Jungkat

Bodi Compact, Baterai Awet, Kamera Mirip Flagship: Review OPPO Reno 16 Pro 5G (YouTube Video)

  • 09/07/2026

Ini smartphone dengan desain backover yang sangat unik yang pernah kita review. Oppo Renault 16 Pro 5G. Coba lihat deh back covernya. Ini punya 3D effect desain. Mungkin kalian enggak bisa lihat karena harus lihat pakai dua mata harusnya ya. Tapi ini 3D efek desain yang ngambang kelihatannya. Ada gambar planet yang ngasih efek timbul gitu deh ngambang-ngambang gitu. Keren banget kalau dilihat langsung ya. Bodinya juga kompact dan ringan. Dia punya kamera utama 200 megapel. Kamera juga lengkap ya. Ultra wide ada, tele juga ada. Kerennya lagi kamera depannya ini bisa ultra wide dan bisa zoom out sampai 0,6 kali. Iya betul saya lagi bicara kamera depannya. Fiturfitur EA-nya juga ada dan makin advance saja bikin konten sosmch sampai produktivitas tuh jadi makin satset satatset aja. Dipadukan dengan aksesoris layar Oppo bubble yang satu ini nih bikin pengalaman pakai jadi beda banget dibandingkan smartphone yang lain. Untuk apa yang ditawarkannya? Apakah harganya masih masuk di akal? Ah, simbak aja dulu review kita kali ini. Oke, untuk yang ngikutin perkembangan Oppo mungkin akan sedikit bingung dari sisi penamaannya ya. Dari Reno 14 Pro 5G lalu berubah jadi Reno 15 Pro Max. Tiba-tiba Oppo kembali lagi dengan Oppo Reno 16 Pro 5G. Nah, Oppo Indonesia bilang tidak ada Oppo 16 Pro Max untuk pasar Indonesia. Jadi kasa tertinggi Oppo Reno series saat ini yang ada di Indonesia adalah Reno 16 Pro 5G. Dan melihat dari apa yang ditawarkan positioning-nya OPPO Reno ini semakin bergeser dari yang tadinya berasa kayak Mi Trends gitu ya. Sekarang kemampuannya udah seperti flagship tapi lebih terjangkau aja. Mari kita bahas dari paket penjualannya. Tentunya dalamnya itu ada unit smartphone dan screen protektor yang udah langsung terpasang. Dan kemudian tentunya ada chargernya, ada chargernya. Ada dong chargernya ini pakai 80 watt Superf. Lalu ada kabel USBC, SIM tray ejector, dan ada case transparent serta paket dokumen. Nah, untuk Oppo bubble yang satu ini ya, ini info dari Oppo sih akan dijual terpisah jadi bukan termasuk dalam paket penjualan. Balik lagi ke smartphone yang satu ini. Mari kita bahas desainnya, Kris. Gimana desainnya? Oke, sekarang kita bahas desain bodinya. Desain tuh menjadi daya tarik utama smartphone ini. Agak sulit sebenarnya untuk memberikan efek yang sama hanya lewat kamera. Efek ilusi optik dari 3D design ini harus dilihat pakai mata kita langsung. Dan kami baru pertama kali nih melihat desain smartphone yang punya efek unik seperti ini. Dari segi dimensi juga ada perubahan dibanding pendahulunya. Pendahulunya tuh punya body agak besar ya, sekarang jauh lebih kompact. Tingginya 151,21 mm, lebarnya 72,42 mm, dan tebalnya 8,36 mm. Bobotnya Oppo mengklaim dia di 191 gr. Saat kita timbang langsung ada di 194 gr. Enggak jauh beda lah. Back cover-nya itu dari kaca dan frame-nya pakai aerospace grade aluminium. Untuk pilihan warna ada pop white seperti unit kami yang sekaligus merupakan hero color-nya. Kalau mau yang lebih polos ada warna starlight black. Terkait tahan air dan debu, smartphone ini sudah punya sertifikasi yang lengkap ya. IP66, IP68, IP69, dan IP69K. Ini berarti smartphone ini sudah diuji ketahanannya terhadap debu, cipratan air, ditenggalamkan di kedalaman air tertentu hingga semprotan air bertekanan tinggi. Tapi kami selalu bilang jangan dibawa berenang. IP rating ini hanya untuk situasi yang tidak disengaja. Jangan sengaja diceburkan ke dalam air, apalagi air laut. Jangan. Nah, sekarang kita lihat sisi-sisi bodinya. Sisi kanan ada tombol power dan tombol volume. Di atas ada infrared blaster. Di sisi kiri ada tombol snap key. Dan ini adalah sebuah tombol multifungsi. By default, fungsinya itu untuk memanggil AI main space. Tapi kita bisa ganti ke fungsi-fungsi lainnya. Screenshot misalnya. Di sisi bawah ada SIM trade dual SIM, microfone, USB type C 2.0, dan grill speaker. Speakernya stereo dengan pasangannya yang ada di dalam earpiece. Untuk kualitas audionya menurut kami sini tergolong bagus, suaranya jernih dan sangat lantang. Di volume maksimum sekalipun masih oke suaranya. Untuk smartphone dengan body komact seperti ini, kualitas speakernya melebihi ekspektasi kami. Sekarang kita beralih ke sisi depan. Ini adalah layar 6,32 inci. Ini panelnya pakai AMOLED. Resolusinya 2640 * 1216 pikel. Refresh rate-nya adaptif dari 60 sampai 144 Hz. Terkait brightness, Oppo mengklaim layarnya ini bisa mencapai 1800 nits di mode HBM dan 3.600 nits untuk pick brightness. Saat kita uji untuk penggunaan indoor, brightness maksimalnya bisa mencapai kisaran 600 nits. Kalau untuk simulasi outdoor, tingkat kecerahannya bisa mencapai kisaran 1200 nits. Kita juga uji untuk pick brightness-nya hasilnya bisa sampai kisaran 1900 nits. Memang belum setinggi klaimnya, cuman menurut kami ini udah ok lah untuk penggunaan outdoor sekalipun. Terdapat tiga mode warna yang disediakan, yaitu standar, natural, dan vivit. Di mode standar dan natural, gambut coverage dan gamut volume-nya lebih diarahkan ke 100% sRGB. Kalau di mode Vivit, color gambut coverage dan volumen-nya diarahkan ke 100% DC IP3. Always on display tentunya tersedia di sini dan ini benar-benar always on, bukan cuman 10 detik aja. Terkait bezel sudah tergolong tipis dan simetris hampir di seluruh sisinya. Belum setipis Oppo Find series tapi overall sudah cukup tipis lah menurut kami. Di balik layar ini terdapat optical inisplay fingerprint sensor dan saat dicoba sensor ini bisa membaca sidik jari dengan cepat dan akurat. Beralih ke bagian atas layar terdapat earpiece dan kamera selfie 50 megap. Ini adalah kamera dengan sensor JN berukuran 1/2,75 inci. Bukanya F2.0, ekivalen lensa 18 mm. Saat dia coba memang sudut pandangnya ini lebar ya. Jadi asik nih buat selfie rameai-rame atau wifi. Dia pakai lensa 5P, autofokus, perekaman videonya up to 4K 60 fps. Beralih ke sisi belakang, di sini terdapat modul kamera yang terdiri dari 200 megapel ultra clear main camera. Sensornya pakai isal HP5 berukuran 1/1,56 inci. Bukaannya F1.8, dia pakai lensa 6P. Sudah punya fitur autofokus, dilengkapi dengan optical image stabilizer dan perekaman videonya up to 4K 60 fps. Lalu terdapat kamera ultrawide 50 megapel. Dia pakai sensor Galaxy Core GC50 F6. Bukaannya F2.8, ekivalen lensa 16 mm, FOV-nya 116 derajat. Jadi ultrawide-nya ini memang bukan yang lebar-lebar banget sih. Dia pakai lensa 6P autofokus dan ada kamera satu lagi yaitu kamera telefoto 50 megapel. Sensornya pakai sensor ISOC JN 5 berukuran 1/12,75 inci. Bukanya F2.8 8 dia pakai lensa 4P autofokus sudah dilengkapi dengan optical image stabilizer dan perekamannya juga sampai 4K 60 fps. Jadi bisa dilihat ya semua kameranya bisa merekam video sampai 4K 60 fps. Meskipun ini Renault ini salah satu kemampuan yang sudah tergolong kelas flagship. Untuk fitur ekstra ada banyak. Bisa dilihat aja di menu kameranya ini. Ada fitur prom mode, ada mode popcam untuk custom style foto, ada dual view video 2.0, timelapse, dan lain-lain. Kita masuk ke spesifikasi internalnya. Meskipun ini dimensi 8 series, bukan 9 series, tapi level performanya tetap terhitung kencang. Ya, nanti kita lihat deh pengujian. Untuk RAM-nya 12 GB LPDD R5X, storage-nya itu 256 GB UFS 3.1. Untuk versi resmi Indonesia hanya ada 256 gig ya, versi 512 gig-nya tidak hadir resmi ke Indonesia. Untuk sensor dia lengkap ya, ada akcelerometer, ada light sensor, proximity, magnetometer, jaros scopnya juga sudah hardware, lengkaplah pokoknya. Baterainya 6700 mAh silikon carbon. charging-nya pakai wat superfug. Dan untuk wireless charging sayangnya di sini tidak ada ya, tapi kalau bypass charging bisa. Caranya tinggal ke menu setting baterai lalu kita tinggal aktifkan fitur bypass charging-nya. Menariknya ini berlaku untuk keseluruhan penggunaan ya, tidak terkunci hanya untuk gaming saja. Untuk konektivitas dia sudah 5G, 4G, 3G, 2G tentunya bisa. Untuk ISIM dia juga bisa. Wii-nya WiFi 6e. Bluetooth-nya 5.4. Untuk Bluetooth codex dia udah ada SBC, AAC, aptx, aptx HD, LDAC juga bisa. Untuk NFCD juga ada. USB OTG tersedia buat display out sayangnya masih belum bisa nih versi USBG juga masih USB 2 soalnya mungkin ini jadi salah satu indikator pembeda antara Reno dan fine series terkait fitur keamanan dia sudah punya optical in display fingerprint dan face unlock dari segi OS dia pakai color OS 16 berbasis Android 16 untuk update Oppo menjanjikan lima kali update OS dan 6 tahun untuk security update. Menurut kami color OS16 di smartphone ini sudah memberikan pengalaman penggunaan yang terbilang mulus lancar baik untuk scrolling maupun navigasi. Terkait iklan, kami tidak menjumpai iklan di aplikasi bawaan. Kalaupun ada iklan, itu biasanya berbentuk penawaran dari App Market di panel notifikasi. Dan karena ini notifikasi tentunya bisa dimandikan dengan mudah. Untuk blotware ini masih tergolong sedikit dan sebagian besar bisa di-uninstal dengan mudah. Di Color OS ini juga terdapat berbagai fitur AI yang disematkan. Contohnya seperti AI call summary. Ini bisa bantu merekam dan merangkum percakapan saat telepon. Ada AI call translation. Ini bisa menerjemahkan percakapan bahasa asing secara otomatis. Lalu ada AI voice, kita bisa pakai ini untuk menampilkan real time subtitle ketika sedang video call maupun meeting online. Lalu ada AI recording. Ini bisa dipakai untuk men-transcribe hasil rekaman audio di smartphone. Dari suara kita bisa dapat hasil teksnya juga. Ada juga beberapa fitur lain seperti AI search, AI writer, dan sebagainya. Terdapat pula beragam fitur AI di aplikasi galeri bawaan seperti AI Remix College. Ini fitur baru di galeri bawaan nih. Fungsinya untuk menggabungkan berbagai macam konten dalam satu frame. Bisa dalam bentuk gambar statis, motion foto, bahkan video juga bisa. Kita juga bisa membuat cut out atau kalian mungkin kenalnya sebagai fitur remove background ya. Jadi yang diambil itu cuman bagian orangnya aja. Lalu kita bisa gabung-gabungkan jadi seperti ini. Intinya ini adalah ruang bermain untuk kalian yang kreatif dan ingin konten terlihat beda. Lalu ada fitur AI portrait glow. ini fungsinya tuh bisa membantu memperbaiki foto kalau foto kita tuh misalnya underxpose atau over expose. Ada juga fitur AI motion foto. Fitur ini bakal merekam momen singkat sebelum dan sesudah foto diambil. Ada juga fitur foto pop out. Dengan fitur ini, kita bisa membuat beberapa bagian foto kita di kolase itu menjadi lebih pop out atau lebih stand out. Ada juga fitur motion college. Ini memungkinkan kita untuk membuat foto colge dari foto AI motion yang tadi. Nanti hasilnya bisa dibikin pop out juga seperti ini. Ada juga AI motion slow-moi bikin hasil video motion foto kita jadi slow-mo seperti ini. Dan fitur AI basic seperti yang ada di editor seperti AI Racer, AI Perfect shot, AI unblur itu ada. Nah, ada satu lagi yang menjadi fitur andalan color OS yaitu AI mainace. Singkatnya, ini adalah semacam ruang khusus untuk menyimpan dan mengelola informasi yang muncul di layar kita seperti artikel, foto, dan lain sebagainya. Cara pakainya terbilang mudah. Cukup tekan tombol snapkey di artikel atau foto seperti ini atau cara lain bisa juga swipe tiga jari saat buka app kamera tanpa perlu ambil fotonya. Nanti sistem AI Mindspace bakal mempelajari apa yang ada di layar. Lalu Mindspace bakal memberikan rangkuman dari informasi yang kita ambil. Dan fitur ini juga bisa kita hubungkan ke Gemini. Nah, untuk yang baru kenal sama fitur ini memang sih kita butuh waktu untuk belajar sampai bisa merasakan manfaatnya terutama untuk kehidupan kita sehari-hari. Nah, kita kasih contoh aja deh biar lebih gampang. Kapan sih waktu yang cocok untuk menggunakan fitur ini? Yang pertama, saat lihat poster konser. Nah, misalnya di Instagram kita lihat info konser nih. Kita tinggal swipe 3 jari ke atas. Lalu AI-nya akan menyarankan untuk langsung ditambahkan ke kalender. Perbedaannya ketimbang kita ambil screenshot manual adalah screenshot itu kan masuk ke galeri tapi belum bisa dihubungkan ke aplikasi lain seperti cender. Kalau pakai AI Mindspace ini bisa nyambung langsung ke aplikasi lain juga. Istilah teknisnya AI Cross App Integration lah. Nah, contoh lain misalnya kita mau riset liburan yang berserakan di banyak tab. Kalau kita lagi planning trip, kita bisa simpan nih artikel-artikel dan referensi spot liburan kita ke Mindspace. Caranya bisa tekan tombol snapkey satu kali. ini akan menjalankan fungsi screenshot layar dan screenshot ini akan masuk ke dalam mindspace seperti cara yang tadi ya. Nah, kalau kita sudah mengumpulkan screenshot screenshot ke Myspace, kita bisa minta bantuan Jeminai untuk membuatkan jadwal detail berdasarkan semua konten yang sudah disimpan. Jadi, enggak perlu copy paste manual dari banyak sumber. Lalu, contoh berikutnya adalah menangkap ide spontan. Kita juga bisa menggunakan snapy untuk voice memo nih. Caranya kita tinggal tekan dan tahan tombol snapy. Lalu kita tinggal ucapkan deh ide-ide kita dalam bentuk suara. Nanti file suara ini akan otomatis disimpan ke dalam Mindpace. sudah support bahasa Indonesia juga. Jadi kita tinggal ngomong biasa aja. Misalnya aku ada ide nih. Tahun depan kan aku ada liburan ke Jepang. Aku mau bikin konten bedanya Yoshinoya Indonesia sama Jepang asik kali ya. Nah dari file suara ini AI Mind Space dalam tanda kutip akan mengingat ide yang kita rekam tadi. Saat kita mau bikin jadwal liburan ke Jepang, AI Mindspace akan memunculkan file suara ini sebagai reminder. Waktu itu kamu bilang pengen bikin konten kayak begini nih. Nah, ini bikin ide di kepala kita enggak mudah hilang begitu aja. Lalu contoh penggunaan AI Mindspace yang lainnya yaitu melacak pengeluaran dari stroke. Setelah melakukan pembayaran, kita bisa aktifkan Mind Space lewat snapkey atau threefinger swipe untuk capture stroke di layar. Nanti AI build manager akan otomatis mengekstrak dan mencatat detail pengeluaran. Tidak cuma mengkonversi dari gambar menjadi teks, tapi dari hasil laporan ini kita jadi bisa menget. Contoh lainnya misalnya kalau screenshot kita sudah numpuk di galeri nih yang hasil dari screenshot manual kita, kita juga bisa kasih akses Mindpace untuk melihat isi galeri kita. Mindspace bisa mengekstrak lokasi waktu dan tanggal dari media yang disimpan lalu mengarahkan kita untuk menambahkan event ke kalender. Ini bisa berguna kalau kita misalnya sering screenshot resep rencana perjalanan, produk inceran, atau informasi event. Itu tadi fitur Mindepsace ya. Ada satu lagi nih fitur yang berguna untuk pengguna produk Apple yaitu Olus Connect. Dengan fitur ini, smartphone kita bisa terhubung ke ekosistem Apple meskipun beda OS. Caranya cukup instal aplikasi OP Connect di PC, Windows, iPhone, iPad, maupun Mac. Setelah itu, smartphone sudah bisa terhubung dan berbagi file dengan lebih mudah. Apakah fitur quick share dengan airdrop sudah berfungsi di sini? Sayangnya saat kami coba itu belum bisa ya. Smartphone ini belum bisa terdeteksi di MacBook maupun iPhone yang kami gunakan. Yang baru bisa itu kalau di brand Oppo baru tipe Oppo Find X9 series saja ya. Mungkin menyusul kali ya, pelan-pelan. Nah, ngomongin Oppo Reno ini enggak lengkap kalau kita enggak bahas Oppo bubble yang satu ini. Jujur aja banyak banget dari kalian yang malah lebih fokus ke layar kecil ini. Lucu sih memang. Kita bahas spesifikasinya dulu ya. Untuk layar ukurannya adalah 1,73 inci. Dia pakai panel AMOLED, brightness maksimum bisa sampai kisaran 600 nitz. Ini luar biasa ya untuk layar sekecil ini. Baterainya 550 mAh. Charging via USBC. Saat kami test charging, inputnya masuk itu bisa sekitar 1,6 wat. Untuk konektivitas dia pakai Bluetooth dan juga Wi-Fi untuk casting-nya. Untuk proses pairing-nya gampang banget, tinggal nyalain Oppo buble-nya. Caranya tekan dan tahan tombol power-nya. Nanti dari sisi smartphone-nya langsung muncul pop up window untuk pairing. Untuk saat ini baru bisa pairing ke Oppo Reno 16 series, Oppo Find XS, dan Oppo Find X9 Ultra. Beberapa spapan Oppo yang lain kami coba sih belum bisa ya. Smartphone di luar Oppo juga sudah kami coba dan belum bisa dihubungkan. Soalnya kalau kami lihat ya untuk pakai layar ini tuh butuh aplikasi khusus namanya Oppo Bubble juga. Dari app ini kita bisa atur mau nampilin apa di layarnya. Mau nampilin husbando atau wifi kesayangan bisa banget. Mau nampilin wajah idol-idol K-pop kalian bisa juga. Biasanya kan pada pakai foto card di belakang HP gitu kan. Nah, kalau pakai ini jadi lebih canggih nih fotonya bisa kita ganti-ganti. Buat content creator juga asik kita juga bisa ngonten pakai setup kamera belakang seperti ini. Asyiknya lagi kita bisa pindah kamera langsung dari sini. Mau ke ultrawide bisa, mau ke telefoto juga bisa. Resolusi videonya juga bisa sampai 4K 60 fps. Hebatnya lagi, viewfinder-nya juga punya delay yang tergolong minim. Keren banget ya. Satu ini yang enggak kalah keren lagi. Mau kita orientasi vertikal maupun horizontal itu enggak ada masalah di sini ya. Jadi, software-nya tuh bekerja dengan sangat baik ya. Mungkin ini asyiknya kalau ekosistemnya dibuat sama satu brand yang sama ya. Dari segi penggunaan kita bisa gunakan dari jarak jauh seperti ini atau kalau mau ditempel juga bisa. Tapi memang kalau mau ditempel cash HP kita tuh harus ada ring magnetnya dulu sih. Untungnya ini disediakan dalam paket penjualan. Dalam paket penjualannya juga akan disertakan case dan keychain yang tampilannya seperti ini. Nah, banyak banget dari kalian yang tanya apakah akan bisa digunakan untuk smartphone di luar Oppo. Kabarnya dalam waktu dekat Oppo Bubble ini juga akan kompatibel dengan perangkat Oppo dan non Oppo lainnya. Termasuk untuk iOS juga. Kita tunggu aja ya. Ya, semoga Oppo bisa gercep lah ya. Kalau enggak marketnya takutnya dimakan sama produsen yang lain. Oke, sekarang kita bahas performanya. Kita uji benchmark dulu. Untuk mendapatkan performa maksimal, kita bisa mengaktifkan opsi high performance mode pada menu setting baterai. Kita masukkan AnTutu 11, Corya-nya di 2,2 jutaan. Gech 6 single core di 1575, multiore-nya di 6.330. 3D Marklin Shot Extreme Unlimited graphis core-nya di 23.319. Untuk 3D Mark Solar Bay kita dapat 27 FPS. 3D Mark white life stress test tanpa kipas. Best score-nya di 11.006, lowest score di 5.395, stability-nya di 49%. Tanpa kipas terlihat kalau terjadi penurunan di run ke-17. Ini artinya smartphonenya ngerem karena panas dan tidak memaksa sampai di overheat. Kemudian kita juga coba 3D Mark white left stress test pakai kipas sekarang. Best score-nya di 11.009, lowest core-nya di 10.974. Stability-nya langsung jadi 99,7%. Langsung beres nih kalau pakai kipas. Sekarang kita masuk pengujian gaming. Biar performanya maksimal, kita aktifkan dulu fitur high performance mode di menu setting baterai. Lalu kita juga aktifkan pro gamer mode di overlay game tools. Kita mulai dari SA server. Saat awal kita coba frame rate game-nya tuh nyangkut di 60 fps. Ini terjadi karena refresh rate layarnya tuh nyangkut di 60 Hz. Solusinya kita atur dulu refresh rate game ini ke 144 Hz. Caranya gampang. Setel refresh rate ke highke, lalu akan muncul menu list aplikasi untuk pengaturan refresh rate per aplikasi. Dari sini pilih Subway server jadi 120 Hz. Setelah itu baru kita bisa nikmati game ini dengan frame rate 120 FPS. Untuk Mobile Legends, kita coba setting mentok kanan dengan frame rate ultra. Saat dicoba, game bisa jalan mulus lancar di 144 FPS, baik saat jalan-jalan maupun ketika battle. Intinya buat push rank udah matang banget lah. Lanjut ke PUBG Mobile. Di setting graphic smooth, opsi frame rate yang terbuka tuh bisa sampai ultra ekstrem atau 120 fps. Saat kita coba frame rate bisa dipertahankan di atas 100 fps. Sesekali bisa turun sih, sedikit ke 90-an FPS, tapi overall gameplay-nya masih tergolong sangat nyaman. Buat GOing juga aman, mulus, lancar nih, enggak ada masalah. Lanjut ke Genin Impact. Kita coba mainkan di setting highest 60. Kita coba tanpa kipas. Frame rate yang didapatkan mulus lancar di 60 fps dan ini bisa dipertahankan selama 30 menit dimainkan. Setelah 30 menit dimainkan, suhu tertinggi di body depan cuma di 36 derajat Celcius, tepatnya di sisi atas layar. Untuk area lainnya ada di kisaran 34 derajat. Dari sini kita juga bisa lihat kalau penyebaran suhunya tergolong baik. Sedangkan di sisi belakang titik terpanas ada di dekat modul kamera dengan suhu tertinggi di 38 derajat celcius. buat area lainnya ada di kisaran 35 derajat celcius. Ini sih masih adem lah hitungannya belum panas. Dengan performa seperti ini rankingnya langsung S plus. Berikutnya kita coba wooding waves. Setting grafik kita atur ke rata kanan. Frame rate kita setel di 60. Saat kita coba jalan-jalan di menit awal frame rate yang didapat cukup fluktuatif di kisaran 40 sampai 60 fps. Setelah 5 menit dimainkan, frame rate mulai dilimit di 45 fps. Ini konsisten terjadi. Bahkan di versi 15 Pro Max kemarin hasilnya juga mirip kok. Sepertinya ini demi menjaga suhu supaya tidak terlalu panas ya. Dan sepertinya ini juga ada andil dari Oppo. Jadi ketika Oppo membaca game ini jalan di SOC ini performanya di limit segini aja ya. Menurut kami sih bukan masalah juga ya karena game tetap terhitung nyaman dimainkan. Untuk suhu juga masih aman. Titik terpanas ada di sekitar 40 derajat celcius untuk layar maupun sisi belakang. Oke tadi itu gaming-nya. Sekarang kita masuk ke pengujian kamera. Di tangan saya kali ini sudah ada Oppo Reno 16 Pro 5G. Jadi langsung aja kita lihat kameranya seperti apa. Yang pertama-tama kita mau cari tahu adalah kemampuan mikrofonnya. Eh, yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya belum pakai mikrofon eksternal di sini. Jadi, untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Gimana menurut kalian? Udah cukup bagus belum? Kalau menurut saya pribadi ini udah flashship level lah. Suara vokal saya jernih banget. Suara noise juga lumayan teredam di sekitar. Walaupun enggak teredam-teredam banget sih. Cuman untuk vlogging tanpa mikrofon exernal saya PD pakai smartphone ini. Tapi tentunya untuk kualitas mikrofon yang maksimal saya tetap menyarankan pakai mikrofon. Dan untungnya saat kita coba pakai mikrofon eksternal seperti ini, suaranya bisa masuk dengan baik. Cuman memang PR-nya Oppo adalah dia belum kasih indikator mikrofon nih. Jadi kita belum ada tanda atau indikator yang menyatakan inputnya nanti dari mana. Kalau misalnya ada indikator enak ya. Jadi kita lebih yakin gitu pas ngonten. Dan mikrofon exal gini juga bisa kepakai kalau jarak kita dengan smartphonenya tuh jauh. Contohnya tuh seperti ini. Ini jaraknya jauh nih. Dan kalau kayak begini pakai mikrofon bawahnya enggak cukup. kita pakai e mesti pakai mikrofon seperti ini. Sekarang kita lanjut bahas kamera depannya. Kita coba di 4K 60 fps. Kualitas gambarnya tuh beres. Detailnya mantap. Warna cenderung mendekati aslinya. Kontras ketajaman juga sudah oke. Enggak ada komplain lah kalau di kondisi cahaya ideal. Terkait dynamic range, sayangnya masih belum konsisten ya. Kalau di 4K 30 fps hasilnya sih oke. Sisi gelap terang dapat dieksekpos dengan baik. Saat dicoba di 4K 60 fps. Sayangnya nih bagian highlight-nya jadi over expo. Sekarang dari segi stabilizer di 4K 30 fps stabilizernya bagus. Videonya juga rapi. Kita juga coba di 4K 60 fps, tapi kalau diperhatikan videonya tuh cukup stabil. Tapi memang stabilizernya belum sebaik di 4K30. Sekarang kita lanjut ke kamera utamanya. Kualitas gambarnya sih beres ya. Detailnya luar biasa ya. Harus dong ya namanya juga kamera utama. Dynamic r juga aman enggak ada masalah meski di 4K 60 fps sekalipun. Stabilizernya juga aman, videonya stabil dan juga rapi videonya. Pasti banyak yang protes nih. Kok belum bisa 8K? Kok belum bisa 4K 120? Ya, indis ekonomi kayaknya masih ya udah enggak sih? atau kalian wajib banget punya dua fitur ini. Kita lanjut dulu ke kamera ultrawide-nya. Dari segi kualitas gambar, sekedar oke aja menurut kami. Kita tidak bisa bandingkan dengan kamera utamanya karena beda kelas sensor yang dipakai. Meskipun ini 50 megapel, tapi kalau konteksnya video itu beda cerita ya. Ukuran sensor dan kualitas sensornya sendiri itu sangat berpengaruh. Dan juga kami menemukan ada sedikit pergeseran warna kalau kita bandingkan dengan kamera utamanya. Ultra wide-nya ini agak sedikit kemerahan dan untuk standar ultra wide masa kini sudut pandangnya tuh bukan yang lebar-lebar banget. Terkait dari mic range aman di 4K 60 fps sisi gelap terang dapat txpos dengan baik. Dari segi stabilizer juga sudah oke. Di bawah jalan kayak begini videonya mulus dan rapi. Di 4K 60 fps sekalipun juga bisa. Oke, kita lanjut ke kamera tele 3,5 kalinya. Di 4K 60 fps kualitas gambarnya mantap, detailnya tinggi, skin tone dan overall warnanya juga aman. Buke naturalnya ini juga lumayan terasa ya. Dari micrestage juga oke, sisi gelap terang dapat diekspos dengan baik juga. Untuk stabilizer juga sudah lumayan stabil, tapi memang kita belum bisa berharap bisa selevel sama kamera utama atau ultrawide-nya. Di kamera telefoto itu masih wajar kalau ada jater-jiter sedikit kayak begini. Sekarang kita bahas pengalaman multi kameranya. Dari segi animasinya aja bisa kami bilang ini tergolong smooth banget. Pindah kamera seperti ini efektifnya di 4K 60 fps dan asyiknya kita juga bisa pindah langsung ke kamera selfie-nya. Nice. Saat proses perpindahan lensanya sebetulnya masih ada sedikit jedak ya, terutama kalau ada objek di jarak dekat kamera. Cukup terasa saat pindah dari kamera ultrawide ke kamera utama atau dari kamera utama ke tele 3,5 kalinya. Tapi kalau kita lagi di area outdoor yang lebih luas, perpindahan kamera itu sudah sangat aman dari ultrawide sampai telennya smooth rasanya. Nah, kita juga akhir-akhir ini menambahin tes audio saat pindah kamera. Nah, ini tuh untuk ngecek apakah ada audio yang putus atau tidak saat lagi pindah-pindah kamera. Saya bakal ngitung dari angka 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 21 29 30 32 33 [musik] 34. Oke, sekarang kita masuk ke kondisi low light. Kita mulai dari kamera depannya. Di 4K 30 FPS masih oke ya. detailnya masih terjaga, gambar masih terang dan bersih dari noise. Dari segi frame rate juga aman tetap di 30 fps. Di 4K 60 fps lumayan beda jauh ya dibandingkan dengan 30 fps tadi. Gambarnya jadi soft kayak ada efek kabut gitu, tapi bukan yang sampai burik parah juga sih. Masih bisa dipakai lah ini. Dari segi frame rate juga aman. Untungnya tetap jalan di 60 fps. Kita tes dulu stabilizernya. Di 30 fps gaternya ada sih, tapi masih tergolong normal. Kebatu juga sama overall gambarnya yang memang bagus. di 4K 60 fps, jaternya nyaris tidak terasa lebih rapi videonya meskipun level kestabilannya menurun sedikit ya masih okelah overall. Kita lanjut ke kamera utamanya. Kalau kamera utamanya sih oke banget lah ya. Video di kondisi low light seperti ini tetap bagus hasilnya. Bersih dari noise, detailnya terjaga dan 60 fps juga bukan masalah. Dari segi stabilizer, kita coba di 30 fps dan kami melihat masih ada sedikit jatiter di sini. Kalau mau stabilizernya lebih rapi, tinggal setel aja di 60 fps. Kelihatan kan bedanya? Kita lanjut ke kamera ultrawide. Gambarnya sih masih oke, kualitasnya. Detail masih dapat dengan overall gambar yang masih terang. Noise mulai kelihatan tapi gak sampai merusak gambar sih. Sayangnya kalau di 60 fps videonya sudah terlalu gelap dan terjadi pergeseran warna. Di sini overall gambar jadi kehijauan ya, noise juga jadi lebih terlihat. Saran kami pakai 30 fps saja. Kalau yang diincer memang kualitas gambar yang lebih oke di kondisi seperti ini. Stabilizer kalau di 30 fps overall videonya sudah cukup rapi. Jaternya ada tapi masih di level yang wajar. Kita juga coba di 4K 60 fps. Memang sih lebih rapi dari cheater, tapi overall gambarnya udah kurang oke ya. Sekarang kita lanjut ke kamera tele 3,5 kalinya. Kualitas gambar masih terang dengan warna yang masih terjaga. Detail tergolong mencukupi aja. Kalau ngomongin noise agak tricky nih. Kalau kamera atau objeknya enggak banyak gerak itu aman. Tapi kalau objek bergerak atau kameranya bergerak mulai muncul noise serta artefak pada videonya. Saat dicoba di 4K 60 fps, gambar jadi lebih gelap dan soft. Detailnya jauh kalau dibandingkan dengan 30 fps ya. Pastikan jangan terlalu gelap kalau butuh perekaman 60 fps. Dari segi stabilizer, menurut kami ini masih belum oke. Jadi sebaiknya jangan dibawa jalan lah ketika kita pakai kamera telinnya. Sekarang kita lihat autofokusnya. Kita coba di semua kameranya. Langsung aja di kondisi low light. Kamera utamanya aman ya, fokusnya lancar. Kamera ultrawide mm agak lambat ya, tapi masih bisa fokus ke objeknya untungnya. Untuk kamera telenya gimana? Aman sih, tapi memang bukan yang cepat-cepat banget. Untuk kamera selfie-nya surprisingly malah cepat autofokusnya. Kalau untuk fotografi, kita gak nemu masalah yang aneh-aneh. Semua kameranya dapat diandalkan lah. Pengalaman point and shoot-nya oke, simpel. Processingnya juga jarang ada yang gagal. Potret mod-nya juga rapi. Bokenya enggak banyaklah yang bisa diprotes. Paling ultrawide-nya aja sih yang kurang lebar. Itu aja. Sisanya ya memang oke. Sangat bisa bersaing dengan flagship yang ada di kelasnya. Walaupun ini Reno judulnya. [musik] Sekarang kita bahas fitur ekstranya. Yang pertama itu ada fitur yang namanya popcam. Ini kalau di fine series agak mirip sih dengan master mode ya. Kita dikasih berbagai opsi filter yang menarik. Makin ke sini trend foto di sosurem tuh malah balik ke vif vi jadul gitu enggak sih? Nah, kalau mau hasil fotonya gak boring dan ngasih style-style vintage kayak gitu, cobain deh explore fitur yang ini. Ada yang bisa ngasih kesan vintage, ada yang warnanya nyeni, macam-macam lah. Lalu ada fitur dual view video 2.0. Fitur ini bikin kita bisa merekam dari dua kamera sekaligus. Kamera depan dan kamera belakang. Untuk kamera belakangnya kita juga bisa pilih mau kamera ultrawide, kamera utama, atau kamera telinnya. Itu juga bisa. Yang menarik di sini pengaturannya lebih lengkap ya. Ada exposure value dan kita bisa pasang filter juga. Wah, ini Define X9 series aja belum bisa loh kayak begini. Untuk fitur slow motion-nya juga ada. Kita bisa rekam di 1080p 120 fps dan hasilnya kurang lebih seperti ini ya. Lumayan oke. Tapi memang kita belum bisa pakai kamera ultrawide dan tel-nya. Baru bisa untuk kamera utamanya aja. Dia juga ada opsi 480 fps cuman ini interpolasi ya. Jadi hasilnya mungkin enggak senatural saat kita pakai 120 fps. Kemudian ada fitur promote untuk video. Akhirnya ya enggak digate keep lagi nih. Dulu tuh cuman ada di Fine series doang. Sekarang di Renault juga kebagian. Cakep. Oke, sekarang kita bahas apa yang masih kurang atau perlu diperbaiki dari kameranya. Yang pertama itu dynamic range, kamera selfie untuk video 60 fps. Itu belum optimal di sini. Lalu ultrawide-nya kurang lebar dan kualitasnya masih kurang oke untuk video. Kemungkinan besar memang limitasi dari sensornya juga. Lalu ultrawide dan tel-nya kurang optimal spesifik di 60 fps di kondisi low light. Kemudian belum ada indikator untuk mikrofon eksternal. Kemudian autofokus agak lambat untuk kamera ultrawide dan tel-nya. Sejauh ini itu aja sih yang bisa saya protes. Semoga bisa ditingkatkan lewat software update. Dari segi kelebihan yang pertama itu dia bisa 4K 60 fps di sebuah kamera. Meskipun ini Renault ya, tapi kemampuan ini yang bikin pengalaman pakainya sudah mirip flex. Lalu kualitas fotografinya cakep untuk semua kameranya. Fitur-fitur ekstranya menyenangkan. Dual view video 2.0 tergolong menarik sih menurut saya. Kemampuan videonya juga tergolong bagus. Meskipun ada sedikit SKB tapi overall videonya kemampuannya sudah tergolong mumpuni. Lalu dia juga punya fitur Pro video dan semua kameranya autofokus. Kalau kita menilai smartphone ini dengan standar new normal alias dengan kacamata krisis teknologi yang terjadi, bisa saya bilang kemampuan kameranya masih sesuai dengan harga yang ditawarkan. Memang Find X series kameranya punya cita rasa flagship yang konsisten, tapi jika Find X9 series sudah naik harganya atau sudah tidak ada di pasaran, ini tetap jadi opsi yang menarik kalau kita mencari smartphone dengan kamera yang bagus. Sekarang kita uji baterainya. Baterainya kan 6700 mAh. Kita coba dengan YouTube offline video playback 1080p non HDR. Baterainya baru habis setelah 29 jam 23 menit. Ini tergolong awet untuk smartphone dengan body ke compact ini. YouTube streaming 1 jam, baterai berkurang 5%. TikTok 1 jam baterai berkurang 6%. Gensin Impact 30 menit high 60 baterainya berkurang cuma 11%. Baik untuk kerja ringan maupun berat kemampuan baterainya termasuk sesuai harapan kami untuk kapasitas baterainya. Sekarang kita tes charging-nya. Pakai charger bawaan. Mengisi sampai 50% itu butuh 28 menit. Mengisi sampai 100% butuh 59 menit. Kalau kita mau hitung 30 menit pertama, baterainya bisa terisi 53%. Ini tergolong standar untuk charger 80 watt. Kita masuk pengujian lain-lain. Yang pertama itu Netflix, WiFindus dan L1. Bisa streaming sampai resolusi full HD, serta support HDR10 Plus dan F1. Untuk streaming YouTube, streamingnya itu bisa sampai 4K 60 FPS dan support HDR juga. Untuk happy feedback ini sudah kelas flagship, getarannya empuk, pendek, presisi, dipakai ngetik cepat juga sudah nyaman. Untuk Wii sharing tersedia, cukup aktifkan menu personal hotspot saat smartphone kita terhubung ke jaringan Wii. Untuk harga RAM 12 GB storage 256 GB, harganya itu di Rp14.999.000. Hal yang perlu diperhatikan, iya. Yang pertama, harganya sudah bentrok sama Oppo Fine X9 series. Pasti kalian bingung kan, kok bisa Oppo Reno yang positioning-nya di bawah fine, harganya sekarang sudah jadi setara. Ini harusnya setara dengan Oppo Find X9s. Kecuali habis video ini dibuat Oppo Find XS naik harganya. Enggak tahu ya, cuman harga SRP ini sama ya. Selamat datang di 2026. Jika kalian masih bisa beli fine series dengan harga normal ya silakan aja sih. Bagaimanapun Fine X series itu flagship sejati. kelasnya tetap beda. Tapi perbedaan itu jujur aja makin ke sini makin tipis. Malah di OPPO Reno 16 Pro 5G ini dikasih kamera utamanya 200 megapel lebih gede malah kamera utamanya. Jadi memang Oppo Reno ini kemampuannya sudah nyerempet flagship tapi kalau Find X9 series sudah habis di pasaran atau harganya naik jauh atau misalnya kalian memang cari smartphone yang bodinya kompact, Oppo Reno 16 Pro 5G ini sama sekali bukan pilihan yang buruk. Ini tetap sebuah smartphone yang layak dipakai dan punya daya tarik tersendiri. Chipset Dimensity 8550-nya juga tetap bisa kasih performa yang kencang untuk mayoritas orang. Game-game kekinian pun juga bisa jalan lancar kok. Yang bikin Oppo Rino ini agak kurang flagship cuman karena fitur-fitur spesifik yang belum tentu semua orang pakai. Contoh, USBC-nya masih versi 2, lalu dia enggak punya wireless charging dan fingerprint-nya belum ultrasonic. Tapi sisanya kayaknya kalau disebut flagship masih pantes deh. Dari segi poin menariknya yang pertama itu bodinya kompact dan ringan. Ini bahkan lebih ringan dan kompact dibanding Oppo Find X9S. Desainnya keren, premium, dan unik berkat 3D efek desainnya. Pengalaman pakainya sudah sekelas flagship. Layarnya pakai AMOLED dengan beel yang udah simetris. Semua kameranya autofokus. Semua kamera bisa merekam 4K60. Punya kamera selfie ultra wide, baterainya awet. Bisa terhubung ke perangkat Apple, fitur AI berlimpah. Ada infrared blaster, punya IP rating lengkap, paket penjualan lengkap. OS langsung start dari Android 16. Update OS-nya juga panjang 5+ 6. Kemudian ngomongin layanan sales, kayaknya Oppo tuh service centernya masih yang jadi paling wangi gak sih saat ini. Oke, dari segi kesimpulan smartphone ini cocoknya buat siapa? Yang pertama itu untuk yang cari smartphone premium sekelas flagship tapi kompact. Nah, itu cocok nih. Seperti yang saya bilang tadi, ini bahkan lebih kompact dari Oppo Find X9s. Dari keseluruhan aspek, menurut kami ini sudah layak kalau namanya itu bukan Oppo Reno, tapi Oppo Find X9 Lite atau FE gitu. Kami gak protes. L. Lalu bodinya kompact, baterai awet, charging cukup kencang, kamera bagus, layar oke. Ini kombinasi yang belum banyak ada di Indonesia. Kalau faktor utamanya adalah kompact yang dicari. Ini cocok untuk berbagai kalangan karena kemampuan lainnya sudah tergolok allrounder. Sama satu lagi nih, ini cocok untuk yang ngincer Oppo bubel-nya juga. Untuk saat ini baru optimal jalan di smartphone ini dan Oppo Find X9 series. Oke, jadi itu ya tadi review-nya Oppo Reno 16 Pro 5G. Kami tahu kenaikan harga ini terasa berat untuk semua pihak ya. Tapi mau kalian kesal seperti apapun tidak akan bikin harga RAM dan storage jadi turun. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengatur ulang ekspektasi kita dengan standar pasar yang baru. Dengan standar harga pasar yang baru, kami masih bisa bilang dengan yakin bahwa Oppo Reno 16 Pro 5G ini masih pantas untuk dilirik. Apalagi jika dipadukan dengan Oppo bubble-nya yang inovatif.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Oppo

Oppo menghadirkan smartphone, tablet, earbuds, dan perangkat pintar dengan teknologi inovatif dan desain modern untuk hidup lebih mudah. Oppo dikenal dengan kamera canggih, fast charging cepat, dan performa andal untuk produktivitas serta hiburan digital.