Review Xiaomi 15 ULTRA | Pemakaian Setelah 2 Bulan dan Software Update Penting (YouTube Video)
Halo, halo. Apa kabar semuanya? Kembali lagi Put review. Enggak kerasa, udah 2 bulan lebih sejak Xiaomi Indonesia akhirnya ngerilis smartphone ultra mereka secara resmi, Xiaomi 15 Ultra. Enggak kerasa, udah 2 bulan juga lebih bahkan saya cobain smartphone. Sebuah produk yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang mulai dari entusias netizen budiman di kolom komentar. Entusias tentunya happy banget dong dengan keputusan Xiaomi Indonesia yang akhirnya ngebawa flagship tir tertinggi mereka ya. Ada juga atau berani mereka enggak cuma versi basic kayak sebelum-sebelumnya. Xiaomi juga mengabulkan keinginan para netizen di kolom komen yang selalu dari kemarin-kemarin minta masukin versi ultra dong yang tertinggi dong. Jangan yang basic doang. Beli atau enggak belakangan yang penting komen dan akhirnya masuk juga. Sesuatu yang layak dirayakkan dan pastinya diapresiasi. Selain itu, halin juga yang oke banget sama perangkat ini setelah diresmiin itu adalah harganya. Untuk sebuah smartphone versi ultra 16 gig RAM-nya storage-nya 512 gig, harganya itu cuma Rp16.999.000 untuk versi standar tanpa camera kit. Ini Xiaomi Indonesia edan juga ngasih harga segitu. Tapi, Bang Rp7 juta kurang 1000 kalau dibilang cuma. Pasti ada yang ngomong kayak gitu tuh. Well, saya bilang cuma karena ini lebih murah dari Vivo X200 Pro. Lebih murah juga daripada Samsung Galaxy S25 Ultra atau bahkan S25 yang baru itu ya. Kalau dicek di marketplace mungkin selisihnya ya bisa lebih dekat tapi nangkaplah poin maksud saya ya. Jadi harga retailnya itu punya selisih yang lumayan. Oke, untuk mulai kita ngomong dari desain dulu. Xiaomi 15 Ultra punya tampilan yang mirip dengan Xiaomi 14 Ultra yang tidak masuk di Indonesia. Kamera bulat dan besar emang seperti jadi ciri khas ya sebuah smartphone zaman sekarang apalagi yang mengedepankan kamera. Kamera bum atau tonjolannya tuh lumayan tebal loh kalau kita lihat dari samping. Dan dengan atau tanpa casing itu enggak ada bedanya. Enggak semua orang sih bakal suka dengan desain seperti ini. Tapi kalau mereka sudah memutuskan untuk membeli sebuah versi ultra ya dari Xiaomi yang mengedepankan kamera, harusnya hal kayak gini udah dieliminasi, udah enggak jadi pikiran lagi. Ukuran smartphone-nya juga enggak bisa dibilang kecil ya. Bobotnya juga bukan yang paling ringan, tapi tetap masih enak banget untuk dipegang atau dikantongin. Sertifikasi IP rating juga tentunya enggak ketinggalan. Jadi, untuk dipakai basah-basahan misalnya kehujanan ya celup-celup dikit enggak masalah. Dengan harga yang sangat menarik seperti yang tadi saya sudah omongin di awal video, Xiaomi 15 Ultra itu ngasih speks idaman ya yang enggak main-main gitu. Top tir yang bisa dicari dari sebuah smartphone tahun 2025 ada di sini. Layar bagus, resolusi tinggi dapat, refresh rate-nya oke, color gamutnya juga bagus. Manjain mata udah pastilah ya untuk layar sebuah smartphone premium ini enak banget dilihat. Smooth juga dengan refresh rate yang tinggi tadi, saturasi dan kontrasnya pun menurut saya udah cukup tinggi di profile default yang menurut mata saya udah ok. Tapi tetap buat mereka yang mungkin pengin saturasi lebih tinggi, lebih vibrant bisa diajak saja langsung di menu setting sesuai selera. Next untuk soal chipset kencang pasti Snapdragon 8 Elite gitu udah terpasang di sini. RAM-nya juga gede, storage-nya lega, baterai juga udah mantap, udah sip banget untuk standar zaman sekarang. yaitu di atas 5.000 mAh. Walaupun enggak sampai 6.000 tapi sudah di atas 5.000. Dari segi performa kencang-kencengan pastinya udah enggak masalah ya. Performa flagship 2025 dengan angka AnTutu di atas 2,4 juta. Lancar jaya pastinya nyaman dipakai. Smooth untuk pemakaian pada umumnya. Termasuk untuk multitasking dan juga kayak apa? Edit video di CapCut enggak masalah. Render video singkat 1080p maupun 4K itu bisa diberesin tanpa masalah. Habis itu kalau kita lanjut ke beban kerja yang sedikit lebih berat, lebih intensif. Sebelumnya saya sempat lihat di teman-teman atau rekan-rekan tech reviewer lain itu sudah ada beberapa yang mencoba stress test di Xiaomi 50 Ultra ini dan hasilnya pada overheat ya. Apakah setelah 2 bulan rilis dan ada beberapa software update jadinya lebih baik? Ternyata ya. Jadi pas saya bikin video ini tiba-tiba ada update yang cukup besar dari Xiaomi. Mereka tulis dengan sistem optimiz segala macam. Saya cobain update, terus saya cobain si stress tes, dan ternyata beres 20 loop. Tepuk tangan untuk Xiaomi karena sudah sukses mengoptimize sistem mereka, tidak jadi overheat lagi. Stres testnya ini lolos dan kalau kita lihat dari angkanya ternyata oke juga gitu. Cukup stabil ya. Kita bisa lihat di sini angkanya tidak mengecewakan. Jadi optimize dari software update itu ternyata tidak bohongan ya. beneran bisa kejadian kalau emang diseriusin. Mantap buat Xiaomi. Okelah, sekarang kita lanjut ke untuk bagian gaming. HP ini juga menurut saya udah bisa diandelin. Jadi dalam pengujian saya sama tim seperti biasa umumnya pakai tiga game aja. Pakai Mobile Legends, pakai Zenazone Zero, dan sini saya pakaiin watering wave. Di Mobile Legends dengan settingan rata kanan tanpa pakai mode performance, Xiaomi 15 Ultra ini sebenarnya udah bagus ya. Grafik pengujiannya hampir rata. Cuma kadang dia itu bisa nge-drop cukup jauh ke 60 fps sebelum nanti dia naik lagi. Menurut saya sih ini oke ya karena enggak terus-terusan turun seperti di beberapa HP lain yang pernah ngalamin isu frame drop. Umumnya kalau udah ada frame drop kan susah lagi tuh untuk naik. Habis itu untuk di game lainnya Zone Zero di sini dia masih oke performanya dengan settingan tinggi yang saya pakai dan juga dia tuh enggak pakai mode performance. Grafik pengujiannya emang enggak rata. Fluktuasinya banyak. frame dropnya juga saat main itu bisa dirasain apalagi efeknya pas lagi rameai gitu. Tapi overall ini masih dapat average yang bagus dan nyaman. Pakai mode performance juga sebenarnya enggak ngaruh-ngaruh amat sih ya. Masih segitu-gitu aja gitu hasilnya. Dan untuk suhu menurut saya sudah tergolong aman tanpa terasa panas berlebihan. Satu lagi untuk wering wave setting tinggi juga auto FPS-nya saya matiin dan hasilnya tetap bisa dimainkan pada level yang bagus lah. Misal kita pakai grinding buat storage segala macam. Paling tidak dalam 30 menit pemakaian hasilnya memuaskan dengan suhu perangkat yang saya bisa bilang juga masih aman. Paling kalau di grafik pengujian ada drop-dop itu adalah di bagian cut scene ya. Kita lagi ikut story gitu mainin story ada scene-sene dari ceritanya. Nah itu dia dari developer masih nge-lock di 30 makanya dia bakal turun tapi kalau kita balik lagi ya dia akan otomatis kembali ke level yang lebih baik. Ya itu doang sih sebenarnya tapi secara overall experience-nya udah enak. Untuk baterai di Xiaomi 15 Ultra menurut saya juga kapasitasnya kan sudah bilang cukup lumayan gitu dari di atas 5.000 tepatnya 5.410 mAh dengan charging 90 watt. Ketahanan baterai secara umum udah oke pada pemakaian seharian. Kalau enggak intensif sebenarnya enggak akan habis cepat sih. Contoh misalnya buat nonton YouTube atau Netflix, scrolling, sosial media aman ya. Untuk main game juga masih oke meskipun saya enggak bisa bilang luar biasa. Mobile Legends rata kanan koneksi Wii saya pakai main setengah jam itu sekitar 12%. Terus kalau untuk Zone Zero atau wering wave itu ada di kisaran 16% ya. Jadi untuk kapitas batai 5.000-an ini menurut saya masih oke. Hardware kita ngomongin dari tadi ya udah oke nih si Xiaomi 15 Ultra. Nah, hal lain yang juga sering orang tanyain kalau kita ngebahas tentang Xiaomi itu adalah software utamanya iklan ya. Ada enggak nih iklan di smartphone Xiaomi yang mahal? Pantauan saya pakai smartphone ini iklan yang biasanya kalau kita pakai Xiaomi itu suka muncul di aplikasi bawaan itu tuh gak ada di sini. Paling kadang tuh nongol yang di banner notifikasi ya buat ikelin aplikasi segala macam. Tapi udah enggak lebih dari itu. Emang sepengetahuan saya beberapa waktu yang lalu Xiaomi Indonesia katanya memang apa ya mengurangi iklan mereka lewat software update gitu di tuning segala macam. Dan salah satunya itu adalah di versi ultra ini. Sejauh ini oke ikilannya dan semoga ke depannya tetap dijaga karena balik lagi ini versi ultra flagship harusnya experience-nya premium enggak pakai iklan. Kemudian untuk versi tampilan UI-nya Hyper OS 2 ini udah oke. Enak-enak aja kalau udah terbiasa. Update-nya juga udah cukup panjang 4 plus 5. Xiaomi juga menyertakan cukup banyak fitur AI di smartphone-nya ini kayak yang bawaan Google seperti CCL to search ke Mini ya. ada pasti ada yang dikembangin sama Xiaomi sendiri juga banyak ya. Yang ini bisa buat bikin ringkasan, transkrip audio, penerjemah dua arah untuk kita ngomong, AI eraser di bagian foto, itu semua udah tersedia di sini. Overall kalau dari segi software menurut saya sih ini udah paling aman paling tidak saat ini. Sekarang baru kita masuk ke bagian soal kamera. Hal yang emang dicari sama orang kalau udah membeli smartphone ini Xiaomi 15 Ultra. Di sini ultranya menurut saya udah berasa. Jadi kita lihat spek sayanya udah mantap. Lensa utamanya 200 megapel, ukuran sensornya 1 inci. Ini masih jarang banget di Indonesia. Terus untuk telefotonya ada dua lensa. Yang satu lensa 3X, satunya lagi 4,3x. Ini adalah dua lensa yang berbeda. Untuk yang 4,3 mungkin angkanya buat sebagian orang agak kelihatan aneh gitu kenapa 4,3. Tapi sebenarnya ini untuk ngepasin di 100 mm. Terus satu hal juga yang perlu saya kasih tahu ya, smartphone-nya ini karena dia punya OS dan segala macam kalau dikocok-kocok nah itu dia emang ada bunyi-bunyi. Jadi enggak usah khawatir. Emang seperti itu emang hardware-nya. Tapi jangan disengaja, jangan sering-sering. Tapi kalau misalnya kalian lagi pegang handphone-nya bunyi-bunyi ya itu enggak perlu khawatir. Emang kayak begitu ya dari sistem stabilisasi yang ada di smartphone-nya. Lanjut ke soal UI kamera. Oke ya. Saya suka karena kelihatan cukup bersih dan mudah dinavigasikan. Tombol-tombol zoom-nya juga oke. Dan yang 43 ini kalau kita tap dua kali masih bisa hingga 400 mm atau 17,2x. Mau lebih jauh ya, slider yang ini juga bisa tetap kita geser-geser dan di situ ada stopnya di 30, 60 dan 120. Paling satu hal kecil nih yang saya notice dari slider ini seringkiali itu berhentinya tidak presisi ya. Jadi misalnya saya pas geser dan berhenti di angka yang ada garisnya di 30 atau 60 itu kan harusnya ada heptic feedback. Betul. Pas nyampai di situ bakal ada sedikit getarnya cuma pas saya angkat ya saya berhenti itu seringkiali angkanya tidak presesi. Kadang-kadang bisa kurang atau lebih sedikit. Kayaknya mesti pakai perasaan banget gitu berhentiinnya biar pas di 30 atau 60. Hal kecil aja sih, jadi bisa ngaruh bisa juga enggak buat orang lain. Next untuk video ada resolusi up to 8K 30 fps yang bisa dipakai di semua lensa belakang dari ultrawide sama telefoto 4,3 itu bisa semua. Paling kalau catatannya pas kita ngerekam di resolusi 8K itu pindah-pindahan saja tidak akan senyaman, semudah seperti kita menggunakan resolusi yang lebih rendah. Kayak di 4K itu lebih gampang. Untuk resolusi 4K sendiri ya ini ada pilihan untuk sampai 60 fps di semua lensa. Sedangkan ada juga yang 120 tapi hanya bisa di lensa utama dan lensa telefoto 4,3. Mode foto yang dikasih di sini cukup banyaklah untuk dieksplorasi termasuk mode pro yang pengin ngotak-ngatik settingan lebih dalam. Di mode Pro ini buat bagian video juga ada opsi untuk kita pakai lock ya, color profile flat yang sangat pas bagi mereka yang ingin nambah kerjaan di post processing. Namun kita bisa dapetin hasil yang lebih sesuai selera. By the way, ngomong-ngomong soal selera, saya harus infoin juga kalau untuk sampel foto yang bakal saya tunjukin di video kali ini itu kebanyakan pakai settingan Leik Autentic. Soalnya saya suka aja gitu dengan tone warnanya. Buat yang pengin lebih warna mainstream, lebih vivid, lebih vibrant segala macam, ada juga preset Leica vibrant yang bisa dicoba. Bedanya kurang lebih seperti sampel berikut ini. Untuk lensa utama 200 megapel, Ultranya Xiaomi di sini emang terasa ya, effortless untuk dapetin foto yang bagus seperti soal detail cakep. Kalau warna ya udah sih ini lebih ke urusan preset tadi yang kita pakai. Jadi beneran subjektif balik ke selera. Untuk dynamic range di lensa ini menurut saya juga udah bagus kok dan enggak ada keluhan sama sekali. Yang saya suka juga di sini adalah dari segi processing-nya ya. Xiaomi emang karakternya itu tidak overpress ya. Mungkin ada yang bilang kalau dia kayak gambarnya kurang tajam ya, kurang sharpening. Tapi buat yang suka dengan tampilan lebih kelihatan natural ya, juga skin tone yang tidak dibikin lebih cerah dan segala macam, mungkinan bakal lebih suka sama yang seperti ini. Habis itu untuk lensa ultrawide hasilnya oke kok ya, sangat cukup untuk foto-foto yang lebih lebar. Lensa telepoto 3X hasilnya bagus untuk jarak-jarak menengah alias yang enggak jauh-jauh amat. Contoh buat foto makanan, action figure, tumbuhan bunga atau orang juga sebenarnya bisa banget kok. Enak gitu ngelihat naturalnya yang kayak kelihatan cakep banget, creamy ditambah dengan komposisi yang bisa kelihatan lebih padat. Yang saya noti sedikit sini adalah Lensa 3X-nya tuh punya dynamic range yang kelihatan sedikit kurang. Jadi, ada kalanya foto tuh kalau enggak kelihatan lebih gelap karena dicoba sama Xiaomi buat dibalance gitu sama software tuningannya atau malah background-nya jadi yang terang banget kelewatan terang. Kalau untuk yang 4,3X sih so far so good ya. Menurut saya ini adalah lensa yang menyenangkan untuk mereka yang suka lensa telefoto. Detailnya bagus, bokehnya cakep. Oh ya, kedua lensa telefoto ini juga bisa digunakan buat telemakro. Yang 4,3 jarak fokus minimumnya memang sedikit lebih jauh dari yang tiga, tapi keduanya masih mudah dipakai kok ya, dibanding handphone-handphone lainnya. Makronya masih pakai lensa ultrawide. Terus buat yang mungkin nanya, "Bang, kalau misalnya kita pakai zoom-nya lebih jauh dari 4,3 gimana hasilnya?" Menurut saya masih bagus. cuma ya semakin jauh apalagi udah terlalu jauh sampai 120 tentu ada penurunan kualitas ya sampel-sampel lah langsung aja dicek berikut ini. Untuk kamera depan ini mungkin satu-satunya bagian yang bikin Xiaomi 15 Ultra jadi berasa kurang ultra. Kameranya tuh enggak autofokus ya, cukup sayang untuk versi ultra. Hasil fotonya menurut saya cukup ya sebenarnya untuk sekedarnya mungkin karena memang ini fokus handphone-nya adalah kamera belakangnya ultra dan bukan selfie. Jadi ya ini masih dinomor duakan sama Xiaomi. Oke, jadi untuk sampel video kali ini saya akan mulai dari kamera depan dulu di 4K 30 FPS dari Xiaomi 15 Ultra. Ini saya membelakangi matahari jadya backlight kalau saya menghadap matahari jadinya seperti ini. Ini terang banget by the way. Jadi saya pindah ke tempat yang lebih teduh aja. Hasilnya kayak gini ya. Untuk sebuah flagship sebenarnya kalau di siang hari gini ya rekam videonya oke-oke aja enggak ada masalah. Mikrofon juga cakep. Oke ya, untuk nge-vlog cakep banget. Dan habisnya langsung kita pindah ke kamera belakang aja ya. Saya mulai dari lensa zoom-nya dulu. Oke, ini langsung buat sampel video di 4K30 langsung di 4,3x ya. Ini 4,3 hasilnya kita pindah ke 3x. W langsung berubah ya. 3x kita pindah ke 1. Nah, ini satu lebih lebar dan sekarang kita lebarin ke ultrawide dulu. Nah, ini ultra wide-nya pakai 30. Perbedaannya balik X1. Dan ini dia kalau ada subjek orangnya hasilnya kayak gini. Saya lagi menghadap matahari ya. Jadi lagi cukup terang untuk hasil seperti ini ya di 1X kalau misalnya kita coba pindah ke ultrawide deh. Nah ini lebih dekat eh lebih dekat lebih lebar lebih lebar hasilnya juga seperti ini ya. Masih oke sebenarnya kalau untuk ngevlog bisa saya muter ke sini juga. Klik X1 K begini ke sebelah sini. Harusnya sih masih bagus ya untuk sebuah flug shoot ya. Udah udah oke sih untuk video. Kalau terang ini sih bukan tugas yang berat ya untuk sebuah smartphone hasilnya bagus. J misalnya kita langsung pindah kamera belakang tapi kondisi low light. Oke, ini dia untuk perekaman video pakai Xiaomi 50 Ultra. Kondisi malam hari satu lampu jalan yang terang banget situ. Tapi enggak apa-apa, kita cobain dulu di sini paling tidak untuk melihat bagaimana stabilisasinya. Perelah kita lagi ngerekam, autofokus ya, warna skin tone-nya. Nah, sekarang saya putar sedikit menjauh dari sumber cahaya. Ini sedikit lebih gelap. Bukan sedikit sih, emang lebih gelap banget. Pasti di 4K30 kalau kita pindah ke lensa ultra wide bisa-bisa aja. Tapi menurut saya tidak direkomendasikan karena menjadi terlalu gelap ya, tidak ada exposure-nya seperti saya lihat. Jadi kita balik ke lensa 1x saja. Saya balik badan ini auto fokusnya mendekat ke sumber cahaya lain. Nah, ini lebih terang lagi hasilnya kayak gini. Saya coba menjauh sebentar. Kita coba zoom-zoomnya sedikit sini. Kita coba ke 3X dan 4,3x. balik lagi satu. Nah, itu dia untuk sedikit sampel pakai kamera belakang, kamera utama dari Xiaomi 50 Ultra. Habis ini kita pindah ke kamera depan. Dan sekarang ini dia untuk kamera depannya dari Xiaomi 15 Ultra di kondisi yang sama seperti tadi. Outdoor 4K30. Sekarang saya menghadap sumber cahaya. Hasilnya seperti ini ya. Oke, kalau terang sebenarnya tidak ada problem walaupun ya noise-noise itu masih kelihatan pasti. Kalau saya menghadap eh menghadap membelakangi cahaya hasil seperti ini backlight. Tapi kalau menghadap cahaya yang cukup terang hasilnya okelah. Kalau misalnya saya pindah ke tempat yang sedikit lebih gelap hasilnya kayak gini. Satu poin yang pasti udah p notis dari tadi kalau kita ada movement sambil jalan itu jaternya kelihatan ya. Glitter dari AIS ini enggak cuman di Xiaomi smartphone apapun kalau di pakai AIS pasti jater ya. Pasti jaternya. Jadi ya sesuatu yang wajar mungkin no big deal tapi ya dari segi kualitas langsung bisa dilihat. Oke sekarang kita pindah ke kondisi lolet tapi dalam ruangan. Oke sekarang kita udah pindah ke dalam studio untuk perkaman lagi. Masih di30 itu ada objek dekat labu laabubu. Terus ada komik-komik jadul ya. Mantap sekali tuh lama banget. Terus ada Pikachu-pikachu warnanya bisa langsung lihat kuningnya seperti apa ya. Itu paling gampang sebenarnya kalau kalian udah suka lihat warna Pikachu kuningnya gimana. Nah, kita pindah sedikit ke Gundam situ. Sedikit lebih gelap kita ambil ke atas. Nah, ini kita coba 3X untuk lihat lebih dekat. Kita cobain ke 4,3 deh sekali lagi. Ini lebih zoom hasil seperti ini. Oke. Dan kita pindah ke satu excel lagi. Nah, ini kalau ada subjek orang kondisinya ini low light ya. Lumayan lampunya cuma satu sebelah sana. Bisa kata mungkin exposionnya dari sini sama satu lampu. Dua sih lagi nyala di belakang situ. Terang banget. Tapi ya kayak gini untuk perekaman video. Kalau dalam kondisi cukup low light lah hasilnya kurang lebih seperti ini. Tadi kita sudah lihat siang outdoor ya pas lagi terang hasilnya kayak gimana. Low light di luar ya. Ada lampu jalan segala macam juga kita sudah lihat. Silah silakan kalian sendiri untuk sebuah smartphone yang ultra. Tapi kalau mungkin ada yang pengin ngomongin mikrofon menurut saya sih Xiaomi Fora ya. Untuk mikrofon udah bagus suaranya. Jadi kalau buat dipakai ng-vlog sebenarnya udah enggak masalah. Harusnya begitu. Menurut kalian gimana? Oke atau enggak, silakan tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah. Sebagai varian versi ultra, Xiaomi 15 Ultra mungkin emang belum menjadi sebuah smartphone yang sempurna. Untuk kameranya sih seru banget ya. Experience-nya tuh sangat menyenangkan menurut saya. Emang kalau kita ngomongin warna, tone dan segala macam itu udah subjektif banget. Tapi sekali lagi ini sama sekali bukan kamera yang bisa dibilang jelek. Wah, jauh banget sih kalau dibilang jelek. Balik lagi mungkin sedikit soal optimized software masih diperlukan dan juga kamera depan yang masih belum diprioritaskan sama Xiaomi. Overall apresiasi luar biasa tentunya untuk Xiaomi Indonesia karena udah punya nyali banget untuk resmin versi ultra mereka di Indonesia ini keren banget sih ya karena ditambah lagi harganya yang sangat menarik. Jangan sampai deh ya, udah banyak yang sering minta gitu ya, mereka yang suka komen-komen minta Xiaomi masukin versi Ultra, tapi masih bilang harganya mahal karena ini sama sekali enggak mahal untuk apa yang ditawarkan. Semoga ini bukan versi ultra terakhir yang kita lihat di Indonesia dan bisa terus konsisten di tahun-tahun ke depan. Kuncinya gampang sebenarnya, jangan lupa dibeli. Kalau menurut kalian gimana untuk Xiaomi 15 Ultra? Menarik atau enggak? Ada yang sudah punya atau enggak? Coba tulis aja di kolom komentar di bawah ya. Jadi untuk sekarang kayak gitu aja dulu buat sedikit sharing pengalaman saya setelah 2 bulan menggunakan Xiaomi 15 Ultra. Makasih banyak nonton sampai habis videonya. Boleh di-share, boleh di-like, boleh dislike. Itu makasih banyak sudah nonton sampai habis. Putri saya pamit. Sampai ketemu lagi di video berikutnya. Dan seperti biasa, have a nice day.
Video Lainnya
Di tengah lonjakan harga kebutuhan sehari-hari, menemukan perangkat pendukung produktivitas yang andal tanpa menguras kantong menjadi tantangan tersendiri bagi para...
Pertarungan sengit di lini kamera smartphone flagship kembali memanas lewat adu mekanik tiga raksasa ultra yang membawa inovasi pemrosesan gambar paling ambisius...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Membuat konten video berkualitas tinggi sering kali terbentur oleh rumitnya proses produksi dan beratnya peralatan yang harus dibawa. Lewat ulasan terbaru dari...
Menghadirkan layar raksasa 98 inci di ruang keluarga kini bukan lagi sekadar mimpi mahal kaum sultan yang menguras kantong hingga ratusan juta rupiah. Lewat...
Penasaran apakah Xiaomi 17T Pro benar-benar layak disebut sebagai perangkat flagship dengan harga belasan juta? Kreator akan mengajak penonton membongkar langsung...
Xiaomi 17T Pro hadir sebagai upaya Xiaomi untuk mempertahankan tahta "flagship killer" di tengah pasar tahun 2026 yang kian kompetitif. Kreator mengulas tuntas...
Pasar tablet murah kembali bergeliat dengan hadirnya sebuah perangkat metal yang mendefinisikan ulang standar gadget ramah kantong. Di harga dua jutaan, perangkat...
Ingin tahu apakah Xiaomi 17T masih pantas menyandang predikat "HP menang banyak" di tengah tren harga yang makin meroket sepanjang tahun 2026? Kreator mengajak kita...
DHIARCOM mengupas tuntas kehadiran Xiaomi 17T Pro yang mendobrak pasar lewat kombinasi performa kelas wahid dan baterai jumbo 7000 mAh. Penonton akan diajak melihat...
Siapakah rajanya midrange tahun ini? DKID Media mengupas tuntas Xiaomi 17T yang hadir dengan kemampuan zoom optik 5x, baterai jumbo 6.500 mAh, serta desain compact...
Pasar smartphone kelas premium midrange kembali memanas lewat kehadiran Xiaomi 17T yang membawa kejutan besar di angka Rp 7.999.000. Dengan harga seseksi itu,...
Xiaomi kembali menggebrak pasar lewat lini 17T yang membawa lompatan besar pada sektor fotografi mobile. Di tengah fluktuasi harga yang memicu perdebatan, perangkat...
Redmi Pad 2 9.7 hadir di tengah ketatnya persaingan pasar tablet terjangkau dengan membawa sejumlah perubahan desain dan spesifikasi yang cukup berani. Namun, di...

















