Mediatek Kok Begini? Gak Salah? Review Mediatek Dimensity 8450 feat. OPPO Reno 14 Pro 5G (YouTube Video)
Pernah kepikiran enggak kalian kok Mediatek 8000 series performanya jadi super kencang? Dari smartphone yang pernah kami uji terasa sekali lompatan yang ekstrem sejak di Man City 8.300 series. Tadinya Mediatch mengkategorikan 8.000 series sebagai kelas premium, satu level di bawah flagship-nya yang kelas 9000 series. Tapi rasanya kok dimensi 8000 series ini sekarang sudah terlalu mirip dengan flagship-nya ya. Dimulai dari dimensi 8.300 lalu yang 8.400 1400 dan sekarang ada yang baru lagi nih di Man City 8450. Contohnya seperti yang ada di Oppo Reno 14 Pro 5G ini. Ini adalah contoh smartphone yang bisa menunjukkan seperti apa potensi dari SOC di Man City 8450 ini. Nah, bagaimana performanya? Langsung simak aja review kami kali ini. [Musik] Ya, ini adalah smartphone Reno series terbaru dari Oppo. Oppo Reno 14 Pro 5G. Reno Series ditunjukkan OPPO sebagai smartphone kelas menengah premium dan bisa menghadirkan fitur smartphone kelas atas dengan harga yang lebih terjangkau. Oppo Find X8 series belum masuk dalam budget. Yang jelas ini bisa jadi pilihan. Apalagi sekarang sudah pakai Dimensity 8450. Reno sekarang jadi naik kelas secara signifikan. Tadinya sejauh kami menguji Oppo Reno series, kami merasa ada jenjang yang cukup terlihat antara Fine series dengan Reno series-nya. Dan itu memang wajar, namanya juga beda kelas. Tapi seiring makin canggihnya SOC, jarak antara kelas menengah premium dengan flagship jadi tidak sejauh itu lagi. Soalnya dari pengujian Oppo Reno 14 Pro 5G ini bagi kami sudah mirip sekali seperti smartphone kelas flagship. E kok bisa? Nah, gimana ceritanya? Kita bahas dulu dari paket penjualannya ya. Tentunya di sini ada unit smartphone dengan screen protektor yang terpasang. Lalu ada chargernya, ada chargernya, ada chargernya. Ini adalah charger 80 watt superf dan tentunya ada kabel USBC, ada case juga, ada sim tray ejector, ada paket dokumen. Jadi ini paket penjualan yang termasuk sudah cukup lengkap. Dari segi desain terlihat jelas ya dari mana inspirasinya. Hmm, jelas banget ya dari desain modul kamera, frame sampai ke lengkungan-lengkungan layarnya ya. Oppo sendiri sudah menyatakan di publik kalau Oppo sudah jadi Pro dengan Apple. Jadi ya enggak heran kalau ada kemiripan di beberapa bagian. Bagi kami yang penting bodinya termasuk nyaman digenggam, terasa solid dan premium. Sama sekali tidak terasa seperti smartphone kelas menengah. Ini udah berasa flagship. Nah, untuk pilihan warna itu ada titanium gray seperti unit yang pegang ini dan ada warna opal white yang jadi hero color-nya Oppo. Dari segi materialnya, sisi frame-nya dari metal dan sisi back covernya dari kaca. Selain menambah kesan premium, ini juga hal yang baik dari sisi penyebaran suhu. Nah, untuk dimensinya tinggi 163,35 mm, lebar 76,98 mm, dan ketebalan di 7,48 sampai 7,58 mm tergantung varian warna. Yang grey lebih tipis, yang white lebih tebal sedikit. Nah, untuk bobotnya ada di kisaran 2011 gr. Nah, untuk bodinya udah dapat sertifikasi IP66, IP68, dan IP69. lengkap ya tahan semprotan air baik suhu normal maupun ekstrem dan sudah tahan kecebur ke dalam air juga. Tapi tetap aja bukan berarti cocok untuk dipakai berenang. IP rate ini lebih untuk jaga-jaga aja kalau enggak sengaja kecebur atau enggak sengaja kesiram atau kesemprot. Di sisi kanan kita lihat ada tombol power, tombol volume up and down. Lalu di atas ada mikrofon, ada infrared blaster, dan ada grill speaker stereo bagian atas. Di kiri ini kosong ya. Hm. Harusnya ada isinya nih kiri ya. Nah, di sisi bawah ada sim tray dual sim. tidak ada slot micro SD di sini. Lalu di sebelah slot SIM ada mikrofon, ada USBC, dan grill speaker stereo bagian bawah. Speakernya sini tergolong impresif ya. Suaranya jernih, detailnya oke. Dipakai dengerin musik yang ramai juga separasinya tergolong bagus nih ya. Udah asik dipakai nonton, dengar lagu maupun untuk gaming. Beralih ke depan ini adalah layar AMOLED 6,83 inci. Resolusinya 2.800* 1272 piksel. Untuk brightness, Oppo mengklaim bisa mencapai 600 nits tipical dan 1200 nits untuk HBM. Saat kami uji hasilnya untuk indoor ada di 594 nits dan untuk simulasi outdoor beratasnya bisa mencapai 1.200 nitz. Tanpa banyak syarat dan ketentuan hasil tesnya udah langsung sesuai dengan klaimnya Oppo. Terkait warna layar di sini ada tiga mode warna. Ada mode natural, Pro, dan Vivit. Untuk yang natural diarahkan ke 100% SRGB untuk pro ke 100% DC IP3. Vivit untuk tampilan yang lebih gonjreng dengan coverage di 99% di CP3 dan volume di 111,9% dp3. Pro atau vivit ini lebih cocok untuk nonton atau main game ya. Sementara untuk mode natural ini lebih pas untuk editing konten. Untuk refresh rate layar ini up to 120 Hz, adaptif dari 60 sampai 120 Hz. Always on display tentunya ada dan beneran bisa menyala ya, bukan yang 10 detikan nih. Emang di sini belum ada klaim untuk touch sampling rate-nya, tapi saat kami tes tidak merasa ada delay yang mengganggu ya. Dipakai ngetik, swipe-swipe tap-tap, main game pun lancar-lancar aja. Untuk layar sentuhnya juga sudah support sampai 10 jari sekaligus. Nah, untuk basel layarnya ini terhitung sangat tipis dan tergolong simetris untuk seluruh sisinya. Ini aman ya, Kris tidak komplain soal baselnya di sini. Nah, di si layar ini ada in display fingerprint scanner yang akurasi cukup baik. Selama kami uji, lancar-lancar aja sih fingerprint scanner-nya ini. Kita lanjut ke bagian atas layar. Di sini ada earpiece untuk nelepon dan ada kamera selfie 50 megap f2.75 auto fokus. Penting nih ya. Autofokus. Jarang banget nih soalnya ya. Perekaman videonya up to 4K 60 fps. Kemampuannya ini sudah dianah selfie class flagship loh. Belum banyak yang bisa seperti ini. Bahkan yang tidak normal adalah Find X8 Pro aja enggak dikasih selfie autofokus. Ini di Reno malah ada. Beralih ke sisi belakang ya, ada modul tiga kamera yang kameranya terdiri dari kamera utama 50 megapel dengan sensor Omnivision dilengkapi dengan optical image stabilizer dan bukanya F1.55. Perekaman video maksimum sampai 4K 60 fps. Slow motion tersedia di sini sampai 1080p 480 fps. Lalu ada kamera ultra wide resolusinya 50 megap lagi auto fokus juga. Jadi kamera ini bisa berfungsi sebagai kamera makro juga. Sensornya lagi-lagi Omnivision. Perekaman video juga sama 4K 60 fps juga. Akhirnya bukan ultrawide 8 megapel lagi yang dipakai di sini ya. Enggak seperti yang ya sudahlah lanjut. Lalu kamera satu lagi adalah telefoto 3,5 kali optical zoom resolusinya 50 megapel juga dan perekaman videonya sampai 4K 60 fps juga. Uh, semua kamera 50 megapel, semua kamera autofokus dan semua kamera bisa merekam 4K 60 fps. Ini biasanya cuma kita temukan di flagship dan ini Reno ya, bukan yang kelas fine loh sebetulnya sahabat. Apa kameranya? Nanti kita lihat dalam pengujiannya. Untuk fitur ekstra ada cukup banyak ya. Bisa dilihat aja di menu kamera yang satu ini ya. Kita langsung aja masuk ke spesifikasi internalnya. Untuk SOC-nya dia pakai Mediatch Demens City 8450. Meskipun ini seri 8.000 tapi fitur-fitur yang ditawarkan sudah seperti kelas flagship. Contohnya sekarang di dimensi 8450 pakai all big core ya. Jadi semua core-nya core besar alias pakai core performance semuanya. Lebih spesifiknya dia pakai 8 core Cortex A725. Konfigurasinya adalah 1 core bisa nyampai 3,25 GHz, 3 core bisa nyampai 3 GHz, dan ada 4 core yang bisa mencapai 2,1 GHz. CPU-nya punya L3 cash 6 MB dan juga system cash 5 MB. Jadi ini udah mirip dengan dimensi 9400 yang udah pakai 8 core performance semua. Magnetic berhasil membuktikan kalau tanpa core hemat daya pun konsumsi daya tetap bisa efisien dan tidak akan menguras baterai secara signifikan. Tapi tentunya itu tergantung bagaimana proses smartphone meracik software-nya juga ya. Nanti kita lihat di bagian pengujian baterainya seperti apa. Nah, dari sisi GPU-nya dia menggunakan Mali G720 MC. Ini disebut Mediatchek sebagai flagship grade GPU. Salah satunya karena dia sudah support rate tracing. Ya, ada support rcing di sini. Perlu dilihat untuk kemampuan retracing ini juga bergantung pada game developernya ya. Apakah game developer ini mau mengembangkan teknologi ini ke dalam game mereka atau tidak. Setidaknya kalau nanti game-nya sudah bisa retracing, nah SOC-nya udah siap. Fitur ini akan makin relevan seiring dengan peluncuran Android 16 nantinya. Dengan Android 16, Google lebih mendorong game developer untuk mengadopsi rate racing dengan menyediakan SDK yang lebih matang dan contoh implementasinya seperti apa. Selain itu, ada juga Mediatch Hyper Engine Adaptive Gaming Technology 3.0 untuk optimalisasi terkait touch latency, dan juga jaringan. Ada juga fitur frame rate converter yang membantu mencegah kestabilan FPS selama bermain game menghadirkan gerakan yang mulus dan minim dari lag. Ya, yang tidak kalah menarik adalah ISP-nya atau image signal prosesornya yang sudah menggunakan Magic 1080. Ini menawarkan kemampuan insensor zoom yang baik dan juga HDR video recording untuk seluruh jarak zoom. Hebatnya, dia sudah support 4K 60 fps HDR anti shake video recording. Proses HDR jalan, 4K60 jalan dan bisa stabil juga videonya. Ini adalah salah satu tanda kalau ISP-nya sudah benar-benar ada di level flagship. Dan ada satu fitur spesial yang tidak dimention di MediaTek di website resminya ya, tapi ini berpengaruh besar pada pengalaman kamera. Nanti kita akan tunjukkan dalam pengujian kameranya. Yang jelas kamera smartphone ini melampaui ekspektasi kami. Lanjut dari segi AI, SOC ini menggunakan NPU 880 gen AI Engine. Untuk RAM-nya 12 GB LPDDR 5X dan storage untuk unit kami ini ada di 512 GB UFS 4.0. Support RAM dan storage kencang ini juga jadi hal yang membuat dimensi 8450 ini terlalu mirip dengan flagship. Untuk baterai 6 mAh dengan wire charging 80 wat supervook. Wireless charging-nya dia pakai 50 watt Airvook ya. Menarik ya. Reno series dikasih wireless charging dan fitur yang biasanya itu kita temukan di smartphone class flagship. Untuk sensor lengkap dong ya. Sensor yang esensial ada semua dan gyiroskop hardware jelas ada di sini. Untuk OS dia pakai color OS 15 berbasis Android 15. Untuk update OPPO menjanjikan 5 kali Android update dan 6 tahun security update. Wah, ini Renault loh. Update-nya bahkan lebih panjang dari beberapa flagship yang ada di Indonesia. Lanjut untuk fitur keamanan. Dia punya in display fingerprint scanner dan face unlock. Untuk kektivitas tentunya 5G udah bisa ya sesuai dengan namanya ya. Jadi 2G, 3G, 4G, 5G bisa semuanya. Wii-nya udah langs Wii 6. Wii sharing pun tersedia. Bluetooth versi 5.4 dan untuk Bluetooth cordexnya ada banyak. Lihat dalam menunya ini aja ya. Lihat ya. Banyak kan? USB OTG jelas bisa, NFC juga ada. Untuk display out, nah ini memang belum bisa. Ini masih jadi jatanya Find X8 series. Harganya juga lebih terjangkau. Jadi ada pembeda sedikit seperti ini ya wajar-wajar aja sih. Nah, untuk transfer file sudah ada fitur quick share bisa untuk Android dan untuk Windows juga. Lalu ada juga Olnect kalau misalnya butuh transfer ke iPhone atau ke MacBook. Oke, sekarang kita lihat performanya ya. Kita mulai dari benchmark dulu. Untuk mendapatkan skor maksimum, kita style dulu mode baterai ke high performance mode. Untuk AnTunya, AnTutu 10 dapat Rp1.640.000-an. Untuk Geekb 6 kita dapat single core 1631 dan multiore di 6.569. Untuk GFX Bench car chase off screen 1080p dapat 133 fps. 3max sling shot extreme unlimited graphic scornya di 22.435. Sementara untuk 3DMX solar Bay ini untuk yang rate racing ya, dia dapat 25 fps. Sekarang kita lihat stress testnya ya dengan 3DMark wildlife stress test. Best score-nya ada di 10.941 dan lowest score di 8.059. Stability-nya ada di 73,7%. Kalau pakai kipas ini bisa naik ke 90,5%. Nah, skor-sor benchmart tadi menunjukkan kalau level performanya memang sudah masuk ke level flagship sangat kencang dan sudah mirip seperti SOC flagship keluaran tahun lalu. Oke, kita lanjut untuk gaming ya. Nah, untuk game kita mengatur mode performanya lewat menu overlay-nya. Ini kami uji dengan performance mode supaya performa gaming-nya maksimal. Kita mulai dari Mobile Legends dulu. Untuk Mobile Legends, graphicsnya bisa ultra dan frame rate bisa kita setel di ultra juga. Dengan setting rata kanan seperti ini, game bisa berjalan di 120 fps lancar. Dimainkan tiga match berturut-turut pun masih bisa bertahan di atas 100 FPS. Suhu juga aman banget. Kalau dimainkan dengan setting 60 fps bisa lebih ringan lagi. Suhunya juga adem-adem aja. Buat push rank ini udah asik banget nih ya. Bahkan bisa dibilang ini sudah sesuai dengan klaim Oppo dan Mediatek. Di mana smartphone ini bisa dimainkan 10 jam berturut-turut dengan setting medium 60 fps. Lanjut ke Real Racing 3. Game ini sayingnya masih nyangkut di 60 Hz ya. Jadi frame-nya juga nyangkut di 60 fps. Apapun setting refresh rate-nya hasilnya sama aja. Bukan berarti HP-nya enggak kencang. Bukan. Ini game-nya aja yang enggak detect ya. Lanjut untuk Subway servers. Sayangnya ini juga nyangkut di 60 fps karena refresed layarnya itu juga nyangkut di 60 Hz. Mau diatur ke 120 Hz pun akan turun lagi ke 60 Hz saat game-nya dijalankan. Tapi ini bukan masalah besar ya selama game-nya memang jalan mulus dan lancar. Lanjut untuk PUBG Mobile. Setting maksimumnya bisa digis smooth dengan frame rate di ultra ekstrem artinya 120 fps. Saat dimainkan juga lancar di 120 fps. Ini udah siaplah untuk level kompetitif. Kita coba mainkan selama 1 jam juga enggak turun-turun ya. Performanya selalu bisa dipertahankan di atas 100 frame pers. Gero aing juga lancar dan responsif. Kita enggak nemuin masalah sama sekali di sini. Lanjut ke watering waves. Kita coba mainkan di setting mentok kanan dan game ini bisa jalan mulus lancar. Saat traveling bisa dikisaran 55 fps. Saat battle intense dia bisa drop ke 30-an FPS. Tapi itu pun sekali doang ya. Rata-ratanya masih dikisaran 40-an frame pers. Jadi SOC ini sudah sanggup untuk main game yang satu ini dengan setting maksimal. Lanjut ke Gensin Impact. Kita mainkan di setting highest 60 fps selama setengah jam. Frame rate lancar di 60 fps untuk sekitar 6 menit pertama. Setelah itu frame rate naik turun di kisaran 50 sampai 60 fps. Lalu setelah menit 14 frame rate turun ke 40-an FPS dan lalu beberapa menit kemudian bisa naik balik lagi ke 60 fps. Ini berulang sampai kisaran 27 menit. Di menit ke-27 frame rate ditahan di 40-an FPS sampai penghujan selesai. Sekarang kita cek suhunya. Suhu di sisi layar paling panasnya itu ada di 43 derajat Celcius. Sementara di body belakang itu paling panas di 43 derajat Celcius juga. Suhu sisi frame juga sama di 43 derajat Celcius. Untuk suhu segini sih masih tergolong anget-anget aja ya. Belum yang mengkhawatirkan. Jadi terlihat sepertinya Oppo sedikit menurunkan frame rate demi menjaga suhu supaya enggak terlalu panas. Di sini penyebaran suhunya sangat baik tapi di satu sisi tangan kita akan merasakan panasnya di seluruh sisi bodinya. Meskipun demikian, ini hal yang baik untuk SOC-nya ya. Dengan performance seperti ini, ranking geninnya layak dapat ranking S minus. Nah, mau lebih lancar? Gampang pakaiin kipas aja. Baru deh frame rate-nya mulus, lancar 60 fps tanpa throttling sama sekali. Dan kalau pakai kipas rankingnya berubah jadi S plus. Oke, sekarang kita lanjut ke pengujian kamera. Seperti biasa bareng sama Kris ya. Di tangan saya kali ini sudah ada Oppo Reno 14 Pro 5G. Jadi langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang pertama-tama kita mau cek mikrofonnya dulu. Yang lagi kalian dengar sekarang adalah suara langsung dari mikrofon smartphone-nya. Saya enggak pakai mikrofon eksternal di sini untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Gimana menurut kalian? Kalau buat saya pribadi, kualitas suaranya sudah sangat baik. Ini mikrofonnya seperti udah kelas flagship lah. Untuk vlogging tanpa mikrofon exal pun saya PD pakai smartphone-nya ini. Dan untuk noise-nya sendiri gimana? Apakah dia punya kemampuan noise reduction atau noise cancelling yang cukup baik? Suara saya gimana? Suara background-nya gimana? Kebetulan saya lagi di roof, jadi lumayan ada angin lah di sekitar sini dan ada noise lagi ada pembangunan juga di apa namanya? Di bangunan sebelah. Jadi ada suara mesin-mesin gitu. Kedengaran enggak? Nah, untuk kualitas video selfie-nya ini tergolong selfie yang bagus loh. Nyaris tidak ada komplain selain urusan dynamic range. Untuk area highlight-nya masih over exposed dikit tapi overall gambarannya sudah oke, apalagi bagian wajahnya. Udah gitu videonya ini bisa sampai 4K 60 fps. Yang lebih aneh lagi kok bisa Reno Series dikasih selfie autofokus ini Find X8 Pro aja enggak dikasih loh. Urusan stabilizer juga aman. 4K 60 FPS bisa stabil lagi-lagi ini mah rasa kamera selfie kelas flagship. Lanjut ke kamera utamanya. Ini mah kelas flagship juga. Apanya yang Reno ini dah? 4K 60 fps dengan kualitas gambar dan dynamic range kayak begini. Gokil ini sih stabilizernya aman. Video tergalau rapi. Memang belum level gimbal tanpa jater sih, tapi ini hitungannya sudah rapi untuk jalanan yang super tidak rata ini. Lanjut ke kamera ultra wide. Di kondisi terang hasilnya mantap, enggak terlalu jobblang saat pindah dari kamera utamanya. Asyiknya ultrawide-nya ini juga bisa merekam di 4K 60 fps. Lagi-lagi ini sih kamera ultra wide kelas flagship lah rasanya. Untuk dari micrange di sini juga sudah bagus. Area highlight sudah tidak over expos. Tapi memang area gelap kurang sedikit terangkat aja. Perlu diingat kami konsepnya itu point and shoot ya. Kalau memang butuh lebih terang tinggal diatur manual aja exposur-nya bisa kok. Nah, untuk stabilizernya gimana? Aman juga 4K 60 fps bukan masalah. Oh iya, btw ultrawide-nya ini autofokus juga ya. Jadi bisa untuk keperluan makro juga. Lanjut ke kamera tele tiga kalinya. Di kondisi terang hasilnya sudah oke banget. Soal warna menurut saya ada perbedaan sedikit dari sisi skin tone. Saya merasa di telinnya ini skin tone lebih cenderung kekuningan. agak geser sedikit ketimbang warna skintone aslinya. Kamera telenya ini juga bisa merekam 4K 60 fps ya. Dan untuk tadi mic range enggak ada masalah. Area gelap dan terang bisa diekspos dengan cukup baik. Nah, terkait pengalaman mult kameranya yang satu ini adalah hal yang mengejutkan buat saya. Pindah-pindah kameranya smooth banget, coy. Dan untuk pindah kamera juga sudah support sampai 4K 60 fps. Ini artinya ISP dimensi 8450 ini segila itu, coy. Mungkin terkesan sepele ya, tapi kemampuan kamera seperti ini bukan hal yang ringan. Pengalaman pindah kamera yang semut ini dimungkinkan karena di balik layar semua kameranya itu aktif secara bersamaan. Bayangin aja bisa 4K 60 fps barengan di tiga kamera. Ini kalau bukan ISP class flagship mana bisa. Oke, kita lanjut untuk low light. Kamera selfie-nya masih sangat terang, detail masih terjaga. Frame rate juga masih stabil di 30 fps. Bagi saya sih ini salah satu smartphone dengan video selfie yang impresif di kelasnya. Bahkan saat pakai 4K 60 fps, videonya masih bersih dari noise dan detail masih cukup terjaga. Meski memang overall videonya jadi lebih gelap. Kalau untuk kamera utamanya sih dahsyat ya. 60 fps masih bisa seterang ini. Detail masih terjaga. Noise ada sih, tapi tipis-tipis aja. Asli dah, ini enggak kayak pakai smartphone class midrange. Paling yang perlu dititikan lagi adalah stabilizernya di 30 fps. Jaternya masih cukup terasa, tapi solusinya adalah kalau mau stabilizer lebih rapi, tinggal pakai 60 fps aja. Lanjut lagi ke kamera ultrawide-nya. Memang kualitasnya tidak setara dengan kamera utamanya ya, tapi ini masih masuk dalam kategori ultra wide yang bagus untuk low light. Detailnya juga masih lumayan. Noise juga tidak terlalu kentara. Beda jauhlah dengan yang masih pakai sensor ultrawide 8 megapel di pasaran. Saat kita coba rekam di 60 fps, gambar sudah terlalu gelap ya. Tapi ini masih normal. Fagship layum banyak kok yang ultrawide-nya sehebat kamera utamanya saat low light. Urusan stabilizer videonya bisa stabil dengan jatiter yang cukup terasa di 30 fps. Untuk 60 fps-nya jauh-jauh lebih rapi. Lanjut lagi ke kamera telenya. Nah, ini masalah umum nih. Nyaris untuk semua smartphone yang punya telefoto sih. Di sini saat kita zoom in seperti ini, sayangnya kamera telen-nya tidak digunakan. Ini malah jadi digital zoom dari kamera utamanya. Ini karena sistemnya menilai kamera telinnya kurang pas untuk dipakai saat low light. Di beberapa situasi saya berhasil sih men-trigger kamera telen-nya untuk digunakan dan hasilnya seperti ini. Memang gambar jadi lebih gelap dan informasi warnanya tidak sebaik kamera utamanya. Jadi ini memang plus minus sih. Di satu sisi mayoritas orang mungkin lebih cocok digital zoom aja. Gambar terang, warna aman, tapi gambar pecah. Itu masih ya udah. Tapi menurut saya alangkah baiknya OPPO kasih opsi untuk mengatur konsistensi kameranya ini. Saya pribadi maunya tele ya tele, kamera utama ya kamera utama. Sudah ada yang bisa kasih opsi seperti ini kok, tapi memang belum banyak. Nah, kita lanjut ke fotografi. Lagi-lagi bagi saya sih ini sudah sekelas flagship. Prosesing fotonya cepat, detailnya juga mantap. Enggak banyak yang bisa diprotes, bahkan sampai cuni warna pun terlihat sangat konsisten. Mau dari kamera ultrawide sampai tele, warnanya tuh mirip. Enggak semua smartphone bisa seperti ini loh. Kalau di videografi tadi kan saya protes soal tele di low light. Tapi kalau untuk fotografi ini aman banget. Auto night mode-nya juga sangat membantu menjaga kualitas foto. Nah, untuk fitur ekstra ada beberapa, tapi saya cobain sebagian aja ya. Di sini ada fitur slow motion tersedia di 1080p 120 fps. Hasilnya sendiri tergolong bagus. Kalau mau lebih lambat bisa pakai 720p 240 fps. Tapi menurut saya kualitas gambarnya udah kurang oke. Di sini sedikit catatan fitur ini baru bisa untuk kamera utamanya saja. Kamera lainnya belum bisa. Lalu berikutnya ada promote mode pro di sini juga ada. Untuk detail pengaturan ISO dan shutter speed bisa dilihat aja di menu kameranya berikut ini. Nah, sayangnya di sini belum ada pro untuk video. Saya tahu sih di OPPO tuh sudah ada Pro yang proper, tapi itu baru dimulai dari Find X8 Ultra aja. Itu juga baru di Cina doang rilisnya. Entah kenapa fitur ini belum dibagi fiturnya ke smartphone Oppo yang lain. Untuk fitur ekstra lainnya di Reno 14 series ini juga dilengkapi dengan fitur AI flash fotografy. Terdapat dua mode di AI flash ini. Yang pertama itu ada flash mode dan kedua ada V light mode. Cahayanya juga lumayan soft. Lumayan membantu nih kalau misalnya lagi foto di tempat yang gelap banget. Nah, untuk kesimpulannya asli dah ini Oppo Reno 14 Pro 5G ini bagi saya lebih pas disebut sebagai Oppo Find X8 Lite. Udah enggak pantaslah kemampuan seperti ini dibilang midrange ini sudah kelas flagship hitungannya. Tapi tentunya tidak sempurna ya. Saya berharap OPPO bisa kasih opsi untuk mengizinkan penggunaan kamera sesuai setelan penggunanya dalam kondisi low sekalipun ya. Tele ya tele, kamera utama ya kamera utama. Ini bukan hal yang sulit sebetulnya. Masalah tim R& Oppo ngerasa ini penting atau enggak aja. Masalahnya kan di smartphone lain sudah ada loh yang bisa seperti ini. Lalu spesifik untuk video telefoto, cuni warnanya semoga bisa dibuat lebih mirip dengan kamera utamanya. Lalu, sayangnya belum ada promote untuk video dan slow motion-nya untuk kelas HP R juta. Harusnya bisa lebih baik dari ini sih. Bisa gitulah ya. Dikasih juga slow motion untuk kamera ultrawide dan telefotonya juga. Tapi takutnya kalau dikasih malah beneran. akan jadi flagship ya. Ya, ini tergantung kebaikan Oppo aja deh. Untuk saat ini. Itu aja yang bisa saya protes. Overall saya puas sama kameranya. Kelebihan yang sulit dilawan kompetitornya adalah keseimbangan kameranya. Semua kamera 50 megapel, semua kamera autofokus, semua kamera 4K 60 fps. Coba deh dari kalian bisa enggak nemu yang seperti ini di kelasnya? Tidak hanya sekedar angka, tapi pengalaman foto dan videonya pun memang terbukti bagus di berbagai kondisi. Perfect sih enggak ya, tapi jelas kameranya ini sangat bisa diandalkan bahkan untuk konten yang serius sekalipun. Lalu pengalaman navigasi kameranya beh mulus bener. Ingat ya, kalau bukan karena SOC yang kencang lalu tuning producai. Lalu hasil foto-fotonya juga bagus secara overall. Warna memang selera sih, tapi saya pribadi suka sama warna yang dihasilkan dan stabilizer video tergolong cukup rapi. Akhir kata, ini momen langka ya, OPPO bisa punya racikan kamera seperti ini dengan harga yang masih pantas. Intinya saya terkesan sekali dengan smartphone ini. Good job, Oppo. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Oke, kita lanjut lagi dengan pengujian daya tahan baterainya. Ini baterainya yang 6 mAh itu ya. Kita coba dengan YouTube local video playback 1080p non HDR. Jadi udah di-download dulu ya videonya. Baterai baru habis setelah 25 jam 7 menit. Ini termasuk normal untuk kapasitas baterainya. Tapi ini lebih baik dibandingkan satu smartphone yang pernah kami uji yang spesifikasinya mirip tapi cuma bisa tahan sekitar 21 jam. Ya, lagi-lagi tuning produsen sangat berpengaruh terhadap daya tahan baterai. Untuk YouTube streaming selama setengah jam baterai turun 3%. Untuk TikTok selama setengah jam baterai cukup irit ya, turun cuma 3%. Gensin Impact 30 menit, highest 60 fps, baterai turun sekitar 14%. Oke, sekarang kita coba untuk charging. Pakai charger bawan dari 0 sampai 50% terisi dalam waktu 22 menit. Sementara dari kosong sampai penuh butuh waktu 49 menit. Ini tergolong kencang untuk kapasitas baterainya yang tergolong besar. Lanjut lagi untuk Netflix, dia udah Wif L1, jadi bisa streaming sampai full HD. HDR1 juga bisa jalan di sini. Untuk YouTube, streaming bisa sampai 4K60 dan bisa playback video HDR. Streaming lancar, enggak ada masalah di sini. Haptic feedback ini mesin getarnya yang dipakai di sini sudah seperti smartphone flagship. Getarannya pendek, presisi, empuk, dipakai ngetik cepat pun sangat nyaman. Nah, untuk harga ya harga SRP-nya untuk yang varian 12512 adalah Rp10.999.000. Bisa dibilang Renault ini e bersaing di kelas flagship ya. Nah, kita masuk ke dalam hal yang perlu diperhatikan. Walaupun semua kameranya 50 megapel, tapi bukan berarti sensor yang dipakai itu sama semua. Jadi saat pindah kamera kalau ada perbedaan kualitas itu halnya yang masih wajar. Kemudian untuk video kamera selfie-nya harusnya masih bisa ditingkatkan lagi. Kalau untuk kameranya udah oke banget ya. Lalu kita sedikit berharap harganya bisa di bawah SRP-nya sedikit ya. Mengingat di kelas harga segini kita udah bisa nemu yang pakai Dimens City 9.400. Kemudian untuk USBC ini masih versi 2 dan belum mendukung display output. Lalu belum semua game bisa jalan di 120 fps. Meskipun ada setting manual refresh rate, tapi ternyata belum menjamin bahwa refresh rate-nya itu tidak akan nyangkut di 60 Hz tergantung game-nya. Nah, dari si kelebihannya overall kameranya tergolong keren ya, layak untuk bersaing dengan kelas flagship. Semua kamera autofokus, semua kamera bisa stabil 4K 60 FPS. Tandanya bahwa ISP-nya memang kelas atas bahkan ini layak dibilang kelas flagship. performanya ini sudah masuk ke dalam level kelas flagship. Layarnya AMOLED 120 Hz, RAM dan storage-nya udah besar. Charging udah kencang. Charger juga masih ada dalam boknya ya, walaupun seperti kelas flagship yang satu ini. Lalu speakernya stereo, infrared blaster, ada inisplay fingerprint. Lalu NFC juga ada IP rating-nya IP66, IP68, IP69. Update Oya sangat panjang 5+ 6. Nah, pada akhirnya smartphone ini cocoknya buat siapa? Nah, kalau mau ngerasain pengalaman smartphone flagship Oppo tapi budgetnya belum nyampai ke Find X8, ini akan jadi opsi yang paling pas buat kalian. Kemampuan yang allrounder atau serba bisa membuatnya jadi pilihan yang cukup mudah untuk siapapun yang cari smartphone di kelas R jutaan. Pertimbangan terbesar menurut kami lebih ke arah UI. Iya, UI memang adalah faktor selera sih sebetulnya, tapi dari pengalaman kami, Color OS ini jarang ada masalahnya ya. Dari buka aplikasi sehari-hari untuk kerja, ngonten sampai gaming bisa terpenuhi dengan baik. Kalau kalian cari UI yang stable, mungkin ini akan jadi opsi yang pas juga. Jadi penting diingat, SOC itu memang inti, tapi itu saja tidak cukup. Ada yang namanya tuning produsen smartphone. Anggap saja SOC sebagai sebuah dapurnya. Meskipun dapurnya sama, tapi kalau dimasak oleh produsen yang berbeda, hasil akhirnya bisa beda. Kan enak loh pakai smartphone yang beres, mini masalah. Terutama kalau bicara dari sisi software-nya juga ya. Good job untuk Oppo dan juga untuk Mediatek. Saya Dedi Irfan, Jaka TV.
Video Lainnya
Bursa ponsel 2026 memanas oleh inovasi brutal. Persaingan kini berpusat pada pesona lensa periskop, monster baterai ekstrem, dan cip pendingin cair. Panduan taktis...
Pasar jam tangan pintar Android kedatangan penantang serius lewat kehadiran OPPO Watch X3 yang digadang-gadang sebagai upaya terbaik sang produsen sejauh ini....
OPPO tampaknya sedang menguji batas kewajaran pasar lewat lini Find X9 Series terbaru mereka. Alih-alih memangkas banyak fitur esensial demi menekan harga seperti...
Pertarungan sengit di lini kamera smartphone flagship kembali memanas lewat adu mekanik tiga raksasa ultra yang membawa inovasi pemrosesan gambar paling ambisius...
Rumor mengenai lonjakan harga ekstrem pada lini Reno terbaru sukses memicu perdebatan hangat di kalangan pencinta gawai. Pasalnya, seri yang biasanya menyasar kelas...
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sederet perangkat antimainstream yang siap mengubah total kenyamanan setup harian Anda. Mulai dari inovasi TWS dengan konsep...
OPPO Find X9s membuktikan bahwa bodi ringkas tak berarti mengorbankan performa beringas. Dibanderol separuh harga varian Ultra, perangkat 14 jutaan ini konsisten...

















