Jungkat

Windows ARM Terjangkau? 🤔 - ASUS Vivobook A1407QA (YouTube Video)

  • 18/06/2025

laptop dengan prosesor Snapdragon itu mulai masuk ke Indonesia sejak tahun lalu, tapi ya kompatibilitasnya masih belum oke dan harganya itu masih di 15 sampai Rp jutaan yang membuat orang untuk masih ragu-ragu nih buat beli laptop pakai prosesor Snapdragon. Sampai akhirnya Asus ngeluarin nih laptop dengan harga 9 sampai R juta yang pakai Snapdragon X sereries. Nah, pertanyaannya apakah laptop dengan Snapdragon itu ideal apalagi yang harganya 9 sampai R juta? [Musik] Sebenarnya desain dari Vivobook yang kali ini itu enggak terlalu mirip sama Vivobook S14 series yang biasanya kita udah review. Bodinya ini kebanyakan terbuat dari plastik dan build quality-nya juga enggak sebagus Vivobook S series. Vivobook A series yang kali ini punya desain yang lebih mirip sama Vivobook K series yang ada di laptop budget ya. Tapi buat sebuah laptop kerja atau pelajar yang harganya itu di R10 jutaan, ini masih termasuk tipis dan enteng lah. Hingch laptopnya dapat dengan mudah dibuka dengan satu tangan. Cuma dengan hingch seperti ini gua agak-agak takut dengan build quality-nya. Di depan ada layar 14 inch full HD IPS yang warna gambutnya enggak terlalu luas. Ini agak disayangkan kalau laptop non gaming R10 juta masih belum 100% sRGB. Keyboard-nya punya layout yang ala Asus banget dengan backlit juga dan layout yang makin ke sini makin tidak ada media button digantinya malah sama emoji button. HS sedih. Patch up, patch down, home, dan end masih tergabung dengan aeropad. Namun kali ini enggak ditulis saja. Mungkin dengan tujuan membuat keyboardnya ini lebih minimalis. Dan seperti laptop kekinian, ada copilot button di sebelah kiri aeropad. Di bagian bawah ada touchpad yang cukup besar walaupun tidak sebesar yang ada di Vivobook Sies tapi tentunya udah support sama Windows precision Driver. Overall modelnya ini udah oke buat R jutaan, hanya aja kerasa agak ringkih. Buat konektivitas di sebelah kanan hanya ada satu USB 3.2 gen one aja. Sementara di sebelah kiri itu cukup rameai. Ada 1 HDMI 2.1, 1 USB 3.2 gen one type A lagi, 2 USB 4 type C, dan 3,5 mm audio combo jack. Ya, buat konektivitas Asus itu emang gak pernah pelit, apalagi selalu menginclude HDMI port. Untuk dalamannya, notebook ini memiliki prosesor Snapdragon X yang X aja. ini nama lengkapnya adalah X126100 yang artinya prosesor laptop ini adalah prosesor yang sudah bersertifikat copilot plus BC dengan MPU sampai 45 tops. Ini adalah seri yang paling bawah dari semua prosesor Snapdragon X series yang memang dimaksudkan untuk laptop-laptop dengan harga terjangkau agar laptop di harga segitu juga bisa punya batery life yang panjang. RAM-nya berkapasitas 16 gig LPDDR5X yang pastinya solder dan buat storage itu tentu aja udah 512 gig PCI Gen4 buat koneksinya dia udah WiFi 6ei dan juga punya Bluetooth 5.3. Kalau ditanya performa di sini memang bukan keahliannya Snapdragon di lini laptop. Memang kalau secara benchmark CBCH 2024 dia setara dengan Core Ultra 7 Lunar Lake dan bahkan yang ini bisa di atas Core Ultra 7 155 dan Snapdragon X Plus yang ada di Omnibook X. Namun performapu-nya itu lumayan mengecewakan di mana di Time Spy ini hampir ketinggalan jauh ketimbang saudara-saudara prosesor X86 lainnya. Walaupun memang ya balik lagi laptop ini dirancang untuk efisiensi dan bukan performa apalagi buat gaming. Di sini kita tes dua game aja. Kalau Dota kita masih lihat lumayan lancar. Namun withing wave itu tampil dengan grafik yang patah-patah. Baru aja kita jalanin karakternya itu dari titik A ke B yang jaraknya kurang lebih 1 sampai 2 m, itu udah kerasa nge-lag-nya seperti bermain game di 10 FPS lah. Sederhananya, notebook ini masih belum bisa emulasi game-game X86 dengan sempurna. Yang kita sarankan adalah kalau kalian mau beli sebuah laptop yang lumayan kere-hore dan mungkin akan gaming tipis-tipis di situ, cek dulu game-game yang bisa perfect run di website-nya worksonwoa.com. Karena contoh yang memang bisa run perfectly itu adalah Dinkom. Di sini masih bisa kita dapetin 30 fps. Ya, ini termasuk lumayan lah. Lalu kalau Adobe Premiere Pro mereka klaim bahwa ini udah kompatibel. Namun buat render video 4K 10 menit H265 di sini masih termasuk yang lama banget. Jadi kompatibilitasnya menurut gua masih kurang. Dan sejauh ini karena laptopnya juga bukan yang fokus dengan performa maka satu heat pipe dan satu fan aja itu udah cukup buat dinginin laptopnya. Di fullot aja CPU-nya ini cuma menyentuh 78 derajat Celcius. Lalu karena ini adalah laptop yang ditujukan untuk kebutuhan computing ultra portable dengan batery life yang super panjang, kita gak bisa bilang kalau ini adalah laptop yang diperuntukkan untuk performa tinggi. Penggunaannya ya paling hanya untuk produktivitas Office yang preferable software-nya memang sudah jalan di ARM secara natif. Karena beberapa aplikasi sistem kantoran yang memang sudah dirancang di X86 itu masih banyak yang suka crash saat diemulasi di ARM. Lalu buat speaker kualitasnya ini termasuk biasa aja. Enggak sebagus S series punya, tapi seenggaknya clarity suaranya itu tidak pecah saat maksimum volume. Lalu yang terakhir, travel keyboard-nya ini lumayan dalam. Ini enak dipakai ngetik. Tapi yang paling enak adalah touchpad-nya yang selain ini fluid banget karena ini licin dan presisi, dia punya fitur smart gesture yang bisa mengatur brightness, volume, dan scrubbing saat nonton YouTube itu langsung di touchpad aja. Harusnya tombol volume diganti media button kali ya, kan udah ada volume di Smart Guesture. Jadi kalau kalian memang mencari laptop dengan Snapdragon yang paling murah ya sampai video ini dibuat Vivobook A1407Q ini masih menjadi jawabannya. Apalagi kalau kalian mencari laptop dengan R juta yang batery life-nya paling panjang ya laptop ini juga masih jadi jawabannya. Atau kalau kalian mencari laptop dengan copilot plus yang 45 tops NPU di harga Rp10 juta, laptop ini juga jawabannya. tapi dengan tradeoff yang juga lumayan banyak. Jadi, kompatibilitas aplikasi-aplikasi di Windows on Arm itu masih belum 100% dan bahkan mungkin masih cukup mentah ya. Kalau misalnya gua bilang apabila kalian software-nya itu cuman di Microsoft Word, Excel, PowerPoint dan yang ringan-ringan banget deh kayak Kanva dan juga CapCut yang paling ringan ya videonya itu mungkin masih oke. Tapi kalau udah masuk ke Adobe Premiere Pro itu udah out of the question lah. Kita masih ngelihat itu kompatibilitasnya mentah banget. ya. Kalau misalnya di Photoshop juga ada beberapa efek yang masih bikin crash juga. Jadi kalau misalnya kalian memang pakai Windows on Arm itu pastikan aplikasi yang kalian punya itu kompatibilitasnya udah oke kalau kalian enggak mau ada pengalaman-pengalaman aneh, ya. Dan kalau misalnya kalian mencari laptop yang paling ideal di harga R jutaan, kita malah ada pilihan yang lebih menarik sih. Jadi, Vivobook S series yang beberapa tahun lalu launching masih pakai Ryzen 5 7535 HS, ada loh yang harganya udah turun ke sekitar 10,3 juta dan itu udah pakai 16 gig RAM, 51 gig SSD dan bahkan layarnya udah OLED. Ini game changer banget karena layar OLED itu kualitas warnanya beda banget. Apalagi kalau dibandingin sama laptop ini yang 100% sRGB aja enggak gitu ya. Walaupun memang batery life-nya tidak sepanjang yang Snapdragon punya tapi ya masih ok lah. Apalagi ini udah e charging-nya udah bisa pakai USBC juga. Jadi kalau misalnya kalian mencari laptop yang memang batery life doang tanpa mempedulikan yang lain, Vivobook yang A107Q ini oke. Tapi kalau kalian mencari laptop yang ideal, gua bilang sih kayaknya Vivobook yang S series beberapa tahun lalu itu masih lebih seksi sih daripada yang ini. Tapi kalau kalian gimana? Mau move on ke ARM yang batery life-nya lebih panjang atau masih stay di X86 yang kompatibilitasnya masih 100%? Oh

Lihat di YouTube