Jungkat

SADIS UPGRADENYA! Tele 5x Optical Zoom, OIS, Dimensity 9400+, Storage 1TB: Review Xiaomi 15T Pro (YouTube Video)

  • 24/09/2025

Ini Xiaomi 15T Pro, smartphone kelas flagship dari Xiaomi yang harganya lebih terjangkau. SOC-nya dimensity 9.400 plus. Antutunya bisa 2,5 jutaan. Layarnya AMOLED 144 Hz, RAM langsung 12 gig. Storage-nya sampai 1 TB. Ini enggak salah nih si nih 1 TB di kelas harga segini. Kameranya masih kolaborasi dengan Leeka dong. Dan upgrade terbesar ada di kamera telenya. Sekarang udah pakai periscope telefoto 5 kali optical zoom dan ada optical image stabilizernya. Seberapa serunya smartphone ini? Nah, penonton Setia Jagat harusnya udah bisa lihat dari durasi video ini ya. Oke, ini dia review Xiaomi 15T Pro. Ya, Xiaomi merilis Xiaomi 15T series secara global pada tanggal 24 September 2025. Ingat, Xiaomi 15T series. bukan Mi 15T series ya, Xiaomi namanya. Jadi di sini ada Xiaomi 15T sebagai varian terjangkaunya dan ada Xiaomi 15T Pro sebagai varian yang di atasnya 15T tapi posisinya masih di bawah Xiaomi 15 yang versi reguler ya. Nah, untuk Indonesia sendiri smartphone ini baru akan rilis resmi pada tanggal 30 September 2025. Smartphone Xiaomi seri T ini tetap diposisikan Xiaomi sebagai flagship dan masuk dalam keluarga Xiaomi 15 series. Jadi statusnya bukan midrange, bukan flagship killer karena statusnya memang flagship. T series terkenal bisa memberikan pengalaman kelas flagship tapi dengan harga yang lebih terjangkau. Dan untuk video kali ini kita akan fokus di Xiaomi 15T Pro. Oke, kita mulai dari paket penjualannya. Di sini ada unitnya dengan screen protektor yang sudah langsung terpasang dan ada chargernya. Ada chargernya tentu ada chargernya. Ini adalah charger 90 watt ya. Lalu ada kabel USBC, ada case, ada sim tray ejector dan paket dokumen. Nah, dari segi desain bodinya ini menggunakan desain flat untuk seluruh sisi bodinya. Dulu di 14T series desainnya masih bisa kita bedakan mana yang pro, mana yang non pro. Bisa dilihat dari back cover-nya sekarang baik 15T dan 15T Pro itu sama aja desainnya. Nyaris enggak ada bedanya. Bahkan case-nya pun bisa kita tukar-tukar. Tapi memang ada beda sedikit ya di posisi mikrofon dan flash-nya. T digenggam. Ini rasanya mewah dan solid. Kalau untuk urusan modul kamera itu selera ya. Dulu 14T series dikatain katanya mirip kayak kemasan obat ya. Nah, sekarang udah agak beda nih sisi sudut modulnya jadi melengkung. Nah, apakah sudah jadi lebih keren menurut kalian? Kalau menurut saya sih yang tahun lalu itu yang versi silvernya keren banget sih. Yang hitamnya memang agak kurang. Kalau ini sih gimana ya? Coba tulis di kolom komentar. Oke, untuk varian warna yang tersedia itu ada black, grey, dan hero color-nya adalah yang saya pegang ini moca gold. Oke, untuk dimensinya tinggi 162,7 mm, lebar 77,9 mm, ketebalannya di 7,96 mm, dan bobotnya di 210 gr. Bodinya sudah disertifikasi IP rating IP68. Jadi, dia aman kecebur dalam air bersih. Asalkan buru-buru diangkat, ya. Jangan malah diajak berenang atau foto-foto dalam air. Jangan. Dan ingat air bersih bukan air laut ya. Lalu untuk sisi kanan di sini ada tombol power dan ada tombol volume up and down. Di atas kosong, di sisi kiri ini kosong. Di bawah ada SIM tray dual SIM enggak ada untuk slot micro SD-nya. Tapi yang satu ini yang kami uji udah 512 GB. Kalau masih kurang, sepertinya manajemen file kalian yang harus diperhatikan. Nah, selain slot SIM fisic, smartphone ini juga mendukung eM. Di sebelah slot SIM itu ada mikrofon USBC 2.0 dan grill speaker stereo bagian bawah. speakernya ini stereo yang pasangannya tuh ada di earpiece untuk kuasnya termasuk yang keren, suaranya lantang, detailnya oke, dipakai dengerin musik yang ramai instrumennya sekalipun masih asik, enggak berantakan suaranya. Untuk indoor maksimum beratasnya ada di kisaran 610 nitz. Nah, dalam settingan layar itu ada juga fitur yang namanya sunlight mode. Saat kami coba fitur ini berarti S layernya bisa naik ke kisaran 817 nit. Nah, kalau untuk simulasi outdoor dia bisa mencapai 1060 nits. Ini sudah mencukupi untuk keperluan siang hari saat terik sinar matahari sekalipun. Nah, untuk warna layarnya di sini ada berbagai mode warna ya. Ada mode original color pro, vivit, saturated, dan advance setting untuk pengaturan manual. Mode default-nya adalah original color pro dan ini udah cocok untuk edit content karena gamut coverage dan volumnya udah diarahkan ke 100% sRGB. Kalau mulai lebih gonjreng itu lebih asik untuk nonton film dan main game, kita pasang aja di Vivfit. Ini udah diarahkan ke 100% DCIP3. Kalau mau lebih gua nyereng lagi misalnya untuk main game atau nonton film bisa pakai mode satur rated yang kelarga mod-nya diarahkan ke 117% dp3. Oke untuk refresh layarnya nih up to 144 Hz adaptif dari 60 ke 144 Hz. Sejak pengujian kami layarnya baru bisa turun sampai 60 Hz aja ya. Kita belum bisa menemukan dia lebih rendah lagi. Untuk touchling rate-nya ini diklaim up to 480 Hz. Ya, jelas enggak terasa ada delay yang ganggu ya. Baik untuk tab-tap atau swipe-swipe itu enggak ada. Untuk layar sentunya bisa support sampai 10 jari sekaligus. Di sini juga ada fitur always on display dan beneran bisa diatur selalu menyala bukan 10 detikan doang di sini ya. Nah, di layar ini juga ada in display fingerprint scanner. Kalau di sini tuh masih optical beda dengan versi yang di atasnya yang udah pakai ultrasonic. Walaupun demikian, fingerprint-nya tetap berjalan lancar dan akurat. Nah, kalau kita bahas soal beza layar ini menurut Kris ya udah terhitung sangat tipis dan simetris di seluruh sisinya. Lanjut ke atas layarnya. Terdapat earpace untuk telepon dan ada kamera selfie 32 megap f2.0 fix fokus. Perekaman videonya up to 4K 30 fps dan 1080p 60 fps juga bisa. Nah, beralih ke sisi belakang di sini ada modul triple kamera Leica Vario Sumilux ASPH plus ada satu LED flash. Vario artinya bisa nge-zoom. ASPH itu artinya dia punya elemen asherical atau lensa yang cembung dan cekung di situ ya. Sementara Sumilux artinya dia adalah jenis lensa Leik yang lebih cepat alias bukaannya lebar. Perlu diingat, coengineer dengan Leica bukan berarti Leik memproduksi lensanya, bukan. Tapi ini berarti dalam perancangan kamera secara keseluruhan, Leica ini bekerja sama dengan Xiaomi. Semua pengujian hardware hingga tuning hasil gambar yang dikerjakan bersama dengan Leica pakai standarnya Leica. Kemudian ada juga fitur-fitur yang dikembangkan bersama dengan Leica. Nah, untuk kameranya ini terdiri dari Leica main camera 50 megapel. Ini pakai sensor Light Fusion 900. Ini masih sensor yang sama seperti yang ada di 14T Pro dan Xiaomi 14 serta Xiaomi 15 juga. Vocaleng-nya ekuivalen dengan 23 mm. Bukanya F1.6. Lebar nih ya. Dilengkapi dengan optical image stabilizer. Perekaman videonya maksimum sampai 4K 120 fps dan dia juga bisa ngerekam sampai 8K 30 fps. Lalu kamera berikutnya ini ada Leica Ultra Wide 12 megapel. Ini fixed focus bukanya F2.2 field of view 120 derajat. Vocalnya equekivalen dengan 15 mm. perekaman video up to 4K 30 fps dan 1080p 60 fps juga bisa. Nah, gini dong. Paling enggak ultrawide itu bukan cuma 8 megpel atau yang cuma bisa 1080p 30 fps doang. Oke, satu lagi ini ada Ois Lec Pro telefoto 50 megap optical zoom-nya 5 kali. Ini vokal ini ekivalen dengan 115 mm. Ini adalah lensa periscope ya. Dia autofokus dan bukanya F3.0. perekaman videonya up to 4K 60 fps. Kamera telefoto ini upgrade jauh dibanding pendahulunya. Akhirnya dia pakai OIS dan zooming-nya bisa lebih jauh. Sia mengatakan kalau kamera ini sudah pakai anti glare lens coating. Jadi harusnya akan lebih minim dari bias-bias cahaya. Untuk software kamera terkait Leica ini bisa kita lihat di aplikasi kamera bawaannya. Di sini ada Leica Photographic Styles. Bisa pilih antara Leceka Autentic atau Leica Vibrant. Lalu di sini ada Leica Watermark, ada Leica filters, Leica Portrait, dan ada Lecassic Shutter sound. Nah, untuk fitur-fitur ekstra di kameranya itu ada banyak ya. Ada promote untuk foto dan video, super moon, slow motion dan lain-lain. Yang udah enggak ada di sini adalah fitur embunnya. Itu udah enggak nemu ya. Harusnya Xiaomi udah belajar dari masalah yang sebelumnya ya. Oke, kita masuk ke spek internalnya. Untuk SOC dia pakai Mediatchek Dimensity 9400 plus. ini merupakan dimensi 9400 versi yang clock speed-nya sedikit lebih tinggi. Untuk Core X925-nya dari 3,62 GHz itu naik ke 3,73 GHz dan ada 20% peningkatan dari si performa AI-nya. Untuk sisanya sih tergolong mirip-mirip aja sama series 9400. Nah, untuk RAM 12 GB LPDDR 5X gitu dong, bukan 8 gig, 12 kasihnya langsung. Untuk storage 512 GB dan tersedia juga versi 1 TB. Ini kayak Xiaomi lagi ngamuk ya untuk versi yang 15T Pro ini masukkan langsung ada 1 TB segala ya. Baterai 5500 mAh. Wire charging-nya support sampai 90 watt hyperche. Untuk wireless support sampai 50 watt wireless hyperche. Lalu untuk bypass charging ah sayangnya ini belum ada. Untuk sensor-sensor tentunya lengkap ya. Sensor esensial semuanya ada. Giroskop hardware jelas ada di sini. Untuk fitur kameraman dia punya inisplay fingerprint scanner dan ada face unlock. Untuk konektivitas 5G tentunya ya. 2G, 3G, 4G, 5G bisa semua. dia udah support juga bahkan udah support dual isim ya masih agak jarang nih untuk di smartphone-sartphone kelas harga segini lalu wifi-nya udah wifi 7 wifi 7 juga tersedia bluetooth-nya versi 6 untuk Bluetooth kodexnya ada SBC, AAC, LDAK, LHDC, dan keluarga FTEX ada semua di sini. USB-nya tentu bisa OTG, NFC ada juga di sini. Nah, untuk display output ini belum bisa. Kalau kalian nyari yang bisa display output adanya di Xiaomi 15. Kemudian untuk USB-nya ini masih versi 2 ya. Ini adalah salah satu yang membuat seri T-nya ini bisa lebih terjangkau sepertinya. Untuk OS dia pakai Xiaomi Hyper OS2 Android 15. Nah, terkait Android update Xiaomi itu janjinya ada 5 kali Android update dan 6 tahun security update. Sampai saat video dibuat, Xiaomi 15T series ini masih pakai Xiaomi Hyper OS 2. Tapi Xiaomi menjanjikan bahwa dalam waktu dekat akan ada update ke Xiaomi Hyper OS3. Nah, kalau iklan gimana? Kita enggak nemu iklan yang intrusif ya sejauh ini ya. Kalaupun ada biasanya itu penawaran dari Get Apps dalam bentuk notifikasi, tapi karena ini notifikasi jadi bisa dimatiin aja. Kalau blotware atau software ekstra ya memang ada, tapi memang sebagian besar itu bisa di-uninstal. Jadi bukan masalah lah harusnya. Untuk fitur OS masih sama seperti di Xiaomi 14T Pro kemarin. Fitro AI-nya banyak. Kalau mau tahu ada apa aja fitur AI-nya bisa dicek di setting. Lalu pilih Xiaomi Hyper AI. Daftar fiturnya ada di sini ya dari AI writing, AI image editing, interpreter dan sebagainya. ada di sini. Oke, enggak perlu lama-lama kita langsung aja masuk ke dalam pengujian performanya. Kali ini bareng sama Kris ya. Oke, untuk pengujian Xiaomi 15T Pro kali ini bareng sama saya ya. Kita mulai dari benchmaknya dulu. Di setting baterai. By default mode performanya ada di balance. Untuk mendapatkan skor yang lebih tinggi kita perlu atur dulu setting baterainya ke performance mode. Untuk Antutu 10 kita dapat skor di 2,5 jutaan. Untuk Antutuut 11 kita dapat skor di 2,7 jutaan. Penting untuk diingat skor AnTu 11 itu tidak bisa dibandingkan dengan Antutu 10 ya. Makin baru versi Antutu-ya lebih tinggi soalnya. Untuk Geig B 6 core di 2.678 dengan multiore di 8.139. Untuk JFX Benches offsreen kita dapat di 108 FPS. Tapi sayangnya ini adalah skor yang tidak normal. Sebagai perbandingan di Match City 9400 yang biasa itu harusnya di 165 FPS kisaran segitulah. Sedangkan untuk Xiaomi 14T Pro tahun lalu yang pakai di Man City 9300 Plus itu dapat di 146 FPS. Jadi kalau kita taruh di graphic benchmark SOC jadinya skornya ini enggak normal. 3D Mark Slingshot Extreme Unlimited kita dapat graphic skore di 32.247. 3D Mark Solar Bay yang retracing kita dapat 40 fps. Sekarang kita coba lihat stress testnya. 3D Markel stress test. Kita coba tanpa kipas dulu. Best score-nya kita dapat di 19.505. Lowest score di 11.300. 84. Stability-nya di 58,4%. Terlihat ada throtlingnya di sini ya. Saat pakai kipas best scor-nya jadi 19.640, lowest score-nya jadi 14.174, stability-nya meningkat jadi 72%. Untuk benchmark sintetis bisa kita bilang ini adalah skor yang luar biasa kencang untuk kelas harganya. Enggak beda jauh lah sama Snapdragon 8 Elite. Sekarang kita ke pengujian gaming. Untuk gaming, setting baterai kita setel di performance mode. Dan di overlay game turbo kita juga mengaktifkan performance mode-nya. Ya, kita mulai dari Mobile Legends. Setting grafisnya bisa sampai ultra dengan frame rate-nya juga di ultra. Artinya bisa sampai 120 fps. Saat dimainkan juga bisa jalan lancar di 120 fps. Udah keentengan lah untuk SOC sekelas ini. Selanjutnya Real Racing 3. Game balapan 1 ini bisa berjalan di 144 FPS mengikuti layarnya yang 144 Hz. dan ini bisa jalan di 144 FPS tanpa perlu setting apapun. Game berikutnya Subway server. Di game yang satu ini juga bisa jalan dengan lancar di 144 FPS tanpa ada masalah. Biasanya di smartphone lain kan ada aja tuh masalah refresh rate yang nyangkut. Kalau di sini mah aman. Game berikutnya PUBG Mobile. Setting maksimum sudah terbuka di sini. Jadi kita bisa mainkan di smooth ultra ekstrem atau 120 fps. Saat dimainkan juga aman. 120 fps lancar enggak ada masalah. Giro ming juga aman enggak ada masalah sama sekali. Berikutnya Gensin Impact. Karena SOC-nya udah kelas flagship begini, jadi kita langsung aja coba di setting highest 60 fps. Untuk skenario pengujian sama seperti biasa travelnya 30 menit dan hasilnya ya 60 fps rata. Gensin sudah berhasil dilibas oleh smartphone ini. Tanpa pakai kipas mendingin hasilnya sudah sangat stabil. Rankingnya sudah S plus mentoklah ini. Supaya lebih menantang harusnya Gensin bisa kasih opsi paling enggak 90 fps lah ya. Sayangnya sampai saat ini masih mentok di 60 fps aja. Lanjut kita balik cek suhunya. Suhu di sisi layar paling panas itu cuman 40 derajat Celcius. Suhu di body belakang paling panas cuman 40 derajat celcius. Suhu segini mah terbilang masih adem lah ya. Untuk penyebaran suhunya sendiri juga udah baik ya. Bisa merata hampir ke seluruh sisi bodinya. Game berikutnya Wering Wave. Kita coba dengan setting rata kanan. Di sini game bisa berjalan 60 fps lancar untuk semua skenario, baik traveling maupun battle yang intens. Tetap berhasil stabil di kisaran 60 fps. Yang hebatnya lagi, suhunya juga enggak sampai yang panas banget kok. Sisi layar terpanas cuma di 42 derajat celcius. Sisi belakang terpanas cuma di 42 derajat celcius. Game ini memang lebih berat dari Gensin ya, tapi masih sanggup dilibas dengan smartphone ini. Oke, sekarang kita masuk ke pengujian kameranya. Oke, di tangan saya kali ini sudah ada Xiaomi 15T Pro. Langsung aja kita lihat kemampuan kameranya seperti apa. Yang pertama saya mau cari tahu adalah kemampuan mikrofonnya. Suara yang kalian dengar sekarang ini adalah suara langsung dari mikrofon smartphonnya. Saya gak pakai mikrofon exernal. Untuk kebutuhan video sehari-hari atau vlogging hasilnya kurang lebih seperti ini. Perlu diingat, urusan mikrofon itu subjektif banget ya. Tergantung kalian dengarnya dari smartphone apa, tergantung pakai speaker apa. Yang jelas kalau menurut saya pribadi penilaian subjektif ya tentunya ya flagship-nya Xiaomi itu urusan mikrofon udah pada beres lah. Saya kalau vlogging pakai smartphone ini tanpa mikrofon exernal tuh udah PD. Pakai mikrofon bawa aja udah cukup lah. Nah, untuk pengujian kali ini saya enggak sendiri ya. Jadi kita udah ada junior-junior yang baru. Jadi untuk bantuin saya ngetes kamera juga. Jadi mungkin kalian akan sering lihat muka mereka nih sekarang kan udah ada Noval sama Isan. Sekarang ada Asvi, ada Asama Provincia sama tadi ada Zaki juga yang jadi modelnya. Jadi ke depannya kalian akan seringelihat muka-muka mereka lah kalau lagi kamera. Oke, terkait mikrofon ada sedikit tambahan info ya. Kalau kita lihat di sisi frame terlihat kalau lubang mikrofonnya tuh cuma ada di sisi bawah doang ya. Tapi yang jelas ini bukan single mikrofon loh. Saya awalnya juga sempat bingung ini mikrofon keduanya ada di mana ya? Di frame atas enggak ada. Di sisi belakang kamera yang ini ternyata itu bukan mikrofon. Ada lubang sih, cuman itu bukan mikrofon. Setelah saya cari tahu, ternyata mikrofon pasangannya itu ada di bawah earpiece. Jadi, kita juga bisa tes dengan cara lagi di ruangan yang kedap suara, kita tap aja di lubang mikrofonnya. Kita tap tap tap dan kita pakai aplikasi recorder bawaannya. Tadi kan kelihatan tuh kalau ada input suaranya tuh dekat mikrofon akan ada grafik naik turunnya. Jadi jangan sampai salah paham kalau ini tuh single mikrofon bukan ya. Mikrofon pasangannya ada kok. Sekarang kita bahas kamera selfie-nya. Dari segi kualitas gambar, kamera selfie-nya ini udah keren ya. Detailnya tinggi dengan ketajaman yang pas. Skin tone menurut saya sih terlihat lebih coklat ketimbang aslinya. Dynamic Range sayangnya tergolong kurang oke nih. Wajah masih bisa terekspos dengan baik tapi bagian highlight-nya terlalu overpose. Tapi perlu diingat ini situasinya kalau pencahayaannya sulit aja. Kalau di situasi lighting-nya oke mah videonya bagus-bagus aja. Di sini terdapat fitur HDR video ya untuk kamera selfie-nya. Jadi kita bisa aktifkan dulu fitur HDR-nya supaya dynamic range video selfie-nya lebih bagus. Cuma catatannya adalah ini hanya berlaku untuk 30 fps saja. 1080p 30 fps dan 4K 30 fps. Untuk 1080p 60 fps belum bisa. Kalau urusan stabilizer aman ya. Kami sudah uji di 1080p 60 fps dan 4K 30 fps sekalipun stabilizernya tuh bisa bekerja dengan baik. Lanjut ke kamera utamanya. Dari segi detail ini udah mantap banget lah. Skinone cenderung kekuningan dibandingkan aslinya. Setidaknya dari apa yang saya lihat ya. Nah, terkait dari micrange di sini sudah mantap ya. Sisi gelap terang dapat diseimbangkan dengan baik dengan sedikit syarat aja nih dari micrange akan bagus selama kita merekam di 4K 60 fps ke bawah. Saat kita coba di 8K 30 fps, sayangnya kemampuan dynamic range-nya menurun. Bisa dilihat dari area terang yang sekarang jadi over expose. Tapi ini di kondisi cahaya yang sulit aja. Kalau dites di kondisi cahaya ideal sih 8K-nya bagus-bagus aja. Stabilizer pun lengkap. Di 4K 60 fps hasilnya stabil. Kita juga coba di 8K 30 FPS hasilnya juga bisa stabil. Di kondisi cahaya ideal, stabilizernya sudah tergolong cukup rapi lah. Di sini enggak berasa efek kedut-kedutnya gitu. Harus dong ya. Namanya juga flagship. Sekarang kita ke kamera ultra white-nya. Ultra white-nya juga mantap ya. Video ultrawide-nya bisa sampai 4K 30 fps. Menariknya 1080p 60 fps juga bisa ya, enggak dikunci di 30 fps doang. Kualitas gambarnya mantap, detailnya juga oke. Terkait dari micrangage juga sudah oke, enggak ada masalah. Sisi terang gelap dapat diekspos dengan cukup baik. Stabilizer video aman, videonya terlihat stabil dan juga rapi. Mau disetel di 10 80 p 60 fps ataupun 4K 30 fps videonya bisa stabil enggak ada masalah. Sekarang kita ke kamera telefoto lima kali optical zoom-nya. Nah, ini dia nih upgrade terbesar di Xiaomi 15T Pro ini. Telefotonya panjang benar, bisa lima kali optical zoom. Kualitas videonya juga oke, detailnya mantap. Kalau menurut saya, warna kamera telennya ini punya saturasi yang cenderung tinggi. Warna hijau terlihat lebih menyala, skin tone juga agak sedikit kemerahan. Yang saya suka itu natural bokehnya. Beh, cakep banget ini. Dari micrnya juga oke. dengan baik. konsisten untuk resolusi dan frame rate manapun yang kita gunakan. Kalau terkait stabilizer, sayangnya memang belum oke ya. Tapi ini adalah hal yang wajar untuk sebuah kamera telefoto. Kita enggak bisa bandingkan stabilizer telefoto dengan kamera ultrawide atau kamera utamanya. Semakin panjang telenya semakin sulit untuk distabilkan. Kurang pas untuk dibawa jalan-jalan seperti ini. Nah, sekarang kita ke pengalaman mult kameranya. Untuk pengalaman mult kameranya sudah asik ya. Di sini bisa kita lihat pindah-pindah antar kameranya sudah smooth. SKB yang dulu ada di Xiaomi 14T Pro sudah diperbaiki di sini. Sekarang kita bisa pindah kamera langsung saat merekam di 1080p 60 fps antar kameranya. Dulu enggak bisa nih kayak begini. Kemampuan seperti ini terkunci di 30 fps doang yang dulu. Nah, kalau yang sekarang 1080p 30 fps, 1080p 60 fps, 4K 30 fps. Itu bisa. Kalau 4K 60 fps belum bisa ya. Dan ini masih wajarlah. Kalau terlalu dewa kameranya malah ngalahin Xiaomi 15 di atasnya dong. Banyak juga yang penasaran apakah bisa pindah langsung ke kamera selfie. Sayangnya untuk sekarang belum bisa ya. Fitur ini baru ada di beberapa smapon aja. Xiaomi sepertinya belum kepikiran untuk develop fitur kayak begitu. Terkait pengalaman mult kameranya ini yang perlu diperbaiki Xiaomi adalah konsistensi warna antar kameranya. Tuning warna supaya mirip untuk semua kameranya adalah hal yang sulit mengingat sensor yang digunakan itu beda-beda. Tapi ini pergeseran warnanya lumayan jauh sih. Ultra white-nya warnanya gimana, kamera utamanya gimana, telefotonya gimana, warnanya beda semua. Untuk kelas flagship kita sudah boleh berekspektasi lebih terkait konsistensi warnanya. Semoga bisa dicuning lebih oke lagi sama Xiaomi. Sekarang kita lanjut ke kondisi low light. Kamera selfie-nya seperti ini. Detailnya masih oke. Videonya masih terhitung cukup terang juga. Noise cenderung minim. Frame rate masih stabil di 30 fps. Untuk standar pengujian, saya memilih fitur seperti auto FPS dimandikan aja. Saat dicoba di 1080p 60 fps, video lebih gelap. Dan ini adalah hal yang wajar karena 60 fps memang butuh cahaya lebih banyak. Tapi menurut saya ini masih bisa dipakai lah ya. Wajah masih kelihatan lah bentuknya. Gambarnya sendiri juga masih tergolong bersih dari noise. Terkait jiter stabilizer masih bisa terlihat, tapi bagi saya ini masih di level yang wajar. Kalau mau stabilizer yang lebih rapi, solusinya adalah setel ke 1080p 60 fps. Stabilizernya bisa lebih rapi di sini. Sekarang kita tes kamera utamanya. Hasilnya luar biasa ya. Di low light seperti ini pun detail masih tinggi, bersih dari noise. Di mode 60 fps sekalipun juga bukan masalah. video masih bisa terang dengan detail yang masih oke. Tapi di 8K 30 FPS sayangnya video jadi lebih gelap ya. Padahal ini 30 fps loh. Sepertinya memang antara keterbatasan sensornya sendiri atau memang ada processing yang enggak jalan ketika di 8K. Jadi saran saya pakai 8K 30 FPS-nya di kondisi cahaya yang melimpah aja ya. Dari segi stabilizer kalau kita merekam di 4K 30 FPS giternya masih terasa sedikit. Kalau mau stabilizer yang lebih rapi, kita bisa pakai mode 60 fps aja. Sekarang kita ke kamera ultrawide-nya. Di kondisi low light hasilnya seperti ini. Detailnya masih ada, belum tergolong video low light yang burik banget lah. Masih mencukupi untuk low light seperti ini. Catatan pentingnya adalah kami kurang menyarankan menggunakan 60 fps di low light pakai kamera ultrawide. Alasannya bisa kalian lihat sendirilah. Kalau urusan stabilizer masih terasa jaternya di sini. Rasanya lebih oke pakai kamera utamanya aja lah kalau mau dibawa jalan-jalan. Sekarang kita tes kamera telefoto lima kali optical zoom-nya. Untuk kondisi low light ternyata hasilnya masih mencukupi ya. Gambar masih cukup terang dengan detail yang masih cukup terjaga. Noise-nya ada tapi cenderung minim di sini. Dan overall gambarnya masih oke lah. Masih sanggup untuk kondisi low light. Saat kita coba di 60 fps, gambarnya ternyata masih bisa cukup terang ya. Cuma memang dari segi ketajamannya udah agak kurang. Gambar terlihat agak soft dan mulai terlihat agak noisy gitu gambarnya. Overall sih menurut saya optimalnya masih di 30 fps ya untuk telefotonya. Nah, terkait autofokus langsung aja kita cobain di low light. Soalnya kalau di kondisi terang saya gak gitu nemuin masalah sih. Saat di low light saya mendapati di beberapa situasi autofokusnya tuh bisa nyangkut. Ketika sudah nyangkut solusinya adalah kameranya harus diestart dulu. Semoga ini cuma isu software aja yang bisa segera di-fix ya. Kalau untuk kamera telnya sendiri dari pengalaman kami agak kurang lancar ya autofokusnya. Enggak tahu kenapa, kadang malah susah fokus. Dan sekalinya bisa fokus agak kurang responsif juga hitungannya. Jadi kurang s aja autofokus untuk kamera telefotonya ini. Semoga kemampuan autofokusnya bisa ditingkatkan lagi. Tapi di satu sisi yang saya suka adalah jarak fokusnya cukup dekat ya untuk sebuah kamera TL 5 kali optical zoom. Meskipun belum terhitung level makro sih, tapi ini udah lumayan oke lah. Nah, untuk fotografi saya pribadi ketagihan banget pakai kamera tele 5 kali optical zoom-nya. Ini asli coy, ini upgrade yang saya nanti-nantikan dari dulu. Lalu terkait foto, fitur Leica black and white-nya juga sedap banget seperti biasa. Intinya foto-foto pakai Xiaomi 15T Pro ini luar biasa lah selama kalian memang suka karakter warna fotonya. Jadi ini udah urusan selera banget lah. Soalnya saya pernah dapat feedback ada aja orang yang kurang suka cuning warna alaleika ini. Kita hanya diberikan opsi vibrant atau autentik. Tidak ada opsi untuk dimatikan. Warna foto yang berkarakter seperti ini ternyata jadi pedang bermata dua. Yang suka ya akan suka banget. Kalau enggak suka ya akan jadi kesal karena warna fotonya enggak bisa yang supernatural. ini membuatnya akan kurang cocok untuk foto produk yang butuh warna super akurat. Sekarang kita bahas fitur-fitur ekstranya. Kita ada cobain beberapa. Yang pertama itu ada slow motion. Ini sebetulnya agak bimbang sih saya mau dimasukkan ke fitur ekstra atau pengujian video normal. Jadi gini, di mode video normal kita bisa merekam sampai 4K 120 FPS. Sedangkan di mode slowmo khususnya malah enggak bisa 4K 120 mentok di 1080p 240 FPS aja untuk real frame rate-nya. Normalnya sih orang pakai 120 FPS memang untuk slow motion ya. Dan yang paling oke menurut saya ada di 4K 120 FPS-nya ini gokil lah hasilnya. Xiaomi 15 aja yang biasa itu belum kebagian loh fitur ini. Lalu fitur ekstra menarik berikutnya adalah promote-nya ya. Bisa untuk foto dan bisa untuk video juga. Untuk foto ISO dan shutter speed bisa kalian cek di layar aja karena detailnya cukup banyak nih untuk pro video. Menariknya di sini ada audio level dan ada fitur lock juga di sini. Oke, jadi itu ya lab tes kamera jagat untuk Xiaomi 15T Pro. Tentunya kameranya ini tidak sempurna ya. Ada beberapa hal yang kurang atau perlu ditingkatkan lagi sama Xiaomi. Enggak banyak sih. Yang pertama yaitu video selfie-nya. Memang sih dynamic range-nya bisa kita buat lebih oke. Harapannya sih namanya udah flagship ya. Harusnya point and shoot aja ya. Tinggal rekam video dari Micr udah beres aja pokoknya. Cuman saat ini kita mesti nyalain dulu HDR videonya dan masih ada beberapa SKB-nya. Lalu berikutnya warna ketika pindah kamera gesernya tuh lumayan jauh ya, belum dicuning supaya lebih konsisten. Lalu di resolusi 8K 30 FPS ada beberapa keterbatasan teknis seperti daya mic race kurang oke dan kemampuan low light-nya yang kurang oke. Ini spesifik di 8K tapi ya. Lalu berikutnya autofokusnya kurang lancar di beberapa situasi. Dari segi kelebihannya ya, Chuning Leik itu sendiri hanya dengan karakter foto yang dihasilkan saya rasa cukup untuk jadi alasan untuk orang mengambil smartphone ini. Dan kalian juga enggak perlu khawatir karena secara mendasar kemampuan foto dan videonya itu sudah kelas flagship juga kok. Leik memang spesialis untuk tuning foto, bukan video, tapi videonya sendiri udah oke di sini. Lalu kamera telen-nya upgrade jauh ketimbang pendahulunya. Nice. Lalu saya mengapresiasi Xiaomi masih ngasih 1080 p 60 fps untuk semua kameranya. Enggak semua smartphone di kelasnya ini bisa loh. Ada aja kan yang 60 fps-nya terkunci di kamera utama doang atau kamera selfie doang. Tele ultrawide enggak dikasih. Ada aja kan. Lalu videonya sendiri bisa stabil di semua resolusi ini juga nice. Kamera utamanya bisa 4K 120 fps. Ini keren banget. Lalu fitur ekstra kameranya juga banyak. Intinya ini adalah smartphone dengan kamera luar biasa yang bisa kita dapatkan di kelasnya saat ini. Tinggal kalian perhatikan aja beberapa keterbatasan yang saya jelaskan tadi. Itu penting atau tidak untuk kalian. Sekian pengujian kameranya Xiaomi 15T Pro. Kita lanjut lagi ke pembahasan berikutnya. Sip. Sekarang kita masuk ke pengujian baterai. Untuk YouTube lokal video playback 1080p baterainya baru habis selama 28 jam 33 menit. Nah, tumben nih Xiaomi. Baterai cuma 5.500 tapi bisa awet seperti ini. Naik jauh ketibang pendahulunya yang cuma bisa dikisaran 20-an jam. YouTube streaming 1080p 30 menit baterai berkurang cuma 2%. TikTok setengah jam baterai berkurang cuma 3%. Gensin Impact highest 60 fps. Baterai berkurang cuma berapa? 10%. Buset. Overall kemampuan baterainya tergolong yang sangat awet. Biasanya ini hasil tes baterai yang kami harapkan untuk baterai kisaran 6000 mAh lah. Mantap nih Xiaomi. Sepertinya OS-nya udah lebih baik nih. Sekarang kita lihat charging-nya. Baterainya kan 5500 mAh. Charger bawahnya 90 watt. Mengisi sampai 50% itu butuh 15 menit. Sedangkan mengisi sampai 100% itu butuh 36 menit. Buset, kencang banget ini. Tapi memang kecepatan charging-nya turun dibandingkan 14T Pro kemarin yang 120 watt yang cuman butuh sekitar 24 menit lah untuk penuh. Tapi kecepatan seperti ini masih dalam kategori yang super kencang. Mayoritas orang seharusnya tidak akan terlalu bisa merasakan bedanya karena di 120 watt sendiri kalau sudah panas kecepatan chargingnya juga akan diturunkan. Nah, masih soal baterai. Di awal tadi kan Mas Dedi bilang bypass charging-nya belum ada kan. Tapi pasti ada yang protes nih, smartphone Redmi atau tablet Redmi yang ada di Cina itu udah ada kok bypass charging. Ya, kami tahu juga kok. Oleh karena itu, kita juga ngecek nih di sini di game booster bawaannya ada enggak bypass charging-nya. Ternyata tidak ada. Adanya fitur yang namanya slow charging. Kalau dari keterangannya ini bukan bypass charging, cuma nurunin daya yang masuk aja. Ini kita coba tes di kondisi baterai sekitar 20%. Nah, kita coba nyalain slow charging-nya dan dia bisa turun ke sekitar 8 watt. Apakah ini bypass charging atau bukan? Kalau saya pribadi sih ya ikutin aja keterangan yang ada di menu fiturnya. Namanya kan fitur slow charging bukan bypass charging. Untuk pengujian lainnya kita coba Netflix. Dia udah L1 jadi support playback full HD. HDR10 juga bisa, Dolby Vision support dan F1 juga sudah support. Untuk YouTube smartphone ini bisa playback sampai resolusi 4K 60 fps dan sudah support HDR. Untuk hefty feedback, Xiaomi 15T Pro ini pakai Xaxis Linear Motor. Ini mesin getar yang sama seperti yang dipakai smartphone-sampone flagship lainnya lah. Dan feel hepticknya sudah sangat nyaman, getarannya pendek. presisi dipakai mengetik cepat juga udah oke. Oke, jadi itu dia pengujian labget review untuk Xiaomi 15T Pro. Sekarang kita lanjut lagi ke Mas Dedi. Oke, kalau untuk harganya. Ah, sayangnya saat video ini dibuat kita belum tahu harga pastinya di Indonesia itu berapa. Tapi yang jelas ini diposisikan sebagai penengah di antara Xiaomi 15T dan Xiaomi 15. Jadi, harusnya harganya tidak akan lebih tinggi dari Xiaomi 15 saat ini ya. Kalau di 14T Pro kemarin sih harganya sekitar Rp8,9 juta. Semoga harga indonya buat yang si Xiaomi 15T Pro-nya ini gak jauh beda. Tapi memang ya periskop telefoto lumayan mahal ya, bahkan bisa jadi lebih mahal daripada kamera utamanya. Jadi mungkin saja akan ada kenaikan untuk si 15T Pro ini ya. Kalau enggak ada kenaikan harga sih mantap banget. Tebakan saya sih ya ini harusnya Rp9 jutaan dan semoga masih ada varian yang di bawah Rp10 juta. Oke, langsung aja kita masuk dalam hal yang perlu diperhatikan. Untuk USBC ini masih 2.0 ya. Jadi ini buat proses transfer data ke perangkat lain via kabel. Terasa kurang kencang di sini ya. Tapi mengiat harga dan performa serta kameranya rasanya ya okelah bisa diterima yang satu ini. Lagian zaman sekarang sih lebih asik pakai quick share aja kalau copy-copy data kan. Kemudian dia belum support display out via USB, lalu dia belum punya bypass charging. Perhatikan detail spesifikasi dan pengujian kamera yang dijelaskan tadi. Kamera ultrawide dan telefotonya memang tidak setara dengan Xiaomi 15. Perhatikan keterbatasan yang ada itu penting atau tidak untuk kalian. Kemudian untuk Xiaomi itu masih butuh peningkatan dari kualitas video selfie-nya ya. Tapi kalau untuk foto sih udah bagus untuk semua kameranya. Dari segi kelebihannya pertama ini Xiaomi plus Leica. Ini memberikan hasil foto yang unik dan berkarakter. Lalu secara mendasar kameranya sendiri memang sudah kelas flagship baik foto maupun untuk videonya. Lalu ditambah telenya ini udah upgrade jauh banget dari 14T Pro kemarin. Fitur kamera juga berlimpah. Performa SOC-nya monster untuk kelas harga segini ya. Setting grafis game-nya juga terbuka maksimum di game-game yang populer. SU kerjanya juga enggak mudah sampai panas-panas banget gitu. Baterainya ini udah tergolong awet. Layarnya AMOLED 144 Hz. RAM langsung 12 gig. Storage-nya tersedia sampai 1 TB. Body smartphone juga berasa flagship nih ya. Charging dengan kabel juga luar biasa kencang. Chargernya masih ada dalam bok ya. Lalu dia ada support wire charging yang super kencang juga. Update OS-nya 5+ 6 di sini. Fitur AI banyak. Infed blaster masih ada. Inisplay fingerprint ada. NFC ada IP68 udah 5G juga udah support dual SIM juga ya. Nah, lalu smartphone ini cocoknya buat siapa sebenarnya? Secara umum Xiaomi 15T Pro ini ditujukan untuk siapapun yang mencari smartphone kelas flagship yang all round dengan budget sekitar 9 sampai 10 jutaan mungkin ya. Ya, tergantung harganya nanti berapa ya. Sederhana banget target marketnya ya sebetulnya ya. Gaming kencang, kamera keren, baterai oke. Jadi secara memang ini adalah flagship cluster jangkau yang serba bisa. Ah ya. Untuk kalian penasaran ingin merasakan cita rasa kamera laika di sebuah smartphone, Xiaomi 12 Pro ini cocok banget sebetulnya. Performanya juga monster. Cocok buat kalian yang nyari smartphone untuk gaming ataupun untuk penggunaan jangka panjang. 3 sampai 4 tahun masih relevan banget yang satu ini. Nah, pertanyaan berikutnya, apakah pengguna Xiaomi 14T series yang beli kemarin itu cocok untuk upgrade ke sini? Kalau kalian pengguna 14T non pro mau naik kelas upgrade ke sini mantap rasanya ya. Kalau kalian pengguna 14T Pro, upgrade itu ada di baterai yang jauh lebih awet, storage yang ada versi 1 tera ya, sama ada kamera telefotonya yang lebih bagus. Oh ya, desain juga beda sih ya. selebihnya sih mirip-mirip aja menurut kami. Kalau memang kalian butuh upgrade-upgrade yang tadi, silakan aja upgrade ke sini. Kalau enggak butuh mungkin mau nunggu Xiaomi T series berikutnya atau bahkan mau nunggu Xiaomi 17 series. Nah, kalau untuk guna 13T ke bawah sih enggak usah ditanya lagiah, udah upgrade aja enggak usah pakai mikir ya. Tentunya satu ini akan cocok buat kalian yang mau cobain smartphone flagship Xiaomi tapi belum yakin untuk harga yang 123 juta ke atas ya ini bisa jadi alternatif yang oke banget. Nah, akhir kata Xiaomi 15T Pro ini bisa dikatakan sebagai smartphone kelas flagship paling menarik saat ini untuk kelas harganya. Good job Xiaomi Indonesia. Semoga kalian yang mau nyari smartphone ini bisa kebagian dengan harga yang normal ya. Saya Didi Irfan Jaga TV. [Musik]

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Xiaomi

Xiaomi adalah brand elektronik inovatif dengan produk smartphone, AIoT, dan smart home berteknologi canggih. Xiaomi menghadirkan perangkat berkualitas dengan harga kompetitif, mulai dari HP, tablet, wearable, hingga perangkat rumah pintar.

Xiaomi 15

Xiaomi 15 merupakan smartphone flagship ringkas yang secara resmi diperkenalkan oleh Xiaomi dan dipasarkan untuk konsumen Indonesia. Perangkat ini menjadi model dasar dalam lini Xiaomi 15 Series, namun tetap membawa teknologi kelas atas yang setara dengan smartphone flagship premium. Xiaomi 15 ditujukan bagi pengguna yang menginginkan performa tinggi, kamera profesional,...

Xiaomi 14T

Xiaomi 14T merupakan smartphone kelas menengah atas yang resmi dipasarkan di Indonesia oleh Xiaomi sebagai bagian dari lini seri T. Perangkat ini dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara performa tinggi, kemampuan kamera hasil kolaborasi dengan Leica, serta daya tahan yang kuat untuk penggunaan harian. Xiaomi 14T menargetkan pengguna yang menginginkan pengalaman...

Xiaomi 14T Pro

Xiaomi 14T Pro merupakan smartphone kelas atas yang dipasarkan resmi di Indonesia oleh Xiaomi. Perangkat ini diposisikan sebagai varian tertinggi dalam seri T generasi ke-14 dan dirancang untuk pengguna yang membutuhkan performa tinggi, sistem kamera profesional hasil kolaborasi dengan Leica, serta fitur AI yang matang untuk penggunaan harian maupun kreatif....

Xiaomi 15T Pro

Xiaomi 15T Pro adalah smartphone kelas atas yang resmi dipasarkan untuk konsumen Indonesia dengan rangkaian fitur dan spesifikasi teknis yang kuat serta ditujukan untuk pengguna yang membutuhkan performa tinggi, fotografi profesional, dan konektivitas canggih. Perangkat ini hadir sebagai model flagship pada lini seri T dari Xiaomi di Indonesia pada tahun...

Xiaomi 15T

Xiaomi 15T merupakan smartphone kelas atas yang secara resmi dipasarkan di Indonesia sebagai bagian dari lini seri T terbaru dari Xiaomi. Model ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman flagship yang seimbang, dengan fokus pada performa tinggi, layar berkualitas, kamera hasil kolaborasi dengan Leica, serta pengisian daya yang sangat cepat. Xiaomi 15T...