iPhone Duo: Di Luar Harapan.. (YouTube Video)
iPhone lipat pertama Apple akhirnya ada di tangan gua. Dan pertanyaannya bukan kenapa baru sekarang, tapi setelah nunggu selama ini apakah generasi pertama dari Apple beneran semewah itu atau cuma Apple bantet yang dua kali lebih mahal? Hari pertama pakai iPhone dua ini gua bakal bahas mulai dari unboxing, impresi, software sampai kameranya. Dan ada beberapa hal yang bikin gua kaget senang ataupun kaget kesal. Apa aja itu? [berteriak] Yuk kita bahas. [musik] Oke guys, ini nih dia masih anget dan baru aja gua ambil dari Apple Store jam 8 pagi tadi. [bersorak] Dan karena ini spesies baru keluarga iPhone, unboxing-nya kita bikin lebih detail ya. Jadi jangan buru-buru. Dari depan udah kelihatan gambar HP-nya sedikit bengkok. Kiri kanan ada logo Apple kegigit, atas bawah tulisan iPhone. Dan di belakang, nah ini penting. Dua tera euy, aku kaya. Enggak enggak enggak enggak, gua bukan sultan ya. Nanti gua ceritain kenapa bisa kejadian yang kayak gini. Buat bukanya peel-nya ada di atas sama di bawah. Eh, tapi sebelum buka gua ada rahasia buat kalian. [musik] Coba kita sorot pakai ini. Ayo ada logo apa tuh? Keren ya. Detail kayak gini sih yang bikin unboxing Apple enggak pernah ngebosenin. Dan langsung disambut sama HP-nya yang lagi telentang pasrah gini. Terus diselimutin kertas pembungkus yang juga baik hati dia. Kasih tahu duluan di sini ada volume, di kanan power button sama kamera kontrol, dan kalau mau nge-charge ada di kiri bawah. Di dalamnya ada kabel braided alias kepangan dan enggak ada SIM ejector ya. Bukan lupa dimasukin, tapi emang HP ini e-SIM only. Enggak bisa dimasukin SIM card fisik sama sekali. Beh, kerasa ya premium-nya. Frame-nya mengkilap gini kayak perhiasan. Dan pas dibalik layar luarnya kerasa lebih kesat, matte dengan bulatan kamera selfie di sini nih. Nama kerennya kalau kata [berdehem] Apple nano Yang artinya enak dielus. Pas dibuka, crease atau lipatannya enggak berasa sama sekali tuh, benar-benar mulus. Tapi ini masih hari pertama sih, kita lihat beberapa minggu lagi masih mulus enggak tuh. Oh ya, HP ini ada dua warna. Star White punya gua sama Night Sky. Pas gua lihat langsung di Apple Store tadi, frame Night Sky-nya itu enggak semengkilap yang putih. Cuman buat jiplakan sidik jari lebih tersamarkan di Star White ya. Jadi kalau kalian tipe yang malas ngelap HP, yang putih lebih aman. Ya udah, langsung aja kita nyalain untuk pertama kalinya. Tada! Ada logo Apple, terus tulisan hello dari berbagai bahasa. Lanjut setup kayak biasa. Dan ini nih yang baru. Kita mesti registrasi sidik jari dulu. Jadi di Duo ini udah enggak ada tuh goyang-goyangin kepala lagi, Guys. Dan kelar juga, Guys. Mari kita coba lipatan pertama. Beh, gile. Oke, mari kita mulai dari impresi Duo ini sebagai HP biasa dulu. Pas dipegang, feel iPhone Air-nya berasa banget. Kilauan frame-nya sama kameranya memanjang ke samping. Cuma ini versi bantetnya. Frame-nya dari titanium, engselnya juga. Premium sih, no debat. Tapi premium itu ada harganya dan harganya bukan cuman duit. Yaitu ketebalan. Pas dilipat, Duo ini 11,3 mili. Sedangkan iPhone 17 Pro Max gua sama persis kayak 18 Pro Max ya, cuman 8,75. Jadi terpaut 2,5 mili tuh. Dan ini kerasa loh ditaruh di kantong. Kalau dibuka, si Duo ini jadi 5,2 mili, iPhone paling tipis yang pernah Apple bikin. Nah, tapi kalau dibandingin sama Fold 8, ceritanya beda. Fold 8 dilipat itu 9,7 mili, dibuka 4,5. Lebih tipis di dua-duanya. Ini tahun ke-8 Samsung bikin beginian ya, jadi wajar aja. Sedangkan beratnya juga Duo itu 254 gram, 17 Pro Max 231, 18 Pro Max 249 dan Fold 8 201 gram. Jadi Duo ini 53 gram lebih berat dari Fold 8. Buat gua beratnya ini yang paling kerasa sih dan gua enggak yakin ini sesuatu yang bisa dibiasain setelah beberapa minggu, tapi ya kita lihat aja. Terus yang didapat dari berat segini salah satunya itu ya IP 68, tahan air dan tahan debu penuh. Fold 8 itu cuma IP 48 ya, debu halus itu masih bisa masuk. Jadi tebal dan berat ini ada tukarannya. Di sebelah kanan HP ini ada power button yang nyambi jadi charge touch ID. Dia sedikit lebih naik juga ya dari frame. Jadi kalau cuma diraba doang kita tahu posisinya, mantap. Dan ya enggak ada Face ID. Jadi jempol kanan kalian bakal sering bersilaturahmi ke sini. Di bawahnya ada kamera kontrol yang sebenarnya gua berharap kenapa enggak dikasih action button ya yang justru malah enggak ada di Duo ini. Terus ini nih volumenya yang ada di atas. Aneh? Awalnya sih iya, tapi gua ngerti kenapa Apple taruh di sana. Jadi pas dipakai posisi tenda gini volumenya masih bisa dipencet ya enggak ketutupan. Di Fold 8 posisi volumenya itu nyelip tuh. Selain itu impact-nya lebih ke cara pegang sih. Buat gua pencet-pencet tombol lebih enak pakai tangan kiri karena posisinya lebih natural. Adjust volume lebih enak apalagi sambil screenshot. Kalau pakai tangan kiri lumayan rempong di tangan gua. Tapi ya kalau ngomongin navigasi layar mau enggak mau pakai tangan kanan sih karena kalian tahu kan yang dock atau app-app utamanya ada di kanan. Yang sabar nanti kita kupas tuntas di belakang. Buat MagSafe tenang ada juga tuh. Kalian bisa lihat bulatan ini magnetnya ya dan ada sedikit beda karena di tengahnya ada magnet juga tuh. Beda sama iPhone 17 Pro Max gua yang tengahnya bolong. Waduh, ada yang tahu ini apa enggak ya? Yang jelas dari pegang doang gua sudah tahu sih, ini bukan iPhone yang bisa kalian pakai sambil setengah sadar. Apalagi amit-amit ya kalau sampai jatuh. Dan kalau kalian mau tahu beratnya bakal kebiasa atau enggak setelah pakai beberapa hari atau minggu ke depan, pastiin subscribe, oke? Sekalian biar cepat-cepat 1 juta subscriber dan collab sama Gadgetin. Thank you. Lanjut, sekarang kita ke bagian yang bikin orang beli HP ini, yaitu bisa dibuka. Pertama yang gua notice, feel bukanya ini cukup bervariasi. Jadi pas awal sudutnya segini nih, berasa enteng. Terus menuju tegak makin berat. Dari sini terus ditekuk lagi tekanannya masih sama. Dan habis itu kebuka penuh. Oke, jadi di sudut berapa derajat sih iPhone Duo ini mulai ngejengkang? Kita lihat. 141, masih tahan. 144, 149, masih tahan. 150, ya. Wah, oke. Di sekitar 150-an sudah mulai ngejengkang, Guys. Kurang niat apa gua sampai gua bikin ini aplikasinya. [tertawa] Dan animasi pas dibukanya gini, gua ingat kayak lagi buka kulkas di supermarket enggak sih? Apalagi yang lagi berembun. Lucu sih, tapi enggak cuman lucu karena ini benar-benar ngikutin sudut engselnya. Bukan animasi yang jalan sendiri. Feel nutupnya juga mantap, kayak nutup pintu mobil mahal. Bukan yang tidak terganti. Nah, itu satu detail kecil yang gua suka. Pas dibuka rata gini, bagian tengahnya benar-benar mulus. Enggak ada gundukan engsel kayak di kebanyakan HP lipat. Jadi rasanya kayak pegang satu lembar kaca, bukan dua layar yang dijahit. Nah, buat layar dalamnya ini bagian yang enggak kerasa kayak HP generasi pertamanya sama sekali sih. 7,6 inch, 120 Hz, dan brightness-nya sama kayak layar luarnya yang 5,4 inch di 3000 nits. Jadi enggak ada rasa layar dalamnya itu kelas kedua. Lalu teksturnya juga mantap banget, pas disentuh itu ada rasa kesat-kesatnya, enak. Dan tugas utamanya yaitu nyamarin crease. Lipatannya masih ada ya, tapi minim. Apalagi kalau dibandingin sama HP lipat yang layarnya mengkilap kayak di Fold 8 ini. Nah, ini lagi-lagi kalau dalam keadaan mati, kalau sama-sama nyala dan gambarnya terang hampir enggak kelihatan. Tapi layar gini ada komprominya, karena matte dan anti-reflective secara gambar jadi enggak terlalu nendang, kontrasnya kurang, saturasinya juga. Cuma ya enggak terlalu yang banget-banget pucat sih. Kalau gua buka foto sama yang di layar luar yang mengkilap terus pindah ke layar dalam, ada kerasa bedanya. Oh ya, satu lagi yang kelihatan di layar dalam, bulatan kamera selfie-nya, dia itu di bawah layar ya. Jadi kalau background-nya gelap, kelihatan ada bulatan yang agak beda teksturnya. Kalau background terang bakal hilang, dan kualitas gambarnya nanti kita bahas di segmen kamera. Jadi dari sisi hardware, pas dibuka ini udah kayak Apple berpengalaman banget sih bikin HP lipat. Tapi yang masih kerasa generasi pertama, justru pas gua mulai buka app. Dan ini kerasanya langsung, bukan kerasa berhari-hari. Banyak app yang gua pakai sehari-hari belum sinkron sama Duo. Tampilannya jadi gini, Guys. App-nya di kiri, terus ada area hitam memanjang di kanan, lumayan buang ruang. Dan yang bikin tambah enggak enak dilihat, pas keyboard-nya keluar dia enggak sejajar sama app-nya sih, malah nimpa area hitamnya. Ya, gua ngerti biar ngetiknya lebih lega, tapi masih enggak biasa aja gitu lihat perpotongannya. Enggak sampai situ, pas dibuka ke layar dalam sayangnya juga gitu. Misalnya app yang kayaknya belum disentuh sama sekali sama developer-nya. Contohnya yang gua sempat coba itu Google Docs, kacau sih cuman kayak dimelarin doang. Terus unlock, ada sedikit delay tiap kali kita taruh jari. Cuman ini dari yang gua baca sih disengaja katanya biar orang yang cuma mau lihat jam atau notif sempat lihat lock screen-nya dulu jadi enggak langsung ke unlock. Tapi kalau dipikir ya, kan kita bisa double tap buat lihat jamnya enggak sih? Ya entahlah, gua cuman keingat Face ID kalau bisa ngomong kayaknya dia bakal bilang gini deh. Cuma tentunya enggak semua app kayak gitu ya, ada yang jalan dengan sempurna dan justru bikin gua impress. Terutama app bawaan mereka, Books, Safari dan beberapa app pihak ketiga yang udah gerak cepat pakainya enak banget. Netflix misalnya. Pas dibuka setengah ada pantulan di layar bawah dan ini pantulan bikinan loh. Jadi app-app kayak gini tuh bukti kalau semua app udah optimal pengalaman pakainya bakal semenyenangkan ini. Tapi ya pertanyaan besarnya, kapan? Ya semoga dalam beberapa bulan ke depan. Dan terlepas dari app, banyak juga komponen yang dirombak Apple di iPhone Duo ini. Yang buat gua menarik misalnya pas swipe ke bawah dari pojok kanan dia bakal buka Control Center, dari tengah Siri dan pojok kiri notifikasi. Cuma lagi-lagi karena layarnya kelebaran jujur agak susah sih tarik notifikasinya pakai tangan kanan ini. Nah ini, kecuali ini nih guys. Narik. Notif dari sebelah, nah dari sebelah kiri susah banget masih pakai dua tangan sih baru bisa. Home screen-nya juga diatur ulang. Dock yang biasanya di bawah dipindah ke samping kanan. Terus tiga icon status digabung jadi satu, lingkaran atas baterai, tengah Wi-Fi, titik-titik ini sinyal seluler. Jamnya juga pindah ke atas tuh. Dan kalau di swipe ke bawah mereka berpencar. Ini kayak Power Rangers tapi terbalik, biasanya dipanggil baru gabung tapi ini dipanggil malah bubar. Dynamic Island-nya juga sekarang di samping dan animasinya keren-keren sih, enggak kaku. Kalau Dynamic Island-nya lebih dari satu app, dia bakal muncul di bawah, tetap bisa di-swap, cuman arahnya atas bawah. Dan kenapa sih semuanya ditaruh di sebelah kanan, bukan atas bawah kayak HP lipat lain? Kalau menurut ilmu sotoy gua, supaya informasi yang kita lihat tetap banyak dengan rasio layar yang sama kayak HP batangan. Jadi area hitam tadi sebenarnya itu punya alasan ya, cuma baru benar-benar kerasa kalau app-nya udah ikut update dan taruh kontrolnya di kanan semua. Habis itu selain animasi buka tutup di awal tadi, hal kedua yang pengen banget gua cobain adalah Eh, beneran glowing dong. Keren [tertawa] sih. Glowing. Mantap. Belum lagi animasi-animasi kecil lain kayak pas tutup kamera selfie dalam, tompel selfie-nya tiba-tiba menciut dan ngilang sendiri. Maknyus tuh. Dan terakhir yang patut kita bahas dan rayakan adalah untuk pertama kalinya split screen ada di iPhone, Guys. Caranya gampang, buka satu app, swipe ke atas dan lempar ke samping. Terus buka app kedua, jadi dua-duanya sejajar kiri sama kanan. Habis itu kalau kita tap garis pembatas di tengah, dua app ini bakal dikunci. Jadi pas di-swap ke atas, dua-duanya ikut. Udah kayak satu kesatuan app yang dipisah. Dan kalau kita tap salah satunya dari home screen, nongol langsung tuh berdua. Terus lihat deh gimana Apple bikin ini kelihatan kayak buku. Tuh, di bagian atas sama bawahnya dibikin lengkungan gitu ya. Detail kecil tapi keren sih. Dan kalau ada link pas diklik, nanti hasilnya bisa nongol di sebelah kanan Dan sekarang batasannya, pembagiannya cuma 50-50 tuh. Bisa digeser-geser, tapi ujung-ujungnya balik lagi. Dan ini cuman jalan di posisi landscape ya. Kalau HP-nya diputar portrait, split screen-nya nya Cuman ada satu pengecualian yang enak. Kalau di portrait kita pakai satu app buat nonton, dia bisa nyesuain video di atas dan app lain di bawah. Dan karena ini iPhone, gua wajib nyobain ini sih. Instagram di kiri, YouTube short di kanan. Dan ini baru namanya dual brand, bro. Cuma satu catatan, suaranya cuma keluar dari satu app. Jadi dua-duanya gerak, tapi yang bunyi cuma satu. Ya, mungkin ini salah satu cara Apple buat nyelamatin otak kita. Oke, cukup dengan persoftware-an. Sekarang kita bahas gimana kameranya. Oke, kamera. Dan karena ini hari pertama, gua belum bisa ngomong banyak ya. Yang jelas dia punya dua lensa 48 megapixel, wide dan ini ultra wide-nya, guys. Telefoto nya dia enggak ada ya. Jadi kalau kalau dibandingin sama 18 Pro Max, jelas untuk zoom-zoom gitu lebih baik. Kalian bisa lihat nih hasilnya. Untuk zoom fotonya dia bisa mentok sampai 10 kali, sedangkan videonya 6 kali ya. Terus kalau buat lensa utama sama ultra wide, di kondisi daylight gini, jujur agak susah buat gua bedain sih. Cuma gua yakin bedanya itu bakal lebih berasa pas low light. Cuman yang udah pasti kurang itu selfie di layar dalam, karena dia under display. Kalian bisa lihat sendiri hasilnya di dalam ruangan kayak gini. Dan kalau dibanding sama selfie di layar luar, apalagi lensa utamanya, berasa banget tuh bedanya. Tapi Apple sendiri bilang kalau selfie layar dalamnya ini lebih buat ke FaceTime sih. Makanya dinamain FaceTime kamera. Oh ya, cara selfie pakai lensa utamanya itu gampang ya. Tinggal balikin HP-nya, ada tombol slide to open. Geser terus layar luarnya jadi viewfinder dan kita bisa selfie pakai kamera utama. Dan inilah kenikmatan pakai HP lipat, Guys. Cuma kalau pakai kamera utama gini, kita jangan lihat ke layar ya, tapi matanya lihat ke kamera nih. Jadi mesti dibiasain. Kalau gini lebih enak kan dibanding kalau lihat ke layar kayak gitu, Guys. Buat video dia bisa sampai 4K 120 FPS, tapi enggak ada ProRes, log, ataupun pro raw. Jadi kalau kalian memang profesional video atau fotografer, ya beda kelaslah ya sama varian pro-nya. Sesuai nama aja, iPhone Duo, bukan Duo Pro atau Duo Pro Max. Selain itu ada fitur baru kayak Duo Preview, Quick Q, sama start start lagi, smart tag yang bakal gua kulik lebih lanjut di video selanjutnya. Dan kalau kalian enggak sabar pengin lihat update-nya, kasih sinyal ke gua dengan like video ini ya. Kalau rame, gua bakal kebutin buat konten selanjutnya. Oke, ini baru hari pertama. Jadi ini bukan kesimpulan, tapi lebih ke kesan ya, Guys. Yang udah jelas dari sekarang, hardware-nya bukan kerasa generasi pertama. Engsel, layar dalam, nano texture, detail-detail kecilnya, itu Apple banget. Yang masih kelihatan cupu itu ada di app-nya. Dan ini butuh waktu buat beresin. Enggak cuman dari Apple, tapi si developer app. Yang belum bisa gua jawab itu ya beratnya kebiasa atau enggak setelah pakai lama, crease-nya tetap mulus atau enggak, baterainya tahan lama atau enggak, dan kameranya gimana pas dibawa keluar. Empat hal itu sih jawabannya ada di video selanjutnya. Dan di hari keempat, gua bakal terbang nyusul nyonya sama bocil yang tadi pagi udah jalan duluan. Oh iya, kenapa gua ambil yang 2 TB? Jadi pas pre-order kemarin tuh, sebenarnya gua sempat enggak kebagian, Guys. Udah habis di mana-mana. Dan sisa tinggal 2 TB aja. Jadi daripada nunggu sampai tahun depan, ya udah gua ambil. Dan gua juga masih belum tahu ya bakal lanjut pakai HP ini atau enggak. Kita lihat aja nanti perjalanannya. Jadi buat sekarang, satu pertanyaan, Guys. Kalau kalian pengguna iPhone, apa yang bakal paling kalian kangenin dari iPhone biasa? Face ID, telefoto, atau beratnya? Coba kasih tahu di komen deh. Thank you dan sampai ketemu di video selanjutnya. Bye bye.
Video Lainnya
Pasar ponsel bekas sering kali menyimpan permata tersembunyi yang menawarkan rasio harga dan performa luar biasa. Penasaran lini flagship lama mana yang masih...

















