Jungkat

Versi BIASA yang SANGAT TIDAK BIASA! - Review vivo X200 (YouTube Video)

  • 09/01/2025

Oke, jadi saya udah pake hape ini selama hampir 1 bulan dan banyak banget hal yang ingin saya ceritakan tentang hape ini, terutama soal kameranya. Ya mungkin hape ini adalah yang paling "jelek" di antara varian yang lain atau yang Pro atau yang Mini. Dan ngebahas soal hape ini bisa dipastikan 75% yang akan saya bahas tentu aja seputar kamera. Karena memang kamera di hape ini berhasil bikin saya lupa sama bagian yang lain. Saya bahkan nggak tau kalau ternyata hape ini pake SoC yang sama dengan versi Pro-nya. Maksudnya saya lupa gimana nyamannya hape ini waktu dipake selain buat ngambil foto dan video. Tapi semua hal dari hape ini akan saya kesampingkan, karena pertama yang akan saya bahas tentu bagian yang paling krusial dan bahkan bisa jadi yang paling banyak kita bahas di video ini. Beberapa bulan terakhir kita tuh selalu memuji-muji hape vivo ya. Mulai dari desain yang cantik, harganya yang oke, sampe kameranya yang masuk kategori bagus banget masyarakat. Saya yakin banyak dari kalian yang berpikir kalau kita itu dibayar, di-endorse atau apalah itu. Saya akan pertimbangkan statement kalian kalau memang kalian sudah mencoba hape-hape yang kita sebut tadi. Tapi selagi kalian belum pernah mencoba hape tersebut, saya anggap statement kalian adalah tuduhan yang tidak berdasar. Dan besar kemungkinan itu muncul karena ketidaksukaan kalian terhadap brand ini. Tapi nggak masalah, itu kan masalah kalian ya. Kamera... [Mouldie]: Nggak dibayar kok guys. [Irwan]: Kaget saya. [Mouldie]: Nggak dibayar. [Irwan]: Maaf ya guys, video kita selanjutnya akan banyak cameo guys. Soalnya posisi produsernya di sebelah banget ini. [Mouldie]: Tinggal wihh! Kamera X200 ini bagus banget ya. Walaupun banyak netizen yang bilang kalau foto dari kamera di hape ini terlalu oversaturated lah, terlalu gonjreng lah, terlalu highly processing lah, atau terlalu tidak natural gitu. Menurut saya, sah-sah aja setiap orang punya pendapat seperti itu. Karena memang menilai sesuatu bagus atau nggak terhadap kamera di sebuah smartphone. Tidak bisa dibongkiri faktor subjektifnya sangat kental gitu. Begitu juga di hape ini. Dulu saya suka banget dengan foto kamera yang punya hasil foto yang natural gitu. Tapi saya berpikir, buat apa hape foto terlihat natural kalau tidak bisa memuaskan banyak orang yang melihat? Karena kok pada akhirnya, fotonya kita tangkap juga akan berakhir di media sosial kan? Jadi sekali lagi, buat apa foto natural kalau pada akhirnya akan diedit dan dikasih filter? Gitu kan kalian? Hape-hape dengan foto processing yang sangat berat seperti Vivo X200 ini menurut saya justru solusi. Karena pada akhirnya, saya tuh capek ngedit-ngedit foto. Pengennya setiap ambil foto bisa langsung diposting ke media sosial, dan menurut saya tidak ada yang salah untuk punya hape yang hasil fotonya gonjreng. Sekali lagi karena banyak orang yang suka. Hape ini, semua kamera belakangnya beresolusi 50MP, baik kamera utamanya, kamera ultrawidenya, dan kamera periscopenya. [Mouldie]: HA! [Irwan]: Kaget gua! Astagfirullahaladzim! [Mouldie]: 50MP? Ini 200 dong! Sombong banget nih orang. Buru jadiin script-nya, jangan ngoci aja lu! [Mouldie]: Iya sabar, sabar. [Irwan]: Emang enak? Lama! Iya karena banyak sih guys yang harus dibahas. Saya tadi mau nge-review tapi kan saya udah pernah waktu di Beijing kemarin. [Mouldie]: Iya dong, gantian. [Irwan]: Gimana? Bagus kan? [Mouldie]: Iya bagus. Bagus guys! Apa ini? Semua kamera belakangnya beresolusi 50MP? Baik itu kamera utamanya, kamera ultrawidenya, bahkan kamera periscopenya. Sedangkan kamera depannya beresolusi 32MP. Untuk kualitas fotonya, dalam kondisi cukup cahaya, foto yang ditangkap oleh hape ini tuh bagus banget. Bagus dalam arti fotonya udah langsung siap gitu loh. Siap buat diposting, atau cuma sekedar dipamerin. Lihat deh, gimana tajemnya detail yang ditangkap, serta warna yang vibrant banget gitu loh. Dynamic range-nya juga terlihat cukup baik. Bagian-bagian gelap bisa di-highlight dengan sangat baik di hape ini. Lensa ultrawide di hape ini punya tone warna yang sedikit warm dibandingkan lensa utamanya. Kalian lihat deh foto langit ini. Di lensa ultrawide, awannya terlihat lebih warm atau lebih kuning. Untungnya perbedaan tone warna kedua lensa ini nggak terlalu jauh ya. Jadi masih bisa diterima lah. Foto-foto ultrawidenya juga sudah pasti tajem berkat kamera beresolusi 50MP. Lensa tele di hape ini hanya beresolusi 50MP, berbeda dari versi Pro-nya yang beresolusi 200MP. [Mouldie]: *KETAWA* [Irwan]: Bang saya jantungan bang... Kaget saya bang. Orang ngasih aba-aba dulu, oke siap saya masuk nih, saya masuk sih gitu. Kalau gitu kan saya kaget bang. Astagfirullahaladzim... Sombong banget mentang-mentang 100MP, sebel. Tapi foto-foto zoom di hape ini masih masuk kategori sangat baik. Berkat prosesi yang melibatkan AI, foto-foto yang aslinya tidak terlihat jelas jadi semakin jelas dan tajam. Iya sih memang, terkadang fotonya terlihat sangat artificial sekali gitu lho. Dan tidak natural. Tapi emang siapa yang butuh foto natural? Kita tuh cuma butuh foto yang gonjreng. Tajem. Dan bikin muka kita terlihat cakep gitu. Iya nggak? Terus fitur dari kamera ini yang mindblowing justru ada di kemampuan menangkap foto portrait. Lihat deh foto-foto ini. Beuh, cakep banget kan? Lihat bagaimana foreground dan background dipisahkan. Natural banget sob. Bahkan bagian terkecil seperti rambut aja bisa dipisahkan dengan baik. Edan sih nih hape. Karena rambut adalah bagian yang rumit untuk diidentifikasi, dan nggak jarang foto portrait justru ngeblur bagian rambut ini. Di hape ini juga kita bisa pilih berbagai macam preset bokeh dengan efek bokeh khas Zeiss yang berbeda-beda. Seperti Biotar, Sonar, Planar, Distagon, dan lain-lain. Bahkan ada bokeh sinematik ala-ala lensa anamorphic lho. Oh iya, nggak cuma portrait. Karena satu fitur lagi yang menurut saya killer banget dan mungkin nggak akan kalian temukan di hape manapun, yaitu fitur telemacro. Berbeda dengan makro di smartphone pada umumnya, telemacro ini memanfaatkan lensa tele atau periscope untuk menangkap foto objek. Hasilnya sangat-sangat membagongkan lho. Saya jamin semua hape dengan lensa makro akan minder melihat hasil dari foto telemacro di hape ini. [Mouldie]: Tolong diinget ya, produsen-produsen. Bikin makro yang bener tuh telemacro. Udah kagak ada lagi tuh lensa makro 2MP, 5MP. Ah lu buang-buang kamera aja lu. [Irwan]: Nah kan nggak bisa dijual murah bang, kalau dikasih beneran mah. Itu kan cuma ngisi slot aja biar... [Mouldie]: Ya mending nggak usah! Ya kan sayang daripada ada tulisan AI 2 biji? [Mouldie]: Iya juga... Bulet-bulet... [Irwan]: Ada AI terus di bawahnya AI juga. Kan nggak lucu. Kemampuan kamera di hape ini dalam menangkap foto low light juga menurut saya bagus. Perhatikan foto-foto yang saya tangkap dalam kondisi low light ini. Di sini kita bisa melihat bahwa fotonya terlihat tajam dan sangat minim noisenya. Adanya optical image stabilization bikin proses menangkap gambar jadi lebih stabil, walau diambil secara handheld. Raw power di hape ini juga tinggi. Itulah yang bikin processing low light terasa sangat cepat. Jadi experience menggunakan hape ini untuk hunting foto di malam hari menurut saya sangat menyenangkan. Yang agak ganggu paling ya... langit yang harusnya hitam malah jadi kebiru-biruan gitu. Kayaknya si AI ini kurang pintar buat membedakan mana langit mana yang bukan langit. Semua dibikin biru. Kayaknya dia... simpatisan demokrat. *ketawa* [Mouldie]: Aduh, nggak usah ngomongin politik lagi bang, aduh... [Irwan]: Loh kan walaupun udah ga pemilu partainya masih ada bang! [Mouldie]: Emang yang biru cuman demokrat? Nasdem? [Irwan]?: Oh iya bener Nasdem lagi... Biru ya? Bukan coklat? [Mouldie]: PAN-PAN-PAN... Oh iya! Eh dulu cuma 3 ya partainya? 80an! Yang terakhir untuk lensa kamera yang ada di bagian depan. Kualitasnya juga menurut saya sangat baik ya. Kameranya beresolusi 32MP ini, punya focal length yang cukup lebar. Jadi untuk foto selfie, dia sangat nyaman terutama kalau dipakai buat foto selfie rame-rame. Atau sering disebut sebagai Wefie. Bukaan di kamera depannya ini cukup besar, yaitu f/2.0. Di mana kalau kita perhatikan, bokeh-bokeh natural masih sangat terlihat ya. Dan kalau masih kerasa kurang bokeh, kalian bisa pakai fitur portrait. Dimana sekali lagi, filter-filter untuk foto portrait di kamera depannya ini banyak banget pilihannya. Ini saya rekam menggunakan Vivo X200, versi biasa, tanpa Pro. Yang pada akhirnya masuk resmi ke Indonesia. Dan ini adalah salah satu flagship yang sebenarnya sangat ditunggu sejak tahun kemarin. Sejak tahun dimana handphone ini diluncurkan di Cina. Satu hal yang bikin hape ini sangat ditunggu adalah kualitas kameranya yang luar biasa... Sangat tempting. Saya nyobain pertama kali di Beijing, beberapa bulan lalu. Nyobain ya versi Pro-nya, dan itu benar-benar edan sih emang kamera Vivo ini. Dan sekarang saya coba langsung versi biasa untuk kamera depannya. X200 ini bisa merekam video di resolusi 4K dengan frame rate-nya 60fps. Kalian bisa lihat, sepertinya sudah HDR karena bagian belakang, langit-langitnya masih terlihat sangat jelas birunya. Dan bisa di-highlight tanpa harus menggelapkan bagian buka. Dan menurut saya ini adalah salah satu handphone android dengan kemampuan perekaman videografi yang terbaik. Yang mungkin ada di 2025. Dan ini adalah sampel video dari kamera belakang. Dimana menurut saya kamera belakang di hape ini juga videonya bagus banget. Walaupun tidak ada opsi perekaman video beresolusi 8K atau 4K 120fps. Seperti yang versi Pro-nya bisa lakukan. Tapi yang pasti ini sudah bagus banget saya beberapa kali bikin konten pakai X200 ini. Termasuk konten YouTube di channel saya. Hasilnya itu seperti yang kalian lihat. Ini hasilnya bagus banget ya. Maksudnya untuk sebuah handphone Android. Video-nya sudah sangat reliable dan bisa dipakai untuk produksi yang sedikit serius. Karena kalau kalian lihat detail-nya cakep, warnanya juga oke. Terus karena dia focal length-nya luas. Jadi posisi segini mukanya masih masuk semua. Aperture-nya juga gede, lumayan. Jadi bisa ngasih efek sedikit bokeh di bagian belakang. Intinya untuk kamera belakang hasil perekaman video-nya saya suka banget. Untuk desain hape ini sama persis dengan semua varian yang lain ya. Bahkan masih mirip dengan generasi sebelumnya. Yang sedikit berbeda adalah beratnya. Dimana hape ini beratnya 202 gram, sementara versi Pro-nya 228 gram. Karena pada dasarnya ada 2 hal yang bikin si Pro ini lebih berat. Pertama adalah ukuran baterainya yang sedikit lebih besar. Dan modul kameranya serta setelan kameranya yang juga lebih besar dan lebih tebal. Pada dasarnya, spesifikasi di hape ini mirip dengan varian Pro-nya. Saya bilang mirip karena memang secara angka ada beberapa bagian yang berbeda. Misalnya jenis layar yang dipakai. Dimana versi Pro-nya sudah menggunakan AMOLED jenis LTPO. Sedangkan untuk varian biasanya masih menggunakan AMOLED konvensional. Walaupun brightness-nya masih terlihat sama. Layarnya bagus, respons-nya juga oke. Sudah HDR, sudah 120Hz, yang mana ini sudah lebih dari cukup menurut saya. Untuk performa, sudah pasti hape ini ngebut. Pake Mediatek Dimensity 9400. SoC yang dikembangkan khusus hasil kerjasama Vivo, ARM, dan Mediatek. Kalau dibilang SoC paling ngebut, ya nggak juga. Karena secara angka, Snapdragon 8 Elite bisa dapet angka dari Antutu yang lebih tinggi. SoC ini sebenernya diklaim bisa sampai 3 juta ya, tapi untuk dapet angka di atas 2,5 juta aja saya ngerasa kesulitan gitu. Untuk angka-angka dari beberapa aplikasi benchmark yang lain juga, hape ini dapet angka yang sangat impresif. Artinya memang SoC ini ngebut banget. SoC paling ngebut yang dibuat Mediatek. Dan Dimensity 9400 ini sejauh ini baru dipakai oleh hape-hape di BBK Group. Seperti X200 series dan X8 series. Sayangnya hape ini mengalami throttling yang cukup signifikan. Seperti yang kalian lihat sekarang, penurunan performanya cukup terasa seiring dengan naik kisuh pada hape. Saya sudah coba ngakalin dengan cara memasangkan pendingin eksternal, tapi performanya masih mengalami throttling yang parah. Bahkan di web mereka itu tidak ada dijelaskan berapa besar pendinginnya, bagaimana sistem pendinginnya dan lain-lain gitu. Nggak ada. Untungnya throttling ini nggak terasa waktu dipakai dalam skenario penggunaan casual. Mungkin akan terasa kalau kalian coba main Genshin Impact atau game-game AAA di hape ini, yang mana itu nggak saya lakukan. Untuk RAM, hape ini punya RAM sebesar 12GB dan bisa kita extend 2x lipatnya. Jadi total 24GB. Untuk suaranya sendiri berukuran 256GB dan sudah pakai UFS 4.0. Kecepatan bacanya ada di 920MBps dan kecepatan tulisnya ada di 1,3GBps. Cukup cepat, walaupun secara teknis, UFS 4.0 ini sanggup membaca sampai 4,2GBps dan menulis sampai 2,8GBps. Untuk baterai, vivo S200 ini lebih kecil dari versi Pro-nya. Versi Pro-nya itu punya baterai sebesar 6000mAh, sedangkan hape ini hanya 5800mAh. [Irwan]: Bang, 3 kali gua kaget bang. Keempat jantungan nih gua bang. Sudah lumayan besar sebenernya, apalagi mereka ada teknologi bernama BlueVolt. BlueVolt sendiri adalah teknologi yang memanfaatkan baterai silikon karbon yang terkenal punya density yang lebih padat. Jadi brand bisa bikin baterai dengan kapasitas yang besar dengan ukuran yang kecil. Daya tahan baterai di hape ini menurut saya sangat memuaskan untuk sebuah flagship ya. Kita semua tau hape flagship sulit buat lepas dari stigma boros. Tapi belakangan, hape-hape flagship vivo bisa ngasih daya tahan baterai yang awet. Dalam pengujian, hape ini bertahan nyaris 12 jam dalam penggunaan non-stop. Dan daya tahan baterai yang awet ini didukung sama fast charging yang juga ngebut. Dalam paket penjualan, sudah disertakan sebuah kepala charger dengan maksimum output 90W. Dan baterai sebesar ini bisa terisi penuh dari 5-100% dalam waktu kurang dari 1 jam aja. 50 menitan kalau nggak salah. Untuk software, nggak banyak yang bisa saya ceritakan. Menggunakan Funtouch OS 15 berbasis Android 15. Untuk experience, cukup menyenangkan dan terasa sekali bahwa ini user interface yang mateng ya. Walaupun ini bukan UI favorit saya. Untuk software, fitur-fitur di hape ini juga nggak lepas dari embel-embel AI. Sebut aja ada AI Eraser buat hapus objek di foto, terus ada AI Photo Enhance buat bikin foto burik jadi cakep, terus ada AI Transcript buat konversi suara ke text secara otomatis sampai Circle to Search. Yang kepake banget buat nyari sesuatu berdasarkan apa yang kita lihat di smartphone. Software ini bisa jadi pertimbangan untuk membeli hape ini, karena vivo salah satu brand yang berani ngasih jaminan update software yang cukup lama. Khususnya untuk hape-hape flagship mereka ya. Buat durability, hape ini juga punya dual sertifikasi IP68 dan IP69. Dia juga punya setup dual speaker yang suaranya bagus menurut saya, jauh dari kesan cempreng. Terus... Eee... Ya udah, kayaknya itu aja yang bisa saya ceritain soal hape ini. Dimana menurut saya, varian terendah dari seri S200 ini bagus banget ya. Selama 1 bulan pake hape ini sebagai daily driver, kerasa nyaman banget dan sangat bisa diandalin buat foto-foto terutama ya. Beberapa kali saya bawa hape ini buat ngumpul sama teman-teman, mereka semua setuju kalau kamera di hape ini memang bagus banget. Gimana menurut kalian? Tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah ya. [Mouldie]: Udah, gantian gantian. [Mouldie]: Gantian, gantian, gantian, gantian, gantian. [Irwan]: Langsung gantian ngapain anjir? Gua pikir yang diganti Shin Tae-Yong doang? Oke, karena tadi review X200 udah, sekarang kita akan review X200 Pro. Yang ini jauh lebih bagus. Selesai reviewnya. [Irwan]: Eh apaan itu doang?? Effortless banget njir!

Lihat di YouTube

Video Lainnya

Brand Terkait

Vivo

Vivo menghadirkan smartphone dan perangkat pintar dengan kamera canggih serta desain stylish. Vivo dikenal dengan teknologi fotografi inovatif, performa andal, dan fitur modern untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, dan produktivitas.

Vivo X200

Vivo X200 hadir sebagai "Flagship dengan Kamera ZEISS Canggih dan Performa Tinggi untuk Fotografi, Videografi, dan Gaming" untuk pengguna yang mengutamakan kamera serbaguna dan kinerja kencang. Perangkat ini dipasarkan di Indonesia dalam dua pilihan warna, yaitu Hijau dan Hitam. Varian memori yang tersedia untuk pasar Indonesia adalah 12GB + 256GB....