Wi-Fi & 5G Ternyata Bukan Internet?! Ini Penjelasan Sebenarnya! (YouTube Video)
Eh, coba lihat ini. Ini WiFi versus 5G lagi download file 5 GB. Wi-nya saya dalam waktu 3 menit 12 detik. 5G-nya 4 menit 15 detik. Nyari seimbang ya. Enggak jauh beda ya. Pantas aja banyak yang bilang ngapain pasang wifi 4 5G aja udah cukup. Nah, di video ini saya akan jelaskan kenapa asumsi itu cuman benar separuh. Saya juga akan jelaskan cara makai kedua layanan ini mana yang sebenarnya lebih penting buat kita. Kenapa Wii dan 5G itu tidak sama? Dan kenapa Wii dan 5G itu bukan internet? Mari kita kupas. Oke, sebelum kita masuk ke pembahasan detail itu banyak orang yang bilang bahwa 5G aja atau bahkan 4G aja cukup ya. Tapi wajar ya karena untuk sebagian besar orang Indonesia internet pertama dan kadang satu-satunya memang datangnya dari kartu seluler ya. Jaringan fiber optik itu belum masuk ke semua perumahan. Apalagi kalau kita tidak berada di dalam kota yang besar. 5G hadir ke Indonesia tuh relatif cepat ya. Tapi setelah itu memang sih ya perkembangan itu rasanya agak lambat ya. Sinyalnya itu ada di satu titik tapi geser sedikit berubah ke 4G. Kita pasti pernah ngalamin ya. Saya juga ngalamin ya yang berubah sekarang operator tuh mulai menggunakan spektrum yang memang dialokasikan untuk 5G. Cakupannya tuh dibangun seperti hamparan gitu ya, bukan cuma titik titik titik titik doang ya. Itu yang akan kita kali ini ya. Oke, mari kita lihat skenario pengujiannya. lokasinya. Nah, kita pakai lokasi yang bukan di tengah kota Jakarta ya. Ini di kantor kami di pinggirannya Jakarta. Di Depok tepatnya. Bahkan di pinggiran Depok ya. Dan bukan di kawasan perkantoran atau pusat bisnis. Ini pemukiman penduduk. Tapi kenapa harus di sini? Selain cukup mewakili bahwa ini bukan pusat kota ya ini tadi sudah pas ya. Ini lokasi kantor kami. [tertawa] Untuk testbed kita pakai si Samsung Galaxy Zfold 8 Ultra ya. Ini pakai Snap 8 Elite Gen 5 jadi modem dan array antenanya udah kelas atas yang satu ini. Ditambah lagi karena ini foldable ya, foldable yang besar pula ya, ruang anten jadi lebih luas. Jadi tangkapan sinyalnya lebih maksimal ya. Karena kita bukan mau nguji HP-nya, kita menguji konektivitasnya. Jadi HP-nya harus yang paling optimal. Nah, untuk interellernya kita pakai Excel Ultra 5G Plus yang paketnya 150 GB dan ada bonus 150 GB lagi yang harganya Rp150.000. Nah, selain paket pakai sih sebetulnya ada juga paket lain ya yang kuatannya 300 GB plus bonus 300 GB lagi. Harganya Rp200.000. Nah, layanan XL Ultra 5G Plus ini diluncurkan awal tahun 2026 dan sebenarnya kita sudah pernah membahasnya beberapa bulan yang lalu. Ya, kalau mau cek, cek aja di situ ya. Klaimnya Excel ini adalah jaringan nomor satu di Indonesia. Terluas, tercepat, terbaik, dan nomor satu yang sebenarnya versi Ulass speed test. Nah, yang membuat line ini beda dengan yang lain ini adalah teknologi blanket coverage-nya. Kalau sebelumnya 5G hadir dengan cuman spot spot spot doang. Kita harus tepat ada di spot ini baru dapat sinyalnya yang 5G itu ya. Nah, di sini cakupannya itu merata gitu ya. Kita pindah ke mana pun dalam area itu sinyalnya tetap ada. Enggak ada blind spot kebanyakan. Nah, menurut Excel ini diwujudkan dengan dedicated spektrum dan targetnya koneksi tetap stabil up to 500 MB/s. Di dalam ruangan, di luar ruangan itu harusnya sama aja. Lalu untuk internet fiber optiknya kita pakai layanan dengan paket 350 megbit/ harganya Rp279.000 per bulan tanpa FP. Lagi-lagi supaya lebih lancar, kita menghubungkan ke smartphone-nya lewat koneksi WiFi 7 ya, WiFi 7 ya biar kencang sekalian. Nah, di bagian sini kita pelan-pelan ya karena ini yang paling sering menimbulkan kesalahpahaman. Di pembuka tadi kan saya sudah bilang ya, Wii itu 3 menit 12 detik. Karena memang begitu umumnya kita menyebutnya ya. Tapi sebenarnya bukan hanya Wii yang men-download file tuh ke HP kita. Bukan. Coba pikirin lagi ya. Kalau kita buka YouTube misalnya, videonya itu tidak di dalam alat Wii kita atau router Wii kita. Videonya itu ada di servernya YouTube yang jaraknya itu bisa enggak tahu ya, mungkin ribuan kilometer dari rumah kita ya. Jadi perjalanannya begini ya. Dari server data itu jalan lewat internetnya mereka sendiri ya. Masuk ke internet providernya mereka ya. masuk ke jaringan backbond internet, masuk ke jaringan penyedia internetnya kita, lalu masuk ke rumah lewat kabel fiber optic. Nah, di rumah kabel itu berhenti di router. Baru di router data dikirim via Wii ke smartphone kita. Cara koneksinya si Wii ini ya cuma berapa meter aja sih biasanya ya, enggak jauh-jauh amat akses point Wii-nya ke kita cuma berapa meter doang ya. Sekarang kita lihat kalau yang seluler atau yang 5G ya dari server yang sama data jalan. internet provider mereka. Lanjut ke jaringan backbond internet. Masuk ke jaringan operator ya. Operator kita ya. Kemudian masuk ke tiang BTS terdekat ya. Dari BTS data dikirim ke smartphone via apa sinyal 5G. Nah, itu baru tuh part terakhirnya itu ya. Nah, lihat posisinya sekarang. Wii dan 5G itu ada di tempat yang sama. Keduanya itu adalah sambungan pendek di ujung paling akhirnya. Jadi sebenarnya gini. yang menentukan lambat atau cepatnya adalah perjalanan data dari server sampai ke sini ya. Total perjalanan panjang tadi sampai ke sini. Wii dan 5G itu mengantar cuma dari titik terakhirnya ke perangkat kita. Kalau kita ganti Wii-nya tadi perjalanan dari server sampai ke rumah kita itu sudah lambat ya lambat aja semuanya ya. Mengganti cara pengantaran di ujung akhir tuh tidak akan membuat data jadi lebih cepat juga. Jadi paham ya, Wii dan 5G itu hanya konektor terakhir ke HP atau ke perangkat kita. Sekarang kita masuk ke pengujian. Pengujian pertama kita pakai Ulass P test. Kita ambil dua server. Satu di Jakarta, satu lagi di Changrai, Thailand. Entar kita jelasin kenapa ya. Untuk internet seluler kecepatannya memang belum menyentuh angka yang dijanjikan ya. Tapi 372 megbit/s di jaringan seluler itu enggak jelek sama sekali. Saya jalan-jalan ke luar negeri, ke tempat-tempat yang katanya kencang. 370-an tuh agak sulit buat tercapai ya. Dan di sini kita mendapatkannya tanpa perlu nyari-nyari posisi khusus. Sebagai konteks. Untuk menyentuh 500 megbit/ seconds lewat jaringan seluler, kondisinya itu harus sangat sangat sangat sangat ideal sekali. Spektrum bersih, enggak ada yang lain yang makai, beban jaringan itu rendah, dekat banget dengan BTS, modem class flagship, dan server di pangkalnya sana ya harus sanggup ngasih kecepatan yang sama ya. Dan temuan di sini menarik jadinya ya. Perhatikan kalau kita coba ke server Jakarta yang dekat, kita dapat 236 MB/s. Kalau kita pakai ke server Ciangra yang lebih jauh, kita dapat 372 M/s. Kalau bicara fiber optik ke kedua server tuh hasilnya nyari sama aja harusnya. Artinya apa? Yang diukur speed itu bukan cuma jaringan kita. Server di ujung sana itu ikut menentukan. Sebetulnya sepertinya server Ciangra itu membuka ruang untuk kecepatan uji yang lebih tinggi. Jadi kita bisa dengan mudah melihat kecepatan maksimal dari si jaringan. Oke, sekarang kita masuk ke pengujian kedua ya. streaming YouTube 4K 60 fps. Hasilnya dua-duanya lancar, enggak ada masalah, ya. Jadi, kalau kebetulan kita cuma nonton, perdebatan WiFi versus 5G itu sebetulnya enggak ada gunanya di sini ya. Tapi sebelum protes, kita lanjut lagi, ya. Pengujian ketiga, gaming. Nah, di sini yang perlu kita lihat adalah pink ya. Semakin kecil semakin responsif. Pink itu sebetulnya kecepatan respons dari servernya ke kita juga gitu ya. Tapi kita balik dulu sebentar ke tabel ukas pes. Tadi ada satu kolom yang belum kita bahas pink server. Jakarta. Kalau seluler itu 16 ms, fiber optik itu 8 ms, selisihnya itu 8 ms. Ya, kalau kita pink ke server Changrai, seluler tuh 70 ms, fiber optik tuh 61 m, selisihnya tuh 9 ms. Perhatikan, fiber optik itu akan ikut membengkakan skala tensi dari 8 kalau kita dekat ke 61 ms kalau jauh. Jadi, yang membuat pink tinggi itu bukan jenis koneksi, tapi jarak ke servernya. Kalau ke Ciangra itu jauh banget gitu ya. tambahan waktu karena datanya lewat jalur udara ya itu cuma sekitar 8 sampai 10 ms. Sisanya yang paling efek adalah jarak jarak ke servernya sendiri ya. Sekarang kita lihat hasilnya di game. Kita lihat Mobile Legends. Kalau seller itu 15 sampai 30 ms. Kalau kita pakai Wii via fiber optic itu 5 sampai 10 m. PUBG Mobile, nah ini lucu nih. Dua-duanya sama-sama 20 m. Sama persis ya. Gensin Impact. Nah, hasil dua-duanya tuh di atas 100 ms. Ini servernya aja yang jauh nih ya kayaknya ya. Jadi selisihnya itu terasa di Mobile Legends, terutama kalau kita main di tingkat yang serius. Untuk di PUBG ya kayaknya hampir enggak ada bedanya dan di Gensin yang membuat pink tinggi itu jaraknya bukan konektivitas terakhirnya ya. Oke, kita masuk kejuan terakhir. Upload dan download file 1 GB, 2 GB, dan ada yang 5 GB. Dan di sini angka yang di awal tadi itu kita bahas ya, download ya. Seperti yang kita lihat tadi itu ya, fiber optic itu sekitar 1 seteng sampai dua kali lebih cepat. Tapi di pemakaian sehari-hari selisih-nya itu gak terlalu mengubah cara kita bekerja sebetulnya. Nyaris mirip-mirip aja udah kencang-kencang aja. Ya, sekarang kita lihat kalau untuk upload. Kalau kita pakai file 5 GB fiber optic itu 5 menit 11 detik. Kalau kita pakai seluler 20 menit 45 detik. Ini 4 kali lebih lama. Dan ini konsisten ya untuk ketiga ukuran file. Satu, pengujian, dua, kesimpulan yang berlawanan berbeda, tergantung datamu dipakai yang mana. Kalau pekerjaan kita tuh banyak ngupload video mentah misalnya, ngirim file desain atau ngelakuin backup ke cloud setiap hari, ini akan jadi signifikan sekali karena upload-nya beda ya. Semakin besar file-nya semakin lama kita harus nunggu dia di-upload. Sekarang coba kita bandingkan ya. Uklas pitas mencatat bahwa upload seluler di 91 Mbps lalu transfer file-nya sebenarnya loh kok 30 megbit/s. Fiber optic juga enggak tepat nih ya. Uklas speed test bilang 349 megbit/ tapi kalau transfer beneran kok jadinya 130 megbit/s. Lah ini kok meleset semua ya? Ini bukan soal ada yang melebih-lebihkan sebetulnya. Penyebabnya gini ya. Speed test itu ngukur jalan dalam kondisi kosong. Jadi kecepatannya itu kecepatan teoritis yang bisa dicapai ya. transfer file yang beneran itu mengukur seluruh perjalanan termasuk kesanggupan servernya atau kerelaan servernya mau ngirim datanya seberapa cepat. Karena memang ini yang sering membuat ee jadi lebih lambat jaringan kita ya karena serverung sana enggak sanggup atau memang tidak mau ngirim lebih cepat ya. Kalau dia mau ng-upload lebih cepat dari sana ya kan kalau kita download berarti dia ngupload di sana ya. Kalau dia mau upload lebih cepat berarti dia harus bayar internet yang lebih mahal. Nah ini hal yang penting untuk diperhatikan ya untuk menjawab anggapan bahwa internet seluar tuh enggak perlu kencang-kencang ya. Jadi memang angka yang tertinggi itu jarang kita bisa nikmati ee dengan langsung ya, tapi angka itu menunjukkan bahwa potensi maksimalnya itu tinggi ya dan ini akan sangat terasa pada saat jaringannya tidak sepi ya. Nah, kalau ramai ya misalnya di stasiun, di pusat perbelanjaan misalnya atau lagi konser ya, jaringan yang bisa jalan di 400 MB/s saat lagi sepi itu akan masih bisa memberikan kita puluhan megabit pers kalau penggunanya ramai banget. Nah, bagaimana kalau jaringannya saat sepi itu cuma menyediakan beberapa puluh megabit/ second. Kalau ramai udah enggak ada sisanya tuh satu dua gitu ya, udah pelan banget jadinya. Ya, kemudian kita bahas hal yang tidak ada di grafik-grafik tadi, tapi justru hasilnya menentukan biaya per gig untuk paket selular tadi Rp150.000 untuk kuota total 300 GB termasuk kuota bonusnya artinya sekitar Rp500 per GB. Untuk fiber optic itu R279.000 per bulan tanpa FUP. Mau pakai berapapun harganya tetap sama. Kapan keduanya dianggap imbang? Nah, saat fiber optic via WiFi tadi digunakan sekitar 558 GB per bulan ya. Kalau pemakaian di rumah kita di bawah angka itu berlangganan fiber optik memang mungkin jadi terasa agak mubazir aja. Seller jadi lebih murah, lebih praktis, enggak perlu instalasi ya. Tapi begitu kita melewati angka tadi, setiap gigabyte tambahan di selular itu akan terasa mahal jadinya. Sementara kalau kita pakai faber optic yang via Wii itu ya mau nambah berapap pun, mau download segede apapun ya enggak ada tambahan biaya ya. Dan biasanya membuat satu rumah itu bisa nembus angka tersebut bukan satu orang biasanya ya. Mungkin ada Smart TV yang nyala terus, ada CCTV yang upload terus-terusan gitu ya. Mungkin ada ya siapa kamu mungkin download terus-terusan gitu. Rameai-rame makainya gitu ya baru tembus ya. Dan perhatikan yang ini. Ada satu hal lagi yang sangat sering dilupakan. Ini bukan soal kecepatan, bukan soal harga. Ini masalah perangkatnya ya. Kalau kita pakai fiber optik dengan Wii, yang membagi internet ke seluruh rumah itu adalah yang bagian akhirnya itu adalah router atau e access point Wii-nya ya. Benda yang satu ini akan diam di satu tempat ya. Dia colok listrik terus dan melayani semua perangkat di rumah termasuk kitanya ya 24 jam nonstop. Sementara kalau kita pakai 5G yang jadi modem itu adalah smartphone kita dan smartphone ini ikut kita mau ke sekolah, mau ke kampus, mau ke kantor dia ikut. Ya, sekarang mari kita pikirkan kalau ada CCTV di rumah. Justru gunanya CCTV itu saat dia ada di rumah dong ya. Kalau rumahnya kosong tentunya ya. Kalau modemnya kita bawa pergi misalnya kita pakai hanya pakai 5G doang kita bawa pergi ya CCTV-nya mati dong ya. Sama juga dengan smart TV, printer atau perangkat IoT yang lain yang harus tetap tersambung walaupun kita lagi enggak ada di rumah. Memang ada router 5G dan MyFi mungkin ya. Tapi begitu kita beli itu, kita sudah nambah satu perangkat lagi dan ekstra kuota lagi. Hitungannya jadi balik lagi harus ngitung-ngitung ke titik impas tadi ya. Dan satu lagi koneksi pakai kabel itu cenderung lebih konsisten ya. Sementara kalau kita pakai 5G lewat udara memang ya lewat sinyal radio memang ini bisa naik turun biasanya. Tapi ini bukan sebuah kelemahan yang berarti ya. Karena ini memang sifat dari dua teknologi yang berbeda yang atau lebih konsisten. Yang satu memang akan naik turun tergantung posisi lokasi jumlah orang yang pakai gitu ya. Wah, berarti wifi menang dong. Bentar, bentar dulu. Emangnya kalau kamu keluar rumah bisa bawa Wii rumah jalan-jalan? [tertawa] Enggak bisa kan? Kamu enggak bisa bawa Wii rumah jalan-jalan? Ya, jadi jangan buru-buru menyelesaikan dulu pembahasan ini, ya. Jadi, kita kembali ke kalimat awal. WiFi versus 5G. Mana yang menang? Kalau kita tinggal sendirian aja di kosan atau apartemen kecil, ya 5G aja memang udah cukup bahkan lebih masuk di akal. Pemakaiannya pasti di bawah titik impas tadi ya. perangkatnya mungkin cuma satu, dua dan kita enggak sering di rumah gitu ya. Lagian rumahnya juga punya orang lain ya kan namanya juga kos-kosan gitu kan ya. Nah, masang fiber optik dengan Wii di kondisi seperti ini kayaknya cuma nambah biaya tanpa nambah manfaat yang lebih. Tapi kalau kita bicara rumah ya atau kantor kalau rumah tuh apalagi kalau rumah dengan isinya keluarga gitu ya, ini beda jadinya nih. Rumah akan butuh koneksi yang menetap yang tetap hidup saat semua penghuninya bahkan pergi gitu ya. Dan ini biasanya akan melayani banyak perangkat sekaligus. Dan dia butuhnya internet yang biayanya gak ikut naik waktu penggunaannya itu naik ya karena penggunanya bisa banyak orang gitu ya. Nah, di sini fiber optic bukan jadi pelengkap doang tapi dia adalah dasar konektivitas untuk di rumah ya. Dan ini bahkan membuat 5G tetap jadi sama pentingnya. Karena hidup kita kan enggak cuma dalam rumah. Begitu keluar pintu jaringan selular yang menentukan pengalaman kita. Nah, di situlah arti blanket coverage yang tadi yang dikejar bukan angka tertinggi di satu titik, tapi koneksi yang tetap ada dan stabil saat kita berpindah-pindah. Dan pengujian tadi kami lakukan bukan di pusat bis Jakarta ya, itu di pinggiran Kota Depok ya. Jadi pertanyaannya bukan mana yang lebih baik, tapi apakah jaringan selular yang kita pakai itu sudah sama baiknya atau setidaknya mendekati kemampuan jaringan fiber optik via Wii kita yang ada di rumah. Karena dengan gadget dan laptop masa kini, pekerjaan itu jadi bisa dilakukan di rumah atau di mana saja. Tapi konektivitasnya akan sangat menentukan pekerjaan kita juga. Mau pakai Google Drive, mau kerja kolaborasi, mau pakai AI yang powerful atau mau pakai Kanva atau fitur-fitur CapCut yang kompleks, bahkan video call sampai live untuk platform sosial media, ya. Entah itu untuk jualan atau untuk liputan, semuanya butuh internet yang baik di luar rumah kita juga. Jadi menggunakan jaringan 5G yang kencang itu adalah solusinya untuk di luar rumah. Untuk itu kita bisa coba dan rasakan Excel Ultra 5G Plus dengan cobain free eSIM XL di link yang ada di video ini atau awali dengan download aplikasi My Excel sekarang. Ini bisa di Android maupun di iOS. Detail lengkapnya langsung cek aja di kolom deskripsi ya. Pada akhirnya ini bukan masalah Wii versus 5G karena keduanya sama pentingnya. Masalahnya apakah 5G kita sudah sebaik konektivitas Wii kita di rumah? [musik]
