Jungkat

Hape Lipat 2025 Termurah, Baterai Terbesar, Bodi Tipis Ringan, Kamera Premium - Review vivo X Fold5 (YouTube Video)

  • 03/09/2025

Lightweight Beast ini Vivo Xol 5. Bobotnya diklaim hanya 217 gr, tapi baterainya 6000 mAh bluevold batery. Dengan 80 watt flash charge ini bahkan lebih ringan dibandingkan Vivo X200 Pro ya. Performa tetap kencang dengan SOC class premium Snapdragon 8 series. Kameranya ada kerja sama dengan ZISE, khususnya di 50 megapel Ziz telefoto kamera dengan 3X telefoto. Menariknya lagi, durabilitas smartphone ini juga terjamin dengan IPX8, IPX9 water resistant, plus ada IP 5X dust resistant. Tapi apa semua hal tersebut membuatnya ya layak disebut sebagai lightweight beast? Kita akan coba cari tahu dalam video kita kali ini, ya. foldable-nya Vivo hadir resmi lagi di Indonesia ya. Tahun 2024 yang lalu Vivo membawa XFT 3 Pro hadir resmi ke Indonesia. Kali ini mereka membawa Xolt 5 yang mengusung body lebih tipis, bobot lebih ringan, tapi baterainya lebih besar. Nah, peringatan apa lagi yang diusung sama si XF 5 ini? Apa kameranya bisa lebih mantap lagi? Bagaimana dengan performanya? Langsung aja kita mulai pembahasan smartphone ini dari paket penjualannya. Tentunya dalamnya ada unit Vivo X 5 dengan screen protektor yang sudah terpasang. baik untuk cover screen maupun untuk main screen di dalamnya ya. Lalu ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 80 watt flash charge. Kemudian kita dapat kabel USB A2C dan ada case. Memang ini hanya untuk sisi belakang smartphone aja ya. Ini sama dengan yang di Explor 3 Pro kemarin. Kemudian ada sim tray ejector dan ada paket dokumen. Jadi isi paket penjualannya masih lengkap di sini. Secara umum desain Vivo Xolt 5 ini terlihat cukup mirip dengan XF 3 Pro kemarin. Tentunya ini hadir dengan gaya minimalis khas Vivo. Saat pertama memegang smartphone ini, satu hal yang langsung terasa adalah ini lebih tipis dari pendahulunya. Dimensi smartphone ini saat dilipat adalah 159,7 * 72,6 * 9,2 mm dan saat dibuka adalah 159,7 * 142,3 * 4,3 mm. Ya, jadi untuk lebar dan tinggi ini memang mirip sekali dengan Xolt 3 Pro. Tapi untuk ketebalan ya ini jauh lebih tipis. Padahal Xol 3 Pro udah terkenal yang tipis kemarin itu ya. Nah, saat dilipat ini lebih tipis sekitar 2 mm dan saat dibuka ini lebih tipis sekitar 0,9 mm. Ini buat Xolt 5 jadi terasa tipis banget. Sementara untuk bobot unit yang kami gunakan ini bobotnya ada di kisaran 229 gr. Ini berada di atas claim Vivo yang 217 gr. Ya, untuk warna smartphone ini terjerat dalam dua opsi solid colored back cover yaitu feather white dan titanium gray seperti yang dipakai saat ini ya. Oh ya, untuk dimensi dan bobot ada sedikit perbedaan ya antara Titanum gray dengan yang feather white. Vivo kembali menggunakan UPE glass fiber untuk body belakang varian yang grey ini masih kesan premium dan elegan serta tidak mudah kotor. Nah, body belakang ini punya permukaan flat dengan sedikit lengkungan di area tepi. Lengkungan ini juga menyatu ke softly curved frame edges membuat smartphone ini jadi terasa tidak punya sudu tajam dan nyaman saat dipegang. Oh ya, untuk frame ini pakai metal frame tentunya. Sementara untuk hints ini menggunakan carbon fiber support hint terbaru dengan durabilitas yang meningkat sampai 600.000 kali buka tutup. Selain itu juga disebut membuat kris di main screen jadi lebih tidak terlihat. Bukan tidak ada tapi lebih tidak terlihat ya. Nah, untuk durabilitas menyebut ada second gen armor architecture, ada juga rating IPX8 dan IPX9 water resistance serta IP5X dust resistant. IP5X. Berarti smartphone ini memang belum kedap debu, tapi debu dipastikan tidak akan mengganggu kinerja smartphone. Sementara IPX8 artinya smartphone ini aman kalau kecemplung dalam air. Tapi ini bukan untuk dijak berenang ya, apalagi snorkling. Bukan. Ini air bersih ya. Air bersih aja dan ini mungkin untuk kecemplung enggak sengaja lah ya. Lalu untuk IPX9 artinya smartphone ini tahan kena semprotan air tekanan tinggi dengan suhu sampai 80 derajat Celcius. Cuci steam mungkin ya. Jadi untuk foldable ini memang terbilang punya rating durabilitas ekstra. Bahkan kalau menurut Vivo smartphone ini juga sudah diuji buka tutup layar foldable di dalam air sampai 1000 kali di kedalaman 1 m. Tapi ingat ya, durabilitas ekstra ini hanya untuk jaga-jaga aja. Bukan berarti kalian harus demo-demoin terus gitu ya. Saya bisa kok 1000 kali bisa, saya sudah 500 kali dalam air nih. Ya, jangan begitu juga ya. Jangan. Oke, sekarang kita coba lihat apa saja yang ada di body smartphone ini ya. Kita akan bahas dalam keadaan layar utama smartphone dibuka seperti ini. Di sisi kanan ada tombol power sekaligus fingerprint scanner, lalu ada tombol volume up and down. Ya, fingerprint scannernya ada di samping. Ini beda dengan Xbo 3 Pro kemarin yang fingerprint scanner-nya ada di layar. Lalu dii atas ada mikrofon dan ada speaker. Di kiri ada shortcut button. Fungsinya kita bahas di bagian terpisah nanti ya. Lalu untuk sisi bawah ada sim tray dual nano sim isinya ya. Lalu ada speaker, mikrofon, dan USB type C. Terlihat di sini ada dual stereo speaker. Suar sekali memang belum yang terbilang luar biasa hebat memang di sini ya. Separasi cenderung agak kurang. Secara umum memang ini udah cukup tapi masih e berada di bawah yang kami harapkan untuk smartphone di kelas harga segini. Meskipun demikian, volume suaranya udah terbilang lantang sih yang satu ini ya. Beralih ke sisi depan smartphone ini atau sisi yang ada cover screen-nya ya bagian luar gitu ya. Layarnya ini adalah 6,53 inci Q10 Plus AMOLED LTPO8T namanya sini ya. resolusinya 2748 * 1172 piksel. Refresh-nya itu bisa nyampai 120 Hz, adaptif dan bisa turun sampai 1 Hz kalau tidak ada aktivitas di layar. Untuk brightness kalau kita tes itu bisa sampai 600 nit di kondisi standar dan 1800 nit untuk simulasi outdoor. Klaim Vivo untuk local pick brightness itu nyampai 4.500 nits. Saat kami coba di pengujian pick brightness, kita bisa mendapatkan hampir 2.700 nits. Ini wajar ya kalau beda ya, karena ukuran titik pengujian lokal Pck Britas yang kami gunakan tuh memang agak besar dari yang umumnya digunakan untuk klaim dari brand. Lanjut untuk color gamutnya. Di sini ada opsi screen color yaitu standar, profesional, dan bright. Saat kami coba cek, mode standar dan profesional itu menawarkan gamut coverage dan gambut volume mendekati 100% sRGB. Sementara untuk mode bright ini menawarkan gambut coverage mendekati 100% DCI IP3 dengan gambut volume di 112% DCI IP3. Nah, cover screen ini mendukung HDR1, HDR1 plus, Dolby Vision, dan HLG juga. Untuk cover screen ini menggunakan second generation armor glass dengan micro crystal glass. Front kamera ada di punch hold di area tengah atas cover screen. Ini adalah kamera 20 megapel F2.4 4 fix focus per kamera videonya. Sayangnya ini sampai 1080p 30 fps aja. Earpace ada di basel atas cover screen ini ya. Oke, sekarang kita ke main display atau layar foldable dari smartphone ini yang besar ini ya. Ini adalah layar 8,03 inci E7 AMOLED LTPO8. Resolusinya 2.480 * 2.200 pikel. Refreshnya adaptif sampai 120 Hz. Bisa turun ke 1 Hz kalau tidak ada aktivitas di layar. Untuk brightness kurang lebih mirip dengan di cover screen. Bisa nyampai sekitar 600 nit di kondisi standar dan lebih dari 1800 nit untuk simulasi outdoor serta 2.400 nit untuk local peck brightness. Tapi menurut pengujian kami gitu ya. Nah, untuk kelar gamut karakter warna masih terbilang mirip dengan cover screen juga ya. Dengan kelar gamut mendekati 100% R SRGB di mode standar dan profesional serta color gamut itu mendekati 100% di JP 3D mode bright. Tentunya layar ini juga mendukung HDR10, HDR10 plus Dolby Vision dan HLG juga. Nah, bagaimana dengan Kris di layar ini? Kalau kita melihat layar dari posisi tegak lurus, ini udah hampir enggak kelihatan. Ini tipis banget memang ya. Tapi tentunya kalau sengaja dicari ya masih ada krisnya. Walaupun demikian, setelah bertahun-tahun pakai e smartphone foldable, kami tidak merasa bahwa kris ini akan mengganggu kenyamanan saat beraktivitas dengan layar ini. Nah, ini yang menarik. Main screen Vivo ini menyertakan front kamera untuk main display ini ditempatkan di panol di area kanan atas layar. Ini adalah posisi yang tepat sekali. Jangan di tengah-tengah, jangan. Ya, ini adalah kamera 20 megapel F2.4 Fix Focus. Perekaman videonya juga sama ya dengan kamera yang tadi. Selfie yang tadi juga di 1080p 30 fps saja. Oh ya, hampir kelupaan untuk layar yang dalam ini, ini sangat menarik sekali karena kami menemukan bahwa dia menggunakan screen protektor yang tidak atau paling enggak nyaris tidak reflektif ya. Jadi kalau lihat pantulan-pantulannya itu kalau dari lampu itu enggak jadi putih tapi jadi ungu gelap di situ. Ini luar biasa. Ini bagus banget. ini ada di layar dalam. Tapi sayangnya screen protor di layar yang luar tadi tidak. Itu biasa aja. Pantulan-pantulannya masih cukup terang. Jadi ler dalamnya ini bagus banget nih ya. E enggak ada banyak pantulan-pantulannya gitu. Enggak banyak yang mengganggu kita kalau lagi pai layar dalamnya. Ini cocok nih buat dicontoh foldable-foldable yang lain juga. Oke, kita lanjut. Bagaimana dengan earpiece-nya? Tidak ada ya kalau di main screen ini ya. Jadi kalau mau telepon dengan earpiece itu lipat dulu smartphone-nya lalu pakai earpiece yang ada di cover screen. Oke, sekarang kita ke sisi belakang. alias s isi tempat sistem kamera utama smartphone ini. Nah, untuk sistem kamera utama ini, ini adalah Vivo Z coengine Engineered imaging System. Ya, ada kerja sama lagi antara Vivo dengan Zize. Untuk kamera smartphone ini terlihat ada logo Zice T Star. Ini berarti sistem kamera utama ini bisa menghasilkan gambar yang lebih jernih bebas ghost image dan harusnya bebas dari lens flare ini menggunakan ZIS telefoto kamera 50 megapel menggunakan sensor Sony IMX 882 bukannya f2.54 54 autofokus dan ini adalah tiga kali optical zoom. Lensanya ini equivalent dengan lensa 70 mm. Jadi bisa juga untuk telemakro sampai 15 cm. Mantap. Perekaman video up to 4K 60 fps. Kemudian ada VCS True Color main camera 50 megapel Sony IMX 921. Bukaannya lumayan lebar di 1.57 autofokus dan tentunya optical image stabilizer ini ekivalen dengan 23 mm. Perekaman videonya up to 8K 30 fps dan tentunya dia bisa 4K 60 juga. Kemudian ada ultra wide angle kamera lagi-lagi 50 megpixel ISOCEL JN1 tapi di sini ya ini bukannya adalah f2.05 05 auto juga di sini. Equivalen ke 15 mm di sini. Field of view-nya 120 derajat. Lebar ultra wide-nya nih ya. Perkaman video sampai 4K 60 fps juga. Kamera ultrawide ini juga sekaligus bisa jadi kamera makro. Dekat banget jaraknya nih ya. Mantap. Lalu di sini tentunya ada juga LED flash. Kalau fitur banyak banget ya. Ada telefoto stage portret, ada AI for season, auto framing for video, classic negatif, super landscape mode, snapsot landscape and night. L ada portrait, portret video, high resolution pano, ultra HD documen, ada slowmo, timelapse, dan masih banyak lagi fitur khas kerja sama dengan Vivo Ziz ini seperti efek lensa di mode port tentunya juga tersedia di sini. Oke, sekarang kita lihat spek internalnya. SOC-nya pakai Snaptag 8 gen3. Memang ini bukan SOC premium terbaru saat ini, tapi performanya ini masih tetap kelas premium ya. Tetap sangat kencang yang satu ini. Untuk RAM 16 GB LPDDR 5X ultra ini mendukung extended RAM 16 GB lagi. Untuk storage 512 GB, UFS 4.1. Enggak usah dibahas lagi ya UFS-nya udah 4.1 yang satu ini. Untuk baterai 6000 mAh dengan second gen semiolid batery tech. Ini menggunakan dua buah baterai dengan kapasitas 3.275 mAh dan 2.725 mAh. Jadi ini equivalen dengan baterai 6000 mAh. Untuk chargingnya dia pakai 80 watt flash charge dan dia punya wireless charging juga tentunya. Untuk sensor-sensor lengkaplah di sini ya. Gyro juga udah hardware tentunya. Untuk relevitas tentunya 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Dan ada dukungan untuk eim. Nah, ini peningkatan yang luar biasa dibandingkan XF 3 Pro yang belum punya dukungan ISIM. Jadi untuk travel yang mau pakai ISIM bisa nih di sini nih. Lalu Wii-nya WiFi 7. Kalau mau merasakan Wii super kencang ini udah bisa ya. Apalagi WiFi 7 sudah mulai nih tersedia di Indonesia. Lalu Bluetooth-nya Bluetooth versi 5.4 dengan kodex yang udah banyak banget lengkap ni dibaca aja didaftarin ya. Lengkap banget kode-kodenya ya. Nah terkait kontivitas wireless Vivo menjadikan sinyal kuat dan stabil baik saat smartphone ini dilipat atau dibuka. Salah satunya karena ada dual screen enhanced antenna technology serta hingena 2.0. Lalu NFC-nya ini NFC multifunction ini khas Vivo banget. Ini bisa untuk emulasi akses card. USB dia pakai 3.2 gen one udah kencang ya. Ini juga membuat smartphone ini support display output via USBC-nya. Lalu untuk S pannya dia pakai fingerprint scanner dan tentunya bisa pakai Vion juga. Untuk OS dia pakai Fantou OS 15. Nah, tentunya ini dengan basis Android 15. Yang satu ini secara khusus disiapkan sebagai smart Fold AIOS OS. Di sini Vivo menjadikan ada update empat kali untuk Android-nya dan ada 5 tahun security update untuk smartphone ini. Always on display atau AOD, bagaimana? Ada di sini dan ada mode all day. Ya memang ini berarti bisa always on beneran. Ada juga deskender AOD. Jadi smartphone ini bisa diletakkan dalam tentan AOD-nya akan dibuat menyerupai kalender meja. Oh ya, untuk shortcut button ini fungsinya juga bisa kita atur ya. Ada fungsi yang dijalankan saat tombol ditekan dan ditahan. Ada juga yang dijalankan saat tombol ditekan dua kali. Nah, ini bisa kita atur untuk pemilihan mode ring atau vibration, untuk menyalakan flashlight, untuk mengaktifkan audio recorder untuk AI caption atau untuk membuka aplikasi tertentu. Menariknya untuk fungsi seperti flashlight atau audio recorder ini juga bisa dijalankan dalam keadaan smartphone-nya terkunci atau lagi diok. Jadi gak perlu unlock dulu ya smartphone-nya ya, langsung bisa jalanin fungsinya cukup lewat shortcut button ini. Lalu Vivo menyediakan beberapa pengaturan khusus foldable device. Di sini ada pengaturan rasio tampilan aplikasi saat digunakan di main display. Ada smart screen shift dan flex mode. Ini juga udah tersedia ya di Xboh. Lalu ada tas bar ini untuk berpindah aplikasi secara cepat saat pakai main screen. Wah asik nih satu nih. Ada juga pengaturan apakah saat melipat smartphone screen lock akan otomatis aktif atau tidak. Lalu ada yang baru juga nih, Origin Workbench. Ini mode tampilan multitasking baru di mana beberapa window aplikasi akan muncul sekaligus di main screen. Cara mengaktifkannya seperti ini ya. Nah, saat aktif ada satu window besar untuk tampilan aplikasi yang sedang kita gunakan serta beberapa Windows kecil di kiri. Nah, kalau kita butuh beralih antar aplikasi cukup tap Windows kecil yang di sebelah kiri itu aja. Sementara untuk fitur multitasking H foldable ada gesture khusus untuk masuk ke dalam mode tampilan split screen, floating windows, drag and drop antar aplikasi, serta beberapa fitur lainnya. Terkait fitur AI, ada beberapa fitur AI menarik ya di sini ya. Ada paket AI imaging Studio atau fitur-fitur AI yang terkait pengolahan gambar. Untuk fiturnya itu ada AI image expander, AI magic Move, AI reflection Remover, AI Eras 3.0, AI photo enhance, dan AI for seasons. Nah, untuk AI for Seasons ini, ini bisa bantu kita ambil foto dengan nuansa musim yang berbeda dengan mudah ya, bisa berubah-ubah kayak gitu tuh. Nah, ya. Nah, untuk kebutuhan produktivitas ada Office multitasker dengan fitur AI captions, AI meeting assistant, lalu ada smart call assistant dan Vivo documents. Smart call assistant ini terdiri dari AI call translation dan smart summary yang bukan cuma membantu kita menerjemahkan bahasa saat panggilan suara, tapi juga bisa merangkum poin-poin penting pembicaraan kita. Ada juga fitur AI extract. Ini merupakan optical character recognition yang mempermudah kita meng-copy teks dari berbagai macam sumber dengan memanfaatkan kamera smartphone. Jadi, teks yang kita foto bisa dengan mudah diubah ke notes atau di-copy untuk sekedar dibagian ke orang lain lewat instant messaging misalnya. Nah, kalau Google Gemini dan SER tentunya udah tersedia lah di sini ya. Oke, sekarang mari kita langsung masuk dalam benchmarknya Antutu 10. Pertama kita coba jalankan benchmark ini di cover screen. Kita coba dengan AnTuTu 10.0.1 yang biasa kami gunakan. Kalau pakai kipas kita dapat Rp2.37.000-an ya. Lalu kalau kita coba pakai e versi terbaru dari Antutu 10, hasilnya tanpa kipas adalah R2.6.000-an dengan kipas kita dapat di Rp2.58.000-an. Oke, sekarang kita coba jalankan benchmark di main Screen alias layar lipat dari smartphone ini. Layar dalamnya masih pakai Antutuutu 10 versi terbaru. Tanpa kipas kita dapat Rp1.957.000-an. Dengan kipas kita dapat Rp2.87.000-an. Nah, performanya di cover screen dan di main screen masih terlihat cukup mirip ya. Bedanya tuh tipis banget ya. Ini harusnya kayak begini nih. Jangan jauh-jauh bedanya. Lanjut untuk Geekbench 6 cover screen tanpa kipas. Single core 2.155 cover screen dengan kipas. Single core ada di 2.199 multiore di 6.685. Kalau kita pakai main screen tanpa kipas single core 2179 multiore di 6.553. Untuk main screen dengan kipas, single core di 2.22, multiore di 6.699. Untuk 3max sling shot Extreme Unlimited graphic skor-nya dengan cover screen tanpa kipas di 29.518. Untuk cover screen dengan kipas kita dapat di 32.519. Main screen tanpa kipas kita dapat di 29.258 dan maincreen dengan kipas kita dapat di 32.839. Jadi ya mirip-mirip aja semuanya ya. Lanjut untuk 3max solar B ini yang retracing-retracing itu ya. Untuk cover screen tanpa kipas itu 611 atau tepatnya 25,52 FPS. Untuk cover screen dengan kipas itu kita dapat 8.410 atau 31,98 FPS. Main screen tanpa kipas 6.403 atau 24,35 FPS dan main screen dengan kipas ada di 8.525 atau 32,45 FPS. Nah, untuk trim white life stress test kita tes dulu di cover screen tanpa kipas ya. Best score di 17.372, lowest score di 7.599, stability-nya ada di 43,7%. Nah, kalau kita pakai test cover screen dengan kipas, bas score 17.291, lowest score 12.268, stabilitasnya jadi bagus di 71%. Sekarang mari kita lanjut ke GFX Bench Car 1080p offsreen. Cover screen tanpa kipas 148 FPS. Cover screen dengan kipas 150 fps. Main screen tanpa kipas 152 fps. Main screen dengan kipas di 153 fps. Nah, pakai Snapdragon 8 Gen3 ternyata enggak masalah ya. Smartphone ini tetap kencang parah sebetulnya ya. Memang keuntungan dari SOC Class premium sejati nih ya. Bahkan mau untuk penggunaan 3 4 tahun ke depan pun masih enggak terasa lambat ya. Mantap memang di sini. Lanjut untuk gaming seperti di smartphone kelas atas dan premium yang lainnya. XFAL 5 ini juga punya beberapa fitur gaming khas Vivo. Ultra game mode tentunya ada di sini. Overlay sidebar untuk performance panel juga tersedia. Lalu ada game tools. Kita bisa mengaktifkan beberapa fitur khusus seperti voice changer, motion control, view enhancement, serta 4D game vibration. Selain itu, bypass charging juga tersedia di sini. Oke, sekarang kita masuk ke pengujian gaming ya. Untuk pengujian ini, kami mengaktifkan mode boost di overlay performance panel serta mengatur refresh rate ke high lewat slider yang tersedia. Kita mulai dari Mobile Legends dulu. Setting frame rate maksimal yang terbuka adalah super atau 90 fps. Sayangnya saat dicoba appeil setting sampai 120 fps masih belum kebuka. Di sini kami coba mainkan game ini dengan setting mentok rata kanan frame rate di 60 fps. Hasilnya lancar banget. mulus lancar di 90 fps. Main di cover screen atau main screen dapat rata 90 fps. Terus lanjut ke PUBG Mobile. Nah, setting frame terbuka ini adalah sampai extreme plus untuk kualitas tampilan smooth. Jadi, saat coba main kami dapat cukup rata di 90 fps frame rate maksimal untuk extreme plus nih ya. Sayangnya yang extreme ultra atau 100 duple FPS itu belum terbuka di sini. Untuk jeroing ya tentunya lancar banget, mulus dan akurat. Itu khas smartphone premium banget. Lanjut wering waves. Kami coba main game ini di cover screen dengan setting mentok kanan 60 fps. Hasilnya di awal kami bisa dapat frame rate cukup dekat, cukup rata lah ya dengan 60 fps. Tapi setelah beberapa menit ada penurunan frame rate ke kisaran 38 sampai 50 fps. Saat cuma jalan-jalan aja frame rate di kisaran 45 sampai 50 fps. Tapi kalau ada battle dengan beberapa musuh sekaligus frame rate lebih banyak ada di kisan 38 sampai 48 fps. Ingat ini tanpa pakai kipas pendingin. Jadi sebetulnya hasilnya udah oke banget. Lanjut ke Genensin Impact. Oke, untuk game ini tentunya kita pakai highest 60 fps ya. Kita coba dicover screen dulu. Hasilnya di awal pengujian frame rate cukup rata dekat dengan 60 fps. Tapi setelah berapa menit frame rate itu pelan-pelan turun mulai dari sekitar menit ke-10 sampai akhir pengujian selama 30 menit. Frame rate itu jadi ada di kisaran 40 sampai 44 fps. Cukup stabil di kisaran segitu aja. Sayangnya emang belum bisa stabil dekat dengan 60 fps. Tapi seenggaknya bukannya jadi terasa patah-patah atau enggak nyaman dimainkan. Ini masih lancar di sini. Selama setengah jam, rata-rata frame yang kami dapatkan itu ada di kisaran 43 FPS. Ini sayangnya ya kalau lihat pendahulunya, tapi pendahulunya memang pro sih ya, itu bisa main di game ini mulus lancar di 60 fps. Oke, bagaimana kalau kita pakai kipas pendingin saat kami coba? Nah, ini baru mantap nih. Kita bisa dapat frame rate stabil di 60 fps dengan rata-rata frame rate selama 30 menit ada di 60 fps. Lalu kita coba main di main screen-nya. Nah, untuk gaming di main screen kita bisa atur rasio tampilan game. Bisa full screen seperti ini ya, mantap ya, lebar ya. atau bisa juga pakai rasio lain seperti 16 b 9 misalnya. Kita coba dengan full screen dulu ya. Frame rate di awal memang dekat dengan 60 fps tapi pelan-pelan turun dan akhirnya stabil kisaran 30 sampai 35 fps selama pengujian 10 menit. Sementara kalau pakai rasio 16 b 9 frame rate di awal juga dekat dengan 60 fps. Lalu pelan-pelan turun ke kisaran 35 sampai 42 fps dalam pengujian selama 10 menit. Nah, lanjut lagi. Kita coba dengan kipas pendingin di tampilan full screen. Ternyata kita bisa dapat frame rate rata 60 fps. Mulus lancar dengan rata-rata selama setengah jam itu ya di 60 fps. Nah, bagaimana dengan suhu smartphone? Kami coba cek kalau main di cover screen suhunya terbilang rendah. Ya, wajar karena komponenya masal panas tinggi memang tidak ada di bagian ini. Sementara suhu permukaan sisi belakang itu ada kisaran 42 sampai 43 derajat Celcius. Ini ya angat-angat aja ya. E bukan sampai panas yang luar biasa mengganggu. Enggak, enggak. 42 43 itu masih termasuk ok lah sebetulnya terutama untuk game berat. Nah, kalau main dengan main screen ada area di dekat front kamera yang suhunya bisa mendekati 45 derajat celcius. Tapi area ini harusnya tidak kita sentuh dengan jari saat kita lagi main game ini. Untuk sisi belakang suhunya ada kisaran 41 sampai 43 derajat celcius. Ini juga sedikit hanget tapi belum sampai yang panas mengganggu. Oke, kesimpulannya untuk Vivo XFT 5 ranking Gensin Impact-nya untuk cover screen tanpa kipas itu A. Cover screen dengan kipas itu S plus. Main screen tanpa kipas itu B. Main screen dengan kipas itu S plus. Nah, terkait performa tanpa kipas ini udah kita laporkan ke Vivo ya. Semoga bisa ada update yang membuat performanya jadi lebih stabil lagi. Oke, kita lanjut ke pengujian kameranya. Oke, jadi di tangan saya kali ini udah ada si Vivo X 5 dan tes kameranya kali ini eh opening-nya saya sendirian. Tapi nanti eh penilaiannya itu bakal bareng sama Bang Kris. Jadi nanti mungkin e bakal voice overnya dia gitu yang bawain penilaiannya gimana-gimana. Nah, untuk suara yang teman-teman dengar sekarang ini direkam langsung menggunakan mikrofonnya si Vivo Xolt 5 ya. Ee jadi ini saya enggak pakai mikrofone eksternal dan contoh suaranya tuh kayak begini. Jadi kalau mau dipakai buat vlogging gitu misalnya, nah suaranya tuh kurang lebih kayak gini. Oke, lanjut ke berikutnya. Oke, untuk pengujian kali ini saya dibantu sama Noval ya. Tapi untuk analisa hasil kameranya kita kerjakan bareng kok. Nah, kita mulai untuk kamera depannya dulu. Untuk kamera depannya ini kan ada dua ya, di cover screen satu, di main screen 1. Biar enggak terlalu panjang karena spesifikasinya mirip-mirip aja dan hasil tesnya juga mirip. Jadi saya samain aja ya pembahasan kamera untuk cover screen dan main screen-nya. Dari segi kualitas gambarnya, kamera depannya ini biasa aja sih. Yang jelas bukan kamera depan yang level flagship lah. Tapi kalau untuk sekedar video call masih oke. Kita tes bawa jalan seperti ini dan stabilizernya masih bisa bekerja dengan baik. Terkait dari midR, kamera depannya ini belum terlalu bisa meng-ghandle kondisi cahaya yang sulit. Sisi wajah masih bisa tespos dengan baik, tapi bagian highlight-nya memang over expose. Sepertinya untuk kamera depan kita bisa pakai kamera utamanya aja deh dan pakai preview dari cover screen-nya seperti ini. Cara pakai kamera seperti ini memang jadi salah satu keunikan untuk smartphone foldable. Lanjut ke kamera utamanya. Dari segi detail ini sudah tergolong oke ya. Warna kalau menurut kami sih saturasinya cenderung tinggi. Terlihat dari warna kulit dan warna hijau yang terasa menyala. Terkait dari midrange ini aman ya. Sisi gelap terang dapat diseimbangkan dengan baik. Resolusi manapun yang kita pakai juga aman. Dynamic range-nya konsisten. Stabilizer bisa bekerja dengan baik hingga 4K 60 fps. Tapi untuk 8K 30 fps, sayangnya belum bisa stabil. Sekarang kita cek kamera ultrawide-nya. Ultra wide-nya ini bisa menghasilkan gambar yang oke banget nih. Uh, beda jauh lah dengan kamera ultrawide yang cuma 8 megapel. Di sini bahkan bisa merekam hingga 4K 60 fps juga. Dari mic range-nya aman, urusan stabilizer juga aman. videonya bisa stabil bahkan di 4K 60 fps sekalipun. Kalau di nitpck banget sih sebetulnya di ultrawide-nya ini ada jater tipis-tipis gitu tapi overall sih bukan masalah lah. Kemudian ultrawide-nya ini juga autofokus ya, jadi bisa kita gunakan untuk ultrawide makro juga jika dibutuhkan. Lanjut ke kamera telefoto tiga kalinya. Detailnya sih beh mantap coy. Boke naturalnya juga lumayan oke. Dynamic range tergolong lumayan tapi sedikit berharap area gelapnya bisa lebih diangkat sedikit. tentunya urusan exposure ini bisa kita atur manual juga ya, tapi pengujian kami fokus pada pengalaman point and shoot. Kalau dari segi stabilizer memang belum bisa yang stabil-stabil banget ya, tapi ini wajar untuk kamera telefoto. Kalau mau lebih rapi stabilizernya, kita bisa pakai mode 60 fps. Yang menarik, telefoto periscop-nya ini juga punya jarak fokus yang sangat dekat. Jadi untuk foto atau video makro juga bisa pakai kamera yang satu ini. Belum banyak loh smartphone foldable yang telefotonya bisa sebagus ini. Dari segi pengalaman multi kameranya ini sudah tergolong oke ya. Transisi antar kameranya sudah tergolong mulus. Saat video kita juga bisa pindah langsung antar kamera hingga resolusi 4K 60 fps. Tapi kalau mau pindah langsung ke kamera depan itu baru bisa untuk 1080p 30 fps saja. Sekarang kita coba di kondisi low light. Kamera depannya seperti ini ya. Melihat kualitasnya seperti ini memang paling benar pakai kamera utamanya aja ya. Kalau kamera utamanya sih bisa menghasilkan video yang terang. Detail juga masih terjaga dan bersih dari noise. Hebatnya saat kita pakai mode 60 fps, gambar masih bisa terang juga loh. Enggak jadi jauh lebih gelap. Tapi memang detailnya enggak sebaik 30 fps. Ini masih wajar. Stabilizer videonya bekerja dengan baik. Hasilnya rapi dengan jater yang tergolong minim. Kalau kamera ultrawide-nya gimana? Nah, karena sensor yang dipakai ini juga bukan kaleng-kaleng, videonya masih bisa terang meski di kondisi gelap seperti ini. Tapi kalau kita pindahkan ke 60 fps, gambarnya jadi lebih gelap. Tapi ini masih wajar ya. Perlu dicatat, meskipun sama-sama 50 megapel, bukan berarti semua sensor yang dipakai itu sama persis. Jadi wajar kalau ada perbedaan kualitas seperti ini. Terkait stabilizer juga tergolong rapi, aman. Bukan yang smooth level gimbal sih memang, tapi udah ok lah ini. Nah, sekarang kita lanjut ke telefotonya. Videonya sudah terlihat soft gambarnya ya, tapi menariknya gambar masih bisa cukup terang. Hebatnya lagi merekam di 60 fps sekalipun masih oke nih hasilnya. Stabilizer berjalan normal, jater masih terlihat. Tapi ini masih di level yang wajar. Sekarang kita lihat hasil foto-fotonya. Kalau untuk foto singkatnya semua kameranya tuh bagus ya. Kalau di aspek video, kamera depannya agak kurang oke. Tapi kalau urusan fotografi ternyata masih bisa diandalkan. Yang spesial dari kameranya menurut kami ada di kemampuan fotografinya yang merata untuk ketiga kameranya ini. Dari ultrawide sampai telefoto hasilnya bagus semua. Di kondisi low light sekalipun juga bagus. Kamera telemakronya juga bisa kasih sudut pandang yang super dekat. Ini juga masih jarang loh ada yang punya untuk smartphone foldable. Dipadukan dengan fitur Kaziz membuat foto bisa terlihat unik untuk foto potretnya. Ini juga masih jarang ada yang punya. [Musik] Untuk fitur ekstra ada beberapa ya. Di sini kita cobain fitur potret video untuk menghasilkan video seperti ini. Nah, yang menarik kita juga bisa menggunakan kamera telefotonya juga loh, enggak cuman kamera utamanya. Lalu ada fitur promote juga di sini untuk setting manual bisa untuk foto dan video juga. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat aja di tabel berikut ini. Oke, bisa dilihat ya. Kameranya ini memang tergolong yang luar biasa tapi bukan berarti sempurna ya. Ada beberapa hal yang menurut saya masih perlu ditingkatkan lagi. Yang pertama terkait video 8K-nya. Ini harusnya bisa stabil ya dan ini bukan keterbatasan SOC. Harusnya Snapdragon XGN3 di sini bisa kok stabil tinggal dari Vivon-nya aja mau aktifin atau enggak. Kemudian saat kondisi low light, telepotonya sering tidak terpakai nih. Seharusnya kan saat kita zoom tiga kali kameranya akan pindah. Tapi yang terjadi adalah kita harus zoom dulu sampai 10 kali baru deh kameranya pindah. Butuh trik khusus untuk membuat telefotonya benar terpakai di zoom tiga kali. Karena kalau dia pakai mode digital zoom videonya jadi pecah. sebaiknya dari tim software Vivo memberikan opsi untuk mematikan sistem auto switch kameranya ini. Kemudian meskipun untuk foto-foto selfie atau video selfie itu bisa pakai kamera utama, tapi kami tetap berharap kalau kamera depannya ini jangan cuman yang penting ada ya. Kalau lagi di situasi buru-buru, agak repot juga ya kalau mesti setting dulu HP-nya supaya bisa pakai kamera utama plus cover screen. Lebih praktis buka kamera, selfie, jebret, beres. Nah, terlepas dari komplain saya, kameranya ini tetap jadi salah satu yang terbaik untuk kelas foldable. Kombinasi kamera ultrawide, kamera utama, dan tele yang sebagus ini masih jarang ditemukan di kelasnya. Biasanya kan ada aja tuh salah satu kameranya yang kurang oke, antara kamera ultrawide-nya kurang atau telennya yang kurang. Kalau di sini ketiga kameranya tuh luar biasa. Lalu pengalaman selfie pakai kamera utama di mode cover screen seperti ini memang jadi kelebihan spesial untuk sebuah smartphone foldable. Kalau lagi jalan-jalan mau wifi barang teman, pasti bermanfaat banget mode satu ini. Fotonya jadi maksimal kualitasnya. Lalu ketiga kamera utamanya itu support perekaman video 4K 60 fps dan pengalaman mult kameranya juga sudah mulus. Lalu kelebihan berikutnya adalah foto portrait dengan Kaziz. Ini memberikan cita rasa yang unik dan berbeda dibanding kompetitornya. Nah, pertanyaannya apakah pengguna Vivo X 3 Pro kemarin akan merasakan perbedaan yang signifikan? Kalau menurut saya sih sayangnya tidak ya. Karena Xold 3 Pro kemarin kan versi Pro. Perlu diingat XF ini itu kan non Pro. Jadi kelasnya sendiri memang udah beda ya. X 3 Pro itu sudah luar biasa. Jadi, ini sih enggak downgrade tapi enggak upgrade juga. Meskipun begitu, untuk last foldable bisa dengan mudah kami bilang SFT 5 ini masih jadi salah satu smartphone foldable terbaik kalau yang kalian cari adalah kameranya. Sekian pengujian lab jaget review untuk kameranya Vivo Xol 5. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, sekarang kita lihat daya tahan baterainya. Untuk YouTube offline video playback 1080p. Kalau kita taruh di main screen atau layar besarnya ini, baterai habis setelah 21 jam 17 menit untuk orientasi horizontal, 22 jam 46 menit untuk orientasi vertikal. Sedikit di bawah harapan kami sebetulnya kita berharap dengan baterai sebesarnya bisa mendekati 24 jam ya. Sementara untuk cover screen, nah ini bisa dapat 27 jam 17 menit. Ini mantap. ini sangat menggambarkan bahwa baterainya emang 6000 mAh. Lanjut untuk streaming Netflix selama setengah jam di cover screen baterai turun 2% sementara untuk di main screen dia turun 4%. Lalu untuk TikTok ya selama setengah jam juga baterai turun 2% di cover screen dan untuk main screen baterai turun sekitar 6% mungkin karena layar lebar banget sih memang. Lalu untuk Gensin Impact selama setengah jam di setting highest 60 fps. Untuk cover screen tanpa kipas baterai turun 10%. Ini awet. Cover screen dengan kipas baterai turun 14%. Ya, wajar karena frame rate-nya naik ya. Kalau kita mainkan di main screennya full screen di sini ya dengan kipas itu baterai turun 17% per seteng jam. Oke, lanjut untuk charging-nya. Untuk mencapai 50% kita butuh waktu 18 menit saja. Dari kosong sampai penuh butuh waktu hanya 45 menit. Ini mungkin bukan charging yang super cepat, tapi untuk baterai 6000 mAh 80 watt flash charge ini udah terbilang mantap benar sebetulnya ya. Lumayan jauh di buat 1 jam. Oke, kita lanjut lagi. Untuk Netflix tentunya sudah WiFi L1 bisa langsung streaming full HD dan ada dukungan untuk HDR1 serta Dolby Vision. Untuk YouTube tentunya bisa streaming sampai 4K60 dan support HDR juga. Untuk Haptic feedback getarannya udah berkelas akurat dan kuat ya. Enak bangetlah pokoknya di sini. Untuk Wii sharing jelas ada. aktifkan saja hotspot saat terhubung ke Wii. Otomatis Wii sharing-nya akan aktif di situ. Nah, untuk harga Vivo Xold 5 ini hanya tersedia dengan RAM 16 GB dan storage 512 GB. Harga resminya adalah Rp24.999.000. Ada beberapa bonus menarik yang diberikan Vivo untuk pembelian smartphone ini ya, termasuk cashback serta eim dengan kuota data gratis sampai 120 GB. Ada juga Vivo Care dengan 12 bulan extended warranty dan 12 bulan gratis penggantian layar. Ini nilainya bisa nyampai Rp9 juta loh ya. Oh ya, untuk bank cashback-nya itu bisa nyampai Rp2,5 juta loh. Jadi kalau dipotong dari Rp24.999.000 ini jadi foldable yang paling murah ya sebetulnya ya. Setidaknya untuk foldable baru yang hadir di tahun 2025. Jadi bisa kita lihat mantap nih sebetul paket-paket bonusnya nih. Oke kita langsung aja masuk sekarang ke hal yang perlu diperhatikan. Front kameranya ini sayangnya hanya mendukung perekaman video sampai 1080 30 fps ya, baik yang ada di cover screen maupun yang di dalam. Untungnya karena ini foldable kita bisa selfie pakai kamera utama kan ya bisa jadi gitu ajaalah kalau mau selfie yang bagus ya. Lalu untuk kons suaranya dari speaker ini masih di bawah harapan kami untuk sebuah smartphone kelas premium. Tapi kalau dipikir-pikir XF 3 Pro itu ya mirip-mirip kayak gini juga sih sebetulnya. Kemudian ada penurunan performa saat main game berat. bukan yang bikin game sampai enggak bisa dimainkan, tapi game jadi arasanya kurang mantap aja gitu, kecuali ya kalau kita pakai kipas tentunya ya. Lanjut untuk daya tahan baterai untuk penggunaan di main screen terasa agak kurang berasa bahwa baterai 6000 mAh. Kemudian ada beberapa keterbatasan di kamera seperti yang sudah dibahas di pengujian kamera tadi. Nah, lalu mungkin ada yang bertanyakan kenapa kok belum pakai SOC premium Gentasi baru? Tapi performance genry harusnya masih sangat-sangat memadai untuk berbagai kebutuhan saat ini. Dan mungkin juga ada yang protes kok fiturnya banyak yang turun seperti fingerprint scannernya itu e bukan under display lagi, charging juga turun dan ada beberapa hal yang lainnya lagi. Oke. Oke. Untuk dua poin terakhir tadi perlu diingat ini XF sementara yang tahun lalu hadir di Indonesia itu XFT 3 Pro. Jadi memang kelasnya beda. Terlihat dari harga awal juga XFT 5 itu harga awalnya lebih rendah dibandingkan XOL 3 Pro tahun lalu. Dan kalau bicara SOC-nya kalau dilihat-lihat tahun lalu ya kalau kita dapatnya Xfol 3 itu pakai Snapdagan 8 gen 2 ya. XF 3 Pro-nya yang 8 gen 3 ya. Jadi kalau dilihat bahwa ini adalah penerus dari Xfolt 3 sebetulnya wajar karena dari keen 3 lagipula ya tadi sudah dibahas ya harga sudah mencerminkan sih sebetulnya. Oke lanjut untuk kelebihannya ini adalah foldable dengan baterai besar dengan babat yang terbilang relatif ringan bahkan ini lebih ringan dibandingkan smartphone premium dengan baterai yang setara. Lalu RAM dan storage-nya udah langsung besar. Enggak ada tuh yang 256, enggak ada tuh yang RAM-nya 12 gig. Lalu daya tahan baterai untuk penggunaan dengan cover screen. Wah, itu mantap banget sih sebetulnya nih ya. Dan ada dukungan perekaman video sampai 4K60 untuk semua kamera di sistem kamera utamanya. Bahkan ada 8K 30 fps untuk VCS True Color main cameranya. Lalu sistem kamera utamanya juga terasa kemampuannya berkelas sesuai untuk smartphone premium ya. Itu semuanya 50 megapel loh tadi ya. Lalu ada kerja sama Vivo dengan Ziz untuk sistem kamera utama khususnya untuk 50 megapel Ziz telefoto kameranya. Lalu cover screen dan main screen menawarkan kualitas tampilan yang tinggi menukung HDR dan brightness-nya juga tinggi. Dan untuk yang main screen tadi enak ya screen protectornya gak banyak pantulan-pantulan gitu. Lalu posisi kamera di main screen ini di pojok ini pas. Ini tidak mengganggu kalau kita nonton film sebetulnya di sini. Mantap nih ya. Refresh-nya juga adaptif bisa turun sampai 1 Hz. Ini berlaku di cover screen dan main screen. Rating ketahanan air dan debunya juga mantap untuk sebuah foldable. mungkin yang paling mantap saat ini, terutama karena ada IP 5X-nya dan ada ekstra di IPX9 juga ya. Nah, kemudian walaupun bukan yang super kencang, charging di smartphone ini udah terbilang relatif kencang sih sebetulnya apalagi melihat baterainya di 6000 mAh. Kemudian dia juga punya dukungan wireless charging, ada USB 3.2 gen one type C kencang untuk transfer dan juga ada support display output. Sudah ada support eim sekarang sensor-sensor juga udah lengkap. fitur khusus multitaskabel-nya juga diperbarui dan makin banyak ya. Kemudian janji OS update-nya itu terbilang cukup baik ya. Selain itu OS digunakan juga bersihlah di sini ya. Enggak ada tuh aplikasi aneh-aneh. Kris juga sekarang lebih samar lagi. Lalu kita bisa lihat bahwa ini adalah perangkat mobile dengan layar besar yang masih mudah masuk dalam saku kita. Lalu ada bonus vivocare untuk extended warranty dan ada gratis penggantian layar 12 bulan juga ya. Oke, Vivo Xolt 5 ini memang belum tepat disebut sebagai pengganti Xolt 3 Pro yang mutlak ya. Ini adalah varian lebih baru yang diposikan di kelas harga yang lebih terjangkau atau bahkan bisa kita bilang lebih murah sebetulnya ya. Memang terlihat ada beberapa aspek premium yang tidak hadir di smartphone ini tapi menurut kami itu tidak membuat XF ini jadi terasa kurang premium. Sebetulnya ini tetap sebuah smartphone foldable premium tapi memang sengaja dirancang agar lebih terjangkau aja. Kamera tetap premium, layar juga premium, konektivitas dan pengalaman pakai tetap terasa premium. Smartphone ini akan cocok untuk yang ingin punya foldable tahun 2025 yang mumpuni tapi maunya harganya tidak terlalu tinggi. Untuk pengguna foldable keluaran 2 3 tahun lalu yang pengin upgrade tapi belum rela keluar dana sampai sekitar R3 jutaan, ini bisa jadi upgrade yang sangat-sangat menarik. Atau untuk yang nyari smartphone premium dengan sistem kamera utama yang mumpuni, ini juga bisa jadi pilihan yang menarik. Secara umum Vivo Xold 5 adalah foldable ringkas ringan dengan kemampuan yang mantap dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Saya D Irfan Jaga TV.

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Vivo

Vivo menghadirkan smartphone dan perangkat pintar dengan kamera canggih serta desain stylish. Vivo dikenal dengan teknologi fotografi inovatif, performa andal, dan fitur modern untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, dan produktivitas.

Vivo X Fold5

Vivo X Fold5 hadir sebagai perangkat premium yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman smartphone lipat kelas flagship. Perangkat ini menggabungkan layar fleksibel berukuran besar, sistem kamera hasil kolaborasi dengan ZEISS, serta performa tinggi untuk berbagai aktivitas modern. Vivo memposisikannya sebagai "Smartphone lipat flagship dengan layar fleksibel luas, kamera ZEISS profesional, dan...