HP Android yang bikin iPhone minder... (YouTube Video)
Perlahan tapi pasti 3 tahun terakhir ini nama Vivo di Indonesia itu mulai wangi nih gara-gara HP ini. [musik] Bismillah, alhamdulillah kita ketemu lagi bareng gua Romi. Iya. Jadi kalau enggak salah itu mulai X100 dan terutama X200 Pro tahun lalu. Orang-orang itu mulai aware kalau kamera Vivo X series [musik] itu bisa diandelin. Nah, kalau teman-teman follow IG Droid Lime, nah itu mayoritas IG reels yang gua post itu bikinnya pakai X200 Pro. Nah, di X300 Pro ini karakternya juga dia masih sama ya. Ini salah satu HP paling powerful buat dipakai ngonten. Pertama, perekaman video di kondisi minim cahaya itu enggak terlalu noise, enggak burik. Kedua, untuk nangkap fokusnya juga cepat dan smooth. Ketiga, ngerekam pakai lensa telenya itu ngasih efek yang natural karena bukaannya lebar. Dan yang keempat nih ya kalau buat nge-vlog pakai kamera depan selain resolusinya tinggi udah ada autofokusnya juga ada mode teleprompternya dan opening video yang lagi teman-teman lihat sekarang ini nih ya. Ini gua rekam pakai kamera depan Vivo X300 Pro. Yang juga jadi game changer adalah lensa telenya juga bisa dengan gampangnya nangkap foto makro. Sesuatu yang masih belum bisa dilakukan dengan proper oleh para kompetitornya. Enggak cuma berlaku buat foto aja, tapi juga ini kepakai banget pas kita ngerekam video, terutama untuk review-review produk kayak yang biasa gua bikin di IG Reels. Dan karena lensa tele 200 megap-nya sepowerful itu bikin gua lebih sering motret pakai zoom ya, buat ngedapetin angle-angle yang lebih kelihatan pro kayak difoto pakai kamera beneran bukan pakai kamera HP. Antara foto 0,5 satu kali 2 kali 3,5 kali 5 kali, 10 kali, 15 kali, bahkan sampai 20 kali. Zoom ini hasilnya cenderung konsisten. Enggak berasa ada warna yang terlalu belang atau degradasi detail yang gimana banget. Nah, FYI si X300 Pro ini juga punya mode stage ya, 2.0 buat nonton konser. Nah, sepengalaman gua hasilnya ini masih proper banget. Seenggaknya sampai 20 kali zoom. Kalau mau di atas 20 kali juga masih bisa, tapi harus dibarengin dengan pencahayaan yang proper juga biar hasilnya itu lebih mantap. Humanistick mode juga jadi andalan gua banget ya buat motret e orang dengan cepat plus ada efek bokehnya. Di mode ini juga bisa pakai lensa tele ya sampai 135 mm. Shutter-nya benar-benar gesit. Gua foto anak gua lagi main ayunan aja itu enggak blur. Tone fotonya juga menarik. Kita bisa pakai tujuh color style yang disediain. Intinya mode ini bisa diandelin [musik] buat dipakai street photography point and shot. Atau kalau mau motret momen yang lebih fast kayak e olahraga itu bisa pakai mode snapshot. Di mode ini pun bisa pakai sampai 20 kali zoom. Semakin proper cahayanya, semakin tajam pula hasilnya. Tapi buat motret indoor pun ini masih aman banget. Kalau mau lebih totalitas lagi. Nah, untuk pertama kalinya tahun ini si Vivo ngebawa juga fotography kit buat X300 Pro. Yang gua terima sih ini boknya gede parah. Isinya ada premium cash, ada built- inick stand yang bikin tongkrongan HP ini jadi lebih keren. Bisa dipasangin grip buat pegangan biar lebih nyaman. Dan di sini pun ada tombol shutter, slider untuk zoom, slider untuk mainin exposure, [musik] dan juga tombol untuk record. Next, kita juga dapat strap ya buat pasangin ke casing-nya. Ada juga decorative ring, ada ring adapter buat filter dengan size 62 mm. Dan ini adalah ring adapter buat nancepin lensa tambahannya. Nah, untuk lensa telefoto extendernya ini bukan yang ecek-ecek ya, lumayan berat dan juga lumayan panjang. Jadi memang cukup effort untuk proses bongkar pasangnya. Tapi gimanapun juga ini tetap jadi sesuatu yang unik dan somehow bermanfaat. banget buat yang hobi mobile fotografi. Lensa tambahan ini ngasih fokal length mulai 200 mm kurang lebih setara empat kali zoom dia sampai dengan maksimalnya di 1600 mm. Dengan adanya lensa ini jelas bisa ngasih jangkauan yang lebih gila lagi dengan hasil yang masih tetap proper. Dan lagi-lagi yang gua suka adalah efek shallow depoo field-nya. Yang ini tuh rasanya udah kayak motret pakai kamera beneran, bukan kamera HP. [musik] Nah, sekarang kita merekam pakai ultra stabilization-nya. Eh, ini sengaja gua rekamnya posisi portret. Jadi, gua akan compare sebelah-sebelahan. Kalau di viewfinder ini karena gua sambil jogging, jadi goyang-goyang ya, Teman-teman bisa lihat sendiri. Tapi hasilnya harusnya ini smooth, jauh berbeda. Dan di ultra stabilization ini kita enggak bisa switch ke ultrawide. Jadi, pilihannya satu kali, dua kali atau 3 seteng kali zoom. Oke, lanjut. Sekarang kita bahas dikit deh ya soal desainnya. [musik] Overall enggak banyak beda dari X100 dan X200 dengan modul kamera bulat menonjol di tengah. Premium udah pasti. Back dooror-nya ini kaca, frame-nya aluminium. Layar dilapis armor glass. Bobotnya lumayan 226 gr hampir setara iPhone 17 Pro Max. IP rating seperti biasa ada IP68, IP69. Oh ya, dari desainnya ini yang gua suka adalah tombol di sebelah kiri atas yang by default kalau ditekan 2 detik ini bisa buat switch ke mode silent dan kalau ditekan cepat dua kali berfungsi buat nyalain flashlight untuk jadi senter. Apakah fungsinya bisa di kita ganti-ganti? Bisa ada di menu [musik] settings. Selebihnya gua juga akan bahas to the point buat spek dan performanya karena sebenarnya bisa gua rangkumin dengan cepat aja ya pakai dua kata. Mantap banget. Chipset dia pakai dimensiity 9.500 00 buat komputasi, ada Pro Imaging Chip VS1 buat processing image. Dan opsi kapasitasnya dia cuma ada satu, RAM 16 gig, storage 512 gig, baterainya 6510 mAh, support 90 watt flash charge. Nah, skorutu hampir Rp3,5 juta yang dihasilin. Ini udah sangat cukup menggambarkan segimana kencang performanya. Walaupun angka kestabilannya di 3D Max rest itu bisa dipastiin ada di bawah 50% ya. Ini udah lumrah ya buat chipset dengan tenaga semonster ini. Gua sendiri paling sering pakai buat ngedit video 4K di CapCut itu lancar jaya enggak kenal nge-lag ataupun nyendet-nyendet. Dan baterainya gua pakai chattingan di primary akun WhatsApp, Telegram, terus juga ngonten ngerekam bikin IG reil sehari-hari dari pagi sampai malam jam 0.00 ini rata-rata masih nyisa 20 sampai 30% ya. yang pernah pakai Vivo X4 ataupun X200 Pro ini pasti relate ya ee ngerasain gimana awetnya baterai HP ini. Next. Soal layar dan juga speaker ini juga literally enggak perlu bahas panjang lebar karena no complain at all. Tolok ukurnya di Netflix kita bisa nikmatin konten dengan HDR ataupun Dolby Vision itu nikmat banget. Last but not least sistem operasinya nih sekarang udah dapat Origin OS versi 6 basisnya Android 16. Kalau kepo apa aja bedanya dibanding Fouch? Waktu itu Fahmi juga udah pernah bikinin videonya. Teman-teman bisa nonton aja langsung. Yang jelas di Origin OS6 ini pastinya lebih responsif dan gesit. Tampilannya lebih fresh. Ada animasi, efek blur, dan juga font baru. Pengaturan lock screen ini makin seru ya. Bisa dikasih animasi atau dekorasi dan depur flip card yang bisa bergerak atau berubah gambar kalau kita gerakin HP ke kanan atau ke kiri. Terus bisa drag and drop juga buat sharing file. Bisa connect ke MacBook ataupun iPhone dengan SIMless buat screen mirroring ataupun file transfer. Dan update OS-nya sekarang ini dikasih sampai 7 tahun. Luar biasa ya. Sebenarnya dengan bikin smartphone kayak gini, Vivo cuma perlu konsisten terus aja sih [musik] ke depannya. HP flagship ini super kencang, kameranya luar biasa, OS-nya semakin menarik. Harga ya emang lumayan. Tapi menurut gua cukup sesua lah. Paling satu aja sih keluhan gua secara personal. HP ini butuh lebih banyak pilihan casing yang menarik biar enggak cepat bosan kalau kita bisa ganti-ganti casing.

















