Samsung Galaxy S26 Review: Gak Sesuai Ekspektasi! 🫣 (YouTube Video)
Nah, secara improvement, memang besar ya. Gua pede buat rekomendasi HP ini, terutama buat kalian yang melanjutkan pembahasan kita soal Samsung Galaxy S26 Series. Sebelumnya kan kita sudah bahas first impression-nya tuh ya, yang kita compare juga bareng sama si S25. Nah, seminggu berlalu, sudah dipakai HP-nya untuk daily usage, ternyata ada beberapa rasa penasaran yang waktu itu muncul dan sekarang sudah terjawab. Pertama, soal performa Exynos 2600-nya, terus efeknya terhadap thermal si HP-nya, karena ini kan dia HP compact ya, dan berujungnya itu juga ke pemakaian baterai, yang mana awalnya ini HP gua anggap remeh, tapi semakin dipakai, semakin banyak hal baru yang menarik dan akan kita bahas lengkap di video ini. Full dari performa sampai user interface-nya. Jadi, semoga video ini bisa membantu kalian untuk yang apa ya, penasaran atau lagi menimbang-nimbang mau beli atau enggak si HP-nya, itu bisa terjawab lewat review seminggu menggunakan Samsung Galaxy S26. Let's go. Nah, sebagai konteks rasa penasaran yang gua sebutin di awal soal performa, thermal, dan baterainya, itu berangkat dari keluhan gua sejak pakai HP-HP-nya Samsung dari tahun 2019. Jadi, pertama itu gua pakai Samsung Galaxy S10 Plus yang pakai chipset-nya Exynos. Sampai sekarang masih hidup ya dia ya. Dan lanjut ke Galaxy S23 reguler yang pakai chipset Snapdragon. Dan sekarang itu beranjak ke Samsung Galaxy S26 yang balik lagi pakai chipset in-house Exynos. Dan di sini pakai Exynos 2600. Nah, problem yang selalu berputar-putar saat gua pakai S-series-nya Samsung adalah soal chipset yang sulit dijinakin. Temperatur HP-nya jadi naik, performanya juga otomatis turun ya karena ada throttling dan efeknya itu ke baterai yang boros banget, terutama di Samsung Galaxy S23, yang mana itu gua bisa dua sampai tiga kali ngecas per hari gitu ya. Nah, solusinya yang mana gua harus sementara ngelimit HP-nya lewat power saving. Tapi ternyata pengalaman yang sudah gua alami sebelum-sebelumnya itu tidak terjadi atau berbeda di Samsung Galaxy S26, yang mana chipset Exynos 2600-nya itu diracik dengan spesial. Nah, Exynos 2600 ini adalah chipset mobile pertama yang pakai fabrikasi 2 nanometer gate all around atau GAA ya sebutan kerennya. Targetnya itu buat kasih performance yang kencang atau lebih baiklah dan efisien daya ketimbang chip lain yang pakai fabrikasi 3 nanometer. Sebut aja yang paling dekat itu Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang ada di Galaxy S26 Ultra. Nah, intinya ini adalah chipset yang spesial karena dibuat pakai teknologi yang selangkah di depan, ahead of its time ya ketimbang dengan chipset-chipset lainnya. Nah, kalau misalkan kita cek performa raw atau mentahan dari Exynos 2600 lewat perhitungan benchmark, kita dapat AnTuTu 11 itu di 2,9 juta dan Geekbench 6 multi core-nya di 10.000 poin. Samsung ngambil approach yang main aman soal chipset-nya. Dijinakin pas minta makan terlalu banyak atau pas lagi kalau anak kecil lagi marah-marah namanya apa? Tantrum. Tantrum tuh ya. Dia dijinakin, bisa ngejinakin dan efeknya itu adalah kestabilitas performa yang turun ke 46% lewat stress test 3D Mark Wild Life. Ya memang pas kita benchmark HP-nya itu jadi lumayan panas gitu ya terutama pas lagi stress test. Tapi untungnya itu tidak sampai overheat. Nah, buat ngegambarin gimana pemakaian hariannya experience-nya, kita tes dengan dua game mobile yang berat, Wuthering Waves dan Wuthering Waves. Wuthering Waves kita pakai settingan quality 60 FPS ini yang paling mentok gitu ya dan dapat frame rate di 59 FPS. Temperatur body ini yang menarik karena dijaga di 40 derajat bahkan di bagian sampingnya frame aluminiumnya itu juga masih adem dan makan baterainya itu di 4% aja selama kita main 10 menit. Whirlwind Maze settingan high 30 FPS dapat average frame rate yang mentok juga di 29 FPS, tapi temperatur body ini ternyata lebih adem di 30-an derajat, 38 kalau enggak salah ya. Dan baterai juga sama makannya di 4% setelah 10 menit main. Nah, karena ini adalah chip baru, jadi memang beberapa game belum optimize di sini. Settingan grafis masih belum kebuka gitu ya. Anyway, dengan kondisi seperti ini pun itu masih nyaman ya experience buat mainnya. Nah, gua manfaatin juga Samsung Dex buat dipakai kerja work from anywhere. Colok ke portable external monitor gitu ya lewat USB type C-nya aja. RAM 12 GB itu masih lega buat kita angkat banyak window dan tab browser yang bejibun. HP sekecil ini itu ternyata apa ya? Cabe rawit ya, bisa jadi laptop dadakan kalau di-provide sama layar external. Cuma ya body-nya aja yang memang agak anget jadinya ya. Tapi masih di batas oke lah gitu, enggak sampai overheat atau panas banget gitu si body-nya. Bisa dibilang ini adalah Galaxy S reguler yang paling reliable dari segi performa, adem, dan tahu kapan harus ngegas atau ditahan gitu ya. Yang mana itu berdampak juga ke baterainya yang awet banget. Karena memang pemakaian baterai buat harian gua itu bisa nembus di 4 sampai 5 jam SOT dan ini masih ada sisa baterai buat lanjut sampai agak maleman dikit lah gitu. Nah, kapasitas 4.300 mAh-nya ini berasa dimaksimalin banget gitu ya. Naik 7,5% capacity itu kasih napas lebih buat si HP-nya. Gua memang belum ngetestin SOT pribadi buat si Galaxy S25 sebagai pembanding gitu ya. Tapi kalau misalkan kita lihat perkiraan penggunaan baterainya di website resmi Samsung, perbedaannya di antara keduanya itu di 1 jam video playback dari yang sebelumnya itu 29 jam ke 30 jam di S26. Tapi yang unik adalah kalau kita kutip dari pengetesan GSM Arena, perbedaannya di sini berasa banget. Galaxy S26 ini ada di 15 jam 20 menit dan Galaxy S25 itu ada di 13 jam 9 menit. Bedanya 2 jam, Guys. Itu kenapa gua mungkin berasa nya itu awet banget gitu ya pakai si HP nya entah untuk gaming, harian, atau bahkan benchmarking itu enggak habis-habis pakai si baterai 4.300 mAh nya. Nah, soal charging sendiri ini sebenarnya masih sama kayak sebelumnya di 25 watt wireless dan 15 watt wireless dengan Qi2 compatible. Tapi sedikit lebih cepat nih ternyata ya ketimbang sebelumnya pas kita lagi charging, yaitu ada di 1 jam 4 menit dari 0 sampai full. Kemungkinan karena optimalisasi daya charging nya yang lebih baik selama pengecasan. Nah, kapasitas baterai yang meningkat tadi itu bisa dicapai karena salah satunya adalah ruang yang lebih besar juga di HP nya. Ini pertama kalinya layar seri Galaxy S reguler nembus ke 6,3 inci karena sebelumnya itu 6,1, 6,2. Nah, ini jadi gede banget. Enggak gede banget sih, membesarlah ya. Dengan dimensi bodi juga yang memanjang dan melebar. Jujur menurut gua semakin kecil layarnya semakin menarik. Tapi setelah genggam HP nya semingguan buat keluar kantor, keluar rumah gitu ya, dan di dalam kantor rasanya tangan gua mulai suka gitu sama ukurannya dan mata juga otomatis makin puas kan. Experience harian kayak sosmed atau nonton sampai chattingan itu makin oke dan tetap berasa compact nya nih di seri S reguler. Jangkauan jempol masih gampang gitu ya buat naik ke atas layar gitu ya dan apa buat disimpan di saku ini juga enggak sesek. Nah, soal layar fitur-fiturnya kayak HDR compatibility Netflix itu dapat HDR 10 yang HEVC dan AV1. Dan brightness nya sendiri di lokasi outdoor itu sebenarnya sama aja sama kayak Galaxy S25. Dia cerah dan enggak pernah kekurangan brightness walaupun kita pakai outdoor di bawah terik sinar matahari. Gua notice ada improvement di kualitas speaker yang lebih bulat di Galaxy S26. Ini subjektif memang ya, tapi treble-nya itu berasa on spot banget, terutama pas lagi dengerin lagunya Harry Styles yang baru, yang Aperture. Nah, sedikit soal desain, frame kamera yang berubah mirip sama Z Fold 7. Di satu sisi memang bikin looks-nya jadi premium gitu ya, gua udah sebutin juga waktu itu. Tapi, di sisi lain, pas kita taruh HP-nya flat di meja, itu dia wiggle banget, Pak. Bisa kayak nari-nari sendiri gitu, karena frame kameranya yang nimbul banget, dia tinggi ya. Jadi, tanpa case yang nopang di bagian belakangnya, HP ini berasa gempa, Pak. Nah, memang saat ini udah banyak ya case yang dijual buat Galaxy S26 series. Mau itu resmi dari Samsung ataupun third party case. Ada juga yang enggak bermerek gitu ya dan lucu-lucu itu udah muncul semuanya di online shop. Ini salah satu hal yang bikin apa ya, seru gitu dari Samsung Galaxy S series. Bisa explore casing-nya atau bahkan skin yang banyak gitu ya, udah-udah banyak yang jual di online shop. Tempered glass-nya sendiri ini juga udah banyak di pasaran, kalian bisa langsung beli aja. Jadi, pas lagi pesen, dia nyampe rumah itu barengan sama si HP-nya gitu. Jadi, kalian enggak enggak takutlah, enggak worry si layarnya kenapa-napa. Nah, kamera Galaxy S26 itu sebenarnya udah kita tease hasilnya yang kasih vibrance dan shadow yang berbeda ketimbang Galaxy S25. Samsung balik lagi dengan ngambil warna yang cerah dan ready to post. Tapi, yang gua tidak sadari saat first impression lalu adalah fitur horizontal lock dan lock video dengan large preview, itu ternyata available juga di sini. Jadi, enggak cuma user S26 Ultra doang ya yang bisa ikut tren HP diputer-puter itu atau shoot estetik, tapi seri regulernya ini juga bisa, Pak. Nah, anyway, buat ngegambarin experience motret pakai Samsung Galaxy S26, gua jelasin satu-satu sambil kita lihat hasil foto dan videonya yuk. Nah, main kameranya ini bisa diandelin buat nangkap warna yang cakep gitu ya. Entah kalian andalkan satu kalinya atau 2x digital zoom-nya itu sama-sama bagus, bisa di-andalkan. Foto di kafe ini berasa cakep dan dynamic range-nya ini juga luas ya, ngambil detail sampai ke luar ruangan yang lagi cerah banget itu bisa. Foto objek yang lebih dekat bisa dapat warna yang kompleks dan menarik di mata. Ini kita pakai 2x zoom-nya ya dan ini juga gua nyalakan scene optimizer-nya. Di kondisi malam nightography Samsung berjalan dengan oke, nangkap highlight objek dengan baik tapi masih terasa ada noise di sekitar ruang yang gelap. Telefoto tiga kalinya ini lensa yang gua andalkan buat eksperimental ya, entah itu gua mainkan komposisi foto atau framing. Jadi ini lebih dekat ke subjek atau objeknya. Hasil foto itu sama bagusnya kayak main kamera. Ultra wide-nya sendiri menurut gua kasih landscape yang sinematic ya di setiap foto yang gua tangkap. Di kondisi malam itu jadi apa ya, ke-highlight gitu ya pas motret pakai S26. Berasa natural juga vibes gelapnya itu. Nah, karena focal length-nya di 13 mm jadi luas tangkapannya ini benar-benar luas ya. Kita dapat keseluruhan dari landscape yang kita pengin jepret. Nah, selfie-nya sendiri gua cuma ada dua foto. Ini dua-duanya bareng sama tim Basidotech dan highlight-nya di sini ada di luas tangkapan yang lebar, skin tone pas dan dynamic range ini juga di-boost habis. Oke, ini kalau misalkan kita nyalakan si selfie-nya untuk video recording di 4K 60 dan ini kondisinya di luar lagi cerah banget ya. HDR-nya ini gua nyalakan. Eh, sori gua matikan. Jadi ini kondisinya HDR off, oke. Dan ini gua coba transisi ke kamera rear-nya juga. Nah, ini dia default-nya di satu kali ya. Gua sambil jalan tipis-tipis kita masuk ke dalam kafe supaya kita lihat perbedaannya. Oke. Dan ini lagi ada si Haris tempat mau shooting dulu. Dan ya kira-kira kayak gini bentuknya kalau misalkan kita ganti dari ruangan yang terang banget terus ke dalam dan kita ganti juga untuk lensanya. Satu kali. Ini dua digital, terus tiga kali optical. Bisa kita tarik. Tariknya itu bisa kita sampai 15 kali. Ini perpindahannya kalau misalkan kita tarik lagi ke ultra wide. Gimana menurut kalian soal kualitas videonya? Tulis di komen. Dan enggak cuma yang seri ultra-nya aja yang punya fitur horizontal lock, tapi seri reguler-nya. Ini gua enggak notice pas lagi first impression kemarin, tapi gua happy banget karena fitur ini ada juga di seri lainnya selain ultra. Nah, pertama kali pakai One UI 8.5 di sini berasa lebih clean ya dan lebih fleksibel buat kita atur dari sisi visual-nya. Penambahan search bar yang bentuk pill-nya itu jadi lebih kecil di bawah itu ngejadiin visual-nya lebih clean ya buat app drawer, settings, galeri sampai files. App icons juga ini dibikin design yang agak nimbul kalau misalkan kalian perhatiin nih dan control center sekarang bisa full custom. Torres, Samsung Torres bisa full custom. Jadi sekarang itu mau bentuk bulat, manjang ke samping, manjang ke bawah, ke mana bisa Torres. Tapi ini tergantung lagi ya sama control-nya. Ada yang bisa di-custom bebas, ada juga yang terbatas gitu dan animasi control icon-nya ini juga sedikit diubah gitu di One UI 8.5. Nah, terus Bixby sekarang lebih pintar lagi ya dan terintegrasi sama sistem HP-nya dan bisa kita minta tolong buat ngecekin banyak hal soal si HP-nya. Misalkan informasi baterai HP sampai kita minta Bixby buat atur pengaturan HP-nya gitu dibukain setting-an dia juga bisa. Bahkan dia juga bisa bukain aplikasi gitu ya dan pengaturan HP-nya untuk kita gitu. Canggih sih tapi cons-nya memang kita belum bisa ngobrol pakai bahasa Indonesia. Jadi harus pakai bahasa eh yang lain bahasa Inggris misalkan atau bahasa Cina gitu bahasa Jepang bahasa apa Ris? Korea dong. Nah, Perplexity AI itu juga jadi opsi lain yang bisa kita pilih selain Google Gemini. Ini pertama kalinya gua cobain Perplexity ya dan integrasinya bareng sama aplikasi di dalam HP Samsung yang next level ternyata. Nah, kalau di luar negeri itu dia bisa mesenin Uber gitu. Jadi tinggal sebut aja dan dibantuin pesannya lewat detail-detail yang nanti eh kita provide juga. Nah, dia juga bisa akses banyak aplikasi di HP juga dan nyariin file tertentu atau kalau kalian mau minta saran atau research informasi itu juga bisa ya. Nah, yang ini Perplexity-nya udah support bahasa Indonesia. Jadi kalian bisa langsung ngomong aja gitu ya. Ya, kadang masih ada flow-nya gitu ya saat kita coba untuk eh Perplexity-nya puterin lagu Harry Styles Aperture di Spotify itu kadang suka beda gitu lagunya ya mungkin eh optimalisasinya aja yang harus di-upgrade terus gitu tapi untuk fungsinya ini udah works. Nah, masih ngomongin soal AI icon Galaxy AI di galeri ini jadi foto assist sekarang yang bisa kita cek empat jenis editing tools buat otak-atik foto dari AI eraser, move, create sampai favorit gua itu yang style. Nah, kita bisa ubah hasil foto jadi berbagai animasi sampai karya seni. Bisa custom art juga foto yang udah ada gitu ya di kolom foto atau recreate keseluruhan gambar di kolom portrait. Dan ini hasilnya cakep sih rapi. Memang AI generate-nya Samsung ini one of the best ya, hasilnya itu bagus-bagus, Pak. Nah, masih ada banyak lagi sebenarnya fitur menarik soal One UI 8.5, tapi kalau misalkan kita bahas di sini akan panjang banget ya, mungkin bisa sejam sendiri. Jadi, buat kalian yang setuju untuk lanjut review UI barunya Samsung di video terpisah, of course, request saja di kolom komentar. Oke, jadi kalau misalkan kita tarik lagi ke pernyataan di awal, Samsung Galaxy S26 tidak sesuai ekspektasi, itu karena perubahannya ternyata lebih dari yang gua bayangkan. Dari pemilihan chipset-nya yang berani Exynos 2600 sampai spek kameranya yang masih sama kayak generasi sebelumnya. Tapi kalau misalkan kita ulik lagi experience-nya itu ternyata menyenangkan ya. Ini HP yang reliable dan menarik buat pemakaian jangka panjang. Satu, itu karena performancenya yang kencang, surprisingly adem banget. Kedua, baterai awet karena chipset-nya juga yang tadi ya, bisa dijinakin dengan baik. Dan tiga, kameranya dioptimalin lewat fitur horizontal lock dan latch preview yang sama kayak seri Ultra-nya. Jadi, bisa dibilang Samsung ini jago buat jinakin chipset barunya yang 2 nanometer Exynos 2600 di Galaxy S26. Chip-nya di-maintain supaya ngejaga thermal HP-nya yang compact kayak gini dan ngebantu konsumsi baterai juga yang irit banget. Bukannya enggak kencang ya, tapi delivery performanya itu dibikin pas gitu ya buat si HP compact. Gua dapat experience harian yang enggak pernah nge-lag, tapi HP-nya sendiri ini enggak pernah panas juga dan ngaruh juga ke baterai yang possible banget buat nembus di SOT 5 sampai 6 jam. Itu sama heavy usage gaming juga ya, yang mana experience-nya ini enggak pernah gua temuin di generasi Galaxy S series lainnya sebelumnya. Ternyata Exynos bisa adem kok. One UI 8.5 ini lebih fun, adjustment interface yang makin simpel dan kustomisasinya juga lebih fleksibel. Fitur AI buat explore foto makin menarik dan fitur favorit gua, itu kita bisa explore shot-shot estetik lewat LUTs yang turun dari seri Ultra ke seri reguler regulernya. Tapi pertanyaannya akan selalu seperti ini, worth it atau enggak buat sikat Samsung Galaxy S26 saat ini? Nah, secara improvement memang besar ya untuk overall experience-nya di Samsung Galaxy S26 reguler. Gua pede buat rekomendasiin HP ini terutama buat kalian yang suka sama HP compact dan pengen jangka panjang tanpa khawatir kurang ini itu. Tapi ini soal harga. Rentang harga S26 dengan S25 reguler itu lumayan jauh. S25 itu di pasaran 12 sampai 13 jutaan 256 GB. Sedangkan S26 itu di 16 jutaan 256 GB. Bedanya 3 juta guys. Dan ini rasanya worth buat kalian sabar ya sampai dapat momen promo lagi atau deal kayak storage upgrade ke 512 itu menarik banget. Tapi kalau kalian butuh urgent, rasanya S25 itu juga menarik di harganya saat ini. Tapi gimana menurut kalian? Tiap orang punya pendapatnya masing-masing. Kalau misalkan kalian bilang S25 lebih worth it, S26 lebih worth it, boleh banget ditaruhin di kolom komentar atau ada opsi lain yang menurut kalian lebih menarik, kalian boleh banget berkabar di sana dan iya kita ketemu lagi di video selanjutnya. Thank you guys. Ciao Bella.
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Memulai bisnis laundry sering kali terlihat sebagai ladang uang yang mudah dan menjanjikan, namun realitas di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya. Berangkat...
Pasar perangkat audio nirkabel premium bersiap menghadapi guncangan besar lewat kehadiran lini Soundcore Liberty 5 Pro Series. Di tengah dominasi merek-merek mapan...
Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...
Memilih ponsel kelas menengah terbaru sering kali berujung pada dilema antara performa gaming yang buas atau kenyamanan ekosistem perangkat yang matang. Samsung...
Sistem operasi robot hijau kembali membawa lompatan besar lewat kehadiran Android 17 yang kali ini tidak sekadar bersolek di sektor visual. Google tampak sangat...
Langkah berani Samsung dalam merombak lini audio nirkabelnya lewat Galaxy Buds 4 Pro berhasil mencetak standar baru yang belum pernah dicapai generasi sebelumnya....
Bagi kaum mendang-mending yang enggan melirik jenama asal Tiongkok, bursa ponsel pintar sering kali terasa sempit dan penuh kompromi. Namun, episode terbaru Kotek...


















