleh layar di hape ini. oleh layar di hape ini adalah sudah digunakannya helio g99, yang terakhir kita temukan di infinix Smart 8 pro, yang harganya cuma 2 jutaan kurang sedikit. Tapi rekor tersebut sekarang dipecahkan oleh iTel RS4, dengan harga 1,7 juta aja. Percaya atau nggak, G99 bukan tipikal soc performa yang ngebut banget, tapi seri ini memang dikhususkan untuk smartphone gaming menengah. Artinya, untuk penggunaan casual dia sudah sangat nyaman menurut saya. Dan percaya atau nggak, belum lama ini ada sebuah brand ngerilis hape yang harganya 2 juta lebih, tapi dia masih pakai soc Helio G85. Kalian tahu nggak sih, kalau Helio G85 ini pertama diluncurkan tahun 2020, 4 tahun lalu. Dan dia masih menggunakan proses fabrikasi 12nm. Saya nggak akan panjang lebar jelasin bagaimana performa hape ini, karena mungkin sebagian dari kalian sudah tahu bagaimana Helio G99 bekerja. Yang pasti, selama saya pakai hape ini, jujur untuk performa, saya tidak menemukan kendala yang berarti, dan sejauh ini nyaman-nyaman aja. Varian termurah hape ini punya storage sebesar 128GB dan sudah menggunakan UFS 2.2. Performa storage di hape ini jauh lebih ngebut, daripada hape yang baru rilis kemarin, yang masih nekat ngasih eMMC, dengan kemampuan baca tulis tiga kali lebih lambat daripada hape ini. Kok bisa? Varian terendah hape ini punya RAM sebesar 8GB, yang bisa kita extend sampai 16GB. Dan menurut saya, RAM sebesar ini sudah lebih dari cukup ya. Hape murah ini juga punya beberapa fitur essential, seperti NFC. Ke-ABSURD-an hape ini ga cuma sampe situ sob. iTel RS4 punya baterai sebesar 5000 mAh, dengan dukungan fast charging 45W! Hehe, komedi macam apa ini? hehe. Bagaimana mungkin, hape dengan harga segini punya fast charging 45W! Apakah iTel dapat subsidi dari pemerintah, untuk menjual hape ini? Kayaknya subsidi pertalite dialihkan ke sini hehehe. Dan nggak cuma itu gilanya, hape 1 jutaan ini punya fitur bypass charging, fitur memungkinkan daya yang masuk dari kabel charging di bypass tanpa harus melewati baterai terlebih dahulu. Dan fitur ini lazimnya masih ada di hape-hape flagship kayak ROG Phone. Tadi saya sudah bilang kalau hape ini punya setup dual speaker. Ya, speakernya ada dua dan stereo di bagian kiri dan kanan. Tapi kalau ngomongin soal kualitas, saya nggak bisa cerita banyak ya karena, di kuping saya, speakernya cempreng dan agak nusuk waktu volume di mentokin. Tapi ya udahlah ya, hape sejutaan punya dual speaker aja udah ga masuk akal menurut saya. Sensor biometrik di hape ini juga komplit, mulai dari face unlock sampai fingerprint scanner yang menyatu dengan tombol power. Untuk sistem operasinya, dia menggunakan Android 13 yang tentu saja, jaminan updatenya masih jadi misteri. Karena salah satu konsekuensi beli hape murah adalah tidak terjamin update software, dan sebagian besar dari brand juga biasanya cuma ngasih janji manis doang, bilang akan dapat update sampai 2-3 tahun ke depan lah, tapi ternyata tahun berikutnya mereka lupa sama janji mereka dan sibuk sama Smartphone baru mereka. Persis nih sama pemerintah yang suka janji Manis pas kampanye, tapi pas sudah menjabat… amnesia mereka. Mouldie : Ini pemerintah yang lain ya, negara lain... Indonesia mah baik-baik semua. Mantap Indonesia mah! Demokratis sekali, pemilunya jujur kemarin, mantap! Terakhir soal kamera. Di awal, saya sebut hape ini bukan punya 3 kamera ya, tapi hanya dua kamera aja. Dan sekarang saya mau revisi lagi sob, karena walaupun terlihat ada dua kamera, yang teridentifikasi hanya satu kamera. Yaitu kamera utama beresolusi 50MP, sementara kamera kedua ini masih jadi misteri ya. Mungkin akan terpecahkan oleh para arkeolog, 50 tahun ke depan. Untuk kualitas kameranya, Saya nggak bisa bilang kalau hasil foto yang ditangkap oleh hape ini punya kualitas yang bagus ya, tapi sudah lumayan. Cukup oke, terutama untuk kondisi cukup cahaya ya. Saya bilang oke, karena memang… ya untuk harga satu juta, udah cukup bagus sih menurut saya. Tapi kita tetap tidak bisa berharap lebih, karena kalau kita lihat warnanya agak pucat dengan detail yang nggak tajam-tajem amat gitu. Kalau kalian berharap mendapatkan detail lebih banyak, mungkin kalian bisa mencoba mengaktifkan resolusi penuh di 50MP. Saya sudah sempat coba dan membandingkan-nya. Ternyata memang, detailnya sedikit lebih baik dibandingkan foto defaultnya yang ditangkap di resolusi 12MP. Permasalahannya adalah, saat kalian posting foto 50MP tersebut ke media sosial, tentu saja terjadi proses kompresi oleh platform media sosial tersebut, yang pada akhirnya detail tersebut tetap akan memudar. Kamera depannya beresolusi 8 megapixel dengan kualitas yang cukup saya mau pakai kata burik tapi nanti saya diomelin sama Mouldie lagi, hmm cukup kurang bagus gitu hihihi. Tapi tidak bisa kita komplain, mengingat sudah sangat banyak hal yang dikasih sama itel di hape ini, jadi kualitas kamera depannya sedikit termaafkan, hehe. Ini saya merekam menggunakan Itel RS4 sebuah smartphone entrial fenomenal karena menggunakan hardware yang normalnya ada di harga 2 jutaan. Yang penting bisa merekam video dikamera depan hingga resolusi full HD 30 fps dan lebih kerennya lagi hape ini bisa merekam video, lewat kamera depan dengan cukup stabil tapi sekarang saya ngerekam pakai mode tanpa stabilizer yang mana feel of viewnya lebih lebar jadi muka saya lebih, lebih masuk semua gitu, nah kalau si stabilizernya dihidupkan dia otomatis akan ngecrop, dan vocal lengthnya jadi lebih sempit, contohnya seperti ini. Ini dikondisi stabilizer saya hidupkan jadi posisinya lebih stabil ga banyak berguncang kalaupun kalau saya harus jalan dia terlihat lebih minim guncangan dibandingkan yang tadi yang pertama. Harga 1,7 juta, kualitas video depannya menurut saya sudah lebih dari cukup, bahkan, bisa dibilang bagus, lumayan oke. Khususnya karena dia punya stabilizer EIS electrical 5 stabilizer atau stabilizer secara software. At the overall sudah sangat memuaskan, 1,7 juta coy, ini murah banget. Dan 1,7 juta bisa merekam video hingga resolusi 2k kayaknya hampir semua handphone dari transion grup bisa merekam video sampai resolusi 2k hehehe. Kualitasnya bagus menurut saya, seperti yang kalian lihat sekarang dan dia sama seperti kamera depan tadi bahwa dia punya stabilizer yang mana kalau stabilizernya kalau diaktifkan video akan lebih ngecrop. Kualitas dynamic rangenya seperti yang kalian lihat sekarang, kualitas audionya seperti yang kalian denger sekarang. Bagaimana menurut kalian apakah bagus? Hehe, menurut saya hmm, gimana ya 1,7 juta gitu dikasih begini aja udah harusnya bersyukur gitu tapi ini tuh ngasih lebih dari yang saya harapkan sebenernya 1,7 juta, hmm parahlah emang ini transion grup, suka bercanda anda ya. Nah, saat stabilizernya dihidupkan, maksimal resolusi yang bisa kita pakai hanya di full HD, ngga bisa di 2k. Jadi, kalau stabilizernya mati kita bisa pakai 2k tapi kalau stabilizernya dihidupkan, dia akan nurun ke full HD dan terlihat vocal lengthnya lebih ngecrop muka saya lebih deket dari kamera dibandingkan saat menggunakan tanpa stabilizer. Jadi apakah hape ini layak untuk dibeli? Kalau ada yang bilang bahwa hape ini tidak layak untuk dibeli, saya yakin dia punya masalah pribadi sama brand ini. Satu jutaan dapetin banyak hal di hape ini, adalah sebuah keberuntungan buat konsumen menurut saya. Yang perlu kalian lakukan adalah bersyukur sob, nggak usah banding-bandingin sama hape lain lah, dan juga nggak usah memaksakan asumsi negatif kalian kepada orang lain. Kalau nggak suka, ya udah nggak usah dibeli! Tau ga kenapa hape ini dikasih nama RS4, sejutaan dapat banyak, sakit ga? Iya, makanya harus masuk ke RS, hehehe... gw ga siap anjir kok beloknya jauh banget ya Bang?
