Yang suka ngaku-ngaku jadi Flagship, Malu sama hape ini! - Review Samsung Galaxy A55 5G (YouTube Video)
Jujur, belakangan ini saya naksir banget sama Realme 12 Pro Plus karena secara desain mungkin terlihat cantik dengan kamera periskop pula. Yang mana, hal ini nyaris nggak akan kita temukan di hape-hape lain seharga ini. Tapi, belakangan saya sedikit goyah karena ternyata hape ini juga menggiurkan. Hmm, apa mending beli ini aja ya? Samsung Galaxy A55 5G, hape ini kerasa berbeda karena udah nggak lagi menggunakan material plastik pada bodinya. Kalau kalian lihat, pada frame-nya ada garis antena, yang artinya frame-nya terbuat dari metal. Dan karena pake frame metal, hape ini kerasa cukup berat. Pas saya coba timbang, beratnya lebih dari 200 gram. Material back covernya sendiri udah menggunakan kaca Corning Gorilla Glass Victus ya. Yang lazimnya kaca ini ada di hape-hape flagship. Hape-hape mid-range ada sih, tapi di kaca depannya. Ini kaca belakang coy. Feel waktu genggam hape ini, kerasa beda banget sama hape-hape mid-range yang ada sekarang. Karena hape ini kerasa banget mewahnya, kerasa banget solidnya, kerasa banget beratnya. Mengingat materialnya metal, dan beneran kerasa banget pokoknya lah. Saya fokus ngomongin soal build quality-nya aja karena kalau ngomongin soal desain, nggak ada yang baru dari hape ini. Desainnya masih terlihat sama seperti hampir semua hape-hape Samsung. Dengan bagian belakang yang cukup plain, tanpa gimmick-gimmick finishing back cover ala-ala hape Tiongkok. Saya lupa kapan terakhir kali seri ini menggunakan material metal pada bagian frame-nya. Tapi seinget saya, dulu ada seri A3, A5, dan A7 kalau nggak salah, yang juga menggunakan frame metal. Tahun berapa ya? 2018 mungkin ya? Atau 2019 ya? Udah lama lah pokoknya. Untuk layarnya sendiri, Samsung ini memang selalu di atas rata-rata hape mid-range. Mengingat Samsung nggak pernah gagal dalam membuat panel layar. Apalagi yang menggunakan jenis AMOLED atau mereka sebut sebagai Super AMOLED. Layar tajam? Udah pasti. Warnanya vibran? Sudah pasti. Responsifitasnya bagus? Juga sudah bisa dipastikan. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran saya soal layar di hape ini. Saya merasa bezel dari layar hape ini terlalu tebal ya. Setidaknya cukup tebal untuk sebuah hape yang dibanderol nyaris 7 juta rupiah. Secara fungsi, sebenarnya bezel tebal ini bermanfaat dan bisa menghindari si layar tersentuh saat hape digenggam. Cuma, secara estetik, ukuran bezel yang tebal seperti ini sudah pasti kurang enak dilihat. Karena di saat hape-hape murah sekarang berlomba-lomba nipisin bezel, Samsung terlihat masih nyaman dengan ukuran bezel yang tebal. Refresh rate di layar hape ini 120Hz dan adaptif ya. Jadi dia akan turun fps-nya kalau lagi nggak dipakai. Saya sering beberapa kali mendengar komplain dari para netizen soal layar hape-hape Samsung yang sering kali bermasalah ya. Mulai dari bleeding, ghost touch, atau yang paling sering adalah muncul garis khatulistiwa. Saya tidak menampik beberapa masalah yang muncul di layar hape Samsung. Karena saya pun pernah mengalaminya. Mungkin bisa dibilang, apa ya, saya kurang beruntung gitu. Alias apes aja gitu. Kendala lain saat menggunakan hape Samsung adalah jika hape kita layarnya bermasalah, harga dari sparepart layarnya itu sangat-sangat-sangat -sangat mahal. Layarnya doang itu kayaknya seharga sama handphone mid-range lain deh. Jadi saran saya, jika kalian punya kesempatan untuk bisa mendapatkan proteksi lebih dari Samsung, sebaiknya ambil aja. Kalau ada budgetnya. Kapitalisme Samsung sangat kental terasa di hape ini. Tadinya saya berpikir kalau brand yang mata duitan itu cuma Apple doang gitu loh. Karena semua di duitin. Sampai lap aja dijual sama dia, buset. Eh, ternyata Samsung 11-12 sama Apple sob. Sama-sama kapitalis. Iya, saya tahu. Semua brand pasti mata duitan. Semua brand jual handphone pasti nyari cuan. Tapi masa nggak malu sama brand-brand kecil yang ngasih banyak hal dalam paket penjualan smartphone mereka? Halo? Samsung? Setidaknya ada 3 hal esensial yang kita nggak akan dapetin di hape-hape Samsung. Yang justru ketiga hal tersebut bisa jadi nilai jual sebuah produk menurut saya. Pertama adalah keparal charger yang dihilangkan dengan alasan demi mengurangi sampah elektronik. Oke. Kita juga nggak akan dapetin softcase dan antigores bawaan. Jadi ketiga hal itu harus kalian beli terpisah setelah kalian beli hape ini. Samsung Galaxy A55 5G pakai Exynos 1480. SoC terbaru buatan mereka sendiri yang surprisingly ngebut. SoC ini punya total 8 core yang masing-masing. 4 core Cortex A55 di 2,05 GHz. Dan 4 core Cortex A78 di 2,75GHz. Hasil benchmarknya cukup memuaskan. Lebih tinggi daripada Exynos 1380. Hasil ini menunjukkan kalau SoC ini punya raw power yang cukup besar. Dengan raw power sebesar ini memungkinkan hape ini bisa menjalankan banyak sekali game-game berat dengan cukup lancar. Ada sebuah fakta menarik. Performa dari SoC ini ternyata mengalami throttling. Seiring dengan bertambahnya suhu pada SoCnya. Bahkan throttlingnya terasa cukup parah sampai kurang 12% kalau nggak salah. Asumsi saya adalah mungkin memang sistem pendinginan pada SoC ini kurang optimal. Dengan asumsi tersebut saya mencoba melakukan tes ulang. Namun kali ini saya menambahkan pendingin tambahan pada hape ini. Dan hasilnya ternyata memang performa hape ini jadi lebih stabil. Artinya asumsi saya tadi bisa jadi benar. Ada yang berbeda dari hape ini. Yaitu GPU yang digunakannya terlihat asing. Hape ini pakai GPU Xclipse 530 yang katanya hasil kerja sama Samsung dengan AMD. Saya bilang asing karena biasanya SoC Exynos itu ditandemin sama GPU Mali. Buat tahu lebih jelas gimana performa GPU ini dibandingkan Mali yang sebelumnya dipakai di Exynos 1380. Kalian bisa lihat hasilnya berikut. Disini terlihat baik angka dari Geekbench maupun 3D Mark menunjukkan kalau Xclipse 530 lebih ngebut dibandingkan Mali G68 MP5. Samsung Galaxy ini punya dual SIM plus sebuah slot microSD. Selain dual SIM fisik, si hape ini juga ternyata sudah mendukung eSIM yang mana masih sangat jarang kita temukan. Fitur ini ada di hape-hape menengah. Hape ini punya setup dual speaker. Suaranya nyaring dan kencang ya. Suaranya juga nggak cempreng karena saya masih bisa merasakan frekuensi low-nya gitu. Clarity-nya bagus, saya suka. Dan saya suka posisi atau peletakan dari dual speaker di hape ini karena saat digunakan untuk bermain game, si speaker nggak ketutupan sama jari. Jadi nggak asal naruh dual speaker aja gitu. Karena banyak yang hape-hape murah yang bisa ngasih dual speaker tapi naruhnya ngasal gitu loh. Fitur-fitur esensial juga tentu akan kita temukan di hape ini. Mulai dari NFC sampai in-screen fingerprint yang surprisingly kecepatan bacanya cukup cepat. Selain itu, hape ini juga sudah punya sertifikasi IP67 yang artinya dia tahan terhadap air dan debu. Bahkan bisa diajak berenang hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit. Hape ini punya baterai sebesar 5000mAh dengan dukungan fast charging 25W. Kita semua tahu kalau fast charging di hape-hape Samsung itu nggak pernah gede -gede amat. Bahkan hape mereka yang paling cepat ya Samsung Galaxy S24 Ultra dengan 45W-nya. Dalam pengujian, baterai hape ini terisi penuh dari 50% dalam waktu 1 jam 30 menit. Cukup cepat. Daya tahan baterai di hape ini juga cukup oke menurut saya. Bisa bertahan sekitar 14 jam lebih dalam penggunaan non-stop. Hape ini sudah pakai One UI 6.1 berbasis Android 14. Salah satu UI favorit saya. Karena stabil, simple, dan lincah. Terakhir kita bahas soal kamera. Kamera utama hape ini berukuran 50MP. Dan sekali lagi Samsung nggak ikut-ikutan perang resolusi. Karena menurut saya 48MP atau 50MP itu udah lebih dari cukup ya. Nggak usah lah sampai ratusan megapiksel. Kualitas foto dari kamera 50MP-nya saya suka. Dalam kondisi daylight fotonya tajam dengan warna yang akurat. White balance-nya juga saya rasa cukup baik. Saya nggak ngeliat ada foto yang ngaco white balance-nya. HDR di hape ini juga bisa bekerja dengan cukup baik. Noise di foto yang ditangkap berhasil diminimalisir sama hape ini. Normalnya saat kita foto dalam kondisi cuaca mendung, noise-nya akan mulai bermunculan gitu loh. Tapi masalah itu nggak saya temukan di hape ini. Untuk kondisi low light-nya juga hape ini bisa menangkap foto dengan detail yang baik. Walaupun dalam kondisi yang minim cahaya, fotonya nggak lantas jadi grainy gara-gara noise-nya nggak bisa dikontrol. HDR-nya juga bekerja dengan baik. Nggak semeneh-meneh bikin langit malam jadi terlalu terang gitu loh. Sehingga bikin dia berubah jadi warna biru atau ungu gitu. Sedangkan untuk kamera ultrawidenya yang 12MP itu, juga bisa saya bilang cukup oke, cukup bagus. Tone warna dari lensa ultrawide ini nggak nggak berbeda jauh sama lensa utamanya. Fotonya cukup tajem, warnanya juga saya suka. Nggak keliatan pucat. Yang agak kurang paling HDR-nya aja yang kerasa kurang agresif gitu loh. HDR-nya terlalu calm menurut saya, bikin foto yang ditangkap waktu ngadep sumber cahaya jadi sulit buat di-highlight. Dan berakhir jadi cenderung gelap. Sedangkan untuk foto makronya, hmm tadinya saya males bahas lensa satu ini. Tapi berhubung dia beresolusi 5MP, setidaknya Samsung sedikit niat lah bikin lensa makro gitu ya. Jadi akan saya bahas. Buat saya hampir nggak pernah ketemu skenario yang mengharuskan saya pakai lensa makro. Tapi dalam pengujian, lensa makro di hape ini bekerja dengan cukup baik. Yang agak kurang paling jaraknya aja gitu, yang kerasa kurang deket gitu loh. Kurang makro menurut saya gitu loh. Foto-foto ini sekilas keliatan kayak bukan di foto pakai lensa makro, lebih mirip kayak foto biasa aja gitu loh. Soal tajem lah, ya tajem lah. Cuma ya itu, kayak kurang deket aja gitu loh, kurang close up. Kamera depan beresolusi 32MP-nya juga bekerja dengan baik. Dan bisa menangkap foto yang tajem banget menurut saya. Sayangnya kamera depannya masih fixed focus. Jadi dalam kondisi yang terlalu deket, muka kita akan jadi kurang fokus gitu loh. Jadi kita harus benar-benar pintar ngatur jarak antara si kamera sama muka, sama objek gitu. Ini adalah hasil perekaman video menggunakan kamera depan dari Samsung Galaxy A55 5G. Di mana kamera depannya bisa merekam hingga resolusi 4K di 30fps. Hasilnya seperti yang kalian lihat, yang menurut saya ini sudah cukup bagus. Yang pasti, satu hal yang saya suka dari hape-hape Samsung, terutama untuk mid-rangenya adalah kemampuannya menangkap suara. Yang menurut saya salah satu yang terbaik untuk hape-hape mid-range. Seperti yang kalian dengar sekarang, saya merekam tanpa menggunakan mikrofon apapun. Jadi dia merekam menggunakan mikrofon yang ada di body dari Samsung Galaxy A55. Dan soal kamera depannya, bagus. Tidak ada komplain buat saya. Dan saya suka. Sedangkan ini adalah hasil perekaman video dari kamera belakang, menggunakan kamera utama, dengan resolusi 4K di 30fps ya. Saya masih bisa menerimalah 4K di 30fps, walaupun belum ada yang 60fps. Dan yang saya suka dari hasil perekaman video di bagian belakang, pada prosesnya adalah, pada saat kita merekam video, kita bisa sangat leluasa untuk berpindah antara lensa utama dan lensa ultrawide. Coba seperti ini. Nah, sekarang saya merekam menggunakan lensa ultrawide, dimana kita tidak perlu topsy videonya. Itu benar-benar seamless. Dan hal seperti ini yang kayaknya sulit dilakukan oleh produsen handphone manapun. Yang mana Samsung bisa melakukannya. Dan untuk kualitas videonya menurut saya, bagus untuk sekelas mid-range. Terutama sekali lagi saya menyebutkan soal hasil perekaman suara, yang salah satu yang terbaik. Karena suaranya, tanpa menggunakan mikrofon eksternal, sudah cukup bagus dan bisa diandalkan. Pokoknya saya suka sama kualitas video dari handphone Samsung Galaxy A55 5G. Varian termurah dari Samsung Galaxy A55 5G ini, dijual dengan harga nyaris menyentuh angka 6 juta. Dengan harga segini, kamu akan mendapatkan sebuah smartphone dengan build quality yang bagus banget menurut saya. Frame-nya metal dan back covernya kaca, benar-benar terasa kayak flagship banget gitu loh, Buat brand yang suka ngaku-ngaku smartphone mid-range mereka, seperti flagship gitu, harusnya kalian malu sama hape ini. Karena tanpa dia klaim dirinya kayak flagship, saya yakin semua orang yang pernah megang hape ini akan berkesimpulan kalo hape ini rasanya mirip banget kayak flagship sob. Ini tuh solid banget sumpah. Hape ini bukan hape sempurna. Secara overall memang oke. Tapi ada beberapa catatan yang harus kalian tahu. Pertama adalah ukura bezelnya yang tergolong tebal. Lalu SoC-nya yang menggunakan Exynos, yang mana kayaknya banyak banget haters dari Exynos ini. Walaupun saya yakin, semua yang benci Exynos belum tentu pernah pakai SoC ini. Lalu dia hadir tanpa kepala charger, tanpa anti-gores bawaan, dan tanpa softcase. Jadi saran saya, kalau kalian beli hape ini, segeralah beli softcase atau anti-goresnya. Mengingat hape ini berat dan licin. Jadi kemungkinan jatuh secara nggak sengaja jadi semakin besar. Pertanyaannya, apakah layak hape ini dihargai 6 juta kurang sedikit? Menurut saya, untuk sebuah smartphone Samsung, sudah pasti sangat layak. Seperti pepatah yang mengatakan, ada harga ada rupa. Jadi kalau kalian punya budget 6 juta, dan pingin punya hape dari brand besar plus ganteng, kayaknya Samsung Galaxy A55 5G ini bisa kalian jadikan pilihan.
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Memulai bisnis laundry sering kali terlihat sebagai ladang uang yang mudah dan menjanjikan, namun realitas di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya. Berangkat...
Pasar perangkat audio nirkabel premium bersiap menghadapi guncangan besar lewat kehadiran lini Soundcore Liberty 5 Pro Series. Di tengah dominasi merek-merek mapan...
Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...
Memilih ponsel kelas menengah terbaru sering kali berujung pada dilema antara performa gaming yang buas atau kenyamanan ekosistem perangkat yang matang. Samsung...
Sistem operasi robot hijau kembali membawa lompatan besar lewat kehadiran Android 17 yang kali ini tidak sekadar bersolek di sektor visual. Google tampak sangat...

















