Under 1 Kilo Performanya Galak Abis !! HP OmniBook 7 Aero (YouTube Video)
Makin ke sini laptop AI makin menjadi-jadi. Kayak yang satu ini. Ent-nya bikin iri sampai dikira tasnya kosong padahal isinya spek tinggi. Kenalin nih XP Omnibook 7 AO 13 BG77A. Uh, banget BG. Apa itu NBG? Bukan. Si mungil di bawah 1 kilo yang baterainya awet banget sampai bikin lupa kapan ngecas terakhir kali. Kualitas prosesornya bikin senyum-senyum sendiri. So, apakah benar ini laptop yang kalian cari? Ya udah, mari kita bedah si putih yang mematikan ini. Selamat menonton suami-suami takut istri. Hai Andika, Guys. Di sini akhirnya XP tobat, ya. Mereka udah enggak bikin seri XP itu ribet karena kalau dulu kan ada EnV, Spectra, dan lain-lain. Nah, sekarang semua serinya itu udah [musik] jadi seri baru namanya XP Omnibook. Sekarang kita tinggal hafalin angkanya aja. Jadi ada Omni 3 biasanya buat pelajar-pelajar yang agak sultan. Terus ada Omniibook 5 yang buat kerja harian. Dan yang kita pegang ini kelas HN ya. Ini Omnibook 7 atau Omni 7 yang posisinya ada di casta high end buat content creator atau kalian yang butuh body super enteng ala seri spectter dulu ya yang sekarang namanya jadi Aero bukan Aerox. Kalau Aerox itu Yamaha sampai seri tertingginya ada Omni Ultra dan X. Wah, kalau kalian beli yang Omnibook X sih saya yakin rumah tangga kalian mungkin agak berantem sehari lah ya karena harus jelasin ke istri ini buat apa uang sebanyak ini. Nah, meskipun namanya sekarang jadi Omnibook 7 tapi jiwa Aeronya tuh enggak bisa bohong ya. Beratnya di bawah 1 kilo tepatnya di 0,9 kg aja. Rasanya itu kayak gimana ya? 0,9 kil itu ya kayak kalian beli buah 1 kilo tapi timbangannya itu dimanipulasi sama penjualnya dikurangin 100 gr. Ya, rasanya kayak segitu. Ini tuh adalah tipical laptop yang kalian enggak bakal sering benerin tas karena keberatan [musik] ini. Bahkan kadang ya kayak, "Ih, laptopku kebawa enggak ya? Ketinggalan enggak ya?" Karena saking entengnya. Padahal kan yang ketinggalan itu sebenarnya realisasi 19 juta lapangan pekerjaan ya. Aduh, nyenggol lagi. Yang bikin skripsi apa? Bahaya. Bahaya. Wah, kaget. Buat kalian yang sering WFC di Malang, kalau WFC itu enak banget. Terutama di distrik Cafe Rooster ya. Itu makanannya enak-enak, kopinya enak-enak, alamatnya di Jalan Cengger Ayam 18. Kebetulan itu punya saya bintang 5 itu review-nya. Kalian coba aja ya biar saya itu makin kaya. Meskipun enteng, belanttinnya solid banget karena pakai material magnesium aluminium jadi enggak ringkih, enggak kerasa kayak mainan plastik. Dimensi laptopnya kurang lebih seukuran kertas A4. Jadi kalau kalian punya tas selempang atau slingback yang biasanya cuma muat tablet, kemungkinan besar laptop ini masih bisa masuk juga. Untuk kameranya dia cukup oke ya di kelas harga segini dan dia juga ada Windows Studio Effect dengan NPU-nya ada 50 TUPS NVN-nya dan kira-kira kalau pakai Windows Studio Effect hasilnya itu seperti ini. Skin tone-nya sih saya suka cuman karena dia 30 fps jadi kurang masih telat aja sih kameranya ya. Terus untuk keamanan fisik, laptop ini juga udah dihitung matang-matang sama XP. Ada sensor IR login, wajah Face ID [musik] untuk login mudah ke Windows Hilo. Ditambah fitur present sensing yang otomatis mengunci layar saat kita jauh dari laptop. Tapi ya ngomongin soal privacy itu cocok banget sama sponsor kita hari ini, Zohu. Kalau kalian butuh ruang kerja yang benar-benar private dan ingin memastikan data tim [musik] itu tidak menjadi bahan eksperimen platform lain kayak Google, Cloud, ya pokoknya cloud-cloud yang kita numpang, kalian bisa pakai Zoho. Di Zoho ada yang namanya Zoho Workplace. Filosofinh-nya beda ya. Zoho ngejamin mereka tidak [musik] memiliki kepentingan dengan data kita selain untuk ngembantu pekerjaan kita lebih mudah. AI di Zoho Workplace ini sangat fungsional [musik] untuk produktivitas harian. Mulai dari ngerangkum dokumen panjang sampai ngerapiin draft email biar terlihat lebih profesional. Poin yang paling menarik adalah semua fitur AI yang sangat membantu ini bisa kita nikmati tanpa biaya tambahan. Jadi data tim tetap aman, privasy terjaga, dan pekerjaan selesai lebih cepat tanpa harus bayar pajak AI tiap bulannya. Karena kalau di platform lain kan AI itu gratis sih, tapi di limit ya. Terus akhirnya bayar. [musik] Sekarang kita bedah jeroannya si XP Omnibook 7 ini. Karena untuk ukuran laptop yang seenteng ini jualannya termasuk di performanya. Dia pakai prosesor AMD Ryzen AI 7350 yang dibekali dengan 8 core 16 red. Kecepatan boost-nya nyentuh 5 GHz. yang artinya untuk urusan multitasking berat, laptop ini gak bisa dianggap remeh. Laptop ini juga udah standar copilot plus PC. Di keyboard-nya aja udah ada logo copilot ya, karena standarnya kan 45 atau 40 tops. Nah, si XP ini dengan MD Ryzen 7-nya punya 50 tops. Efeknya saat kita pakai kamera ya, ada Windows Studio Ef-nya tadi. Terus kalau kita mau generate image secara offline di amuse AI hasilnya ya kayak Jagger Note 2 menit 16 detik dan di stable diffusion XL Turbo cuman [musik] 15 detik. Untuk urusan AI dengan chipset dari Ryzen [musik] AI 7350-nya ini dia pakai Radeon 860M dengan arsitekturnya RDNE 3.5 dan walaupun dia IGP atau integrated grafic card tapi enggak bisa dianggap remeh ya karena performanya itu setara dengan dedicated grafik card kayak ya Nvidia GTX 1050 lah. Memang performa IGP itu tergantung dengan speed dan juga kapasitas RAM-nya. Dan untungnya si XP ini punya RAM yang lumayan gede di 16 GB dengan speed-nya 7.500 00 transfer per second. Dan karena ini pakai AMD, jadi kalian bisa pinjam memori RAM yang gede 16 GB tadi. Pinjam contoh 2 GB buat V RAM biar IGP-nya ini kerasa GPU dedicated graphic card dan setting-nya pun mudah cuma pakai software adrenaline aja. Untuk storage dia 1/2 TB nvm Gen 4 yang speed-nya ru hampir 7.000 1000 Mbps W-nya hampir 4000 [musik] Mbps. Dan pas kita tes performanya ya ini yang agak sayangkan sih. Bukan agak saya sayangkan sih, agak saya sayangkan awalnya tapi akhirnya saya menormalisasi karena memang laptopnya setipis dan seenteng ini. Karena sebenarnya ini prosesor kencang, tapi pas kita tes di Bench R23 saat posisi charging skornya itu 9.300-an dan mode baterai skornya malah lebih sedikit tinggi ya. Yang ini biasa di Ryzen biasanya di 9.700-an 00-an poin. Tapi sebenarnya SB R23-nya Ryzen AI 7350 ini bisa nyentuh di 12.000-an poin. Alasannya kenapa pas kita tes di Sign BCH R23 terus kita lihat TDP-nya ternyata TDP-nya itu dilimit di 15 watt. Ya, ini alasan wajar untuk laptop yang memang dia ngejaga biar baterainya lebih awet sih ya. Tapi apakah enggak bisa ya kalau misalkan kita pakai prosesor yang enggak kencang-kencang aja enggak usah dilimit. Kan harganya [musik] bisa jadi lebih murah dibanding harus jual gimmic marketing. Uh, prosesor kencang tapi di limit. Hmm, gimana menurut kalian? Tapi kalau untuk ril scenarionya udah ok lah ya. Kayak Premiere 4K render selesai dalam waktu 4 menit 53 detik. Kalau diturunin ke full HD 3 menit 5 detik. Terus kalau buat belajar 3D dengan Blender, nah template BMW kita tes itu selesai. CPU rendernya di 3 menit 15 detik, GPU rendernya 3 menit 28 detik. Kalau untuk di dunia perofice-an, dunia yang seharusnya memang ya dunia dia ya segmentasinya dia kayak contohnya export PPT 150 set ke PDF itu cuma selesai dalam waktu di 9 detik aja. Excel randomiz data yang large banget 27 detik aja. Tapi ada poin plusnya sih efek limitasi tadi kalau kita tes di stability test 3D Max ya berarti di loop 20 kali dia itu lolos dengan 99,9%. Untuk laptop setipis ini dengan prosesor yang kencang 99% itu angka yang oke banget dan pas kita tes main game masih playable banget di laptop yang mungil ini. Nih, kalian bisa langsung lihat aja ya chartnya. Kita tes di Dota 2 Valorance Cyberbank juga kita tes dua kali dengan frame generasinya off dan juga on. Kalau Cyberbank sih di-onin aja ya karena bisa dapat average FPS di 56. Untuk game Gin Impact settingan medium juga masih aman. Average di 60 dropdropnya cuma di 48 fps. Nah, ini yang paling penting sih bukan suhu bagian dalam tapi suhu bagian luar. Karena biasanya laptop tipis itu ya exhaus-nya atau airflow-nya itu enggak optimal. Nah, dengan adanya limitasi 15 wat tadi, suhu permukaannya jadi lebih menyenangkan karena untuk suhu tertingginya cuma di 42 derajat Celcius dan WASD-nya atau tombol yang bakalan sering kita pakai itu cuma di 33 derajat celcius. Baterainya jadi lebih awet juga karena kan ini prosesor kencang nih sebenarnya tapi karena di limit jadi baterainya lebih efisien. Pas PC M kita tes dia tembus di 9 jam 51 menit dan baterainya masih sisa 14%. Jadi harusnya sih 10 jam lebih lah. [musik] Nah, sekarang kita bahas soal layarnya yang kelihatan mungil ini. Tapi ternyata resolusinya gede banget. Resolusinya ini di 2,5K. Aspek rasionya 16 bing 10 dan klaimnya udah 100% sRGB. Tapi pas kita tes ya, hm, sRGB-nya sih hampir menyentuh 100% lah. Dengan 97% sRGB, adob RGB-nya di 72%. Dan untuk brightness-nya lumayan dia dapatnya hampir 400 nit di 370 Nit. Untuk laptop itu lumayan gede banget untuk tipikalnya. Kalau untuk keyboard walaupun dia tipis tapi saya enggak [musik] ada komplit sama sekali F ttel-nya itu mendalnya enak banget. Tapi entah kenapa mereka menyertakan kayak shortcut untuk emoticon di F1-nya. Padahal kan kalau emoti code itu shortcut-nya Windows titik itu udah emoti code. Jadi kayak shortcut-nya gimmik aja. Trackpad juga enak. Dia luas untuk ukuran laptop 13 inch. Terus Windowsernya itu enak banget, feel-nya juga enak banget. Jadi kalau misalkan kalian laptopan tanpa mous ya mungkin kalau kalian udah terbiasa kalian bakalan lupa apa itu, Mas. Karena ingat poin utama dari laptop ini adalah enak untuk dibawa ke mana-mana. Karena kalau misalkan bawa mouse, bawa cooling tambahan eksternal ya jatuhnya ya berat-berat juga kan. Sekarang kita bahas percolok-colokan atau lubang port. Dominasi portnya ada di sebelah kanan. Sebelah kirinya itu cuman ada type A dan audio jack. Kalau saya tuh lebih suka port itu di bagian kiri ya dibandingkan sebelah kanan. Kenapa? Ya kecil aja sih. Contohnya kalau misalkan saya pakai mouse yang pakai kabel terus kabelnya itu nyenggol-nyenggol port saya yang lain dongel gitu kan ya. Detail kecil sih. Tapi entah kenapa saya lebih suka yang ada di kiri aja. Untuk kualitas audio standar aja kayak laptop 4 sampai R jutaan walaupun dia udah ditunjang sama software DTS Audio. Enggak ngebanyak kebantu karena mungkin ya karena echoing casing-nya segini aja ya. Jadi enggak bisa echo yang benar-benar kayak staging gitu untuk audionya. [mendengus] [musik] Kalau di Asus itu ada software yang namanya Asus Lenovo. Lenovo Vintage Advance. Advan apa ya? Nah, di XP Omnibook 7 ini XP nyertain dua software yang menurut saya juga buat apa ya? Karena yang pertama itu ada namanya Omen Gaming Hub. Nah, ini kan bukan laptop gaming. Dan ya menurut saya ini software-ya enggak penting-penting banget ya karena di menu performance-nya itu benar-benar ya setting performance dan kalau kita klik tab Omen AI itu isinya cuman kayak record FPS pas kita mainin game aja dan ya karena ini bukan laptop gaming jadi enggak kepakai. Tapi untungnya software yang satu lagi ini baru benaran fungsional dan berguna. Di sini kalian bisa atur performa laptop secara beneran. Terus buat urusan audio kalian juga bisa tuning sendiri. Terus buat kalian yang sering meeting online, fitur kameranya juga bisa kalian atur lewat polera Pro. Di sini bisa atur background sampai buat ala-ala kartu nama di layar saat meeting juga bisa. Dan terakhir fitur keamanannya ada presence sensing. Ini fitur yang saya suka sih. Intinya si laptop bakal otomatis matiin layar kalian ketika kalian ninggalin laptopnya dan otomatis nyala lagi pas kalian udah duduk di depan layar. Ini penting terutama buat kalian yang sering kerja WFC ya. Jadi biar enggak diintip sama customer sebelah. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video review dari Omni Book 7 yang harganya ada di range 15 sampai Rp6 jutaan. Link pembeliannya di pojok kiri atau di deskripsi. Dan di harga ini dia beradu dengan MacBook sih ya. Atau kalau di Asus itu Zenebook 14. Kalau MacBook ya dia punya dunianya sendiri. Orang yang terbiasa pakai MacBook ya MacBook aja pilihannya. Karena kalau balik ke Windows repot ya, harus adaptasi. Terus kalau dibandingkan dengan Zenbook, Zenbook itu layarnya OLED, tapi Omnibook 7 ini tetap juara mobilitas karena beratnya cuma 0,9 kg plus prosesornya Ryzen AI walaupun di limit ya yang bisa bikin laptopnya itu bisa jalan AI on device. Penyakitnya di RAM yang enggak bisa di-upgrade. Terus portnya ya ini detail kecil aja portnya mayoritas di sebelah kanan. Tapi kalau kalian udah lihat layar dari laptop XP ini kayaknya susah deh [musik] buat ganti ke layar yang di bawahnya ya. Karena 2,5K walaupun 97% sRGB nyenengin [musik] banget gitu. Kayak semuanya terasa lebih tajam gitu layarnya. Overall laptop ini adalah jodoh terbaik buat pejuang mobilitas atau kreator konten ringan yang butuh kerja satset tanpa harus mikir pundak encok. Karena untuk pijet itu selain mahal juga enggak boleh sama istri. S and see you on the next video.
