Jungkat

User POCO pun Tertawa Liat Infinix Note 60 Ultra 11 Juta .. (YouTube Video)

  • 01/01/1970

Jadi, ada sebuah perusahaan di Italia yang umurnya itu lebih dari 90 tahun. Dan selama 90 tahun tersebut mereka itu kerjaannya cuman satu, bikin mobil yang paling ganteng dan paling keren di dunia. Sebut saja ada Ferrari, ada Maserati, ada Alfa Romeo. Nama perusahaan tersebut adalah Pinin Farina. Tahun ini mereka colabs sama brand yang biasa kita kenal dengan King Phoenix, perusak harga pasar. Pokoknya harganya itu sangat-sangat terjangkau. Yes. Infinix yang ini. Cuman menurut saya memang boleh ya mereka naik kelas, tapi menurut saya timing dan strateginya [musik] itu kurang tepat. Kenapa seperti itu? Yuk kita bahas. [musik] Hai Andika, Guys. Di sini. Jadi di bok yang gede ini isinya adalah [musik] Infinix Note 63 Ultra yang benar-benar bikin saya bingung [musik] saya mau mulai videonya ini dari mana. Karena harganya ini di 1099 R 11 juta untuk sebuah HP Infinix. Itu kayak wow. Jadi saya harus kayak menghela nafas dulu dan mencoba menghilangkan [musik] branding Infinix yang udah melekat di otak saya. Kalau dia itu adalah King Phoenix yang biasanya merusak harga pasar. Sebenarnya sambil kita buka [musik] ya, sebenarnya it's ok sih kalau misalkan Infinix itu mau harga Rp1 juta. Cuman chipsetnya [musik] kalau kalian lihat dia ini pakai Diamond City 8400 Ultimate di mana timing-nya kurang tepat karena HP saingnya [musik] sebelahnya 6 juta itu udah dapat si Diamond City 9.500S. Jadi kayak timingnya itu enggak benar nih. Apalagi kalau kita ngomongin Infinix ya, itu brandingnya sama kayak sebelah. Jadi performa, suhu, harga. Beda kalau misalkan kita beli Samsung, Apple atau Huawei atau Pixel yang memang mereka itu usernya belinya itu karena status bukan berapa angka anutunya. Karena memang si Samsung, Apple, Huawei, Pixel memang dari awal itu udah dibranding kayak gitu. Tapi coba kita lihatlah dengan harga 11 juta ini apa sih yang kita dapat? Apakah kita bisa beli status juga untuk ngeluarin 11 [musik] juta di HP Infinix yang di seri Note. Serde yang ya kita tahu seri Note itu adalah seri yang biasanya enggak mahal dari Infinix [musik] walaupun sekarang ada embel-embel ultranya. Boknya udah beda banget ya dari HP Infinite kebanyakan yang biasanya itu terlihat murah. Ini langsung kelihatan mahal. [musik] Lihat aja di sini ada kayak semacam kancingnya juga. Ini niat banget sih boksnya ya. [musik] Jadi kalau kalian adalah seorang collectibles apalagi kalian suka utomotif, boknya ini jangan [musik] dibuang ya. Karena boknya ini juga bisa ngangkat harganya lebih mahal. Unboxing barang mahal itu memang biasanya beda ya. Jadi kita tinggal angkat kayak gini harusnya ya kalau dari mekanismenya. Entar kok susah. Nah gini set. Wah, ada box warna merah lagi. [musik] Dan ini ini bok mahal, Guys. Jadi bukan kayak bokbok recycle yang murah gitu. Terus di sini ada kayak semacam pegangannya. Nah, ini. Ini pakai leather atau kulit. Kesannya mewah banget lah. Ini pun juga enggak pakai stiker ya. Ini kayak [musik] semacam di emboss ya. Kalau misalkan kalian beli barang Rp1 juta packaging-nya kayak gini saya bisa menormalisasi [musik] lah. Bukan Rp1 juta dapat kayak kardus pok-poki yang isinya cuman kabel, enggak ada adapter gitu ya. Nah, ini secara unboxing menurut saya lebih menyenangkan. Wah, gokil keren sih. Eh, sori, Guys. Kebalik ya. Bentar kita balik dulu. Jadi, setelah dibuka kayak gini set HP-nya itu langsung muncul keluar. Dan kita coba lihat dulu di sini ada apa. Wuh, apa nih? Ada karbon-karbon nih. Bentar. Wah, ini kayaknya buat ditaruh di mobil [musik] deh ya. Ini ada kayak semacam bracketnya. Terus tapi apa coba ya? Saya juga belum tahu ini apa, Guys. Terus sim ejectornya aja kayak gini nih. Coba lihat ada. Jadi dia di CNC di laser dengan bentukan mobil panin [musik] farina kayak gini. Dan ini karbon beneran loh ya. Ini bukan stiker karbon. Ini karbon beneran. Terus di sini juga di tekstur chrome kayak gini. Ini aksesorisnya aja gokil sih ya. Ini aksesorisnya aja mahal. Tapi ini apa? Kita lihat dulu. Kita taruh di sini dulu. Nanti nyambungin sama HP-nya gimana. Tapi yang jelas sim ejectornya menyenangkan banget sih. Tuh ada tulisannya design by pinarina dan ada tekstur karbonnya. Wah gila. Di sini ada tulisan. Kalian bisa post ini tulisannya apa. Dan ini enggak mungkin saya pakai lagi sih. Saya tarik lagi. Karena kalau misalkan saya pakai pasti hilang sih bejectornya. Biar di situ aja [musik] biar jadi barang collect. Terus kita juga dapat coba kita lihat. Wah ini packaging-nya juga [musik] packaging yang mahal ya collaps-nya ya. Uh kabelnya udah type C to type C ya. Bukan type A to type C. Kita taruh lagi karena saya takut hilang. Terus ada mix shaft nih harusnya ya. Tuh ini harusnya mix shaft [musik] apa yang ditaruh sini ya set. Apakah ini bakal jadi seperti ini? Kita coba lihat nanti ya. Oke. Saya belum paham [musik] karena ini benar-benar literally pertama kali buka. Jadi nanti kita coba lihat kayak gimana. Terus di sini ada ya ini case. Coba kita lihat case-nya. [musik] Apakah ada collab spesial atau cuman plastik biasa. Eh kalau dari warnanya sih spesial ya. Terus ini juga ada. Wow, kita juga dapat temper glass-nya. Yang ini temper glass ya, bukan skincard. Jadi dia hard case. Terus kita juga dapat woh kiss-nya karbon. [musik] Dan kalau dilihat karbonnya ini bukan stiker ya. Dan dia ada tekstur-tekstur karbonnya juga. Ada mixift-nya [musik] juga. Bentar. Mixif yang ini saya penasaran deh. Apakah dia ditaruh di sini lengket? Weh, lengket, Guys. Ini kayaknya magnetic charging deh. Ah, nanti deh kita coba ya sebentar. ini. Terus di sini buku panduan seperti biasa ada license by Qualcom walaupun chipsetnya Mediatch. Kita taruh [musik] di sini dulu nanti kita lihat lagi. Terus ada charger. Chargernya ini wah 100 watt. Tapi kalau chargernya sih hitem biasa ya. Enggak ada tulisan far infarnya. Dan dia udah type C. Ini sih simpel tapi menurut saya penting kalau type C type C itu lebih enak aja karena jadi lebih universal. Oke, jadi sekarang [musik] kita lihat. Nah, ini nih HP-nya. Set. Wah, gokil. Jujur ini adalah desain Infinix yang paling cakep yang pernah saya lihat ya. First impressinya itu gila ini cakep banget sih. Tuh, coba kalian lihat bingkai kameranya ini dibikin flat rata. Biasanya kan kayak di tengah [musik] gitu ya. Ini dibikin rata yang ngebuat kalau misalkan kita taruh di meja tuh enggak goyang-goyang karena ini eh ini flat sampai rata di sini nih. Dan coba lihat desainnya. [musik] Wah, ini ada pinarinanya. Font-nya juga bikin sporty banget. Terus di sini carbon. Dan kalau saya lihat di trailernya di sini ada kayak semacam lampu tail light kayak gini. Dan ini aluminium dibikinnya ini enggak terlalu gampang nempel magnet fingerprint ya. Walaupun kayak seolah-olah dia mid tapi enggak gampang nempel fingerprint. Terus di sini ada tombol terus di sini ada tombol seperti biasa ini tombol hard driisasi. Terus ada volume up, volume down, dan juga tombol power. [musik] Sekaligus kita nyalain. Coba kita lihat booting-nya apakah ada booting yang menarik. Kalau Mug kemarin kita review, Bu, bootingnya itu kayak laptop merah putih gitu. Nah, Infinix ini yang saya dengar ya rumornya ya untuk booting. Uh, jadi suara knalpotnya ini katanya itu direkam dari suara knalpot mobil asli kayak gitu tadi. Oke, ini pas masukin Wii heptic feedback-nya bukan kayak yang kita kenal Heptic feedback-nya. Ini udah feel flexible banget. Jadi, Ftile, feel ada keyboard-nya itu ada. Oke, ini kita coba set upset up dulu sambil kita rapiin dan kita coba nanti ini buat apa sebenarnya ya? Tuh, kalau ditaruh di sini. Nah, ini buat apa? Saya masih bingung nih. Bentar sambil kita set up ya. [musik] Nah, si Infini Note 60 Ultranya udah selesai kita instalasi. [musik] Cuman karena ini kan special edition ya, jadi videonya kita coba fokus di special [musik] collab-nya itu apa aja sih. Jadi, ini adalah pertama unisasis modul. Kalau kata Infin. Nah, bingkainya [musik] nih dibikin rata seperti ini seperti yang saya bilang tadi. Jadi kalau misalkan ditaruh di meja tuh dia jadi enggak goyang-goyang gitu. Biasanya kan kayak bamnya itu bikin [musik] kalau di meja goyang-goyang. Enggak. Ini enggak flat. Beneran enak tuh enggak goyang-goyang sama sekali karena bingkai kameranya ini rata dari sini ke sini. Terus di bawah sini ada tulisannya Pinin Farina yang cakep banget sih ya. [musik] Kayak fonya itu kelihatan mahal gitu. Terus di sini di tekstur karbon seperti ini. Ada logonya Infinix di sini. Nah, untuk kameranya dia ada tiga setup. Jadi ada kamera [musik] Minnya itu 200 megapel ISO dari Samsung, ada 50 megapel tele sama 8 megapel ultrawide. Nanti kualitas kameranya [musik] kita tes dior kita. Coba lihat dulu di samping sini kalau kalian lihat apakah ada detail-detail [musik] lain. Coba di atasnya. Uh, ini dia sound by JBL. Terus ada IR blaster juga dan ada Wii antenanya di sisi kiri. Oh, ini nih. Ini nih tulisan yang bikin [musik] harganya Rp10 juta ke atas nih. Pinin Farina. Wuh, cakep [musik] sih ya. Saya biasanya tuh kalau misalkan ngebayangin di lampu merah biasanya kalau lihat mobil spot itu biasanya saya selawatin [musik] gitu. Nah, ini sementara saya dapatnya yang HP-nya dulu lah. Karena di belakang sini ada yang namanya floating tail light. Jadi kayak mirip [musik] bumpernya mobil, lampunya mobil kalau dilihat dari belakang. Nah, cara aktifin-nya gimana? Sebentar sambil kita coba ini [musik] apakah ultrasonic atau optical. Kita coba geser dikit aja ya. Wih, ini ultrasonic loh ya. [musik] Jadi kalau misalkan kita sentuh aja tuh dia langsung kebuka dan wallpaper-nya [musik] icon-icon-nya juga collab sama Pinin Farina. Jadi kalau kalian lihat ya warnanya itu warna-warna Pinin Farina yang sporty [musik] banget. Nah, untuk aktifin fitur yang tadi kita bisa masuk ke [musik] bagian active matric display. Nah, di sini. Jadi kalau misalkan nyala jatuhnya seperti [musik] ini nih. Beh, cakep sih ya sebenarnya ya. Ini sih desain yang cakep banget karena memang mungkin kita bahas sejarahnya [musik] Pinin Farina juga ya. Jadi Pinin Farina ini adalah sebuah desain host di Italia yang dia mulai itu di tahun 1930. [musik] Mereka itu bikin-bikin mobil keren kayak selama hampir satu abad ya mereka itu punya tanggung jawab untuk tampilan mobil-mobil sport car. Yang paling ikonik itu ada Ferrari F40, Maserati GR Turismo atau Alfa Romero Spider. Itu mereka tuh yang bikin. Bukan Infinix aja sebenarnya yang pernah colab sama Panin Farina ini dulu kalau kalian ingat di zaman 2003 [musik] kalau enggak salah ada Acer yang colab sama Ferrari. Nah, Acer yang reguler sama Acer yang Ferrari itu harganya lebih mahal yang Ferrari sekitar 20%. [musik] Ada juga Pinin Farina Space Pen full pulpen doang. Ini pennaris yang pakai tinta. Harganya pas cololleab sama Pinin Farina itu di [musik] Rp8,5 juta untuk sebuah pena. Sap juga pernah colab kalau enggak salah soundbar sama Pininarina juga jadi home theater gitu kayak TV 8K itu dulu harganya di Rp50 [musik] juta. Karena memang colab-colab seperti ini jadinya itu belinya juga harus status. Cuman seperti yang saya bilang tadi kayaknya timing-nya Infinix ini yang kurang tepat. Nanti saya jelasin lah ya kenapa kurang tepat. Kita balik dulu ke desainnya Infinix yang mereka itu enggak cuma nempel logo aja, tapi kerja samanya ini ada banyak. Jadi, selain unisasis model, ada floating taight tadi yang warna merah-merah yang kalian lihat tadi nih. Seperti ini yang cakep banget ya. Jadi warna merah ketemu karbon, ketemu hitam itu kayak [musik] misterius. Sporty-nya juga dapat banget gitu. Tuh lihat. Eh, cakep. Cuman sayangnya ini harus pakai case ya, karena gampang nempel fingerprint. Coba kalau misalkan pakai cas, apakah warna merah-merahnya ini masih terlihat? Kok kiss-nya agak [musik] susah ya? Widih, masih, Guys. Karena kiss-nya ini juga karbon ya, jadi kayak seolah-olah enggak pakai kiss sama kayak kiss back [musik] covernya tadi. Terus untuk tombol-tombol kiss-nya juga bukan kiss yang murah. Tuh, feel-nya bukan kayak kiss plastik yang murahan jadi udah premium. Bobotnya pun kerasa solid ya. Ini saya ibaratin sih kalian pernah enggak sih salaman sama orang yang pura-pura percaya diri sama percaya diri beneran? [musik] Kalau pura-pura percaya diri itu kayak pas disalami kayak enggak meyakinkan gitu. Kalau ini Infinix ini yang beneran percaya diri. [musik] Jadi memang berat tapi solid, premium feel-nya itu kayak kita salaman sama orang yang beneran percaya diri. Terus ada active matric display yang di sebelah sini. Ini di Infinix Note 60 yang non ultra pun juga ada. Kita bisa mainan di sini ya. Jadi misalkan contoh kita main ini tuh dia bakalan entar. [musik] Nah kita bisa main kayak gini pakai Jairo nih. Entar kita ma. Nah, kita geser-geser kayak dulu zaman-zaman Tetris gitu. Tuh, kalau untuk varian warnanya dia ada empat. Jadi, ada Torino Black, Monzaret, Amati Blue, Roma Silver. Itu nama-nama yang ada di Italia. Ibaratnya kayak nama-nama kopi juga ya. Kalau kalian di restoran bintang lima atau kafe yang mahal, [musik] itu nama-nama kopi yang harganya di atas Rp80.000 kalau kata Timot Ronaldia. Terus kalau soal bil quality secara kesuluan bagian depan, bagian belakang itu dilindungi sama Corin Gorilla Glass Victus. [musik] Cuman sayangnya untuk harga Rp1 juta IP ratingnya masih IP rating 64. Harusnya sih udah 68 ya. Terus untuk layarnya dia ini 6,78 inch dan layarnya pakai AMOLED ya. Ini kalau misalkan kita pakai dark modood [musik] karena AMOLED jadi hitemnya itu hitem yang pekat banget. Terus untuk resolusinya kita bisa atur XD atau UXD dan untuk refresh range-nya [musik] dia ada di mentoknya itu 144 Hz. Kalau kita setting [musik] high seperti ini. Coba kita scroll dulu set. Eh, bentar. Scroll-nya di bagian sini deh. R. Nah. Nah, jadi 144 partners-nya kerasa sih. Dan htick feedback-nya bisa saya bilang ini hptic [musik] feedback paling enak yang pernah ada di Infinix karena kayak feel-nya HP flagship. Tapi ya pantes lah ya karena harganya di R [musik] jutaan. Untuk YouTube XDR-nya bisa nyala ya. Nah, ini mentok up skill-nya bisa sampai 2160p 60 fps XDR kita pilih dan hasilnya wah cakep sih kalau untuk layar sih no complain ya. Cakep banget. Terus juga [musik] peck brightness-nya ini tinggi di 4.500 nit. Ini belum brightness yang paling terang, tapi kalau saya tembakkan ke lighting tuh kita masih bisa lihat [musik] dengan aman. Dan kualitas layarnya sih saya suka ya karena warnanya itu antara titik terang dan titik gelapnya cukup balance, enggak overlapping gitu, cakep. Dan untuk audionya [musik] yang sound by JBL coba kita. Bentar kita nunggu basnya dulu. Oke, suaranya memang enggak gembret, tapi untuk bassnya kurang nendang dikit [musik] sih, tapi untuk soul staging udah oke. Enggak yang gembira juga, cuman memang bassnya bukan bassb yang kita kenal ya, walaupun dia ditun [musik] sama JBL. Nah, sekarang kita masuk ke spesifikasinya. Yang ini banyak disayangin sama orang ya, karena dengan harga 11 sampai Rp juta dia ini masih pakai Diamond City [musik] 8.400 Ulti. Mid sayang banget di Clash Haras gitu. Kalau misalkan chipsetnya 9.500 atau lebih tinggi dari ini mungkin orang bisa mewancari [musik] ya. Sayangnya ini Infinix. Coba kalau misalkan Samsung dengan Exyos-nya, Pixel dengan chipsetnya sendiri, Huawei dengan [musik] kirinya sendiri, Apple dengan iPhone 17-nya, orang-orang itu bakalan masih bisa terima karena software-nya udah matang. Dan orang yang beli ke4 HP [musik] tersebut itu kayak udah enggak mikirin performa, mikirnya udah status. Karena dari awal brand tersebut secara mapping itu udah bagus brandingnya ya. Jadi mereka punya line up yang jelas lah. Ada seri S, ada [musik] seri X yang memang ya secara branding udah bagus. Tapi Infinix sayangnya dia pakai 8.400 di [musik] seri Note walaupun ada kata ultranya tapi orang kan sudah tahu kalau misalkan Note series itu seri terjangkaunya Infinix, seri terjangkaunya Tren Shet. Ini bukan [musik] tekno yang seri flagship-nya dari transing. Jadi karena udah terbranding karena seri Note ini seri terjangkau dari Infinix, ibaratnya sama kayak kita beli di warung langganan kita. Terus dia habis itu renov, plating-nya juga bagus, tapi harganya naik du sampai tiga kali lipat. Nah, pasar yang udah kamu mendang-mending tadi [musik] ya jatuhnya pindah karena enggak kuat untuk beli di harga itu. Sama kayak si Infinix ini, dia enggak ada transisi dulu nih, langsung loncat dari harga R jutaan ke Rp1 juta. Walaupun ini dibranding sama si Pinin Farina ya, cuman kan dulu Infinix juga pernah colab sama BMW dan harganya pun juga enggak [musik] terlalu mahal. Nah, karena sekarang udah segini banget, orang tuh jadi kayak waduh kok tiba-tiba mahal ya? karena gak ada transisi yang menurut saya cukup untuk nge-branding Infinix untuk lepas dari [musik] HP murah. Jadi, maaf ya kalau misalkan saya agak cerewet di bagian performa malah enggak lihatin performanya gimana. Karena memang menurut saya ini buat saran juga buat Infinic ya, transisinya itu boleh kalau mau lepas dari istilahnya branding HP terjangkau. Tapi pelan-pelan bisa bikin seri baru atau subbrand baru itu menurut saya lebih masuk akal daripada [musik] harus tiba-tiba jedah kayak langsung R juta. Nah, kalau kita ngomongin AnTu ya sekencang-kencangnya 8.400 ya. Nah, skornya itu di sekitar Rp2.100 100 untuk HP harga Rp1 juta karena ini bukan Samsung, bukan Huawei. Huawei itu R1,5 juta. Exinos juga enggak nyampai segini tapi software-nya udah matang dan orang udah kebranding kalau beli dua itu udah beli status. Memang sih kalau untuk RAM-nya bisa dibilang ini RAM yang juga ada di HP flagship. RAM-nya 12 GB, [musik] storage-nya juga 512 GB dengan kondisi kelangkaan RAM kayak gini. Tapi ya itu tadi ya. Ini saya mungkin gak usah tes gaming karena bakalan sama, performanya sama kayak si Infinix GT50 Pro yang pernah kita review juga karena [musik] chipsetnya sama, RAM-nya sama, seterusnya sama. Jadi kalau kalian pengin lihat bisa lihat video kita yang itu karena harusnya dengan chipset yang sama sih mirip-mirip aja. [musik] Nah, sekarang kalau untuk baterai. Baterainya dia itu ada di 7.000 mazm ya. Bukan yang paling gede juga di kelasnya. Tapi karena dia pakai silicon carbon generasi ketiga, dia ada fitur satu lagi yang namanya itu self healing. Di mana dia bisa self heeling baterainya ketika dia [musik] di 1%. Jadi siklus baterainya itu lebih awet diklaiming phik sekitar 200 siklus. Nah, baterainya diklaim [musik] itu bisa tahan sampai 2000 siklus atau cycle con ya kalau misalkan di Apple. Jadi kalian [musik] cabut-cabut sampai 2000 itu masih aman ya kalau dihitung-hitung sekitar 6 tahun lah. Cuman ini adalah fitur yang harus kita coba bukan dampak langsung gitu. Kalau misalkan kamera 200 megapel itu kan langsung bisa kita dapatnya. Kalau baterai itu kayak istilahnya kita bayar pajak jadi kita enggak dapat langsung anugerahnya gitu. Kayak pembangunan jalan kan perlu perlu waktu. Terus baterai ini juga ngetesnya [musik] perlu waktu. Nah, Infinix karena pasarnya dulu itu kaum menang mending [musik] mereka butuh fitur yang benar-benar harus dia rasain sekarang. Bukan dampak jangka panjang. Tapi untungnya untuk kelas 11 jutaan dia udah dikasih adapter tadi yang 100 watt yang ngecasnya juga kencang. Bypass charging juga udah ada. Kalau untuk fitur-fitur itu [musik] aman. Fitur lain ada ultra link. Ultra link nih. Jadi kalian bisa teleponan sesama HP Infinix, sesama HP Trension bakal ya. Sama TNO juga bisa. [musik] Ini pernah saya coba di Cina juga dengan jarak range 1 kilo itu masih aman. Jadi dia itu pakai Bluetooth. Terus AI-nya kalau kita lihat juga udah lumayan lengkap ya. Bahkan ada pits-nya sendiri nih. Ada Vol [musik] voice call assistant ya. EAI yang biasanya ada di HP flagship itu ada semua. Nah, mending menurut saya sih dibandingkan collaps ya, [musik] dibandingin nyponsorin FPL, lebih baik Infinix fokus ke software. Jadi kalau misalkan software-nya udah matang di mana orang bisa merasakan ketergantungan sama software-nya, contohnya [musik] kayak One UI itu tuh kalau misalkan mau naikin harga menurut saya sih lebih makes sense lah karena dampaknya itu [musik] langsung gitu. Terus seperti biasa ada one tap button juga. Jadi kita bisa customize one tap button-nya. Plus ada multilink harusnya. [musik] Nah, ini multievice connection. Jadi kita bisa connectkan dengan laptop Infinix. Ada multi screen connection, [musik] instant transfer juga quick share-nya si Infinix. Untuk OS-nya dia pakai XOS16. Jadi out of the box-nya udah Android 16. Dan untuk action centernya pilihannya lebih rapi sekarang, ya. Terus ada ini motion shift ya benar motion [musik] sickness is releas display. Jadi kalau misalnya kalian aktifkan kalian HP yang di mobil itu bisa mengurangi yang namanya pusing. Terus untuk fitur-fitur lain ada health juga. Ini kalian bisa pakai ini [musik] kayak di sebelah sini. Jadi bisa digunain untuk hard sensor di sebelah sini ya. Cuman kalau ini sih lebih enak pakai smartwch sebenarnya. Cuman kalau kalian tipikal orang yang enggak suka pakai smartphone sih fitur ini bakal nice to have. Coba kita lihat apakah dia ada isimnya. Uh, ada guys. Jadi isimnya ada untuk harga Rp1 juta. IM alhamdulillahnya ada, ya. Oke, sekarang kita cobain dulu untuk kameranya. Sebelum kita keluar, coba kita foto ini. Karena tadi juga sempat belum kita bahas, ya. Jadi dia ada beberapa lensa. Coba kita dulu kita lihat ultrawide-nya. Nah, ini ultra. Nah, ini ultra wide. Ini min kameranya yang [musik] 200 megapel. Tele-nya 3,5 seperti ini. Eh, kok fokusnya susah? Bentar, ini aja deh. Terus [musik] ini kali 7. Nah, untuk hasilnya kira-kira seperti ini. Tapi habis ini kita coba di luar ya, karena [musik] objeknya di sini terbatas banget. Cuman yang menarik dia setup kameranya lengkap. Jadi ada ultrawide sampai tele videonya bisa seperti biasa. 4K. 4K-nya bisa berapa nih? 60 fps. Terus kamera depannya bisa di eh kameranya juga bisa 4K 30 fps ya, tapi 60 fps-nya enggak aktif. Oke, untuk kamera coba deh kita coba di luar ya. Oke, jadi ini adalah kualitas kamera depan dari Infini Note 60 Ultra dan ini juga dari mic internalnya Infinix. Enggak pakai mic tambahan ya. Ini kalau misalkan dynamic range kira-kira seperti ini. Oh, masih oki sih ya. Langi dan temboknya enggak jadi satu kayak biasanya HP-HP murah yang biasa kita review. Tapi kalau diguna untuk jalan karena 30 fps masih starter dan juga agak gempa. Tapi sebentar ya kita Ini ada lampu nih. Apa nih? Oh, jadi lampunya flash-nya bakalan nyala. Oke, ada softl juga. Softl-nya dari layarnya langsung bukan ada kayak semacam flash di depan kayak Vivo gitu. Terus ada loeless zoom-nya seperti ini ya. Oke, sekarang kita coba di 1080p 60 fps ya. Nah, kalau ini 1080p 60 fps dengan fitur steady on. Jadi, harusnya lebih g starter lah ya, dibanding yang tadi. Engak lebih gempa juga. Dan skin tone-nya sih masih natural. Jadi, kulit saya yang sawo busuk, suu matang ini masih terlihat enggak terlalu diinhand sama AI. Dan kalau untuk jalan kira-kira seperti ini, Guys. Ini dengan kondisi angin yang lumayan kencang, apakah suara saya bisa kedengaran dengan bagus? Coba kalian tulis di kolom komentar. kayak kotor ya rasanya ya enggak sih? Sama aja hasilnya. Apa beda ya? Sama sih hasilnya. Sekarang kita coba kamera belakang. Nah, ini kamera belakangnya. Kalau di ultrawide dia cuma bisa 1080p 30 fps, tapi bisa pakai lensa ketiganya ya. Kira-kira seperti ini kualitasnya kalau di 1080 P 30 FPS ya. Dynamic range oke. Autofokus coba di 1080 P 30 FPS ini kayak gimana? Aman-aman juga, cuman warnanya kayak kurang keluar gitu ya. Tuh, seperti ini. Ini 4K6 eh sori 1080 P 30 FPS. Terus kita bisa pakai 4K 60 fps asalkan ya ultrawide-nya dimatiin dulu. Nah, wah ini sih jauh lebih detail ya 4K 60 FPS-nya. Coba lihat. Lumayan sih ya. Dynamic R juga bagus. Tuh bayangan di pohon tuh juga kelihatan lebih detail. Terus juga tilting aman aja. Coba kita penning. Dari sini ya. Dari sini kita coba ke sini. Set. Mantap. Autofokus juga jalan dengan oke. Terus kalau untuk detail coba kita zoom di sini. Uh, cakep sih ya videonya ya. Tuh, bokya juga pas gitu ya kan. Tuh. Dan telen-nya yang 50 megapel gimana kalau dicoba video? Kita coba ya. Set. Weh, animasinya bukan yang tab gitu. Udah oke kok. Ya, mantap. Autofokus coba. Wih, auto fokusnya sih kencang ya. Mantap sih. 200 megapel dari Samsung nih. Terus ini buat apa? Ini tuh kayak buat mobil ya, jadi kayak wireless charging [musik] yang keren banget tuh. Bentuknya udah kayak mobil kan ya. Jadi ini lampunya, ini bagian belakangnya. Eh, bagian belakang yang mana ya? Ini depannya deh kayaknya ya. Terus bagian belakang yang ini. Terus ini kan ada type C-nya nih di sini nih. Tuh. Jadi kalian masukin kabel dari sini, lubang yang di sini masuk ke sini. Terus bagian infnya ada di atas seperti ini. Terus kita masukin. Eh, salah sori sori. Ini ke sini. Nah, kayak gini. Nanti si kabelnya bakalan masuk ke type C sini nih. Terus kalau misalkan mau ngecas tinggal ditaruh kayak [musik] gini aja. Sebenarnya cakep sih ya, cuman ya tinggal chipsetnya mungkin di-upgrade sama mungkin [musik] bikin seri baru lah ya Infinity ya. Entah seri GT, seri X atau seri apalah Phantom terserahlah namanya yah. Okelah, jadi mungkin cukup segitu aja video unboxing dan juga first impress dari Infinite [musik] Note 60 Ultra. Jadi apakah HP ini worthed buat dibeli? Jujur jawabannya saya agak galau sih ya. Buat saya yang cowok yang saya suka banget sama Utung Motif, desainnya ini cakep banget jujur menurut saya ini desain [musik] HP yang salah satu yang paling keren untuk Android menurut saya ya. Jadi desain Unisasis dan floating light-nya itu kerasa premium. Saya rasa panteslah kalau misalkan dia jadi barang collectibles, [musik] terutama buat yang suka utom not motif. Terus baterai self feeling-nya tadi menurut saya juga fitur keren dengan silikon karbon generasi ketiganya cuman ya itu harus dibuktiin [musik] 6 tahun lagi. Build quantity-nya juga menurut saya pantas kalau di harga Rp1 jutaan karena firm padat. Jadi itu tadi kayak salaman sama orang yang beneran percaya diri. Tapi sayangnya ekspektasinya kayak saya dilema gitu R juta buat Infinix. Karena di otak saya Infinix itu ya King Phoenix, HP perusak pasar. Kayak bayar chipset harga R jutaan atau sampai R jutaan dengan dapatnya 8.400 Ultimate itu kayak [musik] jadi pil pahit buat komunitasnya Infinix. Terlebih lagi yaitu tadi brandingnya itu udah HP terjangkau sampai ada julukannya King Phoenix. Yang bikin julukan itu bukan Infinix sendiri ya, tapi dari komunitasnya sendiri [musik] King Phoenix. Jadi menurut saya kayak salah kamar aja gitu. Infinix naruh harga premium di seri Nude itu terlalu beresiko karena orang udah terlalu kenal seri Note itu terjangkau. Iya sih si Infini Note 60 Ultra ini memang pendekatannya menurut saya lebih menarik karena dia menggandeng desain House Italia yang memang ya mahal untuk kolaborasi ini. Cuman harusnya diimbangi dengan spek yang lebih baik atau mungkin Infini udah kontrak sama MediaTek ya beli 8.400 sebanyak [musik] sampai kapan gitu. Makanya 8.400 00 semua itu mungkin juga sih. Tapi saran saya buat Infinix kalau misalkan mau naikin harga boleh kok ya. Karena di kondisi seperti ini ya kalau misalkan enggak naikin harga [musik] enggak ada margin ya kasihan kan. Cuman harusnya pelan-pelan atau bikin subbrand baru [musik] kayak Xiaomi kan ada Redmi ada Poco. Kalau di seri Vivo, Oppo kan ada seri [musik] Y, seri A, V, seri X. Jadi subbrandnya itu benar-benar terlihat gitu ya. Enggak langsung naikin harga di seri ini. Itu kayak salah kamar menurut saya jatuhnya. Kalau saya boleh ngasih skor sih desain saya kasih 9,5 lah. Top juara desainnya saya suka banget. Inovasinya self heeling batery. Terus juga floating light-nya, heptic feedback-nya juga udah bagus. Saya kasih 9,5 juga. Tapi kalau value for money-nya 6,8 lah ya. Karena untuk Rp1 juta 8.400 Ultimate. Coba deh menurut kalian gimana Rp1.8.400 Ultimate coba kalian tulis di kolom komentar ya. Saya and see you on the next video.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Episode Terakhir.....
Oleh DKID Media
10m 24s

Kabar mengejutkan datang dari jagat media teknologi tanah air seiring keputusan DKID Media untuk menyudahi KOTEK (Komedi Teknologi) tepat di episode kesepuluhnya....

Brand Terkait

Samsung

Samsung menghadirkan smartphone Galaxy, tablet, wearable, TV, dan perangkat rumah tangga dalam satu ekosistem terintegrasi. Samsung dikenal dengan teknologi layar terbaik, performa tinggi, dan inovasi global untuk kebutuhan modern.

Apple

Apple adalah brand teknologi premium dengan produk iPhone, Mac, iPad, Apple Watch, dan AirPods dalam satu ekosistem terintegrasi. Apple menghadirkan inovasi, performa tinggi, dan keamanan terbaik untuk produktivitas serta hiburan modern.

Huawei

Hubungkan inspirasi, sinergikan produktivitas dengan ekosistem digital HUAWEI Indonesia. Temukan smartphone premium, tablet, laptop, dan wearable canggih di sini.