X-TRAIL HERITAGE JOURNEY (EPS 1/3): PERJALANAN DIMULAI (YouTube Video)
Halo semuanya, selamat datang di channel Fitra Eri. Sekarang saya berada di Bandara Soekarno Hatta. Kita akan terbang karena saya diajak pergi oleh Om Mobi. Belum tahu tujuannya apa dan yang jelas kita akan terbang dari terminal 3. Tapi Omobi mengajak saya bertemu di terminal 1. Safir Precious. Selamat siang. Ah weh, akhirnya sampai juga. Eh, tempat apa ini? Hah? Dari tadi, Om. Ini launch. Iya, launch. Baru pertama kali ke sini. Baru pertama kali kan kita tuh terbang dari terminal 3 nanti. Iya. Kenapa kita ke terminal? Kita ngumpulnya di sini nanti kita langsung pesawat. Eh, gimana caranya? Nah, langsung tenang aja. Enggak kita naik private jet kah? Enggak. Ini kan tempat yang biasa ada orang private jet atau presiden di sini. Presiden di sini ini tempatnya. Tapi sebenarnya umum tuh bisa pakai ini. Oh, kita juga bisa. Makanya naik private jet berarti Om. Enggak, enggak naik private jet. Maral biasa enggak sih, Om? Enggak punya private jet. Kita mau ngapain kita? Nah, temenin ya dua ya. Iya, temenin. Tapi mau ngapain? Yang pasti terbang. Oke. Ini boarding pass-nya. Nah, ini Ridwan. Ini Om Fitra kok ekonomi, Om? Iya dong. Ini tempatnya udah sekeren ini. Ekonomi. Ekonomi. Lihatnya dari mana sih ekonominya? Bisnis tuh. Oh, bisnis ngasih pos ekonomi. Terima kasih, Om window. Eh, as enggak dapat windowah. Oke. Eh, bentar. Ke Medan kita. Medan mau ngapain di sana? Kualan temenin ya. Di sana ada sedikit keperluan keluarga. Keperluan keluarga. Heeh. Jadi, masa jalan sendirian maksudnya ditemenin terus sahabat-sahabat loh. Sori, Om. Waktu kita tuh berharga sekali cuma nemenin acara keluarga. bukan acara bukan acara nemenin nemenin ini penting sekali untuk keluarga kami saya enggak ragu itu penting buat omobi terus buat kita pentingnya apa nemenin benar oke teman ya udah cuman itu aja udah itu aja makanya nikmak ikut ikut ikut ikut enggak ikut ikut ikut ikut ikut ikut enggak bisa ini video udah dibuka dan lanjut harus diterusin ikut ini video fitra ya iya lihat tuh bawah terus isi videonya apa nih udah dikasih kasih kemewahan bisnis class nanti di sana hotel mewah sekalian tapi kan di channel harus ada hubungannya sama hotel tenang aja nanti begitu landing sana kita nyobain mobil baru apaan ya nah lihat nanti mau lihat nanti lihat nanti lu nanya apaan penonton udah tahu dari thumbnail-nya oh iya benar tulisannya tapi kita belum kelihatan lag oke jadi kita udah enggak perlu cekin enggak peru dicekin ya udah sekarang kita ke terminal 3 artinya belum makan dulu santai dulu enggak enggak enggak kan langsung dari sini langsung ke pesawat. Oh iya iya. Dan nanti Om kan kita ada mobil nih. Pas dia nyampai acara keluarga kita jalan-jalan aja. Oh i bukan acara keluarga kita keluarga ke pesawat diantterin nanti langsung sama orangnya Omobi yuk bagi-bagi barisan kali launch sebenarnya. Iya. Oke. Yuk. Bentar. Acara keluarganya apa sih urusan keluarganya? Eh tadi ini pasti warisan mau ngeklaim warisan keluarga. Jadi ada kemungkinan kita pulangnya pakai private jet. Ah, begit pokoknya nonton nih ya. Ini video pertama ya di channelnya Fitra Eri. Video kedua ada channel Ridwan Hanif. Video ketiga ada di channel Om Mobi. K nonton semuanya. Oh, video terakhir pakai private chat di tempat Omobi. Kenapa private chat mulu sih? Kalau misalnya perjuangan memperebutkan warisan keluarganya ini menangak Om ininya Om. Eh, privnya tuh gak [Musik] [Tepuk tangan] Akhirnya satu malam sudah bermalam di Medan dan Omi baik juga ee kenyang ngajak kita ke rumah makan yang terkenal di sini. Rumah makan Garuda. Ngajak ke duren duren sampai dua kali dua tempat duren kali ya. Dan terus kita diminta bermalam di hotel paling keren di hotel mewah. Medan. Hotel paling mewah. Makanya, Nas. Dan pagi ini nih sekarang lanjutannya kita pakai mobil yang spesial juga sesuai request dari awal kan kita udah masuk baru spesial mobil baru barangnya juga udah masuk ya. Ini adalah Nissan XTrail E-Power EVCE All New. All new di sini pasti dipinjam sih gua rasa sih. Nah, ini karena ini minjam ini minjam dari dealer Nissan Amir Hamzah. Terakhir kali kita nyetir mobil ini bertiga di Jepang. Ah iya benar. Oh iya benar juga ya. Enggak terakhir entar terakhir kali kita jalan bertiga di mana? Jepang. Jepang juga. Teknisan kok BK-nya B ya? Ini BK-nya B karena kita di Medan. Padahal BK-nya B. Kalau di Jakarta B-nya B. Oh iya benar. B-nya BK. B. B-nya BK. Apa sih BK-nya B? Ini BK-nya di sini kalau ngomong plat nomor, plat nomornya apa? Enggak, enggak laku. Di sini BK-nya apa? Jadi kalau mau, "Pak, saya mau bikin plat nomor misalnya plat nomor rusak gitu ya ke polisi bikin nomor, Pak, mau bikin BK gitu." Iya, mau bikin BK. BK-nya apa? Bentar. Ini beneran apa kata kalau kalau di Riau BM-nya apa? Masa kalau di Jambi, Jakarta juga banyak yang BM. Jambi BHP. BP Jambi. Aduh Palembang. Palembang J itu bukan BH ya. Oh BH ya. BH itu buat Oke, jadi ini spesial dipersembahkan oleh Nissan terakhir kali kita nyetir mobil ini bertiga. Satu sirkuit di Jepang itu ditutup total buat kita. Yes, tutup total. Iya kan? He. Nah, sekarang apakah Sumatera Utara akan ditutup juga oleh? Jangan nanti pakai wi tot. Jangan jangan janganak boleh enggak boleh. hanya yang prioritas saja. Iya. Prioritas pun harus yang benar-benar urgency kepentingannya untuk masyarakat kepentingan. Benar-benar sekali. Heeh. Oke, kalau gitu ee sekarang kita mau ke mana, Om? Kita Oh, ada yang urusan keluarga itu. Urusan keluarganya apa? Entar aja. Hah? Adalah penting kayak kadang-kadang gua curiga sama pentingnya Om Mobi itu. Makanya penting buat dia sebenarnya enggak penting buat kita. Pasti dari udah-udah sih begitu. Sori nih, Om ya. Karena gue sama Ritwan udah terbang ribuan kilomer, Om, ke sini. I dan ini channel Fitra Eri. Terus nantinya Omobi akan bisa ngurusin urusan keluarganya Omobi. Tapi kita mau ke urusan kita dulu. Kita mau apaan? Ada urusan apa? Sumatera Utara. Explore Sumatera Utara. Setelah kita pulang baru silakan, Om. Iya. Oke, ya. Yuk, udah ikutin aja. Udah ada rencana. Kenapa sih? Aduh, Om Mobi mendingan di belakang kayak enggak mau enggak mau. Enggak mau kayak tua gitu loh di belakang. Enggak mau, enggak mau. Ini kalau Om Mobi di depan nanti giliran Ritwan nyetir saya mesti sebelahnya Ritwan. Yuk, let's go. Om jadi bos lah. Udah nyetir. Eh, kau orang Medan ini Medan, Bung. Kau jadilah bos di belakang. Dia aja nyetir. Enggak dah. Ini channel Vitra Erik. Ini Medan, Bung. Medan, Bung. Makanya hati-hati ini beda trafficnya sama tipical kota. Iya. Jadi, ada tipsnya kalau nyetir di Medan itu. Hm. Udah pakai insting. Insting tuh gimana sih jadinya? Jadi e jang udah e jangan harapkan semua orang itu sesuai jalurnya pakai se gitu. Kita banyak sekali keadaan tidak terduga. Even lampu merah lu mesti lihat kanan kiri dulu jangan langsung digas. Ah kalau itu berlaku se-Indonesia Raya deh kayaknya. Nah tapi ee tahu enggak kalau gue menggambarkan ini sebagai apa kalau pakai kata bahasa Inggris Controled chaos. Control eh yang kontrol apa? Kenapa kontrol? Maksudnya ee apa? Kacau. Kacau. Tapi semua orang tahu orang lain tuh mau melakukan apa. Orangnya udah well train. Udah terbiasa. Artinya kalau lu bisa nyetir di sini bagus aja kiri harus lu bisa nyetir di semua tempat, Om. Ee bisa jadi. Nah, tapi gini. Kalau kita terbiasa nyetir di Medan ya. He. Hmm. Kita sudah pakai insting nih. Iya. Kemudian kita ke Eropa. Eropa. Eropa. Kemudian kita setir mobil di sana. Setir. Waduh, kacau. Karena kalau di Eropa kita mesti ikuti regulasi kan. Nih, kayak gini nih. ya. Ini kan harusnya orang belok kanan semuanya lurus dan enggak enggak pakai se kan. Ya udah. Tapi ya udah ini Medan, Bung. Medan, Bung. Iya. Eh, tapi by the way ya, logat Medan itu enggak begini. Eh, e gimana? Ada ada Melayunya juga. Ah cobalah kayak enggak bisa. Eh sebentar kau bilang ada urusan di sini kau orang Medan. Keluarga bukan orang Medan. Sumatera Utara. Sumatera Utara ya. Tapi bukannya Sumatera Utara itu logat mirip-mirip? Ee mirip-mirip. Cuma ada perbedaan-perbedaan intonasinya. Kalau yang Medan seperti Medan. Medan tidak seperti ini. E yang ini apa? Ah, ini enggak tahu. Ini yang kita dengar biasa di film. Iya. Ini gara-gara nonton Naga Bonar. Naga Bonar. Batak tuh banyak yang suaranya bagus terus ee apa ee main musik gitu ya. Ya, ada juga yang banyak bakat jadi polisi, jadi pengacara gitu. Ah, pengacara ya. I iya. Jadi sopir juga. Iya. Tapi istilah sopir Medan tuh sayangnya negatif sekali ya. Tapi ya meskipun trafficnya kayak begini, lihat dong mobil-mobil tuh mulus loh. Berarti emang jago banget nyetirnya. Enggak bocel-bocel. Lihat. Iya. Tapi sebenarnya ya maksudnya sebagai orang yang lama nyetir di Jakarta kita not that bad gitu. Maksudnya di Jakarta juga seperti ini di beberapa daerah. Iya benar benar benar. Tapi ya itulah Indonesia itu masing-masing dengan kekhasannya gitu Hm. Jogja tuh teratur sekali semuanya kan. Jogja ada juga yang enggak teratur. Iya ada juga mau ngalahan ngalahan. Tapi di sini justru apa ya kadang-kadang kita ya udah deh kita butuh ke kanan selama masih longgar semua gitu. Kanan aja orang jug nerima. Oh iya iya itu lalu lintas normal g enggak pakai se gitu. Jadi ya kalau Anda ke Medan nyetir sendiri di sini expect the unexpected. Ini kita ngambil dulu jaga emosi. Enggak usah emosi di sini karena memang ya nyetir pakai insting di sini. Oke kita keluar kota ya. Keluar kota urusan keluarganya nih. Ikutin map sini. Enggak enggak enggak kita keluar kota lumayan jauh Medan. Kita keluar dekat aja urusan keluarganya dekat. Eh, itu urusan Om Mobi nanti nanti kan habis ini kan diterusin di channel lain kan ini kan channel Fitra dulu saya mau ajak Omobi ke sebuah rumah. Rumah? Ini rumah banyak. Ngapain rumah situ? Rumah ini umurnya sangat tua. Dekat sama umurnya Om Mobi. Ah. Dan berarti baru 25 tahun dan masih dihuni oleh penghuni aslinya. No. Di atas 100 tahun ini rumah. Oh berarti penghuni aslinya 100 tahun. Iya makanya tua juga ya. Turun tememurun dong. Turun-temurun lah. Kenapa dekat sama Muru Mobi tadi? Katanya dekat atau jauh itu kan relatif. Enggak relatif itu angka. Iya. Angka itu pasti. Enggak dong. Kalau pasti tuh angka lebih besar lebih kecil tuh pasti. Dekat atau jauh. Kalau mau dipikir-pikiruh kalau gitu berarti lebih dekat ke umur Om Fitra. Berarti rumah ini dekat ke umur Om Fitra. Mungkin kan, tapi untuk menjawab pertanyaan itu kan kita harus tahu kapan Omobi lahir, kapan saya lahir. 1990, 1974. Dan kita juga harus dan kita juga harus memverifikasi ucapan itu benar atau bohong. Eh, bisa jadi benar, bisa jadi. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. Iya kan gua mar. Nah, anyway kita akan ee melihat itu. Saya udah sering dengar tentang legenda rumah ini. Penasaran tapi penasaran. Belum pernah sama sekali ke sana. Kita ke arah beras lagi. Ah, sampai eh sampai mana ini? Kita turun dulu. Alhamdulillah. Aduh. Duuh. Ah. Pintu belakangnya. W 90 derajat. Mukanya lebar sekali. Buka belakangnya ya. Coba. Hampir 90 derajat loh. Oh iya loh 90. Hampir 90 derajat nih. Ini bisa nih ya. Nah kita buat engine break istirahat dulu kalau mau ngrem ya terus mau tambahin ini pakai engine e apa air brake. Air brake. Airak engine brake. Enggak. Ini di mana kita ini? Kita di tengah-tengah perjalanan. Berhenti dulu istirahat menghirup udara dan ini kan enak udah agak tinggi. Iya udah agak tinggi namanya sib langit. Sibangit. Oh ini udah sampai sibuk langit kita. Mak ini kita teraran tinggi. Udaranya lebih segar. Udaranya lebih segar. Lebih sgar. Iya iya iya iya. Nah ini kalau ini jalan naik tapi kalau kita balik situ jalannya manurung. Nah sana menurung sana. Eh bentar. Ini juga sekalian kita berhenti ada patung. Ah, penduduk asli daerah sini sebelum punah. Ih, kira-kira 65 juta tahun yang lalu lah. Tahu dari mana juta? Dari Wikipedia. Nah, kan belum tentu 65 juta sebelum meteor itu jatuh. Bukan sebelum Gunung Toba terus juga meletus Bukan sebelum Gunung Toba meletus. Toba meletus kan 74.000 tahun ini 6,5 juta tahun. 65 juta tahun. I. Nah, terus di sini ya kan ee wakil-wakil rakyat di DPR gitu kan pasti kan butuh konsumsi kan untuk makan ya. Ternyata providernya tuh di sini gitu. Provider apa? Dia menerima pesanan buat dari partai besar sampai partai kecil. Oh. Jadi partai-partai ini boleh sini. Mau partai besar sampai partai kecil itu bisa dilayani di sini. Bapak-bapak banget ya joksnya ya. Iya makanya. Udah. Nah. Makanya kita istirahat dulu sebentar. Kita lihat mobilnya dulu. Nih ee desainnya terpisah ya lampunya ya. Jadi unik si X-ril ini. Terus dia memang tidak seboki yang pertama. Pertama dan kedua. Yang pertama dan kedua. Tapi lebih boksi dari yang ketiga. Tapi dia lebih boksi dari yang ketiga ini, Om. Logo depannya ini tuh bukan sekedar emblem. Jadi apa? Radar. Oh, ini radar buat Adasnya. Iya, karena dia udah udah pakai sistem ADAS juga, termasuk pakai sonar ke depan buat ngejaga jarak lebih presisi dan lebih halus. Sonar yang ini, Om. Dan tapi hebat loh, Om Mobi. Benar-benar ini kan mobil BK-nya B. Dikirim loh dari Jakarta ke sini. Eh, bentar Om Mobi, ada urusan keluarga di sini artinya asalnya dari sini. Enggak, enggak. Bukan urusan keluarga di sini, harusnya di sono. Udah kelewatan jauh. Marganya apa? Ah, itu enggak penting. Kita cari tahu aja nanti kita tanya ke keluarganya. Bentar. Sibo langit. Sibo artinya apa? Sibo tuh bukan jalan. Jalur emang sibo tuh artinya jalur emang ada ada artinya tuh jadi skyline enggak nyambung. Heran. Ilikalikum. Iya. Ini enak banget di sini. Benar-benar menikmati sensasi berkendara. Bentar bentar. Apa di sini tadi beberapa kali kita depannya ada truk ngeblok ya. Itu arah berlawanan ya. Termasuk dalam skema expect the unexpected. Heeh. Benar. Tapi kalau kita mau jujur di Jawa juga gitu loh. Enggak separah ini Om kayaknya ini lebih parah deh. Enggak separah itu Om. E sedikit lebih berani mungkin. Tapi kan memang filosofinya adalah semua orang juga punya mata dan takut kecelakaan Iya. Dia enggak masalahnya itu. Jadi yang lain juga pasti bisa ngerem, bisa mikingir gitu. He. Nah ini tapi ini kita nanjak-nanjak ya. Ini sekarang kita ngomong ngobinya ya. Karena gimana juga ini channel otomotif bukan channel yang hanya melayani untuk keperluan keluarganya Om Mobi ya. Jadi eh begitu engak begitu. Nissan All New X-trail. Ini adalah X-Trail yang paling revolusioner. He. Karena ini pertama kalinya X-Trail itu tampil dalam format hybrid di Indonesia. Dan hybridnya itu juga hybrid yang unik karena penggerak dari mobil ini 100% elektrik. Dia memiliki mesin 1500 cc turbo untuk mengisi baterainya kalau habis. Jadi kayak ditanjakan-tanjakan seperti ini, dia benar-benar karakternya seperti mobil listrik, halus, tanpa suara, tanpa getaran, dan effortless karena torsinya gede. Jadi di depan itu torsinya 330 Nm. Yang di belakang itu hampir 200 Nm. 195 Nm. Dan kalau tenaga totalnya 211 HP. Nah, yang unik, mobil ini eh sistem hybridnya disebut sebagai e-ower. Dan ada lagi nama eforce di belakangnya. Eforce itu menandakan penggerak empat roda yang juga full elektrik. Jadi, di belakang itu juga menggunakan motor listrik. Hasilnya tidak ada ini nih, tidak ada drive shaf. Drive shaft yang mengurangi space penumpang di tengah. Eh, paling ada gundukan sedikit aja buat knalpot sama perkabelan mungkin ya. Perkabelan. Heeh. Space belakang tuh gede ya. Jadi di belakang itu. Iya. Padahal maksudnya enggak kecil juga yang duduk di belakang ya. Tapi ternyata space-nya masih gede ya. Eh well in fact dia yang paling berat sekarang. E enggak, saya ngomong volume dulu nih, Om. Oh, volume dulu. Oke. Oke. Kalau enggak ada bahasa lain apa? Otomotif bukan channel. Oh, otomotif itu dekat sama fisika. Kalau secara fisika, Kalau volumenya lebih besar, berat jenisnya sama, pasti beratnya lebih berat. Oh, benar. Iya, i benar. Iya, iya, iya. Terus, terus, terus. Lagi, lagi, lagi. Ini kami bertiga itu pertama kali ketemu mobil ini di Jepang. Oh, iya. Di test TRK-nya Nissan. Yang ditutup khusus buat kita di hari itu. Dan kita coba gaspol pakai mobil ini juga. Iya. Dan rombongan kita cuman bertiga yang ngetes, Om. Cuman kita bertiga waktu itu. Dan gilanya, Om, kita tuh enggak cuma ngetes mobil ini, tapi mobil-mobil sportl juga ada, termasuk Nissan GTR. Nissan GT GTR. Jadi kita bisa ngbenchmarking mobil ini sama mobil-mobil yang tadi. H. Apalagi yang waktu itu ada sportnya kan ada Z sama GTR kan itu kan heritage-nya kuat tuh. Tapi kita jangan lupa X-ray ini heritage-nya kuat juga. Dia udah lebih dari 20 tahun ada dan dari generasi pertama tuh masuk Indonesia. Wah 20 tahun masih umur berapa ya? 10 tahun ya? Enggak usah sok muda. Mana enggak usah sok muda? Tahun 2000 itu pertama kali keluar jadi Exel tuh kayak pertama kali mobil Nissan yang keluar di era Millenium. Oh iya. Nah, kebetulan waktu itu saya sudah jadi wartawan ee 10 tahun. Pembohongan publik itu ekstra generasi pertama tuh benar-benar mengesankan, Om. Kayak gimana sih kesan pertama ngelihatnya gitu? Kalau enggak salah ya, tenaganya tuh 180 HP. Itu gede banget buat di zamannya. Terus mesinnya 2500 cc terbesar juga di eranya. Terus itu pernah dites sama satu media itu top speed-nya bisa di atas 180 km/h. Wah, di SUV tuh body SUV. Jadi itu adalah SUV paling performa tinggi di kelasnya. Dan dia bentuknya tuh kan boky. Jadi gagal. sama ground clearance-nya tinggi. Sayangnya di generasi pertama itu cuman front wheel drive yang masuk Indonesia. Habis itu ada facelift masuk yang AWD-nya. Emang pernah emang perah karena ada putter-putterannya sama ada opsi mesin 2000 cc. jadi ST, STT sama apa gitu. Iya. Tapi enggak enggak tahu. Pernah masuk 4* 4nya ya? Pernah masuk AWD kalau enggak salah ya. Corek FR ya. Oke. Nah, tapi di luar itu itu jadi SUV yang langsung beda dari ee yang lain-lainnya gitu. Boki kelihatan paling ee ee tangguh gitu buat berpetualang. Itu ada lagi yang unik di X-til dulu. Apa tuh? Cluster instrumen cluster di tengah Oh iya. Sama ada buat nar itu Om. Ada kulkas buat naruh minuman kaleng. Heh. Sama joknya itu dia tuh kayak anti spill gitu loh. Dia fabrik. Heeh. Tapi dia kayak anti air gitu. Joknya tuh beda loh. Ingat enggak? Oh iya enggak enggak inget. Udah masih kecil itu. Nah ini editor mesti masuk-masukin nih footage-nya nih. Apa? Apa tuh? Oh iel yang gen ni cari cari. kalau sampai enggak dimasukin salahkan editor di komentar. Nah sama satu lagi Om untuk tipe yang tertinggi he yang XT ya kalau enggak salah waktu itu itu dia ada roof ra ada roof rail. Ada lampu. Ada lampu sorotnya Om. Di depan kanan kiri. Oh benar. Iya. I ya di depan itu lampu sorotnya terang banget. Jadi itu benar-benar ee apa ya satu yang tidak dimiliki oleh rivalnya. Nah sama. Nah yang baru ini ini juga meneruskan tradisi inovasinya itu menurut saya. Satu dia pakai sistem hybrid yang tidak umum yang benar-benar semua penggeraknya itu full elektrik dan all wheel drive. Iya full electtrik juga all wheel drive yang kayaknya satu-satunya yang all wheel drive di kelasnya ya. Iya. Ini satu. Iya, satu-satunya. Dan harga paling terjangkau sih lagi. Paling woring worthed sih ini. Untuk di kelasnya ya. K ya karena sistem hybridnya dan penggeraknya. Dan ini bantingannya enak. Enak enak enak enak. Apalagi buat keluar kota Enggak seempuk Serena tapi ini hitungannya masih nyaman untuk sebuah SUV. Tapi kalau misalnya kita ketemu tikungan gitu ya, Itu masih stabil. Hei. Tahu enggak Om, kenapa Om? Kenapa? Karena dia punya EV. He, punya EVEce doang kok tiba-tiba tanggapannya eh kalau dia punya EV. Oh, gitu. Bukan punya EVCE. Eh, enggak, enggak. Ini EVCE jadi all wheel drive. Jadi dia bisa membagi torsi yang benar. Udah gitu ada driving mode-nya nih. Oh, iya. Ini driving mode-nya untuk outdoor juga ya. Maksudnya untuk kita pasti outdoor untuk ee apa? Offroad ya. Iya. Offroad ini ada ada road biasa, ada eco, ada sport, ada snow, ada offroad. Sama tengahnya kalau dipencet, Om. H jadi he Nas ini kalau misalnya ada yang nanya lah kan di Indonesia enggak ada snow. Snow ini bisa dipakai buat mat. Iya. Jadi kalau licin-licin kita pakai snow mode. Ini kita nanjak ya, by the way karena kita ke arah Brasagi ini kalau dilurusin terus sampai Danau Toba. Hm. Jadi kita naik ke pegunungan karena ee ini pegunungan yang membuat Danau Toba itu kan. Oh, ini ya nanti ya pas kita kan ke arah Beras Tagi kan sampai ke Danau Toba juga kan. Danau Toba itu kan danau vulkanik terbesar di dunia. Uh. Waktu waktu meletusnya kayak gimana tuh gedenya ya? 70 tahun lalu meletus duar. Ah itu kayak gitu tuh. Duar gitu. Oh, habis mau bunyi apa lagi? Nanya ke saya 74.000 tahun yang lalu. Ya kali udah lah masih kecil saya belum lahir. Enggak ada sejarahnya itu. Tapi ee dilihat dari bukti ininya kan dari bukti geologinya, dari bukti volkanologinya. Wah, ini 74.000 tahun lalu lah kira-kira. Kok bisa tahu ya? Oke, karena ini kami bertiga, jadi ikuti video ini di tiga channel karena akan ada tiga parts. Bukan hanya kita akan menjelaskan tentang Nissan All New X-trail e- Power EForce ini, tapi juga kita akan explore Sumatera Utara yang akan yang kita lewati dan di akhir video setiap host videonya harus menyebutkan satu hal yang dia kurang suka dari mobil ini dan satu hal yang dia suka di luar yang sudah kita jelaskan. Oke, jadi ini di channelnya Vitra Eri, ee Om Fitra yang ngomong. Di akhir video ini. Jadi ikuti berarti masih ada yang ngingetin. Jangan lupa. Harus ada ingetin. Kadang-kadang suka lupa itu. Jangan diskip. Ken kenapa harus jadi m kadang suka liup lupa itu. Nah, satu cirinya Nissan ya ini terjadi hampir di semua produknya. Setirnya tuh digenggamnya enak karena enggak terlalu besar tuh. Ah, megang ini setirnya tuh apa ee ketebalan setirnya tuh. Dan kalau makin lama om itu kulitnya tuh lama-lama break in makin enak dipegang jadi agak halus ya. Serena gua udah begitu soalnya. Serena yang mana nih? Serena yang e powerow itu kan masih baruan. Oh tahu ya begitulah. Kan dipakai dirental maksudnya kadang-kadang. Tapi emang emang setirnya Nissan tuh genggamnya tuh enak gitu pas dengan tangan-tangan Asia lah. Tangan apa tangan bule gede-gede. E dan ini e- power-nya. Ya, kalau misalnya pas jalan licin, pas ini power delivery-nya kan bisa sesuai kebutuhan gitu loh. I sesuai kebutuhan dan ketika digas juga tor setirnya enggak ada karena belakangnya ikut gerak. Sama ya itu effortless-nya itu karena ya dia karakternya karakter EV. Jadi torsinya instan enggak enggak berasa berat gitu nanjaknya. Dan mesin tuh hidup atau mati enggak ada getaran sama sekali karena dia tidak terhubung ke drive train. Iya. Halus. Enggak ada suaranya. Ini enak sih nih. Ini ini buat yang suka liburan sama keluarga dia gede bagasinya. Plus ini kan dia ada konfigurasinya 5 seater plus du plus dua. Jadi ada dua lagi di belakang paling belakang ketiganya. Dan kalau dibawa sendiri ini juga masih fun to drive bukan masih ini sangat fun to drive ini. Sama ini Om kalau lu duduk di bangku kedua, dia tuh kayak ada staging-nya gitu. Jadi kita lebih tinggi ngelihat lebih teatrikal. Teatrikal. Teatrikal. Selamat datang di puncak Pahorama. Panorama. Kantor Kepala Desa Lingga. Selamat datang di Desa Budaya Lingga. Itu view-nya keren banget. Langsung langsung Gunung Sinabung. gunung paling kaya itu. Kenapa paling kaya? Sinabung. Alah, yang jok bapak-bapak atau siapa? Siapa yang jap? Bapak Ritwan. Kenapa namanya Desa Budaya? Karena mungkin dipreserve kali ininya ee desain desain dan adatnya di sini. E tapi desa lain enggak ada yang budaya? Emang ada juga mungkin di provinsi lain atau di daerah lain ya? Tapi banyak anjing Om. Iya. Dan kanan kiri tadi makam di sini makamnya dirumahin gitu. Balai nih. Iya. Balai kota. Balai desa. Balai kota. Balai desa. Berarti ini waktu Gunung Sinabung aktif ini semuanya ini ya. Makanya tadi kita lihat di beberapa restoran tuh ada selebaran cara ini cara evakuasi kalau gunung meletus evakuasi. Oh i ini apa nih? Nah di sini taman bacaan anak. Taman bacaan katanya di sini ada rumah yang usianya udah lebih dari 200 tahun dan masih ditinggali oleh keturunan dari pemilik awalnya. Kita boleh masuk mestinya ya. Ini kali nih 200 tahun tuh kan artinya 1800-an ya. Ininya loh atapnya tinggi-tinggi banget. Atapnya tuh. Dan jerami gini kan harus diganti-ganti terus ya. Ah ini make sense nih kalau 200 tahun yang lalu untuk menghindari binatang buas kan. rumah adat Karo Belang Ayo. Nah ini yang kiri juga rumah nih. Ada berapa rumah ya? Kita parkir dulu deh ya. Heeh. Wah, keren sekali. Selamat datang. Iya, ada dua. Ada dua. Ada satu. Jadi, dua-dua rumah ini adalah rumah yang usianya udah hampir 200 tahun. 200 tahun. 1860. Iya katanya. Nah, dan yang lebih menakjubkan adalah konon katanya masih ditinggali oleh keturunan dari keluarga asal yang tinggal di sini. Nah, cuman daripada kita salah fakta sejarahnya, kita langsung ketemu pemandu aja nih. Pak Manik. Halo, Pak Manik. Apa kabar? Senang berjumpa dengan Bapak Iik. Iya. Senang berjumpa dengan Bapak. Senang berjumpa dengan Bapak juga, Pak Manik. Iya. Ini ada dua dua rumah ini yang paling tua di Desa Lingga ini. Desa Lingga ya. Mungkin sesatera Utara paling tua ini kali. Ee mungkin. Iya. Dibuat tahun ini rumah ini ya ee dibuat tahun 1862. 1862. Yang yang situ 62. Yang satu lagi itu 1860. Itu rumah tua 1860. Berarti ini kakaknya. Ini adiknya. Adiknya ya. Karena itu dulu kalau di Kar itu kan ada namanya itu si Baya. Sibaya itu raja. Itulah dulu rumah raja di Kar. Oh ini rumah raja 165 tahun. Yang ini 16 tahun ini. Iya bisa kita lihat sampai sekarang itu dibangun tanpa paku ya. Oh enggak ada paku. Enggak ada pakunya yang bisa kita lihat ya mungkin. Oh jadi kayak kayak mainan anak yang diikat ada diikat ya. Itu enggak ada pakunya ya. Oh, kalau dari dalam nanti jelas itu enggak pakai paku. Belum ketemu paku apa gimana zaman dulu? Kita nanti boleh lihat dalam. Oh, tapi bentar dari luar dulu. Ini ee dari bahan apa atapnya? Atapnya terbuat dari ijuk. Ijuk. Jadi di atas itu murni tanduk kerbau ya. Oh, itu tanduk kerbau asli. Asli ya? Itu dari awal masih sama tanduk kerbaunya. Apa sudah diganti? Dari awal berdiri memang ada tanduk kerbaunya. Tapi karena usia waktu kita renovasi diganti tanduk diganti lagi tanduk. Oke. Oke. Oke. Jadi ini sudah direnovasi berapa kali? Iya seingat saya sudah ada ee tiga kali empat kali. Tapi bentuknya dipertahankan sama. Iya karena bentuk ya bentuk dari rumah adat. Karena dulu di kampung kami ini itu ada namanya agama pemenah. Mirip-mirip agama animisme ya. animisme ya. He. Dan bentuk dari rumah ini kalau menurut agama kami dulu itu sama dengan orang menyembah ya macam macam ini ya bisa kita lihat. Oh bau gitu ya. Sat dua t kalau kita lihat di sini ada juga satu dua t ya. Ah bentuk orang nyembah orang menyembah macam ini ya. Apa sih? Gimana gimana ini? Bow bow bow. Iya. Terus ee dan di sini juga ya kalau kita biasanya itu kalau kami mau masuk rumah adat itu secara otomatis kita menyembah dua Tuhan ya macam ini ya kita lihat ada tangga dan di ujung tangga ini ya ada bambu itu beda ada beda tinggi ya satu tinggi satu rendahendah kalau kita masuk yang pertama itu kita pegang bambu yang tinggi. Ah, itu melambangkan kita menyembah Tuhan yang di atas. Ah, dan kalau kita mau masuk itu tidak pilih bulu. Semua orang itu harus bungkuk ya. Kalau enggak bungkuk terantuk. Ah, terantuk ya. Kita bungkuk itu menyembah Tuhan yang di tengah. Dan kalau kita keluar kita pegang bambu yang rendah. Itu juga melembangkan kita men itu dulu cara orang masuk itu seperti itu. Nah, terus di atas itu kan ada bolongan tuh Pak Manik. Oh, iya. itu memang ada sampai beberapa tingkat di dalam atau itu cuman buat ventilasi aja itu iya buat ventilasi ya karena di dalam juga kita memasak Nah dan banyak asap ya. Oh biar asapnya keluar. Mungkin nanti kalau kita masuk Bapak lihat semua warna di dalam itu hitam. Oh karena bekas asap mas. Bekas asap ya. Kenapa? Karena di dalam rumah adat juga asap itu sangat berguna ya. Karena dari asap bisa membuat kayu tetap awet ya. Dan asap juga sangat ampuh untuk menolak rayap. Ah, makanya ini kayu-kayunya lebih tahan terhadap rayap karena ada asapnya itu. Iya. I ya. Ini pondasinya ini sebenarnya di dalam semen ini itu ada batu kita bungkus. Kenapa? Karena kadang-kadang kita takut batunya sudah terlampau tua. Takut lap dulu enggak pakai semen kan pertama kali pakai batu berarti. Iya. Mungkin di sana masih sekarang masih asli ya di rumah yang sana. Nah, terus di bawah ini kenapa kosong gitu maksudnya kenapa rumahnya itu tinggi? Itulah tadi ya yang saya bilang tadi. Kami menyembah tiga Tuhan ya. Oke. Pada saat itu ya? Iya. Tuhan di tanah, di tengah, dan di atas. Atas ya. Dan kita lihat kenapa rumah adat ya dibuat tinggi itu bukan karena binatang buas ya. Bukan ya. Bukan karena banjir. Kami di gunung yang enggak ada banjir. Oh iya juga. Ah, itu melambangkan kita menyembah Tuhan yang di tanah dan dibuat pintunya di tengah juga melambangkan ee kita menyembah Tuhan yang di tengah dan dibuat tinggi ke atas juga melambangkan Tuhan yang di atas. Itulah filosofinya Kalau ini ada ada seperti ada kakinya Nah, ini ini ee kalau bahasa karonya itu pengerret itu mirip-mirip cicak. Binatang cicak ya. Nah, ini merupakan suatu lambang kalau kami orang Karo Cicak itu lambang ke keberuntungan. Ah. Ini di zamannya pada saat rumah ini dibangun ini termasuk rumah yang biasa-biasa saja atau rumah mewah? Kalau dulu ya dulu kan di kampung kami ini semua rumah begini. Itu rumah biasa. Ini rumah biasa saja. I bukannya raja tadi dibilang rajanya itu rumah rajanya penuh dengan ukiran ya. Oh, bedanya di ukiran ini kan enggak ada ukiran ini kan diciplak. Oh, Jadi itu yang membedakan rumah raja di saat itu ya. Dan apa benar yang tinggal di sini memang masih keturunan dari pemilik awalnya? Iya, itu keturunan itu dari generasi ke generasi ya. Iya. Jadi, Bu tidak dijual ke orang lain, tidak ditempatin orang lain. Itu tergantung yang punya tapi sampai sekarang enggak dijual. Masih sampai sekarang masih enggak ya. di sini satu keluarga atau banyak keluarga? Ee kalau dulu satu rumah ini itu ada delapan keluarga. Satu rumah delan keluarga. Coba kita bayangkan ya, satu keluarga punya tiga entah dua anak itu hampir 35 40 orang tinggal di dalamnya. Jadi remaja sebelum nikah ya dia harus ngungsi dulu ke Iya. yang laki-laki. Tapi ya untuk anak gadis laki juga punya e tempat tidur khusus di dalamnya. Anak gadisnya itu. Itu biasa tidur dekat jendela macam ini. Nah, karena dulu sangat romantis juga ceritanya di kampung kami. Ya. Kalau dulu anak mudanya itu mau manggil ee mau cari pacar, mau manggil anak dan anak gadisnya tinggal di dalam rumah adat, anak muda itu tidak bisa masuk ee ke dalam. Panggil nama dari luar juga nanti ngelihat dari jendela. Iya. Itu dulu kalau anak muda mau manggil anak gadis ya itu kita harus panggil ada di sini namanya sejenis musik tiup ya baluan itu kita panggil dengan e musik tiup itu serulinglah seruling dari bambu ya kita tiup dari sini dan anak gadisnya lihat dari jendela itu siapa yang di luar kalau dia suka ya keluar ya kalau tidak suka pintunya ditutup makanya ah jadi nolaknya gitu zaman dulu lebih enak nolaknya enggak perlu mikirin mesti apa iya enggak basa-basi dulu bohong tapi ee dulu ya jadi masalah besar juga. Oh ya kenapa ya karena kita tahu kan bukan semua anak muda bisa meniup suling ya. ya kalau anak muda enggak bisa meniup suling ya susah juga cari pacar ya. Iya. Si engak bawah. Iya. Ya kan ketahuan ya itu makanya kalau tidak ada suling susah. Tapi sekarang sudah beruntung semua ya Mas. Enggak perlu makak. Iya enggak perlu panggil dengan WhatsApp apa segala kan ya. Oke mari kita masuk ya. Hati-hati kepala ya. Iya harus tunduk ya. Tunduk ya. Terutama saya Pak sepatu aja Pak. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa ya. Mari Pak. Uh gelap ya. Iya gelap tapi adem. Misi gelap tapi adem. Iya benar. Dan ada bau asap ya di sini ya. Wah ini tempat buat masak tungkunya. Iya ini satu tungku ini kalau kita masak ya itu untuk dua keluarga ya. Kalau kita masak satu dari sini satu dari sana ya. Ya. Kita lihat di dalam ya ada empat empat tungku ya. Dan di sini ini juga banyak fungsinya ya. Ini namanya para. Ini tempat menjemur. Entah ada padi kita, entah ada kayu bakar yang belum kering kita simpan di sini. Dan di atas ini ada dua lantai ya. Ini hanya sebagai gudang. Enggak ada orang tidur orang enggak tidur, tapi buat gudang, buat nyimpan barang ya. Iya. Dan ee untuk tempat tidur ya macam saya bilang tadi, anak-anak ya tidur di sinit ya di sini ya. Tidur bersama anak-anak ya. Dan untuk orang tua ya tidur di dalam dalam bilik ya bilik itu jadi lebih privasy ya. Nah dan untuk ee anak muda macam saya bilang tadi kalau anak muda itu umur 17 tahun dia keluar untuk tidur dan untuk anak gadisnya tidur dekat ee jendela kecil ya. Ah dan di sini bisa kita lihat karena rumah ini saya bilang tadi dibangun tanpa paku ya ya hanya dibuat dengan ini kayak lego ya. Kayak puzzle. Iya. Masuk-masuk ya. Dan ini kalau hujan pun tidak bocor ya. Kalau hujan paling enak di dalam, Pak. Ya, mungkin ee kalau kita punya atap biasa itu sangat ribut ya. Oh. Ya. Karena kalau di sini tidak ada suara kecap suara soalnya dingin. Tapi kalau malam di dalam ini panas. Karena semua keluarga masak ya. Dan inilah yang kita lihat tadi semua warna di dalam ini hitam ya. Heeh. Inilah dari asap tadi. Di sini pun tidak ada listrik ya? Tidak ada. Oh, sekarang ada sekarang ada. Tapi waktunya itu dimulai jam . sampai 4. Jadi ada lampu nih. Ini ada depan Bapak. Ah. Ah. Ini. Tapi sekarang sangat ee enak tinggal di dalam. Kenapa ya? Karena karena gini di kampung ini sekarang ya ada empat agama. Muslim ya. Muslim, Kristian, Protestan, Katolik dan agama yang tadi animasi ada tapi di dalam rumah ini mungkin dia satu keluarga besar tapi bisa berbeda-beda agama. Agama benar-benar perwujudan toleransi beragama ya. Dan di sini juga yang tinggal di sini bukan cuma agama animis, ada agama muslim, ada juga agama Kristen. Tapi kalau kita di dalam rumah, contohnya gini, kalau ada orang muslim yang tinggal di rumah ini, tinggal di dalam, itu semua orang tidak bisa memasak yang haram-haram ya. Oh, oke. Babi, g babi apa contohnya kalau ee bulan Ramadan ya, orang muslim tinggal di dalam itu semua orang tidak bisa makan siang di dalam. harus oh untuk menghormati iya kita harus makan siang di luar dan juga kalau natalan datang ya kita bikin pesta natalan di dalam kita kita ee sama-sama di situ. Karena menurut ee adat kami beda agama itu biasa tapi kita hanya percaya kepada Tuhan yang di atas. Itulah tradisi sekarang di sini ya. Wow, luar biasa nih. Ini contoh toleransi beragama yang masih di sini juga sampai sekarang. Kalau adat kami beda agama itu bisa menikah. Oh, di sini bisa. Tapi sebelum dibuat pesta harus dipilih salah satu ya. Oh, salah satu agamanya mau yang mana? Iya. Itu enggak ada aturan dari orang tua harus ke situ. Itu kita yang pilih. Jadi di sini beda dengan kota besar di mana orang-orang itu sudah banyak yang individualis ya. di sini benar-benar semangat gotong-royong itu masih kental. Bahkan tempat tinggal pun bisa bersama. Iya. Inilah coba inilah hasil dari gotongroyong dulu. Kalau I bangunnya juga gotong-royong. Gotong royong ini pasti. Bukan cari kontraktor terus suruh bagi pakai tender enggak ya? Yang menarik itu yang di depan tadi diceritain sama Pak Manik cuman ee kameranya lagi off tadi. Tempat apa itu? Tempat yang untuk ibu melahirkan. Oh iya boleh boleh. Nah itu kan ada pegangan tangan ya. pegangan tangan itu bisa fungsinya pada saat kita keluar itu kita pegangan sama ada satu lagi fungsinya nih Pak Manik. Iya. Iya. Ini fungsinya ya karena di kampung dulu ya enggak ada rumah sakit Ee dan dulu kalau ibu-ibu itu mau melahirkan ya di sinilah tempatnya. Di sini tutup. Iya ini ditutup ya mungkin ada pakai kain pakai tikar ya. Dan di sinilah dukun beranak untuk menolong ya. Dan kalau ibu-ibu itu mau pegangan, buat posisi yang bagus ya. Ya, macam inilah posisinya. jadi di setiap rumah di zaman itu ada pegangan seperti ininya ya? Ada setiap rumah itu ada ya. Nah, n pas lagi proses ini yang di dalam rumah enggak bisa keluar, yang dari luar enggak bisa masuk. Di belakang dong. Iya, di dalam rumah ya kita karena kita tahu kita keluar semua dulu. Ada ada berapa pintu rumah ini? Ada berapa pintu? Ada dua pintu untuk keluar. Oh, ada dua. Oke, oke, oke. Iya, kalau menurut ceritanya ya sudah banyak anak-anak lahir di sini termasuk saya. Saya Oh, di sini. Iya, saya lahir tahun 0 ya. Oh, enggak kelihatan. Enggak jauh beda. Enggak jauh beda sama dia, Pak. Tahun 0 ya. Terakhir dipakai itu kalau menurut ceritanya tahun 1865 eh 85. Nah, banyak anak-anak yang lahir tapi sekarang enggak lagi terlampau berbahaya katanya kan. Iya, karena sudah ada rumah sakit juga. I. Oke, kita turun. Hati-hati ya. Turunnya harusnya gini caranya atau ke depan? Itu ke depan kok. I itu tersah. Salah. Harusnya ke depan, Om. Coba lu aja yang ke depan. Coba lu aja yang ke depan. Seberapa susahnya sih? Coba lompat aja. Kalau enggak ke bawahnya. Ah, coba ke depan. Tuh, gitu caranya. lebih gampang. Ah, tuh. Tuh. Ini paling enak gini. Duduk. Iya, duduk dulu. Santai dulu. Satu lagi. Sedangkan Pak Manik. Terima kasih banyak Pak Manik. Terima kasih banyak. Sukses terus dan pun sukses ya. Iya terima kasih. Terima kasih banyak. Luar biasa. Nah, jadi kan tujuan yang saya mau udah ini rasa penasaran saya ngelihat rumah ini akhirnya tercapai juga. Dan sekarang saatnya untuk mengakhiri video ini. Tapi tadi kita sudah janji he bahwa karena kita bawa All New Nissan X-Trail EPower EFCE dengan segala keunggulannya, sistem all wheel drive, tenaganya besar, konsumsi bahan bakarnya irit, penggeraknya all wheel drive dengan elektrik, nyaman, fun to drive, tapi tetap kita harus pilih satu hal yang kita kurang suka. Dan satu hal yang kita paling favorit dari mobil ini. Kalau saya hal yang kurang saya suka dari mobil ini adalah di bumper belakang banyak material seperti ini. Emang kenapa? Kalau keserempet seperti di Medan, di Jakarta itu tidak bisa dipaint. Oh, karena dia sukanya yang krom menyala banget. Bagus juga k menyala enggak? Nah, emang kelihatan gagah, cuman susah kalau dipair. Nah, kalau satu hal yang ini mungkin minor tapi saya suka dari mobil ini selain yang sudahudah disebutin ini mobil sudah punya Apple CarPlay Android Auto dan kita bisa pilih mau wired atau wireless. Jadi ada dua-duanya wireless. Nah, tapi bagaimana pandangan mereka berdua ke mobil ini? Jadi mereka berdua di episode berikutnya akan nyetir mobil ini ke tujuannya. Tujuan akhirnya adalah acara keluarganya Om Mobi. Kita juga acara acara acara keluarga arisan enggak ada urusan keluarga. Urusan keluarga yang kita juga belum tahu ke notaris. Eh dan bukan diputuskan setelah dari episode ini akan langsung ke episode Ritwan Hanif. Let's go. Let's go. Jangan lupa Anda klik like bila menyukai video ini. Komentar di bawah dan subscribe ke channel Fitra Eri Om Mobi Ritwan Hanif. Jika Anda belum follow Instagram kami bertiga di sini. Terima kasih banyak Anda sudah menyaksikan urusan keluarga Om Mobi. Nanti aja di episode terakhir kita lihat ke mana Ritwan akan membawa kita dengan All New Nissan X-Tray e Power EVE ini di Sumatera Utara. Bye bye. Dadah dah om gua di belakang om omak bisa gak bisaak bisa gantian Ganti, ganti.
