VIVO VISION? Lebih Oke Dari Apple Vision Pro?: JAJAL vivo Di Shenzhen feat. vivo V60. (YouTube Video)
Jumpa lagi di Jagat Review. Sekarang saya lagi ada di Senchen untuk menghadiri event anniversary Vivo yang ke-30 tahun. Di sini Vivo juga merilis VR headset terbaru mereka yaitu Vivo Vision. Dan di sini saya juga sekalian tes vlogging pakai smartphone Vivo terbaru yaitu Vivo V60. Seharusnya saat video ini tayang full review-nya juga udah ada sih. Jadi di sini saya lebih pengen tunjukin aja seperti apa kemampuan kameranya Vivo V60 untuk perjalanan saya kali ini. Sekalian kita juga akan kunjungan ke headquarter Vivo yang ada di sini juga. Oke, selamat datang di Jajal. Jagat jalan ikutan. Oke, jadi di dua hari pertama ini kita diajak Vivo keliling ke berbagai tempat ya, dari restoran, mall, dan personal favorit saya itu kita diajak nonton pertunjukan teater. Ini lokasinya ada di Splendid China Fall Culture Village. Kalau lokasinya sendiri sih saya lihatnya lebih kayak TMEI lah, tapi ukurannya lebih gede TMI sih. Di sini sekalian saya cobain Vivo V60 untuk ambil foto dan video. Untuk zoom maksimum yang saya pakai itu di sekitar 10 kali zoom. Lebih dari itu menurut saya terlalu pecah gambarnya. Berikut beberapa foto yang saya ambil pakai kamera telinnya Vivo V60 ini. Dari jarak tempat duduk saya ini termasuk jarak yang standar teater ukuran medium lah ya. Vivo V60 masih bisa bersinar di sini. Tapi kalau level jarak nontonnya seperti lagi di cat GBK terus ke panggung di tengah menurut saya itu belum pas sih. Itu lebih jauh lagi. Terkait video kamera tele ini sebetulnya beres-beres aja hasilnya. Stabilizernya juga bekerja dengan aman. Catatannya hanya di kamera utamanya aja. Seringkiali saya mendapati videonya tuh over expose kalau di mode auto. Solusinya tinggal atur exposure videonya aja secara manual. Vivo V60 ini punya fitur stage mode sih, tapi baru untuk foto aja. Untuk video saat ini belum bisa. Selesai dari sini kita menuju kawan Tungman Pedestrian Street untuk belanja dan makan malam. Kalau di Jakarta 5C ini kurang lebih kayak di Blok M lah. Besoknya kita diajak ke berbagai tempat wisata sekalian hunting foto. Ini lokasinya ada di Senchen, Upper Hills. Asli dah, arsitekturnya keren banget di sini. Fitur di Vivo V60 yang saya pikir tadinya gimmik doang gak bakal kepakai itu adalah AI4 Seasons. Surprisingly, saya lumayan sering pakai fitur ini. Jadi di setiap spot-spot foto yang banyak gedung dan hijau daun, hasilnya bakal keren-keren. Saya pribadi suka, tapi foto-fotonya ini butuh diproses secara online, ya. Jadi fitur ini butuh terkoneksi ke internet juga. Yang perlu diperhatikan paling warna hijaunya sih. AI-nya ini enggak pandang bulu soalnya. Bangunan pun kalau warna temboknya hijau bakal diubah juga warnanya. Kayak ginilah contohnya. Kalau yang ini kita lagi hunting foto di daerah yang namanya Nanto Ancient Town. Ini menarik sih daerahnya. Padahal ini kayak komplek yang isinya apartemen warga. Banyak juga yang masih tinggal di sini cuma sama mereka dijadikan tempat wisata untuk turis. Sore ke malam kita juga hunting foto di Feris Wheel yang jadi spot iconic di Kota Senchen ini. Oke, kita langsung aja ke main event-nya. Perayaan anniversary Vivo sekaligus peluncuran Vivo Vision. Di sini kita lebih dengerin presentasinya aja dan cuma bisa lihat produknya belum boleh dipegang. Kita baru bisa handson dan cobain Vivo Vision besoknya. Jadi kita diajak ke headquarter Vivo yang gode ini. Khusus untuk nyobain Vivo Vision. Ini aja ngantri ya. Per orang cuma dikasih waktu sekitar 30 menit untuk nyobain sekaligus bikin konten. Nah, untungnya nih ya Vivo Vision-nya ini dihubungkan ke sebuah tablet. Jadi saya bisa kasih lihat ke kalian apa yang saya lihat dari headsetnya. Ini senang banget saya bisa nyobain langsung next level entertainment seperti ini. Ini responsivitas untuk navigasinya sudah setara dengan Apple Vision Pro. Secara hardware dan software bisa saya bilang sudah cukup matang. Untuk yang penasaran SOC-nya pakai apa, ini pakai Qualcom punya ya. Namanya Snapdragon XR2 Plus. Jadi Qualcom sendiri ternyata sudah siap ya untuk teknologi VR seperti ini. Dari segi baterai ini masih pakai konsep seperti Apple Vision Pro. Kita butuh pakai power bank yang terpisah. Power bank-nya sendiri enggak bisa sebarang power bank ya. Vivo menyediakan power banknya sebagai satu set. Kapasitasnya adalah 5.560 mAh. Dan diklaim bisa untuk penggunaan sekitar 2,5 jam. Untuk navigasi menunya tentunya kita pakai jari tangan dan mata kita ya. Saat setup awal kita akan ada kalibrasi terlebih dahulu. Konsep teknologinya itu pakai motion tracking ya. Vivo Vision ini dilengkapi beberapa kamera dan sensor untuk mengukur pergerakan tangan kita di udara. Hal yang impresif menurut saya adalah bobotnya dan kompa-nya. Gila, cuma 398 gr, cuy. Sebagai gambaran, Apple Vision Pro itu di sekitar 650 gr. Lalu, Apple AirPods Max itu sekitar 380 gr. Jadi ini sudah seperti pakai headset biasa aja. Dan mungkin akan muncul pertanyaan juga ya, ini nasib yang matanya minus gimana? Saya pribadi juga pakai kacamata. Jadi sebelum nyobain, tim Vivo pinjam kacamata saya untuk mengukur minusnya karena Vivo juga menyediakan lensa khusus untuk dipasang ke dalam device-nya. Intinya ini sudah diperhitungkan sama tim AR di Vivo lah. Tapi terlepas canggihnya teknologi ini, Vivo juga menghadapi masalah yang sama dengan Apple, yaitu kontennya enggak banyak. Developer software belum banyak yang mau bikin software spesial untuk hardware-nya ini. Selain kompleks, R&D-nya juga mahal luar biasa. Marketnya juga belum terhitung besar. Makanya untuk awal-awal pakai sih pasti semua akan terkesan. Tapi kalau kontennya sedikit, ujung-ujungnya jadi terabaikan. Seru di awal doang. Apple Vision Pro juga sudah jarang ada yang bahas lagi kan sekarang. Nah, untuk saat ini meskipun sudah diluncurkan Vivo Vision ini belum dijual bebas di pasaran ya. Mereka masih dalam proses survei pasar dan mencari feedback masyarakat. Vivo sendiri memutuskan untuk membatasi ketersediaannya hanya untuk pengalaman di dalam toko dan pemesanan yang terbatas. Untuk harganya sendiri dijual di sekitar 10.000 yuan atau setara dengan 1400 USD. Ini harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Apple Vision Pro yang dijual mulai dari 3.500. Asli sih, saya pribadi tertarik untuk menggunakan VR headset seperti ini buat nonton film, Bro. Beh, gila asik banget. Bisa nonton film dengan warna layaknya lagi nonton di TV biasa. Tapi ukurannya kita bisa atur sesuai selera dan layarnya bisa menyesuaikan posisi ke mana kepala kita menghadap. Karena konsepnya floating window, kita juga bisa mengatur posisi layarnya ada di mana. Speaker di sini pun bagus ya dan cukup imersif. Posisinya ada di bar kiri kanan yang ini. Asyiknya meskipun kita stel ke volume yang besar, pengalaman audionya gak akan sampai mengganggu orang lain. Setidaknya kalau kita pakai di satu ruangan kecil, suaranya tuh enggak sampai tembus tembok dan mengganggu tetangga. L enggak sabar sih menunggu produk ini segera mainstream dan terjangkau. Yes, ini benar-benar next level entertainment. Semoga segera jadi next level productivity juga. Saya juga sempat mampir ke offline store Vivo yang ada di sini ya. Asik juga ya jadi warga lokal di sini. Produk-produk teknologi baru seperti ini bisa mereka coba duluan dan variannya bahkan lebih banyak ketimbang beberapa negara lainnya. BTW mau intermezo sedikit ya di luar teknologi sih. Buat yang mau ke Senchen dan kebetulan wibu sejauh pantauan saya selama trip ini, daerah sini ada beberapa toko yang jual figur, aksesoris anime, dan game juga. Tapi koleksinya masih B aja sih menurut saya. Lebih banyak koleksi-koleksi barang lama. Kalau kalian ekspektasinya mau belanja perwibuan yang lengkap, mungkin ini bukan kota yang pas. Sekian perjalanan liputan saya kali ini. Agenda lainnya lebih banyak hunting foto dan jalan-jalan aja sih. Saya pribadi kalau lagi trip seperti ini suka tema foto candid. Formula yang saya pakai sederhana sih. Zoom dua kali atau sekitar 50 mm pakai portret mode. Lalu cedit foto dari jarak jauh. Oke, thank you buat kalian yang sudah nonton. Sampai jumpa lagi di video pembahasan teknologi berikutnya. Saya Kris Jagat Review. Bye.
Video Lainnya
Mendobrak smartphone kelas menengah, vivo Y500 tampil memukau dengan baterai monster 8100mAh. Visual AMOLED simetris dipadukan algoritma foto ala X300 juga...
Bursa ponsel 2026 memanas oleh inovasi brutal. Persaingan kini berpusat pada pesona lensa periskop, monster baterai ekstrem, dan cip pendingin cair. Panduan taktis...
Di tengah lonjakan harga kebutuhan sehari-hari, menemukan perangkat pendukung produktivitas yang andal tanpa menguras kantong menjadi tantangan tersendiri bagi para...
Langkah tidak biasa diambil oleh Jagat Review saat mendadak menunda ulasan mendalam untuk vivo X300 Ultra, kasta tertinggi ponsel flagship di tahun 2026. Di balik...
Kehadiran bocoran seputar iPhone 18 Pro di tengah riuhnya pasar smartphone tahun ini memicu perdebatan sengit mengenai urgensi melakukan upgrade. Lewat pendekatan...
Kabar mengejutkan datang dari jagat media teknologi tanah air seiring keputusan DKID Media untuk menyudahi KOTEK (Komedi Teknologi) tepat di episode kesepuluhnya....
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Mencari laptop tipis dan ringan di tengah lonjakan harga RAM global belakangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelajar dan mahasiswa yang bersiap...
Pertarungan sengit di lini kamera smartphone flagship kembali memanas lewat adu mekanik tiga raksasa ultra yang membawa inovasi pemrosesan gambar paling ambisius...
Kabar mengejutkan datang bagi para pencinta ekosistem Apple karena raksasa teknologi ini dikabarkan siap merombak strategi harga mereka secara global. Kenaikan...
Kehadiran laptop berprosesor mobile sering kali dipandang sebelah mata oleh para pencinta performa, namun adu tanding terbaru antara MacBook Neo dan laptop gaming...
Kabar kurang menyenangkan datang bagi para pencinta ekosistem Apple, menyusul rumor kuat mengenai lonjakan harga perangkat masa depan mereka akibat ketergantungan...


















