Ubah PC Jadul Jadi Console Retro!! (YouTube Video)
Kemarin kita kan sempat tuh ngerakit sebuah PC yang harganya 4,5 juta di tahun 2025. Dia masih pakai Ryzen 5 5600G, RAM-nya cuma 16 gig, ada DR4 dan SSD-nya 51 gig. Habis project itu kelar, gua rencananya mau jual PC-nya itu. Cuman gua jual PC-nya sampai harganya 3,6 juta aja itu enggak laku-laku. Sampai berbulan-bulan akhirnya gua bosan itu nyangkut mulu barang nyangkut di gudang. Sekarang gua mau bikin PC-nya mendingan jadi emulation machine aja deh. Gua mau bongkar ini PC ke form factor yang lebih kecil lagi dan kita instal. Kita instal apa ya buat emulation enaknya ya? Kayaknya enaknya lebih cocok batoera deh. Bato jadi kalau di Linux itu kan ada banyak modenya ya. Ada yang Steam OS ada ya sebenarnya ada banyak mode yang lain-lain juga banyak yang desktop mode. Heeh. Cuman kayaknya kalau desktop mode gua bukan kebutuhan gua sekarang gitu. Kayaknya lebih pengin yang dia tuh langsung bisa dikontrol pakai eh controller dan kebetulan Bapak Ipan sang technical dinner reviews ini dia menyarankan untuk pakai batosera aja. Jadi kita mendingan pindahin ke dimensi yang lebih kecil lagi kali ya. Siap kita bongkar dulu PC-nya. Nah, sementara si Ipan buka mainboard-nya dari casing yang utama, Cononpan. Eh, kita kemarin sempat ngecek di Tokopedia ada casing yang namanya VBR. VBR RX1. Ini adalah casing kecil yang kelihatannya low profile banget. Harganya GOP dan itu udah plus sama power supply yang kapasitasnya 200 watt. Kameramannya bilang katanya kepala gua enggak kelihatan kalau gua nunduk lagi. Jadi gua bongkok-bongkok. Nah, ini ini bentuknya kita bisa lihat lebih kecil ya daripada yang aslinya. Dan kita kan juga enggak pakai VGA ya. Jadi kayak enggak masalah gitu mau dia sekecil apapun yang penting muat gitu. Power supplynya cuma 200 watt ya? Iya kita ambil yang 200 watt doang itu cukup yakin sama ini sistem kita kan ggak pakai VG ya. Jadi I guess so. Anyway ini casing dibilang kayak konsol enggak? Dibilang gede enggak kayak nanggung-nanggung gitu ya. Gua ngelihat kan di YouTube itu banyak tutorial-tutorial orang bikin emulation machine. Emulation machine yang dia itu diambilnya dari mini PC. Jadi bentuknya itu kecil. Nah, kalau karena bentuknya itu kecil, gua pengen nyontoh yang kayak gitu tapi pakai mainboard yang lumayan gede begini. Ternyata tidak bisa ya, Guys, ya. Mainboard-nya kegedean karena ini masih bentuknya tuh PC bukan mini PC. Kalau mini PC udah pakai sodim. sayangnya dia enggak ada USBC ya depannya ya minta dengan harga segini kau minta banyak R500.000 dapat power supply guys. Ini apanya ya? Oh ini kakinya ya? Heeh. Nah ini power supply yang didapetin dari pembeliannya itu adalah power supply flex. Jadi dia kapasitasnya cuma 200 watt tapi bentuknya kecil banget kayak oim. Kecil banget kayak OIM ya. Ini kayak e barang ODM gitu. Tapi harusnya untuk sebuah sistem yang enggak pakai VGA begini ee cukuplah harusnya cukup banget. Sayangnya kita tidak sempat buat bikin komparasi ya kayak misalnya kalau Windows berapa FPS, sementara kalau pakai Linux berapa FPS. Karena gua malas gua mau langsung instal Linux aja di sini buat eh upgradabilitas ya. Misalnya kayak kalau nanti gua mau nambah SATA di sini masih bisa enggak kira-kira? Di sini ya 2,5 ya. SATA 2,5 kabelnya lewat sini. Iya. Jadi masih ada upgradabilitasnya masih bisa dua SATA lagi. Terus di sini juga banyak e lubang-lubang. Kayaknya bisa kipas deh. Cuman kipasnya bukan 12 cm. Ini kayaknya sih 40 nih. 40 mm ya berarti ya. Iya kayaknya cuma 40 mm. 8 cm pun tidak ya. Ini kayak kabel managementnya hancur. Engak enggak masalah enggak sih? Enggak ada masalah sih. Tapi lu gimana kalau kalau seorang teknisi nih kira-kira jalur kabelnya lewat mana? Kalau udah gini sih satata-sata Molexmo Molex ini gua gulung aja kali ya. Gini aja sih. Secara dimensi menurut lu gimana, Pan? Ini e dimensinya cukup kompact sih. Cukup kompact untuk sebuah PC biasa ya. Iya. Kalau jadi mini PC kayaknya enggak ya. Kayak Asrock X600, Asro X300 itu masih lebih kecil kan? Yes. Not saja yang mau beli casing ini dia kakinya enggak ada. Jadi e dia disediain sih kakinya cuman cuma dua gitu kan. Jadi kayaknya kita bikin sendiri aja rakinya dipotong dua. Jadi kita udah selesai mindahin motherboard yang tadi ada di PC R 4,5 juta ke dalam for factor yang lebih kecil. Ini kayaknya harganya juga enggak terlalu beda ya harusnya kalau kemarin ngerakit pakai ini. Toh juga GOP udah dapat power supply kan. Power supply juga nasinya. Iya power supply flex gitu. Dan ini ya macam ala konsol-konsolan lah ya. Dia belum ada USBC tentunya di bagian depan cuman ada satu USB 2.0 dan 1 USB 3.2 gene. Dan buat audionya itu juga bukan combo jack. Jadi kelihatan kayaknya ini casing murah gitu ya. Fit lah ya sama Mobonya yang masih oke. Masih budget-budget aja. Sekarang kita akan coba untuk instal Batosera dulu. Batosera adalah OS open source berbasis Linux yang dirancang khusus untuk emulasi game retro. Tujuannya ya sederhana, mengubah perangkat apapun baik itu PC, laptop, Raspberry Pie, atau mini komputer menjadi konsol game retro all-in-one tanpa ribet konfigurasi-konfigurasi lagi. Batoera ini hadir sebagai solusi plug and play. Jadi, kita tinggal flash image-nya ke SSD atau bisa juga ke USB bahkan lalu boot langsung dari situ. Gak perlu instal ulang OS utama, enggak perlu partisi, dan enggak perlu jadi Linux Expert. Tampilan awalnya kayak gini di mana kita langsung disuguhin pilihan-pilihan konsol yang mau diemulate. Di sini ada pilihan seperti GBA, Sega Genesis, PS2, PSP, dan bahkan PS3. Gua gak tahu apakah batosera ini bisa emulate PS4 juga, tapi dengan spek 5600G yang masih cupu, di sini gua enggak mau coba. UI ini tentu aja bisa diganti dengan tema-tema yang ada. Jadi, bisa download tema-tema yang dibikin oleh community-nya. Dan kerasa di sini kalau community retro gaming itu hidup banget. Kalau kalian pernah beli konsol-konsol emulation di Tokpad, biasanya mereka OS-nya pakai MUC yang enggak jauh beda dengan batosera yang kita pakai sekarang. Di sini gua nyobain batoseranya pakai stik ala-ala PS2 zaman dulu yang harganya cuman Rp90.000-an. Karena batosera ini bisa dinavigasi tanpa pakai keyboard dan mouse. Jadi pure kayak konsol aja. Saat kita pertama booting tentunya batera ini enggak ada game-nya sama sekali. Jadi mesti diisi ROM-nya secara legal. Tapi yang namanya konsol jadul dari mana lagi coba? Kita bisa download ROM-nya kalau enggak ROMs for fun. Kita cobain pertama di PS2 buat performa PS2-nya. Ini normal. Dia bisa jalanin game-game PS2 tanpa nge-lag. Bahkan burnout sekalipun yang heboh-heboh. Masih enak dia jalaninnya. Dia juga bisa di-et beasel kiri kanannya kalau mau ada temanya seperti ini. Dan di sini sebenarnya PS2 bisa-bisa aja sih di-et aspect rati-ya ke 16 b 9. Cuma gua ngerasa lebih nostalgia pas lagi pakai 4 bing 3. Terus buat PS3, sayangnya 5600G ini masih belum bisa emulate dengan lancar. Sebenarnya bisa aja, tapi harus dituning-tuning lagi. Jadi kita sarankan kalau kalian mau plug and play aja emulation-nya ya paling mentokmentok di PS2 dan setaranya aja. Nah, paling enggak enaknya adalah kalau mau emulate portable conso misal GBA ya dia layarnya ngecill begini dan gua belum tahu gimana cara ngegedein gambarnya. Jadi ya untuk sekarang gua terima aja lah. Dan gua juga enggak ada rencana buat mainin game GBA di layar segede gini. Keren ya di menu Bosera ini juga ada Steam. Jadi kita tinggal add Steam aja terus login akun kita dan kita bisa mainin game-game Steam-nya itu langsung paling ya masukin lagi picture-nya biar enggak abu-abu kayak gini. Lalu kalau kalian nanya gimana cara download ROM-nya ke dalam sini? Sebenarnya kita saranin sih untuk download ROM-nya itu di komputer yang berbeda yang berbasis Windows. Terus kita pindahinnya itu pakai flash disk. Terus kalau misalnya flash disk-nya udah nyolok, kita tinggal pencet aja F1 di menu utama dan langsung kelihatan directory-nya. Jadi kalian ya memang butuh keyboard sama mouse sih di sini, cuman ya kalian bisa taruh directory-nya itu ke directory yang sudah diprimade oleh batosera ini sendiri. Lalu isu yang paling noticeable muncul saat kita instal OS batosera ini adalah entah kenapa fan gua itu selalu mentok kanan. Jadi berisik terus CPU fan-nya. Mungkin karena dia gak ada controller buat CPU fan seperti Windows. Jadi pengalaman kita sejauh ini menggunakan OS Battosera itu cukup nano-nano ya. Kalau misalnya dibilang ini adalah salah satu OS dengan conso like experience. Sebenarnya iya karena enggak butuh keyboard tapi ada beberapa trouble-trouble yang terjadi dan itu cukup spesifik trouble-nya. Fix-nya malah hampir enggak ada di internet. Dan salah satunya kayak network aja itu network kita setiap nyalain batoseranya kita harus cek ini sebenarnya dia connect apa enggak dan itu kadang suka bermasalah kalau kita mau main game steam. Nah, tapi kalau untuk performanya khusus yang PC 5 dengan 5600G ini ya, dia itu kita rekomendasikan untuk main game yang PS2 ke bawah aja. Karena untuk yang PS2 ke atas, khususnya PS3 itu agak sedikit sulit buat yang PS3 ini. Dia itu harus dikulik-kulik lagi. Karena kalau misalnya beberapa game itu ada yang kita kuat, ada yang enggak, bisa dikuat-kuatin, tapi ya itu harus ada yang diset-set lagi dan itu kita agak malas. Nah, sementara untuk battle seranya itu sendiri, kita enggak mengencourage kalian untuk membajak ROM game retro karena ada beberapa cara yang legal untuk main game retro dari Nintendo itu ada Switch Family atau dari Sony itu ada PlayStation Classic, tapi ya balik lagi game-nya sebenarnya enggak banyak dan tujuannya kita bikin video ini sebenarnya adalah untuk menjual PC batosanya itu karena dari kemarin enggak laku-laku. Jadi, PCA ini kita ee jual ee kalian bisa cek di link di deskripsi di bawah beserta dengan full spek-nya ada di deskripsi juga, tapi kita akan jual tanpa bato seranya ya. Jadi kita habis video ini akan wipe ini memorinya. Jadi kalian akan terima ini bersih terserah kalian mau itu mau masukin Windows atau batas itu terserah kalian. Nah, buat kalian sendiri kalau di rumah kalian ada laptop bekas atau mungkin ada mini PC yang gak kepakai lagi, kira-kira kalian tertarik enggak sih buat jadiin barang tersebut jadi retro gaming console?
