Jungkat

Trip to Wonosobo - Dieng | Shot on vivo X300 Ultra (YouTube Video)

  • 27/05/2026

Ketika dunia masih terlelap dalam dingin, fajar perlahan bangkit di atas awan. Dieng, negeri sunyi yang dijaga oleh waktu. Kabut menari di antara pegunungan. [musik] Air memantulkan warna langit. Dan bumi berbisik lewat hembusan angin yang tenang. Di sini, alam dan manusia hidup dalam harmoni di bawah nafas gunung yang abadi. Ini bukan [musik] sekedar tempat untuk dikunjungi. Ini adalah pelarian. Sekolong surga yang tertinggal di bumi [musik] Wonosobo. Hai semuanya, ketemu lagi sama gua Fahmi dan di video kali ini kita bakalan hunting foto, hunting video menggunakan smartphone yang paling kamera sentris di Indonesia. Yes, ini dia Vivo X300 Ultra. Tapi mungkin video ini tuh bakalan panjang banget karena gua bakal ceritain satu persatu fiturnya seperti apa aja, semoga enggak ada yang kelewat ya. Dan biar makin seru, kita bakalan vlog juga, tapi vlognya itu bakal dibawain langsung sama Elika. El? Hai. Udah lama enggak ketemu sama Elika nih. Kita bakalan hunting Milky Way. Yes. Dan nanti vlognya langsung dibawain sama Elika ya. Yuk. Let's go. Hai guys, kita udah mau sampai di Dieng, ya akhirnya. Cuman kita berhenti sebentar karena di belakang kita ada sunset. Ini dia handphone yang bakal kita pakai buat motret. Mau nanya nih, desainnya menurut Bang Fahmi gimana? Bahasa desainnya sih sebenarnya masih sama ya, bahasa desain yang kamera sentris banget. Oke. buletan yang sangat besar nih di bagian kameranya, yang menandakan kalau sensornya itu di dalamnya gede-gede banget. Jadi dari ultra wide, main kamera, sama telefotonya itu sensor prime lens. Dan build quality-nya juga ini solid banget, button-buttonnya solid, bahannya premium. Warnanya apalagi yang warna hijau ini oke ya, keren banget ya. Terus dia juga sudah punya IP rating yang lengkap, IP 68 dan juga IP 69. Kalau yang hitam nih yang Elika pegang, ini namanya red ring design. Jadi kalau diperhatiin tuh di bagian frame kameranya Ada list merah ya, cakep banget ya. Heeh. Nah kalau yang ini yang film green namanya, ini classic split design. Sampai di Dieng sudah malam nih, sekitar jam 08.00. Sebelum gas hunting milky way di Gardu Pandang, kita kulineran dulu di nasi [musik] goreng pertelon. Legend banget nih guys, di titik 0 Dieng. Kita akhirnya sampai di Gardu Pandang Dieng dan kita mau take astrophotography-nya. Di situ ada Bang Fahmi sama Bang Abel lagi cobain foto. Nanti kita coba lihat hasilnya ya. Oke, jadi ini bagian favorit gua yaitu [musik] motret milky way. Nah kalau motret milky way, kita tuh harus ada di tempat yang gelap, minim polusi cahaya. Dan yang pasti tuh harus punya lensa ultra wide. Dan lensa ultra wide yang keren di HP itu cuma ada di Vivo [musik] X 300 ultra. Sekarang kita lanjut ke setting-an untuk motretnya. Nah, untuk setting-annya kita pakai mode yang landscape. Nah, di sini kalau pakai mode yang manual yang pro ini kan ada dua ya, ada mode auto [musik] dan mode pro. Kalau pakai yang mode pro kita pakai lensa yang 14 mili supaya kita kelihatan view gunungnya dan juga Milky Way-nya. Nah, di sini kita ada setting-an fokusnya itu di 0,86. [musik] Setting shutter speed-nya shutter speed-nya biasa di 20 detik. Dan untuk ISO-nya itu di [musik] 2.000. Mungkin kalau areanya lebih gelap ini kan masih banyak ada lampu ya, kita bisa pakai ISO [musik] yang lebih tinggi lagi. Nah, untuk yang mode auto-nya buat yang enggak mau ribet sama setting-an itu juga bisa ya dari sini dia otomatis langsung masuk ke night mode karena dia langsung ngarahin ke sini nih ke tripod mode shot dalam waktu 55 detik. Nah, di mode landscape ini ada mode namanya astro portrait yang memungkinkan lo bisa motret bareng sama alam semesta. Kalian masuk ke landscape mode, caranya tinggal pilih aja astro portrait. Nah, di situ pastiin subjek itu berada di [musik] 1 sampai 2,5 meter. Nanti pada saat dipencet shutter-nya dia bakal menyala otomatis flashlight-nya buat nerangin [musik] subjeknya dan habis itu motret yang bagian ah bintang-bintangnya. Nah, hasilnya nih bakalan seperti ini nih. Lihat nih hasilnya nih. Nah, kalau masih belum puas di mode landscape itu ada namanya mode interval. Nah, interval ini biasa dipakai untuk membuat time lapse Milky [musik] Way. Nah, untuk akses interval nih di mode landscape kalian harus ke mode pro-nya dulu nih seperti ini. Nanti tinggal pilih menu yang ini. Nah, pilih interval shooting. Nah, tinggal diaktifin aja. Dari sini kalian bisa set ya frame-nya berapa, seberapa banyak [musik] kalian motret. Kalau frame-nya makin banyak berarti waktu yang diambil tuh makin banyak. Nah, kalau di sini gua nyontohinnya adalah 200 ya, 200 frame dengan intervalnya ini 1 detik aja. Jadi, antar frame-nya dia cuma jeda 1 detik doang. Oke, Guys, kita sudah selesai foto Milky Way-nya karena bulannya sudah naik. Jadi, Milky Way-nya juga sudah enggak terlalu kelihatan. Sekarang juga sudah jam 02.00. Kita perlu istirahat sebentar sebelum nanti kita naik Bukit Sikunir buat sunrise. Sudah kedinginan, Guys. Hai, Guys, kita sudah sampai di basecamp Sikunir. Dan lihat tuh, sudah pada kedinginan semua. Mau lihat sunrise. Tadi sih waktu di basecamp, di bawah dijelasin sama Mas-masnya. Katanya jalannya cuma 8 menit kalau dia yang jalan. Kita baru nyampe sini aja ngos-ngosan. Langitnya sudah keluar tuh orange-nya. Mantap surantap. [tertawa] Hah. Dengan mengeluarkan segenap kekuatan nih akhirnya kita nyampe juga di puncak 1 Sikunir, Guys. Yang tadinya capek pakai banget, begitu melihat sunrise yang memerah di seluas mata memandang rasa capeknya sih langsung hilang, gila. Keren banget sunrise-nya. Akhirnya guys kita sampai di pos 2. Hmm, gila view-nya sih cakep banget. Oke guys, jadi dari tadi gue itu nge-vlog pakai kamera depannya Vivo X300 Ultra. Resolusinya itu udah di 4K 60 FPS dan lebar banget ya buat nge-vlog enak banget di 24 mm. Lihat nih. Ukuran layar HP ini 6,82 inci, LTPO AMOLED 144 Hz, Dolby HDR dan resolusinya udah 2K. Proteksi Armor Glass terus punya fingerprint ultrasonic 2.0 yang ngebut banget. Kalau dipakai di kondisi outdoor sih aman, udah pasti jelas clear. Terus ada tiga opsi kalibrasi warna, natural by default, professional dan bright for vivid. Set up kamera Vivo X300 Ultra ini memang ngikutin standar kamera-kamera gede profesional ya. Kalau dilihat-lihat ini, ini pakainya prime lens. Focal length-nya 14 mm, 35 mm sama 85 mm. Nah, tapi kan ribet ya kalau kemana-mana tuh bawa tiga lensa sekaligus. Nah, dengan Vivo X300 Ultra ini lu udah punya tiga lensa sekaligus langsung di HP ini. Nah, yang 14 mm-nya itu bisa dipakai buat wide landscape, astrophotography dan untuk yang 35 mm-nya itu biasa dipakai untuk dokumenter, untuk street photography, untuk portrait juga bisa. Nah, yang 85mm-nya itu kepakai banget buat portrait, terus buat product shot, buat macro, dan buat long range zoom. Nah, yang gue suka adalah ketiganya ini punya sensor yang gede-gede semua. 14mm-nya itu Sony LYTIA 818, sensor 1/1.28, 50 MP ada optical image stabilizer. 35mm-nya Sony sensor 1/1.12, 200 MP ada optical image stabilizer-nya juga. Dan telephoto-nya ini 85mm HPO, sensor 1/1.4, 200 MP dengan 3 degree gimbal grade OIS buat stabilizer-nya. Yang mantap banget buat dipakai untuk telephoto. Menurut gue ini setup kamera yang perfect ya. Kamera bisa dibilang perfect itu maksudnya gimana ya? Menurut Bang Fahmi itu maksudnya gimana sih kok bisa setting kamera seperfect ini tuh gimana? Jadi, sebenarnya di kamera smartphone itu kamera utama sama kamera telephoto-nya itu udah fix ya, rata-rata tuh udah pada bagus sensornya gede-gede semua. Nah, ultrawide ini jarang kena upgrade. Nah, cuma Vivo doang yang mau perhatiin kamera ultrawide-nya ini dengan sensor yang besar. Jadi, menurut gue ini wajib kita apresiasi, khususnya untuk para landscaper, astrophotographer. Nah, menurut gue ya, aplikasi sosial media Instagram itu udah paling terkenal di kalangan Gen Z. Iya dong, Gen Z. Kita juga masih Gen Z kan, masih pakai kita. Bener-bener. Nah, di handphone ini itu udah support akses kamera ultrawide di Instagram-nya langsung. Direct. Direct, gila keren banget. Terus ada enggak ada? Ada stabilizer-nya juga, tapi stabilizer-nya masih by optical image stabilizer-nya ya, bawaannya dari Nah, Menurut gue itu udah sebuah kemajuan yang sangat keren untuk sebuah smartphone flagship-nya Vivo. Kita udah selesai dari Bukit Sikunir, Dieng. Dan tadi foto-fotonya sih banyak banget, Guys. Keren-keren banget liat tuh mereka. Dan kita mau istirahat kali ya. He eh. Foto-fotonya nanti biar Bang Fahmi aja yang pilih. Aduh, pusing. Terus Mamang yang edit sama Abang Abel. Jadi porter gua. Iya loh, jadi porter gila-gila, goskil. Jadi gimana kalau porter tuh? Jadi porter, jadi porter. Jadi porter. Udah puasan di Bukit Sikunir, kita turun dan istirahat buat persiapan nanti malam take off, Guys, ke Gunung Bismo. Hehehe, enggak deh yang kita nge-camp. Kayaknya enggak kuat deh kalau take off. Eh, malam ini kita mau naik ke Bismo. So, iya ya. Kita mau nge-camp di atas. Dan akhirnya kita udah sampai nih di basecamp Gunung Bismo via Sikunang. Kita mau hunting Milky Way, sekaligus mau nge-camp di sana. Jadi besok pagi bisa hunting sunrise lagi. Sekarang jam 09.00. Eh, harusnya sih ya nyampe di sana 30 menit nyampe kali ya, Mang? 09.30. Bisa, bisa. Ah, ah. Enggak, enggak. Kayaknya kita enggak bisa. Berangkat dari basecamp Sikunang sekitar jam 10.00 malam. Sebenarnya sih bisa naik ojek nih sampai pos 2. Tapi masa ke gunung naik ojek? Apa itu ojek? Oke, Guys. Kita jadi mulai start naik ojek dari pos 1 Sikunang. Sikunang ya, Kang? Iya, Sikunang. Pos 1 Sikunang kita naik ojek sampai ke pos 2. Guys, jadi kita sudah sampai di pos 2. Dari pos 2 berapa pos lagi, Kang? Tinggal 1. 1 pos lagi? Pos 3, iya. Pos 3 dan langsung ke puncak ya? Puncak. Dari pos 2 lanjut tracking ke puncak Bismo. Karena kita basic-nya sebagai pendaki culture ya, Guys [musik] ya. Lumayan cukup capek nih naik gunung Bismo. Dikit-dikit berhenti, dikit-dikit foto, dikit-dikit napas. Ya ampun. Ditambah lagi cuacanya dingin dan anginnya itu kencang banget, Guys. Oke, finally pos 3, Me. Heeh. Gimana? Kak, kondisi lu, Me? Kondisi masih aman. Aman? Coba kita lihat Elika. Yah. Aman, Neng? Mang? Aman. Kalem sih dia. Anjir. Walaupun dengan penuh perjuangan, tapi begitu melihat ke atas, wah langitnya cerah banget. Bintang-bintangnya juga terlihat jelas bertebaran di mana-mana. Langsung deh [musik] semangat pengen cepat-cepat nyampe puncak. Gimana, gimana? Elika gimana, Elika? Gimana? Finally. Oksil. Anginnya. Uhuy. Ngeres ah. Ah. Ngeres lu kita ya. Kita sudah sampai di puncak Nemu-Nemu. Gila, keren banget, Guys. Sampai di puncak enggak ada basa-basinya, Guys. Langsung pada pasang tripod [musik] dan porter yang nemenin kita juga langsung didiriin tenda. Dan wow, hasil jepretan Milky Way dari Gunung Bisma sih benar-benar keren banget. Itu ya si Gunung Sindoro, si Gunung Sumbing dan di atasnya ada Milky Way. Parah sih, cakep banget. Kayak foto yang ini nih. Eh, keren banget ini sih favorit gue. Karena gue sama mamang nih begadang sampai jam 02.00 pagi. [musik] Tapi sayangnya Milky Way-nya tuh udah di atas. Jadi enggak dapat foreground gunungnya. Cuman tetap keren kok. Udah puas nih motret Milky Way, kita akhirnya istirahat buat lanjut sunrise. Nah, yang jadi game changer di HP Vivo ini adalah color palette sih menurut gue ya. Karena opsinya banyak banget. Ada yang natural, ada yang texture, ada yang cinematic dan lu juga bisa bikin eh, ala-ala film analog gitu. Jadi bisa bikin sendiri, customize sendiri color palette-nya tuh bakal seperti apa. Yang menurut gue ini bakalan banyak yang pakai. Dan yang paling asyik ya karena ini ada dukungan untuk komunitas juga. Nanti untuk komunitas pengguna smartphone [musik] Vivo X100 Ultra. Jadi, lu bisa sharing preset lu dari foto ataupun video itu langsung jadi QR code, tinggal di-scan doang, itu bisa di-share ke sesama penggunanya. Tapi, itu bukan cuma di foto aja ya, di video juga bisa lu bikin color palet sendiri. Jadi, bisa di-customize sendiri mau ala-ala sinematik lu sendiri, bisa juga. Langsung aja kita cobain yuk. L, kita rekam. Kalau lu enggak mau ribet sama kayak gue yang setting manual itu susah, ya tinggal pakai auto aja. Filternya juga udah banyak. Lu tinggal rekam, langsung jadi. Simple. Sebelum kita masuk ke bagian kamera lagi, kita selingin dulu ya sama bagian speknya Vivo X100 Ultra ini dia udah pakai Snapdragon 8 Elite Gen 5 karena dia yang Ultra. Terus ditambah lagi ada chipset juga satu lagi adalah eh untuk processing image [musik] namanya V1 Plus. Jadi udah diduetin sama itu dan RAM-nya itu 16 giga. Pilihan storage-nya ada yang 512, ada yang 1 terabyte. Terus dia juga udah ada liquid cooling vapor chamber-nya juga. Jadi lebih aman buat digeber main game biar rata kanan. Di bagian software ini juga udah jos ya Origin OS 6 Android 16 latest security patch ya. Fitur AI juga banyak namanya juga HP flagship dengan Origin OS yang global ini menurut gua udah cukup sih ya. Karena gua tahun kemarin tuh udah ngincer X200 Ultra tapi enggak jadi launch global. OS-nya juga jadi enggak global. Nah, yang sekarang ini X300 Ultra dia udah rilis global, OS-nya global resmi juga di [musik] Indonesia. Huh. Gila cakep banget lihat tuh. Awan di atas gunung. Cakep banget sih ini sunrise-nya cakep banget. BTW ya, kita tuh lagi di puncak Nemu-Nemu Gunung Bisma. Ini tapi Gunung Bisma tuh kenapa ya cakep banget ya? He eh. Sama anginnya nih kenceng banget ya. Iya di kiri kanan gunung, angin kenceng. Jadi ini rambut terbang-terbang. kenceng anginnya. Mendingan kita langsung take video 4K 120 FPS pakai Vivo X300 Ultra yuk. Dan yang paling utama dari Vivo X300 Ultra ini adalah kemampuan perekaman videonya. So, kalian udah nikmatin ya dari awal video ini hampir semua footage yang kita buat itu pakai HP ini. Di atas kertas perekaman videonya tuh ada maksimal ya 4K 120 FPS bukan cuma di kamera utama tapi 4K 120 FPS ini ada di ultra wide-nya. Bisa rekam 10 bit log. Ini the one and only ya untuk sebuah smartphone flagship enggak ada lawannya di end. Perekaman video 60 FPS di kondisi yang daylight, lowlight hasilnya luar biasa bagus ditambah lagi main kameranya 35 mm bikin video yang natural. Tele fotonya pun punya bukaan yang gede di 2.6 punya yang lumayan gurih dilihatnya. Ini sudah kayak pakai kamera gede-gede, lensa gede-gede, kacau dah. Kuncinya ada di mode pro videonya ini dengan interface serba manual kayak aplikasi kamera profesional dari Blackmagic [musik] bisa lebih leluasa dalam ngambil footage, shutter speed-nya, ISO-nya sampai ke opsi lock dengan codec APV juga support. Pilihan LUT yang ditawarin juga banyak, ada beberapa yang langsung bisa di preview langsung ke interface kameranya buat gambaran lu saat syuting video sinematiknya. Untuk mode yang landscape ini ada dibagi dua ya, ada auto, ada yang pro. Nah, untuk auto ini buat user yang enggak mau ribet setting ini itu. Filter terbaiknya itu ada dua, atmosphere dan soft. Keduanya ini asyik banget dipakai buat foto landscape. Di mode ini lu bisa motret dengan resolusi 12 megapixel, 25 megapixel, 50 megapixel dan 200 megapixel. Ini yang 200 khusus ya buat main kamera [musik] sama tele fotonya. Kalau menurut gua sih sweet spot-nya ada di 25 megapixel. Ih, mau dong cakep banget. Mau dong foto-fotonya. Tapi ribet enggak sih kirim lewat WA? Ih, enggak tahu dia. Sekarang tuh kalau Quick Share itu bisa kirim langsung cross device ke Apple device. Ih, serius? Jadi gampang banget kirim tinggal pakai Quick Share aja. Dan juga bukan cuma ke iPhone doang ya, itu bisa ke MacBook, bisa ke iPad dan juga bisa pakai Office Kit-nya. Kita enggak mau nyobain ke puncak yang paling tingginya? Puncak. Ih, aku buduk deh. Sudah malas dia. Naik Gunung Bisma enggak sah rasanya kalau kita enggak nyampe puncak tertingginya yaitu Puncak Indraprasta. Uh. Mantap. Akhirnya kita sampai di puncak Indraprasta, Gunung Bisma. Ini yang paling tingginya 2365 mdpl. Di sini ada banyak terasering dari aku sampai juga. Hah. Akhirnya, lihat deh. Puncak Indraprasta. Elika nyampe juga ke sini ya. Gunung ketinggalan. Ini namanya Indra Prasta. Prasta. Gila. Keren banget, Guys. Mantap ya. Kalau enggak nyampe sini, enggak Enggak sah. Gila sih. Jadi, ini emang valid sih ya. Tracking minimal view maksimal. Matahari sudah terik, kabut sudah naik dan Gunung Sindoro nya juga sudah enggak kelihatan. Terus perut juga sudah mulai lapar nih guys, jadi [musik] kita buru-buru turun buat makan dan istirahat karena besok pagi mau jalan ke pasar Kejajar buat hunting street photography. Enak [musik] banget bakso nya. Makasih Bu. Enak, enggak bohong enak. Enggak bohong enak. Sombron kentang. Hai guys, kita lagi di pasar Kejajar Dieng dan ini Keren banget enggak sih? Ada pasar terus ada Gunung Sindoro yang megah dan cantik. Cocok banget kayaknya buat street photography. Pasar-pasarnya tuh warna-warni banget. Dan Bang Fahmi lagi di sana lagi foto-foto juga, tapi kita belanja-belanja dulu yuk. Tung tung. Guys, seru banget gila. Di sana ada Bang Fahmi, nanti kita samperin yuk yuk. Bang Fahmi lagi foto apa? Oh, street photography dong. Uh, cakep banget. Di sini tuh asik banget ya buat moto street, street photography. Nah, di Vivo X300 Ultra ini ada mode eh, humanistic. Sebenarnya modenya namanya sudah ganti ya, jadi street photography. Tapi sebenarnya color sign-nya itu sama, karena di dalamnya itu ada beberapa filter yang pakai namanya tuh humanistic. Ada humanistic yang portrait, terus ada humanistic yang style, dan satu lagi adalah humanistic yang street. Nah, alasannya kenapa Vivo itu pakai lensa kameranya main sudutnya itu 35 mm, karena memang dipergunakan buat dokumentari kamera yang tentu bakalan asik buat foto street. Mumpung lagi ada di Pasar Kujang view-nya cakep, rasanya sayang ya kalau enggak ngerekam video 4K format yang log A. Rekam ah dikit. Ini dia nih. Mas. Terima kasih. Segini ya? Dari Dieng. Nah, iya. Bagus. Lampu. Buat yang enggak familiar sama format yang log, nah lu juga bisa ngerekam ya di mode auto dengan filter yang film look. Gampang. Habis hunting street photography di Pasar Ke Jajar, kita mau ngasuh dulu nih di Pandangan Pertama Telaga Menjer. Supaya lebih variatif nih bidikan lu framing-nya itu banyak pilihannya. Nah, masih ada lagi alatnya buat menopang kreativitas lu. Ini dia, Vivo telephoto extender kit. Jadi dapat sama casing-nya, sama grip-nya, dan juga ini telephoto-nya. Nih, telephoto-nya lensanya yang baru ya 400 mm. Jadi dengan paket telephoto extender kit yang gen 2 ini, meskipun dia focal length-nya gede ya, di modenya itu dia ada banyak banget modenya. Jadi yang bisa dipakai di mode pada saat pakai lensa ini itu banyak. Ada di foto, di potret, sampai ke street photography itu juga ada. Dan yang paling penting sih memang kalau sudah pakai lensa kayak gini itu dipakainya buat nonton konser ataupun buat bikin video yang ada efek bokeh-nya potret itu juga oke banget. Nah, yang terakhir paling kita ke bagian baterainya ya. HP ini tuh sudah punya kapasitas baterai 6.600 mAh. Terus pengecasannya juga sudah 100 watt. Ya, intinya selama kita hunting foto, hunting video di sini kita sih pakai ini tuh heavy banget ya. Jadi memang dipakai buat ngerekam video, log cinematic, dipakai buat foto-foto, hunting foto raw, landscape. Ya, kurang lebih mungkin bertahan sampai 6 jaman lah SOT-nya. Dan kalau masih kurang ya ngecasnya juga cepat 100 watt. Oke, Guys. Jadi selesai sudah perjalanan hunting kita pakai Vivo X100 Ultra ini. Hunting foto, hunting video. Iya, ya. Apalagi videonya sih, ya. Di kamera ultra wide-nya dia keren banget bisa 4K 120 [musik] fps 10 bit log. Bikin video sinematik itu jadi gampang banget. Nah, sekarang kita lagi ada di Dieng, Banjarnegara. Ini lagi menuju pulang tapi macet karena banyak yang datang. long weekend soalnya. Long weekend. Oke, balik lagi ke HP-nya. Kalau menurut Elika ini gimana? Menurut Elika, menurut Elika tuh droid lime mempunyai pengaruh buruk buat Elika. Waduh. Kenapa? Karena Elika jadi pengen naik gunung lagi, Guys. Hmm. Jadi pengen beli sepatu lagi, pengen beli jaket lagi. Tenda? Tenda, apalagi? Eee. Apalagi? Tasnya? Selimutnya. Heeh, sleeping bag. Heeh. Gila sih. Sama Kompor, kompor enggak? Kompor? Kompor juga. Kompor juga, kompor juga. Tapi pengen beli handphone baru juga. Jadi pengen beli Vivo X300 Ultra. Karena apa? Karena gambarnya cakep banget. Tinggal cepret langsung bagus. tahu harganya, kan? tahu. Harganya berapa? Nah, harganya Vivo X100 Ultra ini di bandrol itu 26 juta, 2599 untuk yang versi 512 dan yang 1 teranya itu 299999, 30 [musik] juta. Jadi siapin aja ya duitnya. Oke, oke. Yuk.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Vivo X300

Vivo X300 membuktikan standar flagship baru lewat kamera telefoto 200 MP serta performa gahar Dimensity 9500.

Vivo X300 Ultra

Lensa ZEISS 200MP dan stabilisasi gimbal membuat Vivo X300 Ultra selalu andal merekam footage sinematik profesional tanpa alat tambahan apa pun.