Jungkat

Waktunya Pindah ke QLED? Smart TV 4K Terbaru dgn AIPQ dan Garansi Burn-In Panjang - Review TCL T6C (YouTube Video)

  • 06/06/2025

Smart TV ini pakai layar 4K QLED bisa 120 Hz sudah support HDR 10 Plus dan ada juga Dolby Atmos-nya di sini ya. Ini adalah TCL T6C. Lini Smart TV ini disebut TCL menawarkan warna yang lebih hidup dan yang penting tahan lama. Selain itu, Quantum Dot ini katanya bikin mata enggak cepat lelah saat nonton. Garansinya sampai 10 tahun untuk burn in. Panjang ini ya. Fiturnya banyak. Bahkan ada beberapa fitur berbasis AI yang digunakan untuk meningkatkan kualitas tampilan TV ini. Ini berkat penggunaan AIQ prosesor. Efeknya tampilan warna TV ini katanya jadi punya saturasi tinggi mendekati 100% dp3. TV ini juga pakai OS Google TV jadi dukungan aplikasinya melimpah di sini. Oke, langsung aja kita mulai pembahasan Smart TV yang satu ini. It's time to change to QLET. Ya, menurut TCL ini sudah waktunya untuk ganti TV QLET. TCL sendiri sudah terbilang berpengalaman sekali di dunia Qulet dengan 2485 paten global terkait Qlet yang sudah mereka kreasikan. Karena itu mereka menghadirikan beberapa lini smart TVET mereka ke Indonesia termasuk T6C ini yang diposisikan untuk mengisi kelas menengah. Bersama T6C ini mereka juga membawa lini V5C yang diposisikan di kelas terjangkau serta C6KS yang diposisikan di kelas premium. Untuk lini T6C Smart TV ini hadir dalam en pilihan ukuran mulai dari 43 inci, 50 inci, 55 inci, 65 inci, 75 inci sampai 85 inci. Nah, yang kita review ini adalah yang ukurannya 55 inci. Kita langsung aja mulai pembahasan TV ini dari paket penjualannya. Di sini kita lihat ada unit smart TV tentunya ya. Lalu ada dua buah stand lengkap dengan bautnya dan ada kabel power, ada kabel converter AV in ke 3RCA. Lalu ada remote Bluetooth dan paket dokumen. Nah, Smart TV TCL1 ini disebut menggunakan metallic baseless design yang terlihat minimalis tapi tetap modern. Tebal bezel kiri atas kanan ada di kisaran 8 mm saja. Sementara bezel bawah layar tuh agak lebih tebal di kisaran 15 mm. Tapi wajar ya untuk sebuah TV ya. Nah, di dasar TV ini terdapat sebuah tombol power yang juga menangkap sebuah tombol kontrol dari TV yang satu ini. Terdapat pula dua unit speaker yang ditempatkan di area kiri dan kanan. dasar TV ini. Selain itu, ada juga dua buah stand atau kaki-kaki yang terletak di ujung kiri kanan area dasar TV. Stan ini terbilang cukup kokoh ya dan ini mengangkat TV sekitar 5 cm dari permukaan meja. Ini agak sedikit kurang tinggi kalau mau pasang soundbar di bawah TV-nya. Jadi kalau butuh pakai soundbar tambahan, kita harus menempatkannya di depan TV. Beralih ke sisi belakang, di sini ada area yang sedikit menonjol di area tengah bawah. Ada lubang mounting Vesa 200* 200 mm di area yang satu ini. Di sebelah kiri area tersebut ada konektor power. Sementara di sebelah kanan area tersebut ada konektor IO yang semuanya menghadap ke samping kiri. Untuk dimensinya tanpa stan adalah 122 * 70 * 8 cm. Sementara dengan stand2 * 75 * 26 cm. Untuk spesifikasi layarnya ini ukuran 55 inci untuk yang kita uji ya. Resolusinya adalah 4K 3840 * 2160 piksel ya. Panelnya HVA dari TCL. Eh ini HVA ya bukan VA. Beda tuh ya. Beda, HVA ini banyak disebut sebagai IPS level ya, lebih mirip ke IPS atau bahkan ya mirip banget, sama bangetlah sama IPS. Kalau menurut TCL, panel tersebut menawarkan kontras yang lebih tinggi dan detail gambar yang lebih tajam. Selain itu, panel ini juga menawarkan viewing angle yang luas lebih dari 178 derajat horizontal dan vertikal. Untuk teknologi layarnya tentunya pakai QLED. Qlet ini disebut TCL kekinian, ya, serta aman dan nyaman membuat mata kita tidak cepat lelah saat menonton. Refresh set-nya up to 120 Hz. Tapi untuk resolusi 4K kita cuma dapat sampai 60 Hz. Untuk video procesor dia pakai AI PQ prosessor. HDR-nya dia pakai HDR 10 Plus dan ada Dolby Vision juga. Dilengkapi juga dengan fitur penunjang tampilan seperti AI clarity, AI color, AI contrast, AI HDR. Untuk audio dia dua speaker di sini sudah support DualB Atmos. OS-nya menggunakan Google TV dan Google Assistant serta Chromecast Buildin tentunya jadi tersedia di sini ya. Untuk kreativitas dia punya Wii, Bluetooth, dan Ethernet. Untuk TV-nya ini digital dan analog sudah didukung di sini dan tentunya mendukung DVT2 yang digunakan TV digital di Indonesia. Jadi kalau menonton siaran TV digital lokal cukup pasang antena aja enggak perlu STB tambahan lagi. Untuk konektor IO dari atas ke bawah ada satu port USB 3.0 type A, ada Ethernet, lalu ada tiga port HDMI 2.1 port dengan label HDMI 3 itu mendukung ec atau arc. Nah, semua port HDMI ini mendukung input sampai 4K60 atau QHD 120 Hz. Kemudian di sini ada antena input, ada AV input dan digital audio output. Nah, karena menggunakan OS Google TV saat pertama kali dinyalakan akan ada proses setup awal khas Google TV seperti menghubungkan ke WiFi dan login ke account Google. Setelah itu, TV siap digunakan untuk menikmati konten. Nah, di sini terdapat beberapa aplikasi yang terinstal secara default ya, seperti Netflix, YouTube, Disney Plus, Hotar, Prime Video, dan lain-lain. Dan kalau kalian butuh aplikasi tambahan, tersedia banyak pilihan aplikasi yang bisa di-download via Google Play Store. TV dilengkapi dengan tiga port HDMI untuk menghubungkan perangkat lain seperti console, game atau laptop juga bisa. Saat kita hubungkan ke laptop, TV ini bisa berjalan dengan lancar di 4K dengan 60 Hz, baik di mode SDR maupun HDR ya. Namun kalau refresher kita atur ke 120 Hz, resolusi otomatis turun ke 2560* 1440 piksel. Kemudian ada juga opsi AV in ya kalau memang dibutuhkan. Kalau mau casting konten kita bisa pakai Chromecast tinggal aktifkan saja dari smartphone, tablet atau laptop kita dan konten akan tampil di TV dengan ukuran tampilan yang besar. Sementara kalau mau casting dari perangkat Apple bisa pakai Apple AirPlay kok. Tenang. Nah, kalau butuh mutar file dari storage berbasis USB, kita bisa pakai port USB. Ini bisa untuk file video, audio, dan gambar juga. Selain itu, port USB ini juga bisa digunakan untuk memasang perangkat input seperti keyboard. Nah, ini bisa mempermudah kita kalau mau lakukan input teks ke TV. Nah, untuk navigasi terdapat sebuah tombol fisik di bagian dasar TV ini yang juga merangkap sebagai tombol power. Sayangnya nih agak kurang praktis ya saat digunakan, jadi lebih baik sih gunakan remote bawaan TV-nya aja. Remote TV ini menggunakan koneksi Bluetooth dengan desain yang lumayan modern ya dan minimalis di sini. Meskipun demikian, remote ini tetap memiliki tombol shortcut untuk beberapa aplikasi streaming seperti YouTube, Netflix, WTV, dan menariknya ada video di sini. Wah, sudah dilokalkan sekali ya, di Indonesiain banget yang satu ini ya. Remote ini juga mendukung voice input ke TV. Ada tombol yang harus ditekan dan ditahan saat kita menyebut perintah ke Google Assistant. Contohnya seperti ini. Open YouTube. Opening YouTube for Android TV. Open Netflix. Opening Netflix. Oke, sekarang langsung aja kita coba TV ini untuk menikmati konten. Kami merasa buat TV ini bisa menawarkan warna yang terbilang memadai dan akan terasa mencukupi untuk kebanyakan orang. Presenkan hasil pengujian kami di mode standar gamut coversnya itu berada di 99,6% SRGB dengan gambut volume di 126,3% sRGB. Sementara di mode Vivit gambut coversnya itu ada di 99,8% SRGB dengan gamut volum di 148,7% sRGB. Mode movie ini terlihat di tuning agar mendekati 100% sRGB baik untuk gamut coverage maupun gamut volume. Tapi untuk brightness kami merasa memang ini beratus yang tawarkan TV ini agak sedikit kurang ya. Punjian kami beratus ditawarkan tuh hanya mencapai 190 nit saja di mode standar untuk yang SDR. Sementara untuk HDR brightness ada di kisaran 320 nitz. Tentunya ini bukan yang super terang ya. Ini sekedar mencukupi saja. Nah, bagaimana dengan HDR10 dan Dolby Vision? Saat kami coba ini bisa berjalan dengan baik ya. Untuk HDR10, preset tampilan tersedia terbilang mirip dengan di mode SDR. Sementara untuk Dolby Vision tersedia preset Dolby Vision Bright dan Dolby Vision Dark. Nah, kalau bicara soal viewing angle, sayangnya kami merasa ada pergeseran warna dan kontras yang bisa agak mengganggu sebetulnya warna jadi terlihat sangat pudar kalau kita melihat TV ini dari posisi yang tidak tegak lurus dari depan TV. Kemudian fitur motion clarity atau biasa disebut dengan MC itu juga tersedia di sini. Ini berfungsi agar konten dengan frame rate rendah tampil seakan-akan punya frame rate yang tinggi. Secara standar ini akan aktif di berbagai preset tampilan. Kalau resetnya tidak dibutuhkan, ini bisa kita matikan kok ya. Lalu untuk upsaler juga tersedia di sini. ini bisa membuat konten 720p bahkannya tampil relatif baik di TV ini. Nah, untuk audio speaker TV ini secara standar bisa menghasilkan suara yang terasa cukup rapi. Ya, detailnya memang belum yang terasa luar biasa banget tapi setidaknya kita bisa mendapatkan mid dan travel yang rapi serta ada bassnya lah sedikit di sini tentunya karena hanya mengadakan dua buah speaker kita masih belum bisa mendapatkan efek surround seperti yang luar biasa melingkupi kita. Nah, kalau merasa butuh sistem audio tambahan, tenang, TV ini mendukung output digital audio. Bisa pakai Eart dan bisa pakai Bluetooth juga. Saya memang di sini tidak ada dukungan output analog audio. Nah, untuk navigasi di Google TV dan di aplikasi streaming ini terasa cukup lancar ya. Dalam aplikasi pun tidak terasa ada lag-lag yang mengganggu di sini. Terkait menu pengaturan, TCL menyediakan overlay menu yang tampil di sisi bawah layar. Kita bisa mengakses berbagai setting dari menu ini termasuk untuk picture mode, sound mode, dan banyak lagi. Kalau butuh membuka menu pengaturan utama, kita juga bisa melalui overlay yang satu ini. Nah, kalau butuh pengaturan lebih lanjut untuk picture mode atau sound mode, menu pengaturan akan muncul sebagai overlay di sisi kiri layar. Jadi, kita bisa melihat langsung efek pengaturan yang dilakukan. Yah, ini TV yang benar nih. Enggak usah repot-repot nutup aplikasi dulu, nyeting, balik lagi ke aplikasi. Enggak usah. Sekarang mari kita coba TVCL ini untuk main game. Gimana? Ah, di sini ada pengaturan untuk game master. Secara standar ini diatur ke auto. Nah, kalau ini aktif kita bisa membuka game bar. Game bar ini biskan beberapa fitur gaming yang ditawarkan oleh TV ini seperti virtual aim dan ALLM. Sayangnya saat diuji tidak ada VRR di TV ini. Jadi fitur gamingnya terasa agak minim untuk kelas harganya. Nah, kita coba nih main game dengan laptop gaming. ALLM terlihat bekerja dengan baik dan TV otomatis masuk ke moda tampilan game. Di mode ini pengaturan motion secara otomatis dinonaktifkan. Ini akan membantu mengurangi input lag tentunya ya. Secara umum main game di TV ini terbilang nyaman, input lag-nya enggak kerasa dan ukuran 55 inci di TV ini menawarkan tampilan ukuran yang relatif besar dan kualitasnya terbilang mencukupi juga. Oke, sekarang kita bahas konsumsi dayanya. Di preset tampilan standar TV ini untuk konten non HDR konsumsi dayanya ada di kisaran 30 sampai 50 watt. Sementara di preset lain rata-rata konsumsi daya ada di 80 sampai 87 watt. Untuk konten HDR dan Dolby Vision, konsumsi daya di semua preset itu masih ada kisaran yang sama ya di 85 sampai 90 watt. Ini masih terbilang cukup wajar untuk sebuah smart TV 55 inci. Nah, untuk harganya TCL T6C dengan ukuran layar 55 inci ini dijual dengan harga kisaran Rp7.499.000. Sementara untuk varian ukuran layar yang lain 75 inci harganya di Rp15.499.000. Sementara yang 85 inci itu harganya di Rp21.499.000. Di atas T6C ini TCL juga menghadirikan lini C6KS. Ini tentunya sudah menggunakan QD dan pakai backlit mini LED. Sudah ada fitur hands free voice control juga di sini. Sementara untuk yang lebih terjangkau ada V5C. Kalau yang ini sudah pakai panel HVA yang sama dengan T6C tapi tidak pakai QD. Terkait varian ukuran layar dan harga dari kedua L tersebut, langsung cek aja link di deskripsi video ini. Oke. Nah, semua TV Qlet dari TCL termasuk T6C ini dapat garansi ekstra 10 tahun untuk burn in. Oke, kita masuk ke hal yang perlu diperhatikan. Pertama, refresh rate-nya sampai 120 Hz, tapi bukan untuk resolusi 4K. Kalau 4K itu cuma 60 Hz. Kalau mau sampai 120 Hz, kita harus turunkan ke QHD atau full HD. Lalu tidak ada VRR setidaknya saat kami menguji TV ini. Kemudian viewing angle terasa agak kurang ya, masih terasa pergesaran warna dan kontras yang agak mengganggu di sini. Lalu brightness layar ini sekedar mencukupi aja di 200 nitz agak kurang pas untuk penggunaan ruangan yang banyak jendela di siang hari gitu ya. Kurang pas aja di sini. Lalu port IO terasa agak minim, tidak ada analog audio output dan hanya ada satu untuk USB-nya. Desain stand juga membuat kita agak sulit menempatkan soundbar di bawah TV. Dari s kelebihannya yang saat ini udah pakai Google TV dengan dukungan aplikasi yang melimpah. Lalu ada dukungan voice command dengan Google Assistant. Ada dukungan untuk HDR1 Plus dan Dolby Vision Atmos. Kemudian masih ada juga fitur penunjang game seperti game mode, game konsol dan ALLM. Lalu dia punya tiga port HDMI masih ada AVIN juga. Jadi total bisa dihubungkan ke empat perangkat lain sekaligus dan dia sudah support ER juga ya. Refresh rate itu bisa sampai 120 Hz walaupun memang di resolusi QSD atau di bawahnya. Kemudian resiko terjadinya burn in di layar ini kecil sekali karena ini bukan pakai OLED, ini kan pakai QLED dan dia sudah siap untuk TV digital di Indonesia. Nah, pertanyaannya TV1 ini cocoknya kira-kira buat siapa? Dari ukurannya untuk yang 55 inci ini sebenarnya cukup fleksibel untuk dipakai di mana saja. Mau taruh di apartemen ukurannya masih oke dan enggak terlalu makan tempat. Buat yang rumahnya tipe cluster ini juga masih pas kalau mau diletakkan di ruang tamu. Enggak kelihatan terlalu kecil dan juga enggak terlalu besar ya. Bahkan buat rumah yang lebih luas kalau diakan tidak butuh TV yang ukurannya super besar ukuran 55 inci harusnya masih lumayan oke lah ya. Nah pada akhirnya kalau kalian memang sedang mencari smart TV 55 inci yang mendukung teknologi Qlet dan Google TV kami rasa yang satu ini bisa dipertimbangkan. Saya Irfan Jaka Tib TV. [Musik]

Lihat di YouTube