vivo X300 Pro vs iPhone 17 Pro: AI photography vs lensa beneran (YouTube Video)
agak ngeri-ngeri sedap ya. Hidup di zaman serba AI kayak sekarang makin susah itu buat ngebedain mana yang AI, mana yang asli. Nah, fungsi A sendiri itu macam-macam ya. bisa buat nyari tahu apapun, bisa buat ngolah data, bisa buat generate konten atau sesimpel untuk moles hasil foto dari kamera sebuah smartphone. Dan yes, ini yang akan gua lakukan di video kali ini. Akan jadi hal yang cukup menarik ketika kita membandingkan hasil foto dari smartphone antara yang diolah dengan AI dan yang murni tanpa AI. FYI saat ini beberapa flagship Android kayak Vivo, Oppo, Huawei itu udah pada pakai bantuan AI. Nah, untuk mewujudkan komparasi ini gua akan pakai dua smartphone. Yang pertama adalah ini Vivo X300 Pro sebagai salah satu flagship Android dengan kamera paling mantap saat ini. Dan untuk pembandingnya, gua akan pakai iPhone 17 Pro. Gua akan menyajikan dan membandingkan hasil foto zoom dari kedua smartphone ini. Gua akan pakai level Zoom 8X ke atas karena di range ini udah melibatkan pemrosesan AI. Sedangkan di iPhone 17 Pro, gua akan pakai nih lensa tele tambahan dari brand reflex dengan aplikasi kamera Pro biar hasil fotonya itu benar-benar murni tanpa polesan AI. Nah, untuk komparasi pertama gua udah motret beberapa foto dengan 8 kali zoom di outdoor dengan kondisi cahaya berlimpah. FYD X300 Pro gua pakai color tone zal. Di foto ini kelihatan hasil foto lensa televisik di iPhone itu lebih cetar, lebih bright. Begitu kita zoom, tulisan kopi tiam dari lensa fisik ini juga sedikit lebih clear dan background dedaunan selain lebih terang juga kelihatan lebih tajam. Next, di foto ini juga sama ya overall jepretan lensa televisik lebih terang ya. Ini enggak jadi penilaian sih sebenarnya karena kalau mau lebih terang hasil foto di X300 Pro itu tinggal kita naikin aja shadow dan highlight-nya. Nah, untuk teksnya kali ini kombinasi hybrid zoom dan juga polesan AI dari X300 Pro bisa mengimbangi ketajaman lensa televisik. Walaupun memang warna hijaunya enggak terlalu akurat ya, karena dia enggak terlalu pekat, tapi menurut gua ini tetap impresif. Lanjut foto ketiga gua motret karakter tahi lalat. Bicara soal detail, gua bisa bilang lensa televisik yang gua pakaiin di iPhone 17 Pro ini unggul tipis aja ya. Yang paling berasa bedanya paling warnanya aja sih. Hasil foto X300 Pro itu perlu di-adjust lagi kalau mau lebih akurat. Tapi soal detail, gua enggak melihat ada perbedaan yang terlalu mencolok. Nah, di foto yang keempat kali ini gua coba pakai 30 kali zoom dari jarak sejauh ini teksnya sama-sama masih bisa kebaca dengan jelas. Bedanya lagi-lagi processing warna dari lensa televisik yang gua pasang di iPhone itu lebih akurat. Dan kalau kita perhatiin teks dari jepretan X300 Pro ini lumayan kelihatan jelas karena polesan AI. Tapi ya masih tetap mirip aslinya sih, enggak yang jadi berubah bentuk atau berubah hurufnya. Komparasi berikutnya gua motret wajah orang. Thanks to bini gua yang udah mau difotoin. Secara kasat mata kedua foto ini sama-sama terlihat mantap. Bahkan efek di foto X300 Pro itu juga natural. Perbedaan baru akan kelihatan begitu kita melakukan pixel peiping. Di mana area wajah di foto X300 Pro ada polesan AI berupa sharpening dan bagian alisnya ini juga cukup terlihat soft ya. Biar lebih afdol, gua coba motret sekali lagi. Dan lagi-lagi hasilnya menunjukkan karakteristik yang sama kayak foto sebelumnya. Hasil hybrid zoom plus bantuan Aid X300 Pro ini terlihat impresif dan baru kelihatan kalah tajam kalau kita zoom fotonya sampai benar-benar dekat banget. Nah, ketika kita pakai jangkauan zoom yang lebih jauh lagi kayak di foto ini barulah berasa banget perbedaannya. Polesan AI di sini terasa signifikan yang bikin detail jadi hilang, wajah terlalu mulus. cukup jauh dibandingkan tangkapan detail lensa televisik. Mungkin hal kayak gini bisa jadi insight ya buat brand HP ke depannya biar bisa lebih ngegodok tuningan AI-nya agar lebih pas, enggak terlalu agresif. Kita lanjut ke foto zoom indoor. Di foto ini overall menurut gua exposure dari hybrid zoom di X300 Pro itu lebih enak di mata. Sementara jepretan lensa televisik di iPhone sedikit over expos. FYI ini gua udah jepret sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama ya. Di dalam ruangan kayak gini, ketajaman dari jepretan X300 Pro itu masih bisa ngelawan yang bahkan tekstur kayu di area pintu ini malah lebih pekat berkat polesan AI dan hasilnya masih terlihat cukup realistis. Nah, tapi di foto yang berikutnya di kondisi dengan cahaya yang lebih minim, peran AI sangat-sangat berpengaruh. Tulisan yang ada di sini terlihat jauh lebih jelas di foto X300 Pro dibanding jepretan lensa televisik yang gua pasangin di iPhone. Juga berlaku untuk foto yang bukan teks kayak foto patung ini. Di mana jepretan lensa televisik punya banyak noise karena cahayanya kurang proper. Sementara hybrid zoom di X300 Pro bisa memanfaatkan AI yang bikin foto jadi terlihat cukup proporsional, detailnya enggak terlalu soft, dan noise-nya juga minim banget. Oke, terakhir gua akan compare foto zoom jarak dekat atau telemro karena ini juga memang jadi andalan HPHP flagship China ya. FYI enggak semua HP punya kemampuan telemakro termasuk iPhone itu enggak bisa. Dan lensa televisik yang gua pasangin ini juga sayangnya dia enggak bisa motret dari jarak terlalu dekat. So, gua akan pakai adapter makro seperti ini dan mari kita bandingkan. Sebenarnya untuk proses motretnya lebih enak di X300 Pro ya, karena jarak fokusnya lebih fleksibel, titik fokusnya juga lebih lebar. Overall untuk dapetin titik fokus dari jarak dekat lebih gampang di X300 Pro. Hasil fotonya pun karena ada post processing-nya bikin kelihatan lebih proper dan eye candy segar di mata. Fokusnya dia lebih merata, komposisi kontras dan exposur-nya juga mostly lebih pas, enggak perlu di-retouch lagi warnanya. Dan yang paling penting level detailnya ada di level yang sama dengan lensa tele makrofisik. Luar biasa. Nah, dari beberapa foto tele di scene dan kondisi yang berbeda barusan, kita bisa menarik kesimpulan campur tangan AI di beberapa kamera smartphone flagship memang tidak bisa dihindari lagi untuk saat ini dan terbukti cukup bisa mendongkrak kemampuan overall kamera smartphone. Untuk para casual user bakal dapat benefitnya di mana mereka tinggal point and shot aja dan hasil fotonya udah auto bagus. Tapi buat para content creator atau kamera entusias, gua yakin akan lebih prefer hasil imaging dari lensa beneran tanpa ada AI. Nah, paling harapan gua satu aja sih agar para engineer di brand smartphone ke depannya bisa lebih menyesuaikan level agresivitas dari penerapan AI ini. Misal kayak difoto wajah, AI-nya jangan terlalu dominan. Tapi kalau difoto landscape atau produk atau teks misalnya, nah baru deh enggak apa-apa kasih porsi AI lebihan karena enggak akan terlalu kelihatan juga. Nah, kalau kalian sendiri itu lebih prefer yang mana? Motret pakai smartphone dengan bantuan AI atau murni tanpa AI? Drop komen di bawah.

















