3 Bulan bersama Galaxy S25 Ultra | Samsung Terlalu “Nyaman” (YouTube Video)
Gak kerasa udah 3 bulan aja nih sejak gua mulai nyobain pakai Samsung S25 Ultra di pertengahan Februari 2025 ini. Jadi di video kali ini gua mau bahas experience dan pendapat pribadi gua setelah pakai HP ini jadi daily driver gua. [Musik] Kalau kita ngomongin desainnya S25 Ultra kali ini enggak bakalan lepas dari pembahasan soal desainnya yang berubah haluan dari S24 Ultra. Kalau sebelumnya S24 Ultra itu desainnya boksy banget dengan ujung-ujungnya yang tegas, tajam, dan memacarkan aura Note yang kuat banget yang udah dibangun dari seri-seri sebelumnya. Kali ini S25 Ultra bisa dibilang mematahkan tradisi itu dengan pakai silet design yang lebih seragam sama adik-adiknya. Banyak yang menyayangkan karena desain S24 Ultra itu iconic banget. Yang jelas beda sama varian-varian S lainnya yang lebih affordable. Tapi kali ini S25 Ultra malah kelihatan hilang aura eksklusifnya karena malah jadi mirip sama adik-adiknya itu. Gua cukup setuju karena S24 Ultra itu desainnya emang iconic banget. Tapi sebagai user yang juga pernah pakai S24 Ultra selama beberapa bulan, gua harus bilang desainnya S25 Ultra ini overall lebih nyaman dalam pemakaian sehari-hari. Gua bilang overall itu karena di satu sisi S24 Ultra itu pinggirannya yang dibikin agak curve itu emang sedikit lebih enak feel genggamnya di tangan daripada sisinya S25 Ultra yang flat. Tapi corner atau ujung-ujung body dari S25 Ultra yang dibikin agak grounded itu ngasih experience yang significantly lebih nyaman daripada di S24 Ultra yang nyiku banget yang berasa nusuk ketika digenggam ataupun pas masuk ke kantong celana. Frame-nya S25 Ultra yang flat ini bikin lebar HP-nya jadi lebih ramping 1,4 mili. yang emang enggak banyak. Tapi buat HP segede ini, pengurangan dimensi sekecil apapun itu very welcome buat nambah comfort genggam dan ngurangin bobot HP-nya. Frame-nya ini juga sekarang upgrade pakai Titanium grade 5 yang dipakai juga di iPhone 16 Pro yang kekuatannya itu significantly lebih baik daripada titanium grade 2 yang dipakai di S24 Ultra. Penampakan lain yang berubah ada di bagian belakang di mana sekarang kamera ring-nya tuh ada list atau pinggiran hitamnya gitu yang bikin looknya itu jadi kayak di ZF 6. Overall, desain dari S25 Ultra ini jadi yang paling nyaman dan paling modern sejauh ini. Menurut pendapat pribadi Layar di S25 Ultra ini jadi sedikit lebih gede di 6,9 inch berkat baselnya yang makin tipis jadi makin kelihatan full lagi. Dan baselnya yang sama di keempat sisi itu benar-benar ngasih viewing experience yang premium banget. Panelnya Dynamic AMOLED 2X yang brilliant, terang, dan warnanya cakep. Resolusinya bisa sampai QHD Plus. Walaupun di settingan default-nya yang full HD plus, gua gak berasa kekurangan dan gua juga gak pernah pakai QHD-nya biar bisa lebih irit baterai. Terus of course udah LTPO 120 Hz yang bisa turun sampai 1 Hz. Pokoknya display-nya top notch selaknya flagship Samsung. Walaupun penilaian yang sama juga masih berlaku buat S24 Ultra. Di S25 Ultra ada upgrade sekarang pakai Gorella Glass Armor 2 yang lebih baik lagi drop resistance-nya. Dan sebenarnya aspek bagus di layar HP ini yang beda dari HP-HP lain itu ada di anti reflective coating-nya. Yang ini juga udah improve dari S24 Ultra dan ngasih viewing experience yang enak banget. Kalau kalian mampir ke Samsung Store terus lihat barangnya langsung depan mata disandingin sama HP lain, pasti berasa banget bedanya efek dari anti reflective coating ini. Cuma sayangnya gua adalah satu dari mungkin sebagian besar orang juga yang bakalan tetap pakai screen protektor buat ngelindungin layar HP mahal ini. Yang jadinya benefit dari aspek ini tuh teranulir dan enggak bisa dinikmatin ketika ditutupin pakai screen protector. Tapi anyway, S25 Ultra ini layarnya emang udah bagus banget. Dan kalau ada satu hal yang gua pengen lihat improve di generasi berikutnya itu adalah di bagian PWM diming-nya. Soalnya S25 Ultra ini layarnya masih punya frekuensi PWM dimming di 480 Hz. Yang ini tuh sama juga sama iPhone 16 Pro Max juga by the way. Tapi kalau dibandingin sama pesaing-pesaingnya yang udah pakai 2160 Hz ini tergolong rendah. Dan kalau kalian belum tahu frekuensi PWM diming itu berkaitan dengan efek flicker yang bikin mata lelah. Dan semakin tinggi frekuensinya itu bakalan makin ramah buat mata. Improvement paling signifikan di HP ini menurut gua ada di chipsetnya yang pakai Snapdragon 8 Elite. Ini chipset smartphone paling powerful saat ini yang loncatan performanya dari generasi sebelumnya itu tergolong tinggi dibanding peningkatan-peningkatan tahun ke tahun yang ada di beberapa generasi sebelumnya. Dalam sesi Genin Impact 15 menit di settingan highest 60 fps itu kalian bisa lihat ya tergolong stabil di rata-rata 59 FPS. Sesekali drop tapi enggak jauh di 45. Dan kalau kalian lihat yang drop sampai ke 15 FPS itu cuma pas lagi pindah map doang. Dan suhu bodinya habis nge-game juga angat-angat tipis aja di 40 derajat ya. Cuma ingat hasilnya tuh bisa beda kalau misalnya dites main lebih lama dan di ruangan yang enggak berasik. Sebenarnya chipset flagship generasi sebelumnya kayak Snapdragon Agent 3 yang dipakai di S24 Ultra itu juga masih sangat nyaman buat dipakai ngerjain tas-tas berat dan juga gaming. Dan at this point, performance increase dari Snapdragon 8 Elite itu baru bakal dirasain ketika dipakai buat yang benar-benar berat kayak buat emulator game konsole misalnya. Cuma performance increase yang signifikan di chipsetnya kali ini menurut gua jadi insentif yang value-nya oke. Kalau misalnya kalian bimbang antara beli ini dan S24 Ultra dan kalian mempertimbangkan raw performance biar lebih future proof. Kalau sebelum-sebelumnya kan peningkatan chipsetnya tuh relatif kecil rasanya jadi lebih good value buat beli seri sebelumnya yang udah diskon. Buat kameranya kali ini yang update dari sisi hardware cuma ada di lensa ultrawide-nya yang pakai sensor 50 megapel. Di luar itu, statement official dari Samsung juga bilang kalau image processingnya itu pakai Provisual Engine yang lebih advance. Dan di baseotch sendiri kita udah pernah compare ya hasil kameranya sama S24 Ultra di mana improvement yang noticeable menurut gua cuma ada di ultrawide-nya aja. Dan di luar itu overall kameranya enggak berasa ada beda jauh dibanding S24 Ultra. Foto-foto dari main lens-nya sebagian besar punya tendensi untuk ngasih fokus dan detail yang rata dari tengah sampai ujung ya. Jadi lebih neutral pendekatannya dan gak agresif dalam ngasih efek-efek blur atau background separation yang dramatis. Warna-warna yang dihasilin juga cenderung natural dan enggak terlalu saturated. Performance low light-nya juga bagus, apalagi kalau night mode-nya itu otomatis keetrigger dan nangkap detail-detail yang lebih lagi dengan noise yang minim. puji kata kita yang bicara selalu nyaman bersama ke Jadi engak lagi ke mana-mana kan ya. Ini yang kelihatannya sangat besty-besty dengan yang ada di sebelahnya. Yang datang sama keluarganya mana suaranya? Di S25 Ultra ini sekarang juga udah bisa shoot video lock recording. Yang ini tuh useful buat fotografer yang demen color grading. Soalnya dia bakalan ngerekam dalam lock profile yang image itu warnanya bakalan flat atau pucet. Tapi dalam dynamic range yang lebih luas. Jadi lebih banyak informasi yang ditangkap buat color grading di post production. Tadinya gua kira lock recording ini cuma bakalan eksklusif buat S25 series aja. Tapi ternyata kita cek fitur ini juga dibawa ke S24 Ultra. Jadi kebagian. Kapasitas baterai di S25 Ultra ini enggak berubah dari S24 Ultra. Masih di 5000 mAh. Yang kalau menurut gua di tahun 2025 itu tergolong B aja. Karena banyak pesaingnya yang udah pakai baterai silicon carbon dan bisa ngasih kapasitas baterai lebih gede. Dalam pemakaian sehari-hari, medium usage buat dipakai navigasi nyetir sambil streaming Spotify ke mobil tapi enggak dipakai buat banyak-banyak foto atau rekam video 4K. Gua bisa dapat SOT di sekitar 5 jam dengan rata-rata baterainya tuh nyisa sekitar 20% di jam 08.00 malam. Ini hasil yang dalam takaran flagship sekarang tuh bagusnya biasa aja menurut gua. Considering ada flagship-fagship lain yang bisa tahan lebih lama karena memang punya kapasitas baterai yang lebih gede. Dari segi charging juga sebenarnya ngelihat flagship-fagship lain yang punya kecepatan charging lebih kencang tuh bikin gua jealous gitu ya. Walaupun di S25 Ultra yang udah support super fast charging 2.0 yang 45 watt itu sebenarnya enggak jauh lebih pelan. Kalau dari low bet kita colok 15 menit bisa keisi 26%, 30 menit keisi sekitar 50% dan dalam 1 jam itu udah keisi hampir 90%. HP ini pakai OneUI 7 out of the box dan OneUI 7 kali ini tuh bisa dibilang highlight-nya ada di pembaruan user interface-nya yang cukup besar. Mulai dari aplikasi bawaan yang desainnya baru, bentuk-bentuk notification yang lebih ngebulet, quick setting spanel yang dibuat terpisah dari notification spanel, app drawer yang bisa scrolling vertikal, dan banyak detail kecil lain yang di-update yang bikin tampilan OneU 7 itu jadi lebih fresh dan kelihatan makin polish. Di Basic sendiri, Malvin udah pernah bahas nih ya hal-hal yang baru di OneU7 specifically soal Galaxy AI. Jadi, kalian bisa nonton juga videonya kalau misalnya belum. Di sini gua mau mention empat hal yang jadi highlight. Ada nowbar. Ini elemen berbentuk pil yang bakalan muncul di lock screen bagian bawah sesuai konteks yang bikin ngakses fitur-fitur tertentu yang lagi running di background tuh jadi lebih gampang lagi kayak control music, ngatur timer dan lain-lain. Dan selama pakai emang berasa useful supaya hal penting yang lagi berjalan tuh bisa dikontrol cuma one tap away. Yang kedua ada Now Brief. Yang ini tuh fitur AI-nya Samsung yang ngasih daily summary sepanjang hari kayak asisten pribadi. Kira-kira konsepnya kayak gitu. Dan ini tuh semuanya diakses di satu page aja. Sejauh ini gua lihat isi summary-nya tuh cukup monoton ya, soalnya dia tuh baru nampilin ramalan cuaca, jadwal kalender kita, sama Health Insights kalau misalnya kalian tuh pakai weable-nya Samsung. Belum ada use case yang menarik-menarik banget di sini. Walaupun aplikasi third party itu udah ada sih kayak Spotify misalnya yang ngasih rekomendasi playlist sepanjang hari, tapi belum banyak aplikasi third terparty dan gua sendiri masih menanti-nanti kira-kira ada hal exciting apa ke depannya yang bisa disematin ke fitur ini. Makanya selama gua pakai S25 Ultra itu juga gua enggak terlalu pakai fitur ini. Yang ketiga ini juga fitur AI buat edit audio yang namanya audio Eraser. Ini langsung kita praktikin aja ya fiturnya yang bisa ditemuin secara natif di aplikasi galery. Jadi misalnya kita edit video yang ini nih. Ini kita lagi pada skuteran di Bali dan ada pemandunya yang jagain kita sambil bawa motor. Ini suara motornya dominan kencang kedengaran di background dan di sini kita tuh bisa kurangin suara berisik motornya dalam intensitas yang kita mau. Dan ini bedanya original sama yang kita edit kayak gini bisa kita preview dulu. Jadi ini fitur yang handy buat orang-orang yang pengen edit audio cepat langsung di aplikasi Galery tanpa perlu aplikasi third terparty. Dan keempat ini fitur baru yang menurut gua underrated yaitu fitur best face. Di mana ini kayak fitur bestake-nya Google yang kita tuh bisa edit muka di foto sesuai sama raut wajah yang paling pas. Jadi kalau misalnya ada yang merem atau yang mukanya agak aneh, itu bisa diganti dari opsi yang ada karena dia ngambil sepersekian detik sebelum dan sesudah foto buat capture data. Fitur ini cuma bakalan muncul kalau opsi motion foto dinyalain. Jadi gua selalu nyalain motion fotonya by default. Walaupun begitu fitur base face-nya ini juga ada limitasi di mana ada maksimum berapa muka yang dirack dalam satu foto. Gua lupa berapa. Jadi kalau lagi foto terlalu ramei itu enggak semua muka dapat opsi pilihan best face. Ini fitur emang masih cukup hit and miss, tapi ketika mom tertentu fiturnya jalan dengan tepat, itu jadi fitur yang sangat-sangat useful. Overall menurut gua pembaruan di OneU7 kali ini tuh terbilang cukup gede karena banyak elemen-elemen visual yang diperbaruin dibanding update-update sebelumnya. Jadi, perasaan barunya itu lebih berasa di update kali ini. Elemen-elemen lainnya kita mention cepat aja. Pastinya HP ini support wireless charging C2.1 one up to 15 watts. Bisa reverse wireless charging juga buat nge-charge-ngcharge TWS ataupun HP lain. Ada IP rating 68 jadi aman buat diciplungin ke air dan ada SEN yang kali ini tuh dierve sama Samsung karena udah enggak ada Bluetooth functionality. Jujur gua bukan pengguna SEN yang sering banget pakai apalagi buat kontrol-kontrol pakai Bluetooth. Jadi gua enggak berasa terdampak. Cuma menurut gua penyunatan fitur ini tuh tetap disayangkan. Apalagi pas kita tahu ternyata Samsung tuh juga jual S Pen yang khusus punya fitur Bluetooth buat si S25 Ultra ini. Jadi gimana impresi gua setelah pakai S25 Ultra ini selama 3 bulan? Jawaban gampangnya ya udah pasti nyaman ya kali enggak nyaman. S Ultra ini seri HP yang bisa dibilang selalu jadi patokan standar HP Android paling tinggi sejak seri ini lahir. Tapi kali ini rasanya agak beda ya. Soalnya sepertinya belakangan Samsung tuh ngasih perhatian yang tinggi banget di AI, tapi perkembangan dari sisi hardware itu kayak jalan di tempat gitu. Dan kalau dibandingin sama pendahulunya si S24 Ultra yang sekarang masih bisa dibeli dengan harga yang makin menarik, menurut gua kali ini tuh Samsung benar-benar ketolong sama lonjakan performance dari Snapdragon 8 Elite yang menurut gua tuh jadi satu-satunya alasan paling valid buat keluarin duit lebih kalau misalnya kalian lagi mikir mau beli S24 Ultra atau S25 Ultra. Di satu sisi pesaing-pesayingnya dari China kayak Duo BBK Group dan juga Xiaomi itu bisa ngebawa inovasi dari sisi hardware ke flagship-fagship mereka kayak teknologi display, baterai silicon carbon, dan juga kamera-kamera dengan sensor yang lebih gede. Yang aspek-aspek ini tuh dampaknya mungkin lebih praktis dan mudah kelihatan dibanding inovasi software. HP ini tetap allrounder yang bagus banget, tapi tahun ini persaingan makin ketat karena opsi-opsi lain di Rana Flagship itu cukup kuat ketika disejajarin sama si S25 Ultra. S25 Ultra kali ini tetap punya daya tarik yang kuat. Apalagi buat user-user Samsung yang udah familiar karena dia tuh punya S Pen, terus OneUI yang relatif lebih matang dibanding pesaingnya dan software support-nya juga panjang. Terus ketersediaan device-device ekosistemnya Samsung di Indonesia tuh juga relatif lebih lengkap sama ya brand value dari Samsung itu sendiri yang di Indonesia tuh sangat kuat. Tapi kalau Samsung lengah, gua benar-benar penasaran apakah seri S Ultra berikutnya itu bakalan kesalib dari posisi HP Android paling flagship. Apa jangan-jangan sekarang udah kesalib ya? Coba share pendapat kalian di kolom komen. Anyway, segitu dulu aja, Guys. Sharing experience gua buat S25 Ultra kali ini yang sekaligus jadi video terakhir buat gua di Bas Indootch. Gua mau ucapin thank you banget buat kalian yang udah nemenin gua selama sharing dan ngulik soal teknologi di channel ini. Dan juga gua mau ingetin kalian buat support terus channel kesayangan kalian ini dengan cara like dan juga subscribe kalau misalnya belum. Gua juga mohon maaf kalau misalnya ada salah kata atau hal-hal yang tidak berkenan saat gua sharing di video-video kita selama ini. Dan semoga kalian semua sehat-sehat selalu. For now, nama gua Edwin. Permisi pamit dan kita ketemu lagi di kesempatan berikutnya. Coo. So, ya Edwin lulus dari Bas Indot. Lulus cepat nih. Kelasnya cepat banget. Berapa lama? 10 bulan ya. Thank you banget udah bisa welcome gua di channel ini with open hands. Benar-benar eh adventure yang tidak terlupakan karena di sini rasanya benar-benar semuanya kayak family ya. Kita production video bareng semua tuh enggak berasa kayak kantor gitu lah ya. Lebih berasa kayak kita wadah untuk berkarya bareng semua anak-anak di sini. Ada Anesilah Feren nih. Semua lagi video-videoin kita nih di sini ya. Kalau teman-teman pengin support Edwin boleh follow juga ke sosial medianya. Ee silakan ditaruh ya. Iya ditaruh sini. Next. Edwin mau ngapa? Mau ke mana, Win? Ah eh ditunggu saja. Ditunggu aja. Eh thank you juga Edwin ya. Eh, it's it's been a privilege juga bisa ngonten bareng ya dan ya bisa dapat insight-nya Edwin juga bisa diedukasi juga kita di sini bareng-bareng. Jadi ya ditunggu deh next chapternya. Sukses terus Vin. 1 juta subscriber tahun ini, ya. Amin. Amin. Amin. Ya udah. Oke. Nanti kita semakin banjir. Saya banjir di dalam. banjirnya off cam aja guys.
Video Lainnya
Dunia teknologi kembali diguncang oleh sebuah inovasi radikal lewat kehadiran lini Huawei Pura X Max yang siap menggeser dominasi iPhone dan Samsung. Kehadiran...
Bayangkan jika smartphone andalan Anda tiba-tiba kehilangan sinyal akibat masalah IMEI yang diblokir di Indonesia. Situasi tak terduga inilah yang memaksa seorang...
Ketika hampir semua produsen ponsel berlomba-lomba menyematkan emblem 'Ultra' pada produk andalan mereka, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah sang pionir masih...
Persaingan di pasar ponsel pintar kembali memanas setelah sebuah perangkat baru hadir dan langsung mengguncang dominasi merek yang selama ini dikenal sebagai raja...
Tecno Camon 50 Pro 5G sempat dipandang sebelah mata saat pertama kali meluncur karena label harganya yang menyentuh angka 5,5 jutaan terasa terlalu mahal. Namun,...
Samsung tampaknya mulai mengubah strategi di pasar kelas menengah dengan meluncurkan Galaxy A37 dan Galaxy A57 di pertengahan tahun 2026 ini. Langkah berani raksasa...
Pasar ponsel kelas 9 jutaan sedang memanas, dan Bestindotech turun tangan untuk menguji tuntas tiga kontestan yang paling banyak diperbincangkan: Xiaomi 17T, Vivo...
Memulai bisnis laundry sering kali terlihat sebagai ladang uang yang mudah dan menjanjikan, namun realitas di lapangan kerap kali berbicara sebaliknya. Berangkat...
Pasar perangkat audio nirkabel premium bersiap menghadapi guncangan besar lewat kehadiran lini Soundcore Liberty 5 Pro Series. Di tengah dominasi merek-merek mapan...
Pasar ponsel flagship premium baru saja diguncang oleh perangkat Android seharga 32 juta rupiah yang digadang-gadang sebagai daily driver mutakhir. OPPO Find X9...
Perdebatan panjang mengenai takhta kamera smartphone terbaik tampaknya telah mencapai titik balik yang mengejutkan. Di tengah dominasi raksasa seperti iPhone,...
Memilih ponsel kelas menengah terbaru sering kali berujung pada dilema antara performa gaming yang buas atau kenyamanan ekosistem perangkat yang matang. Samsung...
Sistem operasi robot hijau kembali membawa lompatan besar lewat kehadiran Android 17 yang kali ini tidak sekadar bersolek di sektor visual. Google tampak sangat...
Langkah berani Samsung dalam merombak lini audio nirkabelnya lewat Galaxy Buds 4 Pro berhasil mencetak standar baru yang belum pernah dicapai generasi sebelumnya....
Bagi kaum mendang-mending yang enggan melirik jenama asal Tiongkok, bursa ponsel pintar sering kali terasa sempit dan penuh kompromi. Namun, episode terbaru Kotek...

















