Wildcatlake Terkentjang!? - ASUS Vivobook S5452MA (YouTube Video)
Kalau kemarin kalian udah nonton review Airneo dari kita, mungkin kalian udah gak asing lagi dengan lineup Intel yang namanya Wild Cat L. Itu adalah lini prosesornya Intel yang memang fokusnya itu pada efisiensi. Dan kalau kemarin kita udah ngetes yang versi Core 5-nya, gimana dengan yang versi paling kencangnya? [musik] Oke, melihat ke desainnya sejaruh mata memandang ini adalah Ultra Book yang cukup cakep ya. Bodinya tipis cuma 1,54 cm aja dengan bobot yang juga hanya 1,2 kg. Bodinya ini tipis bahkan HDMY port-nya aja mentok di atas dan di bawah. Bisanya sih boleh mewah, tapi juga enggak lupa build quality-nya itu harus kokoh. Semua survei seluar laptopnya itu terbuat dari metal. Dan laptop ini juga udah disertifikasi military grade 810H juga. Dan kalaupun ada apa-apa, Asus juga udah ngasih 3 tahun VIP perfect warranty yang bisa diklaim secara internasional. Monitornya berukuran 14 inch full HD IPS level dengan color gamut yang tinggi sampai 99% sRGB. Namun sayangnya glare itu kelihatan banget terutama dari samping dan hingch-nya juga enggak bisa dibuka [musik] hanya dengan satu tangan. buat keyboard-nya layout-nya ya seperti Asus banget lah ya. F lock ada page up, page down tergabung dengan AOW. Namun sayangnya di harga segini yang cukup mahal, backlit-nya itu tidak ada. Touchpad juga berukuran besar, udah kayak laptop kekinian lah. Bahannya juga smooth buat dipakai, namun enggak ada smart gesture seperti Vivobook lain. Jadi kalau dilihat dari keyboard dan touchpad ya ini laptop yang standar aja gitu. Enggak ada gimik-gimmik yang membuat laptop ini kelihatan kayak Vivobook Asus yang mahal. Buat konektivitasnya di sebelah kanan hanya ada dua USB 3.2 Gen 1 type A. Sementara di sebelah kiri ada banyak full HD port ada 2 USB full function dan ada audio combo jack. USBC-nya ini saat dicolok ke monitor USBC dia bisa display picture bisa sekalian ngecas juga. Laptop ini memakai prosesor Intel Wild Catlake yang versi Core 7 350. Jadi ini adalah Wild Cat League yang paling tinggi yang pernah kita coba. Tapi secara core dan LPE core itu sebenarnya sama aja sama core 5320 yang kemarin si Michael bahas. Kalau Wildcat yang terakhir kita tes itu masih 8 gig RAM. Yang ini sudah 16 gig LP DDDR5 dan itu juga yang membuat laptopnya agak lebih mahal dan bukan tandingannya MacBook Neo lagi. SSD-nya berkapasitas 512 gig PCI Gen 4X4 yang speed-nya lumayan kencang dan tentunya bisa diganti-ganti apabila kalian mau. Dan buat performanya karena ini adalah Core Ultra 7 yang difokuskan untuk efisiensi, kita akan lihat performanya dua kali saat dicolok dan tidak. Nah, buat performanya karena ini adalah sebuah Intel Core 7 yang difokuskan untuk efficiency, kita akan kasih lihat performanya itu dua kali, yaitu saat dicolok dan tidak. Kalau kita melihat data dari CineBch, performanya tidak jauh berbeda dengan Core Ultra 5 Wild Catl dari Airneo kemarin. Dan kalau misalnya dibandingin sama yang Core 5210H memang dia di bawahnya core 5210H karena H series itu adalah untuk performance dan Wildcat lag ini fokusnya untuk efisiency. Dan kita pun juga nyobain main game di laptop ini yang memang beberapa game gratis masih bisa dimainin di atas 30 fps. Ya walaupun menurut gua ini masih playable, tapi kalau yang menilai Babang Kutang Pemuja 60 fps itu pasti bilang ini unplayable. Jadi gua serahkan ke kalian apakah ini masih bisa dimainin apa enggak. Nah, sementara buat Adobe Premiere Pro ini harus diakalin dikit. Saat nge-render kita enggak bisa pakai dedicator V RAM. Jadi di My Asus harus default aja, enggak bisa ke 24 ataupun 8 gig. Render time-nya entah kenapa malah lebih lama di sini ketimbang ultra 5 volt cat lag yang kita tes kemarin. Kemungkinan ada salah di settingannya aja. Tapi saran kita sih mending kalau memang mau edit video di laptop kayak gini mending pakai CapCut aja. Karena laptop ini bodinya tipis ya dan prosesornya juga dicut ke eficiency. Tapi bukan efisiensi anggaran. Jadi kipas dan heat pipe-nya pun juga dicut jadi hanya satu. Tapi wild catlake ini cukup panas. Jadinya suhu full-nya bisa lebih dari 90 derajat celcius walaupun narik dayanya ya hanya sekitar 30 watt aja. Mentoknya itu hanya di 34 wat. Ini juga jadi alasan kenapa adapternya juga berukuran lebih kecil dan hanya 48 wat doang. Suhu surface-nya sih yang untungnya adem. Saat kita full load enggak ada yang di atas 36 derajat celcius. Kudos buat Asus. Nah, karena CPU-nya yang efisien, batery life-nya juga cukup panjang. Bahkan untuk sebuah baterai 52 wat hour aja. Bisalah ini buat dibawa WFC seharian tanpa nyolok. Suara speakernya sih menurut gua oke ya buat sebuah laptop tipis. Dia enggak distorsi di volume maksimal walaupun volume maksimalnya enggak gede-gede banget. Clarity-nya oke, tapi kurang akan bass dan enggak ada Dolby Atmos yang biasanya bikin suaranya lebih bagus lagi. Dan buat koneksi dia udah lumayan oke, tapi sayangnya belum Wii 7. Pengalaman makainya sih oke-oke aja, tapi ya beberapa hal yang tadi kita sebutin itu kerasa laptop ini jadi agak kurang gitu, gak ada Windows Hello, touchpad-nya juga gak ada smart gesture, dan keyboard-nya itu tidak ada backlit. Buat kameranya sendiri, dia resolusinya ada di 2,1 megapel alias bisa ngerekam sampai 1080p 30 fps. Dan ya secara kualitas warna ini okah ya, background dan warna lain-lain ini oke. Cuman balik lagi dia itu tidak ada face recognition di harga segini. Jadi ini laptop enggak ada Windows Hello-nya sama sekali. Tapi privacy shutter masih ada walaupun hanya software dan dia dia cuman punya 17 stop si ya ini prosesor jadi di-cut gitu tapi masih bisa ada background effect bisa bikin blur ada contact automatic framing juga masih ada jadi tetap tidak membutuhkan sampai 50 tops untuk membuat eh Windows Studio Effect [musik] seperti ini. Untuk sebuah Ultrabook yang harganya Rp20 juta, memang harus kita akuin bahwa Vivobook yang kali ini kita review itu secara looks dan juga feel mewah. Dia itu bodinya semua terbuat dari aluminium, terus juga kokoh, kerasa tapi tetap enteng, padat gitu ya. Terus juga portnya lengkap dia ada full HDM My port, USBC full function ada dua, terus juga ada USB A juga ada dua. Jadi ya menurut gua ini salah satu yang lengkap. Cuman gua gak tahu kenapa untuk laptop yang feelingnya sepremium dan semwah ini Asus tuh ada beberapa karakter-karakternya Vivobook yang di-delete gitu sama mereka yang membuat laptop ini jadi kerasa kurasa kurang mewah. Yang pertama itu adalah logonya. Kalau logo Vivobook yang biasa kita review itu sekarang udah kayak Asus Vivobook gitu, lebih mewah gitu kelihatannya. Yang ini balik lagi ke logo lama. Dan yang kedua backlit. Kenapa harus enggak ada di laptop seharga Rp20 juta ini? Dan yang ketiga itu adalah Windows Hello. Windows Hello seenggaknya face Recognition gitu. Kenapa enggak ada? Memang sih fingerprint itu sekarang makin lama makin jarang, tapi ya seenggaknya face Recock harusnya ada gitu ya. Tapi balik lagi ini adalah sebuah laptop yang diequip sama 16 gig RAM yang di mana e 16 gig-nya juga kencang di tahun 2026 pula. Di tahun ini juga ini pakai prosesor baru. Jadi ya ini adalah harga yang new normal, I guess. Belum lagi Asus juga udah ngasih garansi 3 tahun. Ada VIP perfect warranty alias ADP juga itu dan bisa ke luar negeri pula garansinya. Jadi ya [musik] diamankan di segi itunya lah. Nah, kalau misalnya kita ngomong-ngomong nih ya, ini kan prosesor wild catlag itu fokusnya pada efisiensi ya. dia nge-cut IGPU-nya jadi cuman 2X corore, terus juga NPU-nya dicut jadi cuma 17 tops. Tapi kalau kalian sendiri kalau nyari laptop itu lebih mentingin performa atau efisiensi sih? [musik]
