WOY POCO! GA BAHAAAYAAA TAH!? POCO M6 Pro JADI FLAGSHIP!? (YouTube Video)
Perlu waktu yang lama untuk sebuah smartphone 2 jutaan sampai ke level ini dan ini dimulai dari POCO M6 Pro. Mungkin, statement saya di awal terdengar agak berlebihan, tapi mau nggak mau, saya harus ngomong seperti itu. Karena banyak hal yang beneran bikin saya suka, bahkan jatuh cinta sama hape ini. Tentu saja, itu di luar beberapa hal yang saya nggak suka sama dia. Seri M ini tepat berada di bawah seri X, yang mana, ngasih performa yang cukup oke, dengan harga yang lebih terjangkau. Walau begitu, garis desain kedua seri ini terlihat mirip. Terutama pemilihan desain bagian belakangnya, di mana seri X terlihat lebih bold dengan desain duotone yang kontras. Saya hampir nggak punya komplain sama desainnya, overall saya suka. Finishing bagian belakangnya terlihat mewah gitu, dengan bezel mengotak dan garis tegas berwarna hitam, yang terlihat mahal. Punya infrared dan jack audio tentu saja menjadi sebuah pembeda, antara hape-hape Xiaomi atau POCO dengan hape-hape yang lainnya. Tadi ya, tapi ada satu hal yang mau saya kritik hmm bukan kritik sih, lebih kepada ngasih insight aja gitu. Menurut saya, peletakan ketiga kamera belakang plus LED flash di hape ini agak ganggu, karena letaknya nyaris menyentuh titik tengah. Di mata saya sih terlihat kurang estetik ya. Saya berandai-andai dan berkhayal, seandainya posisi kedua elemen ini ada di bawah seperti ini, menurut saya akan terlihat lebih cantik. Tapi sekali lagi, ini menurut saya. Jadi sangat subjektif dan debatable. Layar hape ini juga mendapat pujian dari saya. Selain layarnya yang bagus, tajam dan kinclong, lihat deh bezelnya! untuk hape dengan harga segini, bezelnya tergolong tipis! Di layar AMOLED ini juga tertanam sebuah sensor fingerprint. Bukan sebuah hal yang lazim, karena, biasanya seri M ini, fingerprint selalu berada di samping, menyatu dengan tombol power, dan ini sebuah major upgrade secara hardware. Komplain saya untuk layarnya sayangnya ada ya, yaitu terasanya touch delay saat digunakan untuk bermain game. Saya merasa, layarnya nggak begitu responsif bahkan saat saya coba main real drum, delaynya cukup kerasa loh. Main real drum dengan tempo yang lambat terasa masih playable ya. Tapi main real drum dengan tempo yang tinggi, respon layar di hape ini, ini apa ya, hmm kurang bisa catch up gitulo, pasti out of tempo. Sebuah kekurangan yang sangat saya sayangkan, karena performa hape ini sebenarnya ngebut dengan Helio G99 Ultranya. Ultra di Helio G99 ini ada pada peningkatan pengalaman fotografi dengan adanya penambahan kemampuan in-sensor zoom Dan sudah pasti, karena hape ini pake Helio G99, maka dia hanya mendukung konektivitas 4G. Walaupun bukan SOC baru, saya merasa… G99 ini masih sangat layak untuk digunakan di 2024. Dan performanya menurut saya, cukup kencang untuk SOC menengah. Kita anggap aja ini adalah SOC sejuta umat ya. Karena banyak banget ini handphone pake SOC ini buzet. Dipakai buat main media sosial lancar, dipakai buat nonton film enak, dipakai buat main game juga ya cukup okelah. Pokoknya, lebih dari cukup untuk mengakomodasi kebutuhan saya sehari-hari, yang notabene nya lebih cenderung menggunakan sebuah smartphone secara Casual. Khusus untuk bermain game, saya punya sedikit catatan. Walaupun performanya sudah cukup oke untuk menjalankan beberapa game menengah dengan cukup lancar, nyatanya… experience-nya jadi kerasa kurang oke karena latency layarnya yang cukup terasa ya. Saya mau ngomong agak berat ya... Tapi gak papa lah, yang penting jujur. Jujur, saya kurang nyaman main COD mobile di hape ini. Karena sekali lagi, saya merasakan adanya latency atau delay gitu. Feel soal Latency ini juga saya rasakan saat memainkan game Smash Legend. Selain untuk game-game dengan pace yang tinggi, experience menggunakan hape ini untuk bermain game cukup terasa nyaman ya, jadi, hampir ga ada masalah. POCO M6 pro ini cukup lengkap, karena fitur-fitur esensial yang seharusnya ada di Smartphone menengah, bisa kita temukan di sini. Seperti Jack audio yang semakin langka, terus infrared blaster yang ga semua handphone juga punya, terus ada NFC, dan lain-lain. Bahkan satu hal yang saya notice adalah, kualitas dari motor vibrasi hape ini yang surprisingly cukup nyaman. Normalnya, hape segini vibrasi motornya bikin jari kita Tremor ya. Tapi sekali lagi, getaran di Smartphone ini nyaman dan enak buat dipakai ngetik. Walau belum sehalus hape-hape flagship, pokoknya udah nyaman lah. Hape ini punya baterai sebesar 5000 mah, dengan dukungan fast charging 67 watt. Sekali lagi, untuk handphone dengan harga 2 jutaan, ini cukup overkill. Baterainya cukup oke awet, nggak cukup oke sih… menurut saya ini awet ya. Maksudnya lebih dari oke gitu hehehe. Sangat bisa diandalkan untuk penggunaan sehari-hari lah. Dan yang paling nyaman adalah kecepatan ngecasnya, di mana untuk mengisi dari 5% sampai 100% hanya membutuhkan waktu 53 menit saja. POCO M6 Pro hadir dengan MIUI 14, dan belum ada informasi yang jelas kapan dia akan mendapatkan HyperOS. Pada awalnya kita selalu komplain dengan iklan di hape-hape Xiaomi ataupun POCO gitu ya. Tapi makin ke sini, saya merasa tingkat toleransi kita terhadap iklan-iklan yang mengganggu ini sudah mulai meningkat gitu. Yang awalnya kita merasa terganggu gitu, tapi makin kesini tuh makin kerasa kayak apa ya? Biasa aja gitu, dan lebih bisa tolerir terhadap iklan-iklan tersebut. Jadi kalau kita melihat iklan nongol di notifikasi ya, sekarang tuh kayak… Oh ya udah gitu, udah gitu doang dan iklan-iklan yang mengganggu ini pun paling banyak ada di aplikasi GetApps gitu, terutama untuk notifikasi- notifikasi sampah, ya tinggal di disable aja notifikasinya, selesai. POCO M6 Pro ini punya total 4 kamera. 3 kamera di bagian belakang, dan 1 kamera di bagian depan. Kamera utamanya beresolusi 64 MP dan sudah dilengkapi dengan OIS atau Optical Image Stabilization. Yang mana untuk harga segini, kayaknya cuma dia yang punya. Kamera keduanya adalah lensa Ultra wide beresolusi 8 MP. Dan sekali lagi, sangat jarang smartphone 2 jutaan punya lensa Ultra wide. Dan ketiga, untuk kamera belakang adalah lensa 2 MP berjenis macro. Sedangkan untuk kamera depannya sendiri beresolusi 16 MP. Kamera di hape ini bisa menangkap foto dengan kualitas yang cukup oke. Warnanya terlihat cukup akurat, white Balancenya cukup oke juga, cukup akurat juga, dengan detail yang cukup oke, hehehe. Secara default, foto akan ditangkap di resolusi 12 MP. Tapi kalau kalian mau mengambil foto dengan resolusi full 64 MP, kalian harus mengaturnya secara manual. Satu hal yg berhasil menarik perhatian saya adalah BUMP ini tonjolan di kameranya, liat nih, tebel banget coy, tinggi banget, kayak harga diri anjay. Untungnya softcase bawaannya melindungi camera bump di hape ini. Jadi ga usah khawatir kegores kalo ditaro di atas meja. Sebenarnya, fotonya cukup okelah. Apalagi jika kamu menjadikan foto tersebut sebagai materi posting di media sosial. Yang saya agak kurang sreg itu apa ya, saya merasa warnanya itu kayak kurang vibrant gitu. Detailnya ga begitu tajam dan dynamic range-nya kurang agresif. Karena beberapa kali, saya mendapati foto gagal meng-highlight bagian-bagian yang normalnya sulit di highlight oleh sensor kamera berukuran kecil. Jujur, dari awal saya memang tidak berekspektasi lebih terhadap kamera di hape ini. Saya juga tidak berharap dia mampu menangkap foto yang bombastis atau bagus banget. Tapi setidaknya foto yang dihasilkan sudah cukup oke dan sudah sesuai harapan saya. Foto dalam kondisi low light juga terlihat cukup bagus. OIS di hape ini cukup membantu untuk mendapatkan foto yang cukup tajam dalam kondisi minim cahaya. Masalahnya, tidak dapat dipungkiri kalau detailnya masih terasa kurang. Tapi jangan khawatir! kekurangan ini hanya akan kalian mention pada saat kalian zoom si foto, karena secara kasat mata, fotonya tetap akan terlihat bagus. Nah, ultranya di G99 pada POCO M6 Pro ini terasa di pengalaman fotografi zoomnya karena ada penambahan kemampuan in-sensor zoom 2x. Jadi, kalau kita compare dengan beberapa smartphone yang ngga punya in-sensor zoom kualitasnya akan lebih tajam seperti foto ini. Sedangkan untuk kualitas foto selfie beresolusi 16 Megapixel-nya, menurut saya cukup oke. Masih enak dilihat kok muka saya, masih terlihat cukup ganteng gitu. jauh dari kesan palsu dengan Dynamic range yang juga cukup oke. Mode portraitnya juga cukup oke, karena memang masih jauh dari sempurna. Terutama kemampuannya memisahkan foreground dan background di bagian rambut. Tapi sejauh ini, hasil fotonya sudah sesuai ekspektasi dan cukup memuaskan. Ini adalah sample video dari kamera depan. yang mana resolusi maksimal yang bisa kita pilih adalah full HD 30 fps dengan focal length yang cukup besar, kurang lebar jadi satu frame isinya muka saya doank hehe. Tapi hasilnya lumayan dengan kualitas suara yang ya yang seperti kalian denger lah masih belum selevel Samsung tapi ini sudah cukup oke. Dynamic Rangenya kalian bisa lihat bagian belakang saya masih cukup terlihat walaupun ga wow banget, tapi sudah cukup oke. Itu ya untuk kamera depan ya, lumayan. Sedangkan kamera belakangnya dia sama maksimal di 60 fps dan full HD belum ada opsi 4K. Bisa dimaafkan karena ini smartphone menengah kebawah hehe. Karena harganya cuman 2 jutaan, 2 jutaan besar tapi kualitasnya cukup lumayan. Minimal dia bisa rekam 60 fps ya dan kualitasnya yang seperti kalian lihat sekarang untuk kualitas suaranya juga saya ga bisa bilang ini bagus banget masih ada dibawah levelnya Samsung yang menurut saya salah satu yang terbaik untuk smartphone midrange tapi setidaknya ini sudah, cukup oke. Dan kita bisa merekam video dengan lensa ultrawidenya dengan maksimal resolusi di full HD. Sayangnya dia ga bisa merekam di 60 fps mentok di 30 fps dengan kualitas video yang menurut saya sedikit menurun dari lensa utamanya tapi bisa merekam video di lensa ultrawide itu sebuah kenikmatan sendiri untuk yang punya smartphone dengan lensa wide, jadi menurut saya ini sudah cukup oke untuk harga 2 jutaan. Jadi kesimpulannya, sudah pasti tidak ada smartphone yang sempurna. Saya juga tidak bilang smartphone ini adalah smartphone midrange yang bagus banget ya, saya ga bilang seperti itu. Saya yakin, dia juga punya banyak kekurangan. Tapi satu hal yang pasti dan saya yakini bahwa, Smartphone ini NYAMAN buat digunakan! Mulai dari dimensinya yang Compact, bodynya yang tipis, layarnya yang bagus, bezelnya yang mirip flagship, punya in-screen fingerprint, dan banyak hal yang masih sulit kita temukan di hape-hape lain di range harga yang sama. Dan di luar kekurangan- kekurangannya tersebut, saya tetap berani bilang bahwa hape ini sangat nyaman buat digunakan, nggak beda jauh dengan versi performanya, si X6 5G yang kemarin kita review. Harga hape ini adalah 2.999.000, dan saya yakin pasti akan banyak yang protes pada saat saya menyebut harga hape ini ada di angka 2 jutaan. Saya juga nggak bisa bilang bawa hape ini punya harga 3 juta, karena seperti yang kita tahu, Biasanya kalau harga resminya segini, harga di e-commerce itu biasanya akan lebih murah daripada harga resminya. Itulah kenapa saya prefer untuk bilang bawa hape ini punya harga 2 jutaan. Nah, jika kalian mencari hape yang nyaman buat digunakan dengan budget di bawah 3 juta, hape ini adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa kalian beli. Oke segitu aja review singkat saya sekitar M6 yang ternyata ga singkat-singkat banget Klik tombol like kalau kalian suka dengan video ini dan kita akan ketemu lagi di video berikutnya. Irwan pamit dan ADIOS. Ini udah closing, 4 tahun begini- begini terus ga bosen apa ya? sst, ya begitulah pokoknya, dadah!







