Dari Project Gagal, Jadi Lambang Inovasi SAMSUNG (YouTube Video)
Kalau saya suruh kalian nyebutin HP Samsung yang paling ambisius, mungkin jawaban kalian bukan Samsung Galaxy S ataupun Samsung Galaxy Note. Tapi Samsung Galaxy Fold. Karena lewat Samsung Galaxy Fold, Samsung ini enggak cuma bikin HP yang kameranya lebih banyak, performanya lebih kencang, atau layarnya lebih terang. Tapi Samsung nyoba untuk bikin HP yang selama berpuluh-puluh tahun kita kenal menjadi HP yang bisa jadi buku. Masalahnya sebenarnya sederhana. Kita itu pengen layar yang makin gede karena HP sekarang kan bukan cuma buat nelpon, tapi juga nonton, baca, kerja, main game sampai buka beberapa aplikasi sekaligus. Tapi ada satu part yang enggak ikut membesar. [berdehem] Apa itu? Kantong celana. Dan dari masalah itulah muncul sebuah ide. Gimana kalau misalkan ada sebuah layar gede, tapi bisa disakuin di celana. Hari ini setelah tujuh generasi, Samsung Galaxy Fold sekarang sudah terlihat lebih ringan, lebih tipis, dan lebih normal. Tapi sebenarnya perjalanan menuju inovasi itu enggak dilakuin secepat kayak kita bikin kopdes karena belum [musik] setahun aja sudah 1.000 kopdes lebih. Samsung butuh bertahun-tahun penelitian, ribuan percobaan, dan malu dirilis awalnya karena Fold 1 sempat di-recall, dan banyak engineer yang terus memperbaiki satu masalah ke masalah lainnya. Dan di 22 Juli nanti, Samsung bakalan masuk ke babak kedelapannya. Jadi sebelum kita lihat apa yang bakalan mereka bawa di babak kedelapannya, coba kita ingat-ingat dulu gimana Samsung berhasil bikin sebuah HP yang dulu awalnya cuma kayak bisa imajinasi dari film Sci-Fi. Jauh sebelum si Samsung Galaxy Fold ini lahir, sebenarnya Samsung sudah nyoba untuk bikin HP yang layarnya gede di Samsung Galaxy Note. Pada masanya, Samsung Galaxy Note dianggap terlalu gede layarnya padahal 5,3 inci dan banyak orang yang nyebutnya aneh. Tapi Samsung melihat sesuatu opportunity ketika orang makai HP bukan sekedar untuk nelpon, tapi semua kehidupan digital kita itu ada di HP mulai dari swipe Tinder, bimbel, kerja, crypto, saham, semuanya di situ. Dan Samsung benar, ukuran layar smartphone terus membesar, batas antara HP dan tablet jadi mulai kabur. Tapi masalahnya tablet itu emang enak buat kerja tapi enggak enak untuk digenggam, apalagi kalau misal ditaruh di saku celana. Di sinilah muncul ide untuk bikin si Samsung Galaxy Fold. Suk-chung yang saat peluncuran Fold menjabat sebagai salah satu pimpinan software dan AI Samsung Mobile menjelaskan bahwa idenya adalah menyatukan portabilitas smartphone dengan pengalaman layar gede kayak tablet. Satu perangkat dua manfaat. Saat ditutup dia jadi HP, saat dibuka jadi tablet. Kayak simpel banget tapi sebenarnya untuk bikin kayak gini itu di belakang layarnya kompleks. Samsung harus memikirkan ulang seluruh bagian dari smartphone. Perjalanan Samsung Galaxy Fold sebenarnya sudah dimulai sebelum nama Samsung Galaxy Fold ini ditemukan. Jadi Samsung itu bikin prototype awal-awal di tahun 2011, terus di CES 2013 Samsung memperkenalkan teknologi layar fleksibel bernama Youm. Waktu itu layarnya belum bisa dilipat kayak sekarang tapi seenggaknya panel OLED itu bukan yang kaku dan harus lurus. Teknologi itu berkembang lewat layar yang curve terus sampai akhirnya Samsung memperlihatkan Infinity Flex Display di konferensi developer di tahun 2018 dan untuk pertama kalinya konsep HP Samsung yang bisa dibuka jadi tablet terlihat bisa diproduksi walaupun saat itu masih konsep. Tapi ternyata untuk bikin HP yang bisa dilipat, wah engineering-nya kompleks banget. Samsung harus buat lapisan pelindung yang bisa ditekuk, lem yang awet, struktur body yang enggak mudah berubah, sistem engsel yang presisi, serta software yang memahami kapan perangkat itu dibuka dan kapan perangkat itu ditutup. Tim desain Samsung bahkan membuat lebih dari 1.000 prototype dan mock up dengan berbagai bentuk dan material. Mereka mempelajari benda yang sudah biasa dibuka-tutup manusia. Pilihannya ada buku, dompet, dan juga notebook dan sampai akhirnya engineering milih sesuatu yang biasa kita kenal sejak zaman Nabi lah ya, buka-tutup buku. Di 2000, Februari 2019, Samsung akhirnya memperkenalkan Fold pertamanya, Samsung Galaxy Fold 1. Saat ditutup ada layar 4,6 inch di bagian depan, saat dibuka muncul layar utama 7,3 inch. Samsung juga membawa App Continuity, aplikasi yang dibuka di layar depan bisa langsung lanjut ke layar main screen pas dibuka. Di layar mainnya atau layar dalamnya kita bisa buka aplikasi sampai 3 sekaligus. Sekarang fitur itu mungkin terdengar biasa di telinga kita, tapi di zamannya melihat sebuah HP yang kayak buku bisa dibuka jadi tablet itu kayak wow banget karena belum ada brand lain yang berhasil mass production HP lipat. Harganya waktu itu 30 jutaan dan banyak yang ngehujat, "Enggak mungkin laku lah, gila mahal banget." Bodinya pun tebal, bobotnya 276 gram, terus layar depannya itu sempit dan bagian dalamnya punya notch yang gede. Tapi semua kekurangan itu sebenarnya orang dulu itu enggak peduli karena fokusnya waktu itu cuma wow Samsung bisa bikin HP lipat yang enggak cuma prototype tapi bisa di mass produce dan dijual komersil. Tapi hanya beberapa saat penjualan itu dimulai, masalah muncul. Sejumlah unit review layarnya rusak dan kalau kalian ingat dulu Samsung Fold pertama itu ada reviewer yang mengira itu adalah screen guard terus dikelentek mungkin tangannya gatal ya dan akhirnya rusak unitnya. Samsung akhirnya menunda peluncurannya, tapi ada tim Samsung yang namanya DJ Koh yang saat itu memimpin bisnis mobile Samsung mengakui bahwa perangkat tersebut belum siap launching. Langkah yang sebenarnya jarang banget diambil brand, yaitu mengakui kesalahannya dan unitnya banyak yang ditarik. Jarang brand yang berani kayak gitu. Bayangkan ya lebih dari 1 dekade penelitian, lebih dari 1000 penelitian, 1000 mock up, trial and error, launching, akhirnya barangnya rusak ditarik, wah malunya kayak gimana dan putus asanya kayak gimana. Tapi justru di sinilah cerita di balik Fold ini jadi menarik karena mereka enggak ngebuang idenya, mereka semua balik lagi ke meja desain dan mereka enggak nyerah bikin Samsung Fold sampai sekarang Samsung Galaxy Fold ke 8 nanti. Jadi waktu itu lapisan screen protector yang kelihatan itu langsung ditarik sampai ke dalam jadi biar orang itu enggak kelihatan kalau itu adalah screen protector, terus strukturnya diperkuat, layarnya pun juga diperkuat dan beberapa bulan kemudian Galaxy Fold akhirnya dijual. Generasi pertama memang belum sempurna ya, tapi Fold pertama berhasil melalui masa-masa sulit dari sebuah inovasi, bukan cuma buat benda prototype tapi membuktikan kalau kegagalan pertamanya bukan jadi sebuah akhir. Galaxy Fold pertama itu pembuktian Samsung kalau HP-nya itu bukan prototype dan bisa dijual massive, komersial dan di Samsung Galaxy Fold 2 pembuktiannya berubah. Fold harus bisa dipakai dengan nyaman. Samsung memperbesar layar depannya dari 4,6 inch jadi 6,2 inch. Ini perubahan yang kayak simple aja gedein layar depan aja deh, tapi sebenarnya di balik itu enggak sesimple itu. Notch besar di layar dalam juga diganti dengan punch hole yang jauh lebih kecil. Samsung memperkenalkan hideaway hinge dan juga flex mode flex mode yang kita kenal sampai sekarang di mana kalau kita mau video call bisa enggak usah tripod, kita bisa pakai ini nonton di pesawat dengan mode clamshell seperti ini. Jadi Fold pertama mengajarkan Samsung cara ngebuat layar lipat, Fold kedua mengajarkan mereka bahwa engsel bukan cuma buka tutup aja tapi juga bisa jadi bagian dari cara pengguna pakai HP-nya itu kayak gimana, berinteraksinya itu kayak gimana. Di titik inilah Fold 2 itu terasa serius dan di titik ini juga Fold 2 terlihat benar-benar buat masa depan. Setelah bentuk dasarnya mulai matang dari Fold 1 Fold 2 sekarang Fold 3, Fold 3 itu Samsung harus dapat kepercayaan. Orang sudah tahu tuh kalau HP lipat itu sudah bisa diproduksi, bisa dipakai. Nah sekarang pertanyaannya bergeser. Emang kalau sering dilipat bakalan awet? Dilipatnya bisa bertahan sampai kapan? Bahaya enggak sih? Apalagi harganya mahal. Samsung ngejawabnya dengan beberapa update penting. Jadi, di Fold 3 itu termasuk HP Fold pertama kalinya yang punya sertifikasi IP rating IPX8. Belum ada debunya ya, cuman tahan air aja. Dan ini bukan pencapaian biasa ya, karena Fold ini kan pertama kali yang bikin Samsung, yang bikin inovasinya Samsung, terus brand lain ngikutin. Dan engineering-nya belum matang-matang banget. Jadi, untuk bikin IPX8 di Samsung juga rumit. Terus Samsung juga ngebawa dukungan S Pen ke layar lipat. Artinya panel fleksibel yang dulu dianggap terlalu rapuh sekarang harus cukup kuat nerima tekanan dari stylus-nya. Untuk itu Samsung buat S Pen Fold Edition yang tekanannya beda sama Samsung Galaxy S Series. Fold 3 juga membawa under display di bawah kamera. Walaupun waktu itu juga sering dikomplain dan sekarang sampai akhirnya Fold 4 sampai 7 udah hilang tuh under display kameranya. Ya, sekali lagi Fold 3 juga belum sempurna. Tapi Samsung pelan-pelan memperbaikinya. Samsung Fold di seri 3-nya enggak bikin HP layar yang cuma bisa dilipat, tapi juga bikin seberapa banyak fitur HP flagship yang bisa ditanamin di Samsung Fold 3. Artinya Fold mulai bergerak keluar dari lingkaran kecil early adopter. Produk ini belum jadi HP buat semua orang memang, belum HP mainstream. Tapi dia udah membuktikan kalau dia bukan sekedar eksperimen. Fold 4 enggak berubah secara ekstrem, dia datang untuk penyempurnaan aja. Samsung membuat bodinya lebih ringan, rasio layar depan dibuat lebih sedikit nyaman, kameranya ditingkatkan, dan pengalaman multitasking jadi jauh lebih serius. Salah satu perubahan terpenting adalah hadirnya touch bar. Jadi, tampilannya itu mirip desktop. Aplikasi favorit kita mudah dijangkau, kita bisa buka beberapa aplikasi, pindah-pindah aplikasi, dan drag and drop lebih cepat. Fold 4 juga jadi satu-satunya atau pertama kalinya HP Fold yang pakai Android 12L atau Android yang memang untuk versi HP lipat. Di Fold 4 ini Galaxy Fold Series terlihat lebih lengkap. Bukan sekedar layar HP yang gede, tapi UI dan software-nya juga disesuaikan untuk HP lipat. Terus Samsung mulai bikin Fold ini sebagai spesies sendiri, bukan tablet kecil, bukan juga HP gede, tapi sebuah device yang bisa jadi keduanya, tergantung gimana kita memegangnya. Selama beberapa generasi, ada ciri khas dari Samsung Galaxy Fold yang bisa kita lihat. Jadi kalau misalkan Fold-nya itu ditutup, ada gap atau celah yang dia itu gampang kemasukan debu. Nah, di Samsung Galaxy Z Fold 5, Samsung memperkenalkan Flex Hinge yang baru. Struktur lipatannya memungkinkan kedua sisinya tertutup lebih rata. Hasilnya, body Fold 5 lebih tipis ketika ditutup dan lebih rapi ketika dibawa. Orang awam sih ini lihatnya, wah biasa kayak cuman ganti engsel kali ya, padahal di balik itu sekali lagi engineering-nya ini rumit banget. Karena Samsung harus memadatkan dua layar, dua sisi body, baterai, kamera, dan motherboard, sistem pendingin, serta engsel ke dalam ruang yang sama. Analogi gampangnya atau bahasa bayinya, ribet. Fold 5 menunjukkan fase baru dalam perjalanan Fold. Fokus Samsung mulai bergeser. Bukan lagi sekedar upgrade, tapi juga benerin apa yang kemarin dihujat, yang jadi PR, termasuk celah HP-nya enggak bisa tertutup rapat. Di Samsung Galaxy Z Fold 6 juga enggak ada upgrade yang gede-gedean, Samsung penyempurnaan aja, jadi dia lebih tipis, lebih ringan. Bentuknya dibuat lebih kotak, simetris, dan terasa lebih modern. Bobotnya itu turun jadi sekitar 239 gram. Ketebalannya pas ditutup turun jadi 12,1 mm. Angka ini penting kalau kita lihat dari Fold generasi pertama, karena selisihnya beda jauh. Karena Galaxy Fold pertama itu punya ketebalan 17,1 mm. Jadi selisihnya 5 mm sendiri. Fold 6 juga nunjukin gimana Samsung mulai menggabungkan layar gede dengan Galaxy AI. Fitur kayak interpreter bisa tampilin terjemahan di kedua layar, circle to search di area layar yang lebih gede, dan berbagai fitur editing jadi lebih mudah karena layarnya yang lebar. Kalau zaman dulu kita ada namanya layar lebar. Apakah ini artinya layar lebar? Fase ini inovasi Fold mulai kerasa tenang enggak yang dar der dor. Tapi kalau kita perhatiin di setiap generasi Fold terus diperbaiki dari generasi lamanya dan mereka serius soal ini. Karena sebuah teknologi itu bisa dianggap matang bukan karena inovasinya yang terus-menerus, tapi ketika ia mulai dianggap sudah biasa. Dan dia juga sudah siap memudahkan dan mendukung hidup kita tanpa kita sadari. Jadi kita tinggal pakai aja. Lalu sampailah kita di Samsung Galaxy Z Fold 7 yang saya pegang ini. Dan menurut saya ini adalah satu lompatan paling penting sejak Fold 2. Fold 7 cuma memiliki ketebalan 8,9 mm saat ditutup, hampir mirip kayak HP biasa. Bobotnya sekitar 215 gram, lebih ringan dibandingkan Fold pertama sekitar 61 gram. 61 gram ya, bukan 74 kg, beda. Dan ketebalannya hampir berkurang setengah. Layar depannya jadi lebih gede dan lebih nyaman dipakai kayak HP biasa yang non-foldable. Saat dibuka layar utamanya itu 8 inch. Samsung juga ngebawa kamera utama 200 megapiksel. Jadi Fold enggak lagi kerasa di bawahnya Samsung Galaxy S Series. Selama bertahun-tahun kita diminta untuk menerima kompromi dari Samsung Galaxy Z Fold Series. Dengan HP-nya itu lebih tebal, berat, layar depannya sempit dan kameranya enggak sebagus S Series, padahal harganya lebih mahal. Fold 7 dia memang enggak menghapus kompromi itu, tapi dia menghapus kompromi yang paling mudah dirasakan sebenarnya. Jadi pas dia dipegang enggak kayak bawa HP lipat. Dan menurut saya inilah tujuan panjang perjalanan Z Fold Series ya. Bawa HP Fold tapi rasanya kayak bawa HP biasa. Buat mereka lupa bahwa ada dua layar, engsel dan puluhan komponen yang bergerak di dalamnya. Buat mereka lupa kalau Samsung dulu sempat malu ketika Fold pertama kali diluncurkan. Samsung menyebut Z Fold 7 ini adalah Fold yang paling tipis dan paling ringan yang pernah mereka luncurkan. Kalau semua Samsung Galaxy Z Fold Series ini dijejer sebenarnya kita bisa lihat polanya ya. Kita bisa lihat inspirasi dari cerita ini. Galaxy Fold pertama bukti bahwa perangkat itu bisa dijual, bukan cuma prototype. Fold 2, memperbaiki cara kita berinteraksi dengan Excel dan layar. Fold 3, membangun kepercayaan lewat ketahanan air dan dukungan S Pen. Fold 4, bawa layar lebih gede, lebih serius untuk kerja. Fold 5, bikin Excel-nya bisa nutup rapat. Fold 6, dia menyederhanakan desain dan bawa AI. Dan Fold 7, dia bikin HP lipat yang kayak enggak bawa HP lipat. Jalanan ini sebenarnya bukan perjalanan yang iseng atau perjalanan yang cuman ambil cuan aja, karena ini terlalu beresiko. Enggak ada brand lain yang berani ngeluarin HP Fold duluan. Fold ini dibangun lewat konsistensi. Bahkan di Fold pertama, mereka malu sampai akhirnya recall, terus duduk bareng di meja desain lagi. Wah, salut sih buat tim Samsung. Kesuksesan Fold ini sebenarnya bukan produk yang bisa langsung kita pegang ini ya, tapi di balik ceritanya ini ada perusahaan yang menurut saya pantang menyerah, konsisten, dan fokus di bidangnya. Dan sekarang, perjalanan itu bakal masuk ke generasi ke-8 yang Samsung lewat Instagram-nya dan juga harusnya sudah ngumumin nanti tanggal 22 Juli di London itu bakalan ada Unpack dengan tagline-nya itu New Shapes Unfold. Samsung belum mengumumin sih ya, nanti Fold 8-nya itu bakal kayak gimana, ada spesies baru lagi apa aja. Ah, bentar lagi tanggal 22 dan saya juga enggak mau ngumumin leaks ataupun rumor karena belum pasti. Jadi, nanti aja setelah Unpack. Tapi gimana menurut kalian? Gimana nanti Samsung Galaxy Z Fold 8-nya? Mau dibawa ke mana ya sama Samsung ya? Apakah dimensinya bakal lebih tipis lagi? Kris-nya bakalan lebih enggak ada? Lebih ringan? Apakah ada AI yang tahu kalau dia ini HP lipat? Jadi, pengalamannya AI-nya juga berbeda ketika layarnya ditutup dan dibuka. Kita belum tahu jawabannya sih ya, tapi kita sudah tahu perjalanannya kalau Samsung dari generasi Fold pertama sampai ke-8 nanti, mereka memang konsisten dan serius. Dan bentuknya Samsung Galaxy Fold 8 nanti kayak gimana? Kita tunggu aja sama-sama nanti di tanggal 22 Juli. Tapi apapun yang diumumkan nanti, satu hal yang sudah jelas, Samsung menurut saya adalah produk yang berhasil karena terus diperbaiki. Dan dari sebuah eksperimen berisiko yang akhirnya jadi lambang inovasi Samsung, Samsung Galaxy Z Fold series. Saya Niken Estebudi and see you on the next video. Bye bye.
Video Lainnya
Penyempurnaan desain pada [Samsung Galaxy Z Fold8](http://192.168.18.3:3000/category/smartphones/page/4) menghadirkan kejutan besar lewat bodi yang jauh lebih tipis...
Pengalaman sepekan memakai Samsung Galaxy Z Fold8 mengungkap perubahan besar pada cara pakai dan pengalaman layar lipat. Ada kejutan performa, efisiensi baterai,...
Persaingan sengit ponsel lipat Samsung kini memasuki babak baru lewat kehadiran model Ultra. Perbedaan desain, daya tahan baterai, hingga kompromi fitur antar...
Menikmati hiburan atau bekerja kini makin praktis lewat perangkat layar sentuh ekonomis. Simak ulasan 11 Tablet Mantap Di Bawah Rp 5 Juta! - Rekomendasi di...
Dua pekan bersama Galaxy Z Fold 8: Makin Lama Makin Kelihatan… mengungkap berbagai kompromi harian ponsel lipat ini. Mulai dari layar depan hingga baterai. Simak...
Eksplorasi Samsung Galaxy Watch Ultra 2 mengungkap bodi titanium kokoh dengan kapasitas daya lebih besar dan bodi ramping. Saksikan ulasan unboxing lengkapnya lewat...
Menilik lini ponsel lipat terbaru dari Samsung lewat Samsung Galaxy Z Flip8, Z Fold8 atau Z Fold8 Ultra mengungkap perbedaan performa dan fitur yang menarik untuk...
Membawa empat port kencang dalam bodi ringkas, pengisi daya serbaguna ini menjadi jawaban bagi penyuka kepraktisan. Ulasan mendalamnya mengungkap efisiensi daya...
Menggenggam ponsel lipat seharga puluhan juta tentu menyisakan ekspektasi tinggi. Namun di balik bodi tipisnya, tersimpan kompromi menyebalkan. Simak Keluh kesah...
Evolusi ponsel lipat Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra membawa baterai silikon karbon 5000 mAh dan performa tangguh. Simak Jagat Review untuk ulasan lengkapnya!
Uji coba sepekan Samsung Galaxy Z Fold8 Seminggu Kemudian ... membuka sisi praktis ponsel lipat yang kian ramping di saku, namun tetap menyisakan catatan performa...
Menawarkan desain bodi kaca premium serta performa kencang berkat Snapdragon 6 Gen 3, Samsung Galaxy A27 unboxing mengungkap sederet peningkatan menarik termasuk...
Membawa bentuk kotak yang ringkas, Review Samsung Galaxy Z Fold8 Indonesia | Jadi Beda Bukan Berarti Paling Bagus mengupas tuntas ponsel lipat ini. Di balik baterai...
Penasaran bagaimana sensasi memegang Samsung Galaxy Z Fold 8 hasil pre-order? Simak ulasan fisik, proses trade-in, hingga perubahan layar lipatnya yang terasa...
Banyak yang mencibir Samsung Galaxy A57 karena dibanderol delapan juta rupiah dengan spesifikasi biasa saja. Namun, setelah harganya anjlok ke kisaran enam jutaan,...
Memilih ponsel kelas atas keluaran sebelumnya kini menjadi strategi cerdas ketika harga perangkat baru terasa semakin melambung. Menelusuri penawaran menarik HP...

















